Pages

10 Agustus 2010

Tuhanlah Jaminan Hidup Kita

Bayangkan, kalau Anda diutus ke suatu tempat untuk mengunjungi orang-orang yang belum Anda kenal sama sekali. Tempat yang akan Anda datangi itu pun baru pertama kali Anda kunjungi. Tambahan lagi Anda dilarang untuk bawa banyak barang kebutuhan Anda. Mengapa? Karena menurut orang yang mengutus Anda itu, di tempat yang baru itu semua kebutuhan Anda akan terpenuhi.

Menghadapi situasi seperti ini pasti Anda cemas. Anda akan bingung dan bertanya-tanya, apa benar semua jaminan akan Anda dapatkan di tempat yang baru. Karena itu, Anda akan ragu-ragu untuk datang ke tempat yang baru itu. Tetapi berhubung hal ini adalah suatu perintah, Anda harus pergi juga. Kesetiaan Anda kepada pimpinan Anda menjadi taruhannya. Kalau Anda tidak mau pergi, Anda bukan orang yang loyal terhadap pimpinan Anda. Kalau Anda tetap ragu-ragu untuk pergi, Anda akan dikatakan sebagai orang yang tidak berani ambil resiko.

Nah, Anda berada dalam suatu dilema. Tetapi Anda mesti membuat suatu keputusan yang akan membawa dampak yang sangat berpengaruh terhadap hidup Anda. Anda mesti berani membuat keputusan. Keputusan yang mencerminkan suatu sikap plin-plan hanya membawa kebuntungan dalam hidup Anda. Karena itu, pilihan yang paling tepat bagi Anda adalah memutuskan untuk pergi ke tempat yang baru sebagai utusan dari atasan Anda. Semua resiko yang akan Anda hadapi, Anda mesti berani tanggung.

Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kabar sukacita kepada semua orang. Apa isi kabar sukacita itu? Isinya adalah bahwa Tuhan senantiasa menyertai umatNya. Tuhan hadir dalam perjalanan hidup manusia. Karena itu, Yesus ingin agar para muridNya itu fokus pada tugas perutusan itu. Bukan fokus pada segala keperluan yang akan mereka butuhkan untuk mewartakan kabar sukacita itu.

Karena itu, Yesus meminta mereka untuk tidak membawa apa-apa dalam perjalanan mereka. Misalnya, mereka tidak boleh membawa pakaian lebih dari satu. Mereka tidak boleh membawa bekal dalam perjalanan. Semua yang mereka butuhkan sudah disediakan oleh orang-orang yang akan mereka kunjungi. Yesus memberikan jaminan bagi mereka.

Sekarang tinggal bagaimana kreativitas dari para murid itu. Kalau mereka dapat mewartakan kabar sukacita itu dengan baik, mereka akan diterima dengan baik. Artinya, mereka pun akan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dalam pekerjaan mereka itu.

Yesus ingin agar mereka sungguh-sungguh berpegang teguh pada diriNya. Mengapa? Karena Yesus menghadirkan Tuhan yang memberikan jaminan bagi hidup manusia. Yesus minta agar mereka selalu tergantung pada diriNya, bukan pada kemampuan manusiawi mereka. Hasilnya? Kabar sukacita itu diterima oleh banyak orang. Begitu banyak orang bertobat dan menyerahkan seluruh hidup mereka kepada Tuhan.

Kita mesti bertanya diri, sampai sejauh mana kita memiliki ketergantungan yang mendalam kepada Tuhan? Apakah kita sungguh-sungguh memberikan hidup kita kepada Tuhan? Atau kita masih mengandalkan kemampuan diri kita? Orang beriman itu orang yang selalu menyerahkan seluruh jaminan hidupnya pada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


465

09 Agustus 2010

Perjuangkan Kehidupan dengan Cintakasih

Suatu hari seorang perempuan diperkosa oleh seseorang yang tidak dikenalnya. Peristiwa itu seolah-olah menghancurkan hidupnya. Ia menjadi seorang yang minder. Ia tidak mau bertemu lagi dengan siapa pun, termasuk ayahnya sendiri. Ia mengalami trauma yang luar biasa.

Batin perempuan itu semakin diterpa penderitaan, ketika ia mengetahui bahwa ia hamil sebagai akibat perkosaan itu. Ia bingung. Ia tidak tahu mau buat apa dengan janin yang ada di dalam rahimnya. Ia mengandung seorang anak yang tidak dikehendakinya. Ia mengandung anak dari suatu perbuatan bejat seorang lelaki. Ia benci atas dirinya sendiri. Ia benci lelaki yang telah memperkosanya.

Dalam keadaan seperti itu, ia berusaha untuk bertahan dengan keadaannya. Ia tidak mau menghentikan kehamilannya. Ia membiarkan kehamilannya itu terus berjalan. Ia berusaha untuk menerima kenyataan dirinya, meski orang-orang di sekitarnya akan mencemoohkan dirinya. Ia mau menerima kehadiran janin dalam rahimnya, meskipun nanti sang bayi lahir tanpa seorang ayah.

Ketika anaknya lahir, perempuan itu menerimanya dengan tangan terbuka. Ia tidak mau menolaknya. Ia berusaha untuk membesarkannya seorang diri. Dalam perjalanan waktu, ia pun mulai berusaha untuk memaafkan lelaki tak dikenal yang telah memperkosa dirinya. Ia ingin membersihkan dirinya dari rasa benci yang mendalam. Dengan demikian, ia dapat membesarkan anaknya dalam suasana cinta kasih yang mendalam.

Usaha untuk menerima kehadiran sesama dalam hidup mesti selalu dilakukan oleh setiap orang. Mengapa? Karena manusia itu makhluk yang mulia. Manusia itu menghadirkan Sang Pencipta di dunia ini. Tuhan telah menciptakan manusia sesuai dengan citraNya. Artinya, dalam ciptaan yang mulia itu Tuhan hadir. Tuhan berkarya terus-menerus melalui ciptaanNya yang mulia itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa mempertahankan dan memperjuangkan kehidupan itu jauh lebih mulia dan penting. Orang beriman itu mesti selalu menempatkan hidup manusia di atas segala-galanya. Penghentian terhadap kehidupan merupakan suatu penolakan terhadap kehadiran Tuhan dalam hidup manusia.

Perempuan dalam kisah di atas menunjukkan keberaniannya untuk tetap memperjuangkan kehidupan. Karena itu, ia berusaha untuk menciptakan suasana cinta kasih dalam dirinya. Ia mengubah benci menjadi pengampunan dan cintakasih. Ia ingin agar hidupnya sungguh-sungguh bermakna bagi dirinya dan anaknya.

Seandainya orang beriman berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang mesti dilakukan? Orang beriman tidak punya pilihan lain kecuali tetap memperjuangkan kehidupan. Kehidupan itu lebih berharga dari apa pun yang kita miliki di dunia ini. Mari kita selalu memperjuangkan kehidupan dengan menerima sesama kita dalam hidup yang nyata. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

464

08 Agustus 2010

Membangun Sikap Syukur Atas Kebaikan



Ada seorang gadis yang sulit mensyukuri hidupnya. Baginya, hidup ini selalu negatif. Tidak ada yang baik. Karena itu, dia ingin segera mengakhiri hidupnya. Ia mengutuki hari-hari hidupnya. Ia tidak bahagia dengan hidupnya. Ia mempunyai pengalaman yang sangat buruk dengan hidupnya.

Ia berkata, ”Saya hanyalah setitik air di tengah lautan yang luas. Tidak punya arti apa-apa. Orang boleh saja mengatakan bahwa saya punya arti bagi hidup orang lain. Tetapi saya sebenarnya tidak punya apa-apa dalam hidup ini.”

Tidak lama kemudian, ia mengambil pisau yang tajam untuk menggorong pergelangan tangannya. Namun ia tidak sanggup. Apalagi ada saudaranya yang berusaha untuk menghalangi tindakannya.

Saudaranya itu berkata, ”Coba kamu ingat betapa orangtua kita mencintai kita. Mereka meninggal ketika kita belum apa-apa. Tetapi mereka telah meninggalkan hal-hal yang begitu bermanfaat bagi hidup kita.”

Gadis itu tersenyum mendengar kata-kata saudaranya. Ia pun melepaskan pisau yang ada di tangannya. Ia membatalkan perbuatan nekadnya. Nyawanya berhasil diselamatkan.

Ia berkata, ”Terima kasih. Kamu sudah memberi saya cakrawala baru. Ternyata hidup ini tidak sejelek yang saya bayangkan. Hidup ini memiliki sisi-sisi yang indah. Saya ingin hidup lebih lama lagi.”

Hidup yang disyukuri akan membawa manusia mengenal kebaikan dalam hidup ini. Orang yang bersyukur itu senantiasa mengarahkan hidupnya kepada kebaikan. Tidak ada pikiran yang jelek tentang hidup ini. Yang ada dalam pikirannya hanyalah hal-hal yang baik. Kebaikan itu memberikan motivasi baginya untuk semakin bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan dan sesama.

Bersyukur itu mendorong orang untuk tetap maju dalam hidup ini. Orang terus-menerus bergerak untuk menemukan makna terdalam dari hidup ini. Orang akan mengalami suasana antusias dalam hidupnya. Orang tidak perlu kuatir akan hidup yang kurang membahagiakan. Dalam sikap bersyukur itu, orang menemukan kasih Tuhan kepadanya. Karena itu, bersyukur berarti merengkuh kebaikan Tuhan bagi hidup ini.

Sayang, banyak orang sulit mensyukuri hidup ini. Mengapa? Karena orang hanya melihat sisi gelap kehidupannya. Orang menutup mata terhadap hal-hal yang baik dan benar yang dimilikinya dalam hidup ini. Akibatnya, orang akan kehilangan banyak hal baik dalam hidup ini. Padahal semakin banyak orang mensyukuri kebaikan dalam hidup ini, orang akan menemukan semakin banyak hal baik bagi dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus mensyukuri segala sesuatu yang kita peroleh dalam hidup ini. Hanya dengan demikian, kita dapat menerima rahmat demi rahmat bagi hidup kita. Mari kita bertumbuh dalam sikap bersyukur atas kebaikan yang kita peroleh dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang semakin mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

463

07 Agustus 2010

Menimba Kebaikan dari Sesama

Ada seorang anak yang selalu mengukur segala sesuatu dari dirinya sendiri. Orang yang tidak cocok dengannya akan ia lawan habis-habisan. Orang itu harus mengikuti kemauan dirinya. Padahal ia bukan anak yang sempurna. Ia punya kelemahan-kelemahan yang mesti dibenahi.

Namun anak ini ngotot. Ia tidak peduli akan situasi orang lain. Ia juga tidak mau menerima kritik terhadap sikap hidupnya. Akibatnya, anak itu tumbuh dengan pandangan dirinya sendiri. Ia menjadi anak yang tidak punya wawasan yang luas. Ia menjadi anak seperti katak di bawah tempurung. Meski begitu, ia tetap tidak mau berubah pikiran. Ia hidup dengan dirinya sendiri.

Suatu hari ia kena batunya, ketika seorang teman lamanya menegur sikap hidupnya. Ia melawan. Namun temannya itu pun ngotot. Ia berkata, ”Kita hidup itu harus mau buka diri terhadap lingkungan di sekitar kita. Ada banyak hal baik yang kita butuhkan untuk pertumbuhan hidup kita.”

Anak itu menjawab, ”Saya tidak butuh kebaikan orang lain. Yang saya butuhkan adalah orang lain mesti mengikuti kemauan saya.”

Temannya itu berkata, ”Kalau begitu, kamu harus siap-siap untuk kehilangan semua orang. Tidak ada orang yang mau berteman dengan orang seperti kamu.”

Sejak itu, ia kehilangan banyak teman. Tiada orang yang mau menjadi sahabatnya. Tidak ada yang mau membangun relasi yang baik dengannya.

Manusia tidak hidup dalam pulaunya sendiri. Manusia selalu hidup dan berada bersama orang lain. Dengan cara ini, manusia akan bertumbuh dan berkembang dalam proses hidup yang lebih baik. Keterbukaan terhadap kebaikan sesama menjadi sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini. Karena itu, manusia mesti selalu mau membangun relasi dengan siapa saja.

Ada orang yang memang ingin memaksakan kehendaknya, karena ia merasa dialah yang paling baik dalam hidup ini. Dia berusaha sekuat tenaga untuk menguasai orang lain. Tentu saja hal ini akan berbahaya dalam kehidupan bersama. Mesti selalu ada keseimbangan dalam hidup manusia. Orang mesti sadar bahwa dia tidak hidup sendirian. Orang selalu hidup bersama orang lain.

Orang juga mesti memiliki prasangka yang positif terhadap dirinya. Dengan demikian, ia akan menemukan sesuatu yang indah dalam dunia di sekelilingnya. Orang seperti ini akan menemukan bahwa relasi dengan sesama itu menyenangkan dan memberikan makna yang lebih mendalam bagi hidupnya.

Orang beriman itu selalu mau membangun kehidupan bersama orang lain. Orang beriman tidak hidup sendirian. Orang beriman selalu hidup bersama orang lain. Karena itu, orang beriman mesti selalu membuka pintu hatinya lebar-lebar bagi sesamanya. Orang mau belajar hal-hal yang baik yang ada dalam diri sesamanya. Dengan cara ini, orang akan menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya. Orang tidak perlu stress karena kehilangan banyak sahabat dari hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



462

06 Agustus 2010

Menumbuhkan Kebesaran Hati

Keringat mengucur deras membasahi pipinya. Sejak pagi lelaki muda itu sudah memikul pasir dari sungai. Tidak banyak. Cuma satu ember berukuran sedang. Namun bagi lelaki muda itu, ia mesti melakukannya untuk meraih cita-citanya membangun sebuah rumah untuk keluarganya. Selama ini, mereka hanya tinggal di rumah kontrakan. Padahal sebidang tanah yang mereka miliki dibiarkan kosong begitu saja. Rerumputan tumbuh memenuhi tanah tersebut.

Suatu hari seorang tetangga menegurnya, ”Mengapa tidak pakai mobil saja?”

Pemuda itu mengatakan bahwa ia ingin mengerjakannya sendiri. Ia mengerjakannya sedikit demi sedikit. Ia berkata, ”Lama-lama juga akan jadi banyak. Apalagi sekarang ini saya sedang liburan.”

Tekad pemuda itu termasuk kuat. Ia punya cita-cita yang mulia untuk kedua orangtuanya. Ia ingin keluarganya berteduh di rumah milik sendiri. Karena itu, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyediakan bahan-bahan bangunan. Ia tidak hanya memikul pasir. Ia juga memikul batu dari sungai yang berada sekitar lima ratus meter dari rumahnya.

Sedikit demi sedikit menjadi bukit. Itulah pepatah lama yang masih memiliki makna yang dalam bagi hidup kita. Di saat di mana dunia dipengaruhi oleh usaha-usaha yang instan, pepatah ini masih tetap relevan. Sesuatu yang sedikit demi sedikit dikumpulkan mencerminkan keuletan dan ketekunan seseorang.

Manusia mesti memiliki semangat seperti ini. Mengapa? Karena dengan semangat ini orang akan merasakan pentingnya berusaha. Orang dapat merasakan betapa bernilainya suatu keberhasilan yang dicapai melalui usaha seperti ini.

Kalau orang dapat mengumpulkan kebaikan demi kebaikan bagi hidupnya, orang akan menumbuhkan kebajikan dalam dirinya. Orang akan menemukan bahwa hidup ini begitu bernilai, karena orang mendapatkan sesuatu tidak dengan malas-malasan. Kisah tadi mau membantu kita untuk memaknai hidup ini lebih baik lagi.

Tindakan kecil itu mencerminkan kebesaran jiwa seseorang. Orang tidak terpengaruh oleh manipulasi yang dilakukan oleh banyak orang untuk memperoleh hasil yang setinggi-tingginya. Hal ini menunjukkan mendalamnya iman seseorang. Iman yang dibangun dalam suatu proses waktu tertentu. Tidak dibangun berdasarkan suatu hasil yang diperoleh dalam waktu sesaat yang sering gampang musnah oleh tantangan-tantangan jaman.

Sebagai orang beriman, kita dapat belajar dari peristiwa hidup di sekitar kita. Suatu pekerjaan yang tampaknya sepele, karena dikerjakan dengan sedikit demi sedikit ternyata memiliki makna yang begitu mendalam bagi hidup kita. Karena itu, kita mesti belajar untuk memiliki kebesaran hati. Suatu situasi di mana kita tidak gampang terpengaruh oleh hal-hal yang membuat kita tergiur oleh hasil yang besar dan banyak dalam waktu yang singkat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


461

05 Agustus 2010

Menghargai Kehidupan Manusia

Seorang anak mengadu kepada ayahnya, ”Ayah, mengapa ayah lebih perhatikan adik saya?”

Ayahnya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya. Lantas ia berkata kepadanya, ”Nak, sebenarnya ayah perhatikan kalian semua. Kamu dan kakakmu adalah anak-anak yang sangat ayah sayangi. Demikian pula adikmu. Bedanya, adikmu butuh perhatian yang lebih. Ia memiliki kelainan pada jantungnya.”

Anak itu terdiam. Ia mengerti akan kata-kata ayahnya. Namun ia tetap mengajukan pertanyaan lagi, ”Kami semua sudah mengerti tentang itu. Tetapi kenapa ayah selalu menomorsatukan dia?”

Ayahnya tersenyum. Lantas ia berkata, ”Ayah tahu apa yang kamu inginkan. Kamu menginginkan keadilan dari ayah. Tetapi ini persoalannya bukan adil atau tidak adil. Ini soal nyawa adikmu. Jadi ayah minta kamu mau sungguh-sungguh mengerti tentang hal ini.”

Sang anak menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang menjadi konsern ayahnya. Kalau sudah berkenaan dengan nyawa, ia akan menyerah. Itulah yang semestinya diperjuangkan setiap insan di muka bumi ini.

Nyawa manusia itu sangat berharga. Tidak ada yang lebih tinggi nilainya daripada kehidupan. Hanya manusia yang egois yang menempatkan nyawa manusia lebih rendah. Manusia yang normal selalu menempatkan kehidupan di atas segala-galanya.

Kisah tadi mau menunjukkan kepada kita bahwa kepedulian terhadap kehidupan mesti didahulukan. Apa pun yang terjadi, kehidupan itu tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup ini. Hanya dengan memberi penghargaan yang tinggi terhadap kehidupan, orang dapat memaknai dengan lebih mendalam kehidupan ini.

Peristiwa perang dan bom yang dialami bangsa manusia menunjukkan penghargaan yang begitu rendah terhadap kehidupan. Manusia ingin memusnahkan kehidupan sesamanya. Manusia tidak suka melihat kehadiran sesamanya. Hal ini terjadi karena manusia kurang menyadari makna kehidupan. Atau manusia menempatkan egoismenya terlalu tinggi. Manusia hanya mau menang sendiri. Orang lain boleh-boleh saja dikorbankan demi kepentingan egoismenya.

Tentu saja situasi seperti ini berbahaya dalam kehidupan bersama. Manusia tidak saling memandang. Manusia tidak saling memberikan rasa hormat lagi. Karena itu, orang mesti mengubah pandangannya tentang kehidupan ini. Orang mesti berani menempatkan nilai-nilai kehidupan di atas segala-galanya.

Sebagai orang beriman, kita semua dipanggil untuk memberikan penghargaan yang tinggi terhadap nilai-nilai kehidupan. Dengan demikian, kita dapat saling memberikan penghormatan terhadap hidup kita masing-masing. Kita dapat menjadi orang-orang yang mampu membantu sesama kita untuk bertumbuh dan berkembang dalam kasih kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


460

Bagikan

04 Agustus 2010

Membangun Iman yang Hidup



Ada seorang ibu memulai sebuah usaha sekolah. Ia memulai dengan lima orang murid di sebuah garasi mobil. Banyak orang melihat hal itu tertawa. Mereka tidak yakin bahwa ibu itu akan berhasil merintis sebuah sekolah. Tetapi ibu itu tetap setia menjalankan usahanya. Baginya, mendidik anak-anak yang memiliki ilmu dan cara hidup yang baik itu mesti dimulai. Kalau tidak ada yang pernah mau mulai, kehidupan yang lebih baik akan sulit tercapai.

Tahun pertama ia lalui dengan mulus, meski banyak cibiran ia dapatkan. Tahun kedua, mulai berdatangan murid-murid baru. Tidak tanggung-tanggung. Kali ini 15 anak yang ingin dididik oleh ibu itu. Ia tersenyum melihat kenyataan itu. Namun tantangan baru mesti ia hadapi. Ia mesti membangun sebuah gedung baru untuk menampung murid-murid baru itu. Tidak hanya itu. Ia mulai butuh guru-guru yang dapat membantunya dengan pelajaran-pelajaran.

Tantangan itu ia hadapi dengan hati yang tenang. Sambil anak-anak itu belajar di salah satu ruang di rumahnya, ia membangun sebuah gedung sekolah. Ia tetap punya keyakinan bahwa melakukan suatu perbuatan baik itu mesti menjadi andalan utama. Ia berhasil. Ketika memasuki tahun ketiga, gedung baru itu pun sudah siap lengkap dengan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk sebuah sekolah. Guru-guru baru ia rekrut. Ia memberikan harapan yang besar bagi masyarakat di desanya untuk menyekolahkan anak-anak di desa sendiri.

Usaha yang tanpa pantang menyerah menunjukkan bahwa orang itu punya iman yang mendalam kepada Tuhan. Iman itu mesti membumi. Ia tidak boleh hanya berada di awang-awang saja. Iman yang membumi biasanya berbuah subur bagi kehidupan manusia.

Kisah ibu tadi menunjukkan betapa iman yang besar itu mengalahkan semua tantangan dan rintangan. Ibu itu yakin bahwa Tuhan tetap setia menemaninya. Tuhan tidak pernah meninggalkannya berjuang sendirian. Tuhan terlibat dalam usahanya. Hasilnya, ia berani melangkah meski banyak tantangan yang mesti ia hadapi.

Dalam hidup ini kita menyaksikan ada orang-orang yang tidak berani melangkahkan kaki untuk membuat hidupnya sukses. Orang takut berhadapan dengan tantangan dan rintangan. Orang merasa bahwa ia sendirian dalam usaha itu. Padahal Tuhan selalu menyertai perjalanan hidupnya dan usahanya. Tuhan selalu membantu setiap orang yang mau berusaha untuk maju.

Kita diajak untuk berani melangkahkan kaki kita demi kehidupan yang lebih baik. Tentu saja kita mesti mendasari usaha-usaha kita itu pada kasih dan kebaikan Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertai kita. Tuhan selalu peduli terhadap hidup kita. Tuhan selalu ingin, agar kita memiliki hidup yang lebih baik.

Karena itu, mari kita terus berusaha. Dengan demikian, kita memiliki iman yang semakin mendalam kepada Tuhan. Iman kita semakin menjadi nyata dalam hidup kita sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


459

Bagikan

03 Agustus 2010

Pentingnya Menenangkan Hati yang Kacau



Seorang gadis merasa kecewa terhadap setiap lelaki yang pernah menjalin persahabatan dengannya. Ia ingin salah satu dari mereka menambatkan hatinya kepadanya. Namun sudah sekian lama hati mereka belum juga tertambat dalam hatinya. Ia merasa sepi sendiri. Ia merasa hidup ini tidak memiliki makna yang mendalam baginya. Karena itu, ia berusaha untuk menjauhkan diri dari setiap lelaki yang ingin menjalin relasi dengannya.

Dalam situasi seperti itu, ia merasa hatinya tawar. Tidak ada lagi gairah dalam hidupnya. Yang tersisa hanyalah hati yang tertusuk duri-duri. Perih dan pedih. Ia semakin resah. Akibatnya, ia mengisolasi dirinya dalam keheningan. Ia tidak ingin berjumpa dengan siapa pun. Prinsipnya adalah biarlah hidup ini ia nikmati sendiri. Tanpa teman. Tanpa sahabat.

Namun tindakan seperti itu justru menjauhkan dirinya dari kasih Tuhan. Ia semakin merasa diri jauh dari Tuhan. Seolah-olah Tuhan tidak lagi peduli terhadapnya. Hasilnya, ia menjadi acuh tak acuh terhadap sesama. Bahkan orang-orang yang dekatnya tidak lagi ia sapa. Ia menyendiri. Ia terpasung dalam kesendiriannya. Ia tidak bisa mengolah hatinya yang hancur berkeping-keping itu.

Setiap orang membutuhkan waktu untuk mengheningkan hatinya. Orang mesti berani menenangkan hatinya. Orang yang tergesa-gesa dalam hidupnya biasanya tidak memiliki pemikiran yang mendalam. Orang seperti ini mudah ceroboh. Tidak punya banyak pertimbangan dalam hidupnya.

Dalam situasi seperti ini orang mesti berani mengheningkan hatinya. Orang mesti mengambil waktu untuk tenang. Artinya, merefleksikan seluruh perjalanan hidupnya. Ada apa dengan dirinya sendiri? Apakah ada sesuatu yang salah? Orang mesti berani menukik ke dalam batinnya yang terdalam untuk merenungkan makna perjalanan hidupnya.

Kalau ini yang dilakukan, orang akan semakin bertumbuh di dalam kasih Tuhan. Orang akan mengalami betapa Tuhan peduli terhadap dirinya. Tuhan mencintai dirinya, sehingga ia pun mampu mencintai sesamanya dengan setulus hati.

Orang beriman itu orang yang mampu merefleksikan pengalaman hidupnya bersama Tuhan. Orang yang mampu menimba kasih Tuhan dalam situasi apa pun. Orang yang menemukan betapa hidup ini semakin memiliki nilai-nilai yang luhur, ketika orang tidak menyingkirkan sesamanya.

Untuk itu, orang beriman perlu mengheningkan batinnya untuk menimba kasih Tuhan. Dengan demikian, kasih Tuhan itu dapat ia pancarluaskan kepada sesama yang ada di sekitarnya. Kalau ini yang terjadi dalam hidup orang beriman, dunia ini menjadi tempat yang aman dan damai bagi hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk menenangkan hati kita, ketika kita mengalami kekacauan dalam hidup ini. Kita ciptakan waktu hening untuk diri kita sendiri, agar kasih Tuhan mengalir dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

458

Bagikan

02 Agustus 2010

Pentingnya Mengheningkan Pikiran

Suatu hari seorang pemuda termenung di depan cermin di kamarnya. Ia tidak habis pikir, mengapa tidak ada apa-apa di dalam pikirannya. Ia sudah berusaha mati-matian untuk menemukan ide-ide yang cemerlang. Namun semakin ia paksakan, semakin hilang ide-ide itu.

Karena itu, ia memutuskan untuk menenangkan pikirannya. Ia pun keluar dari kamarnya yang pengab. Ia mengarahkan dirinya ke hutan yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Ia berjalan menembus ilalang yang membentang. Lantas ia memasuki hutan belantara dengan pohon-pohon yang tumbuh begitu rapat.

Tidak lama kemudian ia berhenti di bawah sebatang pohon. Ia duduk. Lalu ia membiarkan angin hutan itu memasuki dirinya. Ia merasakan semilir angin yang menyejukkan dirinya. Pikirannya pun mulai terbuka. Lantas ia mulai mengingat kebenaran-kebenaran yang selama ini ia perjuangkan. Ia mengenang kembali betapa tekunnya ia memperjuangkan hak-hak masyarakat di desanya. Ia mengingat kembali orang-orang yang memberikan dukungan kepadanya untuk menuntut keadilan.

Ia berkata dalam hatinya, ”Kebenaran mesti terus saya perjuangkan. Keadilan bagi semua mesti menjadi bagian yang saya promosikan. Dengan cara ini, semakin banyak orang akan mendapatkan sukacita dan bahagia.”

Sore harinya, ia pun pulang ke rumahnya. Setumpuk ide memenuhi pikirannya. Ia bersyukur memiliki kesempatan untuk bermenung setelah lelah memperjuangkan sesamanya.

Anda pernah mengalami lelah dalam hal pikiran? Apa reaksi Anda? Pasti Anda gelisah. Bisa-bisa Anda tidak bisa tidur. Anda berusaha untuk menemukan ide-ide yang cemerlang, tetapi tidak mendapatkannya. Anda mengalami kebuntuan.

Lantas apa yang mesti Anda lakukan? Mungkin Anda akan mencari cara-cara untuk keluar dari kebuntuan pikiran itu. Anda berusaha terus. Tetapi seandainya tidak ada jalan keluar juga? Nah, salah satu cara yang cespleng adalah tenangkan pikiran Anda. Tidak usah memaksa diri untuk mengisi pikiran Anda dengan ide-ide. Biarlah kosong begitu saja. Namun Anda mesti siap untuk mengendalikannya, ketika hal-hal yang jahat mulai berseliweran di sekitar pikiran Anda.

Mengheningkan pikiran sering tidak dilakukan orang. Yang dilakukan adalah orang membiarkan pikirannya dipenuhi oleh berbagai hal. Ketika orang mengalami kebuntuan dalam pikiran, orang sering cepat-cepat mengisinya dengan kesibukan-kesibukan.

Mengheningkan pikiran berarti orang mau membiarkan hal-hal yang luhur masuk dan menguasai pikirannya. Orang beriman akan mengisi pikiran yang kosong itu dengan sabda Tuhan. Orang membiarkan Tuhan berbicara dan menguasai dirinya. Hanya dengan cara ini orang dapat menemukan kembali dirinya. Orang dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Mari kita berusaha, agar Tuhan senantiasa menjadi bagian dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

457

Bagikan

01 Agustus 2010

Melatih Lidah untuk Hening


Sudah beberapa hari ini seorang bapak diam saja. Ia tidak mau bicara dengan siapa pun. Kondisi seperti ini membuat banyak orang bingung melihatnya. Banyak orang pun tidak mau mendekatinya. Orang berusaha menjauhi dirinya, agar tidak terjadi konflik dengannya. Bapak ini berusaha untuk setia pada komitmennya untuk tidak mengeluarkan suara. Rupanya ia sedang menjalani keheningan lidah. Ia ingin agar lidahnya tidak sembarang mengeluarkan kata-kata yang mengganggu kehidupan bersama.

Baginya, cara seperti ini akan dapat membantunya untuk mengendalikan dirinya. Ia ingin agar lidahnya bersih dari kata-kata yang menghojat sesamanya. Ia sadar bahwa dengan lidah ia dapat memberikan pujian kepada orang lain. Tetapi dengan lidah yang sama ia dapat menghancurkan hidup sesamanya. Karena itu, ia membutuhkan waktu untuk membersihkan lidahnya.

Ketika ditanya tentang caranya yang aneh ini, ia menjawab, ”Kita manusia dapat hancur oleh lidah kita yang begitu lembut. Kata-kata kita dapat membuat banyak orang tidak mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Begitu banyak orang ribut gara-gara salah bicara. Karena itu, saya mencoba untuk membuat lidah saya hening. Mungkin banyak orang akan mengatakan hal ini tidak begitu berguna. Tetapi bagi saya, hal ini sangat membantu saya untuk membahagiakan sesama saya.”

Kita hidup dalam dunia yang hiruk pikuk oleh berbagai pernyataan. Ketika masa kampanye pileg dan pilpres, banyak terjadi pergunjingan sana sini. Orang saling menuduh terjadinya kecurangan dalam kampanye. Semuanya bermula dari rumusan kata-kata yang dianggap keliru oleh pihak yang lain. Akibatnya, persoalan menjadi luas.

Ada pepatah, tong kosong nyaring bunyinya. Artinya, orang yang banyak berkata-kata itu belum tentu memiliki isi yang mendalam untuk kehidupan yang lebih baik. Orang yang banyak berbicara itu belum tentu punya isi yang mendalam. Banyak orang berbicara hanya di permukaan saja. Banyak orang hanya berbicara yang basa-basi saja. Karena itu, hidup manusia menjadi kurang mendalam.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita butuh waktu untuk mengendalikan lidah kita. Untuk itu, kita mesti menenangkan lidah kita. Kita perlu mengheningkan lidah kita. Dengan cara ini, kita dapat menemukan makna yang lebih mendalam dari hidup ini.

Memang, tidak mudah kita mengendalikan lidah kita. Ada berbagai godaan untuk mengatakan hal-hal yang tidak senonoh. Kita tergoda untuk mengikuti orang lain yang sedang gosipkan sesamanya. Kita mudah ikut arus. Kita mudah terbawa oleh kebiasaan orang lain, bahkan kebiasaan yang buruk.

Karena itu, kita butuh waktu untuk mengendalikan lidah kita. Kita perlu cara untuk mengendalikan lidah kita. Sebagai orang beriman, usaha pengendalian lidah itu butuh rahmat Tuhan. Kita butuh bantuan Tuhan untuk dapat mengatakan hal-hal yang benar. Dengan demikian, kita dapat berhasil dalam membahagiakan sesama melalui lidah kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


456

Bagikan