Pages

10 Oktober 2010

Kita Tidak Sendirian Meniti Hidup Ini



Suatu hari seorang pemudi merasa kesepian. Tiada orang di sekelilingnya yang dapat menemaninya. Mengetahui situasi tersebut, beberapa pemuda mendatanginya. Mereka memberikan hiburan dengan ngobrol dan membuatnya tersenyum dan tertawa. Berkali-kali mereka melakukan usaha agar ia dapat menemukan ketenangan dalam dirinya. Namun pemudi itu tetap merasa kesepian. Ia tersenyum, tetapi tidak lepas bebas. Masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

Melihat kenyataan itu, seorang pemuda bertanya, ”Sebenarnya ada apa?”

Pemudi itu menjawab, ”Hati saya terasa sepi bukan karena tidak ada orang di sekitar saya. Tetapi yang lebih penting adalah tiada seorang pun di hati saya.”

Pemuda yang bertanya itu mulai mengerti. Ia menyadarkan teman-temannya bahwa meskipun mereka datang untuk menghiburnya, pemudi itu tetap kesepian. Yang ia butuhkan bukan hiburan. Tetapi yang ia butuhkan adalah kehadiran seseorang di hatinya. Beberapa saat kemudian mereka meninggalkannya seorang diri.

Sahabat, orang bisa saja mengalami kesepian dalam hingar bingar kehidupan dunia. Mengapa? Karena ada yang hilang dari hati seseorang. Ada hal terpenting yang semestinya ada di hatinya, namun hal itu tidak ia temukan. Pergi entah ke mana. Karena itu, orang dapat mengalami rasa sepi yang begitu mendalam. Orang dapat merasakan kehilangan yang begitu besar.

Apa yang sedang Anda rasakan saat ini? Apakah Anda sedang merasa kesepian, karena ditinggalkan oleh orang yang sangat penting dan berharga dalam diri Anda? Apakah Anda sedang kehilangan barang-barang yang sangat bernilai tinggi? Atau Anda sedang kehilangan saat-saat yang sangat berharga?

Ada orang yang merasa kehilangan saat-saat berharga, ketika ia enggan memberikan bantuan kepada orang yang sangat membutuhkan. Padahal saat mengulurkan pertolongan kepada orang lain, ia menjalin hatinya dengan hati orang lain. Pertemuan dua hati terjadi. Karena itu, orang mengalami kehilangan, ketika ia enggan untuk memberikan pertolongan bagi sesamanya.

Orang beriman merasa kesepian, ketika ia jauh dari Tuhan. Orang seperti ini merasa bahwa membangun relasi dengan Tuhan itu suatu keharusan. Karena itu, ketika ia menjauh dari Tuhan, ia merasa sepi. Batinnya terasa sunyi. Hidup ini tidak memiliki nilai lagi. Karena itu, ia kehilangan Tuhan. Ia mesti mencari dan menemukannya kembali. Dengan demikian, hidupnya menjadi indah dan bahagia.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah orang mesti mampu menghadirkan Tuhan dalam hati dan hidupnya. Tuhan yang mulia dan kudus itu dipersilakan masuk dan tinggal dalam hati manusia yang kecil dan kadang-kadang kotor. Kita biarkan Tuhan tinggal di dalam hati kita dan membersihkan hati kita. Dengan demikian, kita mengalami penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Kita tidak merasa sendirian. Masih ada Tuhan yang menemani perjalanan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

521

09 Oktober 2010

Selalu Ada Peluang bagi Orang yang Optimis

Suatu hari, Presiden Theodore Roosevelt pergi berburu. Seekor beruang tertangkap dan diikat agar presiden dapat menembaknya. Namun Presiden Roosevelt tidak mau membunuh beruang itu. Kisah ini menjadi sangat terkenal ketika dilaporkan di surat kabar dan digambar dalam bentuk kartun.

Morris Michtom memiliki permen dan alat-alat tulis. Istrinya yang bernama Rose kadang-kadang membuat boneka beruang kecil yang diletakkan di jendela toko mereka. Morris melihat kartun beruang di koran dan mendapatkan ide. Dia meminta istrinya untuk membuat beberapa beruang khusus seperti yang ada dalam gambar kartun itu.

Lantas Morris menulis surat yang ditujukkan ke Gedung Putih. Ia menanyakan apakah beruang baru itu boleh diberi nama seperti nama presiden. Presiden Roosevelt membalas surat itu, ”Saya pikir nama saya tidak begitu berharga dalam bisnis beruang. Tapi Anda boleh saja menggunakannya.”

Mendapatkan jawaban yang sangat simpatik seperti itu, Morris lalu membuat beruang-beruang kecil yang dipajangnya di jendela tokonya. Boneka beruang itu dinamai dengan nama panggilan Presiden Roosevelt, yaitu Teddy. Sampai sekarang boneka beruang bersebut terkenal dengan nama Teddy Bear.

Sahabat, seseorang yang ingin sukses selalu menemukan kesempatan yang baik untuk usaha-usahanya. Biasanya orang seperti ini memiliki optimisme yang besar dalam hidupnya. Ia tidak gampang menyerah pada situasi yang dihadapi. Kalau ada tantangan dia akan menghadapi dengan penuh ketenangan. Kalau dia sedang beruntung, dia tidak mudah terbuai oleh keberhasilannya. Ia selalu mencari dan menemukan kesempatan dan peluang-peluang yang baru untuk usaha-usahanya.

Namun orang yang pesimis dalam hidupnya selalu mengemukakan banyak pertimbangan. Ia kuatir akan apa yang akan terjadi, kalau dia mulai melakukan suatu usaha. Ia tidak melihat peluang yang besar. Ia menutup dirinya terhadap peluang. Ibaratnya ia sedang melihat sebuah kue donat. Yang ia lihat bukan donatnya, namun yang ia lihat adalah lobangnya. Ia sudah takut duluan sebelum memulai usahanya.

Sedangkan orang yang optimis itu melihat kue donat. Ia selalu mengembangkan keberhasilan dari setiap kegagalan. Kegagalan yang dihadapi tidak meruntuhkan semangatnya untuk berusaha. Bahkan kegagalan itu menjadi batu loncatan menuju keberhasilan. Untuk itu, orang seperti ini senantiasa berlajar dari setiap peristiwa hidupnya. Orang seperti ini mampu mengubah suasana muram durja menjadi suasana sukacita bagi hidupnya dan hidup sesamanya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ada banyak peluang untuk meraih sukses. Yang penting adalah bagaimana orang menggunakan peluang-peluang itu untuk kemajuan diri dan sesamanya. Yang penting adalah bagaimana orang mampu melewati setiap tantangan yang dihadapinya dalam usaha-usahanya.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin berjuang bersama Tuhan dalam meraih kesuksesan hidup kita. Mengapa? Karena Tuhan dapat membantu kita melewati setiap persoalan hidup kita. Tuhan mendampingi orang beriman yang mau berusaha bersama Dia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

520

08 Oktober 2010

Perbuatan Baik Membuat Kita Dikenang


Oscar, patung emas berbentuk ksatria yang sedang berdiri di atas gulungan film, adalah piala yang dimenangkan oleh para bintang film dalam upacara tahunan Academy Awards. Soalnya, mengapa patung itu dinamakan Oscar? Piala tersebut sebenarnya tidak mempunyai nama sampai tahun 1931.

Pada tahun 1931, Oscar Pierce, seorang petani Texas, Amerika Serikat, yang kaya tanpa disangka-sangka ‘tampil’. Keponakan perempuannya adalah seorang penjaga perpustakaan pada Academy of Motion Pictures Arts and Sciences. Suatu hari ia sambil lalu mengatakan bahwa patung ksatria itu mirip dengan pamannya, Oscar.

Kebetulan seorang wartawan surat kabar mendengar komentarnya. Lantas ia menerbitkan sebuah cerita dengan menyebutkan bahwa karyawan-karyawan memberi julukan patung terkenal itu dengan nama Oscar. Sejak itu, nama Oscar menjadi resmi digunakan hingga sekarang.

Pernah sekali terjadi dalam sejarah bahwa Piala Oscar tidak terbuat dari logam pada waktu Perang Dunia II. Meskipun pada waktu itu Amerika kekurangan logam, piala Oscar tetap diberikan, tetapi terbuat dari kayu.

Sahabat, apalah arti sebuh nama. Ungkapan ini sering kita dengar. Ungkapan ini membuat orang yang punya nama itu kemudian dilupakan dalam sejarah. Bisa saja terjadi manusia tidak ingat lagi akan sejarah hidupnya sendiri. Sesuatu bisa saja terjadi secara kebetulan dalam hidup ini.

Kisah patung emas bernama Oscar itu tentu saja mengejutkan banyak orang. Oscar hanyalah seorang petani. Ia bukan seorang bintang film terkenal. Namun namanya diabadikan untuk sesuatu yang begitu terkenal di seantero dunia ini. Figurnya menjadi sesuatu yang sangat penting yang ingin diraih oleh banyak bintang film kenamaan di dunia. Seorang bintang film kaliber dunia baru mendapat pengakuan yang sungguh-sungguh, kalau ia sudah menggondol Piala Oscar.

Namun apalah artinya seorang Oscar, petani Texas itu? Ia sama sekali tidak mencatatkan diri sebagai perebut Piala Oscar. Ia tidak mencatatkan diri untuk menjadi piala yang ramai diperjuangkan oleh banyak bintang film kenamaan.

Dalam hidup ini banyak orang ingin mencatatkan namanya sebagai orang yang terkenal di dunia. Banyak orang ingin meninggalkan nama yang harum bagi dunia ini. Banyak orang ingin agar apa yang dibuatnya dapat berguna untuk banyak orang di kemudian hari. Tentu saja usaha seperti ini patut diacungi jempol. Usaha seperti ini memberikan angin segar bagi kehidupan bersama. Namun yang mesti diperhatikan adalah orang semestinya melakukan sesuatu yang baik terus-menerus. Kalau hal ini dilakukan, nama orang akan tetap tercatat dalam sejarah kehidupan manusia.

Mari kita berusaha mencatatkan diri kita dengan melakukan sebanyak-banyaknya perbuatan baik dalam hidup kita. Dengan demikian, yang dikenang dari hidup kita adalah kebaikan demi kebaikan. Cinta yang kita tinggalkan senantiasa bersemi di dalam kehidupan manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

519

07 Oktober 2010

Menyingkirkan Dosa dan Kesalahan Kita


Suatu hari kaki seorang anak tertusuk duri. Ia merasa sangat terganggu dengan hadirnya duri di kakinya. Ia berusaha untuk mengeluarkan duri itu. Namun ia tidak berhasil. Soalnya adalah duri itu menancap sangat dalam di kakinya. Kejadian itu memaksa ia tinggal di rumah. Ia tidak bisa pergi ke sekolah. Tambahan lagi suhu tubuhnya pun meningkat. Karena itu, ia mendatangi seorang dokter untuk membantu mengeluarkan duri itu.

Setelah duri itu dikeluarkan, ia merasa enak. Meski masih terasa sakit, ia mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin. Ia bisa pergi ke sekolah dengan senang hati. Ia boleh berkumpul kembali dengan teman-temannya. Ia boleh berlari kian ke mari dengan teman-temannya.

Tentang duri itu, ia berkata, ”Duri itu mesti dikeluarkan dari kaki saya. Kalau tidak, saya bisa lumpuh. Saya sendiri tidak bisa mengeluarkannya dari kaki saya. Saya mesti butuhkan bantuan orang lain untuk mengeluarkan duri tersebut.”

Ia bersyukur duri itu telah keluar dari kakinya. Kalau tidak, ia tidak bisa hidup dengan nyaman dengan duri yang menancap di kakinya.

Sahabat, dalam hidup kita juga ada duri-duri yang menghambat perjalanan hidup kita. Duri-duri itu bisa saja berupa kesalahan dan dosa-dosa kita. Duri itu bisa saja luka batin yang sudah lama kita derita. Karena itu, duri-duri seperti itu mesti kita singkirkan, agar kita dapat bertumbuh dengan baik dan normal. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan hidup kita dengan duri-duri yang tetap menempel dalam hidup kita. Dosa dan kesalahan itu mengganggu pertumbuhan hidup kita baik rohani maupun jasmani.

Menyingkirkan duri-duri itu tidak selalu mudah. Selalu saja ada tantangan-tantangan yang mesti dihadapi. Kalau orang tidak bisa menghadapinya dengan baik, orang akan tetap memiliki duri-duri itu. Orang tidak bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik. Karena itu, kita butuh bantuan orang lain untuk menyingkirkan duri-duri itu. Bantuan orang lain itu akan memudahkan kita dalam usaha-usaha untuk mengatasi halangan-halangan yang ada dalam diri kita.

Dalam kisah tadi anak lelaki itu tidak bisa menyingkirkan duri dari kakinya. Ia butuh bantuan seorang dokter untuk melepaskan duri itu. Ia menyadari bahwa kalau ia mau hidup lebih tenang dan nyaman, ia mesti menyerahkan diri kepada orang lain. Ia tidak boleh memaksakan kekuatannya sendiri yang terbatas itu.

Demikian pula kita. Ketika kita menghadapi penghalang-penghalang, kita butuh bantuan orang lain. Kita sendiri tidak bisa mengatasinya. Kita mesti berani membiarkan orang lain membantu kita. Dengan demikian, dosa dan kesalahan yang ada dalam diri kita dapat kita singkirkan. Mari kita berusaha menyingkirkan duri-duri yang ada dalam diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

518

06 Oktober 2010

Berusaha Menyingkirkan Kesulitan Hidup




Seorang anak laki-laki takut sekali terhadap ulat. Benda-benda yang mirip dengan ulat ia hindari jauh-jauh. Ia tidak mau berhubungan dengan hal-hal seperti itu. Kalau ada orang yang memegang benda-benda yang mirip dengan ulat, ia akan lari terbirit-birit. Ia berteriak-teriak histeris. Ia tidak mau lihat benda tersebut. Situasi seperti ini berlangsung sangat lama sampai ia berusia 19 tahun.

Hal yang membuat ia berhenti dari ketakutan itu sebenarnya sepele saja. Suatu hari ia diajak oleh ayahnya ke kebun binatang. Setelah lelah berkeliling untuk melihat berbagai binatang, sang ayah mengajaknya ke bagian binatang melata. Di sana ia dapat menyaksikan berbagai jenis binatang melata. Ia menyaksikan ular yang bergerak-gerak seperti ulat. Ternyata gerakan-gerakan mereka begitu indah. Beberapa kali ia berusaha menyentuh ekor-ekor ular itu. Tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang membahayakan dirinya.

Sejak itu gambarannya (image) tentang ulat berubah. Ia tidak takut lagi terhadap ulat. Ia berkata, ”Ular saja saya tidak takut. Apalagi ulat yang tidak bisa menggigit dan tidak berbisa. Saya mesti mencoba untuk mendekati ulat dan menjadi teman bagi mereka.”

Sahabat, mengapa kita takut terhadap sesuatu yang tidak membahayakan diri kita? Mengapa orang takut terhadap bayang-bayang? Jawabannya adalah karena gambaran orang terhadap sesuatu yang kecil itu terlalu besar. Orang takut dikuasai oleh sesuatu atau bayang-bayang itu. Orang tidak ingin keberadaannya ditutupi oleh bayang-bayang itu.

Untuk itu, orang mesti berusaha untuk menguasai bayang-bayang yang sebenarnya tidak ada. Orang mesti berani melawan ilusi-ilusi. Orang mesti yakin bahwa keberhasilan itu milik dirinya. Ia mesti bekerja keras untuk meraih keberhasilan itu. Karena itu, orang tidak perlu cemas atau takut. Orang mesti membuang ketakutan itu jauh-jauh dari dirinya sendiri.

Orang mesti berusaha menemukan alasan untuk takut terhadap sesuatu atau bayang-bayang. Ketika orang menemukan alasannya, orang akan merasakan bahwa ternyata sesuatu yang membuat takut itu hanya ilusi kosong. Tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita mesti belajar untuk mengatasi setiap kesulitan yang kita hadapi. Kita tetap teguh dalam iman kita kepada Tuhan, sehingga apa saja yang kita lakukan akan menemukan kesuksesan. Kalau sekarang kita sedang menghadapi suatu tugas, kita mesti melaksanakan tugas tersebut dengan baik dan benar. Kita mesti berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan tugas tersebut. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang dipercaya oleh Tuhan dan sesama.

Mari kita berusaha untuk menghapus setiap ketakutan yang ada dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan. Kita sungguh-sungguh dipercaya oleh Tuhan untuk mengerjakan sesuatu yang lebih besar. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

517

05 Oktober 2010

Santo Fransiskus dari Assisi dengan Serigala

Dekat sebuah kota kecil dalam pegunungan adalah seekor serigala, amat besar, kuat lagi bagus. Sekalian orang takut akan serigala itul Binatang itu merampas peliharaan penduduk. Ya, serigala itu berani menyerang manusia juga. Tidak ada yang berani berjalan seorang diri. Sudah kerap kali para pemburu mencoba menembak serigala itu. Sia-sia belaka! Makin lama makin ganas serigala itu! Siang hari serigala itu berani menyerang rumah dan melarikan seekor kambing atau seorang anak kecil.

Karena putus asa, penduduk kota itu meminta tolong kepada santo Fransiskus.

“Barangkali Pesuruh Raja Besar punya akal,” kata mereka.

Fransiskus melipur orang yang bersusah itu.

Jawabnya, “Aku akan berunding dengan serigala itu!”

Fransiskus berangkat, menuju ke hutan. Baru saja melalui rumah yang terakhir di tepi kota, ... tiba-tiba serigala yang jahat datang melompat-lompat, mendekati Fransiskus. Semua yang ikut dengan Fransiskus, lari cerai berai ketakutan.

Tetapi Fransiskus berseru, “Mari sini, serigala! Atas Nama Yesus Kristus aku melarangmu menyakiti aku atau orang-orang yang lari itu!”

Lihatlah, heran sekali! Serigala jahat, yang tadinya sudah membuka mulutnya, menjadi sabar lagi lemah, seperti seekor anak kambing saja. Sambil mengibas-ngibaskan ekornya, binatang buas itu maju setapak demi setapak. Tepat di hadapan kaki Santo Fransiskus, ia berbaring di tanah.

“Serigala,” kata Fransiskus kemudian.

“Kesalahanmu sangat banyak. Kau tidak diizinkan Tuhan, membunuh orang dewasa dan memakan anak kecil. Selayaknya kau juga harus dibunuh sekarang. Semua orang benci kepadamu, serigala jahat. Tetapi aku tahu, kau berbuat begitu karena lapar. Jika kau berjanji tak akan berbuat jahat lagi, aku akan mengampunimu. Ingatlah, Tuhan tidak mengizinkanmu!”

Serigala mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi kau harus berjanji juga, serigala! Kau tidak boleh lagi mencuri kambing. Kalau kau lapar, pergilah berjalan, dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Penduduk kota mau memberi makanan. Kau mau berdamai dengan manusia, serigala?”

Serigala itu menggesek-gesekkan kepalanya ke kaki Fransiskus seperti anjing yang setia.

“Baiklah! Sekarang mana kakimu. Tanda kau berjanji, letakkan kakimu, dalam tanganku.”

Sekarang penduduk kota itu, yang telah datang menonton, menyaksikan perjanjian aneh itu. Serigala yang amat ganas itu, meletakkan kaki mukanya ke dalam tangan Fransiskus.

“Mari, ikut aku!” kata Fransiskus.

Serigala ikut serta seperti anjing yang amat besar. Mereka pergi ke alun-alun. Di sana penduduk kota juga berjanji bahwa mereka akan selalu memberi makanan kepada serigala. Serigala itu dinamai “Gobio”.

Masih 2 tahun lamanya Gobio hidup. Tiap-tiap hari ia berjalan dari pintu yang satu ke pintu yang lain, untuk meminta makanannya. Ia tidak lagi menyakiti binatang atau manusia. Dan anak-anak berani bermain dengan Gobio, serigala jinak.

Ketika Gobio mati, ia ditangisi orang, yang sudah biasa menyayangi bintang itu.

Masih banyak sekali ceritera-ceritera tentang Santo Fransiskus Pesuruh Raja Besar.

Sebaiknya kalian mencari dan membaca kitab yang lebih tebal tentang Santo Fransiskus.

http://sienaviena.multiply.com/

04 Oktober 2010

Membangun Kesadaran Diri



Seorang pemain sirkus memasuki hutan untuk mencari anak ular. Ia ingin melatih ular tersebut untuk permainan sirkusnya. Setelah lama mencari, ia menemukan beberapa ekor anak ular dan mulai melatihnya. Mula-mula anak ular itu ia belitkan pada kakinya. Setelah ular-ular itu bertumbuh menjadi lebih besar, ia melatihnya untuk permainan yang lebih berbahaya seperti membelitkan ular-ular itu ke tubuhnya.

Sesudah beberapa bulan melatih ular-ular dengan baik, pemain sirkus itu mengadakan pertunjukkan untuk umum. Hari demi hari jumlah penontonnya semakin banyak. Jumlah uang yang diperoleh pun semakin besar. Atraksi demi atraksi ia pertunjukkan kepada para penonton. Pertunjukkan ular ia tempatkan di akhir permainan. Tepuk tangan para penonton semakin memberikan semangat kepada pemain sirkus tersebut. Ia semakin memamerkan kehebatannya.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh para penonton, yaitu permainan ular. Ia memanggil ular-ular yang ada di dalam kotak. Ia memerintahkan mereka untuk melilit tubuhnya. Perlahan-lahan ular-ular itu melilit tubuhnya. Semakin keras lilitan itu. Ia pun memerintahkan agar mereka melepaskan lilitan mereka. Ular-ular itu pun menuruti perintahnya. Namun ada satu ekor ular yang tidak taat. Ia terus mengencangkan lilitannya. Akhirnya, pemain sirkus itu pun tidak bisa bernafas lagi. Ia mati lemas. Itulah pertunjukkan yang terakhir.

Sahabat, setiap hari kita mengalami bahwa dosa dan kesalahan tampaknya tidak membahayakan hidup manusia. Karena itu, banyak orang terus-menerus melakukan kesalahan dan dosa. Belum bertobat atas dosa-dosa, tetapi melakukan lagi dosa-dosa yang baru. Padahal sebenarnya dosa itu menyebabkan kematian kekal bagi jiwa kita. Dosa menyebabkan kita jauh dari Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Dosa menyebabkan kita tumbuh dalam kelalaian.

Kisah tragedi pemain sirkus tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti tetap hati-hati dalam kehidupan kita. Apa yang kita anggap gampang dan remeh bisa saja membahayakan hidup kita. Meskipun kita sudah merasa bahwa kita sudah tahu segala-galanya, kita masih tetap harus hati-hati. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi.

Dosa dan kesalahan yang kecil semestinya segera dilenyapkan dari hidup kita. Mengapa? Karena dosa dan kesalahan yang kecil itu bisa saja bertumbuh menjadi besar dan kuat untuk menghancurkan diri kita sendiri.

Untuk itu, kita mesti membangun suatu kesadaran diri yang terus-menerus terhadap hidup kita. Kita mesti berusaha mengadakan pembedaan roh dalam hidup kita. Kita mesti bertanya apakah yang menguasai diri kita ini roh yang baik atau roh yang jahat. Setelah kita temukan jawabannya, kita berusaha untuk menumbuhsuburkan roh yang baik dalam diri kita. Sedangkan roh yang jahat mesti segera kita lenyapkan dari diri kita. Dengan demikian, kita dapat bertumbuh menjadi orang-orang yang kuat dalam iman. Kita dapat bertahan dalam kesetiaan kita kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


516

03 Oktober 2010

Santo Fransiskus dari Assisi

Asalnya dari negeri Itali. Hidupnya di negeri itu juga. Bertabiat riang Fransiskus itu! Makin banyak keramaian, makin senanglah ia! Pikimya, Tiada yang lebih menyenangkan hati manusia daripada pesta.

Dan pesuruh Raja Besar ini semasa mudanya beruang cukup. Ayah ibunya sangat kaya! Tokonya bagus lagi besar! Penduduk kota Assisi, serta dusun-dusun sekelilingnya semuanya menjadi langganan toko itu!

Oleh sebab itu, Fransiskus berpakaian yang indah-indah dan mahal-mahal.

“Seperti seorang bangsawan,” kata orang bila bertemu di jalan raya.

Pemuda-pemuda di kota Assisi senang melihat Fransiskus. Fransiskus tidak kikir, amat berguna diangkat teman olehnya!

Siang hari Fransiskus menolong ayahnya di toko yang laku itu! Tetapi waktu petang, bila toko ditutup, Fransiskus pesiar. Teman-temannya telah menanti. Ada yang bermain mandoline, ada yang bermain biola. Dan Fransiskus harus menyanyi. Fransiskus pandai sekali benyanyi. Ia bernyanyi bermacam-macam lagu, riang gembira! Sampai jauh tengah malam mereka berpesta dan Fransiskus yang membelikan makanan dan minuman yang lezat!

Pada suatu hari perang pecah. Musuh akan menyerang kota Assisi. Fransiskus bersama-sama teman-temannya mempertahankan kotanya. Tetapi ... tiada berhasil! Mereka tertawan, dikurung dalam bilik penjara kecil lagi gelap, setahun lamanya.

Tentu kalian berpikir, sekarang Fransiskus bersusah hati. O tidak, malah sebaliknya, Fransiskus masih bersuka hati. Sepanjang hari Fransiskus benyanyi sambil mengharap waktu ia bebas pula.

Teman-temannya marah dan berkata, “Heran aku, Fransis­kus, kau masih suka bemyanyi!”

Tetapi Fransiskus tertawa dan meniawab, “Jangan putus asa, tuankul”

Sesudah bebas, Fransiskus berpesta pula seperti semula sampai perang berkobar lagi, dan Fransiskus turut berperangkan mencapai gelar “Ksatria.” Ya begitu kehendaknya. Dan begitu cita-cita ayahnya, tetapi tiada begitu Kehendak Tuhan.

Pada suatu malam Fransiskus bermimpi. Ajaib benar mimpinya! Fransiskus melihat sebuah bilik, luas sekali. Pada dindingnya tampak berupa-rupa perisai. Fransiskus sedang asyik melihat perisai itu.

Tiba-tiba terdengar suara, “Fransiskus kembali ke rumah! Mengapa engkau mengabdi pelayan? Bukankah Yang Empunya Tuhan?”

Fransiskus terjaga dan termenung. Keesokan harinya ia berangkat, pulang pula.

Penduduk kota Assisi amat heran! Demikian pula teman-temannya.

“Mengapa lekas sekali kembali, Fransiskus? Sudahkah mencapai gelar “Ksatria” kau? Takutkah engkau, tertawan lagi?”

Fransiskus tidak menjawab sepatah kata jua pun. Apa pula gunanyal Mereka tak akan mengerti. Fransiskus sendiri juga tidak mengerti, mimpi ajaib itul Lagipula, keadaannya berubah! Suara itu tak dapat dilupakannya. Fransiskus telah jemu berpesta. Uang yang dulu dipakainya untuk pesiar, sekarang diberikannya ker kepada yang miskin. Fransiskus, yang dulu gemar mengunjungi keramaian, sekarang mencari tempat sunyi supaya sempat berdoa. Lambat laun teman-temannya pergi.

“Aneh benar si Fransiskus itu!” kata mereka.

Dan Fransiskus, tidak mempedulikan hal itu, karena, suatu malam terdengar lagi suara ajaib itu!

Serunya, “Fransiskus, Fransiskus, jika engkau kasih padaKu, cobalah hidup miskin seperti Aku!”

Keesokan harinya Fransiskus tak mau lagi mengenakan pakaiannya yang indah-indah. Ia memakai baju serupa goni dan di pinggangnya, ialah tali yang diberi simpul. Fransiskus yang dulu memakai sepatunya yang bagus, digantinya oleh sandal yang amat murah harganya. Demikian Fransiskus yang tadinya kaya raya, mengembara.

Berjalan kaki ia pergi ke mana-mana, sambil mengajar tentang Yesus Kristus, yang mati pada kayu salib untuk menebus dosa kita. Teman-temannya, yang dulu mengerumuni sebagai semut, sekarang menertawakan! Kanak-kanak, yang tiada berpikir, melemparinya dengan batu. Ya, tiap-tiap hari Fransiskus dicaci maki tetap tetap sabar. Malahan, hatinya girang karena ia boleh menderita sengsara karena Kristus, Sang Penebus.

Ayahnya, Pietro Bernardone merasa dihinakan. Mula-mula Fransiskus dibujuk, kemudian dipaksa kembali ke rumah. Akhirnya, karena tidak berhasil ia amat sangat marah! Fransiskus disumpahinya. Pietro Bernardone tidak mau mengenal lagi anaknya.

Fransiskus berduka cita, tetapi apa boleh buatl Sudah terang baginya, begitu Kehendak Tuhan, yang telah memanggilnya.

Kalau Fransiskus lapar, ia mengemis sepotong roti dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Uang tidak mau diterimanya. Kalau haus, Fransiskus hanya minum air jernih saja. Tidak karena malas, lebih suka mengemis daripada bekerja! Fransiskus rajin bekerja sebagai tukang batu, memperbaiki gedung-gedung gereja yang rusak, dengan tidak minta upah.

Katanya, “Peluhku sudah kujual kepada Yang Mahamulia!”

Petang, waktu beristirahat, Fransiskus berdoa sampai jauh tengah malam.

Acap kali terdengar keluhnya, “Tuhanku, ya Kaulah kekayaanku!”

Atau di atas sebuah bukit ia berlutut, di bawah kayu salib lengkap dengan patung Sang Penebus.

Berulang-ulang ia menepuk dada, berbungkuk ke tanah sambil berseru, “Ah, Yang Terkasih tidak dikasihi!”

Tidak lama orang insyaf, bahwa Fransiskus itu bukan hendak menarik perhatian orang. Fransiskus itu terdorong sesuatu yang luar biasa. Tuhan sendiri menyuruhnya berbuat demikian, supaya manusia sadar. Sadar akan salahnya! Sadar akan sombongnyal Sadar, dan kembali akan mengabdi Tuhan!

Penduduk kota Assisi datang, mendengarkan khotbah Fransiskus. Pesuruh Raja Besar. Serempak mereka tertarik padanya. Bila Fransiskus bercerita tentang Tuhan di surga, tiada mata yang tinggal kering.

Dan Fransiskus terus berceritera tentang Tuhan yang menciptakan bunga-bunga yang indah-indah. Tentang berupa-rupa burng yang berkicau sepanjang hari, untuk berterima kasih. Berterima kasih kepada Tuhan yang Mahabaik! Akhirnya Fransiskus memohon supaya orang jangan berdosa lagi. Dan para pendengar berjanji. Mereka tak dapat menolak permintaan Fransiskus, Pesuruh Raja Besar! Ada juga yang ingin meniru Fransiskus! Hidup miskin, karena Sang Penebus.

Mereka, yang telah dicoba dan diterima Fransiskus, berbuat seperti Pesuruh Raja Besar.

Kekayaannya diberikan kepada para miskin, lalu mengenakan seragam biarawan Fransiskus. Sejenis baju panjang lagi longgar dibuat daripada goni. Ikat pinggangnya sepotong tali yang bersimpul. Demikian terjadi biara penganut Santo Fransiskus. Sekarang masih terkenal di mana-mana.

Makin lama, makin bertambah kesucian Fransiskus. Dan Tuhan akan menganugerahi kesetiaan abdinya. Fransiskus gemar sekali sembahyang pada malam hari. Acap kali waktu petang ia mendaki gunung Alverna akan berdoa.

Gunung Alverna itu curam, penuh ngarai dan tebing batu. Tiada pemandangan yang menyenangkan, melainkan mengerikan. Jarang seorang manusia datang ke gunung itu. Tetapi oleh karena itu juga, Fransiskus senang berdoa di tempat yang sunyi itu.

Pada suatu malam gelap gulita, sedang Fransiskus berlutut di batu keras, gunung Alverna guncang. Saat itu juga langit terbelah halilintar, yang seakan-akan turun ke puncak gunung Alverna. Fransiskus terkejut ... melihat ke atas, ... dan ... dalam terang halilintar itu tampak olehnya seorang Manusia terpaku pada kayu salib. Tampak sayap yang amat besar bersinar menutupi Badannya.

Sebelum Fransiskus dapat bertanya apa artinya, sejenis api dari dalam kayu salib itu menembus badan Santo Fransiskus. la merasa sakit, sebagai terpaku pula pada kayu salib. Beberapa menit kemudian, pemandangan ajaib itu lenyap. Tetapi sakit itu tinggal. Fransiskus telah tertembus seperti Sang Penebus. Pada kakinya, pada tangannya, pada badannya, kelihatan lubang dalam dan berdarah. Selama hidup, Fransiskus mempunyai tanda salib itu.

Alangkah sakitnya! ... Alangkah sucinya Santo Fransiskus, yang patut menerima tanda luka Sang Penebus!

Barangkali kalian sudah pernah mendengar, bahwa Santo Fransiskus disebut “Pelindung Binatang”.

Kata orang lambangnya, “Akungilah binatangl”

Itu salah sangka, tetapi ada juga sebabnya.

Santo Fransiskus akung kepada Tuhan dan karena ia akung kepada segala makhluk. Berupa-rupa ceriteranya hal itu. Di antaranya salah satu cerita ini.


http://sienaviena.multiply.com

02 Oktober 2010

Berusaha Tersenyum agar Tuhan Tinggal dalam Diri


Suatu hari seorang gadis menghiasi bibirnya dengan senyum-senyum yang manis. Ia juga menyapa orang-orang dengan suara yang lembut. Hal itu ia lakukan bukan karena ia sedang berlatih untuk menjadi peragawati atau model busana. Namun ia lakukan itu karena suatu keinginan yang tulus untuk memulai hari-hari hidupnya yang baru. Pasalnya, selama ini ia terlalu serius menanggapi berbagai hal. Ia sulit sekali untuk tersenyum. Karena itu, ia ingin agar hari-hari hidupnya dipenuhi dengan senyum.

Teman-temannya merasa aneh melihat situasi itu. Mereka menganggapnya sebagai orang yang kurang waras. Ketika seorang temannya bertanya tentang perubahan suasana hatinya, ia mengatakan bahwa ia hanya ingin mengalami suatu hidup yang damai. Ia memilih untuk menghiasi dirinya dengan senyum bahagia. Ia ingin mengatakan kepada dunia bahwa dengan senyum itu ia dapat memberikan kebahagiaan bagi diri dan sesamanya.

Ia berkata, ”Dengan senyum ini saya ingin mencairkan hubungan yang selama ini beku. Saya memberikan semangat kepada teman-teman yang sedang punya masalah. Saya ingin mencerahkan suasana yang muram.”

Sahabat, banyak orang mengalami kesulitan untuk tersenyum. Banyak orang begitu sibuk dan serius memikirkan hari-hari hidup yang mesti mereka lewati. Seolah-olah tidak ada sedetik pun waktu untuk mengungkapkan rasa bahagia melalui seutas senyum. Padahal senyum itu membuat dunia ini lebih cerah dan ceria. Senyum membuat orang menemukan makna terdalam dari perjuangan hidup ini.

Orang yang mudah senyum itu mengungkapkan keyakinannya bahwa hidup ini mesti dijalani dengan enteng. Orang tidak bisa membebani diri dengan cara hidup yang memberatkan. Kalau orang menanggapi hidup ini dengan enteng, kesuksesan akan selalu menjadi bagian dari hidupnya.

Kata orang, senyum itu memperpanjang hidup manusia. Mengapa? Karena dengan senyum orang dapat melepaskan beban-beban kehidupannya. Hidup ini menjadi ringan. Hidup ini tidak menjadi beban bagi diri sendiri. Karena itu, orang mesti berusaha tersenyum betapa sulit pun hidup ini.

Sebagai orang beriman, tersenyum berarti kita membuka hati kita lebar-lebar kepada Tuhan. Hati yang terbuka itu memberi kesempatan kepada Tuhan untuk masuk ke dalam hati kita. Dengan demikian, Tuhan tinggal dan hidup di dalam diri kita. Orang yang membuka diri kepada Tuhan mengungkapkan keterbatasan dirinya. Ia mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Mari kita berusaha membuka diri kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

515

01 Oktober 2010

Berusaha Cermat dalam Hidup


Seorang penjual daging mengamati suasana sekitar tokonya. Ia sangat terkejut melihat seekor anjing datang ke samping tokonya. Ia mengusir anjing itu, tetapi anjing itu kembali lagi. Ia menghampiri anjing itu dan melihat ada suatu catatan di mulut anjing itu. Ia mengambil catatan itu dan membacanya,

Catatan itu berbunyi, ”Tolong sediakan 12 sosis dan satu kaki domba. Uangnya ada di mulut anjing ini.”

Si penjual daging melihat ke mulut anjing itu dan ternyata ada uang sebesar seratus ribu rupiah di sana. Segera ia mengambil uang itu, kemudian ia memasukkan sosis dan kaki domba ke dalam kantung plastik. Lantas ia meletakkan kembali di mulut anjing itu. Si penjual daging sangat terkesan.

Kebetulan saat itu adalah waktu tutup tokonya, ia menutup tokonya dan berjalan mengikuti si anjing. Anjing tersebut berjalan menyusuri jalan dan sampai ke tempat penyeberangan jalan. Anjing itu meletakkan kantung plastiknya, melompat dan menekan tombol penyeberangan. Ia menunggu dengan sabar dengan kantung plastik di mulut, sambil menunggu lampu penyeberang berwarna hijau. Setelah lampu menjadi hijau, ia menyeberang sementara si penjual daging mengikutinya.

Anjing tersebut kemudian sampai ke perhentian bus dan mulai melihat "Papan informasi jam perjalanan". Si penjual daging terkagum-kagum melihatnya. Si anjing melihat "Papan informasi jam perjalanan" dan kemudian duduk di salah satu bangku yang disediakan. Sebuah bus datang, si anjing menghampirinya dan melihat nomor bus dan kemudian kembali ke tempat duduknya.

Bus lain datang. Sekali lagi si anjing menghampiri dan melihat nomor busnya.
Setelah melihat bahwa bus tersebut adalah bus yang benar, anjing itu naik. Si penjual daging, dengan kekagumannya mengikuti anjing itu dan naik ke bus tersebut.

Sahabat, kecermatan itu bias dilatih. Tentu saja anjing yang disuruh tuannya untuk berbelanja daging ini telah dilatih dengan baik. Ia dapat mengikuti apa yang dikehendaki tuannya, karena ia sudah menjalani latihan yang terus-menerus. Kecermatan dapat ia peroleh berkat usaha terus-menerus. Mungkin dalam latihan ia pernah melakukan kesalahan. Namun kesalahan itu tidak berarti ia mesti berhenti untuk berlatih hingga menjadi anjing yang cermat.

Dalam hidup ini banyak orang tidak cermat. Banyak orang ceroboh dalam hidupnya. Akibatnya bisa fatal bagi kehidupan. Mengapa bisa terjadi? Karena orang merasa sudah tahu akan apa yang dihadapinya. Padahal sebenarnya belum tahu apa-apa. Ternyata kecermatan itu dapat membantu orang menghadapi kehidupan ini. Dengan kecermatan itu orang dapat merancang kesuksesan dalam hidupnya. Dengan kecermatan itu orang dapat melaksanakan apa yang telah dilaksanakannya itu dengan baik.

Orang beriman itu mesti cermat dalam hidupnya. Untuk itu, orang beriman mesti belajar terus-menerus untuk cermat. Tidak boleh berhenti. Mengapa? Karena untuk menjadi cermat orang mesti tidak boleh bosan belajar. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

513