Pages

10 Maret 2014

Membangun Hati yang Mudah Tergerak

Sering manusia menutup mata dan hatinya ketika menyaksikan sesamanya sedang menderita. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang kurang menyenangkan. Orang beriman semestinya memiliki hati yang mudah tergerak oleh penderitaan sesamanya.

Ada seorang tentara bernama Martinus yang hidup di Prancis pada abad keempat. Dalam suatu perjalanan militernya, ia berjumpa dengan seorang pengemis yang hampir mati kedinginan. Waktu itu, musim dingin sedang mendera bumi Prancis.

Melihat kondisi pengemis itu, Martinus jatuh kasihan. Ia turun dari kudanya. Sambil menatap pengemis itu, ia melepaskan mantolnya yang panjang yang membungkus tubuhnya. Lantas ia mengambil pedangnya. Beberapa saat kemudian ia memotong mantolnya itu. Lalu ia menyerahkan mantol itu kepada pengemis itu. Tidak lupa, ia juga memberikan sejumlah roti untuk pengemis itu. Hari itu, pengemis itu mengalami sukacita yang berlimpah-limpah.

Martinus meneruskan perjalanan kemiliterannya. Namun tidak lama kmudian, ia melepaskan baju kemiliterannya. Ia tersentuh oleh kondisi pengemis itu. Ia memberikan hidupnya untuk melayani sesama yang menderita. Ia mendorong sesamanya untuk mau peduli terhadap sesama yang menderita.

Sahabat, di dunia kita sekarang ini ada begitu banyak orang yang mengaku beriman kuat kepada Tuhan. Mereka beribadat dengan tekun. Mereka membaca Kitab Suci setiap hari. Tetapi sering pula kita jumpai dari orang-orang seperti itu suatu sikap egoisme yang tinggi. Kepedulian terhadap sesama yang menderita begitu kurang.

Ada suatu pemisahan antara ibadat yang khusyuk dan praktek hidup sehari-hari. Ada begitu banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan bantuan. Mereka menginginkan uluran tangan dari sesamanya demi kelanjutan hidup mereka. Namun harapan mereka seolah sia-sia belaka. Hati mereka menjerit. Namun tidak ada yang mendengarkan jeritan mereka.

Kisah Martinus memberi suatu inspirasi bagi kita untuk memiliki suatu sikap iman yang benar kepada Tuhan. Martinus tidak perlu banyak bicara untuk membantu sesamanya yang sedang menderita. Ia tidak perlu membaca Kitab Suci dulu baru memberikan setengah dari mantolnya untuk pengemis yang kedinginan.

Hatinya terbuka untuk sesama yang menderita. Hatinya begitu mudah tersentuh oleh duka nestapa sesamanya. Hasilnya, sesamanya yang menderita itu mengalami sukacita. Ia menemukan kebahagiaan. Inilah suatu bentuk penghayatan iman yang benar. Tidak ada pemisahan antara ibadat yang khusyuk dengan praktik hidup.

Sebagai orang beriman, kita semua dipanggil untuk menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Iman yang sering merupakan pengetahuan saja mesti menjadi nyata dalam hidup sehari-hari.

Untuk itu, kita mesti memiliki kepekaan hati. Kita mesti memiliki hati yang terbuka kepada sesama yang ada di sekitar kita. Ada begitu banyak orang yang butuh uluran tangan kita. Janganlah kita menggenggam erat tangan kita. Tetapi mari kita buka tangan dan hati kita lebar-lebar untuk sesama yang kita jumpai. Kalau ini yang kita buat, akan ada begitu banyak orang yang mengalami kebahagiaan dalam hidup. Ada sukacita berlimpah dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1071

09 Maret 2014

Belajar tentang Makna Kehidupan


Apa yang Anda kuatirkan tentang hidup ini? Banyak orang kuatir akan persediaan bahan-bahan untuk makan dan minum. Ada yang kuatir tidak punya barang-barang mewah untuk menunjang hidupnya.

“Kami tidak terlalu kuatir, jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih kuatir, jika mereka tidak pandai mengantri,” kata seorang guru di Australia.

Sewaktu ditanya mengapa dan bisa begitu, ia mengatakan bahwa kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan secara intensif untuk bisa Matematika. Sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri. Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik proses mengantri.

“Tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu Matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian dari mereka ada yang jadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis, politikus. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan ‘Etika Moral dan Pelajaran Berharga’ dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak,” katanya.

Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik mengantri. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama, jika ia di antrian paling belakang.

“Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri,” tandasnya.

Di Jepang, biasanya orang akan membaca buku saat mengantri. Saat mengantri, anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat, mereka harus terima konsekuensinya di antrian.

Sahabat, berapa dari Anda yang mau peduli terhadap orang lain saat berada di antrian? Mungkin bisa dihitung dengan jari-jari tangan kita. Begitu banyak orang tidak ingin antri. Orang ingin berada di garis depan dalam suatu antrian. Karena itu, mereka mudah menyerobot. Tidak peduli terhadap keberadaan orang lain. Orang merasa diri jauh lebih penting daripada sesamanya. Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang memiliki egoisme yang begitu besar.

Orang merasa dirinya yang paling penting. Orang tidak berani berhadapan dengan konsekuensi. Mokhtar Lubis, dalam bukunya Manusia Indonesia, mengatakan bahwa salah satu ciri orang Indonesia itu orang yang tidak bertanggungjawab. Orang yang tidak berani berhadapan dengan tanggung jawab. Selalu mengatakan ‘tidak’ atau ‘bukan saya’, ketika dimintai tanggungjawab atas kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah belajar mengantri di tempat-tempat umum. Orang yang dengan sukarela mengantri itu orang yang memiliki rasa sabar yang tinggi. Orang seperti ini tidak pernah cemas akan kehidupannya. Mengapa? Karena ia sudah tahu akan konsekuensi yang dihadapinya, kalau ia tidak disiplin waktu. Akan ada kreativitas saat mengantri. Bisa saja menyapa orang-orang yang berada di depan, belakang atau samping kiri kanannya. Keramahannya memberikan kesempatan baginya untuk memiliki teman dan sahabat baru.

Sayang, di negeri ini tidak ada pendidikan untuk mengantri. Otak anak-anak Indonesia lebih dijejali oleh angka-angka matematis. Bukan nilai-nilai moral dan kehidupan yang sebenarnya lebih mereka butuhkan untuk perjalanan hidup mereka.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran baru tentang makna kehidupan. Yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan hal-hal material. Tetapi juga hal-hal moral dan spiritual yang justru membantu orang untuk maju dalam kehidupannya. Mari kita belajar untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih harmonis. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1070

08 Maret 2014

Belajar dari Kehidupan Sehari-hari


Belajar dari kehidupan sehari-hari mulai ditinggalkan oleh anak-anak zaman kini. Mereka lebih memilih sesuatu yang jauh dari diri mereka untuk belajar kehidupan. Padahal sesuatu yang dekat itulah sesuatu yang nyata.

Seorang anak selalu protes terhadap orangtuanya, ketika diminta untuk mengerjakan sesuatu. Setiap hari ia mesti menyelesaikan satu pekerjaan. Setiap anggota keluarga mempunyai tugas masing-masing. Sang Ibu bukan hanya memerintah anak-anaknya. Namun nasihatnya bak air terjun yang tidak pernah habis mengalir. Selalu saja muncul dari mulutnya kata-kata nasihat.

Suatu hari anak itu berkata, “Aku protes, mengapa setiap hari kami harus bekerja. Mengapa ibu selalu ngomel, memberi nasihat tanpa henti?”

Namun orangtuanya sudah punya alasan yang tepat untuk anaknya. Sang bapak berkata, “Kami minta kamu semua bekerja, bukan berarti kami tidak mencintai kalian. Kami sangat menyayangi kamu semua. Kami hanya ingin melatih kamu, supaya dapat bekerja.”

Rupanya kemandirian dalam hidup menjadi hal utama yang mau ditanamkan dalam diri anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat bekerja dan dapat memiliki masa depan yang cerah.

Suatu hari Sang Ibu berkata, “Semua itu kami lakukan karena cinta kepada anak-anak. Kami akan mewariskan hidup, iman dan cinta kepada anak-anak. Kami ingin hidup, cinta dan iman ini terus-menerus hidup. Anak-anak yang meneruskan usaha, perjuangan dan hidup kami.”

Sahabat, inilah suatu kesempatan yang sangat indah bagi anak-anak untuk belajar mengenai kehidupan. Orangtua menjadi contoh dan teladan bagi hidup anak-anak. Mereka dapat berbicara dari hati ke hati dan dapat saling menerima. Mereka dapat saling memahami.

Situasi seperti ini tentu saja sungguh-sungguh menyenangkan. Ada suasana saling berbagi kasih. Ada situasi orang saling belajar tentang makna kehidupan. Ternyata hidup itu tidak dijalani begitu saja. Hidup itu mesti diarahkan. Hidup itu mesti memiliki tujuan yang jelas.

Orangtua memberi contoh yang baik bagi anak-anaknya. Ada pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Artinya, orangtua yang mengajarkan sesuatu yang baik melalui cara hidupnya yang baik akan berbuah kebaikan pula. Hal itu tampak dalam perilaku anak-anaknya.

Soalnya, di zaman sekarang banyak anak yang kurang mendapatkan contoh dan teladan yang baik dari orangtuanya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan dan bisnis mereka. Peran mereka sebagai orangtua sudah digantikan oleh baby sitter atau pengasuh. Mereka tinggal menerima beres saja.

Benarkah hal ini? Semestinya orangtua mengambil peran yang lebih banyak dalam mendidik anak-anak mereka. Orangtua mesti lebih banyak berada bersama anak-anak mereka. Orangtualah yang semestinya mewariskan nilai-nilai hidup kepada anak-anak mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1069

07 Maret 2014

Membekali Diri dengan Iman



Iman merupakan kekuatan yang besar untuk menghadapi pergulatan hidup di zaman modern ini. Karena itu, orang beriman mesti berani menumbuhkan imannya.

Suatu hari seorang pemudi tampak bingung. Ia sudah banyak berdoa dan memuji Tuhan, tetapi hidupnya tetap biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan yang besar terjadi dalam hidupnya. Begitu banyak persoalan yang ia hadapi. Ia ingin agar persoalan-persoalan itu cepat berlalu. Tetapi mengapa ia masih saja bergulat dengan persoalan-persoalan? Bukankah Tuhan itu mahabaik dan mahapenyayang?

Pemudi itu terus-menerus bergulat dengan persoalan-persoalan yang silih berganti mendatanginya. Ia merasa ketahanan imannya ditantang. Tetapi ia tidak pernah menyerah. Ia tetap berdoa kepada Tuhan. Ia menyerahkan hidupnya ke dalam tangan Tuhan. Ia yakin, Tuhan akan menolongnya.

Karena itu, meski persoalan-persoalan silih berganti menghadangnya, ia tetap bertahan di dalam imannya akan Tuhan. Ia membekali dirinya dengan hidup yang baik di hadapan Tuhan. Ia berusaha melakukan hal-hal yang baik dan berkenan kepada Tuhan.

Sahabat, kita hidup di dalam dunia. Menjadi orang beriman tidak berarti kita dijauhkan dari persoalan-persoalan hidup. Bahkan orang mengatakan bahwa semakin beriman kepada Tuhan, orang semakin banyak mengalami tantangan hidup. Hidup itu tidak menjadi semakin mudah. Tetapi orang sering bergulat dengan imannya dalam dunia yang nyata.

Untuk itu, iman yang teguh kepada Tuhan menjadi dasar atau landasan bagi hidup di zaman modern ini. Yang penting adalah orang mau terus-menerus terbuka kepada Tuhan dan sesama. Keterbukaan hati kepada Tuhan dan sesama itu membantu orang untuk senantiasa bertahan dalam imannya.

Orang yang beriman itu orang yang mampu bertahan dalam berbagai persoalan yang dihadapinya. Mengapa? Karena orang seperti ini selalu menaruh pengharapan kepada Tuhan. Orang seperti ini tidak gampang hilang akal, ketika ada persoalan yang menghadang hari-hari hidupnya. Bahkan ia akan mencari jalan-jalan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya. Tentu saja dengan bantuan Tuhan yang ia yakini senantiasa menyertainya.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin agar iman kita semakin menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Karena itu, kita mesti tetap menaruh pengharapan pada Tuhan. Kita berharap, Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang itu senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita berjalan sendiri di dunia ini. Tuhan selalu bekerja bersama kita.

Untuk itu, pengaharapan itu juga mesti disertai dengan sikap pasrah setia kepada Tuhan. Orang yang takwa itu orang yang selalu kreatif dalam hidup ini. Orang yang tidak kehilangan akal saat berhadapan dengan berbagai persoalan hidup. Mari kita senantiasa menaruh pengaharapan kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1068

06 Maret 2014

Melepaskan Diri dari Sekat-sekat


Melepaskan diri dari kungkungan keterbatasan mengandaikan orang berani membarui dirinya. Sayang, banyak orang tetap tinggal dalam kungkungan keterbatasan itu.

Suatu hari seekor merpati lepas dari sangkarnya. Sejak kecil ia hidup di dalam sangkar. Bahkan ia dilahirkan di dalam sangkar itu. Ia terbang dan terbang. Namun tidak bisa terbang lebih tinggi dan jauh daripada merpati-merpati lain yang berada di alam bebas. Ia merasa penasaran melihat teman-temannya terbang begitu tinggi dan jauh. Ia ingin sekali terbang tinggi seperti mereka. Namun ia tidak bisa lakukan itu.

Lantas ketika bertemu dengan salah satu temannya, ia bertanya, ”Mengapa kamu bisa terbang tinggi dan jauh? Mengapa saya tidak punya kekuatan seperti kalian?”

Temannya itu balik bertanya kepadanya, ”Di mana tempat kamu tinggal selama ini? Dari mana kamu belajar terbang?”

Merpati putih itu terkejut mendengar pertanyaan temannya itu. Ia mengira, semua merpati pasti bisa terbang tinggi dan jauh. Saat itu juga ia mulai menyadari kenyataan dirinya. Sangkar yang selama ini menjadi tempat tinggalnya yang nyaman itu telah membentengi dirinya. Ia tidak bisa terbang lebih tinggi dan jauh. Sangkar itu telah memberi dia pelajaran untuk terbang sebatas sangkar itu.

Sahabat, sering manusia juga mengalami hal yang sama dengan merpati yang berada di dalam sangkar itu. Pikiran manusia sering terbelenggu oleh lingkungan di mana ia hidup. Lingkungan yang memiliki keterbatasan akan menjadikan manusia memiliki keterbatasan pula dalam hidup ini. Karena itu, manusia mesti berusaha untuk keluar dari lingkungan yang terbatas itu.

Soalnya, banyak orang membiarkan dirinya dibatasi oleh sekat-sekat. Mereka membiarkan diri mereka terbelenggu oleh keterbatasan-keterbatasan diri itu. Mereka berusaha untuk menikmatinya. Padahal ketika mereka berlangkah melewati batas-batas itu, mereka akan menemukan berbagai hal yang lebih hebat lagi.

Karena itu, orang mesti memilah-milah mana hal-hal yang membelenggu dirinya dan mana yang tidak. Hal-hal yang membelenggu diri itu mesti diperangi, agar manusia dapat menemukan sesuatu yang lebih luas. Orang tidak boleh membiarkan dirinya terbelenggu oleh sekat-sekat yang menghancurkan dirinya.

Untuk itu, orang mesti berani membarui diri secara terus-menerus. Caranya adalah dengan meninggalkan belenggu-belenggu itu dan menerima hal-hal baru yang mampu mengubah sikap hidupnya. Sikap hidup yang kurang baik mesti diganti dengan sikap hidup yang menguntungkan bagi diri dan sesama.

Orang beriman itu orang yang berani membarui dirinya. Orang yang mampu menilai secara kritis hal-hal yang membelenggu dirinya. Orang yang mau memajukan hidup dirinya dan sesamanya. Mari kita berusaha untuk membarui diri kita, agar kita tidak terkungkung oleh keterbatasan-keterbatasan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1067

05 Maret 2014

Berani Meminta Maaf Atas Kesalahan


Banyak orang tidak gampang meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan. Mengapa? Karena mereka merasa bahwa harga diri mereka akan jatuh, kalau nanti sungguh-sungguh dikethaui bahwa apa yang telah mereka lakukan itu salah. Akibatnya, mereka tetap bertahan pada pandangan dirinya sendiri. Padahal kalau orang berani menyatakan maaf atas kesalahan yang diperbuatnya, tentu situasi menjadi lebih baik. Mungkin hubungan yang kurang baik dapat dijalin kembali.

Mantan pesumo grand champion bernama Asashoryu meminta maaf kepada para mantan koleganya, sebulan setelah ia menyatakan diri pensiun dari olahraga tradisional Jepang tersebut. Asashoryu yang berusia 29 tahun merupakan pesumo asal Mongolia dengan nama asli Dolgorsurengiin Dagvadorj.

Ia berkata, “Saya Asashoryu atau yang pernah bernama itu, merasa menyesal bahwa selain memenangi Piala Kaisar (Jepang), saya juga sering menimbulkan masalah."

Grand champion ini memang beberapa kali terlibat pertikaian dengan otoritas sumo Jepang, terutama mengenai perilakunya. Ia akhirnya diminta mengundurkan diri setelah ketahuan mabuk dan berkelahi di luar sebuah klab malam di Tokyo. Otoritas sumo kemudian meminta dia mengundurkan diri daripada menghadapi ancaman pemecatan.

Ia ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ia berkata, “Saya sangat berterimakasih atas dukungan Anda, sehingga mampu menjadi juara Piala Kaisar sebanyak 25 kali. Saat ini saya sudah berusia 30 tahun dan saya harap saya akan memasuki fase kehidupan baru dengan baik.”

Sahabat, kita hidup dalam kebersamaan dengan orang lain. Kita ini adalah makhluk sosial yang senantiasa memiliki relasi dengan sesama. Apa yang kita buat selalu memiliki dampak terhadap kehidupan bersama itu. Karena itu, ketika kita melakukan suatu kesalahan atau dosa, orang lain pun akan menerima dampaknya. Mereka merasakan akibat dari kesalahan atau dosa kita itu.

Untuk itu, kita diajak untuk berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi dampak negatif perbuatan kita terhadap orang lain. Kalau toh kita telanjur melakukan kesalahan atau dosa, kita diharapkan untuk berani meminta maaf. Hanya dengan cara itu, kehidupan bersama kita menjadi lebih normal lagi. Kita dapat berbagi kebaikan di antara kita. Kita dapat menemukan sukacita dan kebahagiaan dalam hidup ini.

Kisah di atas mau mengajak kita untuk berani dengan tulus hati meminta maaf atas kesalahan yang kita lakaukan. Kita tidak perlu mempertahankan pendapat kita yang jelas-jelas telah mengakibatkan kesulitan dalam hidup orang lain.

Orang yang memiliki niat yang tulus untuk memperbaiki keadaan yang kurang baik akan mendapatkan pahala dalam hidupnya. Mari kita berusaha untuk hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1065

04 Maret 2014

Berbuat Baik dengan Hati yang Tulus


Setiap orang yang ingin berbuat baik mesti melakukannya dengan hati yang tulus. Kalau tidak, orang akan merasa berbeban berat dalam hidup ini. Orang akan merasa terpaksa dalam melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain.

Ada seorang ibu yang selalu memperhitungkan apa saja yang dilakukannya. Setiap hal yang ia lakukan, ia selalu menilainya dengan uang atau materi. Karena itu, ia tidak mau kehilangan waktu untuk hal-hal yang ia anggap tidak berguna. Baginya, time is money. Ia menolak setiap orang yang mengajaknya untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat dan sosial. Apalagi kalau kegiatan-kegiatan itu tidak menguntungkan bagi dirinya secara materi.

Akibatnya, ibu ini tidak pernah diajak oleh teman-temannya untuk berbagai kegiatan yang ada di lingkungannya. Mereka enggan bergaul dengan orang yang mengukur segala sesuatu dengan materi atau uang. Bagi mereka, orang seperti ini hanya menjadi duri dalam daging. Orang seperti ini tidak memiliki kepedulian terhadap sesamanya.

Orang mesti melakukan sesuatu dengan setulus hatinya. Orang yang melakukan suatu kebaikan mesti mendasarkan perbuatannya di atas cinta yang mendalam terhadap sesamanya. Dengan demikian, orang akan menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidupnya. Orang tidak perlu mengukur kebahagiaan dan damai itu dengan materi atau uang. Ibu yang nahas itu akhirnya tidak punya sahabat untuk bertukar pikiran dan berwawan hati. Ia hidup sendiri. Ia menjadi orang yang kesepian.

Sahabat, apa pun yang kita lakukan semestinya kita lakukan dengan kebaikan hati. Hati yang baik itu mencerminkan orang yang mau terlibat dalam kehidupan sesamanya. Orang memiliki kepedulian terhadap sesamanya. Orang yang mau berjuang bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain.

Memang, tidak mudah melakukan sesuatu dengan kebaikan hati. Hati manusia sering terselubungi egoisme dan kepentingan diri yang berlebihan. Kalau untuk kepentingan diri sendiri, manusia selalu berjuang mati-matian. Manusia tidak peduli akan terhadap berbagai rintangan yang menghadangnya. Yang ia lakukan adalah menyelamatkan dulu dirinya sendiri. Tentu saja hal seperti ini menjadi suatu tantangan tersendiri dalam hidup bersama.

Karena itu, orang mesti berani berkorban bagi kehidupan ini. Orang mesti memiliki hati yang tulus untuk melakukan sesuatu dengan motivasi yang baik. Seorang bijak berkata, “Kalau busur Anda patah dan anak panah terakhir telah dilontarkan, tetaplah membidik.” Kata-kata bijak ini mau mengatakan bahwa perbuatan baik yang kita lakukan mesti datang dari hati yang tulus. Orang tidak boleh berhenti berbuat baik, ketika ada halangan dan rintangan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus melakukan perbuatan baik dengan hati yang tulus. Hanya dengan cara ini, kita dapat menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **
 


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1066

03 Maret 2014

Meraih Cita-cita dengan Usaha Keras



Apa yang pernah atau sedang Anda impikan dalam hidup ini? Saya yakin, Anda punya impian untuk menjadi orang yang sukses dalam hidup ini. Namun untuk meraih kesuksesan, Anda tidak bisa hanya santai-santai saja. Anda mesti berusaha keras untuk meraihnya.

Semua dimulai dari impian. Begitulah Frank Slazak ingin menjadi astronot. Ia ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi ia tidak memiliki gelar. Ia bukan seorang pilot. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger.

Dan warga itu adalah seorang guru. Frank Slazak adalah seorang guru. Hari itu juga ia mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari ia berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doanya terkabul. Ia lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padanya.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impiannya semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, ia menunggu dan berdoa lagi. Ia tahu ia semakin dekat pada impiannya. Beberapa waktu kemudian, ia menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center.

Dari 43.000 pelamar, kemudian terseleksi menjadi 10.000 orang. Lantas Frank Slazak menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Sayang, ia tidak terpilih. Yang terpilih adalah Christina McAufliffe. Frank Slazak kalah. Impiannya hancur. Ia mengalami depresi. Rasa percaya dirinya lenyap. Amarah menggantikan kebahagiaannya. Ia mempertanyakan semuanya, ”Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?”

Selasa, 28 Januari 1986, ia berkumpul bersama teman-temannya untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, ia menantang impiannya untuk terakhir kali. Ia berkata, ”Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja, agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?”

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaannya dan menghapus semua keraguannya saat Challanger meledak dan menewaskan semua penumpangnya.

Sahabat, suatu kejadian yang sangat tragis hampir saja menimpa Frank Slazak. Ia masih beruntung. Ia tidak berada di dalam pesawat Challenger itu. Impiannya mungkin menjadi kenyataan. Namun hanya sesaat saja. Tentu saja Frank Slazak merasa bersyukur tidak menjadi bagian dari misi luar angkasa itu. Ia boleh mengalami sukacita dalam hidupnya. Ia masih dapat melangsungkan kehidupannya di dunia ini.

Setiap orang punya impian untuk memiliki hidup yang bahagia. Setiap orang ingin agar impiannya itu tercapai. Ia boleh meraih impiannya. Namun orang juga mesti sadar bahwa apa yang telah diraihnya itu mesti dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Karena itu, orang mesti berusaha untuk tetap setia pada impian yang telah diraihnya itu. Setiap resiko mesti berani ditanggungnya.

Kisah tadi memberi inspirasi bagi kita bahwa sebuah cita-cita dapat diraih dalam hidup ini. Mimpi yang terus-menerus dikobarkan akan memacu seseorang untuk bekerja keras tanpa lelah untuk meraih mimpinya itu. Ketika mimpi itu tidak bisa diraih secara penuh, orang pun tidak perlu merasa frustrasi. Masih ada jalan lain yang dapat dilewati. Masih ada kesempatan lain yang dapat dilakukan untuk meraih cita-cita itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha meraih cita-cita kita. Kita mesti setia pada komitmen yang telah kita pancangkan. Dengan demikian, kita dapat meraih cita-cita sebagai sarana untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1064

02 Maret 2014

Memusatkan Diri pada Tuhan



Anda butuh waktu berapa lama untuk memusatkan diri pada Tuhan? Saya yakin Anda butuh berhari-hari untuk memusatkan diri pada Tuhan? Mengapa? Karena ada berbagai godaan dan tantangan.

Daniel Levitin adalah seorang ahli saraf yang terkenal. Ia mengemukakan satu hasil penelitiannya yang terkenal. Penelitian itu ia tulis dalam buku berjudul This is Your Brain On Music. Dalam penelitian itu, ia menemukan bahwa untuk memperoleh keahlian yang dibutuhkan menjadi peraih prestasi kelas dunia, entah sebagai seniman, atlet, penulis, musisi, diperlukan latihan setidaknya sebanyak 10.000 Jam.

Artinya, jika kita memakai 3 jam latihan setiap hari, maka setidaknya kita butuh 10 tahun untuk mencapai tahap ahli. Ya, perlu adalah latihan yang sungguh-sungguh dalam jangka waktu yang lama dan berkelanjutan. Seorang ahli tak bisa muncul tiba-tiba, semua butuh proses.

Berapa banyak waktu yang Anda berikan untuk melatih diri dalam bidang yang ingin Anda kuasai? Jangan harap Anda dapat meraih prestasi maksimal, jika Anda tidak punya kedisiplinan dan ketekunan. Untuk itu, Anda mesti punya waktu dan kemauan untuk berlatih terus-menerus. Mungkin waktu pertama kali Anda berlatih, Anda akan mengalami kejenuhan. Anda akan mengalami kesulitan. Namun ketika Anda mencoba dan mencoba mengatasi kejenuhan diri Anda, Anda akan menemukan bahwa latihan itu sangat penting bagi Anda.

Sahabat, menjadi seorang ahli dalam suatu bidang tertentu memang butuh waktu dan kerja keras. Ada berbagai rintangan yang mesti dihadapi. Ada berbagai usaha yang mesti dilakukan untuk meraih kesuksesan dalam hidup itu. Orang yang berani mempertaruhkan waktu dan kerja kerasnya akan meraih sukses yang berlimpah-limpah.

Untuk itu, orang mesti mau menumpahkan perhatiannya pada apa yang ingin diraihnya. Fokus merupakan suatu prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar dalam meraih keahlian itu. Orang yang mudah kehilangan fokus sering bingung akan apa yang mau dilakukannya. Orang seperti ini sering pindah-pindah pekerjaan dan keahlian. Ia tidak bisa menetapkan fokus yang mesti dituju.

Demikian halnya dalam hidup beriman. Orang beriman mesti selalu fokus pada imannya. Orang beriman mesti selalu setia pada iman yang dianutnya. Orang yang plin-plan dalam imannya biasanya orang mudah meninggalkan imannya. Orang yang kurang setia pada iman yang dianutnya.

Karena itu, dalam hidup beriman pun orang beriman mesti senantiasa mengarahkan fokusnya pada Tuhan. Orang beriman tidak boleh begitu mudah meninggalkan Tuhan. Sesibuk apa pun, orang beriman mesti selalu memberi waktu terbaik bagi Tuhan dalam hidupnya. Orang beriman mesti sadar bahwa Tuhanlah yang berkuasa menentukan keberhasilannya.

Mari kita tetap berusaha untuk setia kepada Tuhan yang kita imani. Dengan demikian, kita dapat menemukan kebahagiaan dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1063

01 Maret 2014

Meningkatkan Mutu Hidup dan Pelayanan

 
Mutu hidup merupakan hal yang penting dalam hidup manusia. Karena itu, orang mesti berusaha sungguh-sungguh dengan bekerja keras.

Krispy Kreme membuat 2,7 miliar donat dalam setahun. Pada tahun 2003, perusahaan ini mendapat julukan "Merek Terhangat di Amerika." Di tahun 2000, sahamnya meningkat empat kali lipat. Seluruh jaringannya menghasilkan miliaran dolar per tahun dari lebih 300 gerainya.

Scott Livengood, CEO Krispy Kreme, berkata, ”Produk kami tidak menyolok dan perusahaannya juga tidak baru. Kami berdiri sejak tahun 1937 dan citra mereknya sebenarnya cenderung kuno.”

Lalu apa yang bisa kita pelajari hingga mereka bisa mengubah donat menjadi bisnis miliaran dolar? Menurut Stan Parker, Wakil Direktur senior Krispy Kreme, rahasianya adalah perusahaannya menomorsatukan kesegaran sebagai ciri khasnya. Donatnya selalu dalam keadaan hangat, ketika disajikan pada konsumen.

Namun, sebenarnya bukan hanya itu. Satu hal lain yang menonjol dari Krispy Kreme adalah kegiatan amalnya pada masyarakat. Salah satu contoh adalah perusahaan menjual donat dengan setengah harga kepada golongan masyarakat tertentu. Dari situ mereka bisa menjual kembali dengan harga penuh. Perusahaan juga sering memberikan donat gratis kepada stasiun TV, surat kabar dan stasiun radio sebelum memasuki pasar.

Hingga kini, di Amerika nama Krispy Kreme begitu lekat di benak masyarakat. Ketulusan Krispy Kreme dalam beramal pada akhirnya membuat mereka menuai hasil manis. Citra sebagai donat yang selalu tersaji hangat ditambah dengan kesan yang melekat di hati masyarakat dengan gerakan amalnya.

Sahabat, sekarang ini banyak orang mengeluh tentang pelayanan yang kurang baik dari lembaga-lembaga tertentu. Mengapa dikeluhkan? Karena pelayanan yang baik itu dambaan setiap orang. Orang ingin dilayani dengan baik. Karena itu, orang ingin agar sesuatu yang disajikan itu dilakukan dengan hati yang tulus.

Kisah sukses Krispy Kreme tadi mau mengatakan kepada kita bahwa pelayanan yang baik itu mesti senantiasa dipertahankan. Hasil dari suatu pelayanan yang baik akan muncul kemudian. Ketika orang tidak mengeluhkan sistim pelayanan yang diberikan, orang akan menggunakannya dengan baik. Bahkan orang akan mempromosikan produk tersebut kepada semakin banyak orang.

Kecenderungan kita di negeri ini adalah kita sering lupa untuk tetap setia melayani orang lain. Sebuah rumah makan, misalnya, mesti senantiasa mempertahankan mutu makanannya dan pelayanannya. Yang sering kita temukan adalah begitu usaha sudah tumbuh subur, orang merasa tidak perlu lagi meningkatkan mutu dan pelayanan. Akibatnya, usaha seperti ini sering gulung tikar. Konsumen tidak lagi mau menggunakannya.

Orang beriman mesti senantiasa meningkatkan mutu hidupnya. Orang beriman mesti tidak mudah terpancing oleh layanan instan yang memudahkan orang untuk lupa meningkatkan mutu hidup dan pelayanannya. Orang yang senantiasa meningkatkan mutu hidup dan pelayanannya akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1062