Pages

30 Juni 2011

Tumbuhkan Kepedulian terhadap Sesama Rata Penuh





Ada seorang ibu yang selalu merasa beruntung dalam hidupnya. Ia merasa bahwa banyak orang selalu peduli terhadap hidupnya. Misalnya, ketika ia hendak melahirkan anaknya yang ketiga, ia mendapatkan bantuan dari tetangganya. Mengapa? Karena waktu hendak melahirkan itu suaminya tidak punya uang sama sekali. Suaminya baru saja diPHK dari pekerjaannya.

Karena itu, ia merasa bersyukur atas kepedulian itu. Ia mendoakan tentangganya itu, agar Tuhan senantiasa memberinya rahmat dan rezeki. Selama di rumah sakit, ibu itu pun selalu mendapat kunjungan dari teman-temannya. Mereka juga membawa oleh-oleh baginya. Ia merasakan bahwa Tuhan tetap mengasihinya dengan kehadiran teman-temannya itu.

Ibu itu kini boleh merasa bersyukur atas kebaikan sesamanya. Kebaikan yang telah ia tunjukkan kepada mereka kini berbuah bagi dirinya. Di kampungnya, ibu ini dikenal sebagai orang yang aktif dan peduli terhadap tetangga-tetangganya. Ketika ada tetangga yang sakit, ia datang berkunjung. Ia menghibur mereka yang sedang sakit dan bersedih hati. Ia meluangkan waktunya bagi sahabat-sahabatnya.

Bagi ibu itu, apa yang ia lakukan bagi sesamanya sudah merupakan panggilan hidupnya. Ia selalu tergerak hatinya begitu mendengar ada sesamanya yang mengalami penderitaan dalam hidupnya. Ia tidak tega melihat penderitaan sesamanya. Ia berusaha mendatangi dan menghibur sesamanya yang menderita itu.

Sahabat, kepedulian terhadap mereka yang menderita merupakan bagian dari kehidupan orang beriman. Kepedulian itu mendorong seseorang untuk memberikan hiburan bagi mereka yang menderita. Ada gerakan hati untuk mengunjungi mereka yang menderita. Ada dorongan untuk memberikan dukungan bagi mereka yang menderita, agar dapat bangkit dari penderitaan itu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kepedulian terhadap sesama memberikan buah kebahagiaan dalam hidup. Orang yang peduli terhadap sesamanya yang menderita mampu meringankan beban penderitaan itu. Orang yang sakit dapat sembuh berkat kepedulian itu. Orang mendapatkan kekuatan moril berkat kepedulian dari sesamanya.

Orang yang beriman teguh akan melaksanakan imannya dalam hidup sehari-hari. Caranya adalah dengan menumbuhkan sikap peduli dalam dirinya terhadap sesamanya. Tentu saja sikap peduli itu tidak datang dengan sendirinya. Sikap peduli itu tumbuh dalam proses hidup manusia. Sikap peduli itu berkembang, ketika orang sungguh-sungguh mengembangkannya. Tidak sekali jadi. Bisa saja orang mengalami jatuh bangun dalam menumbuhkan sikap peduli terhadap sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menumbuhkembangkan sikap peduli terhadap sesama. Mengapa? Karena kita tidak hidup sendirian di dunia ini. Kita selalu berjumpa dengan sesama. Kita selalu bersentuhan dengan sesama.

Karena itu, kita mesti tetap membuka hati kita bagi penderitaan sesama. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih damai dan sukacita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


714

29 Juni 2011

Membuat Prioritas dalam Hidup


Menentukan prioritas dalam hidup merupakan sesuatu yang mesti dilakukan oleh setiap orang. Mengapa? Karena dengan prioritas yang dimiliki itu orang dapat fokus dalam hidupnya. Pusat perhatian orang tidak mudah dipecah oleh hal-hal sampingan yang bukan prioritas dalam hidupnya. Dengan prioritas itu orang akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya.

Aktris Katherine Heigl yang berusia 32 tahun mesti mengucapkan selamat tinggal pada film serial televisi Grey’s Anatomy. Alasannya, biar punya cukup waktu bersama anak perempuannya, Naleigh yang baru berusia dua tahun. Ia ingin memusatkan perhatian pada anaknya itu. Karena itu, ia rela mengorbankan sesuatu yang juga tidak kalah pentingnya dalam hidupnya.

Gosip bertahan atau keluarnya Heigl dari Grey’s Anatomy sudah muncul sejak tahun 2007 lalu. Ketika itu dia ”meninggalkan” Grey’s Anatomy untuk bermain film layar lebar berjudul Knocked Up. Pengalaman bermain dalam film bioskop membuat dia berpikir untuk meninggalkan serial televisi.

Namun faktanya, Heigl tetap bermain untuk serial televisi yang dimulai tahun 2005 itu. Dua tahun lalu ia sempat ”istirahat” dari Grey’s Anatomy sekitar tiga bulan. Waktu itu, Heigl bersama suaminya, Josh Kelley, baru mengadopsi Naleigh dari Korea. Kali ini dia serius meninggalkan Grey’s Anatomy, setelah 118 episode membintangi serial tersebut. Ia terakhir tampil Januari 2010 lalu.

Ia berkata, ”Saya sudah selesai dengan Grey’s Anatomy. Kami telah bekerja keras menyelesaikan kontrak sebaik-baiknya. Ini saat yang menyedihkan, tetapi inilah yang saya inginkan. Saya telah mengecewakan penggemar (Grey’s Anatomy), tetapi juga harus membuat keputusan. Saya berharap pilihan inilah yang terbaik.”

Sahabat, adakah kita juga membuat prioritas-prioritas dalam hidup kita? Atau kita hidup mengalir begitu saja seperti air? Tentu saja orang yang punya tujuan hidup pasti membuat prioritas-prioritas dalam hidupnya. Orang mesti berani memilih mana yang lebih penting bagi hidupnya. Orang tidak bisa hidup dibawa arus. Mengapa? Karena manusia telah diberi kebebasan oleh Tuhan untuk menentukan pilihan hidupnya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada hal yang paling penting yang mesti diprioritaskan. Orang yang mau maju dan sejahtera dalam hidupnya mesti berani mengorbankan hal-hal yang menjadi kesenangannya pribadi. Ada hal yang lebih penting yang mesti diutamakan seperti yang dilakukan oleh Katherine Heigl.

Orang beriman yang ingin maju mesti mampu menentukan prioritas itu dalam hidup. Tentu saja dalam menentukan prioritas-prioritas itu orang beriman menyertakan Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan menghendaki manusia fokus dalam hidupnya. Tuhan ingin manusia senantiasa mengarahkan seluruh hidupnya pada kebahagiaan hidup.

Mari kita berusaha untuk memiliki prioritas-prioritas dalam hidup ini. Dengan demikian, kita dapat meraih kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

715

28 Juni 2011

Berani Pertaruhkan Hidup bagi Orang lain




Peristiwa ini terjadi terhadap seorang bapak di Pintu Satu Senayan, Jakarta, tahun lalu. Saat itu ia sedang mengendarai mobil. Sekitar dua puluh meter sebelum berbelok ke Jalan Pintu Satu Senayan, ia menyalakan lampu sinyal. Tetapi beberapa pengendara sepeda motor seakan tak perduli. Mereka tetap memaksa dan menerobos. Satu, dua, sepeda motor berhasil lolos. Tetapi sepeda motor ketiga gagal. Tabrakan tak terhindarkan.

Sepeda motor yang dikemudikan dengan kencang itu akhirnya membentur mobil bapak itu dengan keras. Sang pengemudi terpental lalu terhempas di trotoar. Bapak itu menepi dan berhenti.

Sejumlah orang yang menyaksikan peristiwa itu menyuruhnya jalan terus. Menurut mereka, pengendara motor itu yang salah. Sementara ia melihat pengendara sepeda motor bangkit dan dengan terpincang-pincang berusaha mendorong motornya ke pinggir jalan. Hati kecilnya memerintahkannya untuk turun dari mobil.

Mulanya pengemudi sepeda motor tersebut menolak tawarannya untuk diperiksa di Rumah Sakit Djakarta, yang jaraknya tak jauh dari lokasi tabrakan. Dia mengaku hanya butuh waktu sebentar guna memulihkan kondisi tubuhnya. Bapak itu mendesak dan mengatakan akan menanggung biaya pengobatan termasuk kerusakan motornya. Akhirnya dia bersedia.

Setelah membawa pengemudi motor itu ke rumah sakit, meninggalkan uang untuk perbaikan motornya, dan meninggalkan kartu nama, barulah mereka berpisah. Jika harus menghitung “kerugian” dalam peristiwa itu, bukan cuma karena mobil bapak itu yang rusak, tetapi juga banyak waktu yang terbuang.

Menurut bapak itu, sebagai manusia biasa, ada waktunya ia merasa jengkel pada ulah sebagian pengendara sepeda motor di Jakarta. Banyak yang ugal-ugalan dan merasa merekalah “raja jalanan”. Mereka seakan tidak perduli pada keselamatan jiwa sendiri dan orang lain. Terlalu banyak pengalaman tidak menyenangkan berhadapan dengan pengendara sepeda motor yang seperti itu.

Sahabat, dalam suatu peristiwa kecelakaan biasanya orang mempersoalkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Orang tidak langsung berpikir tentang korban yang mesti dibantu terlebih dahulu. Orang lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa dalam kondisi apa pun keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama. Karena itu, bapak itu tidak pertama-tama memikirkan siapa salah, siapa benar. Yang ia pentingkan adalah siapa yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Tindakan seperti ini merupakan suatu tindakan yang heroik. Ia berani berkorban untuk keselamatan orang lain. Ia bahkan tidak memikirkan kerusakan dan kerugian yang diderita oleh dirinya.

Tentu saja sikap seperti ini adalah sikap orang yang memiliki iman yang dalam kepada Tuhan. Orang yang berani mengorbankan hidupnya demi keselamatan orang lain menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan. Tuhan telah memberi hidup ini kepadanya. Karena itu, ia mesti meneruskan hidup ini kepada orang lain.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berani mempertaruhkan hidup kita bagi keselamatan sesama. Dengan demikian, dunia ini menjadi tempat yang aman dan damai bagi semua orang. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

712

27 Juni 2011

Menghayati Iman dalam Hidup


Seorang ibu bercerita bahwa suatu waktu ia mengalami sakit tenggorokan sampai suaranya hilang. Sakit itu ia alami selama satu tahun. Ketika ia berobat ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ia mengalami radang tenggorokan yang akut. Dokter menganjurkan dirinya untuk beristirahat selama satu minggu.

Anjuran itu tidak bisa dilaksanakan oleh ibu itu, karena profesinya sebagai guru TK yang menuntutnya untuk mengeluarkan suara. Ibu itu tidak bisa meninggalkan tugasnya. Ia tetap masuk ke kelas untuk mengajar anak-anak. Ia memaksakan diri untuk mengeluarkan suara, karena tuntutan profesinya. Akibatnya, penyakit radang tenggorokan itu malah menjadi-jadi sampai mengeluarkan darah.

Ia tidak tinggal diam. Seribu satu langkah ia ambil untuk menyelamatkan tenggorokannya. Ia terus mengobatinya. Namun ia juga memohon bantuan kepada Tuhan. ia yakin, mukjijat akan terjadi dalam hidupnya. Ia yakin, Tuhan akan selalu membantunya untuk kesembuhan tenggorokannya. Keyakinannya ini meneguhkan semangatnya untuk terus maju dalam hidup ini. Ia berhasil. Kombinasi antara usaha diri sendiri dan bantuan Tuhan telah menyembuhkan tenggorakannya.

Ibu itu berkata, “Melalui peristiwa tersebut, iman saya menjadi semakin kuat. Saya menyediakan waktu setiap hari untuk membaca Kitab Suci, berdoa dan beramal.”

Sahabat, banyak orang mengaku beriman kepada Tuhan. Namun kenyataan hidup mereka sering bertentangan dengan iman itu. Misalnya, ada orang yang rajin beribadat, rajin membaca Kitab Suci, namun ternyata ia seorang koruptor kelas kakap. Ada orang yang punya semangat sosial yang tinggi seperti memberi sumbangan untuk kegiatan-kegiatan sosial. Namun kemudian orang ini berurusan dengan polisi, karena menjadi bandar narkoba.

Tentu saja contoh-contoh tadi merupakan kehidupan yang menyimpang dari iman. Kehidupan iman ternyata tidak selaras dengan hidup sehari-hari. Iman yang luhur dan mulia itu tidak diimbangi dengan penghayatan hidup yang baik dan benar. Ada ketimpangan antara iman dan kenyataan hidup sehari-hari.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita masih tetap butuh iman yang hidup. Iman yang hidup itu tumbuh dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Suatu sikap iman yang selaras dengan penghayatan iman. Orang tidak bisa hanya mengharapkan mukjijat. Orang juga mesti berusaha untuk menghayati imannya dalam hidup sehari-hari.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita senantiasa diajak untuk terus-menerus menghidupi iman kita dalam perjalanan hidup ini. Hanya dengan menjadikan iman kita nyata dengan melaksanakan ajaran-ajaran agama kita masing-masing, kita mampu menjadi orang beriman yang baik.

Mari kita berusaha untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan. Dengan cara ini, kita memiliki iman yang kuat dan tahan uji. Iman kita tidak hanya tampak dalam ibadat dan doa-doa. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


711

26 Juni 2011

Ketika Orang Berani Menghadapi Pilihan Hidup


“Hidup ini pilihan”. Begitu ungkapan yang sering kita dengar. Sebenarnya sejak awal kehidupan ini kita sudah dihadapkan pada beberapa pilihan yang terkadang membuat kita pusing tujuh keliling. Namun semua itu tergantung dari cara kita menanggapi pilihan hidup itu. Tentu saja setiap pilihan hidup itu pasti ada resikonya.

Seorang gadis menyadari jalan pilihan hidupnya, ketika ia berusia delapan belas tahun. Waktu itu ia telah lulus dari SMA. Waktu itu saudari iparnya menganjurkannya untuk kuliah di sebuah universitas negeri. Ia dianjurkan untuk menempuh kulian Diploma III. Namun anjuran itu bertentangan dengan pikirannya. Mengapa? Karena ia telah menanamkan cita-cita untuk menjadi seorang perawat.

Ia merenungkan dua pilihan itu. Ia berpikir, kalau ia memenuhi anjuran saudari iparnya, ia akan tergantung kepadanya. Tetapi kalau ia mengikuti keinginannya, ia telah merasa berhutang kepada saudari iparnya yang telah menyekolahkannya hingga lulus SMA. Dalam kebimbangan seperti itu, ia memutuskan untuk meninggalkan rumah saudari iparnya. Ia pergi ke kota lain untuk mencari pekerjaan.

Ia berhasil. Dari hasil kerjanya itu, ia mulai menabung. Ia ingin melanjutkan sekolahnya lagi. Ia tidak hanya ingin berhenti sampai lulus SMA. Ia ingin memiliki pendidikan yang lebih tinggi lagi.

Setelah beberapa tahun bekerja, ia meminta kepada bosnya untuk dapat melanjutkan kuliah di kota tersebut. Bosnya sangat mendukung keinginannya. Bahkan sang bos berjanji untuk membantu biaya kuliahnya. Hal itu menjadi motivasi yang semakin membantunya dalam kuliahnya. Empat tahun kemudian ia pun menyandang gelar sarjana. Kerja kerasnya mulai ia nikmati. Ia memiliki pendidikan yang lebih tinggi.

Sahabat, banyak anak zaman sekarang sering gampang menyerah pada situasi yang mereka hadapi. Ketika ada tantangan, mereka berhenti. Mereka tidak berani untuk maju. Mereka takut gagal dalam hidup mereka. Tentu hal seperti ini membuat kita miris. Mengapa anak zaman sekarang mudah menyerah pada tantangan hidup? Semestinya tantangan hidup itu menjadi motivasi untuk meraih cita-cita hidup.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa tantangan hidup bukan menjadi halangan bagi manusia untuk berhenti di jalan. Tantangan itu menjadi motivasi bagi dirinya untuk meraih cita-cita hidupnya. Tantangan bukanlah penghalang bagi kemajuan. Orang yang berani menghadapi tantangan itu akan berhasil dalam hidupnya. Orang seperti ini berani menghadapi resiko yang akan dihadapi.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menghidupi iman kita dalam hidup sehari-hari. Iman itu sering berhadapan dengan tantangan-tantangan. Iman sejati itu diuji dalam perjalanan hidup ini. Karena itu, orang beriman mesti berani menghadapi pilihan-pilihan hidup yang penuh resiko. Dengan cara ini, orang tetap bertahan dalam perjalanan hidup ini. Orang tetap berani untuk menghidupi imannya dalam tantangan hidup yang nyata.

Mari kita tetap berusaha untuk menghidupi iman kita dalam hidup yang nyata dengan berbagai resikonya. Dengan demikian, kita dapat menemukan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


709

Terbuka terhadap Perubahan Zaman



Mencermati hidup manusia, manusia selalu hidup dalam perubahan. Perubahan itu terjadi dalam pertumbuhan fisik, berbicara, intelektual dan psikologi serta spiritual. Manusia yang terbuka terhadap perubahan akan mengalami kemajuan dalam hidupnya. Hanya orang yang ingin menggapai kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidupnya akan membuka dirinya terhadap perubahan itu.

Seorang gadis menyadari bahwa hidup ini unik dan selalu berubah. Ia mengaku mesti menerjang berbagai aral yang menantang untuk menerima perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupnya. Ia berhasil. Ia menggapai cita-citanya menjadi seorang guru. Ia mulai membangun hidupnya dengan menjadi guru dan pendidik.

Ia mengaku, awalnya ia mengalami kesulitan-kesulitan dalam mengajar dan mendidik. Namun berkat keterbukaan hatinya terhadap berbagai perubahan, ia pun mulai merasa percaya diri. Ia yakin, apa yang ia ajarkan di kelas memberikan hal-hal yang berguna bagi kehidupan banyak orang.

Untuk itu, ia berani melakukan inovasi-inovasi dalam setiap pelajaran yang ia berikan. Ia tidak hanya menggunakan metode-metode yang biasa-biasa saja. Ia menggunakan metode-metode alternatif yang membantu murid-muridnya maju dalam pendidikan mereka.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang cepat berubah. Sepuluh tahun lalu, misalnya, di kota Palembang belum kita jumpai mall-mall. Namun sekarang ada berbagai mall yang menjadi pusat perbelanjaan bagi masyarakat. Ini suatu perubahan. Masyarakat Palembang hidup dalam perubahan seperti ini. Kalau orang tidak bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, orang akan mengalami kesulitan dalam hidupnya. Orang akan menemukan bahwa orang mengalami berbagai hambatan dalam hidupnya.

Untuk itu, orang mesti menyiapkan dirinya untuk menghadapi berbagai perubahan yang terjadi. Orang juga mesti berani melakukan inovasi-inovasi dalam hidup ini untuk dapat mengimbangi perubahan yang terjadi. Tentu saja hal ini tidak mudah. Orang mesti berani menghadapi resiko-resiko yang akan terjadi, ketika orang berani melakukan inovasi dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa inovasi yang dilakukan dengan metode-metode baru dalam mengajar itu membantu orang untuk berhasil dalam hidupnya. Sebagai orang beriman, kita diharapkan senantiasa melakukan inovasi-inovasi dalam perjalanan hidup ini. Ada banyak kemungkinan yang terbuka luas bagi kita untuk meraih hidup yang sejahtera.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk terbuka hati terhadap berbagai perubahan zaman. Hanya dengan membuka hati, kita dapat meraih kesuksesan dan kesejahteraan dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

710

24 Juni 2011

Bertahan dalam Kebenaran



Kata siapa belajar itu gampang? Waktu pertama belajar mengendarai sepeda motor, misalnya, ternyata sulit. Tangan dan kaki gemetar setiap mengendarai sepeda motor. Walaupun ada yang membantu, masih ada rasa takut.

Suatu waktu seorang pemuda memberanikan diri mengendarai sepeda motor vespa. Tiba di jalan sempit, gang antara ruko, stang sepeda motornya menyenggol dinding tembok ruko tersebut. Handel rem patah. Ia turun mendorong motor sampai ke bengkel untuk diperbaiki dan mengganti bagian yang rusak.

Suatu hari, ia mengendarai sepeda motor ke sekolah. Ia berangkat agak pagi. Sampai di pintu gerbang sekolah, naik tanjakan, braak…. Motornya menabrak pintu dapur. Walapun kejadiannya pelan, namun ia merasa sangat takut. Ia menjadi gugup.

Namun pengalaman-pengalaman tabrakan itu tidak membuat pemuda itu putus asa. Ia terus belajar. Suatu ketika ia pun dapat mengendarai sepeda motor dengan sangat lancar. Ia dapat meliuk-liuk di jalan raya. Ia bisa zigzag di keramaian kota.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang serba menantang. Di saat ujian nasional yang lalu sedang berjalan, banyak pelajar tergoda untuk mendapatkan jawaban atas soal ujian. Mereka tampak kurang percaya diri untuk mengerjakan soal-soal ujian nasional itu. Padahal mereka sudah mempersiapkan diri berbulan-bulan. Banyak try out telah dilakukan di sekolah-sekolah. Memang, ujian nasional itu gampang-gampang susah. Orang mesti menyiapkan diri sungguh-sungguh. Kalau hanya asal-asalan menyiapkan diri, tentu akan mengalami kesulitan yang besar di ruang ujian.

Dalam suasana kurang percaya diri itu timbullah keinginan untuk menyontek. Suatu tindakan yang tidak terpuji. Suatu tindakan yang mengangkangi kebenaran dan kejujuran. Padahal setiap sekolah telah menanamkan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran yang semestinya selalu diperjuangkan.

Karena itu, orang mesti berlatih terus-menerus untuk menemukan cara-cara yang jujur dan benar dalam menjalani hidup ini. Orang mesti belajar untuk memiliki ketrampilan yang dapat membantu dirinya untuk menjalani hidup ini. Orang mesti berusaha untuk tidak tergoda oleh hal-hal yang menuntutnya untuk meninggalkan kebenaran dan kejujuran.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk mendidik diri kita memiliki kekuatan untuk bertahan dalam kebenaran dan kejujuran. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu contoh bagi orang lain. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


708

23 Juni 2011

Membagikan Pengalaman Kegembiraan


Suatu pagi, seorang mahasiswi mendapat telephon dari kampusnya. Ia diminta untuk segera ke kampus. Ia segera berangkat. Seribu satu pikiran timbul tenggelam dalam benaknya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah tiba di kampus. Namun ia tetap yakin, ada sesuatu yang baik yang akan ia peroleh dari kampusnya.

Setelah beberapa lama, ia pun tiba di kampusnya. Ia langsung menuju ke bagian administrasi universitas itu. Begitu bertemu dengan petugas administrasi, jantungnya berdetak kencang. Namun tiba-tiba ia menjadi tenang. Ia pun dapat tersenyum gembira, begitu petugas itu berkata, “Selamat. Anda mendapat beasiswa!”

Ia melonjak kegirangan. Ia merasakan hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi lebih mudah. Ia datang dari keluarga miskin yang tidak berpunya, namun ia mendapatkan perhatian yang luar biasa dari pihak universitas. Ia pun bersyukur atas kebaikan Tuhan. Ternyata Tuhan tetap menyertai umat-Nya yang miskin. Tuhan tetap peduli terhadap orang yang lemah.

Kegembiraan itu kemudian ia bagikan kepada sang ibu di rumah. Sang ibu sampai meneteskan air mata. Ia begitu bahagia. Ia tidak perlu lagi bekerja terlaku keras untuk membiayai putrinya itu.

Gadis itu mengucapkan terima kasih atas perhatian ibunya. Ia menyadari, sikap cerewet yang selama ini ditunjukkan oleh ibunya itu sungguh-sungguh bermanfaat. Ia mendapatkan dukungan dan dorongan untuk meraih prestasi yang tinggi dalam kuliahnya.

Sahabat, kegembiraan yang kita miliki bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kegembiraan itu juga mesti dibagikan kepada sesama. Mengapa? Karena kegembiraan itu menjadi suatu situasi kita memberi semangat hidup kepada orang lain. Ketika kita berani membagikan kegembiraan kita kepada orang lain, kita ingin mengungkapkan betapa hidup ini memiliki makna yang begitu mendalam.

Banyak orang berpikir, kegembiraan itu miliki diri mereka sendiri. Karena itu, mereka memendam kegembiraan itu untuk diri mereka sendiri. Mereka enggan membagikan kegembiraan itu kepada sesamanya. Akibatnya, kegembiraan itu hanya untuk diri mereka sendiri. Kegembiraan itu hanya bermakna bagi diri mereka sendiri. Bukan menjadi bagian dari sesama.

Melalui kisah di atas kita diajak untuk berani membagikan kegembiraan yang kita miliki kepada sesama kita. Mengapa? Karena kegembiraan yang kita miliki itu bukan hanya milik kita. Kegembiraan itu juga milik sesama kita. Kegembiraan itu pantas kita bagikan kepada sesama kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menyadari bahwa kegembiraan itu berasal dari Tuhan. Tuhan sendiri ingin membagikan kegembiraannya kepada ciptaan-Nya. Tuhan ingin agar kita menemukan kegembiraan dalam hidup kita. Karena itu, mari kita saling berbagi kegembiraan. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

707

22 Juni 2011

Andalkan Rahmat Penyembuhan dari Tuhan



Seorang gadis bercerita bahwa tahun 2005 merupakan tahun terberat bagi dirinya. Di saat usianya menginjak yang ke-32, ia dinyatakan menderita penyakit Idiopatic Thrombocitopenic Purpura atau ITP. Penyakit itu tidak diketahui penyebabnya. Ia begitu cemas. Ia tidak pernah merasakan sakit. Hanya pada suatu hari sekujur kakinya timbul bintik-bintik merah dan kebiru-biruan.

Beberapa hari kemudian terjadi pendarahan di sela-sela gusinya. Ia takut dan merasa lemas. Lalu ia pergi ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan diri. Begitu darahnya dicek di laboratorium, ternyata trombositnya hanya mencapai sebelas ribu. Padahal manusia normal mesti memiliki sekitar 150.000 - 250.000. Ia langsung dirawat hingga lima hari. Baru sekali itu ia merasakan terbaring lemas di rumah sakit.

Dalam kondisi seperti itu, ia mendapatkan dukungan dari teman-teman dan keluarganya. Mereka senantiasa memberinya semangat. Semangat itu untuk sementara menguatkan dirinya. Beberapa hari kemudian, ia diperbolehkan pulang. Ia menjalani pengobatan di rumah.

Namun baru empat bulan ia menjalani pengobatan, ternyata ia masuk kembali ke rumah sakit. Ia menjalani perawatan lagi. Setiap saat selalu diambil darahnya. Jarum suntik sudah tidak menakutkan lagi baginya. Begitulah seterusnya hingga ia masuk rumah sakit untuk keempat kalinya.

Ia mulai mengerti tentang penyakit yang dideritanya. Ia mencari informasi tentang penyakit yang dideritanya. Ia menemukan bahwa sel-sel darah merahnya terlalu sedikit atau terlalu rendah. Antibodi dalam tubuhnya itu menyerang sel-sel darah itu sendiri. Karena sel darah merah di tubuhnya rendah itulah yang menyebabkan bintik-bintik merah dan terjadi pendarahan.

Gadis itu terus berusaha untuk sembuh dan terbebas dari penyakitnya. Ia mencoba untuk menjadi sehat. Pola hidup sehat senantiasa ia terapkan, pengobatan medis tetap ia jalani.

Sahabat, usaha untuk memperoleh kesembuhan dari suatu penyakit menunjukkan tekad iman yang besar. Orang yang menyerah pada keadaan sebenarnya orang yang kurang beriman. Tuhan telah memberi berbagai potensi yang ada dalam diri untuk terus-menerus memerangi kelemahan. Karena itu, manusia mesti menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memperkuat dirinya.

Kisah tadi mengatakan kepada kita bahwa usaha untuk memperoleh kesembuhan memberi kekuatan kepada gadis itu untuk terus maju. Ia tidak mau menyerah. Ia berusaha untuk mencari cara-cara yang terbaik untuk kesembuhan dirinya. Ia mencari tahu jenis penyakit yang dideritanya. Dengan demikian, ia semakin mengerti dan tahu tentang penyakitnya itu.

Sebagai orang beriman, usaha untuk menyembuhkan diri dari suatu penyakit mesti selalu dibantu oleh rahmat Tuhan. Dalam kondisi sakit, orang mesti berusaha untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan sambil berharap rahmat penyembuhan. Dengan demikian, orang senantiasa mengandalkan kuasa Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


706

21 Juni 2011

Berusaha Menjadi Orang Baik




Banyak orang berebut menjadi orang penting dalam kehidupan sehari-hari. Ada berbagai motivasi yang diungkapkan. Berbagai usaha ditempuh untuk meraih keinginan untuk menjadi orang penting. Setelah meraih keiningan itu, orang merasa bahagia. Soalnya, apakah cukup orang menjadi orang penting dalam hidup ini?

Namun menurut Ebet Kadarusman, belum cukup orang menjadi orang penting. Ia berkata, “Memang baik jadi orang penting, tetapi jauh lebih penting untuk jadi orang baik.”

Tentu saja ini sebuah ungkapan yang menantang manuisa untuk semakin menjadi orang baik dalam hidup ini. Ebet Kadarusman meninggal Sabtu, 20 Maret 2010, lalu di Bandung. Ia dikenal oleh banyak pemirsa televisi lewat acara ‘Salam Canda’. Ungkapan atau pesan tadi merupakan trademark saat ia membawakan acara tersebut.

Sahabat, tentu saja pesan tadi punya makna yang mendalam bagi hidup manusia. Boleh-boleh saja orang berlomba-lomba untuk menjadi orang penting. Namun yang mesti diingat adalah orang mesti berusaha untuk menjadi orang baik dalam hidup ini. Ketika orang hanya mengejar keinginan untuk menjadi orang penting, orang bisa menempuhnya dengan cara-cara yang tidak terpuji.

Untuk itu, perlu kesadaran dalam diri manusia tentang makna kehidupan ini. Apakah orang hidup untuk mengejar cita-cita menjadi orang penting? Atau orang mesti menjadi orang baik lebih dahulu baru menjadi orang penting? Tentu saja tidak mudah menjadi orang yang baik. Orang mesti menghadapi berbagai rintangan dalam hidup ini. Orang mesti melewati tantangan-tantangan.

Namun kalau orang tetap bertahan pada prinsip untuk menjadi orang baik lebih dahulu, orang akan mengalami hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dan berguna bagi orang lain. Orang akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang baik. Namun soal baik buruknya seseorang tentu bukan penilaian dari diri sendiri. Hal itu merupakan penilaian dari orang lain atas kinerja dan sepak terjang seseorang dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk menjadi orang yang baik. Orang yang baik itu orang yang mampu melepaskan diri dari egoisme dan cinta diri yang berlebihan. Mengapa mesti demikian? Karena orang yang baik itu mesti rela berkorban bagi sesamanya. Orang yang baik itu rela mendahulukan kepentingan dan kebahagiaan sesamanya. Orang yang baik itu mampu memberi dirinya bagi kebahagiaan sesamanya.

Mari kita berlomba-lomba menjadi orang yang baik dengan cara-cara yang baik. Hanya dengan menjadi orang baik, kita mampu menjadi pembawa kegembiraan dan harapan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


705