Pages

31 Juli 2011

Hidup Ini Milik Tuhan


Suatu hari ada seorang yang baik dan sangat jujur jatuh sakit. Penyakit yang diderita itu pun mengancam nyawanya. Ia menderita sakit kanker. Waktu memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa kanker yang dideritanya sudah mencapai stadium empat. Orang baik itu sangat terkejut. Para anggota keluarganya pun tidak percaya akan hal itu. Selama ini ia tampak baik-baik saja. Ia jarang jatuh sakit. Baru sekali ini ia sakit dan langsung parah.

Banyak sahabatnya pun tidak percaya akan hal ini. Mereka merasa bahwa tidak mungkin Tuhan memberikan hukuman yang begitu kejam terhadap dirinya. Namun dokter tidak membohongi orang baik itu. Ia sudah menelitinya dengan sangat cermat. Kesimpulannya adalah orang baik dan jujur itu menderita kanker ganas. Bahkan obat-obat yang ia berikan tidak mempan. Orang baik itu hanya bisa membaringkan diri di tempat tidur. Lima bulan kemudian orang baik dan jujur itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh tragis!

Para anggota keluarganya tidak mudah menerima kenyataan itu. Namun selama perawatan, orang baik itu berusaha untuk menerima kenyataan yang ada. Ia tidak bisa menolaknya. Bahkan ia berusaha untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia yakin, penyakit hanya mampu membunuh tubuh manusiawinya. Namun penyakit yang ganas itu tidak mampu membunuh jiwanya.

Karena itu, ketika ada sahabatnya yang bertanya, mengapa Tuhan membiarkan orang baik menderita, ia menjawab, ‘Hidup ini milik Tuhan. Hidup ini bukan milik saya. Tuhan mau buat apa terhadap hidup saya ini, itu terserah Tuhan.’

Sahabat, apa yang terjadi seandainya Anda yang mengalami penderitaan seperti yang dialami orang baik dalam kisah tadi? Rasanya Anda akan memberontak. Anda akan menolak penderitaan yang terjadi atas diri Anda. Mengapa? Karena Anda akan merasa bahwa Tuhan itu tidak adil terhadap Anda. Anda masih ingin hidup untuk waktu yang lama. Tetapi kenapa Tuhan begitu cepat mengambil Anda dari dunia ini.

Sikap orang baik dalam kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan tidak menghukum manusia. Penderitaan yang dialami oleh manusia itu melulu karena sifat keinsanan kita. Yang diinginkan oleh Tuhan bagi manusia adalah keselamatan. Untuk itu, Tuhan telah memberikan kasihNya kepada manusia. Melalui orang-orang yang ada di sekitar kita, Tuhan menunjukkan kasih setiaNya itu. Tuhan tetap peduli terhadap kehidupan manusia. Tuhan tidak meninggalkan manusia berjuang sendiri.

Dalam penderitaan itu, Tuhan tetap hadir. Tuhan tidak meninggalkan manusia berjuang sendirian melawan sakitnya. Tuhan memberikan semangat kepada setiap orang yang sedang menderita dengan harapan akan kehidupan abadi. Karena itu, orang beriman mesti memiliki fighting spirit atau semangat juang.

Dalam semangat juang itu, manusia memiliki harapan untuk terbebas dari penderitaan. Dalam semangat juang itu, manusia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Mengapa? Karena hidup ini milik Tuhan. Kapan Tuhan mau mengambil hidup ini dari kita, Dia akan mengambilnya. Itu hak Dia, karena Dia yang menganugerahkan hidup ini kepada kita.

Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, hidup kita semakin memiliki makna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

743

Mengusir Rasa Bosan


Kebosanan sering dirasakan oleh manusia. Apalagi pekerjaan yang dijalani dari waktu ke waktu hanya itu-itu saja. Orang mengalami kebosanan sebagai sesuatu yang menyiksa batinnya. Karena itu, orang ingin cepat-cepat lari dari kebosanan itu. Orang berusaha menemukan hal-hRata Penuhal lain untuk mengakhiri kebosanan itu. Misalnya, ada yang memelihara burung di rumah usai bekerja. Atau memelihara dan merawat bunga di halaman rumah setelah seharian lelah bekerja. Atau ada yang pergi ke kolam untuk memancing.

Usaha-usaha yang positif mesti selalu dilakukan untuk menyegarkan kembali diri sendiri setelah lelah bekerja. Orang yang tidak menemukan cara-cara kreatif untuk menyegarkan diri dari rutinitas akan mudah stress.

Pemeran sinetron dan film Dude Harlino hingga kini tetap setia dengan sinetron-sinetron yang terkadang shooting-nya melelahkan. Dude kembali meramaikan layar kaca dengan sinetron terbarunya, Seindah Senyum Winona, bersama pasangan main Velove Vexia.

Tentang bekerja, ia berkata, ”Saya bekerja seperti orang-orang bekerja. Jadi tidak bosan, karena ini pekerjaan. Seperti wartawan yang tiap hari mencari dan membuat berita, enggak bosan, kan?”

Karena itu, berbagai persoalan yang timbul ketika pengambilan gambar harus bisa diatasi. Dengan membaca, mendengarkan musik dan menonton film, rasa bosan itu bisa diusir.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang semakin sibuk. Kita dituntut untuk kreatif dalam hidup ini. Kreatif bukan hanya dalam usaha memperoleh hasil yang berlimpah-limpah. Tetapi kreatif juga dalam menemukan cara-cara untuk mengusir kebosanan hidup. Orang yang bosan terhadap hidup dan pekerjaannya mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang negatif. Untuk itu, kita mesti hati-hati dalam hidup ini.

Ada berbagai cara untuk mengusir kebosanan. Dude Harlino menemukan cara mengusir kebosanan dengan membaca, mendengarkan musik dan nonton film. Tentu saja setiap orang punya cara-cara sendiri dalam usaha mengusir kebosanan itu. Yang penting adalah orang tetap konsisten pada apa yang dikerjakannya. Meski pekerjaan itu tampaknya rutin terus-menerus sepanjang puluhan tahun, tetapi ketika orang sungguh-sungguh tetap setia pada pekerjaannya, orang akan terhindar dari rasa bosan.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dalam hidupnya. Hal ini menjadi penting, ketika kita membuat strategi-strategi bagi kemajuan hidup kita. Kita perlu menemukan titik lemah dalam diri kita. Salah satu titik lemah itu adalah rasa bosan. Kalau orang telah menemukan rasa bosan itu, orang akan dengan mudah mampu mengatasinya.

Mari kita berusaha untuk menemukan penyebab-penyebab rasa bosan dalam hidup kita. Kita tetap menyertakan Tuhan dalam hidup kita, dengan demikian kita dapat mengusir rasa bosan dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


742

29 Juli 2011

Memperjuangkan Martabat Manusia


Trafficking atau perdagangan manusia masih saja terjadi di negeri ini. Ada anak-anak dan kaum perempuan yang menjadi korban trafficking ini. Mereka dijual setelah dijanjikan untuk bekerja atau menjadi orang yang punya pekerjaan yang mendatangkan banyak uang.

Apa yang terjadi setelah itu adalah mereka tidak lebih baik daripada para budak belian di zaman dulu. Mereka dipaksa bekerja seperti menjadi pembantu rumah tangga tanpa digaji. Atau mereka menjadi buruh dengan gaji yang sangat tidak layak. Lebih parah lagi, mereka dijadikan pekerja seks komersial. Mereka tidak punya kekuatan untuk menuntut gaji yang sesuai dengan pekerjaan mereka. Mereka kehilangan hak-hak mereka sebagai manusia yang bermartabat.

Melihat kondisi seperti ini, penyanyi dan pemain sinetron, Agnes Monica, prihatin. Ia tidak ingin kaum perempuan dan anak-anak menjadi korban trafficking atau perdagangan manusia. Ia ingin setiap orang punya hak dan martabat yang sama. Karena itu, ia menjadi duta atau juru bicara MTV Exit Indonesia. Exit adalah singkatan dari End Exploitation and Trafficking. MTV Exit adalah kampanye untuk memerangi perdagangan manusia.

Di Indonesia saat ini banyak terjadi perdagangan manusia, terutama anak-anak dan perempuan. Sebagian dari mereka dipaksa bekerja seperti menjadi pembantu rumah tangga dan buruh yang tidak digaji dengan layak. Bahkan lebih kejam lagi banyak yang dijadikan pekerja seks komersial.

Agnes berkata, ”Trafficking ini merupakan bentuk baru perbudakan modern.”

Menurut Agnes, persoalan perdagangan manusia ini terjadi karena kurangnya pendidikan bagi kaum remaja. Ia berkata, ”Ini soal kesenjangan pengetahuan. Orang Indonesia selalu bilang iya. Mereka tidak dapat berkata tidak, karena tidak ingin menyakiti orang lain. Akhirnya, mereka terjebak dan dirugikan.”

Sahabat, pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah mengapa manusia diperdagangkan? Jawabannya bisa macam-macam. Namun satu hal yang pasti adalah cinta pada diri sendiri sangat dominan dalam hidup manusia. Orang yang melakukan jual beli manusia itu hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Orang seperti ini tidak pernah berpikir tentang kebahagiaan sesamanya. Martabat manusia diabaikannya.

Orang seperti ini hanya memanfaatkan ketidaktahuan manusia. Soal martabat manusia yang harus diperjuangkan tidak dihiraukannya. Akibatnya, orang hanya mencari dan menemukan keinginan dirinya sendiri. Orang tidak peduli terhadap keselamatan orang lain. Orang hanya ingin memenuhi keinginan dirinya sendiri. Orang lain boleh menderita. Martabat orang lain boleh diinjak-injak.

Tentu saja situasi seperti ini tidak boleh terjadi. Situasi seperti ini mesti dienyahkan dari hidup manusia. Martabat manusia harus semakin dihargai dan dilindungi. Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk memperjuangkan martabat hidup manusia. Mari kita berusaha untuk selalu memperjuangkan martabat manusia. Dengan demikian, hidup ini semakin baik dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

28 Juli 2011

Tumbuhkan Cinta dalam Hidup


Ada seorang ibu yang mesti memelihara anaknya sendirian selama empat puluh tahun. Suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan. Sedangkan satu dari tiga orang anaknya mengalami cacat fisik sejak kecelakaan bersama ayahnya. Sejak bangun pagi hingga beranjak ke tempat tidurnya, ibu itu selalu punya perhatian terhadap anaknya. Apalagi sang anak tidak bisa berjalan sendiri. Ia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Kaki dan tangannya lumpuh.

Suatu hari seorang teman kelasnya dulu datang mengunjungi ibu itu beserta anaknya. Temannya itu merasa tersentuh oleh situasi hidup ibu itu. Ia berkata, “Kamu pasti merasa capek. Kamu pasti merasa terbebani dengan kondisi anakmu.”

Ibu itu tersenyum mendengar kata-kata teman lamanya itu. Ia berkata kepadanya, “Saya tidak pernah merasa terbebani oleh kondisi anak saya. Sudah empat puluh tahun saya lakukan semua hal untuk dia. Saya merasa bahagia. Saya merasakan begitu besar cinta Tuhan terhadap saya. Tuhan telah memberi tanggung jawab ini kepada saya.”

Temannya terkejut mendengar kata-kata bijak ibu itu. Ia heran, mengapa kondisi seperti itu tidak sedikit pun membuat ia terbebani. Ia berdecak kagum mendengar kata-kata ibu itu. Ia bahkan merasa malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa gagal dalam mendidik anak-anaknya. Dua anaknya tidak berhasil dalam hidup mereka. Mereka menjadi orang-orang yang sering menyusahkan dirinya.

Sahabat, cinta yang begitu besar telah mendorong seorang ibu menerima kehadiran anaknya yang cacat. Tampak cacat fisik yang dimiliki anaknya itu membuat ibu itu mengambil tindakan kasih yang nyata. Ia merawatnya dengan penuh perhatian. Ia tidak mau membiarkan sang anak menderita dalam kondisinya seperti itu.

Banyak orang sering merasa bahwa suatu perbuatan baik bagi sesama itu menjadi suatu beban. Melakukan suatu kebaikan itu memberikan beban terhadap hidupnya. Karena itu, orang enggan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi orang lain. Orang merasa bahwa melakukan hal-hal baik bagi orang lain itu membuang-buang waktu saja. Lebih baik melakukan sesuatu untuk diri sendiri saja.

Orang yang berpandangan seperti ini biasanya orang-orang yang kurang punya kasih. Cinta mereka terhadap sesama dibatasi oleh egoisme yang begitu besar. Orang hanya ingin mencari kepuasan bagi dirinya sendiri saja. Orang seperti ini lebih memperhitungkan untung rugi bagi dirinya sendiri saja. Karena itu, orang seperti ini lebih sering mengeluh ketika mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidupnya. Orang seperti ini lebih mudah sewot ketika terjadi jalan buntu dalam hidupnya.

Kisah ibu tadi memberi inspirasi bagi kita untuk memiliki cinta yang kuat terhadap sesama. Cinta yang kuat itu dilatih dalam pergulatan kehidupan. Cinta yang kuat itu dapat bertumbuh dan berkembang dalam perbuatan baik bagi sesama. Untuk itu, orang mesti terus-menerus menumbuhkembangkannya dalam hidupnya. Orang mesti yakin bahwa hanya dengan melakukan hal-hal baik bagi sesama, orang dapat mengalami cinta yang besar pula dalam hidupnya.

Mari kita bertumbuh dan berkembang dalam cinta kasih terhadap sesama. Kita berusaha untuk terus-menerus mengasihi sesama dengan segenap hati. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

740

27 Juli 2011

Melepas Egoisme bagi Hidup yang Lebih Baik



Ketika kaum perempuan belum mendapatkan pendidikan yang memadai, mereka dianggap sebagai kaum yang lemah. Akibatnya, mereka sering tidak diikutsertakan dalam berbagai segi kehidupan. Mereka sering dianggap sebagai pelengkap saja dalam kehidupan kaum pria.

Di zaman dulu, mereka dipingit. Mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang baik di luar rumah. Kehidupan publik mereka sangat dibatasi. Akibatnya, kaum perempuan tetap tertinggal dari kaum lelaki dari berbagai segi kehidupan. Kondisi seperti ini mesti bukan menjadi suatu kebanggaan bagi umat manusia. Kita semestinya merasa trenyuh terhadap kondisi seperti ini. Yang mesti kita lakukan adalah kita memperjuangkan kemajuan kaum perempuan. Namun setelah pembatasan-pembatasan dibuka, kaum perempuan semakin mendapatkan kesempatan yang banyak untuk mengembangkan diri.

Kemajuan-kemajuan di berbagai bidang kehidupan pun diraih. Ada yang menjadi guru besar di perguruan tinggi. Ada yang menjadi pilot. Berliana Febrianti, pemain film dan sinetron, merasa bahwa kemajuan perempuan Indonesia sampai sekarang ini sangat membanggakan. Ia berkata, ”Perempuan itu makhluk yang kuat. Biarpun mereka mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perempuan (pada umumnya) tetap memiliki kekuatan untuk bertahan.”

Tentang KDRT yang sering terjadi, ia mengatakan bahwa kelihatannya perempuan yang mengalami KDRT tersebut tidak memberontak. Hal itu karena mereka ingin melindungi anaknya. Perempuan selalu berpikir panjang.

Untuk itu, ia berharap agar kaum pria tidak berlaku kasar terhadap kaum perempuan. Ibu dari tiga orang anak ini berkata, ”Lebih baik jika kaum lelaki mengerti, kekuatan perempuan itu luar biasa. Setidaknya, mereka bisa mengingat betapa besar kekuatan yang dimiliki ibu mereka.”

Sahabat, KDRT yang terjadi dalam kehidupan bersama itu merupakan salah satu bentuk perendahan terhadap martabat manusia. Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga itu suatu bentuk tumbuh kuatnya egosime. Orang yang melakukan kekerasan itu hanya mementingkan diri sendiri. Kuasa egoisme itu bisa dihilangkan, kalau orang menyadari kehadiran sesama bukan hanya sebagai pelengkap. Namun kehadiran sesama itu sebagai suatu keharusan. Mengapa? Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan sesama untuk menjalani kehidupan ini. Orang yang ingin maju dalam hidupnya mesti menerima kehadiran sesamanya. Kalau kesadaran ini senantiasa tumbuh dalam diri seseorang, ia akan mudah untuk menghargai kehadiran sesamanya. Karena itu, orang beriman mesti menukik ke dalam dirinya sendiri. Orang beriman mesti berani menerima kehadiran sesamanya sebagai partner dalam suka dan duka. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kegembiraan bagi semua orang. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


738

26 Juli 2011

Kurangi Pemanasan Global, Tanam Pohon


Pemanasan global menjadi keprihatinan banyak orang di dunia ini. Mengapa? Karena pemanasan global itu mengancam kehidupan manusia. Bumi yang semakin panas menyebabkan hidup ini tidak nyaman. Bumi bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi hidup manusia.

Hal ini disebabkan oleh penghancuran hutan dan ekosistem yang menjaga bumi ini dari pemanasan global. Hutan tropis yang menyediakan oksigen dalam jumlah yang besar bagi dunia sudah semakin hilang. Burung-burung dan binatang-binatang hutan terus-menerus punah. Padahal kehadiran mereka untuk menjaga keseimbangan ekosistem di bumi manusia ini.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena manusia rakus. Manusia mau menguasai seluruh alam ciptaan Tuhan ini. Manusia menebang pohon-pohon yang memadati bumi ini dengan alasan yang sangat suci. Manusia memunahkan binatang-binatang yang menghuni bumi ini. Akibatnya, bumi semakin memanas. Bumi seolah-olah marah terhadap bangsa manusia. Bencana alam silih berganti menimpa kehidupan manusia.

Apa yang harus dibuat oleh manusia untuk mengatasi pemanasan global itu? Pantaskah manusia mencuci tangan terhadap pemanasan global yang menimpa kehidupan ini? Bukankah manusia mesti bertanggungjawab atas pemanasan global ini?

Minggu, tanggal 18 April 2010 lalu, pemain film dan presenter Luna Maya terlibat dalam penanaman pohon di jalan pantai utara di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Mngenakan kaus putih berkerah hijau bertuliskan ”Trees for Life”, ia bersama 40 karyawan PT Djarum menghijaukan tepi jalan itu dengan pohon trembesi (Samanea saman. Luna mengaku prihatin terhadap kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Salah satu upaya memulihkan kondisi tersebut adalah dengan menanam pohon, baik di jalur-jalur lalu lintas padat, kawasan industri, maupun lahan gundul. Ia berkata, ”Jangan lupa, sebisa mungkin pekarangan rumah kita ditanami pohon. Saya menanam mangga dan rambutan di halaman rumah.” Sebagai upaya konkret menghargai lingkungan hidup, Luna juga berusaha menghemat air bersih. Ia memilah-milah antara sampah organik dan anorganik. Pada waktu senggang, dia juga menyempatkan diri menyiram tanamannya. Ia berkata, ”Tanaman itu berguna bagi kehidupan generasi
mendatang.”

Sahabat, melestarikan lingkungan hidup dengan menanam pohon di sekitar kita menjadi tanggung jawab kita semua. Karena itu, kita mesti ambil langkah yang tepat untuk menyelamatkan bumi kita dari pemanasan global. Pohon-pohon yang kita tanam itu bukan hanya berguna bagi diri kita sendiri. Namun juga berguna bagi generasi mendatang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa peduli terhadap lingkungan di mana kita hidup. Lingkungan yang segar dan sehat membantu kita untuk menjalani hidup ini dengan lebih baik. Hutan yang lestari itu membantu bumi ini terbebas dari pemanasan yang terus-menerus. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

736

25 Juli 2011

Cinta Sejati Itu Tak Mengenal Batas


Cinta yang tulus tidak mengenal batas-batas. Cinta yang tulus tumbuh dalam situasi apa pun. Karena itu, orang yang saling mencintai itu tidak membatasi diri pada hal-hal yang baik dan menyenangkan saja. Orang yang saling mencintai itu saling menerima apa adanya. Mereka tidak memperhitungkan untung rugi dalam membina relasi cinta. Kisah cinta di bawah ini bukan sebuah dongeng. Ini kisah seorang istri yang rela mencintai dan berbagi kehidupan dengan lelaki, yang secara fisik tidak sempurna. Mengapa ia mau menjalin relasi cinta dengan sang suami yang tidak sempurna secara fisik itu?

Irma, begitu nama perempuan itu, berkata, “Karena saya yakin cinta datang dari hati. Meski saya pada awalnya tidak menyetujui.” Irma adalah seorang guru yang menikah dengan Zulfan, seorang duda yang mengalami lumpuh kedua kakinya. Awalnya Irma mengaku ragu untuk menerima Zulfan sebagai kekasihnya. Hal itu terjadi terutama karena melihat kekurangan fisik lelaki itu. Tetapi akhirnya hatinya pun luluh. Namun belum selesai sampai di situ. Ia kemudian menghadapi tantangan berikutnya. Orangtuanya menolak mentah-mentah lamaran Zulfan. Kekuatan cintalah yang kemudian
meyakinkan orangtuanya untuk menerimanya. Sahabat, sering orang mendahulukan penampilan fisik yang gagah perkasa atau cantik menawan. Sering hal-hal ini mendasari orang dalam menjalin percintaan. Benarkah pandangan seperti ini? Bukankah cinta menuntut sesuatu yang tidak terbatas? Bukankah cinta yang sejati menuntut orang
untuk saling menerima apa adanya?

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang sejati tidak terlalu banyak membuat perhitungan. Cinta yang sejati itu mengalir begitu saja dalam hidup ini. Yang penting bagi manusia adalah menumbuhkan cinta yang sejati itu. Orang mesti berani menerima kekasihnya apa adanya. Tidak terlalu banyak memberikan penilaian terhadap kekasihnya. Namun sering yang terjadi dalam hidup sehari-hari adalah orang membendung cinta yang tanpa batas. Orang membatasi diri memilih sesuai dengan kesukaannya. Orang kurang melihat cinta yang tulus dari kekasihnya. Akibatnya, terjadi perendahan martabat manusia. Kita menyaksikan istri yang bunuh suaminya. Atau sebaliknya, suami yang tega menghilangkan nyawa istrinya. Hidup manusia akhirnya tidak damai. Hidup yang semestinya bahagia berubah menjadi hidup yang mengerikan. Karena itu, kita mesti bercermin dari cinta Tuhan yang begitu besar kepada manusia. Tuhan tidak pernah memilih untuk mencintai seseorang lebih dari yang lainnya. Tuhan mencintai semua orang yang telah diciptakan-Nya. Tuhan menerima semua ciptaan-Nya itu, entah cacat atau tidak. Tuhan menawarkan kasih-Nya itu kepada semua orang. Mari kita membangun cinta yang tanpa batas di antara kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik dan berguna bagi semua orang. Hidup ini menjadi suatu kesaksikan tentang kebaikan Tuhan. Rata PenuhTuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

735

24 Juli 2011

Menghargai Produk dalam Negeri


Menghargai karya sendiri tampaknya masih harus diperjuangkan oleh banyak warga negeri ini. Mengapa? Karena lebih banyak warga negeri ini yang lebih menyukai produk-produk luar negeri. Mereka merasa gengsi mereka lebih tinggi, ketika mereka menggunakan produk luar negeri itu. Padahal produk dalam negeri belum tentu kalah kualitasnya daripada produk luar negeri.

Salah seorang yang punya kecintaan terhadap produk dalam negeri adalah Carmanita. Perempuan perancang lulusan Jurusan Administrasi dan Keuangan Universitas San Fransisco, Amerika Serikat, ini menyukai batik. Ia mempromosikan batik untuk dipakai oleh anak-anak bangsa ini. Caranya sangat unik. Ia merancang motif batik menggunakan mobil Mercedes Benz. Mobil batik itu dicat dengan teknik air brush bermotif batik warna ungu dengan paduan putih. Tentang karyanya ini, ia berkata, “Saya mengerjakannya selama lebih kurang sebulan. Motifnya saya ambil dari motif kain batik kesayangan saya. Ya, tentu, ini kebanggaan saya karena karya ini the first in the world.”

Sahabat, tidak gampang mencintai produk negeri sendiri. Memang ada pepatah, hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Artinya, kecintaan terhadap produk-produk di negeri sendiri mesti menjadi hal yang utama. Namun dalam kenyataan hidup, banyak orang lebih memilih produk luar negeri untuk kebutuhan hidupnya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Mungkin jawabannya adalah orang ingin tampil lebih bergengsi. Orang ingin dikatakan sebagai orang yang punya kemampuan yang lebih daripada orang lain. Orang ingin diakui kehadirannya. Orang ingin diakui kemapanannya. Meskipun untuk itu, orang mesti bayar lebih mahal. Tentu saja sikap seperti ini sah-sah saja. Orang memiliki kebebasan untuk menggunakan apa yang menjadi
keinginannya.

Namun orang juga mesti selalu terbuka untuk menghargai produk-produk negeri ini. Produk-produk negeri ini sebenarnya tidak kalah kualitas dari produk-produk luar negeri. Ada begitu banyak produk negeri ini yang memiliki kualitas yang tinggi. Karena itu, anak-anak bangsa ini mesti memiliki kepedulian untuk mempromosikannya.

Apa yang dibuat oleh Carmenita merupakan suatu langkah awal untuk sungguh-sungguh menghargai produk-produk negeri ini. Tentu saja ada banyak tantangan dan rintangan yang mesti dilalui. Orang mesti yakin bahwa produk negeri ini memiliki nilai dan mutu yang baik bagi kehidupan manusia.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menghargai produk-produk unggul negeri ini. Dengan demikian, kita dapat memiliki daya kreatif yang tinggi untuk menciptakan produk-produk yang bermutu. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

734

18 Juli 2011

Memaknai Alat-alat Teknologi sebagai Sarana




Suatu hari seorang bapak mengeluh tentang anaknya yang duduk di SMA. Bapak itu mengatakan bahwa anaknya sangat jauh berbeda. Tidak seperti waktu masih di SMP. Dulu anaknya itu mematuhi perintah-perintahnya. Sekarang anak itu sulit diatur. Dia lebih suka bermain game di komputer. Sampai tidak tahu waktu.

Bapak itu berkata, “Anak saya sekarang ini lebih banyak waktu di depan komputer. Begitu selesai sekolah, dia langsung menghilang. Tidak makan dulu. Sampai jam lima sore baru pulang ke rumah.”

Situasi seperti ini membuat bapak itu semakin resah. Ia semakin sulit mengatasi anaknya. Ada banyak alasan yang dikemukakan oleh anaknya. Tentang makan, misalnya, anaknya selalu mengatakan ia sudah makan. Padahal nyata-nyatanya belum makan. Ia kuatir kalau-kalau anaknya itu nanti jatuh sakit.

Bapak itu berkata, “Anak saya ini pernah sakit berat, karena kurang gizi. Dia harus dirawat di rumah sakit beberapa hari. Saya harus keluarkan biaya untuk rumah sakit. Padahal saya ini bukan orang kaya...”

Bapak itu tidak punya cara lagi untuk menghentikan kebiasaan buruk anaknya. Suatu hari bapak itu mendapatkan satu cara yang menurutnya sangat ampuh. Ia membelikan anaknya sebuah komputer lengkap dengan gamenya. Ia merasa senang melihat anaknya tidak meninggalkan rumahnya. Namun kebiasaan anaknya tetap sama. Ia terpaku di depan komputer itu bermain game.

Sahabat, alat-alat modern sedang menguasai hidup manusia. Manusia mudah terkecoh oleh hadirnya barang-barang elektronik yang mewah itu. Seolah-olah alat-alat itu menjadi segalanya dalam hidup manusia. Orang gampang tergoda. Orang sulit untuk melepaskan diri dari pengaruh alat-alat teknologi cangggih.

Keresahan bapak terhadap kebiasaan anaknya dalam kisah tadi menjadi salah satu contoh betapa orang mudah dikuasai oleh kecanggihan teknologi. Karena itu, orang mesti ingat bahwa alat-alat tekhnologi itu hanyalah sarana yang memudahkan manusia dalam hidup ini. Alat-alat itu bukanlah segalanya. Alat-alat itu mesti diperlakukan sebagai sarana. Bukan hal yang utama dalam hidup manusia.

Ketika orang mengandalkan alat-alat teknologi canggih itu dalam hidup, orang akan mengalami keresahan dalam hidupnya. Orang tidak akan mengalami ketenteraman dalam hidup ini. Rasa damai menjadi hilang. Orang akan bertengkar satu sama lain.

Sebagai orang beriman, kita mesti mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidup ini. Damai akan terjadi dalam hidup ini. Ketika orang mengandalkan Tuhan, yang terjadi adalah orang menjalani hidup ini dengan tenteram. Tidak akan ada keresahan dalam hidup ini. Soalnya, apakah manusia mau menyerahkan hidupnya kepada Tuhan? Atau manusia lebih mengandalkan diri dan alat-alat tekhnologi canggih dalam hidupnya?

Mari kita andalkan Tuhan dalam hidup ini. Alat-alat tekhnologi canggih yang kita miliki itu hanyalah sarana yang membantu kita untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


733

17 Juli 2011

Terus Berjuang bagi Kepentingan Bersama



Masih adakah sosok orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara di negeri ini? Bukankah banyak orang hanya mementingkan diri sendiri? Bukahkah berbagai persoalan korupsi di negeri ini bermula dari penonjolan kepentingan diri sendiri? Orang ingin kaya mendadak. Orang ingin memiliki harta dalam jumlah besar dalam waktu yang singkat. Akibatnya, uang rakyat dirampas begitu saja dengan cara-cara yang tidak halal.

Kasus-kasus korupsi yang melibatkan berbagai pihak di negeri ini menjadi salah satu contoh tidak adanya orang-orang yang berani berkorban bagi bangsa dan negara. Mereka hanya bekerja demi kepentingan diri sendiri. Kepentingan rakyat banyak diabaikan. Akibatnya terjadi jenjang yang begitu dalam antara si kaya dan si miskin. Si kaya boleh berfoya-foya. Sedangkan si miskin terpaksa hidup apa adanya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok saja tidak mampu.

Krisbiantoro merasakan situasi sekarang ini sebagai situasi yang memprihatinkan. Pria berusia 73 tahun ini pernah terlibat dalam masa perjuangan kemerdekaan negeri ini. Ia merasakan ada berbedaan yang begitu besar antara generasinya dengan generasi sekarang. Ia memberi contoh kasus kejahatan uang milik rakyat yang dilakukan oleh Gayus Tambunan.

Kris Biantoro mengatakan bahwa sepertinya generasi muda sekarang perlu untuk kembali ”dipertemukan” dan ”diperkenalkan” dengan sosok-sosok ksatria. Sosok orang-orang yang berani berkorban demi bangsa dan negara. Ia memberi contoh Jenderal Sudirman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Gatot Subroto yang menjadi idola kaum muda pada zamannya. Mereka telah menunjukkan korban yang begitu besar bagi bangsa dan negara ini.

Sambil berseloroh, ia berkata, ”Jangan seperti sekarang. Hampir setiap hari kita ini dicekoki soal Gayus Tambunan.”

Sahabat, tugas setiap warga negara adalah menyelamatkan bangsa dan negara ini dari kehancuran. Namun soalnya adalah kita kekurangan kesatria yang berani berkorban. Artinya, orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang bagi kepentingan bangsa dan negara ini.

Tentu saja hal ini terjadi karena bangsa kita sudah kehilangan semangat berjuang. Yang ada sekarang ini adalah bangsa penikmat. Perjuangan untuk merebut kemerdekaan sudah lama berlalu. Perjuangan untuk membangun bangsa dan negara ini juga tampaknya sudah berlalu. Karena itu, yang ada sekarang adalah menikmati hasil perjuangan dan pembangunan. Tidak usah heran tumbuh dan berkembang Gayus-gayus dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, apa yang dikatakan oleh Krisbiantoro patut kita serap dalam hidup kita. Sebagai bangsa, kita perlu mencontoh sosok-sosok pejuang. Mereka telah berani mengorbankan hidup untuk kita. Mereka memberi semangat bagi kita untuk memacu diri menjadi bangsa pejuang. Mari kita terus-menerus berjuang bagi kemajuan bangsa dan negara ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


732