Pages

10 September 2009

Berusaha Menggapai Kebahagiaan



Lionel Richie adalah seorang penyanyi legendaris yang bisa bertahan selama empat decade. Selama karirnya, pria berusia 56 tahun itu telah meraih lima Grammy Awards. Ia mengatakan bahwa sumber insprasi dari lagu-lagunya adalah ayah dan ibunya sendiri. Kebanyakan lagu yang diciptakan ia tulis saat tinggal bersama ayah ibunya di Alabama, USA. Dan tiga dari 5 Grammy Awards itu didapatkan dari lagu-lagu yang diciptakannya ketika tinggal bersama mereka. Luar biasa.

Ketika ditanya tentang apa yang paling berarti dalam hidupnya, Richie mengatakan ada tiga hal. Pertama, keluarga. Dia berkata, “Saya mempunyai tiga anak yang sangat mengagumkan. Mereka bertiga itulah yang menjadi kritikus saya yang paling loyal. Mereka memberi saran-saran tentang lagu atau pakaian yang saya kenakan di panggung.” Kedua adalah ia menikmati pekerjaannya dalam bermain musik. Ia mendambakan pekerjaan itu sejak kecil. Karena itu, ia sungguh-sungguh menikmatinya. Hal ketiga adalah kesehatan. Meskipun sudah berusia 56 tahun, Rechie masih tampak segar bugar dan energik.

Ketika ditanya resepnya, ia mengatakan ada tiga hal. Pertama, ia menikmati penampilannya di panggung. Selama dua setengah jam pentas di panggung, ia berkeringat dan merasa benar-benar sehat seperti berolahraga. Kedua, faktor keturunan. Nenek dari pihak ibunya meninggal pada usia 104 tahun dan ayahnya mencapai umur 98 tahun. Ketiga, ia berusaha selalu merasa bahagia.

Menarik sekali resep hidup Lionel Richie. Kebahagiaan dalam hidup itu membantu seseorang memiliki usia yang panjang dan sehat. Hidup yang bahagia itu tidak mesti ditandai dengan kesuksesan di berbagi bidang kehidupan. Ukuran hidup bahagia itu juga tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki. Justru orang akan memiliki hidup yang bahagia, ketika ia hidup aman dan tenteram.

Gangguan-gangguan dalam hidup sering muncul ketika orang merasa hidup ini mesti dipenuhi dengan berbagai fasilitas hidup. Akibatnya, orang berusaha sekuat tenaga untuk mencurahkan seluruh hidupnya untuk mengejar fasilitas hidup itu. Mereka menyangka bahwa hanya dengan cara itu mereka menemukan kebahagiaan dalam hidup. Ketika keinginan tidak tercapai, mereka akan mengalami frustrasi dalam hidup. Kebahagiaan tidak tercapai.

Sebagai orang beriman, kita mesti memiliki keyakinan bahwa kebahagiaan hidup itu dapat ditemukan dalam relasi yang baik dengan Tuhan dan sesama. Untuk itu, membangun relasi yang baik itu sangat penting dalam hidup ini. Hidup akan menjadi lebih bahagia, kalau orang berani menyerahkan hidup kepada Tuhan. Kita yakin bahwa Tuhan yang baik itu senantiasa menyertai perjalanan hidup kita. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan sejati kepada kita.

Karena itu, mari kita biarkan Tuhan terlibat dalam hidup kita. Kita beri kesempatan kepada Tuhan untuk masuk dan tinggal di dalam hati kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
162

09 September 2009

Tuhan Punya Rencana atas Setiap Makhluk



Valerina Daniel adalah seorang pemain piano handal. Namun sudah lama ia tidak tampil dalam peristiwa-peristiwa besar. Karena itu, kalau belakangan ini Valerina Daniel kembali mendengarkan musik klasik, bukan cuma karena ingin mengasah kembali kemampuannya bermain piano. Rupanya Valerina yang kini berusia 28 tahun ini punya tujuan lain mendengarkan musik klasik.

Duta Lingkungan ini berkata, ”Kan, kalau usia kandunganku sekarang ini yang 4,5 bulan, katanya bayi sudah bisa dengar musik.”

Menurut Valerina, musik klasik memiliki ketukan yang bisa membuat pola pikir bayi jadi teratur. Karena itu, setiap malam sebelum tidur ia menyempatkan diri mendengarkan musik klasik.

”Lucunya, bayi juga nendangnya mengikutin musik. Kalau musiknya lagi heboh, ya nendangnya juga jadi lebih semangat,” cerita Valerina antusias.

Valerina melahirkan bayinya itu akhir November 2008 lalu. Namun, dengan bersemangat ia bercerita tentang rencana lain. Hal ini berkaitan dengan Hari Cinta Puspa Satwa Nasional yang akan jatuh pada 5 November 2008 lalu.

”Pada enggak tahu kan, padahal udah dicanangkan dari 15 tahun yang lalu, lho,” kata Valerina tentang hari yang mengampanyekan perlindungan dan pelestarian hewan ini.

Mencintai dan melestarikan hewan mesti menjadi obsesi setiap warga negara. Mengapa? Karena hewan bukan sekedar makhluk yang digunakan untuk kepentingan manusia. Hadirnya hewan itu pada dasarnya dikehendaki Sang Pencipta. Mereka hidup bukan hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka diciptakan untuk kepentingan alam semesta yang lebih luas.

Karena itu, kalau mereka diperlakukan dengan baik, alam semesta ini menjadi tempat yang aman dan damai bagi hidup manusia. Untuk itu, pelestarian alam mesti senantiasa diperjuangkan. Valerina Daniel telah menunjukkan niat baiknya untuk melestarikan hewan yang mesti dilindungi. Meski ia baru melahirkan anaknya, ia tetap memiliki kepedulian terhadap hewan yang hampir punah dari dunia ini. Ia berusaha untuk melestarikan hewan-hewan itu. Dengan demikian spesies langka dapat berkembang biak sesuai dengan yang dikehendaki oleh Sang Pencipta.

Sebagai orang beriman, apa yang semestinya kita lakukan terhadap hewan yang cenderung semakin punah? Atau apa yang sudah kita buat untuk melestarikan hewan yang terancam punah? Kita semua diajak untuk memperlakukan hewan sebagai ciptaan Sang Pencipta. Tuhan punya tujuan tertentu, ketika menciptakan alam semesta termasuk hewan. Karena itu, ketika kita melestarikan hewan yang hampir punah, kita memberi suatu penghargaan yang besar terhadap Sang Pencipta. Mari kita tak henti berjuang untuk melestarikan hewan yang hampir punah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.








161

08 September 2009

Berusaha Mengenyahkan Kekerasan





Miss Venezuela, Dayana Mendoza, langsung menitikkan air matanya begitu juri mengumumkan bahwa dialah yang menjadi Miss Universe 2008, Senin (14/7/2008) lalu. Dia menangis haru, meski berkali-kali ia menebar senyum kegembiraan. Ternyata tangis haru Dayana Mendoza itu punya alasan lain. Mahkota kemenangan itu sekaligus membuat dia lega, karena bisa meneriakkan sikap antikekerasan.

Bertempat di Nha Trang, Vietnam, Mendoza berhasil menyingkirkan pesaing dari 80 negara. ”Saya menangis begitu dalam. Saya bangga bisa terpilih,” kata perempuan kelahiran Caracas, Venezuela, 1 Juni 1986.

Mendoza mengatakan, kesempatan ini akan digunakan untuk membangkitkan semangat kampanye antikekerasan. ”Saat ini sesuatu telah terjadi di negara saya dan saya ingin tetap meneriakkan suara saya bahwa kekerasan bukanlah jawaban,” katanya.

Model yang bercita-cita menjadi desainer interior ini pernah menjadi korban penculikan di negaranya. Peristiwa pahit itu telah membentuk pribadinya agar selalu tampil tenang di saat tertekan.

Kekerasan masih saja terjadi di sekitar kita. Ada begitu banyak orang menderita karena kekerasan. Ada orang yang menderita sebagai akibat dari perang yang tak pernah berhenti di daerahnya. Ada anak-anak yang mengalami kekerasan dari orangtua mereka. Ada istri-istri yang mengalami kekerasan dari suami mereka. Pertanyaannya, mengapa kekerasan bisa terjadi di sekitar kita?

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Namun yang pasti adalah kekerasan itu bisa terjadi karena matinya suara hati. Suara hati yang mati itu menyebabkan tidak ada cinta kasih dalam hidup manusia. Manusia hidup hanya untuk dirinya sendiri. Egoisme menjadi andalan hidup manusia. Ketika menghadapi benturan dan kesulitan, kekerasan kemudian menjadi kata akhir.

Dalam rumah tangga kekerasan sering terjadi, karena melunturnya cinta kasih. Suami tidak memandang istri sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dirinya. Suami cenderung menguasai istri dengan segala bentuk kekuasaan yang dimilikinya. Relasi yang dibangun bukan lagi berdasarkan cinta kasih, melainkan siapa kuat dia menang. Hasil relasi seperti ini biasanya selalu tidak harmonis. Kekerasan pun dapat terjadi.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengandalkan cinta kasih dalam hidup kita. Cinta kasih itu mampu menghidupkan relasi yang kurang harmonis. Cinta kasih itu mampu membantu kita untuk mengenyahkan segala bentuk kekerasan dari kehidupan kita. Mari kita terus-menerus berusaha untuk meniadakan kekerasan dari lingkungan hidup kita. Dengan demikian hidup kita menjadi damai dan tenteram. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
160






07 September 2009

Berusaha Melestarikan Lingkungan Hidup

Puteri Indonesia 2001, Angelina Sondakh, selama duna minggu (sejak 25 Agustus 2008 lalu) tinggal di hutan Kalimantan. Kedatangannya ke sana untuk mencari ”putri” atau princess yang tidak kalah mencuri perhatian. Siapa princess itu? Tidak lain adalah orangutan yang bernama Princess.

Angie menjalani syuting pembuatan film dokumenter tentang Princess, orangutan yang sukses menyesuaikan diri kembali dengan habitat aslinya di hutan Kalimantan. Banyak orangutan dewasa dibunuh pemburu. Anak-anaknya lalu diselundupkan ke luar hutan dan dijual secara ilegal. Salah satunya Princess.

Bagi Angie yang sejak tahun 2006 didaulat menjadi Duta Besar Orangutan oleh Orangutan Republik Education Initiative, penyelamatan orangutan berarti besar. Tidak hanya berarti menjaga orangutan dari kepunahan, tetapi secara luas juga melestarikan hutan yang menyediakan sumber air bagi kehidupan manusia. Namun, demi Princess ia rela meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta.

”Sekalian untuk penyeimbangan. Jadi, senanglah mau masuk hutan. Siapa tahu bisa menemukan energi yang baru,” kata Angie.

Alam di sekitar kita bukan sekedar hiasan untuk kita pandangi. Namun alam di sekitar kita beserta isinya itu menjadi bagian dari hidup kita. Tanpa alam yang asri dan lestari, manusia akan segera punah. Karena itu, kepedulian terhadap alam sekitar seperti yang dilakukan oleh Angelina Sondakh merupakan sesuatu yang sangat positif.

Menyelamatkan spesies yang ada di sekitar kita berarti kita menyelamatkan diri kita sendiri. Hewan seperti orangutan itu bagian dari kehidupan manusia. Mereka dapat menjadi penyeimbang ekosistem yang baik. Namun seringkali manusia tidak menyadari kehadiran hewan di sekitarnya. Manusia memburu dan menembakinya untuk kepentingan diri sendiri. Akibatnya, terjadi banyak wabah penyakit yang mengganggu manusia itu sendiri.

Sebagai orang beriman, kesadaran akan pentingnya kelestarian alam mesti selalu menjadi bagian yang utama dalam hidup kita. Ekosistem yang rusak itu membawa akibat buruk bagi hidup manusia. Ekosistem yang rusak menghambat proses kehidupan ke arah yang lebih baik. Karena itu, kita mesti lebih memberi makna terhadap pentingnya ekosistem dan lingkungan yang menjadi bagian dari hidup kita itu.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk memelihara lingkungan hidup di mana kita berada. Lingkungan yang sejuk dan segar memberi suatu kehidupan yang lebih menjanjikan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

159

06 September 2009

Membangun Hidup Bersama Sesama



Seorang pemuda tampak sibuk dengan hand phonenya. Dengan tipe HP mutakhir, orang muda itu tampil pede. Ia menjadi semakin yakin bahwa menggunakan HP yang canggih, ia dapat berkomunikasi dengan teman-temannya. Ia tidak peduli di keramaian, ia tetap saja menggunakan hpnya. Seolah-olah ia memang orang yang sangat sibuk.

Selidik punya selidik, ternyata pemuda itu seorang yang kesepian. Ia hanya punya seorang teman dalam hidupnya. Seorang teman lelaki yang sebenarnya sudah bosan pula meladeni pemuda itu. Hanya dengan teman itulah pemuda itu mampu berkomunikasi. Orang-orang lain di sekitarnya sudah tidak mau bergaul dengan pemuda yang kesepian itu. Karena itu, setiap kali ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan temannya itu, pemuda itu menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya di mana pun dan kapan pun.

Suatu hari pemuda itu menjadi stress. Ia membanting hpnya yang canggih itu. Pasalnya, teman satu-satunya itu tidak menghidupkan hpnya. Ia kesal. Ia sangat butuh orang yang mampu mendengarkan keluh kesahnya saat itu juga. Lantas ia memukul-mukul kepalanya hingga darah segera mengucur. Beberapa saat kemudian ia mengambil belati dan menikamkan ke perutnya. Ia pun meninggal dalam kesepian.

Kesepian sering kali melilit diri manusia. Ada banyak alasan yang membuat orang kesepian. Pemuda dalam kisah di atas mengalami kesepian, karena tidak punya sahabat yang dapat mendengarkan keluh kesah hidupnya. Mungkin ia sendiri yang menyebabkan ia kehilangan banyak sahabat.

Dalam konteks ini kita dapat melihat bahwa membangun relasi yang baik dengan sesama itu merupakan suatu bagian dari hidup kita, hidup beriman kita. Relasi yang baik itu suatu cara kita membuka hati kepada sesama. Apa jadinya kalau kita tidak punya relasi yang baik dengan sesama? Kita akan kehilangan sahabat. Kita tidak punya orang yang dapat kita ajak untuk memiliki kepedulian terhadap kita. Kita akan menjadi orang yang kesepian dalam hidup ini.

Karena itu, kita mesti membangun suatu sikap rendah hati. Orang yang rendah hati itu memiliki banyak sahabat dalam hidupnya. Orang yang rendah hati itu orang yang menghargai sesamanya. Orang yang tidak menganggap remeh sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama. Kita mesti mengakui bahwa kita tidak hidup sendirian dalam dunia ini. Kita hidup bersama orang lain. Kita butuh orang lain untuk berbagi suka dan duka. Kita juga butuh Tuhan yang memberikan semangat bagi kita untuk memiliki kerendahan hati. Mari kita bangun relasi dengan sesama dalam semangat kerendahan hati. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

158

05 September 2009

Membangun Perhatian dengan Sesama



Ada seorang janda tua yang telah membantu seorang kaya di sebuah rumah yang mewah selama lebih dari dua puluh tahun. Dia juga telah mendirikan sebuah gubuk dan selalu memberi makanan untuk orang kaya itu. Suatu ketika janda itu ingin mengetahui perkembangan ilmu yang telah dicapai oleh orang kaya itu.

Kebetulan, ada seorang gadis cantik dan kaya yang sedang ada dalam masalah. Si janda tua lantas menyarankan supaya gadis itu pergi kepada orang kaya tersebut untuk meminta nasihat. Janda tua itu juga menyampaikan salam dan pesan kepada orang kaya itu.

Kata si janda kepada gadis itu, "Pergi dan datangilah dia. Tolong tanyakan bagaimana keadaannya sekarang."

Gadis itu pergi ke rumah orang kaya itu dan melakukan apa yang diminta janda itu. Tanpa banyak basa-basi, gadis itu langsung mendatangi orang kaya tersebut. Dia juga menanyakan keadaannya sebagaimana pesan si janda.

Orang kaya itu menjawab pertanyaan gadis itu dengan sangat puitis, "Sebatang pohon tua tumbuh di bebatuan pada musim dingin. Tidak ada kehangatan di sana."

Gadis itu memberitahukan semua yang ia dengar kepada janda tua tersebut.

Dengan kemarahan yang besar, janda tua itu berteriak, "Telah dua puluh tahun aku membantunya. Tetapi ternyata, dia tidak punya perhatian pada orang lain. Bahkan, dia tidak berniat untuk membantumu. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan kesenangannya!"

Tidak lama kemudian, janda itu pun mendatangi rumah orang kaya tersebut dan membakarnya.

Hidup kita di dunia ini tidak hanya terbatas pada lingkup kita sendiri. Kita selalu bersosialisasi dengan sesama. Kita senantiasa bertumbuh dan berkembang dengan sesama di sekitar kita. Karena itu, relasi dengan sesama mesti ditumbuhsuburkan. Dengan relasi yang baik itu, kita memberi perhatian kepada sesama. Kita ingin agar hidup yang kita miliki ini bukan hanya untuk diri kita sendiri.

Kisah di atas memberi kita suatu kenyataan hidup bahwa kita mesti selalu berusaha untuk hidup bukan hanya bagi diri kita sendiri. Kisah ini menyadarkan kita bahwa kita memiliki sesama dan dimiliki oleh sesama di sekitar kita. Kadang-kadang kita memberi suatu senyum kepada sesama itu menjadi suatu yang sangat berharga bagi mereka. Itulah bentuk perhatian kita kepada mereka.

Namun perhatian yang kita berikan itu juga mesti suatu perhatian yang datang dari hati yang tulus. Kadang-kadang ada orang yang mau memberi perhatian kepada sesama karena mengingini sesuatu dari sesamanya itu. Untuk itu, kita mesti merefleksikan kembali bangunan relasi yang selama ini kita buat dengan sesama kita. Apakah relasi yang kita bangun itu dengan hati yang murni? Mengapa kita ingin membangun relasi dengan sesama?

Sebagai orang beriman, kita ingin agar relasi yang kita bangun dengan sesama itu berdasarkan cinta kasih sejati. Cinta kasih itu menguatkan kita untuk senantiasa memiliki perhatian bagi sesama. Mari kita bangun relasi yang baik dengan sesama berdasarkan cinta kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


157

04 September 2009

Memberi Makna atas Hidup yang Sementara




Ada seorang guru kebijaksanaan yang suka mengembara. Dia pergi dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa membawa bekal sedikit. pun. Suatu ketika dia sampai di sebuah kerajaan. Para penjaga membawanya menghadap raja. Raja menanyakan maksud kedatangan guru kebijaksanaan itu.

Sang raja bertanya, "Guru, apa yang kamu kehendaki?"

Sambil tersenyum, sang guru menjawab, “Aku mau bermalam di penginapan ini."

Kata sang raja, "Tempat ini bukan penginapan. Ini adalah istana, tempatku bertahta."

Tanya sang guru, "Siapakah pemilik tempat ini sebelumnya?"

Jawab sang raja, “Ayahku. Tapi sekarang beliau sudah meninggal."

Sang guru semakin bersemangat. Ia bertanya lagi, "Dan siapakah pemilik tempat ini sebelum ayah baginda?"

Sang raja menjawab, "Kakekku. Beliau juga sudah meninggal dunia."

Kata sang guru dengan penuh kebijaksanaan, "Nah, bukankah tempat ini adalah tempat di mana orang hidup hanya untuk sementara waktu saja lalu pergi lagi seperti kata baginda raja sendiri? Jika demikian, bukankah tempat ini adalah penginapan?"

Hidup di dunia ini hanya suatu kesementaraan. Kita mengalami hidup ini berlangsung lantas akan berakhir dengan kematian. Selama hidup di dunia yang sementara ini kita berusaha untuk hidup sebaik-baiknya. Kita membangun diri kita, agar berguna bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Dengan demikian hidup yang sementara ini memiliki makna bagi kita.

Karena itu, kita mengisi hari-hari hidup kita dengan berbagai usaha melalui kegiatan-kegiatan. Melalui hal-hal ini kita ingin mengaktualisasikan diri kita. Kita ingin agar hidup kita ini memiliki makna yang mendalam. Untuk itu, kita butuh kerja keras meskipun hidup ini hanya sementara.

Orang Jawa mengatakan bahwa hidup di dunia ini hanya mampir minum. Artinya, kita hidup di dunia ini hanya sementara saja. Namun dalam kesementaraan itu kita ingin berarti bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain. Karena itu, kita mau menimba berbagai hal baik yang ada di sekitar kita. Kita mau agar hal-hal yang baik itu menjadi pegangan hidup kita. Kita ingin agar semua yang kita peroleh dalam hidup yang sementara ini kita gunakan untuk sesuatu yang berharga bagi hidup kita dan sesama kita.

Sebagai orang beriman, mari kita berusaha untuk semakin memberi makna atas hidup yang sementara ini. Dalam usaha memberi makna itu, kita yakin bahwa Tuhan senantiasa terlibat dalam hidup kita. Karena itu, kita mohon agar Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu selalu menyertai usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


156

03 September 2009

Hidup Ini Sangat Bernilai



Suatu hari seorang guru bijaksana berjalan-jalan bersama dengan beberapa orang muridnya. Mereka tiba di sebua, hutan di mana ratusan penebang pohon tengah menebang pohon. Para penebang itu membabat habis seluruh pohon di hutan itu, kecuali sebatang pohon yang sangat besar.

Satu-satunya pohon yang ditinggalkan itu memang luar biasa besar. Cabang-cabangnya sangat banyak dan besar-besar. Lebih dari sepuluh ribu orang bisa berteduh di bawahnya. Pohon itu seakan menjadi tenda raksasa. Ratusan penebang pohon itu pun berteduh dan beristirahat di bawah pohon itu.

Guru bijaksana itu memerintahkan murid-muridnya untuk bertanya mengapa pohon itu tidak ditebang saja seperti pohon-pohon lainnya. Murid-murid itu mengikuti perintah gurunya. Mereka duduk bergabung dengan ratusan penebang pohon yang sedang beristirahat di bawah pohon raksasa itlu.

"Pak, mengapa kalian tidak menebang pohon ini sekalian?" tanya salah seorang murid kepada penebang pohon.

"Pohon ini tidak berguna sama sekali. Kita tidak bisa membuat apa-apa dari pohon ini, karena batangnya terlalu banyak dan melengkung. Tidak ada yang lurus. Kitajuga tidak bisa memakainya untuk kayu bakar, karena asapnya berbahaya untuk mata. Pohon ini betul-betul tidak berguna. Itulah sebabnya kami tidak memotongnya," jawab salah seorang penebang pohon itu.

Kemudian para murid kembali ke guru bijaksana itu dan melaporkan jawaban dan alasan para penebang pohon itu.

Guru bijaksana itu hanya tertawa dan berkata, "Jadilah seperti pohon itu. Kalau kamu berguna, kamu akan dipotong dan dijadikan perabotan untuk dipakai di rumah orang. Kalau kamu cantik, kamu akan dijadikan barang untuk dijual di pasar. Jadilah seperti pohon itu: sama sekali tidak berguna. Dengan demikian, kamu akan tumbuh, besar, berkembang, punya banyak batang dan cabang, sehingga ribuan orang akan mendapatkan kesejukan di bawah naunganmu!”

Bagi kita, kata-kata guru bijaksana ini terasa janggal. Bukankah manusia mesti bertumbuh dan berkembang? Bukankah kita mesti mengembangkan kemampuan-kemampuan kita seluas-luasnya untuk kemajuan diri dan sesama?

Tapi baiklah. Mungkin guru bijaksana itu punya suatu pandangan yang lain tentang hidup ini. Mungkin guru bijaksana itu mau mengatakan hidup ini akan sangat berarti bagi diri sendiri, kalau dimanfaatkan seefisien mungkin. Orang semestinya tidak boleh menyia-nyiakan bakat dan kemampuannya. Orang mesti menggunakannya untuk kesejahteraan diri dan sesama.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita memiliki nilai yang berguna untuk Tuhan dan sesama. Karena itu, kita menggunakan hal-hal yang ada dalam diri kita sebaik-baiknya untuk perkembangan dan kemajuan hidup kita. Hidup ini sangat bernilai dan berharga. Karena itu, jangan disia-siakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB./155

02 September 2009

Belajar dari Hal-hal yang Kecil







Suatu hari seorang murid bertanya kepada gurunya, “Guru, apakah jalan yang sejati itu?”

Guru itu menjawab, “Setiap hari adalah jalan yang sejati itu.”

Dengan penuh semangat, murid itu bertanya lagi, “Dapatkah aku mempelajarinya?”

Sang Guru menjawab, “Semakin kamu mempelajarinya, semakin kamu jauh dari jalan itu.”

Murid itu semakin kebingungan. Ia tidak habis pikir, mengapa gurunya yang bijaksana itu menjawab seperti itu. Ia pun bertanya lagi, “Kalau aku tidak mempelajarinya, bagaimana mungkin aku dapat menjalaninya?”

Sambil tersenyum, guru bijaksana itu menatap wajah muridnya dan berkata, “Jalan itu bukanlah benda yang dapat dilihat ataupun benda yang tidak dapat dilihat. Jalan itu juga bukanlah ilmu yang dapat diketahui maupun ilmu yang tidak dapat dikeketahui. Ia tidak perlu dicari, dipelajari atau didefinisikan. Untuk menjadikan jalan itu sebagai bagian dari dirimu, bukalah dirimu lebar-lebar seluas langit di angkasa.”

Ada banyak hal di sekitar kita yang dapat kita gunakan untuk kemajuan diri kita. Namun sering kali hal-hal itu kita anggap remeh. Kita menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna. Akibatnya, kita banyak kehilangan kebijaksanaan yang semestinya dapat kita gali untuk hidup kita.

Alam, misalnya, menyediakan begitu banyak pelajaran yang berguna bagi hidup kita. Semut-semut kecil yang tampak berkeliaran di sekitar kita, ternyata memiliki semangat kebersamaan yang begitu tinggi. Dengan cara mereka sendiri, mereka dapat berkomunikasi di antara mereka. Hasilnya, mereka menemukan kebersamaan dan kerjasama yang baik. Hidup mereka damai. Mereka tidak berkelahi atau bertengkar.

Belajar dari kehidupan alam itu sangat berguna bagi kelangsungan hidup kita. Kita dapat menimba suatu suasana yang baik yang disediakan oleh alam dan segala isinya. Untuk itu, kita mesti membuka diri lebar-lebar terhadap setiap kebijaksanaan yang disediakan oleh alam dan sesama kita. Hal-hal yang tampaknya sepele itu ternyata memiliki nilai yang indah dan besar bagi kelangsungan hidup kita.

Membuka diri lebar-lebar berarti kita mau menerima sesuatu yang baik bagi diri kita. Kita ingin berkembang terus-menerus dengan belajar sesuatu yang baru dari dunia sekitar kita. Untuk itu, dibutuhkan suatu sikap rendah hati. Hati yang sombong itu biasanya menutup hal-hal baik yang berasal dari luar diri untuk dipelajari.

Mari kita berusaha untuk membuka diri lebar-lebar bagi kebijaksanaan yang ada di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat memiliki kebijaksanaan yang sempurna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



154

01 September 2009

Selesaikan Persoalan dengan Hati yang Dingin



Ketika Chung Tzu sedang berjalan-jalan, ada seorang pemuda menghampirinya. Pemuda itu meminta bantuannya untuk mengatasi sifat buruknya. Tanya Chung Tzu, “Apa masalahmu?”

Pemuda itu menjawab, “Guru, aku ini orang yang sangat emosional. Aku cepat marah. Bagaimana caranya menghentikan sifat buruk ini, Guru?”

Chung Tzu berkata lagi kepada pemuda itu, “Tunjukan kemarahanmu itu kepadaku. Mungkin itu akan sangat menarik.”

Pemuda itu menjawab, “Aku sedang tidak marah saat ini. Jadi aku tidak bisa menunjukkannya kepadamu.”

Kata Chung Tzu, “Baiklah. Bawalah saja padaku, kalau suatu saat nanti kamu sedang marah.”

Pemuda itu mulai mengeluh kepada gurunya, “Tetapi aku tidak bisa membawanya kepadamu. Tentulah kemarahanku itu hilang, ketika kubawa kepadamu.”

Dengan bijak, Chung Tzu berkata lagi, “Jika demikian, menurutku, kemarahan itu bukanlah bagian dari dirimu. Maka jika bukan merupakan bagian dari dirimu, pastilah sifat burukmu itu datang dari luar. Jadi jika suatu saat nanti kamu marah lagi, pukullah dirimu sendiri dengan tongkat hingga rasa marah itu hilang. Dengan demikian sifat burukmu juga akan hilang.”

Sering kita mengeluh tentang persoalan yang sebenarnya tidak ada dalam diri kita. Kita begitu dalam memperhatikannya. Seolah-olah hal itu begitu penting. Seolah-olah hal itu yang sangat mendominasi hidup kita. Akibatnya, kita menjadi panik. Bisa-bisa menjadi stress, karena terlalu memikirkan hal itu. Siapa yang kemudian akan menderita? Kita sendiri.

Karena itu, kita mesti membedakan antara persoalan yang berasal dari dalam diri kita sendiri dan persoalan yang berasal dari luar diri kita. Kita mesti secara kritis menilai persoalan-persoalan itu. Lalu kita susun strategi-strategi untuk mengatasinya. Kita cari akar persoalan yang datang dari luar diri kita. Lalu segera kita selesaikan dengan hati yang dingin.

Lantas persoalan yang berasal dari dalam diri kita pun kita usahakan untuk diselesaikan dengan baik. Mungkin kita butuh bantuan orang-orang lain untuk melihat secara jeli persoalan yang sedang kita hadapi. Untuk itu, dibutuhkan suatu kerendahan hati. Kita mesti membuka hati kita lebar-lebar, sehingga persoalan yang ada dalam diri kita dapat diselesaikan dengan baik.

Sebagai orang beriman, kita ingin menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita bersama Tuhan. Kita ingin melibatkan Tuhan dalam suka dan duka hidup kita. Tuhan akan membantu, kalau kita berani membuka diri kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.153