Pages

20 Mei 2010

Membangun Arah Hidup

Ada seorang teman yang mengalami depresi yang luar biasa setelah kerusuhan Mei 1998 lalu. Ia kehilangan usahanya, hartanya, rumahnya bahkan istrinya kemudian meninggal dunia. Beberapa saat ia seolah-olah kehilangan pegangan hidup. Ia tidak tahu mau buat. Tetapi kemudian ia menemukan dirinya sebagai orang yang beriman. Iman itulah yang menjadi pegangan satu-satunya baginya.

Suatu hari teman ini berjalan-jalan di sebuah gedung tinggi yang sedang dibangun. Ia berhenti di situ lalu menyaksikan para tukang melakukan pekerjaan mereka. Kepada seorang tukang yang sedang memasang batu, ia bertanya, “Apa yang Anda lakukan dengan batu itu?”

Tukang batu itu menjawab, “Apakah Anda melihat celah di atas sana, di dekat puncak atap itu? Ya, saya membentuk batu ini di bawah sini, agar ia cocok terpasang di atas sana.”

Teman itu terhenyak. Lantas air mata menggenangi matanya. Ia sadar, ia mesti tetap bangkit dari keterpurukannya. Orang beriman itu tidak boleh putus asa. Orang beriman mesti bangkit dari kegagalannya. Orang beriman mesti menghadapi setiap penderitaan dengan kepala tegak. Mengapa? Karena Tuhan selalu menyertai orang yang menyerahkan seluruh hidup kepadaNya.

Seringkali orang mudah menyerah pada setiap kegagalan yang mereka hadapi. Seorang mahasiswa, misalnya, begitu mudah memutuskan berhenti kuliah hanya karena bosan atau capek. Padahal untuk meraih cita-cita orang mesti berani capek. Orang mesti berani jatuh dan bangun kembali dari kegagalan.

Soalnya, mengapa orang begitu mudah menyerah dalam hidup ini? Mengapa orang tidak berani bangkit dari keterpurukannya? Ada banyak alasan. Tetapi satu hal bisa dikatakan bahwa orang seperti ini tidak punya arah hidup yang jelas. Ia bagai layang-layang putus yang terbang tanpa arah. Tidak tahu mau terbang ke mana. Kalau dia memiliki arah hidup, dia tetap akan berdiri tegak kembali ketika dia mengalami kegagalan atau cobaan-cobaan dalam hidup. Dia akan tetap gigih berjuang sampai meraih cita-cita yang ia inginkan.

Karena itu, kita mesti mulai membangun suatu arah hidup yang jelas. Kita perlu membuat suatu komitmen dalam hidup ini. Kita mau apa dengan hidup ini. Misi apa yang kita bawa dalam perjalanan hidup kita di dunia ini. Ini yang penting. Untuk itu, kita perlu menyusun program dan strategi dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih tertata dan memiliki arah yang jelas.

Saya yakin, setiap hari ini kita menata hidup kita sedemikian rupa. Kita telah berjuang, agar hidup ini tidak sia-sia belaka. Tetapi kita telah berusaha memaknai hidup ini dengan semakin baik. Kita mohon agar Tuhan yang mahapengasih dan penyayang senantiasa memberi berkat berlimpah bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


383

Bagikan

19 Mei 2010

Memelihara Sikap Empati

Suatu malam, seorang bapak didatangi oleh temannya. Ia berkata kepada bapak itu, “Ada sebuah keluarga dengan delapan anak. Mereka belum makan selama beberapa hari.”

Bapak itu sangat terkejut mendengar berita itu. Ia meminta istrinya untuk menyiapkan makanan secukupnya untuk sepuluh orang. Kemudian ia dan temannya itu menuju keluarga yang dimaksud.

Ketika tiba di rumah itu, bapak itu menyaksikan wajah-wajah bocah yang muram dan pucat karena kelaparan. Namun tidak tampak derita atau kesedihan di wajah mereka. Yang tampak hanya rasa sakit yang mendalam karena lapar.

Bapak itu lalu memberikan makanan itu kepada ibu keluarga itu. Namun ia malah membaginya menjadi dua. Lalu dengan sisa-sisa tenaganya ia keluar rumah sambil membawa setengah dari makanan itu. Sementara itu, anak-anaknya makan makanan yang diberikan bapak itu.

Ketika ibu itu kembali, bapak itu bertanya, “Dari mana?”

Sang ibu menjawab dengan lugu, “Ke rumah tetangga saya. Mereka juga lapar.”

Bapak itu sangat terkejut, bukan karena ibu itu memberikan makanan itu kepada tetangganya. Atau bukan karena orang miskin biasanya dermawan. Tetapi karena ia tahu bahwa tetangganya juga lapar. Padahal biasanya kalau seseorang sedang menderita orang begitu memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Ia tidak sempat memikirkan orang lain yang juga menderita.

Betapa mulia perbuatan ibu itu. Ia masih memiliki kepekaan terhadap sesamanya yang menderita. Sikap empatinya masih bekerja di dalam hatinya, sehingga ia mampu berbagi dengan sesama yang menderita. Tentu saja perbuatan ibu itu patut dicontoh di jaman kini. Mengapa? Karena tampaknya sikap empati terhadap sesama yang menderita kian luntur.

Kita bisa menyaksikan sikap empati yang luntur ini pada saat bencana alam menimpa suatu wilayah. Banyak orang mulai berinisiatif untuk menggalang dana. Mereka berusaha mengumpulkan sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara.

Tetapi kemudian yang terjadi adalah bantuan bagi korban bencana tidak datang-datang juga. Padahal para korban bencana sangat membutuhkan uluran kasih dari sesamanya. Lalu ke mana hasil penggalangan dana itu? Ternyata sebagian besar sudah habis dipakai untuk kepentingan pribadi. Atau bantuan yang mulai berdatangan itu dipakai untuk orang atau kelompok tertentu saja, tidak untuk korban bencana alam. Kalau hal seperti ini terus-menerus terjadi, berarti ini suatu potret memilukan dari bangsa ini. Bangsa ini sudah kehilangan rasa empati dan solidaritas terhadap sesamanya.

Setiap hari kita berjuang semaksimal mungkin untuk kelanjutan hidup kita. Banyak hal kita raih dalam hidup ini. Satu hal yang masih perlu kita kembangkan adalah sikap empati dengan mereka yang kurang beruntung.

Karena itu, kita mohon kekuatan dari Tuhan, agar kita boleh memiliki sikap empati itu. Mari kita bawa semua pengalaman hidup kita sepanjang dalam perjalanan hidup kita. Kita persembahkan semua itu kepada Tuhan. Biarlah Tuhan menguatkan kita dengan rahmat dan anugerahNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


382

Bagikan

18 Mei 2010

Cinta Mengatasi Segalanya



Di suatu jalan yang ramai terjadi tabrakan antara dua mobil. Kerusakan tidak parah. Hanya lecet-lecet pada bemper masing-masing. Namun bagi salah seorang pengendara, seorang perempuan, tabrakan kecil itu menyimpan rasa cemas luar biasa dalam hatinya. Bukan karena ia yang salah dalam peristiwa itu. Tetapi mobil yang dia kendarai itu mobil baru. Tiga hari yang lalu suaminya baru membeli mobil itu. Baru keluar dari showroom.

Akibatnya, perempuan itu menjadi panik. Setelah kedua mobil itu minggir, perempuan itu keluar dari mobilnya. Ia mendekati pengendara mobil yang lain yang duduk tenang-tenang di dalam mobilnya. “Bagaimana, pak? Apa yang harus segera kita lakukan?” tanya perempuan itu.

Lelaki yang ada di belakang kemudi itu bertanya, “Ibu mau apa? Yang jelas, ibu yang salah. Ibu yang menabrak mobil saya. Ibu mau ke polisi?”

Dalam kebingunan, perempuan itu menjawab, “Kita damai saja. Saya harus menanggung biaya perbaikan mobil bapak.”

Dengan sigap, lelaki itu berusaha menenangkan perempuan itu. Ia sadar, mobilnya tidak perlu perbaikan. Paling, lecet sedikit saja. Lelaki itu berkata, “Ibu, kenapa ibu begitu panik? Mobil saya tidak apa-apa.”

“Tetapi.... suami saya...” kata perempuan itu.

Lelaki itu tersenyum. Dalam hatinya ia berpikir bahwa perempuan itu seorang yang taat kepada suaminya. Lalu ia berkata, “Ibu, lebih baik ibu kembali ke mobil. Coba lihat surat-surat ibu. Jangan-jangan ibu tidak punya SIM.”

Perempuan itu kembali ke mobilnya. Ia membuka laci mobilnya dan menemukan sepucuk surat dari suaminya. Tulisan tangan suaminya tertulis jelas, “Kalau suatu saat terjadi kecelakaan, ingatlah sayang, engkaulah yang lebih kucintai, bukan mobil ini.”

Perempuan itu menjadi lega. Cinta suaminya atas dirinya mengatasi segalanya. Sesaat kemudian perempuan itu meninggalkan tempat itu. Ternyata suaminya lebih menaruh cintanya kepadanya daripada pada mobil yang baru ia beli tiga hari yang lalu.

Dalam kehidupan sehari-hari cinta personal sering kali dikaburkan oleh hadirnya hal-hal lain dalam hidup. Cinta sejati itu dilunturkan oleh pandangan mengenai hal-hal sekunder dalam hidup ini. Harta kekayaan, misalnya, sering menjadi pemicu hancurnya cinta kasih dua insan yang telah membina hidup berkeluarga bertahun-tahun.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa harta kekayaan bukanlah segala-galanya. Harta itu hanyalah hal sekunder dalam hidup ini. Yang utama dalam hidup ini adalah jalinan cinta kasih yang mesti dipelihara terus-menerus oleh manusia yang saling mencintai.

Setiap hari ini merajut cinta kasih di antara kita dengan berbagai cara. Yang diharapkan adalah kita mau memelihara cinta kasih itu bagi hidup kita dan sesama yangg ada di sekitar kita. Dengan demikian, tercipta suatu dunia yang baik, aman, damai dan sejahtera.

Karena itu, mari kita bawa seluruh pengalaman cinta kita dalam hidup kita sehari-hari. Jangan biarkan cinta sejati itu dikaburkan oleh hal-hal yang sekunder. Untuk itu, kita mohon agar Tuhan yang mahacinta menguatkan dan menyempurnakan cinta kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

381
Bagikan

17 Mei 2010

Tuhan Hadir Lewat Berbagai Cara


Suatu pagi ada seorang pemuda ingin menemukan Tuhan. Ia memang sedang bingung, karena sudah lama berdoa tetapi Tuhan tidak mengabulkan permohonannya. Ia lalu pergi ke sebuah tempat ziarah yang dianggap tempat suci. Di sana di bawah sebatang pohon yang rindang ia duduk menyandarkan kepalanya pada sebuah bangku.

Dia berpikir bahwa di bawah pohon yang sejuk itu dia dapat mengalami kehadiran Tuhan. Sejenak dia menutup matanya lalu melipat kedua tangannya di atas pangkuannya. Dia khusyuk dalam doa. Lama ia tenggelam dalam doanya.

Setengah jam kemudian dia merasakan ada yang menepuk bahunya. Ia terkejut. Ia merasa terganggu. Setelah menoleh ke belakang, dia melihat seorang perempuan tua yang kusut berdiri di belakangnya.

Perempuan tua itu bertanya kepadanya, “Anda lapar?”

Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Lantas perempuan tua keriput itu berkata kepadanya sambil memberikan sejumlah uang, “Saya dapat memberikan kepadamu sedikit uang untuk membeli makanan.”

Pemuda itu menerima uang itu lalu berkata, “Terima kasih sudah memperhatikan saya, nek. Uang ini akan saya pakai untuk membeli makanan. Semoga Tuhan memberkati nenek.”

Beberapa saat kemudian, pemuda itu tertinggal seorang diri lagi. Perempuan tua itu sudah sirna dari hadapannya. Pemuda itu lalu menyadari bahwa dia telah menemukan kehadiran Tuhan lewat lebih dari satu cara.

Banyak orang ingin berjumpa dengan Tuhan dalam hidup mereka. Tetapi Tuhan seolah-olah tidak pernah mengabulkan keinginan mereka. Orang lalu menjadi resah dan gelisah. Orang lalu mencari berbagai cara untuk menemukan Tuhan dalam hidup mereka.

Padahal Tuhan hadir lewat berbagai cara. Tuhan dapat hadir lewat seorang nenek tua yang baik hati. Tuhan dapat hadir lewat suami yang penuh tanggung jawab atas keluarganya atau istri yang penuh perhatian terhadap keluarganya. Mengapa? Karena pada hakekatnya Tuhan itu baik kepada semua orang. Tuhan tidak memandang bulu. Tuhan tidak mendiskriminasikan siapa pun.

Karena itu, mari kita sadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dia hadir melalui cinta kasih sesama yang dekat dengan kita. Dia juga hadir melalui sentuhan-sentuhan orang di sekitar kita.

Setiap hari kita mengalami betapa Tuhan itu begitu baik kepada kita. Ia rela menyertai perjalanan hidup kita pada hari ini. Ia menyertai kita dalam bekerja. Karena itu, mari kita syukuri kehadiran Tuhan itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




380

Bagikan

16 Mei 2010

Menimba Semangat Juang


Suatu hari seorang anak muda mendatangi seorang seniman terkenal yang telah menghasilkan jendela-jendela kaca yang sangat indah. Ia ingin belajar pada seniman itu untuk melukis di atas kaca. Ia merasa dirinya memiliki bakat di bidang seni lukis. Setiap hari ia belajar di tempat seniman itu. Seniman itu dengan sabar membimbing anak muda itu.

Suatu ketika ia merasa penasaran, mengapa ia tidak bisa melukis seindah seniman itu. Lalu dia meminjam alat-alat yang digunakan oleh gurunya. Ia berpikir, jangan-jangan alat-alat itu yang membuat seniman itu tidak bisa disamainya. Dia berpikir, dengan meminjam alat-alat itu dia akan menjadi sama dengan gurunya.

Anak muda itu mulai melukis dengan alat-alat gurunya. Namun hasilnya masih jauh dari yang ia harapkan. Ia merasa kesal. Ia kecewa. Lalu dia mendatangi gurunya dan berkata, “Saya tidak dapat melukis lebih baik meski menggunakan alat-alat guru.”

Seniman itu menjawab, “Bukan alat-alat itu yang engkau butuhkan. Yang engkau butuhkan sekarang ialah semangat gurumu.”

Anak muda itu tertegun. Ia menyadari semangat gurunya belum ia transfer ke dalam dirinya. Ia masih memiliki semangat lama, semangat dari dirinya sendiri. Karena itu, semangatnya itu mesti diganti dengan semangat gurunya. Dengan demikian dia dapat melukis lebih baik lagi, bahkan kalau bisa lebih indah daripada gurunya.

Yang kita butuhkan dalam perjalanan hidup kita adalah semangat dari orang yang kita ikuti. Banyak anak muda di jaman kini mengikuti suatu trend tertentu. Misalnya, model rambut atau pakaian. Seringkali yang terjadi adalah mereka cepat bosan. Mereka merasa itu bukan dari diri mereka sendiri. Karena itu, mereka suka gonta-ganti model rambut atau pakaian. Trend itu ternyata hanyalah suatu tempelan, bukan menjadi semangat hidup.

Atau banyak anak muda yang mengikuti gaya para bintang olahraga tertentu. Mereka cepat bosan juga karena mereka tidak bisa mentransfer nilai-nilai baik yang dihidupi oleh bintang-bintang itu. Seseorang menjadi bintang lapangan hijau itu setelah melalui suatu perjuangan yang panjang. Ia mesti latihan setiap hari sepuluh jam, misalnya. Ia hidup secara teratur. Tidak begadang hingga larut malam. Nah, anak-anak muda lupa akan hal ini. Yang mereka tiru adalah gaya bintang di lapangan hijau itu. Mereka tidak menimba semangat juangnya. Karena itu, banyak anak muda menjadi stress karena tidak bisa menyamai bintang yang mereka idolakan.

Mari kita timba semangat juang, kesabaran, keuletan dan keberanian dari sesama yang kita jumpai. Setiap hari kita berjuang untuk meraih keinginan-keinginan kita. Mari kita memetik semangat juang dari sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

379


Bagikan

15 Mei 2010

Kita Semua Saling Membutuhkan





Suatu hari seorang buta dan seorang pincang kebetulan sampai pada suatu sudut jalan pada saat yang sama. Orang buta itu meminta si pincang untuk membimbingnya agar dapat melewati kesulitannya.

Orang pincang itu berkata, “Bagaimana saya dapat melakukannya, sebab saya tidak dapat berjalan sendiri.”

Orang buta itu tidak percaya. Ia terus memaksa orang pincang itu untuk menuntunnya pergi dari sudut itu. “Tuntunlah saya. Saya ingin melanjutkan perjalanan saya,” kata orang buta itu.

Orang pincang itu meyakinkan orang buta itu, “Saya hanya dapat melakukannya, kalau engkau menggendong saya. Saya dapat mengingatkan engkau tentang segala sesuatu di jalan. Mataku menjadi matamu. Kakimu menjadi kakiku.”

Orang buta itu tercengang, “Ah, jadi engkau sungguh-sungguh tidak punya kaki?”

Orang pincang itu menjawab, “Saya sangat membutuhkan kakimu untuk pergi dari sudut ini!”

Jawab orang buta itu, “Oh, dengan senang hati. Mari kita saling melayani.”

Beberapa saat kemudian orang pincang itu naik ke bahu orang buta itu. Orang buta itu mulai berjalan dengan senang hati. Ia tidak perlu cemas, karena orang pincang itu dapat menunjukkan arah yang mesti mereka tempuh.

Banyak hal dapat dilakukan oleh orang-orang yang mengalami senasib sepenanggungan. Kebutuhan mereka sering kali sama. Yang biasa terjadi dalam hidup sehari-hari adalah orang hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Orang merasa bahwa hanya dirinyalah yang dapat membantu dirinya sendiri dalam kesulitan-kesulitan hidup. Padahal ada begitu banyak orang yang siap membantu bila terjadi suatu kesulitan dalam hidup.

Kisah di atas mengajak kita untuk menyadari keterbatasan kita sebagai manusia. Manusia itu makhluk yang terbatas. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kalau ia menyingkirkan orang lain dalam hidupnya.

Karena itu, saling melayani dalam hidup ini menjadi sangat penting. Suami mesti melayani istrinya yang membutuhkan bantuannya. Suami membutuhkan bantuan istrinya. Anak-anak membutuhkan bantuan dari orangtuanya untuk hidup lebih baik. Kita semua saling membutuhkan, sehingga kita mesti saling melayani.

Setiap hari kita mengalami begitu baiknya sesama terhadap kita. Ada yang membantu kita dengan membersihkan lantai yang kotor. Ada yang membantu kita dengan menyediakan minuman. Ada yang memberi kita seteguk air untuk melepaskan dahaga. Karena itu, mari kita syukuri kebaikan-kebaikan itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
378

Bagikan

14 Mei 2010

Melihat dari Perspektif Lain





Ada seorang miskin yang tinggal di sebuah gubuk kecil. Pada suatu hari datang seorang kaya yang ingin membeli gubuk itu. Orang miskin itu tidak keberatan. Apalagi di hadapannya berdiri seorang kaya yang sangat menginginkan gubuknya itu.

Lalu orang miskin itu berniat untuk memperbaiki gubuknya. Dia pergi ke mana-mana mencari bahan untuk memperbaiki gubuk itu. Dia sangat bangga ada orang yang sangat kaya yang menginginkan gubuknya. Hasil perbaikan itu memperindah gubuk itu. Ia sangat senang melihatnya.

Ia berkata dalam hatinya, “Wah, orang kaya itu pasti akan senang memiliki gubuk saya ini. Bukankah sewaktu jelek pun dia menyukainya?”

Setelah beberapa hari, orang kaya itu datang kepada orang miskin itu. Dengan segepok uang di tangannya, ia menyerahkan uang kepada orang miskin itu. Orang miskin itu sangat gembira. Bukan pertama-tama ia memiliki uang yang banyak. Tetapi karena orang kaya itu ternyata menghargai karyanya. Hari itu juga gubuk itu menjadi milik orang kaya itu.

Keesokan harinya, orang kaya itu datang ke tempat gubuk itu berdiri. Ia membawa serta sebuah buldozer. Hanya sekali gerakan, gubuk itu sudah rata dengan tanah. Melihat peristiwa itu, orang miskin itu berteriak-teriak. Ia protes kepada orang kaya itu, “Jangan bongkar gubuk saya. Saya sudah berusaha untuk memperbaikinya begitu bagus.”

Orang kaya itu tersenyum kepadanya. Lalu ia berkata kepada orang miskin itu, “Saya tidak menginginkan gubuk reyotmu. Tetapi saya hanya menginginkan tanahmu.”

Hati orang miskin itu sangat pilu. Tetapi ia tidak bisa melawan. Gubuk dan tanah itu bukan miliknya lagi. Sudah menjadi milik orang kaya itu. Ia tidak punya hak apa-apa lagi terhadap gubuk dan tanah itu.

Sering kali kita merasa bahwa yang kita milik saat ini adalah segala-galanya. Tidak ada yang lebih indah atau bagus daripada yang kita miliki. Ini yang namanya kita melihat diri hanya dari satu perspektif. Sebenarnya masih ada perspektif-perspektif lain yang perlu dilihat, agar kita dapat kembangkan diri kita secara utuh.

Untuk itu, kita butuh orang lain untuk melihat diri kita dari sudut pandang yang lain. Orang akan melihat baik dan buruk diri kita dari sisi yang lain. Kalau hal ini kita terima, akan sangat membantu kita dalam proses pertumbuhan kepribadian kita. Hal ini menjadi sumbangan yang besar bagi hidup kita.

Karena itu, kita butuh keterbukaan hati untuk menerima semua penilaian terhadap diri kita. Hanya melalui hati yang terbuka kita dapat mengembangkan diri kita secara utuh.

Setiap hari kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangakn pribadi kita. Ada orang yang menyoroti aspek hidup batin kita yang mungkin labil. Ada yang menilai aspek relasi kita yang kurang harmonis dengan sesama di sekitar kita. Ada yang memberi pujian terhadap setiap perbuatan baik yang kita lakukan untuk sesama kita. Semua itu menjadi sarana bagi kita untuk mengembangkan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

377
Bagikan

13 Mei 2010

Menemukan Arti Hidup





Ada seorang guru besar dari sebuah universitas terpandang belum puas dengan hidupnya. Ia masih mencari arti hidup itu sesungguhnya bagi dirinya. Memang, dia sudah menguasai bidang ilmunya dengan sangat baik. Harta, dia punya. Istri dan anak-anak dia sudah punya. Persoalan baginya adalah arti hidup itu.

Karena itu, suatu hari guru besar itu memutuskan untuk melakukan suatu perjalanan jauh. Ia ingin menemukan arti hidup itu. Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya dengan menulis pesan singkat di atas secarik kertas, “Jangan cari saya.”

Setelah beberapa tahun dan ribuan kilometer berjalan, guru besar itu tiba di sebuah gubuk seorang pertapa yang terkenal kudus. Guru besar itu meminta kepada sang pertapa agar memberikan keterangan. Orang kudus itu mengundang sang guru besar itu masuk ke dalam tempat tinggalnya yang sederhana. Ia menyuguhkan secangkir teh kepadanya.

Pertapa itu mengisi cangkir tehnya sampai penuh, malah sampai tumpah di lantai. Guru besar itu memperhatikan terus ulah sang pertama sampai akhirnya dia tidak bisa menahan diri. Lalu guru besar itu berteriak, “Berhenti! Itu sudah penuh! Tidak ada lagi teh yang dapat masuk.”

Pertapa itu tidak peduli. Ia mengisi terus cangkir teh itu. Lantai penuh dengan air. Guru besar itu tidak sabar menyaksikan ulah sang pertapa itu.

Guru besar itu menatap wajah pertapa itu dan berkata, “Berhenti, pak pertapa. Lantai ini sudah terlalu penuh dengan air. Tidak usah buang-buang teh.

Sang pertapa itu lantas memandang wajah guru besar yang tampak panik itu. Dengan penuh kesabaran, ia tersenyum kepada guru besar itu. Lalu ia berkata, “Seperti cangkir ini, demikian juga dirimu. Engkau sudah penuh dengan pendapatmu sendiri dan gagasan-gagasanmu. Bagaimana saya dapat mengajarkan kepada Anda tentang arti hidup, kalau engkau tidak mengosongkan cangkir dirimu?”

Guru besar itu terperanjat mendengar kata-kata bijak sang pertapa itu. Ia sadar, situasi itulah yang melingkupi dirinya selama ini. Ia terlalu memaksakan kehendak kepada orang lain. Ia selalu merasa menang sendiri, karena ia seorang guru besar yang sangat ahli. Ia kurang mendengarkan pandangan orang lain.

Kita sering bersikap seperti guru besar itu. Kita menutup telinga kita rapat-rapat untuk setiap bentuk nasihat atau pandangan dari orang lain tentang diri kita. Bagi kita, pendapat kita yang paling benar. Pandangan orang lain tentang diri kita tidak bermanfaat apa-apa.

Karena itu, sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita perlu mengubah persepsi tentang kehidupan kita. Kita perlu mengosongkan cangkir-cangkir diri kita. Lantas kita biarkan gagasan-gagasan yang baik masuk ke dalam diri kita.

Setiap hari kita mengalami begitu banyak hal baik. Ada begitu banyak orang yang mau ikut terlibat dalam pergulatan hidup kita. Mereka memberikan nasihat, pengarahan dan gagasan-gagasan yang baik bagi pertumbuhan kepribadian kita. Kita mensyukuri semua itu. Tuhan bekerja melalui orang-orang di sekitar kita. Tuhan membantu pertumbuhan hidup kita melalui orang-orang di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

376
Bagikan

12 Mei 2010

Tuhan Hadir dalam Kegelapan Hidup


Pada suatu malam sebuah rumah terbakar. Api berkobar begitu hebat. Semua anggota keluarga itu sudah keluar rumah. Tinggal salah seorang anak yang masih terperangkap di dalam rumah itu. Ayahnya tidak berani masuk kembali ke dalam rumah, karena kobaran api yang begitu hebat.

Tetapi anak itu mendapat akal. Ia berhasil melarikan diri ke atas atap rumah yang belum terbakar. Melihat anaknya berada di atas atap, ayahnya memanggil-manggil namanya. Ia mengulurkan tangannya dan berkata, “Lompat! Saya akan menangkap engkau.”

Bapak itu sadar bahwa anaknya hanya bisa selamat, kalau ia berani melompat dari atas atap itu. Namun yang dilihat oleh anaknya hanyalah api, asap dan kegelapan. Anak itu sangat kebingungan. Ia mendengar suara ayahnya, tetapi bagaimana ia bisa terjun dari atas atap itu?

Ayahnya berteriak lagi, “Lompat anakku! Saya siap menangkap engkau.”

Anak itu ragu-ragu. Apalagi ia tidak bisa melihat ayahnya. Anak itu berteriak, “Bagaimana saya bisa melompat, kalau saya tidak bisa melihat ayah?”

Jawab ayahnya, “Lompat saja. Dan engkau akan selamat di tangan ayah. Jangan takut.”

Anak itu pun memberanikan diri untuk melompat. Tangan ayahnya telah terulur. Ia pun merangkul anaknya yang selamat dari bahaya api yang kian membesar.

Mukjijat sering terjadi dalam situasi kepepet. Yang dibutuhkan dari sikap seseorang adalah sikap iman. Artinya, orang mesti berani melangkahkan kaki meski dalam suasana yang mengancam hidupnya. Dalam hidup ini orang mesti berani melompat, kalau suasana hidup semakin kusut. Orang mesti berani meninggalkan rutinitas hidupnya dan mencari cara-cara baru untuk meraih kesuksesan.

Banyak orang dapat meraih kesuksesan berkat keberanian untuk melakukan suatu inovasi terhadap bidang-bidang kehidupan yang baru. Untuk itu, orang tidak bisa hanya mengandalkan apa yang sudah ada dan sudah berjalan secara rutin itu. Orang mesti berani berubah. Namun tidak berarti orang memiliki sikap plinplan, sikap yang berubah-ubah.

Iman akan Tuhan itu juga mesti membuat orang berani keluar dari kehidupan yang biasa-biasa saja. Kalau orang hidup bertahun-tahun dalam kondisi kemiskinan yang berat, ia mesti berani mencari jalan lain untuk keluar dari kemiskinan itu. Tentu sebagai orang beriman, jalan lain itu jalan yang benar. Cara-cara yang tulus. Bukan melalui kecurangan-kecurangan.

Rasanya setiap hari kita sudah berusaha keras untuk berubah. Mungkin ada di antara kita yang telah menemukan cara-cara yang baik untuk keluar dari rutinitas hidup kita. Mungkin ada yang sudah menemukan contoh-contoh yang cespleng untuk membangun suatu hidup yang lebih baik.

Atau mungkin ada yang masih kesal terhadap dirinya sendiri, karena belum mampu menemukan jalan baru menuju kesuksesan. Untuk hal ini, orang seperti ini membutuhkan suatu lompatan dalam hidupnya. Ia perlu meninggalkan cara hidup lamanya yang membosankan. Ia perlu mengubah diri, agar meraih suatu hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

375
Bagikan

11 Mei 2010

Berusaha Hidup baik di Hadapan Tuhan






Seorang pelukis keliling berhenti di suatu kota kecil sambil berharap akan memperoleh pekerjaan untuk hari itu. Salah seorang kliennya terkenal sebagai seorang pemabuk di kota itu. Dia kotor. Janggutnya semrawut. Pakaiannya sangat kumal.

Begitu melihat pelukis keliling itu, dia duduk di depan pelukis itu. Dia meminta untuk dilukis sesuai dengan segala gaya yang dia inginkan. Kadang-kadang ia memiringkan kepalanya sambil tersenyum. Kadang-kadang ia berjongkok dan berkacak pinggang. Sementara pelukis itu terus melukisnya.

Setelah jadi, ia menyerahkan lukisan itu kepada pemabuk itu. Setelah beberapa lama mengamati lukisan itu, ia berteriak, “Ini bukan saya!”

Soalnya, hasil lukisan itu sangat berbeda dengan kondisi wajahnya saat itu. Wajah pemabuk di lukisan itu sangat rapih. Karena itu, ia protes. Tidak biasanya ia tampil rapih seperti di lukisan itu.

Pelukis itu berkata kepadanya, “Pak, itu wajah bapak yang sebenarnya. Apa yang bapak ekspresikan selama ini hanyalah pelampiasan dari kondisi hidup bapak.”

Pemabuk itu berkata dengan sangat heran, “Apa? Ini kondisi hidup saya yang seharusnya? Tetapi tidak ada yang mau peduli terhadap hidup saya. Istri saya selalu melecehkan saya. Dia acuh tak acuh terhadap saya.”

Pelukis itu memandang wajah pemabuk itu dalam-dalam. Ia menyaksikan sinar mata yang begitu jujur dari pemabuk itu. Lalu ia berkata, “Kalau bapak ingin orang lain peduli terhadap bapak, bapak semestinya peduli terhadap diri sendiri.”

Pemabuk itu langsung memeluk pelukis itu. Ia menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Saya mau jadi seperti lukisan wajah saya ini.” Ia pun memeluk erat lukisan itu di dadanya.

Banyak persoalan hidup yang kita hadapi semestinya tidak membuat kita frustrasi. Masih ada begitu banyak jalan dan cara bagi kita untuk menghadapi setiap persoalan hidup kita. Frustrasi hanya akan membuat hidup kita semakin suram. Karena itu, orang mesti menghadapi setiap persoalan hidupnya dengan siasat-siasat yang baik.

Sebagai orang beriman, kita mesti tetap berpegang teguh pada iman kita akan Tuhan. Tuhan telah mempercayakan hidup ini kepada kita untuk kita kembangkan. Untuk itu, orang mesti senantiasa mengembangkan hidupnya. Inilah bagian dari iman. Orang yang membiarkan kemampuan dan bakat-bakatnya tidak dikembangkan sebenarnya memiliki iman yang dangkal. Ada sedikit persoalan datang menghadang, dia sudah takut, cemas lalu lari dari hadapan Tuhan.

Mari kita kuatkan hidup kita. Mari kita berserah diri kepada Tuhan dengan hidup baik di hadapanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
374

Bagikan