Pages

16 Juli 2010

Bersyukur Atas Kebaikan Tuhan

Ada seorang ibu rumah tangga yang setiap hari mengumpulkan anak-anaknya setelah makan malam. Mereka mendoakan sang ayah yang selalu pulang larut malam dan senantiasa mabuk. Ibu dan anak-anaknya memohon kepada Tuhan, semoga ayah tercinta bertobat, tidak selalu pulang hanya untuk memarahi semua, bertengkar, malahan memukuli mereka.

Setelah beberapa tahun, doa ini tidak kelihatan kemajuan apa-apa, sehingga dalam frustrasinya ibu itu datang ke seorang pastor untuk mengadu. Ia berkata, “Kurang apa doa kami, Pastor. Coba lihat, tidak ada hasil yang kelihatan sama sekali.”

Pastor yang bijaksana turut merasa bingung, tapi tiba-tiba ada jalan keluar. Katanya kepada ibu itu, “Nanti malam coba mengganti doa permohonan itu dengan doa syukur.”

Jawab ibu itu, “Bersyukur atas apa, pastor? Kami hanya sengsara belaka.”

Kata Pastor itu, “Tidak, coba periksa segala unsur dan bagian dari hidupmu, bukankah ada tiga anak yang sehat, rajin dan taat kepada ibunya? Bukankah mereka juga sabar dan hormat pada ayah yang brengsek, sehat. Bukankah mereka berhasil dalam studi di sekolah? Bukankah ibu sendiri memiliki iman yang hidup, rajin beribadat, sehat sehingga dapat mengurus rumah tangga dengan baik?”

Sang ibu mulai sadar. Lantas pastor itu berkata lagi, “Bukankah sang suami yang tidak menyenangkan dan kelihatan gagal, toh diberi daya tahan sehingga minuman keras yang ia habisi setiap hari ternyata tidak sampai mengambil nyawanya? Pasti banyak hal lain lagi yang positif dan pantas disyukuri.”

Lalu dengan sedikit malu, ibu itu minta diri dan pulang. Habis makan malam, seperti biasa ia berlutut bersama anak-anak untuk berdoa. Kali ini mereka tidak meminta apa-apa dari Tuhan. Mereka hanya bersyukur dan berterima kasih atas segala yang dapat mereka ingat dan kemukakan.

Beberapa jam kemudian sang ayah pulang. Ternyata ia tidak mabuk seperti biasa. Ia mengumpulkan isteri dan anak-anaknya lalu di hadapan mereka dan sambil memeluk mereka, ia menangis. Ia minta maaf karena ia bukan suami dan ayah yang baik. Ia bertobat, menjadi orang yang berhati baru. Hasil dari doa syukur. Keluarga itu sangat gembira bersama dan bersyukur dengan penuh gelora atas kebaikan Tuhan yang hanya menunggu orang bersyukur sebelum Ia memberi yang baik dan yang lama diharapkan.

Tentu saja kisah di atas sangat menyentuh hati kita. Ternyata tidak selamanya doa itu mesti meminta dan meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita segala yang kita butuhkan. Doa juga berarti bersyukur atas kebaikan Tuhan atas hidup ini. Berapa dari Anda yang mensyukuri kebaikan Tuhan atas hidup Anda? Mungkin hanya sedikit yang mau bersyukur kepada Tuhan. Banyak dari kita hanya meminta kepada Tuhan untuk diberi kekuatan bagi hidup kita.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk senantiasa mensyukuri kebaikan Tuhan. Hidup ini adalah rahmat Tuhan. Kita hidup karena belas kasihan Tuhan. Karena itu, pantaslah kita senantiasa berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur menunjukkan betapa kita memiliki iman yang mendalam kepada Tuhan. Apa pun yang diberikan Tuhan kepada kita, kita mau menerima dengan lapang dada. Dengan tangan terbuka kita menerima kebaikan Tuhan itu. Mari kita terus-menerus bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan mencintai kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



440

Bagikan

15 Juli 2010

Berusaha Menerima Apa yang Menjadi Hak



Menurut sebuah survei, angka harapan hidup tertinggi di Indonesia dimiliki
oleh Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu 73 tahun. Artinya, rata-rata penduduk Yogyakarta hidup hingga usia 73 tahun. Beberapa ahli mencoba mencari tahu penyebabnya. Ternyata ditemukan bahwa di daerah ini tingkat stress masyarakatnya rendah. Mereka sangat gemar mengkonsumsi makanan berserat melalui buah-buahan dan sayuran. Alasan lain adalah budaya hidup orang Yogyakarta yang memegang falsafah nrima ing pandum. Artinya, menerima apa yang menjadi haknya, tidak serakah, apalagi berkeinginan mengambil hak orang lain.

Tentu saja survei seperti ini menggembirakan bagi banyak kalangan. Pasalnya, survei ini memberikan suatu optimisme dalam hidup. Suatu bentuk hidup yang teratur akan membantu manusia mengendalikan dirinya. Stress tidak perlu terjadi dalam hidup manusia, kalau manusia tidak serakah dengan cara ingin memiliki segala-galanya untuk dirinya sendiri. Orang tidak perlu merasa resah dalam hidupnya, karena tidak perlu bersusah-susah menaklukkan orang lain dan mengambil harta milik orang lain dengan tidak adil.

Tidak puas dengan apa yang ada, iri hati terhadap apa yang orang lain capai, dan bernafsu memiliki apa yang bukan haknya, adalah awal kehancuran
seseorang. Banyak pengalaman telah kita dapatkan dari hal-hal seperti ini. Karena itu, kalau orang ingin sukses dalam hidupnya, ia mesti memiliki cara hidup yang baik. Orang tidak boleh serakah dalam hidupnya. Keserakahan akan membawa manusia kepada ketidakharmonisan dengan sesama. Relasi dengan sesama cepat atau lambat akan mengalami kebuntuan dalam hidup ini.

Relasi yang baik mesti selalu dibangun oleh manusia. Setiap bentuk relasi yang tidak harmonis selalu menghambat perjalanan hidup manusia. Bahkan akan membawa kehancuran dalam hidup manusia itu sendiri. Apakah Anda ingin hancur dalam hidup Anda? Tentu saja kita semua tidak ingin hancur dalam hidup ini. Kita ingin hidup kita selalu mengalami sukacita dan damai. Karena itu, kita mesti menjauhkan rasa iri dan serakah dari diri kita.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita menjadi rahmat bagi sesama. Kita ingin membangun hidup yang harmonis dengan sesama. Kita ingin agar sesama mengalami bahagia dalam hidupnya. Kita tidak ingin bahagia sendirian. Mengapa? Karena Tuhan ingin menyelamatkan semua orang. Tuhan ingin, agar semua orang mengalami kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Karena itu, tugas setiap orang beriman adalah membawa damai bagi semua orang.

Mari kita berusaha untuk senantiasa membangun relasi yang baik dengan sesama kita. Hidup kita bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita hidup juga untuk sesama kita. Karena itu, kita mesti membantu sesama dalam mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com






Bagikan

14 Juli 2010

Senantiasa Mengarahkan Hidup kepada Tuhan



Suatu hari seorang suami gelisah. Sang istri yang sangat dicintainya ternyata menderita sakit kanker. Kanker itu sangat ganas, sehingga istrinya sangat kesakitan. Satu-satunya jalan adalah istrinya mesti menjalani operasi membuang bagian tubuh yang terserang kanker itu. Soalnya adalah bapak itu tidak punya uang yang cukup untuk biaya operasi. Ia hanya seorang pegawai rendahan di sebuah perusahaan. Gajinya tidak cukup untuk biaya rumah sakit itu.

Dalam situasi seperti itu, ia berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia berusaha untuk menyerahkan istrinya kepada Tuhan. Ia berkata, “Biarlah Tuhan yang membantu istri saya melewati saat-saat sakitnya. Hanya kuasa Tuhan yang mampu menghentikan penyakitnya.”

Rupanya doa suami itu terkabul. Beberapa bulan kemudian, kanker itu mulai mengendurkan serangannya. Sakit istrinya tidak lagi terasa sangat parah. Ia tidak perlu mengerang-erang kesakitan lagi. Suami itu punya waktu untuk memikirkan banyak hal untuk keluarganya. Ia mesti mengambil alih semua urusan keluarga selama istrinya menderita sakit.

Banyak orang di jaman sekarang meragukan mukjijat dari Tuhan. Atau banyak orang terlalu mengharapkan mukjijat yang spektakuler yang akan terjadi atas diri mereka. Padahal setiap hari selalu ada mukjijat. Hidup ini sendiri adalah mukjijat. Setiap denyut nafas yang berdetak setiap kali kita bangun merupakan mukjijat dari Tuhan.

Soalnya adalah manusia sering kurang menyadari kehadiran Tuhan di kala sukacita dan damai menyelimuti hidup manusia. Orang baru mulai menyadari kehadiran Tuhan ketika ada penderitaan yang menimpa mereka. Dalam kondisi seperti ini, orang begitu gampang datang kepada Tuhan. Orang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan berbagai cara.

Tentu saja hal seperti ini tidak salah. Namun orang beriman mesti senantiasa menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya. Orang beriman mesti tidak melupakan Tuhan, ketika kegembiraan dan damai meliputi dirinya. Justru dalam situasi seperti ini, orang mesti senantiasa bersyukur atas anugerah Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk senantaisa menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan kapan dan di mana pun kita berada. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Mari kita menumbuhsuburkan iman kita dengan berusaha untuk senantiasa bersyukur atas rahmat kehidupan yang diberikan kepada kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

438
Bagikan

13 Juli 2010

Mendidik dengan Semangat Cinta Kasih


Suatu hari yang cerah seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat sebuah taman kota. Sementara anaknya bermain plorotan. Ibu itu berkata kepada pria itu, “Itu putraku yang sedang bermain plorotan.”

Pria itu menjawab, “Wah, bagus sekali bocah itu. Ibu lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku.”

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. “Ayo nak, gimana kalau kita sekarang pulang?” Bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, “Kalau lima menit lagi, boleh ya, ayah? Sebentar lagi ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok, yaaa…?”

Pria itu mengangguk dan anaknya meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit-menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi, “Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?”

Lagi-lagi anaknya memohon, “Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?” Pria itu bersenyum dan berkata, “OK-lah, iyalah…”

Ibu yang duduk di sampingnya merasa gemas melihat kejadian itu. Lantas ia berkata, “Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar.”

Pria itu berkata, “Putraku yang lebih tua tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini oleh sopir yang mabuk. Aku tidak pernah memberikan cukup waktu untuk putra sulungku itu. Sekarang apa pun ingin kuberikan untuk anakku ini. Biar saja saya bisa bersamanya, biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa bahagianya.”

Banyak orangtua merasa tidak punya waktu untuk anak mereka. Mereka terlalu sibuk dengan berbagai pekerjaan. Akibatnya, banyak anak yang tumbuh tanpa perhatian dari orangtua mereka. Secara fisik mereka merupakan anak-anak yang sehat. Tetapi secara psikologis mereka kekurangan kasih sayang. Sentuhan langsung dari orangtua ternyata sangat berguna untuk pertumbuhan anak-anak. Tatapan mata dan senyum manis dari orangtua menjadi pendorong bagi anak-anak untuk maju dalam hidup mereka.

Karena itu, setiap orangtua mesti menyadari tugasnya dalam mendidik anak-anak mereka. Cinta kasih yang mendalam mesti ditanamkan dalam diri anak-anak sejak kecil. Dengan demikian, anak-anak tumbuh menjadi orang-orang yang mengandalkan cinta kasih dalam hidup mereka. Kelemahlembutan dan kerendahan hati menjadi penghias hidup mereka. Tentu saja hal seperti ini dapat terjadi, kalau orangtua sungguh-sungguh peduli terhadap pertumbuhan anak-anak mereka.

Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ini mesti ditandai dengan membuat prioritas. Orangtua mesti memberikan prioritas utama dalam mendidik anak-anak mereka. Dengan demikian, mereka dapat memiliki suasana cinta kasih yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


437

Bagikan

12 Juli 2010

Kerelaan Mengampuni Sesama

Suatu hari seorang nenek terbujur di kamarnya sendirian. Ia mengalami penderitaan yang sangat hebat. Tetapi ia masih tetap bertahan. Ia ingin melewati hari-harinya dengan penuh harapan. Satu-satunya yang mau ia katakan adalah ia ingin berdamai dengan putranya.

Sewaktu anaknya itu berusia duapuluh lima tahun, ia bertengkar hebat dengannya. Akibatnya, putranya itu meninggalkan rumah. Ia pergi merantau. Ia tidak pernah kembali lagi. Ia pun tidak tahu di mana keberadaan putranya itu.

Hati nenek itu sangat sedih. Perdamaian dengan putranya yang ia dambakan belum terwujud. Bertahun-tahun sudah ia menyesali peristiwa itu. Namun semuanya hanya penyesalan. Belum mewujud dalam perdamaian yang sesungguhnya. Karena itu, hatinya masih terasa pedih.

Dalam kondisi seperti itu, sang anak tiba-tiba muncul di hadapannya. Bukan sebuah ilusi. Tetapi wajah anaknya sungguh-sungguh menghiasi pelupuk matanya. Anaknya itu menyapa, “Mama... Aku pulang. Mama masih ingat peristiwa dulu itu? Anakmu tidak ingat lagi.”

Sang mama langsung memeluk anaknya. Damai pun terjadi hari itu. Ia dapat merasakan suasana sukacita dan damai. Seluruh kepedihan hatinya terobati oleh perjumpaan yang sungguh-sungguh menyenangkan itu. Tidak ada lagi yang merasa terluka. Semua luka itu sembuh dalam sekejap saja.

Banyak orang menyimpan kepedihan hati yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mereka merasa bahwa dengan cara itu mereka akan merasa puas untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap orang yang mereka benci. Mereka merasa bahwa dengan cara itu mereka dapat mengungkapkan kebencian mereka terhadap sesama.

Tentu saja sikap seperti ini bukanlah cerminan dari orang yang beriman kepada Tuhan. Orang beriman itu selalu mengaku dengan mulut bahwa Tuhan itu mahapengasih dan mahapengampun. Kalau ini menjadi ungkapan isi hati manusia, mengapa manusia masih mau menyimpan dendam? Mengapa manusia masih mau membalas kebencian dengan kebencian?

Kisah anak dan ibu di atas mau mengatakan kepada kita bahwa damai hanya bisa dicapai, ketika orang rela mengampuni. Luka batin hanya bisa disembuhkan oleh kerelaan untuk menerima sesama dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Orang mau dengan besar hati menerima kehadiran sesama yang pernah membuat luka dirinya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati. Orang yang mau membuka hatinya lebar-lebar bagi sesamanya. Hanya dengan cara itu, kita dapat menjadi orang yang beriman teguh dan tangguh dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


436

Bagikan

11 Juli 2010

Rahmat Tuhan Senantiasa Hadir Bersama Kita

Ada seorang anak yang terkenal luar biasa pandai. Nilai-nilai pada setiap kali ulangan selalu sepuluh. Padahal ia tidak mengikuti banyak les di luar sekolah. Menurut pengakuannya, ia belajar sendiri di rumah. Ibunya mendampingi dirinya dengan setia. Ia tidak kuatir sama sekali begitu ulangan diadakan di sekolah. Ia sudah menyiapkan diri dengan baik dengan belajar yang rajin.

Suatu kali seorang temannya bertanya kepadanya tentang pelajaran matematika. Tanpa ragu-ragu ia membantu temannya itu. Hasilnya, pada saat ulangan tiba, temannya itu pun memperoleh nilai sepuluh. Anak itu tidak cemburu. Ia terus-menerus memberi semangat kepada temannya itu agar tetap belajar. Ia merasa bahwa kepandaiannya itu mesti ditularkan kepada sesamanya. Dengan demikian, semakin banyak temannya dapat meraih cita-cita mereka.

Melihat situasi seperti itu, teman-temannya yang lain pun ikut. Mereka membentuk sebuah kelompok belajar. Begitu pulang sekolah mereka berkumpul di salah satu rumah teman mereka. Tujuannya untuk belajar bersama. Kebiasaan itu membawa hasil yang sangat baik. Banyak dari mereka yang kemudian meraih nilai sangat baik di kelas itu. Mereka tidak saling cemburu. Justru mereka saling membantu.

Saling mendukung dalam usaha-usaha menunjukkan suatu hasil yang baik. Orang tidak perlu kuatir tentang keberhasilannya dalam hidup ini. Saling menolong itu mencerminkan hidup kita sebagai orang-orang yang memiliki optimisme dalam hidup ini. Orang tidak hidup untuk dirinya sendiri. Orang juga hidup bagi sesama yang ada di sekitarnya.

Orang yang sungguh-sungguh beriman itu biasanya mampu mengulurkan tangannya untuk membantu sesamanya yang mengalami kesulitan-kesulitan dalam hidup. Inilah iman yang hidup. Iman yang hidup itu tampak dalam tingkah laku sehari-hari. Orang beriman itu tidak mudah cemburu, ketika sesamanya berhasil dalam suatu usaha. Sebaliknya, orang beriman itu mau belajar dari sesamanya yang berhasil.

Karena itu, orang seperti ini biasanya mendapatkan rahmat dari Tuhan. Tuhan tahu kebaikan dan usaha yang dilakukannya. Tuhan mengaruniakan rahmatNya, agar orang seperti ini dapat terus berusaha dan meraih keberhasilan dalam hidupnya. Keberhasilan itu dapat menjadi kesempatan untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Namun sering orang beriman itu lupa akan asal muasal rahmat itu. Mereka merasa bahwa keberhasilan yang dicapai itu usaha mereka sendiri. Tentu saja hal ini berbahaya bagi hidup orang beriman.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa memiliki rasa syukur atas setiap rahmat yang ia terima dari Tuhan. Tuhan begitu baik. Tuhan selalu membantu manusia. Tuhan ingin agar manusia menemukan keberhasilan dalam hidupnya. Mari kita berusaha untuk senantiasa mensyukuri rahmat demi rahmat yang kita peroleh dalam hidup sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
435


Bagikan

10 Juli 2010

Memiliki Semangat Hidup Hemat



Pada suatu musim panas mentari tampak cerah, langit biru, bunga-bunga indah berrnekaran, buah-buahan banyak yang masak dan lezat rasanya. Belalang sangat gembira menikmati musim panas itu. Tiap hari ia bernyanyi, bermain dan bersenang-senang.

Dia bertanya kepada semut, "Mengapa engkau tidak ikut bersenang-senang bersamaku? Mumpung cuaca cerah dan indah, mari kita bersenang-senang." Tetapi semut itu berpikir sebaliknya. Dia sibuk menyimpan makanan untuk musim dingin yang akan segera tiba. Dia bekerja tanpa kenal lelah. Belalang berpikir bahwa semut memang terlalu tolol, sehingga dia tidak lagi mengajaknya bermain-main. Ia bermain sendirian.

Musim dingin pun tiba. Hawa dingin sangat menyengat dan salju turun di mana-mana. Belalang tersiksa. Ke mana pun mencari makanan dia tidak menemukan. Akhirnya dia datang kepada semut. Dia memohon, "Sahabatku, tolong bagi makananmu kepadaku. Aku sungguh kelaparan."

Tetapi semut berkata, “Maaf, persediaan makananku harus cukup sampai musim dingin usai."

Belalang berkata, "Tetapi engkau mempunyai begitu banyak makanan."

Jawab semut dengan dingin, "Memang, tetapi aku tak berani menanggung risiko kekurangan makanan. Dan karena engkau telah memboroskan waktumu sepanjang musim panas, engkau harus menanggung akibatnya."

Banyak orang memboros-boroskan harta kekayaan yang dimilikinya untuk hal-hal yang tidak begitu berguna. Dulu kita begitu boros menggunakan BBM. Akibatnya, sekarang kita harus hemat BBM. Ada pemadaman listrik secara bergilir. Dulu kita tidak perlu mengeluh, karena kita punya banyak minyak bumi. Tetapi beberapa waktu lalu kita mengeluh tentang harga BBM yang dinaikkan pihak pemerintah.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena kita hanya berpikir tentang kebutuhan kita saat ini. Kebutuhan hari esok nanti dicari. Benarkah sistem seperti ini kita gunakan untuk kemajuan diri kita? Dari kisah di atas tampak bahwa hemat dan kerja keras akan lebih menguntungkan bagi masa depan hidup kita. Orang yang mau bekerja keras dan hemat akan menikmati hidup yang lebih aman dan bahagia.

Karena itu, dalam hidup ini kita mesti hati-hati dalam menggunakan apa yang kita miliki. Yang kita miliki itu bukan hanya untuk kebutuhan satu hari. Tetapi juga menjadi kebutuhan hidup kita di hari-hari mendatang. Untuk itu, kita perlu memiliki semangat menabung. Tujuannya untuk kesejahteraan kita di masa yang akan datang. Orang yang berani bersusah-susah dalam hidupnya akan menuai hasil yang melimpah. Hidupnya akan aman di hari yang akan datang.

Mari kita budayakan semangat hidup hemat. Meski berbagai tawaran menggiurkan datang kepada kita, kita mesti berani mengatakan tidak. Kita ingin hidup hemat demi masa depan kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.125

Berjalan dalam Kebenaran

Suatu hari seorang bapak menemui seorang anaknya yang tidak lulus dalam ujian. Anaknya itu sedang ketakutan. Tetapi ia siap untuk dimarahi oleh ayahnya. Ia menerima kenyataan bahwa dalam ujian nasional yang lalu ia tidak bisa berbuat banyak. Segala cara sudah ia tempuh, tetapi ia belum berhasil juga. Satu hal yang tetap dipertahankan oleh anak itu adalah ia tidak mau tergoda oleh bocoran jawaban soal-soal yang marak terjadi di sekolahnya.

Ia ingin berhasil melalui kerja kerasnya. Ia tidak ingin terjebak dalam ketidakjujuran. Karena itu, ia siap bertanggungjawab atas apa yang sudah dilakukannya. Ketika ayahnya datang menemuinya, ia mau menghadapinya. Satu hal yang tidak pernah dibayangkannya adalah sang ayah tidak memarahinya. Ayahnya mampu menerima kenyataan itu.

Ayahnya berkata, “Nak, tidak lulus tidak apa-apa. Ayah tahu kamu mengerjakannya dengan jujur. Itulah yang diajarkan oleh ayah sejak kamu masih kecil. Ayah bangga, kamu punya sikap yang jujur.”

Anak itu menangis terharu. Hukuman yang sebenarnya ia nanti-nantikan itu tidak terjadi. Ia bangga memiliki seorang ayah yang mampu menghargai usaha anaknya. Seorang ayah yang selalu memberi kesempatan kepada anaknya untuk mencoba dan mencoba lagi.

Banyak orang bangga akan hasil yang dicapai melalui jalan yang tidak benar. Banyak anak sekolah yang bangga mendapatkan nilai yang tinggi dengan jalan nyontek atau ngepek. Sebenarnya di balik kebanggaan itu tersembunyi sesuatu yang memalukan. Sepertinya banyak orang tidak punya rasa malu lagi terhadap ketidakjujuran yang mereka lakukan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kejujuran itu di atas segala-galanya. Orang boleh saja tergoda oleh kemudahan-kemudaan hidup. Tetapi orang mesti tetap bertahan dalam kejujuran. Orang mesti mengambil jalan yang baik dalam usaha meraih sukses dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita mesti memupuk nilai-nilai kebaikan dalam hidup kita. Kita mesti tetap memperjuangkan nilai-nilai kejujuran dalam hidup kita. Mengapa? Karena jalan kejujuran itu membahagiakan orang. Orang tidak hidup di bawah bayang-bayang ketakutan akan terbongkarnya ketidakjujuran mereka.

Karena itu, kita mesti tetap belajar untuk hidup jujur meskipun banyak godaan datang menghadang kita. Yakinlah, orang yang berani jujur dalam segala hal akan menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini. Mari kita mohon bantuan Tuhan, agar Tuhan memberi jalan kebaikan dan kejujuran kepada kita. Dengan demikian, sukacita dan damai menjadi bagian dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


434

Bagikan

09 Juli 2010

Pribadi di Balik Jasad yang Masih Utuh

Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ

Romo Kanjeng yang Terberkati

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis terakhir dan aku telah memelihara iman” (II Tim 4:7).

Kutipan di atas tertulis di batu nisan makam Mgr. Hermelink Gentiaras, SCJ. Sampai meninggalnya, ketika masih dibaringkan di gereja Pringsewu, banyak orang datang melayat dan berdoa. Ada yang berdoa rosario, ada pula yang bernyanyi terbangan dengan doa-doa dari umat muslim. Sewaktu hendak dimakamkan, lonceng gereja dibunyikan, serentak pula hampir semua umat menangis mengenang pribadi yang rendah hati dan memperhatikan umatnya ini.

A. Hermelink, SCJ datang ke Indonesia sebagai misionaris pada tahun 1926. Sebagai misionaris, ia menerima situasi dan daerah yang baru meski itu butuh penyesuaian yang tinggi. “Terima kasih atas surat yang dikirimkan kepada saya. Inilah tanda kasih dari anggota keluarga di mana kita hidup bersama. Syukur atas kenangan indah ketika kita di seminari tinggi. Boleh dikatakan, kita hidup di sini mulai dengan kehidupan baru di dunia yang baru, dan kita akan ikut di dalam kehidupan baru ini,” tulisnya dalam suratnya yang tertanggal 16 Agustus 1927.

Dan di saat sendiri sebagai misionaris, ia merindukan hidup bersama dalam komunitas. Dalam situasi yang demikian, komunitas bukanlah soal jumlah orang yang hidup di satu rumah, tetapi kontak hati, rasa kebersamaan, meski hidup berjauhan. “Saudara yang baik, terima kasih atas suratnya. Adalah hal yang baik di mana dengan ini kita dapat mengenang masa lalu saat kita hidup bersama. Yang selalu menjadi kenangan adalah saat kita di Seminari Agung,” tulisnya dalam surat yang sama.

Pada tahun 1961, A. Hermelink ditahbiskan menjadi uskup di Roma. Selama menjadi uskup Tanjungkarang, ia tinggal di Pringsewu sampai akhir hayatnya. “Romo Kanjeng itu semestinya jadi beato,” komentar Ibu Patricia Sunarmi yang mengenal Mgr. Hermelink sejak tahun 1970.

Umat di Pringsewu memanggil uskupnya dengan sebutan ‘Romo Kanjeng’. Hampir setiap sore ia mengunjungi orang sakit di rumah sakit yang terletak di depan pastoran. Ia berdoa bagi orang yang sakit, baik yang Katolik maupun yang Muslim atau Budha. Anehnya, tidak seorangpun yang pernah menolaknya. Semua orang menerimanya. Sunguh, ia mewujudkan kasih dan perhatian tanpa pandang bulu.

Karena kesungguhan menjiwai kasih Kristus, di hadapannya tidak ada orang jahat. Suatu ketika ia membantu orang-orang miskin mencari tanah untuk tempat tinggal. Ada banyak janda dan anak sekolah tidak mempunyai tempat tinggal. Melalui bantuannya, tanah menjadi murah dan banyak orang mendapatkan tempat tinggal. Tetapi ada orang yang memanfaatan kebaikan itu untuk keuntungan diri. Setelahnya orang itu menjualnya dengan harga yang sangat mahal. “O, niku mboten saged, mboten sae” (O, itu tidak bisa, tidak baik). “Dia melakukan seperti itu karena ia tidak tahu ia menyakiti orang,” komentar Romo Kanjeng setelah mengetahuinya dengan tanpa dendam.

Begitu pun saat anak didiknya mbalelo (berkhianat). Ia tak pernah memarahinya. Waktu itu ia membantu anak-anak untuk sekolah. Bahkan 80 siswa-siswi di antaranya adalah non Katolik. Ada yang sejak kecil disekolahkan, namun sesudah selesai dan bekerja pindah agama. Tentang anak itu Romo Kanjeng berkomentar, “Nggak apa-apa.” Ia sungguh menghargai kebebasan orang lain, namun juga menunjukkan cinta yang ikhlas, tak menuntut balas, bahkan mungkin berakibat menyakitkan.

Meskipun sudah menjadi uskup, lampu senternya selalu menyala setiap malam. Ia selalu keluar malam untuk kunjungan, meski hanya sebentar. Ia tak mau dikawal. Ketika masuk ke rumah umatnya yang sederhana-miskin, ia langsung bertanya, “Sudah menanak nasi atau belum? Apakah anak-anak sudah makan?” Kemudian ia mengajak berdoa bersama dengan keluarga yang ada di rumah, lalu memberkati mereka.

Kehadirannya bagaikan Bunda Maria saat mengunjungi Elisabeth saudarinya. Elisabeth merasa dikunjungi oleh orang yang diberkati Tuhan. Demikian pun umat di Pringsewu saat menerima kunjungan Romo Kanjengnya ini. “Berkatnya benar-benar merasuk, seperti Tuhan Yesus. Sepertinya ia adalah orang yang diberkati,” kenang Bapak dan Ibu Raharjo yang dulu sering dikunjungi oleh Romo Kanjeng.

Bapak dan Ibu Raharjo yang kini tinggal di seberang tembok makam Romo Kanjeng mempunyai pengalaman sendiri. Saat itu anak pertama mereka sakit keras selama lima tahun. Dokter di Rumah Sakit Pringsewu sudah angkat tangan. Kata dokter, “Kalau sembuh, anak ini tidak bisa sembuh sempurna.” Bapak dan Ibu Raharjo bingung, harus berobat ke mana untuk anak mereka. Saat bingung ini, Romo Kanjeng mengunjungi rumah mereka. Menghadapi keadaan tersebut, Romo Kanjeng berkata, “Selama anak ini masih hidup, kita perlu mengusahakannya. Jangan percaya takhayul, apalagi pergi ke dukun. Usaha ibu sampai mentok, namun Tuhan yang menentukan. Yakinlah anak ibu sembuh.”

Karena Bapak dan Ibu Raharjo tidak memiliki uang, Romo Kanjeng memberi 5.000 rupiah untuk bekal berobat ke Jakarta. Ternyata, anak itu sembuh, bahkan sembuh sempurna. Sekolahnya pun pintar. Berdasarkan pengalaman tersebut, sekarang ini Ibu Raharjo yakin bahwa Romo Kanjeng ada di surga sekarang. Karena itu, sampai sekarang, bila mendapatkan kesulitan hidup, mereka berdoa melalui perantaraan Romo Kanjeng di makamnya.

Setiap hari Jumat sore pukul 16.00 WIB, Romo Kanjeng keliling untuk misa lingkungan. Sebelum misa, ia selalu mengumpulkan anak-anak di halaman rumah. Ia sayang dengan anak-anak. Ketika ada anak salaman dengan Romo Kanjeng, ada ibu bilang, “Kalau salaman pakai tangan manis (kanan)!” Sahut Romo Kanjeng, “Tuhan memberi sama indahnya tangan kanan dan kiri. Mengapa harus salaman dengan tangan kanan?” Ada lagu yang sering diajarkan untuk anak-anak yang sampai saat ini masih ada dalam ingatan umat di Pringsewu:

Ayah ibu saudara, kami cinta


Teman dan orang lain, kami cinta

Kami saling membantu, karna cinta

Di dalam apa saja, kami cinta


Setiap akan Misa Kudus, Romo Kanjeng selalu berdiri di depan pintu masuk gereja. Mendekati misa dimulai, sepertinya mengabsen umatnya. Ia hafal betul umatnya, bahkan namanya. Kalau tidak kelihatan di gereja, ia mendatanginya di malam hari. “Mengapa kemarin tidak ke gereja?” Setelah misa selesai, ia cepat-cepat keluar lalu berdiri di pintu keluar, menyalami umatnya. Saat memimpin Ekaristi dan petugas koornya jelek, ia langsung berkomentar. “Apakah ini suara tikus?” kritiknya dengan nada halus. Tetapi kalau koornya bagus, sebelum misa selesai ia mengumumkan, “Setelah misa ini, petugas diundang ke pastoran.” Semua umat sudah tahu bahwa Romo Kanjeng akan menjamu petugas dengan memberi minum, snack, atau permen di pastoran. Dengan itu ia memperhatikan hal-hal kecil, mengingat kemanusiaan, dan menghagai karya orang lain.

Ketika musim kemarau, banyak umat mengeluh kepada Romo Kanjeng, “Oh, Romo panas, Romo.” Romo Kanjeng pun menjawab, “Besok ke gereja ya, minta hujan.” Dan esoknya pun hujan. Setiap Malam Paskah, ia memberkati tong-tong air. Air itu air suci karena telah diberkati. Bila ada anggota keluarga yang panas badannya, air itu bisa digunakan untuk kompres, dan air itu cukup disimpan di rumah sebagai tanda bahwa dengan adanya air itu, rumah menjadi terberkati. Dari cara menggembalakan umat seperti ini, Romo Kanjeng hendak menanamkan dalam diri umat bahwa orang katolik bukanlah orang yang hanya terbatas pada baptisan. Lebih dari itu, orang kristiani perlu bertekun dalam ajaran. Diharapkan umat dapat mengimani Yesus meski secara sederhana. **

Sumber: buku Nabi-nabi Cinta Kasih


Dipindahkan, Jasad Romo Masih Utuh

Rabu, 07 Juli 2010 00:46


PRINGSEWU-Makam Romo MRG Albertus Hermelink Gentiaras SCJ yang merupakan romo pertama yang berasala dari Belanda di Pringsewu dipindahkan. Uniknya, saat dipindahkan jasad Romo MGR Albertus tersebut masih terlihat utuh. Padalah, jasad itu telah dimakamkan selama 27 tahun lalu. Menurut penuturan Romo Polikarpus Gunawan SCJ, pemindahan makam ini merupakan sebagai wujud rasa memiliki tokoh gereja pertama dan masyarakat Pringsewu yang merupakan pewaris nilai-nilai kemanusiaan.

“Pemindahan makam ini bertujuan untuk mengenang tokoh geraja pertama yang berasal dari Belanda. Ini sebagai wujud rasa penghormatan atas nilai–nilai kemanusiaan yang tinggi,” kata Romo Polikaspus Gunawan SCJ, kemarin.

Selain itu, katanya lagi, dalam sejarahnya Romo MRG Albertus Hermelink Gentiaras SCJ merupakan sahabat dekatnya tokoh Islam yang ada di Pringsewu yakni KH Kholib dengan nama akrabnya Romo Kanjeng sejak tahun 1934 di Lampung, tepatnya di Pringsewu.

“Mgr Albertus Hermelink Gentiaras SCJ yang akrab di panggil Romo kanjeng merupakan teman dekat tokoh Islam di Pringsewu Kh Kholib yang datang sejak tahun 1934 lalu sebagai romo pertama di Lampung tepatnya di Pringsewu,” ungkapnya.

Setelah itu, pada tahun 1961 Romo Kanjeng diangkat menjadi uskup (pimpinan gereja) oleh Sri Paus Yohanes ke 23 dan dalam tingkatannya naik dari seorang pastur menjadi seorang uskup. “Dalam perajalannya Romo kanjeng diangkat menjai uskup (pimpinan gereja) pada tahun 1961 oleh Sri Paus Yohanes ke-23,” ucapnya sambil melanjutkan Romo Polikarpus Gunawan SCJ, Romo kanjeng wafat pada tanggal 25-02-1983 di Jakarta dan pada tanggal 6–7-2010 dipindahkan ke Pringsewu. Hingga saat ini berarti sudah 27 tahun wafat. Namun, tubuh Romo Kanjeng masih utuh dan hanya nampak coklat dan kurus saja. “Setelah 27 wafat Romo Kanjeng dipindahkan dan anehnya seluruh tubuh masih utuh, baik kulit maupun dagingnya dan wajahnya masih bisa dikenali,” bebernya.

Kesempatan itu, Romo Polikarpus Gunawan SCJ berharap dengan pemindahan ini bisa menjadi inspirasi kepada seluruh umat dan masyarakat bahwa kerukunan umat beragama yang digambarkan oleh Romo Kanjeng perlu dijaga sehingga semua umat beragama bisa rukun tanpa adanya permusuhan. (cr5)

http://rakyatlampung.co.id/web/kabupaten/4493-dipindahkan-jasad-romo-masih-utuh.html

Bagikan

Tuhan adalah Andalan Hidup

Suatu hari seorang ibu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan batinnya. Ia tampak gelisah. Ia tidak tenang. Ia berjalan ke sana ke mari tidak tahu tujuan. Dalam kondisi seperti itu, ia berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Ia berdoa, agar Tuhan menjauhkan dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkannya. Ia ingin mengalami suasana sukacita dan damai.

Tetapi rupanya doanya tidak manjur. Beberapa waktu kemudian ia mengalami goncangan jiwa yang sangat hebat. Ia bingung. Ia tidak tahu sama sekali penyebabnya. Dalam keadaan demikian, ia tergoda untuk lari dari Tuhan. Ia ingin mencari ketenangan pada hal-hal gaib lainnya. Tetapi hatinya tetap bertahan. Ia tetap berdoa kepada Tuhan. Ia tidak mau menyerah begitu saja pada situasi dirinya. Ia justru menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Dengan cara seperti itu, ia mampu bertahan. Ia cuma bingung. Tetapi ia tidak menjadi stress. Ia mengalami sukacita dan damai. Karena itu, ia mengucap syukur kepada Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan telah memberikan keteguhan iman kepadaNya. Tuhan tidak meninggalkannya. Tuhan memiliki belas kasihan yang begitu besar kepadanya. Tuhan mau menyertainya.

Banyak orang tidak tahan ketika situasi membingungkan menghadang mereka. Iman mereka mudah goyah. Mereka mudah tergoda oleh berbagai tawaran yang semu. Mereka tidak tahu akibat yang lebih besar akan terjadi atas diri mereka. Ketika terlanjur terperosok ke dalam kegelapan hidup, baru mereka sadar bahwa tindakan mereka itu salah.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa bertahan dalam iman akan Tuhan itu membawa kebahagiaan bagi hidup ini. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu akan melindungi manusia yang sedang mengalami kebingungan dan menderita. Mengapa? Karena Tuhan tidak mau melihat orang menderita. Tuhan tidak ingin manusia menjadi korban dari sebuah kuasa jahat, menjadi takut dalam kehidupan dan menjadi ancaman bagi sesamanya. Dalam kondisi bingung dan menderita, Tuhan akan bertindak dan berbuat sesuatu.

Yang dibutuhkan dari manusia adalah sikap penyerahan diri yang utuh kepada Tuhan. Artinya, orang berani mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang berani mengatakan bahwa Tuhan adalah segalanya dalam hidupnya. Tentu saja hal seperti ini tidak mudah. Ada berbagai godaan yang bisa mengubah pandangan manusia tentang Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk selalu membiarkan Tuhan hidup dan berkarya di dalam diri kita. Tuhan mesti menjadi andalan hidup orang beriman. Karena itu, orang beriman mesti memiliki sikap iman yang teguh kepada Tuhan. Suatu sikap yang menampakkan penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan. Mari kita berusaha terus-menerus untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup di dalam Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
433


Bagikan