Pages

09 Juli 2010

Pribadi di Balik Jasad yang Masih Utuh

Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras SCJ

Romo Kanjeng yang Terberkati

Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis terakhir dan aku telah memelihara iman” (II Tim 4:7).

Kutipan di atas tertulis di batu nisan makam Mgr. Hermelink Gentiaras, SCJ. Sampai meninggalnya, ketika masih dibaringkan di gereja Pringsewu, banyak orang datang melayat dan berdoa. Ada yang berdoa rosario, ada pula yang bernyanyi terbangan dengan doa-doa dari umat muslim. Sewaktu hendak dimakamkan, lonceng gereja dibunyikan, serentak pula hampir semua umat menangis mengenang pribadi yang rendah hati dan memperhatikan umatnya ini.

A. Hermelink, SCJ datang ke Indonesia sebagai misionaris pada tahun 1926. Sebagai misionaris, ia menerima situasi dan daerah yang baru meski itu butuh penyesuaian yang tinggi. “Terima kasih atas surat yang dikirimkan kepada saya. Inilah tanda kasih dari anggota keluarga di mana kita hidup bersama. Syukur atas kenangan indah ketika kita di seminari tinggi. Boleh dikatakan, kita hidup di sini mulai dengan kehidupan baru di dunia yang baru, dan kita akan ikut di dalam kehidupan baru ini,” tulisnya dalam suratnya yang tertanggal 16 Agustus 1927.

Dan di saat sendiri sebagai misionaris, ia merindukan hidup bersama dalam komunitas. Dalam situasi yang demikian, komunitas bukanlah soal jumlah orang yang hidup di satu rumah, tetapi kontak hati, rasa kebersamaan, meski hidup berjauhan. “Saudara yang baik, terima kasih atas suratnya. Adalah hal yang baik di mana dengan ini kita dapat mengenang masa lalu saat kita hidup bersama. Yang selalu menjadi kenangan adalah saat kita di Seminari Agung,” tulisnya dalam surat yang sama.

Pada tahun 1961, A. Hermelink ditahbiskan menjadi uskup di Roma. Selama menjadi uskup Tanjungkarang, ia tinggal di Pringsewu sampai akhir hayatnya. “Romo Kanjeng itu semestinya jadi beato,” komentar Ibu Patricia Sunarmi yang mengenal Mgr. Hermelink sejak tahun 1970.

Umat di Pringsewu memanggil uskupnya dengan sebutan ‘Romo Kanjeng’. Hampir setiap sore ia mengunjungi orang sakit di rumah sakit yang terletak di depan pastoran. Ia berdoa bagi orang yang sakit, baik yang Katolik maupun yang Muslim atau Budha. Anehnya, tidak seorangpun yang pernah menolaknya. Semua orang menerimanya. Sunguh, ia mewujudkan kasih dan perhatian tanpa pandang bulu.

Karena kesungguhan menjiwai kasih Kristus, di hadapannya tidak ada orang jahat. Suatu ketika ia membantu orang-orang miskin mencari tanah untuk tempat tinggal. Ada banyak janda dan anak sekolah tidak mempunyai tempat tinggal. Melalui bantuannya, tanah menjadi murah dan banyak orang mendapatkan tempat tinggal. Tetapi ada orang yang memanfaatan kebaikan itu untuk keuntungan diri. Setelahnya orang itu menjualnya dengan harga yang sangat mahal. “O, niku mboten saged, mboten sae” (O, itu tidak bisa, tidak baik). “Dia melakukan seperti itu karena ia tidak tahu ia menyakiti orang,” komentar Romo Kanjeng setelah mengetahuinya dengan tanpa dendam.

Begitu pun saat anak didiknya mbalelo (berkhianat). Ia tak pernah memarahinya. Waktu itu ia membantu anak-anak untuk sekolah. Bahkan 80 siswa-siswi di antaranya adalah non Katolik. Ada yang sejak kecil disekolahkan, namun sesudah selesai dan bekerja pindah agama. Tentang anak itu Romo Kanjeng berkomentar, “Nggak apa-apa.” Ia sungguh menghargai kebebasan orang lain, namun juga menunjukkan cinta yang ikhlas, tak menuntut balas, bahkan mungkin berakibat menyakitkan.

Meskipun sudah menjadi uskup, lampu senternya selalu menyala setiap malam. Ia selalu keluar malam untuk kunjungan, meski hanya sebentar. Ia tak mau dikawal. Ketika masuk ke rumah umatnya yang sederhana-miskin, ia langsung bertanya, “Sudah menanak nasi atau belum? Apakah anak-anak sudah makan?” Kemudian ia mengajak berdoa bersama dengan keluarga yang ada di rumah, lalu memberkati mereka.

Kehadirannya bagaikan Bunda Maria saat mengunjungi Elisabeth saudarinya. Elisabeth merasa dikunjungi oleh orang yang diberkati Tuhan. Demikian pun umat di Pringsewu saat menerima kunjungan Romo Kanjengnya ini. “Berkatnya benar-benar merasuk, seperti Tuhan Yesus. Sepertinya ia adalah orang yang diberkati,” kenang Bapak dan Ibu Raharjo yang dulu sering dikunjungi oleh Romo Kanjeng.

Bapak dan Ibu Raharjo yang kini tinggal di seberang tembok makam Romo Kanjeng mempunyai pengalaman sendiri. Saat itu anak pertama mereka sakit keras selama lima tahun. Dokter di Rumah Sakit Pringsewu sudah angkat tangan. Kata dokter, “Kalau sembuh, anak ini tidak bisa sembuh sempurna.” Bapak dan Ibu Raharjo bingung, harus berobat ke mana untuk anak mereka. Saat bingung ini, Romo Kanjeng mengunjungi rumah mereka. Menghadapi keadaan tersebut, Romo Kanjeng berkata, “Selama anak ini masih hidup, kita perlu mengusahakannya. Jangan percaya takhayul, apalagi pergi ke dukun. Usaha ibu sampai mentok, namun Tuhan yang menentukan. Yakinlah anak ibu sembuh.”

Karena Bapak dan Ibu Raharjo tidak memiliki uang, Romo Kanjeng memberi 5.000 rupiah untuk bekal berobat ke Jakarta. Ternyata, anak itu sembuh, bahkan sembuh sempurna. Sekolahnya pun pintar. Berdasarkan pengalaman tersebut, sekarang ini Ibu Raharjo yakin bahwa Romo Kanjeng ada di surga sekarang. Karena itu, sampai sekarang, bila mendapatkan kesulitan hidup, mereka berdoa melalui perantaraan Romo Kanjeng di makamnya.

Setiap hari Jumat sore pukul 16.00 WIB, Romo Kanjeng keliling untuk misa lingkungan. Sebelum misa, ia selalu mengumpulkan anak-anak di halaman rumah. Ia sayang dengan anak-anak. Ketika ada anak salaman dengan Romo Kanjeng, ada ibu bilang, “Kalau salaman pakai tangan manis (kanan)!” Sahut Romo Kanjeng, “Tuhan memberi sama indahnya tangan kanan dan kiri. Mengapa harus salaman dengan tangan kanan?” Ada lagu yang sering diajarkan untuk anak-anak yang sampai saat ini masih ada dalam ingatan umat di Pringsewu:

Ayah ibu saudara, kami cinta


Teman dan orang lain, kami cinta

Kami saling membantu, karna cinta

Di dalam apa saja, kami cinta


Setiap akan Misa Kudus, Romo Kanjeng selalu berdiri di depan pintu masuk gereja. Mendekati misa dimulai, sepertinya mengabsen umatnya. Ia hafal betul umatnya, bahkan namanya. Kalau tidak kelihatan di gereja, ia mendatanginya di malam hari. “Mengapa kemarin tidak ke gereja?” Setelah misa selesai, ia cepat-cepat keluar lalu berdiri di pintu keluar, menyalami umatnya. Saat memimpin Ekaristi dan petugas koornya jelek, ia langsung berkomentar. “Apakah ini suara tikus?” kritiknya dengan nada halus. Tetapi kalau koornya bagus, sebelum misa selesai ia mengumumkan, “Setelah misa ini, petugas diundang ke pastoran.” Semua umat sudah tahu bahwa Romo Kanjeng akan menjamu petugas dengan memberi minum, snack, atau permen di pastoran. Dengan itu ia memperhatikan hal-hal kecil, mengingat kemanusiaan, dan menghagai karya orang lain.

Ketika musim kemarau, banyak umat mengeluh kepada Romo Kanjeng, “Oh, Romo panas, Romo.” Romo Kanjeng pun menjawab, “Besok ke gereja ya, minta hujan.” Dan esoknya pun hujan. Setiap Malam Paskah, ia memberkati tong-tong air. Air itu air suci karena telah diberkati. Bila ada anggota keluarga yang panas badannya, air itu bisa digunakan untuk kompres, dan air itu cukup disimpan di rumah sebagai tanda bahwa dengan adanya air itu, rumah menjadi terberkati. Dari cara menggembalakan umat seperti ini, Romo Kanjeng hendak menanamkan dalam diri umat bahwa orang katolik bukanlah orang yang hanya terbatas pada baptisan. Lebih dari itu, orang kristiani perlu bertekun dalam ajaran. Diharapkan umat dapat mengimani Yesus meski secara sederhana. **

Sumber: buku Nabi-nabi Cinta Kasih


Dipindahkan, Jasad Romo Masih Utuh

Rabu, 07 Juli 2010 00:46


PRINGSEWU-Makam Romo MRG Albertus Hermelink Gentiaras SCJ yang merupakan romo pertama yang berasala dari Belanda di Pringsewu dipindahkan. Uniknya, saat dipindahkan jasad Romo MGR Albertus tersebut masih terlihat utuh. Padalah, jasad itu telah dimakamkan selama 27 tahun lalu. Menurut penuturan Romo Polikarpus Gunawan SCJ, pemindahan makam ini merupakan sebagai wujud rasa memiliki tokoh gereja pertama dan masyarakat Pringsewu yang merupakan pewaris nilai-nilai kemanusiaan.

“Pemindahan makam ini bertujuan untuk mengenang tokoh geraja pertama yang berasal dari Belanda. Ini sebagai wujud rasa penghormatan atas nilai–nilai kemanusiaan yang tinggi,” kata Romo Polikaspus Gunawan SCJ, kemarin.

Selain itu, katanya lagi, dalam sejarahnya Romo MRG Albertus Hermelink Gentiaras SCJ merupakan sahabat dekatnya tokoh Islam yang ada di Pringsewu yakni KH Kholib dengan nama akrabnya Romo Kanjeng sejak tahun 1934 di Lampung, tepatnya di Pringsewu.

“Mgr Albertus Hermelink Gentiaras SCJ yang akrab di panggil Romo kanjeng merupakan teman dekat tokoh Islam di Pringsewu Kh Kholib yang datang sejak tahun 1934 lalu sebagai romo pertama di Lampung tepatnya di Pringsewu,” ungkapnya.

Setelah itu, pada tahun 1961 Romo Kanjeng diangkat menjadi uskup (pimpinan gereja) oleh Sri Paus Yohanes ke 23 dan dalam tingkatannya naik dari seorang pastur menjadi seorang uskup. “Dalam perajalannya Romo kanjeng diangkat menjai uskup (pimpinan gereja) pada tahun 1961 oleh Sri Paus Yohanes ke-23,” ucapnya sambil melanjutkan Romo Polikarpus Gunawan SCJ, Romo kanjeng wafat pada tanggal 25-02-1983 di Jakarta dan pada tanggal 6–7-2010 dipindahkan ke Pringsewu. Hingga saat ini berarti sudah 27 tahun wafat. Namun, tubuh Romo Kanjeng masih utuh dan hanya nampak coklat dan kurus saja. “Setelah 27 wafat Romo Kanjeng dipindahkan dan anehnya seluruh tubuh masih utuh, baik kulit maupun dagingnya dan wajahnya masih bisa dikenali,” bebernya.

Kesempatan itu, Romo Polikarpus Gunawan SCJ berharap dengan pemindahan ini bisa menjadi inspirasi kepada seluruh umat dan masyarakat bahwa kerukunan umat beragama yang digambarkan oleh Romo Kanjeng perlu dijaga sehingga semua umat beragama bisa rukun tanpa adanya permusuhan. (cr5)

http://rakyatlampung.co.id/web/kabupaten/4493-dipindahkan-jasad-romo-masih-utuh.html

Bagikan

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.