Pages

05 Oktober 2011

Mampu Menangkap Tanda-tanda Zaman



Ada seorang pemuda yang sangat peduli terhadap sesamanya. Ia menjadi sukarelawan untuk mengajar anak-anak usia sekolah di kampungnya. Di kampung itu tidak ada sekolah. Ia membuka ruang tamu rumahnya yang kecil itu menjadi sekolah. Namun tidak ada guru yang mau mengajar anak-anak itu. Padahal anak-anak itu sudah saatnya untuk menempuh pendidikan dasar. Pemuda itu prihatin. Ia tidak tega melihat anak-anak itu tumbuh tanpa pendidikan yang baik.

Selain tidak ada guru yang mau mengajar, kendala lain adalah ia sendiri tidak lulus Sekolah Dasar. Ia putus sekolah saat duduk di kelas empat SD. Hal ini menjadi salah satu penghalang bagi dirinya. Namun pemuda itu tetap punya tekad baja. Ia tidak mau menyerah. Ia mulai belajar sendiri matapelajaran-matapelajaran dasar. Ia juga mencari buku-buku untuk menjadi bahan bacaan baginya.

Setelah pemuda itu merasa mampu mengajar, ia mengumpulkan anak-anak usia sekolah itu di rumahnya. Ia mulai mengajar mereka. Ia memanfaatkan kemampuan yang ada pada dirinya untuk mengajar anak-anak itu. Ruang tamu rumahnya itu ia sulap menjadi sebuah kelas. Meski sempit, anak-anak usia sekolah itu tampak sangat bersemangat. Mereka boleh mendapatkan pendidikan dalam masa pertumbuhan mereka.

Suatu hari, kepala kampung berkunjung ke rumah pemuda itu. Ia kagum terhadap ide yang dikerjakan oleh pemuda itu. ”Apa yang mendorong Anda melakuan semua ini?” tanya kepala kampung itu

”Saya kasihan melihat anak-anak di kampung ini tidak bersekolah. Mereka mesti mendapatkan pendidikan yang memadai. Mereka tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan,” kata pemuda itu.

Sahabat, masih banyak anak negeri ini yang belum mendapatkan pendidikan yang baik. Keterbelakangan menjadi salah satu sebab terjadinya hal seperti ini. Namun ada hal lain yang menjadi penyebab, yaitu kerelaan dari sesama untuk membantu anak-anak negeri ini mendapatkan pendidikan.

Kisah kerelaan pemuda di atas menjadi salah satu contoh betapa kerelaan berkorban menjadi salah satu daya dorong dalam memulai suatu tindakan. Orang tidak hanya prihatin terhadap situasi yang ada. Tetapi orang berani menyerahkan diri untuk membantu sesamanya. Orang berani mempertaruhkan hidupnya untuk sesamanya.

Inilah yang disebut dengan cinta. Cinta menuntut korban. Cinta menuntut orang mampu membaca tanda-tanda zaman. Pemuda dalam kisah di atas mampu membaca tanda-tanda zaman. Ia mencintai anak-anak di kampungnya. Ia ingin agar masa depan mereka punya tujuan dan arah. Tidak hanya berhenti di kampung terbelakang. Tidak hanya digerus oleh kemiskinan.

Ia tidak ingin anak-anak itu tumbuh seperti dirinya yang tidak punya pendidikan yang baik. Karena itu, ia berani mengorbakan dirinya. Dalam keterbatasannya, ia menjadi sahabat bagi mereka. Ia menemani perjalanan anak-anak itu meraih masa depan yang lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mampu membaca tanda-tanda zaman. Artinya, kita mesti mampu menemukan kebutuhan-kebutuhan sesama yang ada di sekitar kita. Kita berusaha memenuhi kebutuhan sesama itu dengan rela berkorban dengan penuh kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


797

04 Oktober 2011

Berkorban Tanpa Pamrih



Suatu hari saya harus menjemput seorang teman di bandara. Ia datang pada siang hari. Namun ia mengalami penundaan penerbangan. Lama saya harus menunggu teman saya itu. Waktu menunggu itu saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitar bandara. Saya juga mampir di kafe untuk minum dan makan. Lama saya duduk di sana. Pesawat tidak datang-datang juga. Akhirnya saya putuskan untuk pulang. Soalnya, saya ada acara pada malam harinya.

Di tengah perjalanan, teman saya itu menelpon bahwa dia sudah mendarat. Ia minta saya untuk menjemputnya. Pasalnya, baru pertama kali itu ia ke Kota Palembang. Ia takut tersesat. Ia takut nyasar. Ia juga mengatakan bahwa ia belum makan sejak pagi. Jadi ia ingin mampir ke rumah makan untuk makan.

Saya langsung balik kanan. Saya kembali ke bandara. Saya mesti menjemput teman saya itu. Saya tidak ingin mengecewakan teman saya itu. Apalagi sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Itulah saatnya kami saling bertemu untuk bercerita tentang pengalaman kami masing-masing.

Sampai di bandara, teman saya itu sudah keluar ke pelataran bandara. Ia mencari-cari saya. Ia tampak agak cemas. Tiba-tiba saya muncul dari belakang. Saya menepuk punggungnya. Ia sangat terkejut. Lantas begitu melihat saya, ia langsung memeluk saya. Ia sangat bergembira. Ia tidak perlu cemas lagi. Ia telah menemukan sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa. Kegembiraan menjadi bagian dari hidupnya malam itu. Ia menemukan bahwa hidup ini semakin bermakna, ketika ada orang yang mau berkorban untuknya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang banyak perhitungan. Orang berhitung tentang berapa jumlah uang yang mesti mereka peroleh dari suatu pekerjaan. Orang berhitung tentang keuntungan yang mereka peroleh setelah membantu sesamanya. Orang ingin agar apa yang dikorbankannya memperoleh kembali gantinya.

Tentu saja situasi seperti ini sering membuat relasi antarsesama menjadi renggang. Orang terlalu memperhitungkan korban yang telah dikeluarkannya. Orang memiliki pamrih yang begitu besar terhadap sesamanya.

Pertanyaannya, sejauh mana peranan iman dalam kehidupan sehari-hari? Apakah iman hanya berperan untuk diri sendiri? Bukankah iman mesti hidup dalam kehidupan yang nyata dengan berani berkorban tanpa pamrih?

Sebagai orang beriman, kita mesti berani mengorbankan hidup kita bagi kebahagiaan sesama. Korban itu mesti dilakukan tanpa pamrih. Hanya dengan cara ini, kita dapat membahagiakan sesama. Kita yang berani berkorban itu pun akan menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Orang yang berkorban secara semu akan menemukan hidup ini menjemukan. Hidup ini kurang bermakna. Hidup ini tidak membahagiakan. Hidup ini tidak indah bagi dirinya. Orang seperti ini akan mudah frustrasi dan stress. Mengapa? Karena orang tidak menemukan makna yang terdalam dari hidup ini. Mari kita berani mengorbakan hidup kita bagi kebahagiaan sesama tanpa menghitung untung atau rugi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


796

Memberi Kepercayaan pada Sesama



Suatu hari saya pulang ke kota asal saya, Maumere, Flores. Dari Denpasar, saya naik pesawat menuju Maumere. Selama dua jam lebih pesawat menjelajah udara kepulauan Sunda kecil menuju timur. Sore itu, udara kurang begitu cerah. Ada awan hitam yang menyelimuti bumi. Pilot mengumumkan bahwa kota Maumere sedang diterpa hujan deras. Namun pilot mengatakan bahwa pesawat akan mendarat dengan mulus. Tidak ada hambatan apa-apa.

Perlahan namun pasti, pilot mengarahkan pesawat menuju landasan. Dari arah laut Flores, pilot tidak bisa langsung menurunkan pesawatnya, karena ada pohon-pohon lontar. Tambahan pula hujan yang masih turun membuat pilot kurang begitu melihat dengan jelas landasan.

Yang dia lakukan adalah mendaratkan pesawat itu begitu saja. Akibatnya, pesawat itu melompat-lompat beberapa kali. Semua penumpang berteriak. Ada yang menundukkan kepala di antara kedua kaki. Ada yang menarik nafas panjang-panjang. Roda pesawat terus bergulir menuju ujung landasan. Makin lama semakin pelan. Pilot berhasil menghentikan pesawat itu sebelum rodanya melewati landasan. Beberapa penumpang memberikan tepuk tangan meriah atas keberhasilan pilot menyelamatkan pesawat dan penumpang.

Sesudah pesawat benar-benar berhenti, pilot keluar dari tempat kemudi. Ia tersenyum kepada para penumpang. Ia mengangkat jempolnya ke arah penumpang. Itu tandanya pesawat dan semua penumpang selamat. ”Terima kasih Anda telah mempercayai saya. Tanpa kepercayaan Anda, saya belum tentu berhasil mendaratkan pesawat ini dalam kondisi jelek seperti ini,” kata pilot itu.

Sahabat, kepercayaan yang kita berikan kepada seseorang akan memacu orang itu untuk melakukan hal-hal yang baik dan besar. Orang mendapatkan tambahan motivasi. Orang mendapatkan dukungan dari sesamanya. Karena itu, kita diajak untuk senantiasa memberikan dukungan kepada sesama kita.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kepercayaan yang diberikan kepada pilot itu sungguh-sungguh bermanfaat. Ia punya tanggung jawab untuk menyelamatkan pesawat dan semua isinya. Selain memang itulah tanggung jawab seorang pilot, tetapi kepercayaan yang diberikan itu menambah semangat dalam dirinya.

Namun orang beriman tidak harus diberi semangat tambahan, ketika melakukan kebaikan bagi sesama. Secara kodrati, orang beriman itu dengan sendirinya melakukan hal-hal baik bagi sesamanya. Mengapa? Karena itulah panggilan hidup manusia. Berbuat baik sebanyak-banyaknya bagi sesamanya. Dengan demikian, sukacita dan damai hadir dalam hidup manusia.

Untuk itu, dibutuhkan kreatifitas dalam menjalani hidup ini. Orang tidak bisa hanya menunggu untuk melakukan sesuatu. Seperti pilot yang menyelamatkan para penumpang itu. Dia tentu tidak hanya mengikuti arus saja. Tetapi dia butuh kreatifitas untuk mendaratkan pesawat dengan baik dan benar.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk menaruh harapan pada Tuhan. Dengan demikian, kita dapat menemukan damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


795

02 Oktober 2011

Menumbuhkan Kecermatan dalam Hidup


Akhir tahun 1999 yang lalu saya berada di kota Timika, Papua. Suatu sore, di tempat saya tinggal didatangi seorang pilot asal Belanda. Ia sudah fasih berbahasa Indonesia. Istrinya adalah seorang Indonesia asal Solo. Sudah lima tahun ia menerbangkan pesawat-pesawat twin otter milik AMA atau Asociation Mission Aviation.

Sore itu, ia tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju Biak. Bersama pesawatnya, ia sudah berada di ketinggian. Namun dari kejauhan ia melihat awan hitam yang sangat pekat. Ia kembali ke bandara intenasional Moses Kilangin Timika.

“Saya tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Langit sangat gelap. Di depan saya ada begitu banyak gunung yang tinggi. Saya tidak mau ambil resiko. Jadi saya kembali ke Timika,” kata pilot itu.

Pilot itu bisa mengambil keputusan seperti itu, karena ia sudah berpengalaman menerbangkan pesawat-pesawat kecil. Ia tahu daerah mana yang membahayakan dirinya. Ia mengerti betul ada berapa rintangan yang ada di hadapannya. Keputusan yang dia ambil bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri. Tetapi keputusan itu demi keselamatan orang lain, yaitu para penumpang dan orang-orang yang mencintainya.

Pilot itu berani mengalah demi kebaikan. Itulah tindakan heroik yang telah dibuatnya. Tindakan heroik itu bukan hanya berani mengorbankan hidup. Tetapi juga dalam hal-hal yang membawa keselamatan bagi banyak orang.

Sahabat, sering kita menyaksikan ada orang yang bertindak begitu berani. Atau sebenarnya adalah tindakan yang gegabah. Orang mau membuktikan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang sangat sulit. Padahal mereka tidak punya ketrampilan untuk itu. Akibatnya, kecelakaan yang justru mereka alami.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang ingin dipuji. Orang ingin mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Berapa banyak nyawa kaum remaja yang mesti melayang karena kebut-kebutan di jalan?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita tidak boleh gegabah dalam hidup ini. Kita mesti memperhitungkan segala sesuatu yang akan kita lakukan untuk hidup kita. Mengapa? Karena keputusan yang kita ambil untuk melakukan sesuatu itu bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Keputusan itu juga untuk banyak orang lain.

Akibat dari keputusan gegabah yang kita ambil dapat berakibat bagi orang lain. Karena itu, suatu keputusan mesti diambil dengan cara yang secermat-cermatnya. Jangan asal buat keputusan yang hanya untuk menyenangkan diri sendiri.

Kita hidup dalam dunia di mana pujian sangat dikejar oleh manusia. Banyak orang mengejar pujian untuk sesuatu yang sangat sepele. Misalnya, orang berani terjun dari tebing yang tinggi hanya untuk dikatakan ia orang yang hebat dan pemberani. Ini sesuatu yang sepele, namun membahayakan nyawa. Namun orang mau melakukan itu. Bukankah ini suatu kebodohan? Bukankah yang menderita adalah dia sendiri?

Sebagai orang beriman, kita mesti cermat dalam hidup ini. Apa yang kita lakukan itu tidak hanya berakibat pada diri kita sendiri. Tetapi juga berakibat pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



794

01 Oktober 2011

Menumbuhkan Iman agar Menjadi Kokoh


Suatu kali saya bepergian dari kota Milwaukee, Wisconsin, ke Lexington, Kentucky, Amerika Serikat. Pesawat yang saya tumpangi transit di kota Detroit, Michigan. Saya harus naik pesawat yang lain untuk sampai di kota Lexington. Sekitar satu jam saya menunggu pesawat yang akan mengangkut saya dan penumpang lain menuju kota Lexington.

Begitu diumumkan nomor penerbangan yang akan kami gunakan, saya langsung menuju ke pesawat. Melihat pesawatnya, saya heran. Kok kami akan diterbangkan dengan pesawat kecil? Tambahan lagi pesawat tersebut dikendalikann seorang pilot yang masih muda. Tidak ada pramugari atau pramugara yang menyertai penerbangan itu. Begitu semua penumpang masuk, pilot sendiri yang menutup pintu pesawat. Lantas ia membagi-bagikan makanan kecil dan minuman kepada para penumpang yang berjumlah 12 orang. Beberapa saat kemudian, pilot menuju ruang kemudi. Pesawat pun take off.

Selama perjalanan saya berdoa, ”Tuhan, apakah Engkau mau kami semua hilang di belantara Amerika ini? Apa yang Engkau inginkan dari kami?”

Saya menjadi ragu dengan keselamatan kami. Seorang penumpang yang duduk di sebelah saya tahu apa yang saya rasakan. Ia tersenyum memandang saya. ”Anda tidak perlu takut. Pesawat kecil ini sudah terlatih untuk menjelajah daerah ini. Pilotnya masih muda. Tetapi dia sangat berpengalaman. Jadi, tenanglah,” kata orang itu.

Saya tidak begitu percaya dengan kata-katanya. ”Anda boleh saja berkata begitu. Tetapi kalau ada apa-apa dengan pesawat ini, kita akan terjun bebas. Tidak ada yang selamat,” jawab saya.

Penumpang itu tersenyum menyaksikan ketidakpercayaan saya. Setelah setengah jam penerbangan, pesawat kecil itu mendarat dengan mulus. Tidak ada benturan keras di landasan pacu. Ternyata pesawat kecil dan pilot yang masih muda itu bisa dipercaya.

Sahabat, kadang-kadang hati kita kecut menyaksikan sesuatu yang tampaknya tidak punya kekuatan. Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang kecil itu juga punya kekuatan yang besar. Kita cenderung menganggap remeh sesuatu yang kecil itu. Padahal seperti kisah pengalaman tadi, sesuatu yang kecil itu mempunya kekuatan yang luar biasa. Pesawat yang kecil itu ternyata mampu membawa kami sampai tujuan. Tidak ada gangguan apa-apa.

Karena itu, berhadapan dengan sesuatu yang kecil yang tampaknya kurang berarti, kita tidak boleh memvonis begitu saja. Kita mesti beri kesempatan bagi yang kecil dan kurang berdaya untuk bertumbuh. Dengan demikian, yang kecil itu dapat mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Iman yang kita miliki pun awalnya sesuatu yang kecil. Ketika kita pertama kali mengenal Tuhan, mungkin kita kurang begitu yakin bahwa Tuhan mampu menolong kita. Kita ragu-ragu, apakah Tuhan dapat membantu kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita. Namun lama-kelamaan, ketika kita sungguh-sungguh menumbuhkan iman yang kecil itu, kita menjadi orang yang percaya. Kita semakin membangun kesetiaan kepada Tuhan yang kita imani.

Mari kita bangun dan tumbuhkan iman kita yang kecil. Dengan demikian, kita semakin memiliki kesetiaan kepada Tuhan yang kita imani. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

29 September 2011

Mengejar dan Menghidupi Kebaikan


Ada seorang guru bijaksana yang mengajarkan kepada murid-muridnya untuk senantiasa mencari yang baik. Murid-muridnya tidak boleh mengejar yang jahat dalam hidup mereka. Guru itu memberi alasan bahwa hidup dalam kebaikan itu membuahkan hal-hal yang indah. Sukacita akan dialami dalam hidup manusia. Kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup manusia itu bukan hanya dalam angan-angan.

Sedangkan mengejar yang jahat hanya menaruh hidup di ujung bahaya. Hidup orang hanya dipenuhi dengan kebencian, iri hati dan kecenderungan untuk melakukan hal-hal jahat. Pikiran orang yang mengejar kejahatan itu hanya tertuju pada menghancurkan sesamanya.

Guru bijaksana itu berkata kepada murid-muridnya, “Cintailah yang baik. Hiduplah baik dengan semua orang. Yang harus ada dalam diri Anda adalah mengasihi semua orang tanpa memandang siapa mereka.”

Menurut murid-muridnya, ajaran seperti ini tidak gampang. Masih ada begitu banyak kecenderungan dalam diri mereka untuk membenci sesamanya. Mereka masih iri terhadap sesamanya yang melakukan hal-hal yang baik. Tentang hal ini, guru bijaksana itu berkata, “Kalau kamu melihat ada orang yang baik, jangan kamu menaruh iri atau benci. Tetapi kamu harus menerimanya dengan baik. Kamu harus belajar dari orang itu, bagaimana dia bisa melakukan kebaikan bagi sesamanya. Dengan cara itu, kamu mampu melakukan hal-hal yang baik.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang sering ngotot-ngototan. Banyak dari kita yang tidak mau orang lain melebihi kita dalam berbuat baik. Kita cenderung iri hati. Kita cenderung menyisihkan sesama yang melakukan kebaikan itu. Tentu saja hal ini mesti kita buang jauh-jauh. Mengapa? Karena hanya dalam kebaikan itu kita mampu memperjuangkan hidup ini. Hanya dalam suasana kasih dan persaudaraan kita mampu membawa hidup kita dan sesama menuju kebahagiaan.

Kisah pengajaran guru bijaksana tadi menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk senantiasa mengutamakan kebaikan dalam hidup ini. Mencari dan menumbuhkan kebaikan dalam hidup kita lebih beruntung. Kita bebas dari konflik-konflik. Kita tidak perlu menempatkan hidup kita di ujung kebinasaan.

Untuk itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mengejar kebaikan dalam hidup kita. Artinya, dengan hidup dalam kebaikan itu, kita mau agar hidup ini menjadi lebih baik dan menyenangkan. Kita ingin membawa diri kita dan sesama kita menuju kebahagiaan yang menjadi dambaan hidup kita.

Mari kita mengejar kebaikan dalam hidup ini. Dengan demikian, kasih senantiasa tumbuh dan menjadi andalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


792

28 September 2011

Harta Kekayaan Bukan Tujuan Hidup Kita



Dalam masyarakat tradisional sering muncul pikiran-pikiran tahayul ketika seseorang menderita sakit. Orang yang sakit dikatakan sebagai orang yang kerasukan roh jahat. Lalu muncul berbagai kisah tentang roh-roh jahat itu. Misalnya, dikisahkan tentang roh yang bergentayangan. Akibatnya, orang semakin takut. Orang merasa bahwa dirinya selalu dikuasai oleh roh jahat itu.

Pengobatan bagi orang yang dikatakan kerasukan roh jahat itu pun dilakukan secara tradisional. Si sakit dibawa ke dukun yang dikenal ampuh mengusir roh-roh jahat dari diri seseorang. Dengan jampi-jampinya, dukun itu mengobati si sakit. Kadang-kadang si sakit dibentur-benturkan. Hasilnya? Si sakit tetap sakit. Ia tidak sembuh. Bahkan mungkin semakin mengalami penderitaan akibat depresi yang mendalam.

Soalnya adalah pernahkah orang melihat atau bersentuhan dengan roh-roh itu? Tentu saja orang akan mengatakan bahwa roh-roh itu tidakk kelihatan. Namanya saja roh. Tentu saja tidak bisa dilihat apalagi disentuh. Orang yang percaya akan adanya roh-roh itu akan mempertahankan pandangan mereka dengan berbagai argumentasi.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, orang beriman mesti buat apa? Tentu saja orang beriman mesti menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Meskipun Tuhan juga tidak bisa dilihat dan disentuh, namun kasih Tuhan senantiasa hidup. Kasih Tuhan itu dapat dirasakan dalam hidup sehari-hari. Mengapa? Karena hakekat Tuhan adalah mengasihi manusia. Kasih itu menemani perjalanan hidup manusia. Kasih itu menumbuhkan iman yang semakin mendalam kepada Tuhan.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang mengandalkan keduniawian. Banyak orang mencari, mengejar dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Mereka bangun rumah yang besar-besar. Mereka membeli mobil dengan harga yang mahal. Mereka berpikir bahwa dengan begitu mereka akan mengalami kedamaian dalam hidup ini. Akibatnya, harta kekayaan itu yang mereka andalkan. Harta kekayaan itu menjadi roh-roh baru di zaman modern ini. Harta kekayaan itu terus-menerus menghantui diri mereka untuk terus-menerus mengejar dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Tentu saja situasi seperti ini akan mengganggu hidup manusia beriman. Terjadi konflik batin. Manusia mesti bertarung dengan dirinya, apakah mau mengandalkan harta kekayaannya atau mengandalkan Tuhan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa harta kekayaan itu bukan segala-galanya. Harta kekayaan itu sarana untuk mencapai hidup yang bahagia. Harta kekayaan itu benda yang dapat binasa. Ketika orang tidak mengalami kebahagiaan dalam hidup karena harta kekayaan, orang mesti meninggalkannya. Orang mesti berpegang teguh pada imannya akan Tuhan.

Mari kita memperlakukan harta kekayaan bukan sebagai tujuan hidup kita. Kita andalkan Tuhan sebagai tujuann terakhir dari perjalanan hidup kita. Dengan demikian, hidup ini memberi kita kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

791

Berani Berkorban bagi Sesama


Ada seorang pembantu yang baik hati. Ia bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ia mengurus dengan baik rumah majikannya. Ia menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan majikannya. Makanan kesukaan majikannya selalu ia siapkan. Menu makanan yang lain ia selalu sediakan tanpa harus diperintah oleh majikannya.

Majikannya merasa bahwa pembantunya itu telah melakukan hal-hal yang sangat baik. Ia tidak perlu kuatir akan apa yang ia makan atau minum. Kalau ia harus keluar kota, ia tidak perlu kuatir. Semua ia serahkan kepada pembantunya. Ketika ia kembali ke rumahnya, segala sesuatu tetap seperti biasa. Sang pembantu mengatur segala-galanya dengan baik. Bahkan ia seperti sudah hafal semua kebiasaan majikannya.

Suatu hari rumah sang majikan didatangi perampok. Pembantu yang seorang perempuan itu sendirian berada di rumah. Majikannya sedang berada di luar negeri. Melalui kamera cctv, pembantu itu mengamati dua orang perampok mengendap-endap. Lantas mereka membobol salah satu jendela di rumah itu. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan mudah. Pembantu itu tidak gentar menghadapi mereka.

”Saya mesti mempertahankan rumah ini dan segala isinya. Saya tidak boleh menyerah kepada dua perampok ini,” katanya dalam hati.

Apa yang terjadi kemudian? Pembantu itu menghadapi dua perampok yang berbadan tegap itu. Ia mampu menghalau dua perampok itu keluar rumah. Untuk usahanya itu, ia mesti kehilangan satu jari ibunya. Pedang salah satu perampok sempat menyabet jarinya sebelum ia menghalau mereka keluar.

Sahabat, pengorbanan yang berani telah ditampakkan oleh pembantu itu. Ia rela kehilangan ibu jarinya demi kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Ia berani menghadapi resiko yang akan terjadi atas dirinya. Orang yang berani mengorbankan diri bagi sesamanya akan mengalami sukacita dalam hidupnya.

Seorang guru bijaksana mengatakan bahwa seorang gembala yang baik adalah orang yang berani mempertaruhkan nyawanya bagi gembalaannya. Ketika ada serangan terhadap domba-dombanya, ia mesti berani mempertahankan. Ia mesti berani menghalau serangan itu.

Kesetiaan pada tugas merupakan suatu panggilan hidup manusia. Orang yang setia pada tugas-tugasnya akan mendapatkan sukacita berlipat ganda. Hidupnya akan sejahtera. Hidupnya akan dipenuhi dengan kegembiraan. Memang, tidak gampang orang tetap setia pada tugas yang dipercayakan kepadanya. Ada berbagai godaan dan rintangan. Ada berbagai tuntutan yang mesti dijalankan.

”Barangsiapa kehilangan nyawanya karena cintanya yang besar kepada sesamanya, ia akan mengalami sukacita dalam hidup ini,” kata sang guru bijaksana.

Nah, beranikah Anda berkorban untuk sesama Anda? Saya yakin, Anda berani berkorban untuk sesama Anda. Hanya dengan berkorban, Anda akan mengalami hidup ini begitu indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


790

27 September 2011

Pentingnya Motivasi dalam Perjuangan

Ada seorang aktivis kemanusiaan yang rajin mengunjungi mereka yang mengalami penindasan. Biasanya ia mengajak mereka untuk berbicara dari hati ke hati. Kalau ada persoalan yang mereka hadapi, ia akan membantu mereka untuk mencari solusi. Bagi masyarakat yang dikunjungi, kehadiran aktivis itu sungguh-sungguh membantu mereka. Mereka dapat memperjuangkan hak-hak mereka. Mereka tidak perlu takut untuk menyuarakan pendapat mereka.

Aktivis itu pun bekerja dengan sukarela. Ia tidak meminta bayaran atas bantuan-bantuan berupa pendapat-pendapat yang diberikannya. Baginya, ia wajib memberikan pertolongan bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan hidup. Tidak boleh ada orang yang mengalami penindasan dalam hidup ini.

”Bukankah setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama? Setiap orang punya hak untuk mengalami suasana bebas,” katanya.

Karena itu, ia tak henti-hentinya mengkampanyekan persamaan hak. Ia tidak takut ditangkap. Baginya, kalau pihak keamanan menangkap dirinya karena memperjuangkan orang kecil, itu merupakan resiko suatu perjuangan. Ia harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya.

Sahabat, beranikah Anda memperjuangkann hak-hak sesama Anda? Kalau ada sekelompok orang yang hidup di sekitar Anda mengalami penindasan, beranikah Anda datang untuk membantu mereka? Saya yakin, Anda akan mau. Anda akan menghadapi persoalan sesama Anda itu, meskipun akan ada resiko yang terjadi.

Persoalannya, mengapa Anda mau melakukan hal itu? Apa motivasi yang membara dalam diri Anda untuk memperjuangkan hak-hak sesama Anda itu? Nah, motivasi ini yang mesti Anda temukan. Kalau motivasi Anda hanya mau ikut arus saja, saya yakin Anda tidak akan lama memperjuangkan sesama Anda. Ketika ada tantangan yang menghadang, Anda akan lari terbirit-birit. Atau kalau tidak ada tantangan, Anda akan mudah bosan.

Untuk itu, setiap orang mesti memiliki motivasi dalam melakukan suatu pekerjaan. Seorang ibu yang memelihara dan membesarkan anaknya yang cacat, misalnya, memiliki cinta kasih sebagai motivasi yang memacu dirinya. Kalau dia tidak memiliki cinta kasih yang besar dan mulia, mungkin anaknya yang cacat itu sudah ia buang ke sungai.

Karena itu, dalam perjuangan orang juga perlu mengadakan penegasan roh. Artinya, orang mesti terus-menerus merefleksikan hal-hal yang mendasari perjuangannya. Orang mesti berani bertanya diri tentang motivasi yang menyertai perjuangannya.

Mari kita temukan motivasi yang baik dan indah dalam setiap perjuangan hidup kita. Dengan demikian, kita menemukan betapa indah hidup ini bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


789

26 September 2011

Bangun Relasi dengan Tuhan Melalui Doa

Ada seorang anak yang suka berdoa. Ke mana pun ia pergi, ia pasti berdoa lebih dahulu sebelum berangkat. Ketika tiba di tempat tujuan, ia juga berdoa. Bahkan sepanjang perjalanan, ia melewatkan waktu-waktunya dengan berdoa. Ia ingin agar perjalanan hidupnya sungguh-sungguh ditemani oleh Yang Mahakuasa.

Suatu hari, ia lupa berdoa. Waktu itu ia hendak berangkat ke sekolah. Ia sibuk menyiapkan buku-buku pelajaran, sehingga ia lupa berdoa. Apa yang terjadi sesudah itu? Anak itu merasa ada yang kurang dalam dirinya. Ia merasa resah. Ia merasa kekuatiran hinggap dalam dirinya. Ia merasa tidak tenang.

Melihat kondisi anaknya, sang ibu yang mengantarnya pagi itu ke sekolah juga bingung. Ia tidak mengerti apa yang sedang dialami oleh anaknya.”Apa yang terjadi denganmu? Ada yang tertinggal di rumah?” tanya sang ibu.

Anak itu juga bingung. Ia tidak tahu mau menjawab apa. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang tertinggal di rumahnya. Namun ia tidak menemukannya. Setelah hampir sampai di pintu gerbang sekolah, anak itu baru ingat.

Ia berkata, ”Mama, saya lupa berdoa tadi sebelum berangkat. Saya tidak tahu mengapa saya sampai melupakan hal yang sudah biasa saya lakukan. Bukankah berdoa itu sudah menjadi bagian dari hidup saya, bu?” Sang ibu berusaha menghiburnya.

Sahabat, sudahkah Anda berdoa hari ini sebelum Anda memulai suatu pekerjaan? Atau Anda lupa bahkan tidak peduli sama sekali terhadap doa? Bukankah berdoa itu membangun relasi yang lebih dekat dengan Tuhan? Bagaimana rasanya kalau Anda tidak berdoa?

Kisah di atas memberi inspirasi kepada kita tentang manfaat doa dalam hidup kita. Doa ternyata memberi ketenangan dalam hidup seseorang. Orang yang mengawali hari-hari hidupnya dengan berdoa akan mengalami betapa hidup ini menyenangkan. Orang tidak perlu merasa cemas. Orang tidak perlu kuatir dan takut akan apa yang akan dikerjakan pada hari itu.

Doa juga menjadi kesempatan bagi manusia untuk mengucapkann syukur dan terima kasih atas perlindungan Tuhan. Tuhan begitu baik kepada manusia. Tuhan senantiasa mengasihi manusia. Meskipun manusia membangkang dengan melakukan dosa-dosa, Tuhan tetap mengasihinya. Tuhan menawarkan pengampunan. Tuhan tidak meninggalkan manusia hancur lebur oleh dosa-dosa yang dilakukannya.

Karena itu, melalui doa, kita diajak untuk mensyukuri anugerah Tuhan dalam hidup kita. Kita diajak untuk tetap setia kepada Tuhan yang telah mengasihi kita itu. Marilah kita berdoa, Tuhan kami mengucapkan terima kasih atas penyertaanMu selama hari ini. Kami mengalami kebaikanMu melalui orang-orang yang membantu kami. Semoga kami senantiasa mengalami kasihMu dalam hidup ini. Amin. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


788