Pages

14 Juni 2012

Berusaha Bersama Tuhan Menuju Sukses


Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengalami hidup yang kurang menyenangkan? Anda menyerah begitu saja? Atau Anda berusaha untuk mengatasinya?

Ada seorang bayi wanita lahir normal pada tanggal 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika serikat. Tetapi ketika bayi tersebut berusia 19 bulan, dia terserang penyakit misterius yang menyebabkan dia buta dan tuli. Orangtuanya panik dan bingung dengan cacat fisik yang dialami oleh anak mereka. Ketika berusia tujuh tahun, anak tersebut cenderung bertingkah laku liar.

Tetapi sejarah mencacat, anak tersebut kelak menjadi seorang yang terkenal. Dia berhasil memperoleh penghargaan dari beberapa lembaga seperti Honorary University Degrees Women's Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom, The Lions Humanitarian Award.

Anak tersebut bernama Helen Adams Keller. Perubahan hidup yang sangat penting dalam diri Helen Keller dapat terjadi karena sikap pengasuhnya bernama: Johanna (Anne) Mansfeld Sullivan Macy. Pengasuh ini begitu setia dan penuh kasih dalam mendidik Helen Keller.

Melalui Anne, pengasuhnya itu, Helen Keller dapat mengenal dunia dan makna kehidupan ini. Akhirnya Helen Keller dapat belajar dan menguasai 4 bahasa, yaitu Perancis, Jerman, Yunani dan Latin lewat huruf Braille. Juga Helen Keller akhirnya berhasil lulus dari Radsliffe College yang merupakan cabang Universitas Harvard untuk kaum wanita dengan predikat “magna cum laude”. Dengan kecakapannya tersebut, Helen Keller dapat mengkomunikasikan berbagai pikiran, dedikasi dan kehidupannya kepada dunia. Kisah hidupnya yang difilmkan berhasil meraih dua piala Oscar.

Sejarah mencatat bahwa seorang wanita bernama Helen Keller dapat berhasil memperoleh berbagai penghargaan yang luar biasa, walaupun dia buta dan tuli.

Sahabat, suatu keberhasilan selalu dilalui dengan usaha keras. Orang tidak bisa mencapai keberhasilan dengan santai-santai saja. Orang mesti merencanakan dengan baik, sehingga orang mampu meraih keberhasilan dalam hidupnya. Untuk itu, dibutuhkan juga ketekunan dalam usaha-usaha itu.

Kisah sukses Helen Keller menjadi suatu contoh betapa usaha yang keras mampu membawa seseorang meraih impiannya. Tentu saja Helen Keller berkali-kali mengalami kegagalan dalam usaha-usahanya. Namun berkat ketekunan itu, ia mampu belajar dengan baik. Ia berhasil menguasai empat bahasa. Ia mampu melewati cacat fisiknya berkat pendampingan yang sangat baik dari pengasuhnya.

Orang beriman adalah orang yang senantiasa bertahan dalam usaha-usahanya untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, orang beriman mesti berjuang bersama Tuhan. Kadang orang beriman lupa akan Tuhan. Orang beriman mau bekerja sendiri tanpa bantuan Tuhan. Tentu saja hal ini akan membuat manusia mengalami kegalauan dalam hidupnya. Manusia akan berjalan tanpa arah.

Karena itu, penyerahan diri kepada Tuhan menjadi hal yang sangat penting dalam hidup manusia. Menyerahkan diri kepada Tuhan berarti manusia mau berusaha bersama Tuhan. Manusia beriman mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Mari kita terus-menerus mengandalkan Tuhan, agar hidup kita menjadi lebih bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

905

11 Juni 2012

Membangun Disiplin dalam Diri

Apa yang akan Anda lakukan, kalau egoisme diri terus-menerus menguasai diri Anda? Anda diam saja atau Anda berusaha memeranginya?

Dua hari sebelum pertandingan, seorang pelatih sepakbola yang terkenal dengan kedisiplinannya, memberikan porsi latihan yang lebih berat dari biasanya kepada para pemainnya. Hal ini membuat anak-anak yang dilatihnya itu menggerutu. Namun begitu, mereka tetap menjalani setiap instruksi yang diberikan sang pelatih.

Kelelahan begitu terlihat dari wajah para pemain. Mereka seperti ingin berkata tidak sanggup, tetapi mereka tahu ada maksud baik pelatih memberikan latihan seperti itu. Menjelang malam, akhirnya sang pelatih menyelesaikan latihan pada hari itu.

Seperti biasanya, sebelum membersihkan diri dan bergegas pulang, sang pelatih dan para pemain berkumpul. Sang pelatih menjelaskan mengapa ia melakukan semua itu. “Saya tahu kalian marah kepada saya atau jengkel karena latihan yang berat ini. Namun, tahukah kalian bahwa kita akan menghadapi tim sepakbola yang berat. Bila kita latihan dengan porsi yang sama, maka hasilnya kita akan kalah. Saya yakin kalian semua paham apa yang baru saja kita lakukan,” kata pelatih itu.

Saat pertandingan tiba, kedua tim mengeluarkan kemampuannya di lapangan hijau. Namun, secara tidak terduga tim yang dilatih pelatih super disiplin itu memenangkan pertandingan. Ekspresi gembira terpancar di wajah para pemain. Mereka pun memeluk pelatihnya itu sambil bersorak-sorai.

Sahabat, disiplin diri menjadi salah satu hal yang mengarahkan hidup kita untuk hidup lebih baik dan benar. Orang yang tidak disiplin dalam hidupnya akan mengalami hidup yang tidak teratur. Ia tampak tidak punya arah atau tujuan yang jelas. Ia mudah berbelok ke arah yang tidak seharusnya.

Kisah pelatih yang super disiplin di atas membantu kita untuk mengarahkan hidup kita kepada kebaikan. Tim sepakbola itu berhasil, karena mereka berani mengorbankan diri mereka dengan membangun disiplin yang tinggi. Andaikan mereka mogok saat latihan, tentu mereka akan kalah saat pertandingan sesungguhnya berjalan. Mereka telah menang terhadap egoisme diri.

Tentu saja bagi orang beriman, setiap hari kita bergumul dengan perjalanan hidup kita. Kita berhadapan dengan egoisme diri yang sering mengekang kita untuk maju dalam berbagai bidang kehidupan. Egoisme sering membuat kita enggan untuk melangkah maju dalam hidup ini. Nah, apa yang mesti kita buat dalam situasi seperti ini?

Untuk itu, yang mesti kita lakukan adalah membangun disiplin diri yang mampu menghalau kuatnya egoisme dalam diri kita. Kita mesti berani menerobos tembok egoisme yang cenderung memanjakan diri kita. Dengan cara ini, kita mampu membangun hidup yang lebih baik. Kita tidak perlu terjebak oleh berbagai alasan yang memanjakan diri kita.

Kita butuh rahmat Tuhan untuk membantu kita dalam membangun hidup kita. Karena itu, mari kita membuka diri pada rahmat Tuhan. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan untuk mengalami kasih Tuhan yang lebih besar dan besar lagi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

904

09 Juni 2012

Bertumbuh dalam Iman Saat Penderitaan


Apa yang biasa Anda lakukan ketika penderitaan melanda hidup Anda? Tentu saja Anda akan berusaha untuk keluar dari penderitaan itu. Orang beriman memandang penderitaan sebagai suatu kesempatan untuk bertumbuh dalam iman akan Tuhan.

Ada seorang perempuan yang menderita sakit yang mesti tinggal di kamar. Selama 40 tahun ia tinggal di dalam kamar itu. Kedua tangan dan kakinya telah diamputasi untuk menahan penyebaran penyakitnya ke seluruh tubuhnya. Namun perempuan itu hidup penuh damai dan sukacita. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena ia tidak mau menyerah begitu saja pada penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya.

Satu hal yang ia lakukan adalah ia menamai tempat tinggalnya Pondok Harapan Sukacita. Meski hanya di atas tempat tidur, ia berusaha untuk hidup secara kreatif. Di pondok ini ia menyerahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan dan aktif dalam pelayanan rohani. Bagaimana ia bisa melakukan pelayanan rohani dalam keterbatasan tubuh seperti itu? Perempuan ini punya cara sendiri.

Dengan pena yang diikatkan pada ujung lengannya yang buntung, ia berkirim surat ke seluruh dunia selama bertahun-tahun. Ia mampu membimbing ratusan orang kepada Tuhan.

Penderitaan yang dialami perempuan itu tidaklah membuatnya patah semangat dan menjadikan dirinya sebagai orang yang tidak berguna. Justru sebaliknya, penderitaannya mendorongnya untuk menjadi lebih kreatif di dalam hidup dan pelayanannya. Sungguh luar biasa.

Sahabat, penderitaan memang menggangu hidup manusia. Penderitaan membuat orang terbatas dalam hidupnya. Penderitaan membuat orang bersedih hati. Namun penderitaan tidak selamanya membuat orang berdukacita. Penderitaan juga membuat orang bangkit untuk menghadapi penderitaan itu dengan sukacita.

Kisah perempuan tadi memberikan suatu perspektif yang berbeda dalam hidup manusia. Ia mesti menghadapi kenyataan penderitaannya. Namun ia tidak menyerah begitu saja. Ia mau hidupnya sungguh-sungguh bermakna. Karena itu, dalam keterbatasannya, ia menulis surat mengenai kabar sukacita. Kabar sukacita itu kemudian menggugah hati begitu banyak orang. Mereka mengikuti panggilan Tuhan untuk menjadi orang beriman.

Tentu saja orang yang beriman secara berbeda memandang penderitaan dibandingkan dengan orang yang tidak beriman. Orang beriman memandang penderitaan sebagai bagian dalam hidup manusia. Penderitaan menjadi kesempatan untuk semakin menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Dalam situasi penderitaan itu orang beriman berdoa dengan penuh harapan.

Karena itu, penderitaan mesti menumbuhkan iman. Penderitaan mesti berbuahkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Tentu saja hal ini tidak mudah, karena dalam saat-saat penderitaan itu orang mudah meninggalkan Tuhan yang diimaninya. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus bertumbuh dalam iman. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan berharga dalam membangun kasih bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah MOGI (Cerdas dalam Kasih)

903

08 Juni 2012

Berdoa dengan Penuh Penyerahan Diri

Saya percaya bahwa setiap hari Anda berdoa kepada Tuhan. Doa-doa itu menjadi kekuatan iman bagi perjalanan hidup Anda. Persoalannya adalah bagaimana sikap Anda dalam berdoa? Apakah Anda berdoa hanya untuk meminta Tuhan memenuhi keinginan-keinginan diri Anda? Atau Anda mau menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan?

Suatu hari seorang anak datang ke rumah ibadat. Ia duduk di sana berjam-jam. Ia berdoa kepada Tuhan untuk ayahnya yang sedang sakit di rumahnya yang kecil. Ia mohon agar Tuhan yang baik memberikan kesembuhan bagi ayahnya yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia merasa yakin bahwa Tuhan akan mengabulkan doa-doanya.

Dalam keheningan itu, ia berdoa, “Tuhan, saya tahu Engkau mahabaik. Engkau akan memberikan yang terbaik bagi ayah saya yang sedang sakit di rumah. Saya harap, Tuhan tidak akan cepat-cepat memanggil ayah saya. Namun seandainya Tuhan ingin mengambil ayah saya sekarang ini juga, saya rela. Yang penting yang terbaiklah yang Tuhan berikan kepada ayah saya.”

Selesai berdoa, anak itu pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, seorang adiknya menjumpainya. Sambil menangis, sang adik melaporkan kepadanya bahwa sang ayah telah tiada. Ayahnya telah menutup matanya untuk selama-lamanya saat ia berdoa di rumah ibadat.

Sambil menatap mata adiknya, ia berkata, “Jangan bersedih. Tuhan telah memberikan yang terbaik bagi ayah kita. Penderitaannya yang panjang di dunia ini telah berakhir. Tuhan telah melapaskan ayah kita dari penderitaan di dunia ini.”

Mata sang adik berbinar-binar. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Ia menjadi kuat oleh kata-kata kakaknya.

Sahabat, iman yang mendalam kepada Tuhan ditunjukkan dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Bahkan menyerahkan orang yang kita kasihi kepada Tuhan yang ingin mengambil milik kepunyaanNya. Semangat doa orang beriman mesti berubah. Bukan lagi hanya meminta dan meminta. Tetapi sikap doa orang beriman menjadi sikap penyerahan diri yang total kepada Tuhan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa doa menjadi nafas hidup orang beriman. Anak itu berdoa bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia tidak egois. Ia tidak menuntut agar Tuhan memberikan yang terbaik bagi ayahnya. Namun ia menyerahkan sang ayah ke dalam kuasa dan kehendak Tuhan.

Setiap hari Anda berdoa. Pertanyaannya adalah bagaimana cara Anda berdoa? Apakah Anda berdoa hanya karena terpaksa? Atau Anda berdoa dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan?

Bagi orang beriman, doa bukan hanya suatu tuntutan untuk dilakukan setiap hari. Namun doa merupakan suatu sikap iman kepada Tuhan. Artinya, orang berdoa karena orang ingin menyerahkan seluruh suka duka hidup kepada Tuhan. Orang beriman percaya bahwa Tuhan adalah pemilik hidup ini. Tuhan memberikan yang terbaik bagi hidup manusia.

Karenanya, orang beriman mesti berani menyerahkan seluruh hidup ke dalam kuasa Tuhan. Mari kita terus-menerus menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan melalui sikap iman yang benar kepadaNya. Dengan demikian, kita mampu hidup sebagai orang yang baik dan benar di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

902

07 Juni 2012

Sikap Syukur Tumbuhkan Semangat Hidup

Seorang bapak bersyukur atas kebaikan istrinya. Betapa tidak? Setelah ia jatuh sakit, sang istri mengambil alih semua tanggung jawab dalam rumah tangga. Tak kenal lelah sang istri menghidupi keluarga itu. Bapak itu sangat mengagumi kehebatan istrinya. Padahal sebelum ia sakit, istrinya tinggal di rumah mengurus anak-anaknya. Bahkan ia sempat menyepelekan kemampuan istrinya.

“Saya sangat kagum terhadap istri saya. Saya tidak menyangka, kalau dia bisa melakukan hal-hal yang luar biasa untuk kelangsungan hidup keluarga kami. Saya bersyukur atas kebaikan Tuhan yang telah diberikan kepada saya melalui istri saya,” kata bapak itu.

Sejak suaminya sakit, sang istri membuka usaha dengan berjualan makanan di rumah. Ia belajar sendiri memasak ala restoran. Ia juga menawarkan masakannya untuk pesta-pesta. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia berhasil meyakinkan para konsumennya bahwa masakannya pantas diandalkan untuk pesta-pesta.

Ternyata istri yang baik itu punya rahasia yang tidak diketahui oleh suaminya. Rahasianya adalah ia senantiasa mensyukuri setiap peristiwa hidup. Menurutnya, dengan mensyukuri peristiwa-peristiwa hidupnya, ia mampu bangkit untuk menatap hidup yang lebih baik. Sikap syukur itu ia tunjukkan dengan tidak menggerutu atas kenyataan hidupnya. Ia berusaha menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan.

Sahabat, sikap syukur merupakan bagian dari hidup manusia. Orang yang tidak bisa bersyukur atas kebaikan Tuhan bagi hidupnya biasanya orang yang mudah mengeluh. Orang seperti ini mudah putus asa di saat menghadapi berbagai rintangan dalam hidup. Tidak banyak jalan terbuka bagi dirinya untuk melepaskan diri dari rintangan-rintangan hidup.

Kisah di atas mengatakan kepada kita bahwa orang yang mensyukuri kebaikan Tuhan atas hidupnya menemukan banyak cara untuk hidup yang lebih baik. Sang istri tidak putus asa meski ia harus menghadapi ketidakberdayaan suaminya. Justru dalam situasi seperti itu ia bangkit. Ia menemukan cara-cara terbaik untuk kelangsungan hidup keluarganya.

Suatu hasil penelitian mengatakan bahwa bersyukur dapat meningkatkan kesehatan fisik dan emosional. Memiliki gaya hidup penuh rasa syukur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan suplai darah ke hati kita. Jika kita melakukan hal ini dengan rutin, maka dapat meningkatkan kewaspadaan kita, antusiasme, energi dan juga meningkatkan kualitas tidur kita. Mereka yang menggambarkan dirinya sebagai orang yang penuh rasa syukur cenderung jarang stres dan depresi.

Sebagai orang beriman, kita bersyukur karena Tuhan baik kepada kita. Tuhan senantiasa hadir dalam perjalanan hidup kita. Tuhan selalu peduli terhadap hidup kita. Karena itu, sikap bersyukur berarti kita menyerahkan hidup kepada penyelenggaraan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

Pemazmur berdoa, “Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; sebab kasih setia-Mu besar atas aku, dan Engkau telah melepaskan nyawaku dari dunia orang mati yang paling bawah” (Mzm 86:12-13). Mari kita berusaha memiliki hati yang penuh syukur kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup kita menjadi pujian bagi Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Majalah FIAT

901

31 Mei 2012

Jangan Berontak terhadap Tuhan


Pernahkah Anda merasa bahwa Tuhan tidak adil terhadap hidup Anda? Apa yang Anda lakukan. Anda mencari kehendak Tuhan atau Anda melakukan pemberontakan terhadap Tuhan?

Suatu hari seorang suami mesti menghadapi saat-saat terakhir hidup istrinya. Ia merasa sangat sedih. Ia memberontak. Ia merasa masa hidupnya bersama sang istri tercinta hanya sebentar saja. Padahal duapuluh empat tahun telah mereka jalani hidup ini bersama. Mereka telah berbagi suka dan duka.

Suami itu merasa bahwa waktu 24 tahun itu masih sangat kurang. Ia ingin membahagiakan istrinya. Ia ingin agar sang istri yang sakit kanker dapat sembuh kembali. Namun mengapa Tuhan begitu cepat mengambil hidup sang istri? Ia sangat bersedih hati oleh kepergian sang istri tercinta itu.

Suami itu berkata, “Tuhan, mengapa Engkau tega mengambil istri saya? Saya masih ingin membahagiakan dirinya. Saya masih ingin dia sembuh dari sakit kankernya. Tetapi mengapa Engkau mengambilnya begitu cepat?”

Orang boleh berseru-seru kepada Tuhan. Ternyata Tuhan punya kehendak lain. Kehendak Tuhan bukan kehendak manusia. Karena itu, yang mesti dilakukan oleh sang suami itu adalah menyerahkan sang istri ke dalam kehendak Tuhan.

Sahabat, banyak orang lebih suka kehendak dirinya terjadi dalam hidupnya. Mereka memaksakan kehendak diri itu meskipun tidak akan tercapai. Akibatnya, banyak manusia mengalami frustrasi dalam hidup ini. Manusia tidak mengalami bahagia dan damai dalam hidup ini.

Kisah tadi mengatakan kepada kita bahwa kehendak pribadi mesti kalah oleh kehendak Tuhan. Kehendak pribadi yang sering menguasai hidup manusia menjadi penghalang bagi terjadi kehendak Tuhan dalam hidup ini. Padahal hidup ini adalah milik kepunyaan Tuhan. Manusia tidak punya hak atas hidup ini. Tuhan yang punya hak penuh atas kehidupan manusia.

Manusia yang menyerahkan hidup kepada kehendak Tuhan akan menemukan bahwa hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna. Manusia tidak perlu berontak, ketika hidupnya diambil yang empunya. Manusia tidak perlu menolak, ketika hidup yang fana ini diambil oleh Tuhan untuk hidup dalam keabadian.

Justru dengan diambil oleh yang empunya hidup ini, orang mengalami paripurnanya kehidupan. Perjalanan dalam dunia yang penuh dengan dukacita diganti dengan kebahagiaan yang terus-menerus dalam keabadian. Manusia tidak perlu menderita lagi. Kekekalan menjadi bagian yang sempurna dari jiwa manusia.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa berpasrah diri kepada Tuhan. Orang beriman tidak boleh memberontak terhadap Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan selalu menginginkan yang terbaik bagi hidup manusia. Tuhan selalu membimbing langkah hidup manusia. Tuhan selalu menyediakan kebutuhan hidup bagi manusia.

Mari kita mendekatkan hidup kita kepada Tuhan. Kita biarkan kehendak Tuhan terjadi atas diri kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi semakin bermakna di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

899

29 Mei 2012

Membangun Persahabatan Sejati untuk Hidup Lebih Baik


Anda punya sahabat yang baik dalam hidup ini? Tentu saja Anda punya banyak sahabat yang baik. Namun mempunyai sahabat yang sejati tidak begitu banyak. Artinya, sahabat yang sejati itu sahabat yang mampu merasakan penderitaan sesamanya. Sahabat sejati mampu berbagai suka dan duka dengan sesamanya.

Di jaman dahulu kala, mendapat sebuah kehormatan dengan disebut sebagai sahabat Tuhan. Mengapa? Karena ia menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan. Ia menjalin persahabatan yang sungguh-sungguh menakjubkan dengan Tuhan. Tuhan senantiasa berkenan kepada Abraham.

Karena itu, ketika ia berada dalam kesulitan, Tuhan membantu dirinya. Tuhan memberikan pertolongan kepadanya, sehingga ia boleh mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Jalinan persahabatan yang baik itu sungguh-sungguh dijaga oleh Abraham. Ketika Tuhan menghendaki ia mengorbankan anaknya, ia lakukan. Ia tidak kuatir bahwa ia akan kehilangan anak yang dikasihinya itu.

Namun Tuhan tidak tega atas diri Abraham yang begitu setia pada jalinan persahabatannya. Tuhan sendiri yang membatalkan korban Abraham dalam wujud anaknya itu. Sebagai gantinya, Tuhan menyediakan seekor domba yang digunakan Abraham untuk korban persembahan kepada Tuhan.

Sahabat, persahabatan yang sejati terjadi ketika orang sungguh-sungguh membangun relasi dengan ketulusan hati. Orang tidak banyak menuntut dari sahabatnya. Dalam situasi seperti itu, orang saling memberi dan menerima sebagai sahabat. Orang masuk dalam kebutuhan sesamanya tanpa harus tahu kebutuhan seperti apa yang ada dalam diri sesamanya itu.

Kisah Abraham mau mengatakan kepada kita bahwa jalinan persahabatan yang sejati mampu membawa manusia untuk hidup baik. Abraham mengalami hidup yang bahagia di hadapan Tuhan, karena ia setia kepada Tuhan yang telah memberi semua kebutuhan hidup kepadanya.

Dalam hidup sehari-hari, banyak persahabatan yang tidak mencapai relasi yang sejati. Mengapa terjadi begitu? Karena mereka tidak bisa menjadi seorang sahabat satu terhadap yang lain. Ada banyak orang yang terlalu banyak menuntut dari jalinan persahabatan itu. Tujuannya demi kepentingan diri sendiri. Bukan kepentingan sesamanya. Akibatnya, persahabatan mereka hanya sampai di permukaan saja. Persahabatan itu tidak sampai lebih mendalam.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam jalinan persahabatan adalah membuka diri bagi sesama. Dengan membuka diri, orang saling mengenal. Orang semakin mendalami pribadi seseorang dalam hidup ini. Dengan demikian, orang saling menegerti kebutuhan masing-masing.

Mari kita membangun persahabatan sejati dengan saling mengerti kebutuhan kita masing-masing. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang

898

28 Mei 2012

Memulihkan Hidup dari Kesedihan

Saya yakin, dalam hidup ini Anda pernah merasakan kesedihan yang mendalam. Ada banyak alasan yang membuat Anda bersedih hati. Namun Anda mesti bangkit, agar kesedihan Anda tidak menjadi bumerang bagi hidup Anda.

Suatu ketika Raja Daud mengalami pengkhianatan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Absalom, anaknya sendiri, merebut tahtanya. Saat tentara Raja Daud berperang melawan tentara Absalom, Absalom mati di tangan Yoab, panglima dari Raja Daud. Raja Daud sangat sedih mendengar kematian anaknya. Lalu Yoab mencoba untuk mendekati dan menenangkan Daud.

Kendati Raja Daud meratapi kesedihannya, ia perlu mendengarkan nasihat Yoab. Paling tidak ada tiga hal yang disampaikan Yoab kepada Raja Daud. Pertama, Raja Daud harus menghadapi kenyataan. Yoab berkata, “Jangan biarkan kesedihan atas kematian itu menutupi kebenaran, tuanku Raja. Bagi Yoab, kenyataan kadang sangat menyedihkan dan mengecewakan, tetapi orang tidak bisa membiarkan kenyataan itu mengendalikan seluruh hidup dan masa depannya.

Kedua, Yoab menasihati Raja Daud agar tidak mengasihani diri sendiri. Ia berkata, “Semua pikiran tertuju pada dirimu sendiri, kehilangan anakmu. Rasa kasihan pada diri sendiri yang disebabkan oleh rasa bersalah tidak bisa menghapuskan kenyataan bahwa engkau tidak pernah memiliki hubungan yang baik dengan anakmu.” Bagi Yoab, sikap mengasihani diri sendiri sering kali membuat seseorang tidak menghargai dirinya sebagai ciptaan Tuhan yang berharga. Jika orang terus mengasihani diri sendiri, maka ia tidak punya waktu untuk mengasihani orang lain.

Ketiga, Yoab menasihati raja Daud agar ia meneguhkan mereka yang dekat dengannya. Yoab berkata, “Para pejuang yang berperang melawan musuh lebih dekat denganmu daripada anakmu sendiri. Kesedihanmu atas kehilangan anakmu tidak adil bagi keluarga mereka yang sedang bersedih. Beberapa di antaranya bahkan mati membela engkau.”

Sahabat, pernahkah Anda merasa dikhianati oleh orang yang terdekat dengan Anda? Apa reaksi Anda? Tentu hati Anda terasa sakit. Namun yang pasti Anda masih bisa melanjutkan perjalanan hidup Anda dengan damai dan sukacita. Anda tentu tidak ingin tenggelam dalam kesedihan yang terus-menerus.

Kisah tadi memberikan kita semangat untuk bangkit dari keterpurukan dan kesedihan kita. Raja Daud begitu sedih atas kematian sang pengkhianat yang adalah anaknya sendiri. Ia merasa kehilangan yang sangat besar. Tetapi ia tidak boleh terpuruk dalam kesedihan yang mendalam. Ia mesti bangkit untuk memimpin bangsanya. Ia mesti membangkitkan semangat orang-orang yang setia kepadanya.

Mengapa Raja Daud harus bangkit? Karena kesedihan bisa menular dan menurunkan semangat orang lain, apalagi jika yang sedih itu adalah pemimpin. Respons terhadap kesedihan mempengaruhi orang lain, apakah itu akan melemahkan atau membangkitkan semangat orang lain.

Sebagai orang beriman, kita bisa saja terpuruk dalam kesedihan. Namun yang diharapkan dari orang beriman adalah ia cepat pulih dari kesedihan itu. Dengan demikian, ia menumbuhkan semangat untuk melanjutkan perjalanan hidup ini dengan sukacita. Mari kita berusaha untuk melepaskan kesedihan dalam diri kita untuk hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ
Majalah MOGI

897

27 Mei 2012

Percayakan Hidup pada Penyelenggaraan Tuhan


Anda masih sabar dalam menghadapi proses hidup Anda? Apa yang membuat Anda sabar? Ada banyak alasan untuk orang sabar menjalani proses hidupnya.

Konon pada masa Dinasti Song di China ada seorang petani yang tidak pernah sabar. Ia merasa padi di sawahnya tumbuh sangat lambat. Ia menginginkan padi-padi itu berbuah dengan lebih cepat. Karena itu, yang dibutuhkan adalah padi itu mesti tumbuh lebih cepat.

Suatu hari ia berkata dalam hatinya, “Jika saya menarik-narik padi itu ke atas, bukankah saya membantunya bertumbuh lebih cepat?”

Lalu ia menarik-narik semua padinya. Sampai di rumah, dengan bangga ia bercerita kepada istrinya bahwa ia baru saja membantu padinya bertumbuh lebih cepat. Istrinya bingung mendengar cerita sang suami. Ia tidak yakin padi yang baru ditanam tiga minggu yang lalu itu kini hampir menghasilkan.

Istrinya mempertanyakan cara ia membantu padi-padi itu bertumbuh lebih cepat. Dengan enteng, ia mengatakan bahwa ia menarik padi itu ke atas satu per satu. Istrinya terkejut mendengar cerita sang suami. Ia menyalahkan suaminya telah suatu kebodohan. Namun sang suami merasa yakin bahwa itulah cara yang paling baik untuk mendapatkan hasil secara cepat.

Keesokkan harinya petani itu pergi ke sawah dengan bersemangat. Namun betapa kecewanya ia ketika melihat bahwa semua padi yang kemarin ditariknya ke atas sudah mati. Karena tidak sabar, ‘usahanya untuk membantu’ malah membuatnya rugi besar.

Sahabat, Anda masih punya kesabaran dalam hidup ini? Anda masih ingin menyaksikan diri Anda bertumbuh dalam iman secara bertahap? Saya yakin, banyak dari Anda tidak ingin cepat-cepat memiliki iman yang kuat. Iman itu ditumbuhkan dalam proses perjalanan hidup sehari-hari. Kadang-kadang proses itu membuat Anda cemas terhadap diri Anda sendiri. Kadang-kadang proses itu membuat Anda tidak sabar dan frustrasi. Namun ketika Anda terus berjuang dalam jatuh dan bangun, Anda tentu akan menemukan hidup iman yang lebih baik.

Kisah tadi menunjukkan kepada kita bahwa ketidaksabaran dalam hidup membuat orang mengalami kesulitan. Orang ingin cepat-cepat meninggalkan proses yang normal. Orang tidak ingin terlalu lama menunggu hasil dari pekerjaannya. Orang ingin meraih sukses dalam waktu yang singkat.

Mengapa terjadi ketidaksabaran dalam hidup? Jawabannya adalah karena orang tidak percaya pada penyelenggaraan Tuhan. Orang hanya percaya pada kemampuan dirinya sendiri. Orang kurang berani percaya bahwa kalau orang mengikuti proses perjalanan hidup ini, orang akan meraih sukses yang gilang gemilang. Seorang bijak berkata, “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan” (Amsal 16:32).

Orang beriman mesti membangun keyakinan bahwa ketika berjalan dalam proses kehidupan bersama Tuhan, orang akan menemukan kesuksesan dalam hidupnya. Orang akan menemukan ketenangan dan kedamaian dalam hidup ini. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan dirinya berjuang sendirian dalam hidup ini.

Mari kita mempercayakan hidup kita dalam proses penyelenggaraan Tuhan. Dengan demikian, kita menemukan damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Majalah FIAT

896

26 Mei 2012

Tumbuhkan Kesadaran untuk Lestarikan Hidup


Sadar atau tidak, lingkungan di mana kita hidup sudah lama tercemar. Akibatnya, air bersih menjadi hal yang mesti diperjuangkan terus-menerus. Apa yang akan Anda lakukann untuk menyediakan air bersih bagi kehidupan kita bersama?

Artis peran yang juga model Atiqah Hasiholan, enggan menutup mata terhadap buruknya kualitas air bersih di Indonesia. Putri perempuan aktivis Ratna Sarumpaet itu pun mulai giat mengampanyekan air sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM).

Atiqah berkata, ”Kesejahteraan terhadap lingkungan harus diperhatikan, seperti saat ini Indonesia sangat kekurangan air bersih.”

Untuk itu, ia mau terlibat dalam kegiatan untuk penyediaan air bersih. Ia tergerak untuk terlibat dalam kegiatan itu lantaran tergerak, ketika mengetahui kenyataan bahwa sebanyak 130 jiwa melayang karena kekurangan air bersih.

Ia berkata, ”Ini kenyataan yang sangat tragis. Banyak anak meninggal karena kekurangan air bersih.”

Menurut Atiqah, pentingnya air bersih harus disadari bersama. Air bersih menjadi dambaan semua orang. Karena itu, kesadaran semua orang terhadap hal ini menjadi sangat penting. Ia berkata, ”Penyelesaiannya sebenarnya logis sekali, melakukan kampanye air dari sekarang itu membuat kesadaran saya pribadi. Paling tidak saya tahu kalau air memang sangat penting untuk masyarakat.”

Sahabat, tak ada mahkluk hidup yang bisa bertahan hidup tanpa air bersih. Air yang bersih membantu manusia untuk melanggengkan hidupnya. Bayangkan kalau setiap hari Anda mendapatkan suplai air yang kurang bersih. Tentu saja tubuh Anda akan memberontak. Bentuknya adalah berbagai macam penyakit dapat bersarang di tubuh Anda. Mengapa? Karena tubuh manusia butuh air bersih untuk kelangsungan hidupnya

Untuk itu, apa yang dilakukan oleh Atiqah Hasiholan dengan mengampanyekan penyediaan air bersih menjadi sangat penting. Ia tidak hanya prihatin mendengar 130 orang meninggal karena kekurangan air bersih. Tetapi ia menggerakkan hati dan pikirannya, agar air bersih sungguh ada bagi kebutuhan manusia.

Setiap kita membutuhkan air bersih. Namun air bersih hilang dari kehidupan karena berbagai alasan. Misalnya, penggundulan hutan di hulu sungai. Akibatnya, banjir bandang menghanyutkan tanah dengan begitu mudah. Hal lain adalah pencemaran lingkungan oleh berbagai bahan kimia yang digunakan oleh manusia. Atau juga sampah-sampah yang dibuang ke dalam sungai yang menjadi sumber air bagi kehidupan

Karena itu, yang dibutuhkan dari manusia adalah kesadaran untuk memperjuangkan adanya air bersih bagi kehidupan manusia. Manusia mesti berhenti mengotori dirinya sendiri dengan mengonsumsi air yang tidak bersih. Untuk itu, manusia tidak perlu mencemari lingkungan hidupnya dengan penggunaan bahan-bahan kimia yang berlebihan. Manusia juga mesti sadar bahwa membuang sampah di sungai akan berakaibat buruk bagi kesehatan dirinya sendiri.

Sebagai orang beriman, kita mesti memiliki kesadaran yang terus-menerus untuk ikut menciptakan lingkungan hidup yang bersih dan bebas dari pencemaran. Dengan cara demikian, kita dapat menyelamatkan kehidupan kita sendiri. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

895