Pages

28 Juni 2012

Hadapi Kesulitan Hidup dengan Iman

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengalami suatu situasi yang mencekam. Anda cemas dan takut? Anda menyerah kalah? Atau Anda hadapi situasi itu dengan penuh iman?

Suatu hari seekor anak katak merasa cemas. Pasalnya, langit tiba-tiba menjadi sangat gelap. Ia tidak bisa melihat dunia sekitarnya. Padahal ia masih membutuhkan perlindungan. Ia masih butuhkan suasana yang tenang bercengkrama dengan ibu dan saudara-saudaranya yag lain.

Dalam kecemasan itu, ia bertanya kepada ibunya, “Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-tiba gelap?”

Anak katak itu merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. Ia berusaha meyakinkan anaknya bahwa langit yang tiba-tiba menjadi gelap tidak akan membinasakan mereka.

Sang ibu berkata, “Anakku, itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru itu tanda baik.”

Anak katak itu belum paham. Ia bingung, mengapa situasi yang gelap gulita itu menjadi pertanda baik? Anak katak itu semakin panik begitu tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai beterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil.

Anak katak itu mengerang ketakutan. Ia bertanya, “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?”

Sang ibu berusaha menenangkan anaknya. Ia berkata, “Anakku, itu cuma angin. Itu juga pertanda, kalau yang kita tunggu pasti datang!”

Anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan itu. Tiba-tiba suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Anak katak itu tidak bisa bilang apa-apa lagi. Ia gemetar. Sambil memejamkan matanya, ia berteriak, “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!”

Sambil membelai anaknya, sang induk berkata, “Sabar, anakku! Itu cuma petir. Itu tanda ketiga, kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang.”

Sahabat, pernahkah Anda mengalami sesuatu yang mencekam sebelum meraih impian Anda? Apa sikap Anda? Anda takut menghadapi situasi mencekam itu? Anda cemas? Atau Anda tidak percaya pada kenyataan yang ada? Lantas apa yang Anda lakukan?

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa rahmat Tuhan kadang-kadang datang kepada kita melalui jalan yang berliku-liku. Orang mesti sabar menunggu. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tetap akan memberikan rahmatNya. Tuhan tidak pernah mengingkari kasih setiaNya kepada manusia.

Karena itu, yang dibutuhkan dari manusia adalah kesabaran yang penuh iman. Artinya, orang mesti membangun keyakinan dalam dirinya bahwa apa yang sedang diperjuangkannya tidak akan sia-sia. Apa yang sedang diperjuangkannya akan ia raih dalam iman yang mendalam kepada Tuhan.

Kita mesti mengakui bahwa dalam hidup ini kita sering terombang-ambing oleh berbagai persoalan hidup. Kita ditantang untuk tetap berpegang teguh pada iman kita kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyerah, apa pun situasi yang mengobrak-abrik hidup kita. Satu pegangan hidup yang mesti kita utamakan adalah Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Yakinlah, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian.

Karena itu, kita tidak boleh takut melangkah. Kita tidak boleh bersembunyi di balik tantangan hidup ini. Kita mesti menghadapi situasi hidup itu dengan iman yang kokoh dan teguh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

915

26 Juni 2012

Bersyukur dalam Situasi Apapun

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda tiba-tiba mengalami penderitaan dalam hidup ini? Anda putus asa? Atau Anda mau berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan?

Hesti divonis menderita kanker payudara yang ganas. Kalau ia tidak mengobatinya dengan baik, nyawanya akan melayang. Namun Hesti tidak peduli terhadap vonis itu. Ia yakin, penyakit yang dideritanya tidak ada hubungan langsung dengan kematian.

Menurutnya, banyak orang sehat yang juga tanpa disangka akhirnya meninggal terlebih dulu. Untuk itu, ketika masih ada waktu hidup yang diperolehnya, dirinya mengaku sangat bersyukur. Ia boleh hidup dengan enak. Ia menjalani hidupnya dengan biasa-biasa saja.

Rasa syukur diungkapkan Hesti dengan belajar menerima keadaan dan berbagi kepada penderita kanker lainnya. Bahkan, dengan suara indahnya, ia juga mengaku ingin terus berbagi kepada orang lain, baik para penderita kanker maupun yang tidak.

Ia berkata, “Kesulitan kita adalah menerima apa yang Tuhan ijinkan terjadi. Walaupun saya menderita sudah hampir tiga tahun, tapi tetap pelayanan saya jalan. Saya tetap mempromosikan ASI. Selain itu, saya kerja sama dengan dokter saya untuk ngobrol dan memberikan dorongan kepada penderita kanker yang ditangani dokter saya.”

Sahabat, sering orang panik menghadapi vonis dokter atas penyakit yang dideritanya. Orang merasa bahwa vonis itu sudah menjadi akhir dari segala-galanya. Tidak ada jalan lain. Tidak ada kesempatan lagi untuk keluar dari situasi seperti itu. Orang merasa hidupnya sudah berakhir.

Kisah di atas memberi kita wawasan baru bahwa orang mesti mensyukuri hidup ini. Meski terjadi situasi yang kurang menguntungkan, orang mesti berani bersyukur. Artinya, orang mau menerima hidupnya sebagai rahmat Tuhan. Orang mesti berani menerima keadaan dirinya tanpa banyak menggerutu. Orang mesti menjalani hidup ini dengan hati yang lapang.

Sering manusia tidak sabar dalam hidupnya. Manusia mau segala-galanya selesai dalam waktu yang singkat. Padahal untuk sembuh dari suatu penyakit yang ganas, orang mesti menjalani proses pengobatan. Proses itu kadang-kadang singkat, tetapi lebih banyak membutuhkan waktu yang panjang.

Karena itu, orang beriman mesti menaruh pengharapan pada Tuhan. Dialah kekuatan dalam menjalani hari-hari yang penat oleh berbagai penyakit. Tuhanlah yang mampu memenangkan seseorang dalam perjuangan melawan penyakit yang dideritanya.

Untuk itu, sikap syukur mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Artinya, orang beriman mensyukuri kebaikan Tuhan. Orang beriman mesti menyadari bahwa Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup ini. Mari kita berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan, meski penyakit sering mendera hidup kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

914

22 Juni 2012

Hidup di Tangan Tuhan, Buat Apa Takut?


Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda dilanda oleh musibah berupa penyakit yang ganas? Anda berhenti berjuang untuk menyembuhkan penyakit Anda? Atau Anda tidak menyerah pada kenyataan, karena Anda percaya bahwa Tuhan menyertai hidup Anda?

“Hidup mati, kaya miskin, jodoh di tangan Tuhan. Kita enggak tahu kita mati kapan. Sejauh kita masih hidup, kita hidup sebaik-baiknya saja. Karena kita enggak tahu kapan kita akan dipanggil sama Tuhan. Orang sehat saja umurnya mungkin lebih pendek dari yang sakit,” kata Tulus.

Tulus yang berusia 25 tahun adalah salah seorang penderita kanker darah atau leukimia. Ia mengidap kanker darah sejak berusia dua tahun. Namun sejak 2008 lalu ia dinyatakan bersih dari penyakit itu. Sepanjang menjalani berbagai perawatan dan pengobatan hingga saat ini, Tulus meyakini bahwa waktu hidup yang masih diberikan harus dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Untuk itulah, meski pada umur 15-20 tahun dirinya harus istirahat total di rumah sakit, Tulus tetap sekolah dan kuliah. Semua itu dia lakukan di rumah sakit. Tulus pun sudah memasuki tahun terakhir statusnya sebagai mahasiswa jurusan teknologi informasi di salah satu universitas di Jakarta.

Tentang kondisinya, ia berkata, “Saya selalu berpikir yang positif saja. Suatu saat Tuhan pasti punya rencana yang lain buat saya. Mungkin dengan begini, Tuhan bisa pakai saya buat kasih support ke orang-orang yang lain. Memotivasi orang-orang bahwa meski kena leukimia ternyata umur seseorang bisa panjang. Selama ini orang berpikir, kalau sudah divonis leukimia pasti umurnya pendek. Ternyata tidak.”

Tulus mengaku, ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hidup ini ada di tangan Tuhan. Karena itu, ia tidak takut menghadapi penyakit yang membahayakan itu. Ia terus berjuang. Ia memiliki daya untuk hidup.

Sahabat, berapa banyak orang yang telah menghembuskan nafas terakhirnya, karena berbagai penyakit yang membahayakan dirinya? Tentu sudah sangat banyak. Mengapa mereka bisa mengalami situasi seperti itu? Karena mereka kurang yakin bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan. Tuhan pasti menolong hidup manusia, kalau manusia mau menyerahkan hidup ke dalam kuasa Tuhan.

Kisah di atas menjadi penyemangat bagi kita semua. Banyak kali kita dihadapkan suasana takut dan cemas. Kita takut kalau-kalau hidup kita akan diganggu oleh berbagai penyakit. Kalau nanti suatu ketika terjadi bahwa penyakit itu menyerang kita, kita tidak mau berjuang lagi. Pemuda tadi berjuang mati-matian untuk hidup. Ia yakin, Tuhan pasti membantu dirinya. Tuhan pasti dapat membebaskan dirinya dari penyakit itu. Dan benar. Ia dapat disembuhkan dari penyakit itu. Berkat penyerahan dirinya kepada Tuhan dan ketekunannya berobat, ia boleh mengalami sukacita.

Orang beriman adalah orang setia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Orang beriman itu dari waktu ke waktu membuka hatinya lebar-lebar bagi hadirnya Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, orang beriman mengandalkan Tuhan. Orang beriman tidak berpaling dari Tuhan.

Untuk itu, kita butuh sikap rendah hati. Kita butuh sikap iman yang benar kepada Tuhan. Kita terbuka terhadap penyelenggaraan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Menjadi Terang bagi Hidup Bersama

Apa yang akan terjadi kalau dunia sekeliling Anda gelap gulita? Apa yang akan Anda lakukan? Tentu saja Anda akan menghidupkan lampu yang ada di dekat Anda. Dengan demikian, tidak terjadi lagi kegelapan di sekitar Anda.

Pelita atau lampu bukan sesuatu yang asing dalam hidup kita sehari-hari. Pelita adalah salah satu alat yang penting untuk penerangan pada zaman dulu. Pelita mampu memberi cahaya, jika didukung oleh minyak dan sumbu yang dibakar oleh api. Dalam perkembanganya, alat penerang itu menjadi semakin canggih dengan ditemukannya listrik dan bola lampu. Namun fungsinya tetap sama, yakni memberi terang, menghalau kegelapan.

Pelita sangat akrab dalam kehidupan ini. Pelita berada di gantang atau tempat untuk meletakkan pelita. Apa yang dapat kita pelajari dari pelita bagi hidup ini? Ternyata begitu dekatnya hidup kita dengan pelita. Kedekataan itu membantu kita untuk memahami fungsinya. Yang terpenting adalah kita dapat belajar dari fungsi pelita itu bagi hidup ini.

Mari kita juga belajar dari pelita. Kita selalu membutuhkan pelita yang memberi terang dalam hidup ini. Jika kita melakukan perjalanan pada malam hari, kita membutuhkan pelita sebagai penerang supaya tidak tersesat. Tentu kita juga dapat belajar dari pelita yang menerangi semua orang. Kehadiran kita memberi seberkas cahaya harapan bagi yang dirundung kegelapan masalah hidup ini. Akhirnya masyarakat mampu hidup secara harmonis.

Sahabat, dalam salah satu kotbahnya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di Surga.”

Dari kotbah Yesus itu tampak begitu pentingnya peranan hidup manusia dalam hidup bersama. Kita diajak oleh Yesus untuk menjadi cahaya bagi orang lain. Artinya, kita memberi terang bagi sesama yang masih hidup dalam kegelapan dosa. Kita mengajak mereka untuk kembali kepada Tuhan. Mengapa? Karena hanya Tuhanlah yang menjadi terang sejati bagi hidup kita.

Tentu saja menjadi terang bagi sesama itu tidak gampang. Diri kita sendiri harus dapat menjadi contoh bagi hidup orang lain. Kita mesti berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi nilai-nilai kebaikan dalam hidup sehari-hari. Lantas nilai-nilai itu kita tebarkan bagi hidup sesama kita. Kita dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup bersama.

Kita dipanggil untuk berani menjadi terang bagi masyarakat. Kehadiran orang beriman memberi pencerahan atas situasi kegelapan masyarakat, karena nilai-nilai kemanusiaan yang diabaikan. Kita mempunyai tugas untuk memberi terang bagi yang gelap. Terang itu kita tunjukkan dengan teladan hidup, nasihat, dan peneguhan bagi yang bimbang.

Mari kita memberi terang melalui kata dan perbuatan kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

912

21 Juni 2012

Memupuk Cinta yang Tak Bersyarat


Apa yang akan terjadi kalau Anda punya cinta yang bersyarat? Tentu saja cinta Anda tidak berbuah kebaikan bagi hidup bersama. Cinta Anda dalam arti tertentu mati. Tidak berguna.

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Seorang perawat menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu. Semua dokter masih sibuk. Mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah. Sebentar-sebentar ia melirik ke jam tangannya. Perawat itu merasa kasihan. Jadi ketika sedang ada waktu luang, perawat itu sempatkan diri untuk memeriksa lukanya. Tampaknya cukup baik dan kering. Tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Atas persetujuan dokter, perawat itu putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, perawat itu bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu mengatakan bahwa dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya. Hal itu biasa ia lakukan setiap hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu. Istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Perawat itu menanyakan, apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Perawat itu sangat terkejut. Ia bertanya, “Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri bapak tidak kenal lagi?”

Sambil menepuk tangan perawat itu, ia berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia.”

Sahabat, ketika orang hidup dalam kasih yang mendalam, orang tidak butuh lagi pengenalan fisik. Yang terjadi adalah orang saling mengerti. Orang saling menghargai dengan penuh persaudaraan. Orang tidak lagi melihat kekurangan dan kelemahan yang ada dalam diri sesamanya. Yang senantiasa ada dalam diri orang adalah sikap siap sedia untuk hidup bersama orang yang dicintai itu.

Kisah di atas memberi kita gambaran tentang kuatnya cinta itu. Ia tidak peduli apakah istrinya bisa mengenal dirinya atau tidak. Baginya, yang lebih penting adalah dia terus-menerus menambatkan cintanya pada kekasihnya. Ia tetap peduli meski sang kekasih tidak lagi menyapanya seperti sewaktu masih sehat.

Tentu saja kita semua ingin memiliki cinta seperti itu. Kita ingin dicintai dengan setulus hati. Kita juga ingin mencintai tanpa syarat. Namun sering kita mengalami kegagalan. Mengapa? Karena hidup kita masih dibalut oleh egoisme. Kita masih mengandalkan kepentingan diri kita sendiri. Kita enggan untuk memiliki cinta yang tulus. Kita mencintai sesama dengan syarat-syarat tertentu yang telah kita pasang. Akibatnya, kita hanya mengarahkan cinta itu untuk diri kita sendiri. Kita hanya ingin bahagia untuk diri kita sendiri.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin memiliki cinta yang tulus. Untuk itu, kita mesti mencintai dengan tulus pula. Kita tidak perlu membuat syarat-syarat yang hanya menghambat kita dalam mencintai. Mari kita mencintai tanpa syarat. Tuhan membekati. **



Frans de Sales, SCJ


911

20 Juni 2012

Mengembangkan Cinta yang Membebaskan

Dalam hidup ini, cinta menjadi bagian yang tak terpisahkan. Apa yang akan Anda lakukan, kalau orang yang sangat Anda kasihi sangat membutuhkan kehadiran Anda?

Ada seorang pria yang memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Perempuan itu sangat cantik di mata pria itu. Karena itu, pria itu berusaha sungguh-sungguh untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada permata hatinya itu. Suatu hari ia berkata kepada kekasihnya, “Kekasihku, aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan aku menilai hal itu baik buatmu. Aku tidak ingin melihat engkau kecewa karena salah memilih.”

Hari demi hari berlalu mengiringi perjalanan cinta mereka. Pria ini tak pernah memalingkan hatinya atau melupakan kekasihnya. Hati sang kekasih berbunga-bunga. Ia boleh memiliki hati pria itu. Suatu hari, wanita ini meminta sesuatu dari kekasihnya. Dia menginginkan sebuah kalung dengan berlian pada liontinnya.

Ketika pia itu mendengar permintaan kekasihnya, dia menolak. “Kekasihku, bukannya aku tidak mau atau tidak bisa membelikanmu kalung itu. Tapi sangat berbahaya bila engkau memakai kalung itu. Bila ada orang yang gelap mata, dia akan merampas kalung itu. Kalau itu terjadi, bukan hanya kamu yang celaka, aku juga akan sangat menderita melihatmu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu mendapat celaka,” kata pria itu.

Tapi kekasihnya terus meminta kalung itu. Ia tidak mau mendengar nasehat kekasihnya. Akhirnya, kalung itu pun dibeli dan dipakai oleh sang permata hati. Selang beberapa hari, apa yang ditakutkan oleh pria ini benar-benar terjadi. Ada 2 orang penjahat yang merampas kalung itu saat kekasihnya sedang mengendarai motor. Kalung itu pun terampas dan wanita ini terjatuh dari motornya.

Mendengar berita itu, pria itu langsung menemui kekasihnya. Ia membawanya pulang dan mengobati luka-lukanya. “Mengapa engkau tidak mau menuruti kata-kataku? Engkau mendapat celaka seperti ini, aku merasa sepuluh kali lebih sakit daripadamu,” kata pria itu.

Wanita ini menangis. Dia menyesal. “Maafkan aku. Aku bersalah padamu karena tidak mendengar perkataanmu. Aku hanya menuruti keinginanku sendiri. Maukah engkau memaafkan aku?” kata wanita itu.

Dengan penuh cinta kasih pria ini memeluk kekasihnya. Ia berkata, “Aku memaafkanmu sejak tadi. Aku bahagia karena aku bisa memelukmu dalam keadaan engkau masih hidup. Mulai sekarang, turutilah perkataanku, karena aku tidak pernah akan membuatmu celaka.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang menuntut kita untuk senantiasa bertumbuh dalam cinta. Memang ada juga orang yang kurang mau hidup dalam suasana cinta. Karena itu, mereka hidup sekehendak hatinya. Mereka tidak peduli terhadap sesamanya. Mereka memaksakan kehendak dirinya sendiri untuk orang lain.

Kisah di atas memberi kita secercah harapan. Kasih sang pria begitu besar. Cinta itu ia tumbuhkan dengan memberikan perhatian yang begitu mendalam terhadap sang kekasih. Ia tidak hanya mencintai sang kekasih itu secara umum. Ia mencintainya secara spesial. Cinta seperti itu menumbuhkan cinta dalam diri kekasihnya pula. Karenanya di saat ia harus memberikan pengampunan, ia langsung mengampuni kekasihnya. Ia tidak menunggu lama-lama lagi. Yang ia inginkan adalah bahagia dalam diri sang kekasih.

Pertanyaan bagi kita yang hidup di zaman sekarang adalah mampukah kita mengasihi secara spesial? Atau kita hanya mencintai sesama pada hal-hal yang tampak? Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menumbuhkan cinta dalam hati kita. Dengan cinta itu, kita memberikan dukungan bagi hidup sesama kita. Kita berusaha untuk membahagiakan sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

910

19 Juni 2012

Menumbuhkan Cinta yang Tulus

Apa yang akan Anda lakukan kalau orang yang sangat Anda cintai mengalami duka dan derita dalam hidupnya? Anda meninggalkannya sendirian, atau anda mengorbankan hidup Anda bagi dia?

Robertson MCQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel. Sang istri menderita sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak. Muriel seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu.

Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Suatu kali Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel. Di luar kesadarannya, Muriel malah menyerahkan air seninya sendiri kepada suaminya. Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya untuk menghentikannya.

Setelah itu, Robertson menyesal. "Apa gunanya saya memukulnya? Walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah. Namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, Tuhan," ia berkata dalam hatinya.

Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya. Robertson dan Muriel menikah pada 14 Februari 1948. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel. Lantas ia menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Pada malam harinya menjelang tidur, ia mencium dan menggenggam tangan Muriel.

Pada 14 Februari 1995, Robertson memandangi istrinya yang tak berdaya. Ia berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya. Jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam. Biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku.... sayangku...". Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

Sahabat, cinta yang tulus tetap tumbuh dalam hidup sehari-hari. Tidak peduli terhadap berbagai tantangan yang ada. Sakit dan derita bukan menjadi halangan bagi tumbuhnya cinta yang tulus. Justru pada saat-saat sakit dan derita semestinya cinta itu semakin hidup dalam diri setiap orang. Mesti ada solidaritas yang terus tumbuh di saat-saat sakit dan derita menerpa hidup seseorang.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada saat-saat sakit dan derita justru orang membutuhkan cinta yang lebih tulus dan mendalam. Perhatian menjadi suatu bukti tetap hidupnya cinta yang tulus itu. Robertson rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi demi cintanya kepada sang istri yang tak berdaya di atas tempat tidur. Namun pengorbanan itu tanpa sia-sia. Ia mendapatkan balasannya dengan sapaan mesra dari sang istri yang bertahun-tahun lamanya tak terdengar. Itulah sukacita. Itulah damai yang menggayut di hati, meski kata-kata itu sangat minim.

Sebagai orang beriman, kita juga dipanggil untuk senantiasa menumbuhkan cinta yang tulus dalam hati dan hidup kita. Cinta yang tulus itu mesti berbuah. Buahnya adalah kepedulian dan perhatian bagi yang lemah dan tak berdaya. Di saat-saat susah menyelimuti hidup kita, kita butuh cinta yang tulus dari sesama.

Mari kita tumbuhkan cinta yang tulus dalam hidup kita, agar damai menjadi bagian dari hidup kita. Untuk itu, kita butuh memiliki hati yang peka terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Cinta yang tulus dapat tumbuh saat orang membuka hatinya lebar-lebar bagi hidup sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

909

18 Juni 2012

Berserah Diri kepada Tuhan yang Mahabaik

Apa yang akan Anda lakukan di saat Anda mengalami kesulitan dalam hidup? Anda berhenti berjuang? Atau Anda memohon bantuan Tuhan?

Ada seorang yang mengaku atheis. Ia tidak percaya sama sekali hadirnya Tuhan dalam hidupnya. Banyak orang meyakinkan dirinya bahwa Tuhan sungguh-sungguh hadir dalam hidup manusia. Namun orang itu sama sekali tidak mau percaya. Orang itu tetap pada pendiriannya bahwa Tuhan tidak ada. Suatu hari orang itu sedang berjalan di tengah hutan.

Sambil menikmati pemadangan di sekelilingnya, ia berkata, “Wah! Sungguh indah pohon-pohon, sungai dan binatang-binatang di sini!”

Saat sedang berjalan di pinggiran sungai, tiba-tiba ia mendengar suara dari balik semak. Seekor beruang besar setinggi dua meter muncul menyerangnya! Dia berusaha lari, tapi malah tersandung dan tersungkur ke tanah. Pada waktu ia berusaha untuk bangun, ia melihat beruang itu sudah tepat di atasnya. Cakarnya sudah siap untuk merobek-robeknya.

Orang atheis itu kontan saja menjerit, “Oh Tuhaaannn!”

Mendadak waktu berhenti. Beruang itu menjadi diam, aliran sungai terhenti dan seisi hutan menjadi sepi. Seberkas sinar muncul menerpa. Suara dari langit terdengar, “Selama ini kamu menentang-Ku. Kamu menghasut semua orang bahwa Aku ini tidak ada. Kamu menyangkal semua ciptaan-Ku. Berani-beraninya kamu menyebut nama-Ku untuk minta tolong! Haruskah Aku menolong kamu?"

Sahabat, banyak orang mencari Tuhan, ketika mengalami kesulitan dalam hidup. Di saat mereka mengalami sukacita dan bahagia, Tuhan seolah-olah tidak ada. Tuhan tampak begitu jauh. Tuhan tidak mereka anggap hadir dalam hidup mereka. Karena itu, Tuhan mereka letakkan pada nomor terakhir dalam hidup mereka.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa tidak mengakui hadirnya Tuhan hanya membuat hidup ini tidak bahagia. Jauh dari Tuhan hanya membuat orang mengalami hidup yang tidak bermakna. Orang tidak berdaya dalam hidupnya. Kesulitan yang dihadapi itu menjadi semakin berat. Orang mengalami jalan buntu dalam hidup ini.

Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa hadir dalam hidup manusia. Tuhan selalu bekerja tanpa kelihatan. Dalam keheningan, Tuhan terus-menerus menyelamatkan ciptaan-Nya. Tuhan selalu mengulurkan bantuan dan belaskasihan-Nya bagi semua orang. Bahkan ketika manusia tidak memohon bantuan dari padaNya.

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh orang beriman adalah senantiasa menyerahkan seluruh hidup ke dalam peenyelenggaraan Tuhan. Kita mesti yakin bahwa hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan kepada kita. Hanya Tuhan yang menjadi sumber kehidupan kita. Di saat kesulitan dan tantangan menghadang perjalanan hidup kita, kita mesti berseru kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ


908

17 Juni 2012

Berdoa bagi Kebaikan Semua Orang

Buah dari doa adalah kedalaman iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan, namun agar dapat berdoa kita membutuhkan keheningan hati. Sedangkan jiwa memerlukan waktu untuk beranjak dan berdoa untuk menggunakan mulut, untuk menggunakan mata, serta menggunakan seluruh tubuh. Kalau kita tidak memiliki keheningan itu, kita tidak tahu bagaimana harus berdoa.

Kali ini kita mau menggunakan kelima jari kita untuk membantu kita menghayati doa-doa kita.

Pertama, Jari Jempol. Jari ini adalah jari yang paling dekat dengan diri kita. Ketika kita sedang melipat tangan dan berdoa bagi orang-orang yang sangat akrab dengan kita. Sebutkan nama-nama mereka yang kita kenal dengan baik. Mendoakan orang-orang yang kita kasihi adalah suatu pekerjaan yang manis.

Kedua, Jari Telunjuk. Jari ini biasa kita gunakan untuk menunjuk. Namun dalam doa kita tidak meminta Tuhan untuk mencelakakan orang yang kita tunjuk. Tetapi dengan menggunakan jari telunjuk, kita mendoakan mereka yang mengajar. Kita mendoakan guru-guru kita. Kita mendoakan orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan. Tujuannya agar mereka mampu menghasilkan lulusan-lulusan yang bermutu. Dengan demikian, anak-anak bangsa ini sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang baik. Kita mendoakan para pendidik itu agar mereka dapat menunjukkan arah yang tepat bagi para peserta didik.

Ketiga, Jari Tengah. Ini jari yang paling tinggi, berarti kita harus ingat pada para pemimpin bangsa. Kita mendoakan presiden hingga para pejabat di bawahnya. Kita mendoakan para pemimpin organisasi sosial maupun bisnis. Mereka sering mempengaruhi bangsa kita dan membimbing opini publik. Mereka sangat butuh bantuan dari-Nya. Kita berdoa agar mereka memimpin bangsa ini dengan jujur dan setulus hati.

Keempat, Jari Manis. Jari keempat ini jari yang paling lemah. Guru piano pun biasanya cukup kebingungan ketika berhadapan dengan si jari yang lemah ini. Karena itu, mari kita doakan saudara-saudari kita yang lemah, yang sedang terkena musibah. Kita doakan bagi mereka yang dianggap sebagai sampah masyarakat. Kita doakan mereka sangat membutuhkan bantuan dan doa dari kita.

Kelima, Jari Kelingking. Jari terakhir ini paling kecil di antara jari-jari manusia. Inilah yang menggambarkan sikap kita yang seharusnya rendah hati saat berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Kita berdoa bagi diri kita sendiri, agar kita diberi kebijaksanaan dalam hidup. Dengan demikian, hidup ini menjadi indah bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

907

16 Juni 2012

Membangun Kesetiaan Sejati dalam hidup Nyata

Apa yang akan Anda lakukan untuk mempertahankan kesetiaan Anda? Tentu ada banyak cara.

Ada seekor anjing yang setia menemani seeorang anak berusia 4 tahun di sebuah stasiun di kawasan penghasil anggur. Suatu ketika anak kecil itu tersesat saat ia berjalan bersama anjingnya. Anak itu sangat ketakutan, apalagi malam yang dingin begitu gelap.

Apa yang ia lakukan? Anak kecil itu berlindung di balik semak-semak. Ia juga memeluk anjingnya itu erat-erat, agar terhindar dari dinginnya malam itu. Keesokan harinya terjadi heboh atas diri anak itu. Orangtuanya mesti mencarinya ke mana-mana. Pihak polisi mengerahkan helikopter untuk mencari dirinya. Sementara anak itu hanya bisa mendengar suara helikopter. Dengan anjingnya, ia berjalan mencari rumah terdekat.

Setelah lama mencari, anak itu ditemukan bersama anjingnya. Anjing itu sangat setia kepada anak kecil itu. Ia tidak meninggalkan anak itu berjuang sendirian. Bahkan saat mendekati sebuah rumah, anjing itu menggonggong keras-keras. Dengan demikian, tuan rumah itu keluar dan menemukan anak yang dicari keluarganya bersama anjing itu.

Anak itu mensyukuri kesetiaan anjing itu. Ia kemudian memberi hadiah makanan yang paling enak bagi anjing itu. “Anjing ini sudah menyelamatkan saya dari bahaya di malam yang gelap. Saya terbebas dari rasa dingin di malam hari. Sungguh baik dan setia anjing ini,” kata anak itu.

Sahabat, kesetiaan sepertinya mulai memudar dalam hidup manusia. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam hidup ini terjadi ketidaksetiaan. Dalam hidup berkeluarga, misalnya, ada suami yang mengingkari kesetiaannya. Padahal saat menikah, ia berjanji setia sehidup semati dengan istrinya. Atau ada juga istri yang selingkuh dengan pria idaman lain. Akibatnya, kehidupan rumah tangga menjadi berantakan. Korbannya adalah anak-anak yang tidak mendapatkan cinta yang sejati dari orangtuanya.

Kisah di atas mau memberikan kepada kita suatu motivasi untuk tetap saling setia dalam hidup ini. Kesetiaan memberikan kedamaian dalam hidup. Kesetiaan mampu menyelamatkan kehidupan bersama. Anjing yang setia itu mampu menyelamatkan anak itu dari rasa dingin di malam hari. Anak itu boleh merasakan kehangatan. Anak itu boleh menemukan rasa damai dan tenteram di malam yang gelap gulita.

Membangun kesetiaan yang sejati tidak gampang. Ada banyak godaan terhadap seseorang untuk mengingkari kesetiaan yang telah diikrarkan. Namun orang mesti tetap disadarkan bahwa kesetiaan itu suatu keutamaan yang mesti dipertahankan dalam hidup ini. Hanya melalui kesetiaan yang sejati orang mampu membangun hidup yang lebih baik. Hanya melalui kesetiaan itu orang mampu membangun relasi yang saling menguntungkan dan membahagiakan.

Orang beriman mesti berusaha terus-menerus untuk mempertahankan kesetiaan sejati dalam hidup ini. Untuk itu, kesetiaan sejati mesti mampu bertahan sekalipun ada banyak mengalami rintangan dan tantangan. Kita mesti tetap berjuang, karena kesetiaan merupakan keutamaan yang membawa kebahagiaan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

906