Pages

31 Agustus 2011

Memelihara Kesehatan dengan Baik




Kehidupan mesti sejak dini dilindungi. Kehidupan itu mesti dipelihara baik-baik dan penuh tanggung jawab. Mengapa? Karena kehidupan ini telah dianugerahkan kepada manusia secara cuma-cuma. Tuhan telah menitipkan hidup ini kepada kita menjadi tanggungjawab kita untuk kita pelihara.

Soalnya, banyak orang kurang peduli terhadap kehidupan. Banyak orang merasa bahwa hidup ini milik pribadinya. Akibatnya, orang kurang mau memelihara kehidupannya. Orang merasa tidak perlu mempertanggungjawabkan hidup ini kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup.

Tahun lalu, di Italia ada sebuah kampanye baru tentang bahaya alkohol selama kehamilan. Kampanyenya agak ekstrim. Negeri Pizza itu meluncurkan kampanye penyadaran berupa poster bergambar janin di dalam gelas koktail. Kampanye baru itu memperlihatkan janin dalam posisi meringkuk di dasar gelas, di bawah es batu dan sepotong irisan jeruk. Iklan kampanye itu membawa pesan sederhana, yaitu ”Ketika seorang ibu minum alkohol, bayinya pun akan minum alkohol juga.”

Peringatan kesehatan itu diluncurkan di wilayah timur laut Veneto. Iklan itu tampak di bus-bus, di papan iklan, serta toilet perempuan di bar, restoran dan klub malam. Claudio Dario, direktur jenderal otoritas kesehatan setempat, berkata, ”Punya bayi merupakan salah satu tahapan paling penting dalam hidup. Hal ini merupakan hal fundamental bagi calon ibu dan keluarga mereka untuk mengetahui bagaimana menghindari risiko yang dapat membahayakan kesehatan bayi yang belum lahir.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang serba bebas. Orang ingin menentukan kehendaknya sendiri. Orang ingin memutuskan sendiri tentang kehidupannya. Sayangnya, sering keputusan seseorang itu tidak selamanya menguntungkan bagi dirinya sendiri. Orang memutuskan untuk merokok, misalnya. Sebenarnya orang sudah tahu bahwa merokok itu mengancam kesehatan dirinya. Apalagi peringatan tentang bahaya rokok itu sudah ditulis di setiap bungkus rokok. Namun orang masih nekat.

Atau orang memutuskan untuk menenggak minuman keras sebanyak-banyaknya. Padahal orang sudah tahu bahwa setelah minum minuman keras orang akan mabuk. Lebih dari itu, kesehatannya pun terganggu. Kalau yang minum alkohol itu seorang ibu yang sedang hamil, janin yang ada di dalam kandungannya terancam.

Karena itu, kampanye yang dibuat oleh pihak pemerintah di Italia sungguh tepat. Kampanye itu mengingatkan manusia akan betapa berharganya kehidupan itu. Kalau kehidupan itu hilang, manusia tidak punya arti apa-apa lagi. Berakhirlah hidup manusia itu. Kehidupan manusia hanyalah tinggal kenangan.

Sebagai orang beriman, kita sadar bahwa hidup yang kita jalani ini adalah milik Tuhan. Kita diberi tanggung jawab untuk mempertahankan hidup ini dengan berbagai cara. Kita mesti memperjuangkannya. Salah satu caranya adalah dengan memelihara kesehatan diri kita sebaik-baiknya.

Kita ingin agar tubuh kita senantiasa terpelihara dengan baik dengan menghindari konsumsi hal-hal yang mengancam kesehatan kita. Mari kita memelihara kesehatan tubuh kita. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup ini dengan lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


767

30 Agustus 2011

Segera Atasi Persoalan-persoalan Kecil



Di tahun 1909, Edward Payson Weston yang berusia 72 tahun membuat sebuah catatan sensasional. Ia melakukan perjalanan super jauh, yaitu sepanjang 4000 mil dari New York hingga San Fransisco, Amerika Serikat. Ia tidak menggunakan kendaraan. Ia hanya mengandalkan kedua kakinya.

Ia berjalan dan berjalan. Ia tidak mau berkeluh kesah atas jerih payah yang dialaminya. Mengapa? Karena secara pribadi ia menghendaki perjalanan itu. Ia mesti berani menerima setiap resiko yang dialaminya. Banyak pengalaman suka dan duka yang dialami oleh Edward Payson Weston. Banyak rintangan dan tantangan yang mesti ia hadapi. Namun ia tetap berjalan hingga tujuan.

Perjalanan super jauh itu menggegerkan dunia. Banyak orang ingin mendengarkan komentar Edward tentang perjalanan itu. Setelah berhasil mencapai finish dari perjalanan itu, wartawan mewawancarainya. Kepadanya ditanyakan tentang tantangan terberat yang dihadapinya dalam menempuh perjalanan super jauh itu.

Kepada mereka, ia berkata,”Saya sempat hampir menyerah dan ingin menyudahi perjalanan ini. Saya menyerah bukan karena lelah, panas matahari, atau karena jalanan yang terjal dan berbatu. Namun, itu karena butiran pasir yang masuk ke dalam sepatu saya. Hal itu sangat mengganggu dan membuat saya tersiksa.”

Sahabat, sering kita merasa bahwa hal-hal besar menjadi penghadang perjalanan hidup kita. Karena itu, kita sering menghindari resiko-resiko besar dalam hidup ini. Namun ternyata tidak selamanya hal-hal besar yang dapat menghadang perjalanan hidup kita.

Kisah sepatu Edward yang kemasukkan pasir dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap berhati-hati dalam hidup ini. Bukan hanya kesalahan-kesalahan dalam hal-hal besar yang memunahkan kesuksesan hidup kita. Bisa saja persoalan-persoalan kecil dapat sangat mengganggu kesuksesan hidup kita. Bahkan persoalan-persoalan kecil itu bisa menghancurkan kesuksesan yang telah kita rintis.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena kita menganggap remeh persoalan-persoalan kecil. Kita anggap enteng. Kita berkata, “Ah, itu kan soal kecil. Tidak usah ditanggapi.”

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita mesti tetap peka terhadap setiap persoalan yang ada di sekitar kita. Kita tidak perlu anggap enteng persoalan-persoalan yang menghadang perjalanan hidup kita. Kalau ada persoalan yang muncul dalam perjalanan hidup kita, sebaiknya kita segera tangani. Jangan kita biarkan persoalan-persoalan itu tetap hidup dalam kehidupan kita.

Untuk itu, kita dituntut untuk mencermati setiap persoalan yang kita hadapi. Kita selidiki sebab musababnya. Kalau kita tidak bisa selesaikan persoalan itu sendiri, kita minta nasihat dan bantuan dari orang lain yang lebih mampu. Dengan demikian, kesuksesan hidup yang kita bangun dapat berjalan dengan baik. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk menggembirakan hati kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

29 Agustus 2011

Pentingnya Hadirnya Sesama dalam Hidup


Donald Trump seorang pebisnis sukses. Ia salah seorang milioner. Namun dalam mengelola usahanya, Donald Trump tidak bekerja sendirian. Ia membutuhkan orang-orang lain untuk meretas sukses dalam bisnis-bisnisnya. Mengapa? Karena baginya, ia tidak bisa menjalankan usaha-usaha bisnisnya itu sendirian. Ia butuh partner. Ia butuh sesamanya untuk melakukan usaha-usaha itu. Ia berkata, "Saya tidak mengetahui semuanya. Saya membutuhkan nasihat dari orang lain yang ahli di bidangnya.”

Dari Barbara Berger, presiden Ford City Market, Donald mendapatkan nasihat yang indah, yaitu ”Matahari tidak bersinar selamanya.” Artinya, ia mesti menjalin kerjasama dengan orang lain dalam berusaha. Sedangkan Ray Kroc, pendiri McDonald, memperkuat Donald dengan ilmu bisnis. Ray Kroc mengatakan bahwa semua pebisnis harus berjuang untuk memuaskan konsumen. Mengapa? Karena konsumen adalah atasan kita, yang memberikan pemasukan dan keuntungan bagi perusahaan kita. Temannya yang lain, yaitu Adam M. Aron, Chairman Vail Resort, raja property itu, Donald mendapat nasihat untuk berhubungan dengan orang baik dalam hidup ini. Donald Trump pun menyimpulkan bahwa adalah suatu kebodohan jika Anda menggantungkan sepenuhnya untuk belajar dari kesalahan Anda sendiri, karena Anda akan banyak membuat kesalahan bahkan mungkin kesalahan yang fatal.”

Sahabat, ada banyak hal mesti kita lakukan dalam hidup ini. Namun kita tidak punya kemampuan di semua bidang kehidupan. Karena itu, kita butuh orang lain. Kita butuh orang yang lebih ahli dan berpengalaman dari diri kita. Kita libatkan mereka dalam pekerjaan-pekerjaan kita. Dengan demikian, apa yang kita usahakan membawa hasil yang memadai bagi banyak orang. Soalnya adalah banyak orang merasa melakukan apa saja. Banyak orang merasa sombong. Mereka merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakukan itu cukup dikerjakan sendiri. Padahal mereka tidak bisa buat apa-apa, kalau tidak dibantu oleh orang lain yang lebih ahli atau lebih mampu. Inilah kesombongan manusiawi. Suatu kesombongan yang semestinya dibuang dari kehidupan bersama. Kalau orang mau mengalami kesuksesan dalam hidupnya, ia mesti rela meninggalkan kesombongan dirinya. Ia berani meminta nasihat kepada orang lain yang lebih ahli atau lebih mampu daripada dirinya. Artinya, orang seperti ini terbuka terhadap kemampuan dan kelebihan orang lain. Ia mau mengatakan bahwa dalam bidang-bidang tertentu ia tidak mampu. Karena itu, ia meminta bantuan dari orang lain. Ia meminta dukungan dari orang lain, agar berhasil dalam usaha-usahanya. Kisah pengusaha besar tadi memberi inspirasi bagi kita untuk terus maju dalam kehidupan kita. Kemajuan itu mesti kita raih bersama orang lain, karena kita memiliki keterbatasan diri. Untuk itu, kita mesti berani membuka hati kepada orang lain. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

765

22 Agustus 2011

Mengasihi Sesama dengan Segenap Diri


Suatu hari seorang pemuda bingung. Kepadanya diberi pertanyaan, ”Siapakah sesamamu?” Ia tidak tahu harus menjawab apa. Soalnya, bagi pemuda itu, sesama berarti orang yang dekat dengannya. Sesama itu orang yang selalu membantu dirinya di kala ia mengalami kesulitan-kesulitan.

Ia berkata dalam hati, ”Saya tidak bisa menjawab dengan tepat siapa sesama bagi saya. Yang saya tahu adalah sesama itu orang yang dekat dengan saya. Orang yang selalu peduli terhadap hidup saya. Yang lain-lain, bukan sesama saya.”

Karena itu, pemuda itu hanya mengasihi orang-orang yang dekat dengan dirinya. Ia tidak bisa menaruh belas kasih kepada mereka yang jauh dari dirinya. Bahkan ia cenderung menaruh curiga terhadap orang-orang yang jauh dari dirinya. Ia kurang bisa menerima kehadiran mereka. Akibatnya, tumbuhlah kebencian dalam dirinya terhadap mereka yang jauh dari dirinya.

Namun pemuda itu tidak tinggal diam dengan kondisi dirinya. Ia mulai belajar dari sesamanya yang dekat dengan dirinya bahwa setiap orang adalah sesamanya. Setiap orang berkehendak baik itu sesamanya. Ia pun bertumbuh dalam pandangan yang lebih luas tentang sesamanya. Ia memurnikan cara pandangnya tentang kehadiran sesamanya dalam hidupnya. Ternyata sesama itu bukan hanya orang-orang yang dekat dengannya. Orang-orang jauh dari dirinya pun adalah sesamanya.

Sahabat, manusia adalah makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendirian. Manusia selalu hidup dengan orang lain. Karena itu, orang mesti membangun hidupnya dengan orang lain. Orang mesti berani keluar dari dirinya sendiri untuk membangun relasi yang lebih dalam dengan sesamanya.

Mengapa orang jatuh ke dalam pandangan yang sempit tentang sesamanya? Karena orang hidup dalam keterkungkungan dengan dirinya sendiri. Orang hidup seperti katak dalam tempurung. Pandangan hidupnya hanya seluas dirinya sendiri. Tentu saja cara pandang seperti ini berbahaya bagi kehidupan. Manusia mesti menyadari bahwa ia bukan hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia juga hidup bagi orang lain.

Karena itu, orang mesti memurnikan cara pandangnya tentang kehadiran sesama dalam hidupnya. Kisah tadi membantu kita untuk menyadari diri bahwa kita hidup juga untuk orang lain. Kita adalah makhluk sosial yang hidup juga bagi sesama kita. Untuk itu, kita mesti mengatasi egoisme yang sering menguasai diri kita.

Sebagai orang beriman, kita diberi semangat oleh Tuhan sendiri. Tuhan mencintai semua ciptaanNya. Tuhan memelihara kehidupan manusia. Tuhan memberikan sesama kepada kita untuk kita kasihi, bukan hanya untuk keuntungan diri kita sendiri. Tuhan menghadiahkan sesama kepada kita itu untuk kita kembangkan, agar sesama juga bertumbuh dengan baik.

Mari kita berusaha untuk menerima kehadiran sesama dengan mengasihi mereka apa adanya. Ketika kita mengasihi sesama, kita juga mengasihi Sang Pencipta yang tidak kita lihat. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ
Mengisi Renungan Malam di Sonora Palembang

763

21 Agustus 2011

Bangun Relasi yang dalam dengan Tuhan lewat Doa


Setiap pagi, setelah sarapan, seorang gadis selalu masuk ke dalam kamarnya yang sunyi. Di sana ia memasrahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia berdoa, agar hidupnya damai. Ia berdoa, agar Tuhan memberikan kebahagiaan dalam hidupnya.

Dalam keheningan itu, ia berdoa, ”Tuhan, bantu aku menjadi orang yang peduli terhadap kehidupan. Ubahlah hatiku yang suam-suam kuku, agar hidup imanku bertumbuh dan berkembang lebih baik.”

Gadis itu menemukan ketenangan dalam hidupnya hari itu. Ia keluar dari kamarnya dengan senyum manis yang merekah. Ia tidak perlu lagi tenggelam dalam dukacita batinnya. Ia boleh bergembira, karena mengalami bahwa Tuhan begitu baik kepadanya. Tuhan senantiasa menyertai hidupnya. Tuhan tidak meninggalkannya berjuang sendiri.

Hari itu, gadis manis itu melaksanakan tugas-tugas kantornya dengan baik. Sebagai pegawai di kantornya, ia pun kreatif dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Ia tidak hanya terpaku pada tugas-tugas rutin. Ia sungguh-sungguh mengembangkan diri dan tugas-tugasnya dengan penuh kreativitas. Hasilnya? Perusahaan di mana ia mengabdi berkembang dengan pesat.

Gadis itu tetap setia pada kebiasaannya. Sebelum melakukan kegiatan-kegiatannya, ia berdoa kepada Tuhan. Dengan berdoa itu, ia mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia yakin, hanya Tuhan yang mampu membahagiakan hidupnya. Ia yakin, hanya Tuhan yang memberikan perlindungan bagi dirinya.

Sahabat, pernahkah Anda mengalami doa begitu penting bagi hidup Anda? Atau doa Anda hanyalah sebuah acara rutin dan kewajiban belaka dari manusia yang beriman? Atau Anda berdoa karena Anda membutuhkan relasi yang lebih baik dengan Tuhan yang Anda imani?

Kisah gadis itu menunjukkan kepada kita bahwa ia tidak hanya berdoa karena rutinitasnya sebagai orang beriman. Ia berdoa, karena ia ingin relasinya dengan Tuhan terjalin dengan baik. Ia berdoa, karena ia ingin menyerahkan dirinya terus-menerus kepada Tuhan. Dengan demikian, Tuhan saja yang menjadi penguasa atas dirinya. Bukan kekuatan-kekuatan lain yang justru menjerumuskan dirinya ke dalam kegelapan hidup.

Dari kisah di atas kita dapat mengatakan bahwa doa mampu mengubah cara hidup seseorang. Gadis itu menjadi orang yang bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ia menjadi lebih kreatif berkat doa yang dipanjatkannya kepada Tuhan. Dalam doa, orang mempersatukan diri dengan Tuhan yang diimaninya. Dalam doa, orang dapat membangun suatu relasi yang lebih baik dan mendalam dengan Tuhan.

Hasilnya adalah orang mengalami bahwa hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup yang dijalani ini bukan hanya sekedar suatu rutinitas. Kalau orang bekerja, orang menjadi lebih kreatif. Orang tidak berhenti pada menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Melalui doa, orang mampu melihat kebaikan Tuhan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar doa kita memiliki daya guna bagi hidup kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bermakna. Kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



762

20 Agustus 2011

Menjadi Lebih Baik


Manusia ingin hidupnya normal. Manusia ingin hidup sesuai dengan kepribadiannya yang sesungguhnya. Karena itu, manusia tidak ingin memerankan diri orang lain. Ia ingin tampil seperti apa adanya. Namun kadang-kadang hal ini sulit terjadi. Mengapa? Karena orang ingin bermain peran. Orang juga ingin memerankan diri orang lain. Akibatnya, yang tampil bukan dirinya sendiri. Yang tampil adalah diri orang lain.

Cate Blanchett berharap bisa jadi sosok yang sedikit lebih misterius. Aktris berusia 42 tahun yang main di film Robin Hood ini mulai merasa kuatir kehidupan pribadinya diekspos terlalu banyak. Akibatnya, penggemarnya kesulitan membedakan antara dia sebagai pribadi dan karakter yang diperankannya. Dia lebih senang dikenal karena pekerjaannya.

Ia berkata, ”Secara pribadi, aku senang menjadi ’bunglon’. Bisa memainkan banyak peran. Tapi aku mulai bertanya-tanya, jangan-jangan aku sudah diekspos terlalu banyak sebagai Cate Blanchett, bukan karakter yang kuperankan.”

Cate Blanchett pernah meraih penghargaan tertinggi di dunia film, yaitu piala Oscar. Ibu tiga orang anak ini berkata, ”Memang menyenangkan bicara tentang menjadi seorang ibu, tentang suamiku, dan hal pribadi lainnya. Tapi, aku lebih senang orang fokus pada pekerjaanku. Aku tak mau menjadi apa yang kusebut sebagai penampil kepribadian dan berharap kalian melihat diriku, bukan karakterku di layar lebar.”

Sahabat, tentu saja setiap dari kita ingin memerankan diri kita sendiri. Kita ingin menjadi diri kita sandiri. Kita tidak ingin memerankan kepribadian orang lain. Kita tidak ingin memiliki kepribadian ganda.

Karena itu, apa yang mesti kita buat? Yang mesti kita buat adalah pertama-tama kita menerima diri kita apa adanya. Kita tidak boleh menolak kepribadian yang sudah kita miliki itu. Dengan kepribadian yang kita miliki itu, kita berusaha untuk mengembangkannya semaksimal mungkin. Kita kembangkan diri kita menjadi orang yang kuat bertahan dalam perubahan-perubahan zaman. Kita tahu bahwa arus zaman dapat menjadi tantangan bagi kita dalam mengekslporasi kepribadian kita.

Hal berikutnya yang perlu kita lakukan adalah kita tidak perlu tergoda untuk menjadi diri orang lain. Belum tentu kepribadian orang lain yang kita lihat baik itu cocok dengan diri kita. Bisa saja hal itu menjadi jebakan bagi kita, sehingga kita tidak dapat bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik.

Yang mesti kita lakukan adalah kita berusaha untuk menjadi lebih baik. Ini pangilan semua orang. Dengan cara-cara yang baik yang kita tempuh, kita ingin menjadi lebih baik lagi dalam perjalanan hidup kita. Kita tahu bahwa usaha untuk menjadi lebih baik itu tidak gampang. Ada banyak tantangan dan rintangan. Ada banyak jalan berliku yang mesti kita lewati.

Sebagai orang beriman, kita berusaha bersama Tuhan untuk memiliki kepribadian yang lebik. Sambil berusaha, kita mohon bantuan Tuhan, agar kita dibimbing untuk menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


761

19 Agustus 2011

Berusaha Belaku Benar dan Jujur


Menjadi kaya raya memang tak dilarang. Namun, kalau mendadak jadi paling kaya, ya, itu yang bikin orang tercengang. Pemerintah pun jadi curiga. Ini kisah seorang terkaya di China yang harus mendekam di balik jeruji.

Namanya Huang Guangyu. Beberapa waktu lalu duitnya yang sejumlah 6,3 milyar dollar Amerika Serikat itu dituduh merupakan hasil manipulasi. Huang ikut bermain di pasar saham. Soalnya adalah cara yang dilakukannya adalah ilegal. Untuk dapat selalu menang, ia sering menggeluarkan uang suap.

Huang adalah bos besar grup Gome yang merupakan toko elektronik terbesar kedua di China. Akibat perbuatannya itu, pihak pemerintah menangkap Huang. Dugaannya adalah ia memanipulasi dua perusahaan masuk bursa saham, yakni Snlian Comersial Co dan Beijing Centergate Techonolgies Co.

Menurut hakim yang mengadilinya, Huang terbukti bersalah melakukan penyuapan pajak, bisnis saham ilegal. Ia juga memanipulasi bursa saham. Karena itu, selain masuk bui, ia juga harus membayar denda 600 juta yuan atau setara dengan 88 juta dollar AS.

Huang dituduh menawarkan uang suap sebesar 4,56 juta yuan atau sekitar 667.000 dollar AS kepada sejumlah pejabat. Pengadilan atas Huang merupakan kasus pertama terhadap orang kaya di China dan sekaligus mempresentasikan suatu pengadilan terhadap dunia swasta. Hal itu menunjukkan bahwa siapa pun warga China yang melakukan kejahatan, termasuk orang penting, harus diperlakukan sama di muka hukum.

Sahabat, sudahkah Anda mendapatkan perlakuan yang sama di muka hukum? Bukankah berbagai persoalan yang terjadi di negeri ini, karena yang kuat selalu menindas yang lemah? Bukankah manipulasi dan korupsi masih menjadi momok yang menakutkan di negeri ini?

Beberapa waktu lalu kita menyaksikan seorang nenek tua renta mesti mendekam di penjara lantaran mencuri beberapa buah kakao. Ia harus mengalami penderitaan atas apa yang dialaminya. Namun bagaimana dengan mereka yang telah menilap uang rakyat miliaran rupiah? Sudahkah mereka mendapatkan perlakuan hukum yang sama dengan nenek itu?

Kalau kita merefleksikan lebih dalam, kita mesti mengakui bahwa di negeri ini keadilan masih jauh dari harapan masyarakat. Akibatnya, sering kita saksikan ada penghakiman massa terhadap penjahat dan kejahatan yang dilakukan. Masyarakat mengambil inisiatif sendiri untuk menuntut kesamaan hak di muka hukum.

Kiranya kisah tadi memberi inspirasi bagi kita semua untuk berlaku benar dan jujur. Cara-cara yang melawan hukum mesti disingkirkan oleh setiap warga negara, agar kehidupan bersama menjadi lebih baik. Kalau kita ingin kesejahteraan terjadi dalam kehidupan kita, maka kita harus meninggalkan cara-cara yang melanggar hukum. Dengan demikian, hidup kita menjadi damai dan bahagia. Kita tidak perlu diseret ke meja hijau untuk diadili. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


760

18 Agustus 2011

Mengejar Kesuksesan




Namanya Sichiro Honda. Ia bukan berasal dari keluarga kaya. Ia berasal dari keluarga miskin. Sebenarnya kondisi seperti itu sudah menjadi kesimpulan bahwa ia akan tetap menjadi orang miskin. Apalagi prestasinya di sekolah terhitung sangat rendah. Ia tidak suka membaca. Ia termasuk anak yang nakal dan suka bolos. Akibatnya, hasil ulangannya selalu buruk.

Namun ketika duduk di kelas lima, bakat Soichiro dalam bidang sains mulai terlihat. Bahkan setiap kali pengajarnya memberikan pertanyaan, dengan mudah ia menjawab pertanyaan itu. Sayang, Soichiro hanya mampu menikmati bangku pendidikan hingga sekolah menengah pertama. Namun ia tidak mau menyesali nasibnya itu. Ia lalu memutuskan untuk melamar pekerjaan dan diterima sebagai montir.

Tentang pekerjaannya ini, Soichiro Honda berkata., “Sewaktu saya bekerja sebagai pegawai rendahan (montir), saat itu benar-benar merupakan ujian ketabahan yang paling berat, yang pernah dihidupi seumur hidup saya. Namun di masa-masa setelah itu saya tidak takut lagi menghadapi rintangan apa pun berkat ketabahan saya selama menjdai kacung.”

Ketabahan, ketekunan dan kerja kerasnya itu pun membuahkan hasil. Soichiro menjadi bos industri motor dan mobil Jepang bermerek terkenal ‘Honda’.

Sahabat, kisah sukses Soichiro Honda mungkin satu dari sekian juta keberhasilan manusia. Banyak orang berdecak kagum mendengar kisah sukses Soichiro Honda ini. Bagaimana mungkin seorang montir rendahan bisa menjadi seorang taipan otomotif? Apalagi mereka otomotif yang dimilikinya bukan sembarangan. Namanya sendiri telah ia bubuhkan untuk merek otomotif tersebut, yaitu Honda.

Mungkin banyak orang berpikir bahwa Honda yang sekarang menjadi salah satu kendaraan yang merajai dunia itu tumbuh dari kebesaran. Ternyata tidak. Honda itu tumbuh dari seorang bernama Soichiro. Ia membangunnya dari kerja keras penuh ketekunan dan kesabaran.

Kisah ini mau mengatakan kepada kita bahwa kesuksesan tidak diraih dengan hanya bermimpi. Kesuksesan diraih melalui kerja keras. Orang mesti melewati berbagai macam rintangan dan tantangan untuk meraih sukses. Orang mesti membangun kesuksesan itu dari berkali-kali jatuh dan bangun kembali.

Karena itu, orang mesti berjuang untuk meraih kesuksesan. Orang tidak perlu menunggu kesuksesan itu mendatanginya. Tetapi orang mesti mengejar kesuksesan itu. Caranya adalah dengan bekerja keras dengan penuh ketabahan. Ketika orang mengalami kegagalan dalam usahanya, orang tidak perlu meratapinya. Yang mesti dilakukan adalah orang mesti bangun kembali dengan menganalisa kelemahan-kelemahannya. Orang mesti berusaha menemukan titik-titik kegagalan itu untuk membuat strategi-strategi baru.

Sebagai orang beriman, usaha kita mengejar kesuksesan dan kebahagiaan tentu selalu bersama Tuhan. Kita yakin bahwa Tuhan dapat membantu kita dalam usaha-usaha kita merebut kesuksesan itu. Karena itu, mari kita sertakan Tuhan dalam usaha-usaha kita. Dengan demikian, kebahagiaan menjadi bagian hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

759

17 Agustus 2011

Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan Kita



Pembangunan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi suatu keharusan bagi kita semua. Soalnya adalah pembangunan bangsa Indonesia masih terpusat di beberapa titik dari bagian Indonesia ini. Perhatian Pemerintah Indonesia yang lebih banyak tertuju pada pembangunan Pulau Jawa dan wilayah barat Indonesia memicu komentar yang kontroversial.

Tahun lalu Ben Alotia, anggota Komisi I DPRD Sulawesi Utara, membuat pernyataan yang mengejutkan. Ia meminta warga Kepulauan Sangihe dan Talaud mengibarkan bendera Filipina. Hal itu ia lakukan karena pemerintah pusat kurang memberikan perhatian ke wilayah timur Indonesia atau wilayah pinggiran yang lama terabaikan.

Adalah fakta bahwa penduduk di pulau paling utara Indonesia yang dekat dengan Filipina itu sejak lama lebih banyak diuntungkan oleh kebijakan Manila ketimbang Jakarta. Selain banyak memakai barang-barang dari Filipina, penduduk di sana juga mendapat siaran televisi Filipina.

Seruan Alotia itu segera menyulut kontroversi di Sulawesi Utara. Banyak orang mengecam pernyataan Alotia itu. Tentang pernyataannya itu, ia berkata, “Saya juga terkejut pernyataan itu seperti ungkapan serius. Saya tidak bermaksud begitu. Saya hanya bercanda menanggapi keluhan warga dan pemerintah di Sangihe dan Talaud atas kondisi mereka.”

Sahabat, hari ini kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Puluhan tahun silam Soekarno dan teman-temannya telah memberi semangat kepada rakyat Indonesia untuk merdeka. Bangsa Idonesia disadarkan bahwa hidup mereka tidak tergantung pada bangsa terjajah. Mereka semestinya bangkit untuk memiliki harkat dan martabat yang sama dengan bangsa-bangsa lain. Kemerdekaan mesti menjadi dambaan manusia yang hidup di pulau-pulau Indonesia ini.’

Puluhan tahun kemudian, terbentukkah sebuah negara yang merdeka bernama Indonesia. Sebuah negara yang memberikan jaminan hidup yang sejahtera dan aman sentosa bagi warganya. Cita-cita bangsa pun ditorehkan. Rakyat Indonesia ingin membangun dirinya sendiri.

Soalnya adalah dalam pembangunan itu terjadi ketimpangan-ketimpangan. Ada wilayah yang lebih diperhatikan daripada wilayah yang lain. Akibatnya, ada wilayah yang lebih makmur dan sejahtera. Ada wilayah yang masih terbelakang di berbagai bidang kehidupan.

Karena itu, Hari Kemerdekaan RI tahun ini menjadi titik awal bagi kita semua untuk berpikir ulang tentang keindonesiaan kita. Keindonesiaan kita bukan sekedar menyanyikan dengan riang gembira lagu Indonesia Raya atau Dari Sabang Sampai Merauke Berjajar Pulau-pulau. Keindonesiaan kita bukan sekedar memiliki bendera merah putih dan lambang garuda Indonesia di dada kita.

Keindonesiaan kita ternyata lebih dari itu. Keindonesiaan kita adalah cara hidup kita dan cara pandangan kita terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, kita semua diajak untuk terlibat dalam membangun bangsa dan negara ini secara utuh. Kita ditantang untuk memiliki wawasan yang luas mengenai Indonesia, tidak hanya terbelenggu oleh kepentingan-kepentingan pribadi.

Mari kita memiliki semangat untuk berpikir ulang tentang keindonesiaan kita. Kita bangun hidup kita, agar kita menjadi manusia Indonesia yang utuh. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang berguna bagi Tuhan dan sesama. MERDEKA! Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


764

Berani Mengorbankan Hidup



Menjelang pertengahan bulan, pusing mulai melanda seorang bapak. Pekerja kontrak di sebuah rumah sakit terkenal di Jakarta ini harus memikirkan biaya tambahan bagi anak keduanya yang baru saja lulus SMP. Anaknya itu harus melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMA. Artinya, ia mesti menyiapkan biaya tambahan untuk sang anak. Padahal gaji pria berusia 42 tahun ini tidak besar.

”Kalau masuk SMA swasta, uang masuk sekitar Rp 2 juta. Kalau ke sekolah negeri, belum tentu dapat. Ah, pusing,” kata bapak yang sehari-hari bertugas membersihkan salah satu bagian selasar rumah sakit itu.

Sebagai pegawai lepas, ia diupah Rp 41.000 per hari. Kalau absen, melayanglah upah hari itu. Bila dikumpulkan, ia menerima sekitar Rp 1,2 juta per bulan. Uang itulah yang menjadi satu-satunya sumber keluarga lantaran istrinya tidak bekerja. Dengan uang itu, ia menghidupi istri dan empat orang anaknya. Mereka memilih tinggal di Citayam, karena biaya hidup di daerah ini lebih murah ketimbang di Jakarta, termasuk biaya sekolah.

Setiap bulan, keluarga ini menyisihkan Rp 200.000 untuk iuran pendidikan dua anak mereka yang duduk di kelas III SMP dan I SD. Sisanya digunakan untuk makan dan transportasi bapak itu ke tempat kerja.

Sahabat Sonora, kehidupan manusia ternyata tidak segampang yang dipikirkan banyak orang. Apalagi hidup yang dialami mereka yang berpenghasilan pas-pasan. Mereka harus berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar hidup mereka. Mereka harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan sesuap nasi.

Kisah Yudi tadi menunjukkan kepada kita bahwa usaha keras mesti ia lakukan demi keberhasilan anak-anaknya. Ia mesti mengorbankan hidupnya demi orang-orang yang disayanginya. Ada tantangan yang mesti ia hadapi. Ada rintangan yang mesti ia lewati. Dan ketika ia berhasil melewati rintangan-rintangan itu, ia akan mengalami sukacita. Kegembiraan menjadi bagian dari hidupnya.

Tentu saja suatu kesuksesan dalam hidup diraih melalui korban. Orang mengatakan bahwa keberhasilan itu diraih berkat tetes-tetes airmata yang dicucurkan. Orang yang mau berhasil tanpa berkorban hanyalah bermimpi.

Orang yang mencintai sesamanya tanpa berkorban juga hanyalah suatu mimpi. Karena itu, orang yang sungguh-sungguh mencintai sesamanya mesti berani mengorbankan hidupnya bagi yang dicintainya itu.

Karena itu, orang beriman mesti berani mengorbankan hidupnya demi kebaikan hidup sesamanya. Ketika seseorang mengorbankan hidupnya demi mereka yang dicintainya, ia akan menemukan hidup ini menjadi lebih bermakna. Hidup ini menjadi lebih indah. Mari kita berusaha untuk terus-menerus berkorban demi mereka yang kita cintai. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin indah dan damai. Hidup ini bukan menjadi beban, tetapi menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

758