Pages

18 Agustus 2012

Dia Memberiku Roti Kehidupan

Banyak orang zaman kini sedang lapar. Mereka tampak beringas. Bisa-bisa sesama manusia diterkam sama mereka. Mengapa mereka begitu lapar? Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun satu hal yang jelas adalah mereka sedang kehilangan kasih. Tidak ada orang yang rela membagikan kasih kepada mereka. Padahal semakin banyak kasih itu dibagikan, semakin berlimpah ruah pula kasih itu.

Sayang, egoisme telah mengerdilkan kasih. Cinta diri yang berlebihan telah membuat banyak orang merasa lapar. Ketiadaan kasih membuat banyak orang beringas dan berusaha untuk menguasai orang lain.

Sudah lama Isabela terlunta-lunta di jalanan kota. Pakaiannya compang-camping dan kumal. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya berbau tidak sedap. Padahal ia seorang gadis cantik. Mengapa terjadi begitu? Karena harta milik kedua orang tuanya telah dirampas oleh paman-pamannya. Sejak ia kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu kecelakaan, Isabela tidak boleh tinggal di rumah warisan orang tuanya. Paman-pamannya telah menguasai rumah dan harta kekayaan lain peninggalan kedua orang tuanya.

Jadilah Isabela, anak semata wayang, seorang anak jalanan yang mengandalkan hidup dari usaha minta-minta. Ia mesti menengadahkan tangannya ke mobil-mobil yang berhenti di perempatan jalan di kala lampu merah menyala. Dengan cara begitu ia dapat mempertahankan hidupnya. Pekerjaan seperti itu ia lakukan beberapa tahun sampai suatu ketika sebuah keluarga menemukan Isabela tertidur lunglai di emperan sebuah toko.

Keluarga itu membawa Isabela ke rumah mereka. Isabela diberi makan dan minum. Lalu ia dimandikan. Itulah pertama kali ia mandi setelah diusir dari rumahnya. Ia diberi pakaian yang baru. Jadilah Isabela seorang gadis cantik yang disayangi keluarga yang sudah punya lima orang anak itu.

“Kalau saja Pak Andreas dan istrinya tidak menemukan saya, mungkin saya sudah mati. Waktu itu seharian saya tidak dapat apa-apa dari mengemis. Tubuh saya jadi lemas,” kata Isabela, sambil menitikkan air matanya, ketika membagikan pengalamannya dalam suatu pertemuan kring.

Bagi Isabela, keluarga yang menyelamatkannya adalah pahlawan. Ia kemudian mendapatkan kasih saying yang sama dengan kelima orang anak dari keluarga itu. Ia bisa kembali ke bangku sekolah. Isabela boleh menuntut ilmu seperti anak-anak yang lain.

“Pak Andreas dan istrinya begitu menyayangi saya. Saya belum pernah mendengar keluhan mereka terhadap saya. Apa yang saya butuhkan untuk sekolah saya selalu mereka penuhi,”
tutur Isabela sambil berkali-kali mengucapkan terimakasih.

Padahal keluarga Andreas tidak pernah mengenal orang tua dari Isabela. Mereka juga tidak punya hubungan keluarga dengan Isabela. Tetapi kasih telah mempertemukan mereka. Kasih telah mengenyangkan yang lapar. Kasih telah mengumpulkan mereka dalam satu keluarga yang bahagia.

“Sebenarnya yang mendorong kami untuk mengambil Isabela waktu itu adalah Tuhan Yesus sendiri. Kami melihat dia seperti Tuhan Yesus yang sedang menderita di kayu salib,”
tutur Pak Andreas mengenai aksinya mengambil Isabela.

“Yah, apa gunanya kalau setiap pagi kami menyembut Tubuh Tuhan dalam misa harian, kalau kami tidak memperhatikan mereka yang menderita? Roti kehidupan yang kami sambut itu telah menggugah hati kami,”
Ibu Andreas menimpali.

Tindakan sepasang suami istri ini ternyata memiliki dasar iman yang kuat. Iman itu ingin mereka hidup dalam perjalanan hidup yang konkrit. Dengan demikian iman berbuahkan kasih bagi sesama yang menderita. Belajar dari Tuhan Yesus yang memberikan diriNya sebagai roti kehidupan bagi dunia, keluarga Andreas juga mengalirkan kehidupan kepada sesama yang membutuhkan.

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi,”
kata Tuhan Yesus (Yoh. 6:35). Keluarga Andreas tidak pernah merasa lapar atau haus meski mereka mesti mengeluarkan anggaran tambahan untuk Isabela yang kini sudah menjadi seorang mahasiswi itu. Justru yang mereka dapatkan adalah berlimpah-limpahnya rahmat dari Tuhan Yesus. Isabela pun belajar untuk membagikan kasih kepada sesama.

“Kalau toh suatu saat Isabela pergi dari rumah ini, kami tidak akan merasa kehilangan. Dia sudah menjadi bagian dari rumah ini. Dia sudah menjadi anak kami yang pandai pula memperhatikan sesamanya yang menderita,” kata Ibu Andreas tentang Isabela.

Kasih itu semakin berlimpah ruah ketika dibagi-bagikan kepada sesama manusia. Roti kehidupan yang dipersembahkan oleh Tuhan Yesus menjadi semakin banyak, karena roti itu dibagi-bagikan kepada semakin banyak orang. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” sabda Tuhan Yesus (Yoh. 12:24).

Tuhan Yesus adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah yang menghasilkan banyak buah. Ia mempersembahkan diri-Nya agar manusia yang sudah mati oleh dosa Adam dapat memperoleh kehidupan. Melalui Ekaristi Kudus, Tuhan Yesus memberi diri-Nya dengan cinta yang sama yang Ia tunjukkan di atas kayu salib. Pemberian cinta Yesus menjadi contoh bagaimana umat manusia mesti memberi diri bagi sesama. Pemberian diri secara total seperti yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus menjadi bagian dari perjalanan panjang peziarahan para pengikutNya.

Ketika merayakan Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya, Tuhan Yesus membagi-bagikan Tubuh-Nya sendiri, roti kehidupan, kepada murid-murid-Nya. Ia memberikan roti kehidupan itu agar manusia memiliki hidup. Yang menarik dari pemberian diri Yesus itu adalah pesan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya untuk melakukan hal yang sama. “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19).

Tuhan Yesus menghendaki agar para murid-Nya, dan juga para pengikut-Nya, membagikan roti kehidupan kepada sesama yang dijumpai dalam perjalanan hidup ini. Para pengikut Kristus itu mesti berani membagikan kasih yang dimiliki kepada setiap orang yang dijumpai. Hanya dengan membagikan kasih itu, sesama tidak akan mengalami kelaparan. Hanya dengan membagikan kasih kepada sesama, manusia akan memperoleh kasih dengan berlimpah-limpah. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51). **



Frans de Sales SCJ

11 Juli 2012

Menjauhkan Diri dari Kesombongan

Apa yang terjadi kalau Anda menyepelekan sesama Anda? Tentu sesama Anda merasa kurang dihargai.

Suatu hari seorang teman mengatakan bahwa saya sombong. Saya bingung mengapa dia mengatakan saya sombong. Pasalnya, selama ini dia selalu saya sapa. Saya selalu peduli terhadap dirinya. Saya tidak melecehkan dirinya. Saya tetap setia dalam berteman dengan dirinya.

Saya penasaran terhadap pandangannya yang berubah tentang diri saya. Lantas dia menjelaskan, ”Sombong artinya tidak mau peduli lagi dengan penderitaan temannya. Padahal saya tahu, kalau kamu bisa dan punya waktu. Apalah artinya bisa dan punya waktu, kalau tidak punya hati seperti Tuhan?”

Saya pun mengerti apa yang dimaksudkannya. Ternyata teman saya itu butuh perhatian yang lebih. Tidak seperti biasanya. Dia sedang menderita. Tentu bukan penderitaan fisik, karena dia segar bugar. Rupanya batinya sedang bersedih. Karena itu, dia butuh perhatian dari sesamanya. Dia butuh hiburan yang meringankan beban batinnya. Dia butuh dukungan untuk dapat keluar dari derita batinnya itu.

Sahabat, ketika kita bertemu dengan orang yang kita kenal dan kita pura-pura tidak kenal, maka kita dianggapnya sombong. Ketika ada orang yang suka berbicara besar serta memamerkan keberhasilan-keberhasilan yang diraihnya, maka kita menyebut orang itu sombong. Orang kaya yang tidak mau bergaul dengan orang miskin juga biasanya disebut sebagai orang yang sombong.

Kesombongan-kesombongan seperti ini memang sangat mudah kita deteksi. Namun ada juga kesombongan yang bersembunyi jauh di dalam hati. Keseombongan seperti ini sulit kita deteksi. Soalnya adalah mengapa orang merasa diri sombong atau orang disebut sombong?

Orang yang sombong itu selalu merasa diri lebih baik dari orang lain. Hal ini ditampakkan melalui tindakan yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Kita beranggapan bahwa mereka tidak akan bisa melakukan sesempurna apa yang kita lakukan.

Tentu saja hal ini berbahaya bagi kehidupan. Mengapa? Karena orang merasa diri paling kuat. Padahal manusia itu makhluk yang lemah yang mudah jatuh ke dalam dosa. Manusia bukanlah supermen yang tidak punya cacat cela. Setiap orang punya kelemahan-kelemahan diri. Kalau orang merasa diri tidak punya cacat, orang itu akan merasa sangat sakit dan terpuruk, ketika mengalami kejatuhan.

Karena itu, orang beriman mesti menjauhkan diri dari kebiasaan sombong. Orang beriman mesti selalu mendahulukan sikap rendah hati. Dengan sikap rendah hati, orang mampu menerima kehadiran semua orang dalam hidupnya. “Kesombongan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ


917

10 Juli 2012

Memberi dengan Sepenuh Hati

Apa yang akan Anda lakukan ketika sesama Anda mengalami kekurangan dalam hidupnya? Anda biarkan begitu saja, karena Anda merasa kalau Anda memberi Anda akan kehilangan? Atau Anda berani memberi, karena Anda yakin bahwa rahmat demi rahmat akan Anda peroleh dalam hidup ini?

Konon Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Di manapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berkata kepada Elang, "Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!"

Elang menjawab, "Kedengarannya ide yang bagus".

Lantas keduanya turun ke bumi. Mereka melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung. Namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekatnya, Sapi berkata, "Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini".

Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, "Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?"

Sapi menjawab, "Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberi kami apapun yang kami inginkan."

Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani. Sapi menjawab, "Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan."

Kalkun tambah bingung, "Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?"

Sapi menjawab, "Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal."

Elang dan Kalkun menjadi syok berat! Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.

Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini.

Sahabat, kebaikan itu mesti dibagikan kepada sesama yang membutuhkan. Banyak orang hanya mau menikmati kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi egois. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli terhadap sesamanya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada begitu banyak rahmat yang Tuhan berikan kepada kita. Itulah rahmat kebaikan. Rahmat kebaikan itu bukan hanya untuk diri sendiri. Rahmat kebaikan itu mesti disalurkan bagi sesama yang membutuhkan. Tentu saja hal ini tidak segampang yang dipikirkan. Mengapa? Karena sering orang merasa bahwa kebaikan yang diberikan kepada sesamanya itu hilang begitu saja. Menjadi milik orang lain. Bukan lagi menjadi milik mereka.

Tentu saja pikiran seperti ini kurang pas, karena semakin orang memberi kepada sesamanya, semakin banyak rahmat yang diperolehnya. Apalagi kalau orang memberi dengan penuh kasih. Tuhan akan mendukung dengan rahmatNya orang yang rela memberikan apa yang dimilikinya bagi sesamanya.

Karena itu, orang beriman mesti berani memberi apa yang dimiliki bagi sesamanya yang membutuhkan. Yakinlah, apa yang kita berikan itu tidak hilang, tetapi akan membuahkan rahmat berlimpah bagi hidup kita. Mari kita berani memberi apa yang kita miliki bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih damai dan sukacita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ


916

28 Juni 2012

Hadapi Kesulitan Hidup dengan Iman

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengalami suatu situasi yang mencekam. Anda cemas dan takut? Anda menyerah kalah? Atau Anda hadapi situasi itu dengan penuh iman?

Suatu hari seekor anak katak merasa cemas. Pasalnya, langit tiba-tiba menjadi sangat gelap. Ia tidak bisa melihat dunia sekitarnya. Padahal ia masih membutuhkan perlindungan. Ia masih butuhkan suasana yang tenang bercengkrama dengan ibu dan saudara-saudaranya yag lain.

Dalam kecemasan itu, ia bertanya kepada ibunya, “Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-tiba gelap?”

Anak katak itu merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. Ia berusaha meyakinkan anaknya bahwa langit yang tiba-tiba menjadi gelap tidak akan membinasakan mereka.

Sang ibu berkata, “Anakku, itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru itu tanda baik.”

Anak katak itu belum paham. Ia bingung, mengapa situasi yang gelap gulita itu menjadi pertanda baik? Anak katak itu semakin panik begitu tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai beterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil.

Anak katak itu mengerang ketakutan. Ia bertanya, “Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu?”

Sang ibu berusaha menenangkan anaknya. Ia berkata, “Anakku, itu cuma angin. Itu juga pertanda, kalau yang kita tunggu pasti datang!”

Anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan itu. Tiba-tiba suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Anak katak itu tidak bisa bilang apa-apa lagi. Ia gemetar. Sambil memejamkan matanya, ia berteriak, “Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!”

Sambil membelai anaknya, sang induk berkata, “Sabar, anakku! Itu cuma petir. Itu tanda ketiga, kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang.”

Sahabat, pernahkah Anda mengalami sesuatu yang mencekam sebelum meraih impian Anda? Apa sikap Anda? Anda takut menghadapi situasi mencekam itu? Anda cemas? Atau Anda tidak percaya pada kenyataan yang ada? Lantas apa yang Anda lakukan?

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa rahmat Tuhan kadang-kadang datang kepada kita melalui jalan yang berliku-liku. Orang mesti sabar menunggu. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tetap akan memberikan rahmatNya. Tuhan tidak pernah mengingkari kasih setiaNya kepada manusia.

Karena itu, yang dibutuhkan dari manusia adalah kesabaran yang penuh iman. Artinya, orang mesti membangun keyakinan dalam dirinya bahwa apa yang sedang diperjuangkannya tidak akan sia-sia. Apa yang sedang diperjuangkannya akan ia raih dalam iman yang mendalam kepada Tuhan.

Kita mesti mengakui bahwa dalam hidup ini kita sering terombang-ambing oleh berbagai persoalan hidup. Kita ditantang untuk tetap berpegang teguh pada iman kita kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyerah, apa pun situasi yang mengobrak-abrik hidup kita. Satu pegangan hidup yang mesti kita utamakan adalah Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Yakinlah, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian.

Karena itu, kita tidak boleh takut melangkah. Kita tidak boleh bersembunyi di balik tantangan hidup ini. Kita mesti menghadapi situasi hidup itu dengan iman yang kokoh dan teguh. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

915

26 Juni 2012

Bersyukur dalam Situasi Apapun

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda tiba-tiba mengalami penderitaan dalam hidup ini? Anda putus asa? Atau Anda mau berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan?

Hesti divonis menderita kanker payudara yang ganas. Kalau ia tidak mengobatinya dengan baik, nyawanya akan melayang. Namun Hesti tidak peduli terhadap vonis itu. Ia yakin, penyakit yang dideritanya tidak ada hubungan langsung dengan kematian.

Menurutnya, banyak orang sehat yang juga tanpa disangka akhirnya meninggal terlebih dulu. Untuk itu, ketika masih ada waktu hidup yang diperolehnya, dirinya mengaku sangat bersyukur. Ia boleh hidup dengan enak. Ia menjalani hidupnya dengan biasa-biasa saja.

Rasa syukur diungkapkan Hesti dengan belajar menerima keadaan dan berbagi kepada penderita kanker lainnya. Bahkan, dengan suara indahnya, ia juga mengaku ingin terus berbagi kepada orang lain, baik para penderita kanker maupun yang tidak.

Ia berkata, “Kesulitan kita adalah menerima apa yang Tuhan ijinkan terjadi. Walaupun saya menderita sudah hampir tiga tahun, tapi tetap pelayanan saya jalan. Saya tetap mempromosikan ASI. Selain itu, saya kerja sama dengan dokter saya untuk ngobrol dan memberikan dorongan kepada penderita kanker yang ditangani dokter saya.”

Sahabat, sering orang panik menghadapi vonis dokter atas penyakit yang dideritanya. Orang merasa bahwa vonis itu sudah menjadi akhir dari segala-galanya. Tidak ada jalan lain. Tidak ada kesempatan lagi untuk keluar dari situasi seperti itu. Orang merasa hidupnya sudah berakhir.

Kisah di atas memberi kita wawasan baru bahwa orang mesti mensyukuri hidup ini. Meski terjadi situasi yang kurang menguntungkan, orang mesti berani bersyukur. Artinya, orang mau menerima hidupnya sebagai rahmat Tuhan. Orang mesti berani menerima keadaan dirinya tanpa banyak menggerutu. Orang mesti menjalani hidup ini dengan hati yang lapang.

Sering manusia tidak sabar dalam hidupnya. Manusia mau segala-galanya selesai dalam waktu yang singkat. Padahal untuk sembuh dari suatu penyakit yang ganas, orang mesti menjalani proses pengobatan. Proses itu kadang-kadang singkat, tetapi lebih banyak membutuhkan waktu yang panjang.

Karena itu, orang beriman mesti menaruh pengharapan pada Tuhan. Dialah kekuatan dalam menjalani hari-hari yang penat oleh berbagai penyakit. Tuhanlah yang mampu memenangkan seseorang dalam perjuangan melawan penyakit yang dideritanya.

Untuk itu, sikap syukur mesti menjadi bagian dari hidup orang beriman. Artinya, orang beriman mensyukuri kebaikan Tuhan. Orang beriman mesti menyadari bahwa Tuhanlah yang menyelenggarakan hidup ini. Mari kita berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan, meski penyakit sering mendera hidup kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales SCJ

914

22 Juni 2012

Hidup di Tangan Tuhan, Buat Apa Takut?


Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda dilanda oleh musibah berupa penyakit yang ganas? Anda berhenti berjuang untuk menyembuhkan penyakit Anda? Atau Anda tidak menyerah pada kenyataan, karena Anda percaya bahwa Tuhan menyertai hidup Anda?

“Hidup mati, kaya miskin, jodoh di tangan Tuhan. Kita enggak tahu kita mati kapan. Sejauh kita masih hidup, kita hidup sebaik-baiknya saja. Karena kita enggak tahu kapan kita akan dipanggil sama Tuhan. Orang sehat saja umurnya mungkin lebih pendek dari yang sakit,” kata Tulus.

Tulus yang berusia 25 tahun adalah salah seorang penderita kanker darah atau leukimia. Ia mengidap kanker darah sejak berusia dua tahun. Namun sejak 2008 lalu ia dinyatakan bersih dari penyakit itu. Sepanjang menjalani berbagai perawatan dan pengobatan hingga saat ini, Tulus meyakini bahwa waktu hidup yang masih diberikan harus dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Untuk itulah, meski pada umur 15-20 tahun dirinya harus istirahat total di rumah sakit, Tulus tetap sekolah dan kuliah. Semua itu dia lakukan di rumah sakit. Tulus pun sudah memasuki tahun terakhir statusnya sebagai mahasiswa jurusan teknologi informasi di salah satu universitas di Jakarta.

Tentang kondisinya, ia berkata, “Saya selalu berpikir yang positif saja. Suatu saat Tuhan pasti punya rencana yang lain buat saya. Mungkin dengan begini, Tuhan bisa pakai saya buat kasih support ke orang-orang yang lain. Memotivasi orang-orang bahwa meski kena leukimia ternyata umur seseorang bisa panjang. Selama ini orang berpikir, kalau sudah divonis leukimia pasti umurnya pendek. Ternyata tidak.”

Tulus mengaku, ia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hidup ini ada di tangan Tuhan. Karena itu, ia tidak takut menghadapi penyakit yang membahayakan itu. Ia terus berjuang. Ia memiliki daya untuk hidup.

Sahabat, berapa banyak orang yang telah menghembuskan nafas terakhirnya, karena berbagai penyakit yang membahayakan dirinya? Tentu sudah sangat banyak. Mengapa mereka bisa mengalami situasi seperti itu? Karena mereka kurang yakin bahwa hidup ini ada di tangan Tuhan. Tuhan pasti menolong hidup manusia, kalau manusia mau menyerahkan hidup ke dalam kuasa Tuhan.

Kisah di atas menjadi penyemangat bagi kita semua. Banyak kali kita dihadapkan suasana takut dan cemas. Kita takut kalau-kalau hidup kita akan diganggu oleh berbagai penyakit. Kalau nanti suatu ketika terjadi bahwa penyakit itu menyerang kita, kita tidak mau berjuang lagi. Pemuda tadi berjuang mati-matian untuk hidup. Ia yakin, Tuhan pasti membantu dirinya. Tuhan pasti dapat membebaskan dirinya dari penyakit itu. Dan benar. Ia dapat disembuhkan dari penyakit itu. Berkat penyerahan dirinya kepada Tuhan dan ketekunannya berobat, ia boleh mengalami sukacita.

Orang beriman adalah orang setia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Orang beriman itu dari waktu ke waktu membuka hatinya lebar-lebar bagi hadirnya Tuhan dalam hidupnya. Karena itu, orang beriman mengandalkan Tuhan. Orang beriman tidak berpaling dari Tuhan.

Untuk itu, kita butuh sikap rendah hati. Kita butuh sikap iman yang benar kepada Tuhan. Kita terbuka terhadap penyelenggaraan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Menjadi Terang bagi Hidup Bersama

Apa yang akan terjadi kalau dunia sekeliling Anda gelap gulita? Apa yang akan Anda lakukan? Tentu saja Anda akan menghidupkan lampu yang ada di dekat Anda. Dengan demikian, tidak terjadi lagi kegelapan di sekitar Anda.

Pelita atau lampu bukan sesuatu yang asing dalam hidup kita sehari-hari. Pelita adalah salah satu alat yang penting untuk penerangan pada zaman dulu. Pelita mampu memberi cahaya, jika didukung oleh minyak dan sumbu yang dibakar oleh api. Dalam perkembanganya, alat penerang itu menjadi semakin canggih dengan ditemukannya listrik dan bola lampu. Namun fungsinya tetap sama, yakni memberi terang, menghalau kegelapan.

Pelita sangat akrab dalam kehidupan ini. Pelita berada di gantang atau tempat untuk meletakkan pelita. Apa yang dapat kita pelajari dari pelita bagi hidup ini? Ternyata begitu dekatnya hidup kita dengan pelita. Kedekataan itu membantu kita untuk memahami fungsinya. Yang terpenting adalah kita dapat belajar dari fungsi pelita itu bagi hidup ini.

Mari kita juga belajar dari pelita. Kita selalu membutuhkan pelita yang memberi terang dalam hidup ini. Jika kita melakukan perjalanan pada malam hari, kita membutuhkan pelita sebagai penerang supaya tidak tersesat. Tentu kita juga dapat belajar dari pelita yang menerangi semua orang. Kehadiran kita memberi seberkas cahaya harapan bagi yang dirundung kegelapan masalah hidup ini. Akhirnya masyarakat mampu hidup secara harmonis.

Sahabat, dalam salah satu kotbahnya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagi pula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuliakan Bapamu yang di Surga.”

Dari kotbah Yesus itu tampak begitu pentingnya peranan hidup manusia dalam hidup bersama. Kita diajak oleh Yesus untuk menjadi cahaya bagi orang lain. Artinya, kita memberi terang bagi sesama yang masih hidup dalam kegelapan dosa. Kita mengajak mereka untuk kembali kepada Tuhan. Mengapa? Karena hanya Tuhanlah yang menjadi terang sejati bagi hidup kita.

Tentu saja menjadi terang bagi sesama itu tidak gampang. Diri kita sendiri harus dapat menjadi contoh bagi hidup orang lain. Kita mesti berusaha sekuat tenaga untuk menghidupi nilai-nilai kebaikan dalam hidup sehari-hari. Lantas nilai-nilai itu kita tebarkan bagi hidup sesama kita. Kita dapat menjadi contoh atau teladan dalam hidup bersama.

Kita dipanggil untuk berani menjadi terang bagi masyarakat. Kehadiran orang beriman memberi pencerahan atas situasi kegelapan masyarakat, karena nilai-nilai kemanusiaan yang diabaikan. Kita mempunyai tugas untuk memberi terang bagi yang gelap. Terang itu kita tunjukkan dengan teladan hidup, nasihat, dan peneguhan bagi yang bimbang.

Mari kita memberi terang melalui kata dan perbuatan kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

912

21 Juni 2012

Memupuk Cinta yang Tak Bersyarat


Apa yang akan terjadi kalau Anda punya cinta yang bersyarat? Tentu saja cinta Anda tidak berbuah kebaikan bagi hidup bersama. Cinta Anda dalam arti tertentu mati. Tidak berguna.

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Seorang perawat menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu. Semua dokter masih sibuk. Mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah. Sebentar-sebentar ia melirik ke jam tangannya. Perawat itu merasa kasihan. Jadi ketika sedang ada waktu luang, perawat itu sempatkan diri untuk memeriksa lukanya. Tampaknya cukup baik dan kering. Tinggal membuka jahitan dan memasang perban baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sulit. Atas persetujuan dokter, perawat itu putuskan untuk melakukannya sendiri.

Sambil menangani lukanya, perawat itu bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu mengatakan bahwa dia hendak ke rumah jompo untuk makan siang bersama istrinya. Hal itu biasa ia lakukan setiap hari. Dia menceritakan bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu. Istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Perawat itu menanyakan, apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Perawat itu sangat terkejut. Ia bertanya, “Bapak masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri bapak tidak kenal lagi?”

Sambil menepuk tangan perawat itu, ia berkata, “Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia.”

Sahabat, ketika orang hidup dalam kasih yang mendalam, orang tidak butuh lagi pengenalan fisik. Yang terjadi adalah orang saling mengerti. Orang saling menghargai dengan penuh persaudaraan. Orang tidak lagi melihat kekurangan dan kelemahan yang ada dalam diri sesamanya. Yang senantiasa ada dalam diri orang adalah sikap siap sedia untuk hidup bersama orang yang dicintai itu.

Kisah di atas memberi kita gambaran tentang kuatnya cinta itu. Ia tidak peduli apakah istrinya bisa mengenal dirinya atau tidak. Baginya, yang lebih penting adalah dia terus-menerus menambatkan cintanya pada kekasihnya. Ia tetap peduli meski sang kekasih tidak lagi menyapanya seperti sewaktu masih sehat.

Tentu saja kita semua ingin memiliki cinta seperti itu. Kita ingin dicintai dengan setulus hati. Kita juga ingin mencintai tanpa syarat. Namun sering kita mengalami kegagalan. Mengapa? Karena hidup kita masih dibalut oleh egoisme. Kita masih mengandalkan kepentingan diri kita sendiri. Kita enggan untuk memiliki cinta yang tulus. Kita mencintai sesama dengan syarat-syarat tertentu yang telah kita pasang. Akibatnya, kita hanya mengarahkan cinta itu untuk diri kita sendiri. Kita hanya ingin bahagia untuk diri kita sendiri.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin memiliki cinta yang tulus. Untuk itu, kita mesti mencintai dengan tulus pula. Kita tidak perlu membuat syarat-syarat yang hanya menghambat kita dalam mencintai. Mari kita mencintai tanpa syarat. Tuhan membekati. **



Frans de Sales, SCJ


911

20 Juni 2012

Mengembangkan Cinta yang Membebaskan

Dalam hidup ini, cinta menjadi bagian yang tak terpisahkan. Apa yang akan Anda lakukan, kalau orang yang sangat Anda kasihi sangat membutuhkan kehadiran Anda?

Ada seorang pria yang memiliki kekasih yang sangat dicintainya. Perempuan itu sangat cantik di mata pria itu. Karena itu, pria itu berusaha sungguh-sungguh untuk menunjukkan rasa sayangnya kepada permata hatinya itu. Suatu hari ia berkata kepada kekasihnya, “Kekasihku, aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan aku menilai hal itu baik buatmu. Aku tidak ingin melihat engkau kecewa karena salah memilih.”

Hari demi hari berlalu mengiringi perjalanan cinta mereka. Pria ini tak pernah memalingkan hatinya atau melupakan kekasihnya. Hati sang kekasih berbunga-bunga. Ia boleh memiliki hati pria itu. Suatu hari, wanita ini meminta sesuatu dari kekasihnya. Dia menginginkan sebuah kalung dengan berlian pada liontinnya.

Ketika pia itu mendengar permintaan kekasihnya, dia menolak. “Kekasihku, bukannya aku tidak mau atau tidak bisa membelikanmu kalung itu. Tapi sangat berbahaya bila engkau memakai kalung itu. Bila ada orang yang gelap mata, dia akan merampas kalung itu. Kalau itu terjadi, bukan hanya kamu yang celaka, aku juga akan sangat menderita melihatmu seperti itu. Aku hanya tidak mau kamu mendapat celaka,” kata pria itu.

Tapi kekasihnya terus meminta kalung itu. Ia tidak mau mendengar nasehat kekasihnya. Akhirnya, kalung itu pun dibeli dan dipakai oleh sang permata hati. Selang beberapa hari, apa yang ditakutkan oleh pria ini benar-benar terjadi. Ada 2 orang penjahat yang merampas kalung itu saat kekasihnya sedang mengendarai motor. Kalung itu pun terampas dan wanita ini terjatuh dari motornya.

Mendengar berita itu, pria itu langsung menemui kekasihnya. Ia membawanya pulang dan mengobati luka-lukanya. “Mengapa engkau tidak mau menuruti kata-kataku? Engkau mendapat celaka seperti ini, aku merasa sepuluh kali lebih sakit daripadamu,” kata pria itu.

Wanita ini menangis. Dia menyesal. “Maafkan aku. Aku bersalah padamu karena tidak mendengar perkataanmu. Aku hanya menuruti keinginanku sendiri. Maukah engkau memaafkan aku?” kata wanita itu.

Dengan penuh cinta kasih pria ini memeluk kekasihnya. Ia berkata, “Aku memaafkanmu sejak tadi. Aku bahagia karena aku bisa memelukmu dalam keadaan engkau masih hidup. Mulai sekarang, turutilah perkataanku, karena aku tidak pernah akan membuatmu celaka.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang menuntut kita untuk senantiasa bertumbuh dalam cinta. Memang ada juga orang yang kurang mau hidup dalam suasana cinta. Karena itu, mereka hidup sekehendak hatinya. Mereka tidak peduli terhadap sesamanya. Mereka memaksakan kehendak dirinya sendiri untuk orang lain.

Kisah di atas memberi kita secercah harapan. Kasih sang pria begitu besar. Cinta itu ia tumbuhkan dengan memberikan perhatian yang begitu mendalam terhadap sang kekasih. Ia tidak hanya mencintai sang kekasih itu secara umum. Ia mencintainya secara spesial. Cinta seperti itu menumbuhkan cinta dalam diri kekasihnya pula. Karenanya di saat ia harus memberikan pengampunan, ia langsung mengampuni kekasihnya. Ia tidak menunggu lama-lama lagi. Yang ia inginkan adalah bahagia dalam diri sang kekasih.

Pertanyaan bagi kita yang hidup di zaman sekarang adalah mampukah kita mengasihi secara spesial? Atau kita hanya mencintai sesama pada hal-hal yang tampak? Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menumbuhkan cinta dalam hati kita. Dengan cinta itu, kita memberikan dukungan bagi hidup sesama kita. Kita berusaha untuk membahagiakan sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

910

19 Juni 2012

Menumbuhkan Cinta yang Tulus

Apa yang akan Anda lakukan kalau orang yang sangat Anda cintai mengalami duka dan derita dalam hidupnya? Anda meninggalkannya sendirian, atau anda mengorbankan hidup Anda bagi dia?

Robertson MCQuilkin mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai Rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan ingin merawat istrinya, Muriel. Sang istri menderita sakit Alzheimer, yaitu gangguan fungsi otak. Muriel seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa. Untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu.

Robertson memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri, karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Suatu kali Robertson membersihkan lantai bekas ompol Muriel. Di luar kesadarannya, Muriel malah menyerahkan air seninya sendiri kepada suaminya. Robertson tiba-tiba kehilangan kendali emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya untuk menghentikannya.

Setelah itu, Robertson menyesal. "Apa gunanya saya memukulnya? Walaupun tidak keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami menikah, saya belum pernah memukulnya karena marah. Namun kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya demikian. Ampuni saya, Tuhan," ia berkata dalam hatinya.

Lalu tanpa peduli apakah Muriel mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah dilakukannya. Robertson dan Muriel menikah pada 14 Februari 1948. Pada hari istimewa itu Robertson memandikan Muriel. Lantas ia menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan Muriel. Pada malam harinya menjelang tidur, ia mencium dan menggenggam tangan Muriel.

Pada 14 Februari 1995, Robertson memandangi istrinya yang tak berdaya. Ia berdoa, "Tuhan yang baik, Engkau mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya. Jagalah kekasih hatiku ini sepanjang malam. Biarlah ia mendengar nyanyian malaikat-Mu. Amin!"

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil Robertson dengan suara yang lembut dan bening, "Sayangku.... sayangku...". Robertson melompat dari sepedanya dan segera memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

Sahabat, cinta yang tulus tetap tumbuh dalam hidup sehari-hari. Tidak peduli terhadap berbagai tantangan yang ada. Sakit dan derita bukan menjadi halangan bagi tumbuhnya cinta yang tulus. Justru pada saat-saat sakit dan derita semestinya cinta itu semakin hidup dalam diri setiap orang. Mesti ada solidaritas yang terus tumbuh di saat-saat sakit dan derita menerpa hidup seseorang.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa pada saat-saat sakit dan derita justru orang membutuhkan cinta yang lebih tulus dan mendalam. Perhatian menjadi suatu bukti tetap hidupnya cinta yang tulus itu. Robertson rela mengorbankan kedudukannya yang tinggi demi cintanya kepada sang istri yang tak berdaya di atas tempat tidur. Namun pengorbanan itu tanpa sia-sia. Ia mendapatkan balasannya dengan sapaan mesra dari sang istri yang bertahun-tahun lamanya tak terdengar. Itulah sukacita. Itulah damai yang menggayut di hati, meski kata-kata itu sangat minim.

Sebagai orang beriman, kita juga dipanggil untuk senantiasa menumbuhkan cinta yang tulus dalam hati dan hidup kita. Cinta yang tulus itu mesti berbuah. Buahnya adalah kepedulian dan perhatian bagi yang lemah dan tak berdaya. Di saat-saat susah menyelimuti hidup kita, kita butuh cinta yang tulus dari sesama.

Mari kita tumbuhkan cinta yang tulus dalam hidup kita, agar damai menjadi bagian dari hidup kita. Untuk itu, kita butuh memiliki hati yang peka terhadap setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Cinta yang tulus dapat tumbuh saat orang membuka hatinya lebar-lebar bagi hidup sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

909