Pages

28 Mei 2013

Menerima Kehadiran Sesama

 
Apa yang akan Anda buat saat menyaksikan sesama Anda mengalami kesulitan dalam hidup ini? Anda mengusirnya pergi, atau Anda membuka hati Anda untuk menerima kehadirannya?

Berniat hendak mengubah nasib dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga, Sariam (35), tenaga kerja wanita asal Cianjur, Jawa Barat, pulang dengan kondisi cacat permanen. Hampir seluruh tubuh ibu dari tiga anak ini mengalami luka-luka akibat disiksa majikan selama tiga bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kota Jouf, Arab Saudi.

Selain dipukul dan ditendang, tubuh istri Asep Bin Entom (42) asal Kampung Karang Slawi, Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur, itu sering juga disetrika. Ia juga dipukuli dengan benda tumpul. Akibatnya, seluruh giginya rontok.

Ia berkata, “Kesalahan kecil yang saya lakukan kerap kali mendapat siksaan yang teramat sangat. Seperti menyetrika baju anak majikan tidak rapi, saya disetrika dengan setrika panas.”

Selain itu, majikan juga melarang keras dirinya memakan makanan di kulkas. Bila tertangkap tangan, selain dipukul dengan palu, gajinya pun dipotong. Ia berkata, “Meskipun baru tiga bulan bekerja, saya sudah tidak betah. Saya meminta dipulangkan ke Cianjur. Setiap malam saya hanya bisa menangis dalam setiap doa.”

Akibat sering mendapatkan siksaan, Sariam pernah dirawat inap di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah majikan. Ketika itu, adik majikan yang baik hati membawanya ke rumah sakit, karena tidak sadarkan diri setelah mendapat siksaan. Dia sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit itu selama 47 hari. Setelah keluar dari rumah sakit, dia melaporkan perbuatan majikan ke polisi setempat.

Sahabat, kemiskinan yang mendera hidup manusia memaksa manusia untuk memperjuangkan hidupnya. Manusia mesti terus-menerus berusaha untuk keluar dari situasi kemiskinannya. Manusia tidak boleh berhenti untuk berjuang. Orang yang beriman itu orang yang senantiasa bangkit dari keterpurukan hidupnya.

Namun terjadi juga kisah sedih dalam perjuangan itu. Kisah sedih Sariam menjadi salah satu bahan refleksi bagi kita. Hidup ini tidak mudah. Di saat kita berusaha untuk keluar dari keterpurukan hidup, masih saja ada kendala. Masih saja ada orang yang menghalangi-halangi usaha kita. Untuk itu, dibutuhkan suatu tekad yang membaja untuk menerjang penghalang-penghalang itu.

Kisah Sariam menampilkan suatu kesulitan yang luar biasa. Kehadirannya tidak diterima dengan baik oleh sang majikan. Tampaknya kehadirannya ditolak. Penderitaan yang mesti ia tanggung menjadi bukti penolakan atas kehadiran dirinya. Padahal ia hadir bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia hadir untuk kepentingan orang lain. Ia hadir untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Karena itu, orang beriman mesti belajar untuk menerima kehadiran sesamanya. Orang beriman mesti membuka hatinya lebar-lebar bagi kehadiran sesamanya. Memang, hal ini tidak terlalu mudah. Banyak orang masih tersandra oleh egoisme dan kepentingan dirinya sendiri. Banyak orang masih mengutamakan pemenuhan atas kebutuhan hidupnya sendiri saja. Banyak orang belum mau melihat kepentingan sesamanya.

Mari kita berusaha untuk menghargai orang lain dengan menerima kehadiran sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


974

12 Mei 2013

Membangun Tekad atas Dasar Kasih


 Apa yang akan Anda lakukan, bila semangat hidup Anda kian meredup? Tentu saja ada banyak cara untuk mengatasinya. Untuk itu, Anda tentu memiliki banyak strategi untuk menghadapinya.

Suatu hari seorang pemuda memutuskan untuk mengunjungi neneknya yang tinggal di sebuah desa yang jauh. Ia mesti naik bus menuju kota. Ia sendiri tidak tahu kota itu berada. Pasalnya, ia belum pernah melakukan perjalanan ke kota tersebut. Ia juga belum pernah mengunjungi desa neneknya. Ia lahir di kota yang lain. Sejak lahir, ia belum pernah ke desa sang nenek. Bahkan ia hanya melihat neneknya dari foto mamanya.

Namun pemuda itu tidak putus asa. Ia mencoba untuk melakukan perjalanan itu. Memang, awalnya ia agak pesimis. Namun ia membuat komitmen untuk mencoba melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan itu. Bermodal alamat dan rute perjalanan yang diberikan sang mama, pemuda itu menyatukan tekadnya untuk mengunjungi nenek.

Rute pertama menuju kota yang terdekat dengan desa nenek itu berjalan dengan baik. Ia cukup duduk tenang di atas bus non AC hingga sampai tujuan. Begitu tiba di kota tersebut, ia langsung mencari angkutan untuk menuju desa di mana sang nenek tinggal. Kali ini ia tidak mudah menemukannya. Ia mesti menunggu agak lama. Namun kesabaran yang sering menjadi ciri khasnya membantu dirinya untukk mendapatkan kendaraan.

Benar! Ia mendapatkan sebuah kendaraan yang baik yang mengantar dirinya menuju rumah sang nenek. Ia boleh menikmati alam pedesaan yang indah. Udara yang bersih belum tercemar polusi kendaraan menjadi bagian yang menyegarkan dirinya. Ia boleh berjumpa dengan nenek. Ia bisa berbicara dari hati ke hari dengan sang nenek. Dambaan untuk berjumpa dengan sosok sang nenek akan menjadi kenyataan. Semua itu berkat tekad membara yang senantiasa hidup di dalam dirinya.

Hari-hari berada di desa sang nenek menjadi suatu kesempatan yang membahagiakan dirinya. Menumpahkan seluruh kerinduannya buat sang nenek. Ia boleh menatap mata sang nenek yang sangat mirip dengan mata mamanya. Pemuda itu menemukan sukacita hidup selama beberapa hari bersama sang nenek.

Sahabat, banyak orang ingin merasakan damai dan sukacita dalam hidup mereka. Namun sering mereka kecewa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka kurang punya tekad. Mereka kehilangan determinasi. Mereka kurang punya semangat untuk meraih damai dan sukacita dalam hidup mereka. Akibatnya, kekecewaan yang justru tumbuh dalam hidup mereka.

Kisah pemuda yang sukses berjumpa dengan sang nenek tadi menunjukkan kepada kita bahwa tekad dan komitmen mampu mengalahkan segalanya. Kelelahan dalam menempuh perjalanan jauh tidak ia rasakan. Mengapa? Karena tujuan utamanya adalah mengungkapkan kasihnya kepada sang nenek. Kasih itu mengalahkan segala-galanya. Tekad yang didasarkan atas kasih itu membuahkan hasil yang gemilang. Ia mengalami sukacita dan damai bersama sang nenek.

Dalam hidup sehari-hari, kita juga berjumpa dengan berbagai persoalan hidup. Kita mengalami betapa tidak mudahnya hidup ini. Apakah kita memutuskan untuk tetap berada di tempat? Atau kita mencari cara-cara untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup ini?

Untuk itu, kita butuh tekad dan komitmen. Tekad itu mesti terus-menerus kita tumbuhkan dalam perjalanan hidup kita. Tentu saja tekad itu tidak hanya sekedar tekad. Tetap tekad yang didasarkan atas kasih setia kepada hidup ini. Sedangkan komitmen yang kuat mesti mewarnai hidup ini. Dengan demikian, kita mampu memberikan yang terbaik bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

Memberi Dukungan bagi Anak-anak Bangsa


 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau Anda mengalami sakit? Tentu Anda akan mencari dokter untuk menyembuhkan sakit Anda. Anda akan berusaha mati-matian dengan berbagai cara untuk menyembuhkan sakit Anda.

Siapa bilang pengobatan di luar negeri selalu lebih baik? Seorang dosen yang sudah berobat bolak balik luar negeri justru menemukan dokter dan pengobatan terbaik untuk cangkok hatinya ada di Indonesia. Dia adalah Nidjat Ibrahim, dosen wanita yang mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti sejak 32 tahun lalu.

Nidjat yang lahir di Solo 66 tahun lalu merupakan pasien kedua dalam proyek terbesar yang melakukan transplantasi atau cangkok hati di RS Puri Indah, Kembangan, Jakarta, pada 17 Desember 2010. Operasi tersebut memakan waktu sekitar 13 jam.

Nidjat mengetahui bahwa dirinya menderita sirosis atau pengerasan hati pada tahun 2001. Tetapi ia sama sekali tidak merasakan keluhan apa-apa, karena sangat gila kerja. Nidjat berkata, “Saya masih menjabat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Trisakti, saya masih ke luar negeri sendiri. Saya tidak merasakan sama sekali sampai tahun 2008 kok makan ini nggak doyan itu nggak doyan. Mulai ada yang dirasakan.”

Nidjat mengaku, ia sudah bolak balik ke luar negeri untuk mencari penyebab. Ia mencari pengobatan terbaik yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Ia berkata, ”Saya sudah ke Singapura, Penang. Bahkan pengobatan alternatif terapi organik di Purwakarta. Saya sudah coba semua alternatif pengobatan, bahkan di Singapura sampai 3 rumah sakit terus ke Penang.”

Ia menemukan kesuksesan itu justru di Indonesia. Ia menjalani proses cangkok hati dan berhasil dengan baik.

Sahabat, setiap orang yang sakit mendambakan kesembuhan. Karena itu, orang akan berjuang sekuat tenaga untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ke mana pun orang akan berusaha untuk mendapatkan kesembuhan. Bahkan banyak orang yang berani mencari sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka pergi kepada dukun atau paranormal untuk memohon kesembutan.

Kisah di atas memberi kita gambaran mengenai usaha yang tidak kenal lelah untuk memperoleh kesembuhan. Nidjat bahkan sampai melanglang buana ke luar negeri untuk kesembuhan sirosis atau pengerasan hatinya. Ia penuh harapan berusaha untuk segera lepas dari belenggu sakit itu. Sayang, ia tidak temukan kesembuhan itu di luar negeri. Justru ia temukan kesembuhan itu di negerinya sendiri, Indonesia.

Ternyata para dokter di dalam negeri tidak kalah dengan para dokter di luar negeri. Para dokter itu mampu memberi kesembuhan kepadanya dengan cangkok hati. Ada pepatah kuno mengatakan, biarlah hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Artinya, sudah saatnya anak-anak bangsa ini menghargai prestasi yang telah diraih oleh sesamanya. Hanya dengan cara itu, kemajuan dalam berbagai bidang dapat diraih oleh anak-anak bangsa ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus memberikan motivasi bagi kemajuan anak-anak bangsa. Dengan demikian, kita sungguh-sungguh mampu membangun negeri ini dengan hati yang tulus. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


972

Menjaga dan Memelihara Hati Kita

 

Mengapa hati Anda kurang terasa damai? Ada berbagai jawaban atas pertanyaan sederhana ini. Namun satu hal yang pasti adalah karena Anda tidak menjaga dan memelihara hati Anda dengan baik.

Dalam suatu acara rohani anak-anak, setiap peserta diberi sebutir telur oleh panitia. Pesannya adalah telur itu dijaga agar jangan pecah atau hilang. Telur itu mesti selalu dibawa setiap saat selama acara rohani berlangsung sampai akhir acara. Entah mereka mengikuti sesi, makan, tidur, bahkan ke kamar mandi, telur itu tidak boleh mereka tinggalkan.

Siapa saja yang kehilangan telur atau sampai memecahkannya, maka ia akan mendapatkan ‘hukuman’ dari Panitia. Dua hari kemudian, ketika acara rohani itu selesai, legalah mereka semua. Namun ada beberapa orang yang harus menanggung hukuman karena memecahkan telur mereka. Seperti halnya menjaga sebutir telur yang mereka lakukan, demikian juga kita harus menjaga hati.

Seorang anak yang memecahkan telur berkata, “Saya sudah menjaganya sedemikian rupa. Tetapi hanya teledor sedikit saja, telur itu pecah. Saya sangat menyesal telah memecahkan telur itu. Artinya, saya belum bisa menjaganya dengan baik.”

Anak itu mengerti, ia mesti menjaga hal-hal yang berharga yang dimiliki dirinya. Ia berjanji kepada pembimbing acara rohani itu untuk memelihara hatinya dengan sebaik-baiknya. Ia boleh mendapatkan hukuman atas kelalaiannya. Namun ia dapat belajar banyak hal tentang kehidupan.

Sahabat, persoalan terbesar yang dihadapi oleh semua manusia di dunia ini adalah persoalan hati. Dari hati muncul motivasi. Dari hati muncul rencana. Dari hati timbul perasaan. Dari hati kemarahan diungkapkan. Dari hati keluarlah pikiran-pikiran, perkataan dan tindakan.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Banyak orang sering ceroboh dalam hidup ini. Akibatnya, mereka kehilangan hati yang tulus dan murni dalam menjalani hidup ini. Mereka bertindak seenaknya saja. Ada hal yang hilang dari hidup mereka, sehingga mereka kurang punya ketahanan hidup.

Bagi kita, hati adalah area yang penting dalam kehidupan ini. Hati yang baik mengatur dan mengarahkan setiap hal yang kita kerjakan. Untuk itu, kita mesti menjaga hati kita dengan sebaik-baiknya. Caranya dengan menghidupi nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Kalau kita mampu menjaga hati kita dari hal-hal yang kurang baik, kita mampu memancarkan kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Kita dapat menemukan bahwa Tuhan begitu mencintai hidup kita. Tuhan tidak pernah menolak kehadiran kita. Tuhan tetap menguasai diri kita, bukan hal-hal lain yang sering mengganggu hidup kita.

Penulis Amsal berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Mari kita menjaga hati kita, agar kita mampu memancarkan kasih Tuhan kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

971

04 Mei 2013

Melepaskan Benci dari Diri Kita

Pernahkah Anda dilukai oleh orang lain di masa lalu? Jika ya, sudahkah Anda terlepas dari rasa sakit? Atau luka tersebut terus tertoreh di dalam hati Anda?

Banyak dari kita tahu siapa itu Adolf Hitler. Ia seorang pemimpin Jerman yang sangat rasis. Ia membunuh jutaan orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi selama perang dunia kedua. Setiap orang yang melawan dia akan dihancurkannya. Bahkan orang-orang yang tidak bersalah pun dibunuhnya. Ia menjadi orang yang sangat sadis. Ia menikmati penderitaan orang lain.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut beberapa sumber, Adolf Hitler mempunyai luka batin yang sangat mendalam terhadap orang Yahudi. Ia pernah merasa dilecehkan oleh orang Yahudi. Ia tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Namun luka batin itu tidak diobati oleh Adolf Hitler. Ia membiarkan luka batin itu menguasai dirinya. Kegetiran hatinya itu kemudian menimbulkan penderitaan bagi jutaan orang.

Di kamp konsentrasi Auswitch, misalnya, ribuan orang keturunan Yahudi dimasukkan ke dalam ruang gelap di bawah tanah. Setelah itu gas beracun diluncurkan ke dalam ruangan itu. Akibatnya, ribuan nyawa tak berdosa mati lemas. Adolf Hitler merasa terpuaskan. Ia merasa luka batinnya itu terobati.

Namun hal seperti itu tidak berlangsung lama. Ia terus-menerus dikejar oleh suara hatinya. Ia kemudian melakukan bunuh diri sebelum ditangkap. Luka batin yang tidak diolah dengan baik hanya menimbulkan kepahitan dalam hidup.

Sahabat, setiap orang pernah merasakan sakit hati. Ada banyak penyebab sakit hati itu. Misalnya, ada yang tersinggung oleh kata-kata pedas sesamanya. Ada yang merasa tersinggung karena kehadirannya tidak dianggap. Disakiti atau diperlakukan tidak adil merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi diri kita, bila hal tersebut terjadi dalam kehidupan kita sendiri.

Yang dibutuhkan dari kita adalah mengolah rasa sakit hati itu. Orang yang mampu mengolah rasa sakit hati akan menemukan bahwa hidup ini begitu berharga. Orang belajar dari peristiwa-peristiwa hidup ini untuk memajukan dirinya sendiri. Untuk itu, orang mesti selalu siap untuk menjalani hidup ini dengan hati yang tenang.

Karena itu, orang mesti senantiasa menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dari hidup ini. Balas dendam dan benci bukan suatu cara terbaik untuk mengolah luka batin. Luka batin hanya dapat diolah melalui pengampunan yang tulus dari diri kita. Hanya dengan memaafkan sesama, kita mampu bangkit lagi dari luka batin itu. Kita tidak perlu menyiksa diri kita dengan kebencian yang mendalam terhadap sesama kita.

Untuk itu, kita butuh proses untuk menyembuhkannya. Kita butuh saat-saat yang berahmat untuk melapaskan diri dari luka batin yang mencekam diri kita. Caranya adalah dengan menumbuhkan cinta kasih yang mendalam dalam diri kita demi sesama kita.

Seorang bijak berkata, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan dan mencemarkan banyak orang.” Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

970

28 April 2013

Berpegang Teguh pada Tuhan


Apa yang akan Anda lakukan di saat Anda mengalami kegundahan dalam hidup? Apakah Anda tetap berjuang sendiri dengan menolak bantuan Tuhan?

Raja Daud terkenal sebagai raja yang perkasa. Ia memiliki kekuasaan yang begitu besar. Hal ini telah ia tunjukkan sejak kecil, ketika ia mesti berperang melawan Goliat yang lebih besar dari dirinya. Daud menggunakan akalnya yang licik untuk mengalahkan Goliat. Ia berhasil. Ia sukses mengusir musuh besarnya itu.

Namun sebagai manusia, Raja Daud pun pernah merasa takut dan cemas atas hidupnya. Ia merasa sendirian dalam hidupnya. Tuhan tidak lagi dekat dengan dirinya. Saat itu, ia mengalami kekalahan dari musuh-musuhnya.

Untuk itu, Raja Daud berkata kepada Tuhan, “Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?”

Raja Daud merasa diri ditinggalkan oleh Tuhan. Ia merasa berjuang sendirian. Tuhan yang dahulu begitu dekat dengan dirinya kini menjadi jauh. Bahkan ia merasa kehilangan Tuhan. Ia mencari Tuhan, namun ia tidak menemukannya. Ia mempertanyakan kebaikan Tuhan atas dirinya.

Sahabat, kedekatan dengan Tuhan bukan sesuatu yang terjadi dalam waktu yang singkat. Kedekatan dengan Tuhan itu terjadi dalam proses kehidupan ini. Sejak awal, Raja Daud begitu dekat dengan Tuhan. Bahkan Tuhan sendiri yang telah memilih dia untuk memimpin umatNya. Namun kedekatan itu bisa hilang di kala orang berjuang sendirian. Ketika orang tidak menyertakan Tuhan dalam perjuangan hidup mereka, di saat itu pula orang kehilangan Tuhan.

Karena itu, Raja Daud merasa sakit hati atas kesendiriannya itu. Tuhan yang biasa membantu dirinya itu menghilang dari dirinya. Tanpa Tuhan, Raja Daud tidak punya pegangan hidup. Tanpa Tuhan, Raja Daud merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Tanpa Tuhan, Raja Daud tidak berdaya.

Pertanyaan bagi kita yang hidup di zaman sekarang adalah mengapa kita merasa mampu melakukan segala hal tanpa bantuan Tuhan? Atau mampukah kita melakukan hal-hal yang baik tanpa bantuan Tuhan?

Tentu saja kalau ada orang yang merasa mampu melakukan segala hal tanpa bantuan Tuhan itu orang yang sombong. Orang yang angkuh hatinya. Orang yang kurang mengenal dirinya sendiri dan Tuhan. Mengapa? Karena orang yang mengenal dirinya dan Tuhan akan mengatakan bahwa dirinya belum apa-apa. Ia masih butuh bantuan Tuhan dan orang lain. Dirinya adalah manusia yang terbatas.

Kisah Raja Daud yang kehilangan Tuhan menjadi inspirasi bagi kita untuk mampu mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Kita hanya dapat hidup dengan baik dan benar berkat pertolongan dari Tuhan. Mari kita berusaha untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang mendalam. Kita mengalami sukacita dan damai, karena Tuhan yang senantiasa hadir dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


969

26 April 2013

Menumbuhkan Sikap Saling Percaya

 

Apa yang akan Anda lakukan, kalau terjadi ketidakharmonisan dalam hidup bersama? Anda biarkan saja? Atau Anda berusaha untuk membangun keharmonisan itu?

Ada seorang suami yang mudah sekali cemburu. Setiap kali istrinya berbicara dengan lelaki lain, ia merasa cemburu. Ia cemas kalau-kalau sang istri lari ke lain hati. Ia tidak mau istrinya lebih mencintai orang lain. Untuk itu, ia pasang strategi yang ketat untuk mengamati gerak-gerik istrinya.

Akibatnya, ia sering merasa kurang percaya terhadap istrinya. Ia membuat suatu proteksi yang ketat terhadap istrinya. Kalau mau pergi ke luar rumah, istrinya harus memberi tahu. Istrinya pun harus melaporkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Padahal istrinya itu sering mengikuti pertemuan ibu-ibu di kampung.

Proteksi yang ketat itu tidak membuat sang suami merasa tenang. Hatinya selalu cemas dan curiga. Ia tidak ingin ada lelaki lain yang mengganggu ketenteram hatinya. Karena itu, setiap kali istrinya mengikuti berbagai kegiatan di luar rumah, ia menjadi body guard yang setia. Ia mendampingi isterinya itu ke mana pun ia pergi.

Awalnya, sang istri merasa aman-aman saja. Namun lama-kelamaan ia merasa diri sangat terkekang. Ia tidak bisa bebas mengekspresikan dirinya. Ia merasa ada yang menghalang-halangi dirinya. Padahal ia ingin bebas. Ia tidak ingin kegiatan-kegiatannya seolah-olah dimata-matai oleh sang suami.

Ia membutuhkan pengakuan dan penghargaan atas kegiatan-kegiatan yang ia lakukan. Namun bukan dengan cara memberikan proteksi yang sedemikian ketat. Ia menjadi kurang percaya terhadap suaminya. Suatu hari ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.

Sahabat, setiap orang ingin memiliki kebebasan. Orang yang bebas dapat mengungkapkan hidupnya dengan baik dan benar. Namun karena kesalahpahaman, banyak orang mengalami hidup yang tertekan. Orang tidak merasa bebas untuk mengekspresikan dirinya. Orang merasa diri kurang dihargai.

Mengapa ketidakharmonisan dalam hidup bisa terjadi? Karena orang tidak saling percaya. Suatu komunikasi dari hati ke hati dapat terjalin dengan baik, kalau orang memiliki rasa saling percaya. Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa kecemburuan itu terjadi karena sang suami tidak bisa berkomunikasi dengan sang istri dari hati ke hati. Keinginannya tidak ia komunikasikan dengan baik. Akibatnya, terjadi kesalahpaman.

Untuk itu, dibutuhkan skill atau ketrampilan dalam berkomunikasi. Orang mesti mampu mengkomunikasikan isi hatinya kepada sesamanya. Dengan demikian, keharmonisan dalam hidup bersama dapat terjalin dengan baik. Mari kita membangun hidup dengan menumbuhkan rasa saling percaya. Dengan demikian, hidup kita menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

Mengatasi Gelombang Kehidupan

 
Apa yang akan Anda lakukan di saat Anda berhadapan dengan gelombang kehidupan ini? Anda lari terbirit-birit? Atau Anda berusaha untuk menghadapinya dengan penuh iman?

Saya masih ingat saat pertama mengadakan perjalanan jauh di tahun 1983. Kapal yang kami tumpangi dari pelabuhan Maumere, Flores, bukanlah kapal penumpang. Tetapi sebuah kapal barang yang mengangkut kopra. Kapal tersebut baru selesai dibuat beberapa bulan sebelumnya. Jadi masih tergolong kapal yang sangat baru. Kapten kapal dan anak buah kapal yang lain termasuk masih baru. Namun mereka tampak sudah sangat berpengalaman.

Malam hari kapal mulai meninggalkan pelabuhan Maumere. Tampak perjalanan begitu mudah. Namun begitu kapal memasuki Selat Sape, dua malam kemudian, semua menumpang berteriak. Mengapa? Karena kapal dihempas oleh gelombang yang tinggi di wilayah Selat Sape itu. Semua penumpang yang tidur digeladak kapal menjadi panik. Mereka takut kalau-kalau kapal itu tenggelam ke dasar laut.

Namun kapten kapal meyakinkan para penumpang bahwa kapal dan seluruh penumpang akan selamat. Kapten kapal dan anak buah kapal yang lain berusaha untuk mengeluarkan kapal dari jebakan ombak yang tinggi. Mereka berhasil. Kapal kemudian berlayar kembali dengan normal membelah laut.

Semua penumpang bertepuk tangan. Ada yang mengangkat dua jempol ke arah kapten kapal yang berdiri tersenyum memandang para penumpang. Ia berteriak, “Kita selamat. Jangan panik lagi. Setelah ini, perjalanan kita sampai Surabaya akan aman-aman saja.”

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita juga mengalami gelombang kehidupan. Ada yang merasakan gelombang yang tinggi menghempas dirinya. Namun ada pula yang merasakan gelombang-gelombang kecil seperti api yang berkecamuk di dalam sekam. Ada dari antara kita yang panik. Ada yang merasa kehilangan pegangan. Ada yang berusaha untuk mencari jalan keluar untuk menghadapi gelombang kehidupan itu. Namun ada yang pasrah begitu saja. Ada yang menyerah tak mau berjuang lagi.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa kalau orang punya usaha untuk keluar dari gelombang kehidupan, selalu ada jalan. Kalau ada keyakinan untuk melepaskan diri dari gelombang kehidupan, orang memiliki kekuatan untuk bangkit. Orang tidak terpuruk dan menyerah kalah begitu saja. Orang menemukan kekuatan untuk berjuang terus dalam kehidupan ini. Orang tetap tegar menghadapi gelombang kehidupan ini.

Orang beriman itu punya pegangan hidup, yaitu Tuhan yang disembah dalam hidup sehari-hari. Setiap hari Tuhan memberikan keyakinan kepada orang beriman untuk tetap bertahan dalam hidup ini. Tuhan mengemudikan hidup manusia.

Yesus bersabda, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup.” Tuhan mengarahkan manusia ke jalan yang benar, yaitu kepada diri-Nya. Dengan demikian, manusia memperoleh ketenangan dalam hidup ini. Manusia memperoleh keselamatan yang datang dari Tuhan. Mari kita serahkan hidup kepada Tuhan yang menuntun hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


967

23 April 2013

Bersandar pada Kebaikan Tuhan

 
Kalau Anda berhadapan dengan kesulitan-kesulitan hidup, kepada siapa Anda akan memohon bantuan? Kepada orang-orang yang terdekat dengan Anda? Atau kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang? Tentu Anda punya keyakinan bahwa Tuhan hadir dalam diri sesama Anda. Karena itu, melalui sesama itu Tuhan mengalirkan kasih sayangnya.

Ada seorang ibu yang rajin berdoa untuk adiknya yang sedang menderita penyakit gagal ginjal. Sudah enam tahun ini adiknya itu bergantung pada obat-obatan. Dua tahun terakhir ini adiknya itu mesti menjalani cuci darah. Ia berdoa agar adiknya diberi kekuatan untuk menjalani hidupnya. Pasalnya, sang adik sudah mulai putus asa. Ia tidak ingin adiknya mengakhiri hidupnya dengan cara yang tidak wajar. Ia ingin adiknya itu menemukan damai dalam hidupnya.

Karena itu, tak henti-hentinya ibu itu berdoa bagi kesembuhan adiknya, kalau Tuhan berkenan menyembuhkannya. Ia menyerahkan sang adik sepenuhnya pada penyelenggaraan Tuhan. Ia yakin, Tuhan yang mahabaik dan mahapenyayang itu akan memperhatikan adiknya. Ia mau, agar sang adik juga menyerahkan hidupnya pada penyelenggaraan Tuhan.

Doa-doa ibu itu berbuah. Sang adik kembali menemukan kekuatan untuk setia menjalani proses penyembuhan. Selain obat-obatan yang ia perloleh dari dokter, sang adik juga menjalani pengobatan alternatif. Hasilnya, tidak sering lagi ia menjalani proses cuci darah. Wajahnya semakin berseri-seri. Ia menemukan bahwa doa ternyata mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Ibu itu tetap setia berdoa. Baginya, berdoa berarti menyerahkan seluruh hidup kepada Tuhan. Berdoa berarti ungkapan iman yang mendalam kepada Tuhan.

Ibu itu berkata, “Saya selalu sadar bahwa saya harus selalu bersandar pada Tuhan. Dialah kekuatan bagi hidup saya dan adik saya.”

Sahabat, banyak orang berteriak-teriak kepada Tuhan, namun Tuhan seolah-olah tuli. Tuhan tidak mendengarkan doa-doa mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang berteriak tanpa punya iman yang mendalam. Orang berteriak bahkan sampai memarahi Tuhan, tetapi tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.

Tentu saja kalau kita mengaku bahwa Tuhan adalah penolong kita, kita tidak hanya berteriak-teriak memohon bantuanNya. Kita juga mesti membuktikan pengakuan iman kita itu melalui hidup kita sehari-hari. Iman yang mendalam itu menjadi tampak melalui penyerahan diri yang tulus kepada Tuhan.

Sayang, banyak orang hanya mengaku dengan mulut bahwa Tuhan itu pedoman hidupnya. Dalam hidup sehari-hari, mereka tidak tunjukkan dengan sikap dan tingkah laku yang baik dan benar. Perbuatan mereka jauh dari kehendak Tuhan. Mereka melakukan sesuatu hanya demi memenuhi keinginan diri sendiri.

Karena itu, kita diajak untuk senantiasa menyerahkan hidup ke dalam kuasa Tuhan. Bersandar pada Tuhan merupakan pilihan utama kita baik dalam untung maupun malang. Kita tetap setia kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

966

20 April 2013

Berefleksi untuk Menemukan Kasih yang Tulus

 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau Anda sedang berhadapan dengan situasi yang sulit? Misalnya, orang yang begitu dekat dengan Anda meninggalkan Anda? Apakah Anda membiarkannya pergi begitu saja? Atau Anda berusaha untuk menyalahkan dirinya?

Ada seorang bapak yang mengalami hati yang gundah. Pasalnya, sang istri sedang jatuh cinta dengan pria lain. Tidak hanya itu. Istrinya beberapa hari meninggalkan rumah. Ia tidak tahu di mana istrinya berada. Ia sudah mencari ke beberapa tempat, tetapi ia tidak menemukannya. Bapak itu merasa bersalah. Mengapa ia mesti kehilangan istrinya? Ia masih mencintai istrinya itu.

Suatu hari, ia berpapasan dengan istrinya di suatu tempat yang ramai. Ia sempat memandang wajah istrinya. Namun istrinya kemudian menghindari dirinya. Ia menghilang dalam keramaian. Bapak itu sangat kecewa. Ia ingin menjumpai istrinya, namun ia tidak bisa. Kerinduan yang begitu dalam seolah tidak punya makna apa-apa.

Begitu sampai di rumah, bapak itu memukuli dirinya sendiri dengan sebuah tongkat. Darah mengucur dari dahinya. Itulah tanda penyesalannya, mengapa ia tidak bisa bertemu dengan istrinya. Lantas ia mencoba menelephone istrinya. Namun sang istri tidak pernah menjawab telephonenya. Ia mengirim SMS, namun tidak pernah dibalasnya.

Bapak itu kemudian mengadakan refleksi yang mendalam atas kondisi hidupnya, istrinya dan keluarganya. Dalam refleksinya itu, ia menemukan ada dua hal yang menyebabkan situasi keluarganya karut marut. Pertama, ia terlalu memaksakan kehendaknya. Selama ini ia menjadi seperti seorang raja yang berkuasa penuh atas keluarganya. Tidak ada yang berani membantah kata-katanya, termasuk istri yang sangat dicintainya. Akibatnya, tidak ada suasana hidup yang bebas dalam keluarga itu.

Kedua, ia terlalu egois. Segala hal ia lakukan untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau ada orang yang melebihi dirinya. Gajinya ia mau pegang sendiri. Ia menjadi orang yang kikir dengan mengutamakan kebutuhan dirinya sendiri. Akibatnya, sang istri yang tidak bekerja tidak bisa belanja untuk berbagai keperluan keluarga. Kebutuhan anak-anaknya tidak terpenuhi dengan layak. Akibat lanjutnya adalah sang istri nekad meninggalkan dirinya.

Sahabat, sering manusia merasa bahwa kepentingan dirinya yang mesti diutamakan. Kepentingan orang lain nanti dulu. Akibatnya, orang berusaha untuk secara sewenang-wenang menguasai orang lain. Orang tidak memikirkan kepentingan dan kebutuhan orang lain. Jeleknya lagi, hal seperti ini pun sering terjadi dalam hidup bersama.

Pertanyaannya, mengapa hal seperti ini mesti terjadi bahkan menimpa hidup berkeluarga? Tentu saja ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun satu hal yang pasti, yaitu orang kehabisan kasih setia kepada sesamanya. Akibatnya, orang hanya mengutamakan dirinya sendiri. Orang tidak melihat kebutuhan hidup sesamanya.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa hidup dalam suasana kasih merupakan hal yang utama. Ketika orang kehilangan kasih, orang juga kehilangan sesama yang ada di sekitarnya. Orang hidup bagai layang-layang putus. Orang tidak bisa lagi mengungkapkan kerinduannya untuk berjumpa dengan orang-orang yang sangat dicintai.

Karena itu, orang beriman mesti selalu mengutamakan kasih di atas segala-galanya. Orang beriman mesti melandaskan hidupnya pada kasih setia yang tulus. Hanya melalui kasih setia yang tulus itu, orang beriman mampu meneruskan perjalanan hidup di dunia ini dengan hati yang damai dan penuh sukacita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


965