Pages

31 Januari 2014

Menyerahkan Kehendak Diri kepada Tuhan

 


Ada seorang perempuan yang sudah lama menikah. Ia sangat berbahagia hidup dengan suaminya. Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi suaminya. Ia tetap mengandalkan cinta dan kesetiaannya kepada suaminya. Baginya, sebuah perkawinan mesti selalu dilandasi oleh kasih dan kesetiaan.

Ia semakin berbahagia, ketika menyaksikan suaminya pun tetap setia dan mencintainya. Soal yang muncul dalam dirinya adalah sudah sekian lama mereka menikah, namun ia belum memberikan keturunan bagi suaminya. Padahal kasih dan kesetiaan mereka tidak kurang-kurang. Usaha-usaha untuk mendapatkan anak pun telah mereka lakukan sebaik-baiknya.

Karena itu, suatu hari ia berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agar diberi seorang anak yang menjadi buah cinta dirinya dengan suaminya. Ia berkata, ”Tuhan, berikanlah kami seorang anak yang dapat membuat perkawinan kami semakin bahagia. Biarlah anak itu akan menjadi buah cinta sejati kami. Aku menyerahkan seluruh hidupku kepada-Mu.”

Rupanya Tuhan mendengarkan doa yang penuh harap itu. Enam bulan kemudian, ia hamil. Ia sangat bergembira. Ia berusaha untuk terus-menerus memupuk suasana gembira dalam dirinya dan keluarganya. Suaminya pun ikut bergembira mendengar peristiwa kehamilan istrinya. Ia pun berusaha untuk semakin menyayanginya. Ia berusaha untuk menggembirakannya.

Sahabat, doa orang yang beriman yang penuh harapan dipanjatkan kepada Tuhan ternyata didengarkan. Tuhan masih hidup. Tuhan masih mendengarkan keluh kesah milik kepunyaanNya. Tuhan tidak melupakan umatNya yang berdoa kepadaNya. Harapan seseorang yang merindukan kebahagiaan dikabulkan oleh Tuhan.

Pernahkah kita berdoa dengan penuh iman dan harapan kepada Tuhan? Atau kita terlalu memaksakan kehendak kita kepada Tuhan dalam doa-doa kita? Mungkin hal kedua ini yang sering kita lakukan. Ketika kita mengalami duka nestapa dalam hidup ini, kita sering memaksa Tuhan untuk menyingkirkan duka nestapa itu. Padahal mungkin duka nestapa itu memiliki hikmah bagi hidup kita. Mungkin duka nestapa itu menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk belajar menyerahkan hidup kita dengan lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Kisah ibu tadi mau mengatakan kepada kita bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yang penuh iman menyerahkan seluruh keinginan kepada Tuhan. Biar Tuhan saja yang mengabulkan doa-doanya. Ia tidak memaksakan kehendaknya agar Tuhan mengabulkan doanya. Ia menyerahkan seluruh kehendak dirinya itu kepada Tuhan. Soal dikabulkan atau tidak doanya itu, itu bukan urusannya. Itu urusan Tuhan.

Mari kita menyerahkan doa-doa kita kepada Tuhan. Kita biarkan Tuhan sendiri yang mengabulkan doa-doa kita. Kita tidak perlu memaksa Tuhan. Dengan demikian, hidup kita berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1039

30 Januari 2014

Mengerjakan Tugas-tugas dengan Sukacita

 

Ada seorang anak yang selalu mengeluh di kala mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Ia selalu merasa sulit. Akibat lanjutnya adalah ia enggan untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan gurunya. Ia mengaku tidak bisa menyelesaikan soal-soal itu. Baginya, soal-soal itu hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang brilian.

Ibunya yang menyaksikan sikap anaknya itu menjadi gelisah. Ia tidak yakin anaknya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya. Karena itu, sang ibu berusaha meyakinkan anaknya. Ia berkata, “Nak, kamu pasti bisa mengerjakan soal-soal itu. Kan tidak ada yang sulit.”

Anak itu tidak mau menggubris. Ia sama sekali tidak mau membuka buku pekerjaan rumahnya. Ia merasa yakin bahwa ia tidak mungkin mengerjakan soal-soal itu. Namun ibunya tidak mau menyerah. Ia sangat yakin, anaknya dapat mengerjakan soal-soal yang ditugaskan kepadanya itu.

Ia berkata, “Nak, coba kamu buka buku pekerjaan rumahmu. Ibu yakin, setelah kamu membacanya pasti kamu menyukainya. Kamu pasti mengerjakan soal-soal itu.”

Anak itu pun mulai membuka buku pekerjaan rumahnya. Satu demi satu ia perhatikan soal-soal itu. Tiba-tiba ia berteriak, “Ibu, ini soal-soal yang mudah. Aku pasti dapat mengerjakannya....”

Sahabat, banyak orang menganggap tugas-tugas yang diberikan kepada mereka itu sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Soalnya adalah orang tidak teliti. Orang sudah memiliki prasangka yang bukan-bukan. Akibatnya, orang tidak berani menggerakkan tangan dan kakinya untuk mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tanpa kreativitas, orang tidak akan berhasil mengerjakan suatu tugas pun. Hasilnya akan sangat mengecewakan.

Karena itu, yang mesti dilakukan adalah orang mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tidak perlu terlalu banyak memikirkannya. Mulai saja dan orang akan menemukan bahwa betapa pun beratnya suatu tugas akan dapat diselesaikan dengan baik. Tidak peduli tugas apa yang dikerjakan. Orang mesti memberi perhatian penuh dan yang terbaik. Orang tidak bisa setengah-setengah dalam menyelesaikan tugas itu.

Untuk itu, orang tidak perlu mencari kenyamanan dulu. Orang mesti menciptakan suasana kenyamanan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mengapa? Karena kenyamanan yang diciptakan sendiri itu akan bertahan lama. Tidak lekang oleh waktu. Orang akan menemukan betapa indahnya kenyamanan itu bagi hidupnya.

Orang beriman mesti melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. Mengapa? Karena hanya dengan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, orang beriman akan berhasil dalam tugas-tugasnya. Ia tidak bekerja sendirian. Ia bekerja bersama Tuhan yang terlibat dalam proses hidupnya. Ia senantiasa menyertakan Tuhan dalam tugas-tugasnya. Dengan demikian, tugas-tugas itu dikerjakan dengan penuh sukacita dalam kasih yang membara. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1038

29 Januari 2014

Mewujudkan Iman dengan Berbuat Baik

 


Lindsay Lohan (24) adalah seorang bintang film yang sedang menanjak di Amerika Serikat. Awal Desember 2009 lalu ia berada di Inida untuk pengambilan gambar sebuah film dokumenter tentang perdagangan manusia.

Ia bekerja bersama BBC. Kesibukannya yang luar biasa itu tidak membuat Lindsay buta matanya terhadap sesamanya. Bintang film Means Girls ini merencanakan perjalanan amal ke Guatemala setelah kembali dari India.

Tentang kunjungannya ke India, ia berkata, ”Sejauh ini sudah 40 anak yang berhasil diselamatkan. Inilah hidup sesungguhnya. Melakukan semua ini membuat hidup lebih berarti.”

Rupanya kerja amal itu tidak hanya membantu orang lain. Menurut Ibunya, Dina Lohan, kerja amal yang dilakukan Lindsay Lohan telah mengubah dirinya yang temperamental menjadi lebih rendah hati dan sensitif. Karena itu, setelah kunjungannya ke India, Lindsay akan berkunjung ke Guatemala untuk kembali melakukan kerja amal bersama stasiun televisi milik Oprah Winfrey.

Ibunya berkata, ”Lindsay akan kembali memberi. Kami sedang merencanakan perjalanan untuk membantu anak-anak di Guatemala yang akan difilmkan oleh jaringan TV milik Oprah.”

Sahabat, hidup itu semakin bermakna ketika orang berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ketika berbuat sesuatu yang baik bagi sesamanya, sebenarnya orang melakukan hal yang indah bagi hidupnya sendiri. Lindsay Lohan telah membuktikannya. Pribadinya berubah menjadi lebih positif, karena kegiatan amal yang dilakukannya untuk sesamanya.

Melakukan sesuatu yang baik bagi sesama kita adalah panggilan kita sebagai orang beriman. Mengapa? Karena pada hakekatnya, orang beriman itu mesti melakukan yang baik bagi sesamanya. Itulah perwujudan iman orang beriman. Orang beriman yang enggan melakukan perbuatan baik bagi sesamanya kehilangan jati dirinya sebagai orang beriman. Ia menjadi lemah dalam hidupnya, karena tidak mempraktekkan ajaran imannya. Ia menjadi orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi hidup manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Orang beriman mesti beranai keluar dari egoismenya untuk melakukan sesuatu yang lebih luas. Dengan demikian, orang tidak terkungkung dalam cinta diri yang berlebihan. Mari kita berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1037

28 Januari 2014

Membuka Diri untuk Bekerja Sama




Persoalan yang sering dihadapi dalam hidup bersama adalah bekerja bersama yang lain. Kemampuan yang berbeda-beda di antara kita sering menjadi penghalang dalam upaya-upaya bekerja sama untuk membangun hidup yang lebih baik.

Suatu hari seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai. Tiba-tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsa kelinci itu. Menyadari dirinya akan menjadi mangsa, kelinci itu berkata, ”Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang. Saya yakin, saya akan menang.”

Rubah Jantan itu merasa tertantang. Lantas ia berkata, ”Di mana pun jadi. Masak kamu bisa menang melawan aku?”

Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci. Sepuluh menit kemudian, kelinci keluar sambil mengangkat setangkai paha rubah. Ia melahapnya dengan nikmat. Kelinci itu kembali bersantai. Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai, tiba-tiba ia disergap oleh seekor serigala yang besar. Namun ia dapat menghindar.

Lalu ia berkata, ”Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang. Saya yakin, saya akan menang.”

Serigala besar itu merasa tertantang. Ia menerima tawaran kelinci. Serigala itu berkata, “Kamu pasti kalah. Kamu tidak terlatih untuk berkelahi dengan binatang buas seperti kami.”

Mereka pun melangkahkan kaki ke dalam sarang kelinci. Lima belas menit kemudian kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha serigala. Ia melahapnya dengan nikmat.

Senja hari pun tiba. Kelinci itu kemudian melongok ke dalam lubangnya. Sambil melambai, ia berkata, ”Hai keluar. Sudah sore. Besok kita teruskan.”

Dari dalam lubang itu keluarlah seekor harimau yang sangat besar badannya. Sambil menguap, harimau itu berkata, ”Kerja sama yang sukses hari ini. Kita makan kenyang. Saya tidak perlu berlari kencang untuk memangsa makanan.”

Sahabat, seorang pemenang selalu berpikir tentang cara-cara kerja sama yang baik untuk suatu pekerjaan. Kalau orang mau berhasil dalam usaha, orang tidak bisa bekerja sendirian. Orang mesti mau bekerja sama dengan sesamanya. Dengan demkian, hasil yang diperoleh menjadi maksimal. Orang akan mencari strategi-strategi yang baik untuk meraih sukses.

Sebaliknya, seseorang yang kalah biasanya berusaha sendiri. Kerja sama akan ia abaikan. Ia tidak peduli terhadap kebaikan orang lain. Yang ia inginkan adalah ia berjuang untuk meraih kesuksesan bagi kejayaan dirinya sendiri. Ia tidak bisa bekerja sebagai sebuah tim. Baginya, kerja sama hanyalah sebuah penghalang dalam meraih kejayaan itu. Namun sesungguhnya yang terjadi kemudian adalah kerja seorang pecundang itu selalu tidak maksimal. Hasil yang diraih hanyalah sebuah kenikmatan semu saja. Ia hanya memuaskan keinginannya sesaat saja.

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita berani membuka diri kita untuk mau bekerja sama dengan semua orang. Untuk itu, dibutuhkan kerendahan hati dalam diri kita. Orang yang sombong akan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Orang seperti ini sering menjadi pecundang. Sedangkan orang yang rendah hati akan sukses dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1036

27 Januari 2014

Mengosongkan Diri bagi Rahmat Tuhan




Setiap kita pasti pernah mengalami kekurangan. Bagaimana kita berusaha untuk mengatasi kekurangan kita itu? Tentu saja setiap kita punya cara masing-masing untuk mengatasi kekurangan diri kita. Ada yang saling belajar dalam cara mengatasi kekurangan dirinya. Ada yang maunya cari cara sendiri.

Ada seorang pengajar (Lao Tze) yang mendasarkan pemikirannya pada peristiwa-peristiwa yang dipelajarinya dari alam. Menurutnya, alam memberikan pencerahan yang begitu luas bagi hidup manusia. Karena itu, manusia tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan dari alam itu.

Kepada murid-muridnya, ia berkata, “Anda tidak bisa mengisi sebuah mangkuk dengan air, jika Anda tidak mengosongkannya terlebih dahulu.”

Sahabat, banyak orang ingin hidup dalam kelimpahan demi kelimpahan. Namun sering orang bingung bagaimana mengisi kelimpahan itu. Orang beranggapan bahwa orang mesti mempertahankan apa yang telah dimilikinya sekuat-kuatnya. Akibatnya, orang menjadi kikir atau pelit. Ketika sesamanya membutuhkan bantuan, mereka diam saja. Tidak mau menggerakkan tangannya untuk memberi sesamanya apa yang dibutuhkannya.

Orang merasa bahwa kalau melepaskan apa yang dimiliki itu orang akan kehilangan. Orang tidak punya apa-apa lagi. Akibatnya, orang menumpuk kekayaan hanya untuk dirinya sendiri. Orang tidak rela berbagi dengan sesamanya. Orang membiarkan dirinya dikuasai oleh egosime dan kepentingan dirinya sendiri.

Falsafah yang ditampilkan oleh Lao Tze di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita. Kalau kita tidak mengosongkan diri kita sendiri, kita tidak mampu menampung rahmat demi rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Dalam kondisi hati yang tertutup rapat oleh egoisme, rahmat Tuhan sulit menembus diri kita.

Ketika seseorang mengosongkan dirinya dari kesombongan dan egoisme, rahmat Tuhan dengan mudah menetap di dalam dirinya. Rahmat Tuhan dengan leluasa bekerja di dalam dirinya. Dengan demikian, damai dan sukacita menjadi bagian dari hidup orang itu. Orang dikuatkan oleh rahmat Tuhan itu. Orang dikuasai oleh Tuhan. Ketika orang hidup dalam kuasa Tuhan, orang mengalami Tuhan begitu baik. Tuhan menyapa dan membuat dirinya hidup dengan baik.

Untuk itu, orang beriman mesti memiliki hati yang siap sedia untuk senantiasa menerima rahmat Tuhan bagi hidupnya. Orang mesti berani mengosongkan dirinya dari kesombongan, iri hati dan egoisme. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin indah dan berguna bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1035

26 Januari 2014

Jangan Sakiti Tubuh Anda

 

Pernahkah Anda sakiti tubuh Anda sendiri? Mungkin Anda akan mengatakan tidak pernah. Namun kalau kita refleksikan lebih dalam, kita akan mengakui bahwa kita pernah menyakiti tubuh kita sendiri. Caranya bermacam-macam.

Minuman alkohol memang diketahui berdampak buruk dan berbahaya bagi tubuh. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa alkohol tiga kali lebih berbahaya dibandingkan dengan heroin. Penelitian ini dilakukan oleh Profesor David Nutt, seorang mantan kepala penasihat obat Inggris dan rekannya. Ia memberikan peringkat terhadap 20 jenis obat dengan melakukan 16 pengukuran.

Masing-masing obat dilihat bahaya dan kerugiannya termasuk kerusakan mental dan fisik, kecanduan, kejahatan, biaya ekonomi serta dampaknya bagi si pengguna dan juga masyarakat luas.

Hasil penilaian ini menyimpulkan bahwa heroin dan methylamphetamine adalah obat yang paling berbahaya bagi individu. Tetapi alkohol, heroin dan kokain adalah obat yang paling merugikan untuk orang lain. Namun ketika nilai untuk kedua jenis bahaya tersebut ditambahkan, maka alkohol muncul sebagai obat yang paling berbahaya lalu diikuti oleh heroin.

Berdasarkan sistem baru yang lebih kompleks, didapatkan bahwa alkohol memiliki peringkat tiga kali lebih berbahaya dibandingkan dengan kokain atau tembakau. Sementara ekstasi menyebabkan seperdelapan bahaya dari alkohol.

“Hasil ini sesuai dengan kesimpulan laporan ahli sebelumnya bahwa alkohol adalah target merugikan yang agresif sehingga diperlukan strategi kesehatan yang valid bagi publik,” kata Prof Nutt.

Prof Nutt menuturkan, jika dilihat dari risiko bahaya secara keseluruhan, maka alkohol dan heroin jelas lebih berbahaya dibandingkan dengan jenis obat-obatan lainnya. Tapi faktor kuantitas atau jumlah dari obat tersebut yang dikonsumsi juga berpengaruh.

Sahabat, manusia sering terjebak dalam godaan-godaan. Sudah tahu bahwa menyeberang sembarangan di jalan yang ramai dan padat akan membahayakan hidup, tetapi masih saja orang melakukannya. Mereka tidak peduli diri mereka berada dalam situasi bahaya.

Atau banyak orang sudah tahu, kalau minum minuman beralkohol mengganggu kesehatan, tetapi masih saja ada orang yang menenggak minuman itu. Bahkan ada yang mengoplos minuman beralkohol itu dengan racun serangga. Seolah-olah orang mau pamer kehebatan. Orang mau mengatakan kepada sesamanya bahwa ia lebih mampu daripada orang lain dalam hal minum minuman beralkohol. Padahal setelah itu, minuman beralkohol menghancurkan organ-organ tubuh yang vital bagi kehidupan.

Kiranya hasil penelitian Prof Nutt di atas mampu menyadarkan manusia bahwa minuman beralkohol tidak memberi kebaikan bagi kesehatan manusia. Minuman seperti itu hanya menumbuhkan gengsi sesaat dalam diri seseorang. Gengsi itu sering menyesatkan manusia.

Sebagai orang beriman, kita mesti memelihara tubuh kita. Mengapa? Karena tubuh kita ini pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Sampai kapan pun kita ini milik Tuhan. Bahkan sampai tubuh kita ini tidak berbentuk lagi, kita tetap milik Tuhan. Karena itu, jangan kita sakiti tubuh kita ini. Dengan demikian, tubuh kita menjadi tempat tinggal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” kata St Paulus (1Kor 6:19). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1034

25 Januari 2014

Memaknai Kebaikan Tuhan dalam Hidup



Sering orang melarikan diri dari penderitaan yang dihadapi. Mereka kemudian menyalahkan orang lain atau menyalahkan Tuhan. Padahal Tuhan begitu baik terhadap hidup mereka. Tuhan memelihara hidup mereka.

Suatu hari seorang ibu kehilangan anak semata wayangnya. Ia sangat menyayangi anaknya itu. Namun karena suatu penyakit yang tak tersembuhkan, anaknya menutup mata untuk selama-lamanya. Ibu itu seolah-olah kehilangan pegangan hidup. Ia menjadi loyo dalam hidupnya. Ia enggan untuk memulai hidupnya lagi seperti sedia kala. Ia tenggelam dalam duka nestapa yang berlarut-larut.

Ia tidak mau menerima kenyataan itu. Ia berontak terhadap situasi itu. Ia menuduh Tuhan telah melupakan dirinya. Ia memutuskan untuk meninggalkan Tuhan. Ia berkata, “Mengapa Tuhan memberi penderitaan ini bagi hidup saya? Mengapa Tuhan tidak peduli terhadap doa-doa saya?”

Ibu itu terjerembab dalam pikirannya sendiri. Ia menjadi stress. Ia tidak ingin meneruskan hidupnya lagi. Untung, sang suami kemudian menyadarkan dirinya. Sang suami berkata kepadanya, “Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Anak kita meninggal karena penyakit yang menggerogotinya. Lebih baik baginya untuk kembali ke haribaan yang mahakuasa. Kalau dia masih hidup, penderitaannya akan lebih besar lagi.”

Ibu itu tersadar dari situasinya. Ia berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Berbulan-bulan kemudian ia dapat menerima kenyataan hidupnya.

Sahabat, kebaikan Tuhan sering kita temukan dalam hidup sehari-hari. Kita masih bisa bangun pagi-pagi untuk menghirup udara yang segar. Kita boleh menikmati sarapan pagi bersama orang-orang yang kita cintai. Kita masih boleh bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup kita sehari-hari.

Namun sering manusia kurang menyadari kebaikan Tuhan itu. Manusia merasa bahwa kalau Tuhan itu baik, itulah kewajiban Tuhan. Karena itu, ketika manusia mengalami penderitaan dan kegagalan dalam hidup, mereka cenderung mencari kambing hitam. Siapa yang sering dikambinghitamkan? Jawabannya adalah Tuhan sering disalahkan oleh manusia yang sedang menderita. Tuhan menjadi kambing hitam penderitaan dan kegagalan manusia.

Benarkah sikap demikian? Tentu saja sikap demikian bukanlah sikap orang yang beriman. Orang beriman itu orang yang bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang berani menghadapi resiko kehidupan ini. Bukan orang yang cengeng. Bukan orang yang mudah mengalihkan kesalahan yang dibuatnya kepada orang lain atau Tuhan.

Untuk itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia? Yang mesti dilakukan oleh manusia adalah memiliki hati yang lapang. Artinya, hati yang siap sedia menerima resiko apa pun yang dihadapinya. Hati yang lapang itu hati yang tidak kecut. Hati yang tidak takut terhadap setiap bentuk tantangan dan ancam. Hati yang lapang itu hati yang mau menerima sesama apa adanya.

Karena itu, kita mesti bertobat. Artinya, kita menerima setiap kenyataan yang terjadi atas diri kita dengan hati yang lapang dan besar hati. Lantas bersama Tuhan yang kita imani itu kita berusaha untuk mengatasi setiap persoalan hidup kita. Kita biarkan Tuhan berkarya di dalam diri kita dengan rahamatNya. Dengan demikian, kita mampu menanggung setiap beban derita yang kita hadapi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1033

24 Januari 2014

Hidup Ini Anugerah Tuhan



Masihkah Anda mengalami kasih Tuhan dalam hidup Anda, di saat badai mengguncang hidup Anda? Atau Anda melakukan protes terhadap Tuhan, karena merasa Tuhan tidak adil terhadap diri Anda?

Nick Vujicic adalah seorang pria asal Australia yang mempunyai kondisi tubuh cacat. Dia tidak mempunyai kedua tangan dan kaki yang utuh. Kaki sebelah kirinya pendek sekali, nyaris hanya dari mata kaki sampai telapak kaki. Namun Nick mampu menerima kondisinya ini sebagai karunia Tuhan.

Memang, awalnya Nick menolak kondisi dirinya. Ia merasa Tuhan tidak adil telah menciptakan dirinya tidak normal seperti manusia lain. Saat ia berusia lima hingga tujuh tahun, ia protes kepada Tuhan. Kalau Tuhan itu baik, mengapa ia menciptakan dirinya dengan tidak normal? Bahkan waktu berusia 12 tahun Nick mencoba untuk bunuh diri.

Ia berkata, “Saya memang pergi ke sekolah, tapi hidup saya tidak ada di sekolah. Saya melihat diri saya tidak layak lagi untuk hidup. Saya begitu menyesali keadaan diri saya. Tapi yang saya harapkan saat itu seseorang datang dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Tapi saya tetaplah seorang yang cacat. Saya tidak bisa bermain bersama teman-teman saya yang normal.”

Namun Nick mengurungkan niatnya untuk berbuat nekad. Hal itu terjadi, ketika sang ibu menunjukkan gambar orang cacat seperti dirinya dari sebuah koran lokal. Nick sadar bahwa ia tidak sendirian. Masih ada orang yang senasib dengan dirinya. Ia pun bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai berjuang. Dan ia berhasil. Ia mengalami kasih Tuhan itu melalui orang-orang yang ada di sekitarnya. Sang mama yang sangat mengasihi dengan merawatnya ia alami sebagai kehadiran Tuhan yang menyertai perjalanan hidupnya.

Sahabat, masihkah Anda yakin bahwa Tuhan masih mengasihi Anda? Kalau Anda masih yakin, mengapa Anda mudah menyerah di kala Anda menghadapi persoalan-persoalan hidup? Mengapa Anda protes terhadap Tuhan, di kala Anda mengalami duka nestapa menimpa diri Anda?

Banyak orang merasa ditinggalkan Tuhan, saat mereka mengalami penderitaan dalam hidup ini. Mereka protes terhadap Tuhan. Mereka berusaha untuk meninggalkan Tuhan. Padahal saat mereka melakukan kesalahan dan dosa, mereka tidak pernah menyertakan Tuhan. Mereka lakukan sendiri dan bahkan sembunyi-sembunyi.

Kisah Nick di atas memberi kita inspirasi bahwa kasih karunia Tuhan tidak berkesudahan. Tuhan tetap setia kepada kita. Tuhan memberi kita kemampuan untuk melintasi perjalanan hidup ini. Tuhan telah menyerahkan bekal hidup bagi kita saat menciptakan diri kita. Dengan cara itu, Tuhan ingin agar kita tetap setia kepadaNya. Kita tetap mengarahkan hidup kita kepada diriNya. Kita terus-menerus mengembangkan diri kita dengan mengandalkan kasih karunia Tuhan itu.

Sebagai orang beriman, kita mesti terus-menerus mencari dan menemukan kasih Tuhan dalam hidup ini. Kasih Tuhan itu dapat kita temukan dalam diri orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan biarkan kasih Tuhan lewat begitu saja. Jangan biarkan hidup kita tanpa arah yang jelas. Mari kita mengalami kasih Tuhan yang hadir dalam hidup kita melalui sesama di sekitar kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1032

23 Januari 2014

Menciptakan Keselarasan dalam Hidup




Kalau Anda punya tujuan hidup, apa yang Anda lakukan untuk meraih tujuan hidup itu? Tentu saja Anda akan lakukan hal-hal yang terbaik untuk menggapai tujuan hidup Anda.

Ada seorangg teman yang sedang berusaha untuk menurunkan berat badannya. Bayangkan, berat badannya melampaui batas, yaitu 120 kilogram. Perawakannya memang tinggi besar. Tetapi ia mengalami kesulitan untuk bergerak dengan leluasa. Jantungnya pun megap-megap. Ia takut nanti punya masalah dengan jantungnya. Ia tidak ingin mati muda. Ia tidak mau mengalami serangan jantung atau stroke.

Sudah bertahun-tahun ia berusaha untuk menurunkann berat badannya. Namun ia masih gagal juga. Ia resah dengan situasi dirinya. Ia mau menurunkan berat badannya. Namun ia kurang berhasil. Ia hidup dalam kecemasan.

Soal yang ia hadapi adalah ia sering ke dapur untuk memasak makanan kesukaannya. Mulutnya tidak berhenti dari cemilan. Ia tidak bisa diet. Ia tidak bisa membiarkan kulkas di rumahnya tetap tertutup. Ia tidak kuat untuk membiarkan perutnya lapar dalam beberapa saat. Ia tidak bisa melawan keinginan lidahnya untuk mencicipi makanan yang enak.

Karena itu, usahanya untuk menurunkan berat badan itu sia-sia saja. Ia mesti menghadapi ancaman serangan jantung dan stroke.

Sahabat, sering orang melakukan hal-hal yang tidak selaras dengan tujuan atau mimpi yang telah dicanangkannya. Orang mudah mengingkari tujuan yang telah ditetapkannya. Orang mudah meninggalkan janji-janjinya. Orang sering kurang peduli terhadap komitmen yang telah dibuatnya. Akibatnya, tujuan yang telah ditetapkan tidak mudah tercapai. Mimpi yang dicanangkan hanyalah mimpi hampa di siang bolong.

Kisah teman saya di stas menjadi contoh orang yang suka melanggar tujuan yang telah ditetapkannya. Orang tidak bisa mengharapkan mukjizat terjadi atas dirinya, kalau ia sendiri tidak mau berjuang. Mukjizat terjadi ketika orang telah berusaha mati-matian. Tuhan intervensi ke dalam hidup seseorang, karena ketidakmampuannya untuk mengatasi krisis atau persoalan hidupnya.

Karena itu, kalau Anda telah menetapkan tujuan hidup Anda, tetaplah berpegang pada hal itu. Usaha untuk mencapai tujuan itu butuh pengorbanan. Tidak ada sukses yang diraih tanpa keringat dan air mata. Kalau Anda ingin ada keseimbangan dalam hidup Anda, jangan memforsis diri Anda dengan hidup yang tidak karuan. Kalau Anda berniat menurunkan berat badan Anda, stop makan sepanjang waktu. Stop buka kulkas untuk mengambil makanan dari sana.

Tujuan utama hidup orang beriman adalah berjumpa dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Untuk berjumpa dengan Tuhan, orang beriman mesti menyediakan hati dan telinganya untuk mendengarkan kehendak Tuhan atas dirinya. Kalau orang hidup hanya menurut kehendak dirinya sendiri, kehendak Tuhan tidak akan terjadi dalam dirinya.

Untuk itu, orang beriman mesti senantiasa fokus pada tujuan hidupnya untuk berjumpa dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Orang mesti menyelaraskan kehendak dirinya dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu rahmat bagi hidup ini. Hidup ini memberikan sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT'

1031

22 Januari 2014

Peduli terhadap Penderitaan Sesama



Beberapa waktu lalu, negeri kita dibanjiri oleh berbagai bencana alam. Ada gempa dahsyat yang menimpa manusia. Ada letusan gunung berapi yang memaksa manusia untuk mengungsi. Ada banjir bandang dan tsunami yang mengancam nyawa manusia. Lantas ada juga tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 milik Rusia.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang Anda mau buat bagi sesama yang menderita? Masihkah hati Anda mudah tergerak oleh penderitaan sesama Anda?

Tanggal 12 Desember 1992 lalu gempa besar menggoncang Kota Maumere, Flores dan sekitarnya. Gempa besar itu disusul oleh tsunami yang melululantakkan Pulau Babi. Dua ribu lebih orang meninggal dunia. Banyak orang hidup dalam ketakutan akan gempa susulan.

Bayangkan, banyak rumah roboh dan hancur berantakan. Kepanikan luar biasa menimpa diri manusia. Mereka tidak tahu mau lari ke mana. Mereka tidak tahu mau buat apa. Ada yang memutuskan untuk tidak lari ke mana-mana.

Hari-hari sebelum peristiwa tragis itu, tidak ada tanda-tanda. Orang hidup biasa saja dalam rutinitas mereka. Apa yang akan terjadi dalam hidup manusia, tidak pernah ada yang tahu. Orang tidak tahu kalau akan terjadi gempa atau badai dalam dirinya. Kadang-kadang semua peristiwa itu berada di luar nalar manusia.

Namun yang terjadi sesudah suatu bencana alam adalah tumbuhnya solidaritas dalam hidup manusia. Terlepas dari tulus tidaknya solidaritas itu, kita menyaksikan adanya hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Orang tidak ingin membiarkan sesamanya terpuruk dalam penderitaan.

Karena itu, tangan-tangan baik terus-menerus mengulur bagi sesama yang menderita. Tidak peduli apakah sesama itu dikenal atau tidak. Yang penting adalah sesama itu mendapatkan pengharapan untuk bangkit dari keterpurukannya itu. Keberpihakan hadir dalam diri manusia. Hasilnya adalah semangat juang tumbuh dalam diri para korban bencana alam itu.

Sahabat, apa yang dibutuhkan manusia dalam situasi mencekam atau krisis? Yang dibutuhkan adalah kita mampu menaruh kepercayaan kita pada orang lain. Kita percaya bahwa kita tidak sendirian dalam hidup ini. Masih ada orang lain yang siap mengulurkan tangan bagi hidup kita. Masih ada senyum yang tertuju kepada kita, saat kita mengalami duka nestapa ini. Masih ada hati yang mudah tergerak untuk krisis yang kita hadapi.

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita tidak perlu cemas akan hidup ini. Tuhan mengatakan, jangan cemas akan apa yang kamu makan besok. Pandanglah burung-burung di udara yang terbang kian ke mari. Mereka tidak menabur, tetapi mereka tetap mendapatkan makanan untuk hidup mereka. Tentu saja kita lebih berharga daripada burung-burung di udara. Kita diciptakan dengan akal budi yang dapat membantu kita untuk hidup lebih baik.

Tidak cemas tidak berarti kita tidak perlu berusaha lagi. Justru dalam ketidakcemasan itu ada kesempatan yang lebih besar untuk melakukan hal-hal yang besar bagi orang lain. Solidaritas terhadap orang lain menjadi lebih kuat tertanam dalam diri kita. Kalau kita punya hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan sesama, kita mampu membantu banyak orang.

Mari kita memelihara sikap solidaritas terhadap sesama kita. Dengan demikian, hati kita tetap terbuka terhadap penderitaan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1030