Pages

09 September 2010

Merebut Peluang untuk Kehidupan yang Lebih Baik



Seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya. Ia berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur dan kondisi finansial keluarganya morat marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumahnya dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan caranya memenuhi kebutuhan pokok keluarganya.

Kadang-kadang dia sangat sedih memikirkan nasibnya, anak-anak sudah lama tak dibelikan pakaian. Istrinya sering marah-marah, karena tidak dapat membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga yang lebih layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi itu dan tak yakin bahwa perjalanannya kali inipun membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran, ia membungkuk dan mengambilnya. Melihat apa yang diinjaknya, ia berkata, ”Uh…., hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok.”

Meski begitu, ia membawa koin itu ke sebuah Bank. Melihat koin itu, teller berkata, ”Sebaiknya koin ini bapak bawa saja ke kolektor uang kuno.”

Lelaki itu pun mengikuti saran. Ia membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah. Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok itu.

Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia ingin membuatkan beberapa rak untuk istrinya, karena istrinya pernah mengeluh tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu rupiah, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat meubel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan meubel. Dia menawarkan uang sejumlah satu juta rupiah kepada lelaki itu. Laki-laki itu tampak ragu-ragu, sehingga pengrajin itu meyakinkan dan menawarkan dapat menukar dengan sebuah lemari seharga satu juta rupiah.

Lelaki itu berpikir, ”Ya, sudahlah, aku tukar saja daripada aku juga akan membuat lemari. Toh juga sudah untung harganya jauh lebih tinggi”. Lelaki itu meminjam gerobak pengerajin dan dia pun segera membawa pulang lemari tersebut.

Dalam hidup ini satu hal yang penting adalah kreativitas dalam menangkap peluang-peluang yang ada. Peluang yang ada mesti ditangkap dengan baik untuk kemajuan hidup ini. Hanya dengan cara demikian, orang dapat menemukan suatu hidup yang lebih baik. Hanya dengan demikian, orang dapat menemukan hidup yang bahagia dan damai.

Namun banyak orang sering tidak peduli terhadap peluang-peluang yang ada. Mereka membiarkan peluang-peluang itu berlalu begitu saja. Padahal peluang-peluang itu sangat berharga bagi hidup mereka. Orang seperti ini biasanya orang yang hanya mau cari enak. Orang yang tidak mau bersusah payah dalam hidupnya. Orang seperti ini hanya menyia-nyiakan waktu hidupnya. Mengapa? Karena peluang itu akan pergi begitu saja. Peluang itu akan hilang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menggunakan peluang-peluang yang ada untuk membangun hidup kita. Kita tidak perlu menunggu butir-butir emas jatuh dari langit ke atas tangan kita. Kita tidak perlu menunggu koin penyok yang mahal harganya. Bahkan kita sendiri mesti menciptakan peluang untuk diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

492

08 September 2010

Berani Berguru dari Kesalahan

Suatu hari seorang petani tua menyusuri sebuah jalan yang panjang. Pada bahunya melintang sebuah tongkat dari bambu. Di ujung tongkat bambu itu tergantung sebuah guci keramik yang berisikan sup kacang kedelai. Setelah beberapa saat, tiba-tiba ia jatuh tersungkur. Guci itu jatuh, pecah dan sup kacang kedelai itu jatuh berantakan.

Sang petani lalu bangun dan meneruskan perjalanannya tanpa menoleh ke arah sup yang terjatuh itu.

Seorang laki-laki memperhatikan kejadian tersebut. Laki-laki itu lalu cepat-cepat mendekati si petani dan berkata, "Pak, guci Bapak pecah dan sup-nya berantakan."

Petani itu menjawab, "Ya, saya tahu. Tadi saya mendengarnya."

Dengan penuh keheranan si laki-laki itu bertanya lagi, "Mengapa Bapak tidak kembali dan berbuat sesuatu?"

Dengan tenang petani tua itu menjawab, "Guci itu sudah pecah dan sup-nya sudah tidak dapat dimakan lagi. Tidak ada lagi yang bisa saya lakukan."

Apa yang mau kita lakukan terhadap sesuatu yang tidak berguna lagi? Mungkin Anda akan bersikap seperti petani yang kehilangan guci dan sup itu. Anda tidak peduli atas apa yang telah hilang dari Anda. Mungkin Anda tidak terlalu larut memikirkan hal itu.

Namun ada orang yang seringkali menghabiskan waktu dan energi untuk menyesali kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya. Seolah-olah kesalahan yang telah dibuatnya itu sungguh-sungguh menyita begitu banyak perhatian. Padahal setiap hari kita melakukan kesalahan-kesalahan. Setiap hari kita dapat kehilangan hal-hal yang begitu penting dalam hidup kita.

Sebetulnya kalau kita pikirkan lebih jauh lagi, kita akan menyadari bahwa hal-hal tersebut sudah terjadi dan kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi atasnya. Satu hal yang dapat kita lakukan ialah menjadikan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan itu sebagai pelajaran yang berharga yang akan membantu kita untuk tidak melakukannya lagi.

Ada pepatah mengatakan bahwa kegagalan itu guru yang baik untuk kesuksesan yang akan datang. Kalau Anda berani menghadapi resiko dalam hidup Anda, Anda akan meraih kesuksesan dalam hidup ini. Tetapi kalau Anda takut untuk melakukan kesalahan dalam hidup Anda, Anda akan tetaplah sebuah patung yang duduk manis. Anda tidak bisa belajar dari kesalahan yang telah Anda buat.

Sebagai orang beriman, kita punya jaminan yaitu Tuhan. Tuhan memberikan jaminan bagi kita untuk dapat melangkah lebih pasti dalam hidup ini. Karena itu, ketika kita melakukan kesalahan, kita tidak usah takut untuk memohon ampun dari Tuhan. Kita memohon, agar Tuhan memberi kita kekuatan untuk terus-menerus melakukan perbuatan-perbuatan baik, meskipun ada kesalahan-kesalahan yang menimpa kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


491

07 September 2010

Membangun Jembatan Persahabatan



Ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Mereka bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerjasama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur sapa.

Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. Kata pria itu dengan ramah, "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan. Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

Jawab sang kakak, "Oh, ya. Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana? Itu adalah rumah tetanggaku. Ah, sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu, sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah
kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku. Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku, sehingga aku tidak perlu lagi melihat. Pokoknya, aku ingin melupakannya.”

Kebencian terhadap seseorang dapat membuat orang melupakan pesaudaraan. Bahkan hal seperti ini bisa terjadi di antara saudara sekandung. Persahabatan dan persaudaraan yang telah terbangun begitu lama mesti berakhir dengan tragis. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang lebih mementingkan diri sendiri. Orang hanya ingin mencari selamat sendiri. Akibatnya, orang lupa bahwa keselamatan sesama juga menjadi hal yang penting dalam hidup ini.

Untuk itu, dibutuhkan suatu jembatan yang dapat menghubungkan kembali persaudaraan dan persahabatan itu. Orang mesti berani membangun jembatan, bukan membentengi diri dengan tembok yang tinggi. Orang mesti berani mengubah cara pandang dari memandang secara negatif sesama menjadi memandang sesama dari segi positif.

Tentu saja hal ini tidak muda. Namun kalau orang sungguh-sungguh menyadari kehadirannya sebagai orang beriman, orang akan lebih mengutamakan persaudaraan dan persahabatan. Orang akan berusaha untuk menjadi saudara dan sahabat bagi sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mendahulukan persaudaraan dan persahabatan. Dengan cara ini, kita dapat menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

490

06 September 2010

Perjuangkanlah Hidup yang Indah Ini

Di depan para muridnya, seorang guru menceritakan pengalaman bertemu dengan seorang veteran Perang Dunia II. Pada suatu hari, prajurit tersebut harus menerbangkan ratusan pekerja rodi dari China untuk menggarap proyek jalan di Myanmar.

Jarak tempuh cukup jauh. Karena itu, untuk menghilangkan kebosanan dalam perjalanan itu, para pekerja itu menghabiskan waktu mereka dengan bermain kartu. Mereka bertaruh. Awalnya mereka bertaruh dengan menggunakan uang dan harta yang melekat pada badan mereka. Makin lama makin seru. Lama-kelamaan mereka kehabisan apa yang mereka miliki. Akibatnya, mereka mempertaruhkan hidup mereka. Yang kalah harus terjun keluar pesawat tanpa parasut.

Tiba-tiba seorang murid di kelas itu berteriak, ”Alangkah mengerikan dan kejamnya mereka.”

Guru itu menjawab, ”Memang, sungguh-sungguh mengerikan. Tetapi dengan begitu permainan semakin menjadi ramai dan asyik.”

Murid-murid mendengarkan guru itu. Tetapi ada juga yang tidak setuju dengan perbuatan para pekerja itu. Lantas guru itu berkata, ”Anak-anak semua, kalian semua baru bisa mensyukuri hidup ini, kalau kalian pernah mempertaruhkannya.”

Hidup itu indah. Hidup ini begitu berharga. Apa pun yang kita lakukan mesti mencerminkan perjuangan untuk mempertahankan hidup kita. Tetapi bukankah manusia sering lalai dalam hidup ini? Lihat saja begitu banyak orang tidak peduli akan nyawa mereka. Di tengah lalulintas yang padat, misalnya, masih saja kita saksikan banyak pengendara kendaraan bermotor yang nyerobot. Mereka ingin cepat-cepat. Atau kadang-kadang mereka hanya mau memperlihatkan kehebatan mereka dalam berkendaraan. Nanti kalau sudah terjadi kecelakaan, baru orang akan menyadari betapa hidup itu sangat berharga.

Kisah tadi mau menunjukkan kepada kita bahwa memperjuangkan hidup itu semestinya menjadi hal utama. Bagaimana jadinya kalau seseorang kehilangan hidupnya? Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia habis. Ia hanya tinggal nama. Kalau ia orang baik, ia masih beruntung karena masih ada orang yang mengenang kebaikannya. Tetapi kalau ia seorang yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, ia akan dicaci maki oleh banyak orang.

Karena itu, kesadaran untuk memperjuangkan dan mempertahankan kehidupan merupakan hal yang utama dalam hidup ini. Manusia dipanggil untuk mengembangkan dan memajukan hidupnya. Ketika kita menyadari hidup ini indah dan berharga, kita mesti mensyukurinya. Dengan demikian, kita dapat menemukan makna kehidupan ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

489

05 September 2010

Inspirasi Kehidupan 8

Photobucket

Klik gambar untuk memperbesar.

04 September 2010

Makna Sebuah Ketulusan Hati

Suatu hari seorang anak menghampiri meja kerja ayahnya. Lantas ia memungut sebatang pensil yang patah. Anak itu berkata, ”Boleh saya ambil, ayah?”

Ayahnya yang sedang sibuk memandangnya sekilas lalu mengangguk. Sambil tersenyum, ayahnya berkata, ”Ambil saja.”

Setelah itu, ayahnya lupa selamanya. Padahal bagi anaknya, pensil itu sangat berharga untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Ia bersyukur hari itu ia mendapatkan pensil untuk melukis. Setelah meruncingkan pensil itu, ia gunakan dengan baik.

Baginya, itulah alat yang sangat bermakna. Ia dapat mengungkapkan dirinya melalui pensil tersebut. Ia dapat melukis sebuah obyek dengan sangat indah. Itulah cara ia mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain. Melalui pensil itu ia dapat membagikan pengalaman hidupnya kepada orang lain.

Dengan hati yang tulus anak itu telah mendapatkan pensil itu. Dengan hati yang tulus pula ia membagikan pengalaman hidupnya kepada sesama melalui lukisan-lukisannya. Begitu banyak orang mengagumi lukisan-lukisannya. Begitu banyak orang menyukai karya-karyanya.

Ketulusan hati di jaman sekarang sudah menjauh dari hidup manusia. Mengapa bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena manusia lebih mementingkan egoismenya. Apa yang dilakukan itu demi kepentingan dirinya sendiri saja. Kepentingan sesama dikesampingkan.

Orang yang memiliki ketulusan hati yang besar biasanya mengerjakan sesuatu tanpa tedeng aling-aling. Orang seperti ini berani menularkan apa yang dimilikinya kepada sesamanya. Ilmu yang dimiliki itu bukan dipakai hanya untuk diri sendiri. Ilmu yang dimiliki itu digunakan untuk kesejahteraan sesama.

Orang yang tulus hati biasanya berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Ia tidak peduli seberapa besar korban yang akan ia berikan. Baginya, korban itu menjadi suatu keharusan. Mengapa? Karena itulah hakekat manusia. Manusia mesti berani memberikan hidupnya bagi sesamanya.

Apakah orang beriman berani untuk memiliki ketulusan hati dalam hidup ini? Bukankah banyak orang beriman yang takut untuk berkorban bagi sesamanya? Bukankah banyak orang beriman yang berpikir terlalu panjang dan berliku-liku, ketika mesti membantu sesamanya?

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki hati yang tulus terhadap sesama kita. Kita ingin melakukan sesuatu untuk sesama dengan sepenuh hati kita. Dengan demikian, kita dapat menyumbangkan hidup dan karya kita bagi sesama. Kita dapat membangun suatu relasi yang baik yang dapat menyejahterakan sesama. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

488

03 September 2010

Menabur Kebaikan bagi Hidup Bersama


Suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ia mendekat ke arah suara itu. Ia menemukan seorang pemuda yang sebaya dengannya yang sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak ia malah semakin dalam terperosok. Ia mengulurkan tangannya kepada pemuda yang bergumul dengan lumpur itu. Tidak mudah ia menariknya ke atas. Setelah usaha keras sekitar tiga jam, ia berhasil menyelamatkannya.

Setelah berhasil menyelamatkannya, ia membawanya pulang ke rumahnya. Pemuda, sang penyelamat, sangat terkagum-kagum melihat rumah yang diselamatkan itu begitu besar, tertata rapih dan indah.

Ayah pemuda yang diselamatkan itu sangat berterima kasih atas perbuatan baik pemuda itu. Ia memberinya hadiah berupa uang sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkan nyawa anaknya. Namun pemuda itu menolaknya. Ia berkata, ”Sudah sepantasnya orang saling menolong. Apalagi ada sesama yang sedang berada dalam kesulitan.”

Sebagai ganjarannya, keduanya menjalin persahabatan yang sangat baik. Lama-lama ketahuan oleh bapak yang kaya raya itu kalau pemuda itu seorang yang miskin. Ia punya cita-cita menjadi dokter, namun tidak punya biaya. Bapak yang kaya raya itu tergerak hatinya untuk membiayai semua biaya sekolahnya. Pemuda itu pun berhasil dalam studinya dan menjadi dokter yang terkenal. Ia tetap menjalin persahabatan dengan keluarga itu. Bahkan keluarga itu ia anggap sebagai keluarganya sendiri.

Ada ungkapan bahwa yang menabur banyak akan menuai banyak. Yang menabur sedikit akan menuai sedikit. Yang menabur kebaikan akan menuai kebaikan. Yang menabur kejahatan akan menuai kejahatan pula. Tentu saja orang yang menabur kebaikan menginginkan keselamatan dan kebahagiaan bagi semua orang. Ia tidak peduli akan berapa banyak kebaikan yang akan diterimanya sebagai balasan. Yang ia pikirkan hanyalah bagaimana orang lain menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini.

Namun ada juga orang yang menabur kejahatan. Hal-hal kriminal menjadi bagian dari hidupnya. Orang seperti ini selalu berpatokan pada dirinya sendiri, egonya sendiri. Yang selalu dibangun adalah seberapa besar keuntungan yang akan ia peroleh untuk dirinya sendiri. Yang diusahakannya adalah hal-hal yang dapat memenuhi dirinya sendiri.

Tentu saja sikap seperti ini bertentangan dengan panggilan manusia untuk hidup berdamai dengan semua orang. Orang yang mau hidup berdamai itu orang yang punya kepedulian untuk kebaikan sesamanya. Orang yang mudah tergerak hatinya untuk kebaikan sesamanya. Bukan orang yang melakukan segala sesuatu untuk keuntungan bagi dirinya sendiri.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk membawa kebaikan bagi sesama. Yang mesti ditaburkan oleh orang beriman adalah kebaikan demi kebaikan. Orang beriman selalu menjauhkan dirinya dari hal-hal yang jahat yang merusak relasi dengan sesama. Mari kita berusaha untuk menabur kebaikan, agar hidup ini semakin memiliki makna. Menabur kebaikan sebanyak mungkin mesti menjadi obsesi utama orang beriman. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


487

02 September 2010

Berani Mengubah Cara Pandang


Suatu hari seorang maharaja akan berkeliling untuk melihat situasi hidup rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tetapi baru saja beberapa langkah berjalan di luar istana, kaki sang raja terluka. Kakinya terantuk batuk. Ia sangat kecewa melihat kondisi jalan seperti itu.

Ia pulang lagi ke istana. Ia berpikir untuk memperbaiki jalan-jalan. Ia memanggil semua menterinya. Ia berkata, “Ternyata jalan-jalan di negeri ini begitu jelek. Banyak batu dan berlobang-lobang. Siapkan anak buahmu untuk memperbaiki jalan-jalan di seluruh negeri. Caranya adalah dengan melapisi seluruh jalan dengan kulit sapi yang terbaik.”

Para menterinya terkejut mendengar perintahnya. Namun tidak satu pun yang berani bertanya. Yang mesti mereka lakukan adalah melaksanakan perintah sang raja. Kemudian mereka mengumpulkan semua sapi di seluruh negeri itu. Mereka mulai menyeleksi sapi-sapi yang terbaik untuk diambil kulitnya.

Di tengah-tengah perencanaan, seorang pertapa yang saleh mendengar tentang keinginan sang maharaja. Ia pun keluar dari pertapaannya. Ia mendatangi sang maharaja. Ia berkata kepada raja, “Paduka raja, mengapa paduka hendak membuat sekian banyak kulit sapi untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini? Berapa banyak sapi yang akan mati sia-sia? Bukankah yang paduka perlukan hanyalah dua potong kulit sapi untuk melapisi kaki paduka?”

Sang maharaja setuju dengan pandangan sang pertapa. Ia menghentikan rencananya untuk membangun jalan menggunakan kulit sapi yang terbaik. Ia memerintahkan para menterinya untuk membuat sandal kulit dari sapi.

Banyak orang berpikir bahwa untuk mengubah orang lain, mereka mesti mengubah segala sesuatu. Untuk mengubah dunia, orang mesti mengubah segala sesuatu. Ternyata yang dibutuhkan hanyalah perubahan dari cara pandang seseorang. Yang dibutuhkan adalah perubahan hati. Yang sungguh-sungguh mendesak adalah perubahan tingkah laku dari kita.

Orang yang tergesa-gesa ingin mengubah orang lain, akan menemui jalan buntu. Mengapa? Karena orang sering memaksakan kehendak pribadinya yang belum tentu cocok dengan apa yang terjadi dalam diri orang lain. Demikian pula orang yang mau mengubah dunia dengan pikirannya sendiri akan mengalami frustrasi. Mengapa? Karena dunia yang dipikirkan adalah dunianya sendiri. Suatu dunia yang sempit. Suatu dunia yang bagai katak di bawah tempurung.

Karena itu, orang perlu mengubah cara pandangnya. Orang mesti berani mengubah paradigma berpikirnya. Hanya dengan cara seperti itu, orang akan mampu melakukan perubahan atas dunia ini. Dengan demikian, orang akan mampu membawa damai dan sukacita dalam hidup bersama.

Mari kita berusaha untuk memandang dunia secara lebih obyektif. Tidak hanya berdasarkan kemauan dan keinginan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


486

01 September 2010

Inspirasi Kehidupan 4




Klik gambar untuk memperbesar.

Menghargai Waktu dalam Hidup

Bayangkan, seseorang meminjami Anda uang sebanyak Rp 86.400 setiap pagi. Semua uang itu mesti Anda gunakan. Setiap malam, bank itu akan menghapus semua uang yang tidak Anda gunakan hari itu. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang pinjaman Anda? Bisa ditebak, Anda pasti menghabiskan semua uang pinjaman itu.

Setiap orang memiliki bank seperti itu. Namanya waktu. Setiap pagi ia akan memberikan kepada setiap orang 86.400 detik. Pada malam harinya, ia akan menghapus sisa waktu yang tidak Anda gunakan untuk tujuan yang baik. Alasanya, ia tidak memberikan sisa waktunya kepada Anda. Ia juga tidak memberikan waktu tambahan.

Setiap hari ia akan membuka rekening baru untuk Anda. Setiap malam ia akan menghanguskan yang tersisa. Karena itu, kalau Anda tidak menggunakannya dengan baik, Anda akan mengalami kerugian. Anda tidak bisa menariknya kembali. Anda juga tidak bisa minta uang muka untuk keesokan harinya. Anda harus hidup di dalam simpanan hari ini.

Waktu ternyata begitu penting dalam hidup manusia. Orang yang tidak menyadari pentingnya waktu biasanya membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa makna. Akibatnya, orang membuang-buang waktu hidupnya hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Ketika masih muda, orang kurang peduli terhadap waktu. Orang baru merasa menyesal telah menyia-nyiakan waktu itu, ketika ia sudah beranjak tua. Orang seperti ini merasa kekurangan waktu. Padahal waktu yang diberikan kepada setiap orang itu cukup.

Jadi apa yang mesti kita buat terhadap waktu yang kita miliki? Orang Inggris mengatakan bahwa time is money. Waktu adalah uang. Orang mesti menggunakan waktu itu sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan hidupnya. Orang mesti menggunakan waktu itu sedemikian rupa, sehingga setiap detik perjalanan hidupnya menjadi bermakna.

Karena itu, orang mesti menghargai waktu yang telah diberikan dengan cuma-cuma oleh sang pencipta. Tuhan begitu baik kepada manusia. Tuhan ingin agar manusia pun menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya. Itulah tanda syukur seseorang terhadap kebaikan sang pencipta.

Orang beriman selalu melihat waktu dalam konteks perhatian Tuhan kepada manusia. Tuhan begitu mengasihi manusia. Karena itu, Tuhan memberikan manusia kesempatan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi hidupnya. Hanya dengan menghargai waktu, orang beriman senantiasa bersyukur atas panggilan hidupnya. Orang beriman tidak lupa akan kebaikan sang pencipta. Orang beriman selalu setia kepada Tuhan yang selalu setia kepadanya.

Mari kita berusaha untuk menggunakan waktu kita sebaik-baiknya. Waktu yang terbuang percuma yang menyengsarakan kita. Waktu yang digunakan dengan sebaik-baiknya memberikan kita kebahagiaan dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

485