Pages

07 September 2010

Membangun Jembatan Persahabatan



Ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Mereka bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan.

Namun kerjasama yang akrab itu kini retak. Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur sapa.

Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu. Kata pria itu dengan ramah, "Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan. Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan."

Jawab sang kakak, "Oh, ya. Saya punya sebuah pekerjaan untukmu. Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana? Itu adalah rumah tetanggaku. Ah, sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan airnya ke tengah padang rumput itu, sehingga menjadi sungai yang memisahkan tanah
kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku. Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku, sehingga aku tidak perlu lagi melihat. Pokoknya, aku ingin melupakannya.”

Kebencian terhadap seseorang dapat membuat orang melupakan pesaudaraan. Bahkan hal seperti ini bisa terjadi di antara saudara sekandung. Persahabatan dan persaudaraan yang telah terbangun begitu lama mesti berakhir dengan tragis. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang lebih mementingkan diri sendiri. Orang hanya ingin mencari selamat sendiri. Akibatnya, orang lupa bahwa keselamatan sesama juga menjadi hal yang penting dalam hidup ini.

Untuk itu, dibutuhkan suatu jembatan yang dapat menghubungkan kembali persaudaraan dan persahabatan itu. Orang mesti berani membangun jembatan, bukan membentengi diri dengan tembok yang tinggi. Orang mesti berani mengubah cara pandang dari memandang secara negatif sesama menjadi memandang sesama dari segi positif.

Tentu saja hal ini tidak muda. Namun kalau orang sungguh-sungguh menyadari kehadirannya sebagai orang beriman, orang akan lebih mengutamakan persaudaraan dan persahabatan. Orang akan berusaha untuk menjadi saudara dan sahabat bagi sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mendahulukan persaudaraan dan persahabatan. Dengan cara ini, kita dapat menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

490

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.