Pages

23 September 2010

Belajar Mendengarkan Sesama



Seorang bapak mengajarkan anak-anaknya untuk mau mendengarkan sesamanya. Soalnya, ia memberi alasan, setiap kali terjadi pertengkaran selalu saja diakhiri dengan perkelahian. Padahal sebenarnya tidak perlu terjadi pertengkaran hingga perkelahian, kalau saja masing-masing mau menahan diri untuk tidak bicara. Kalau saja masing-masing mau mendengarkan yang lain, tentu saja pertengkaran hingga perkelahian tidak terjadi di antara anak-anak itu.

Bapak itu berkata kepada anak-anaknya, ”Kalian harus belajar saling mendengarkan. Hanya dengan cara itu kalian dapat saling mendengarkan.”

Anak-anaknya mulai paham. Mereka mulai berusaha untuk mendengarkan yang lain. Meski awalnya agak sulit, tetapi lama kelamaan bisa juga. Mereka dapat saling mengerti. Tidak terjadi pertengkaran dan perkelahian di antara mereka. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang saling mengasihi.

Sahabat, mendengarkan orang lain itu tidak mudah. Manusia lebih mudah berbicara dan lebih suka didengarkan oleh orang lain. Banyak orang minta perhatian dari orang lain ketimbang harus memasang telinga bagi orang lain. Akibatnya, orang sering membuat dirinya tuli. Orang kurang mau mendengarkan sesamanya. Kata-kata yang baik dan benar dari sesamanya berlalu begitu saja.

Mengapa pasangan suami istri sering bertengkar dalam membangun hidup bersama? Karena mereka tidak mau saling mendengarkan. Karena telinga mereka tersumbat oleh egoisme. Karena mereka hanya mau pasangannya mendengarkan kata-kata dirinya sendiri. Kalau hal ini terus-menerus berlangsung di dalam kehidupan berkeluarga, cepat atau lambat keluarga ini akan berantakan. Hancur berkeping-keping.

Mendengarkan itu membutuhkan kesabaran. Orang tidak bisa begitu saja mudah mendengarkan. Orang mesti belajar untuk memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan sesamanya. Untuk dapat mendengarkan dengan baik, orang mesti mengambil suasana rileks. Orang tidak bisa sambil melakukan pekerjaan yang sibuk sambil mendengarkan curahan hati sesamanya.

Mendengarkan itu juga membutuhkan kerendahan hati. Biasanya orang yang rendah hati itu mau dan mampu mendengarkan sesamanya dengan baik. Orang seperti ini biasanya merelakan waktunya untuk sesamanya. Orang seperti ini biasanya mau menerima apa adanya orang yang sedang berbicara kepadanya.

Untuk itu, kita mesti mau menyediakan diri untuk mendengarkan sesama. Tidak usah berpikir bahwa kita akan kehilangan waktu, ketika kita mesti mendengarkan keluh kesah sesama kita. Justru dengan menyediakan waktu luang bagi sesama untuk mendengarkannya, kita menjadi orang yang punya kepedulian terhadap sesama. Tidak mudah mendengarkan orang lain. Tetapi kita mesti berani mencoba untuk mendengarkan sesama kita, kalau kita juga mau didengarkan oleh orang lain.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk mendengarkan sesama kita. Kata-kata sesama kita dapat menjadi pegangan bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

506

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.