Pages

03 November 2011

Kisah Paduan

Di seberang sana

dalam kesunyian Groto

ribuan burung berkicau-kicauan

beradu cinta



cintakah itu

jika tak ada paduan?



serangkaian lebah bergemuruh

menjelma...

mengejutkan...



Lari menjauh

mendekat lagi

berpapasan



Bisikan lebah pada burung

mengisah awal cinta

burung turut menimba butiran cinta

berpeluk padu dalam keheningan



Frans de Sales, SCJ (Distinguised Member of International Society of Poets Washington DC)

3 Mei 1981

Doa Membantu Kita Lepas dari Kekuatiran

Kekuatiran sering dialami manusia dalam hidup ini. Soalnya, mengapa manusia merasa kuatir? Ada berbagai alasan. Bagaimana manusia mengatasi kekuatiran dalam hidupnya?

Seorang pelajar sedang kuatir akan nilai-nilai ulangan kenaikan kelas. Ia merasa kurang tenang. Pasalnya, ia sudah berusaha sedemikian rupa mengerjakan soal-soal ulangan, tetapi ia kurang yakin kebenarannya. Beberapa hari ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia selalu terbangun pada jam dua pagi. Padahal biasanya ia tidur pulas mulai jam sepuluh malam hingga jam lima pagi.

Pelajar itu resah, jangan-jangan ia tidak bisa mendapatkan nilai yang tertinggi untuk pelajaran-pelajaran favoritnya. Sang ibu pun menangkap suasana batin anaknya. Ia berusaha untuk menenangkan anaknya. Ia berusaha meyakinkan dia bahwa apa yang ia risaukan hanyalah bayang-bayang saja.

“Mama, saya sungguh-sungguh yakin ada soal-soal ujian untuk pelajaran-pelajaran saya tidak bisa saya kerjakan dengan baik. Ibu mendukung saya, tetapi bagaimana kalau hal itu benar-benar terjadi?” kata anak itu.

Sang ibu membawa anaknya dalam doa. Ia berharap, sang anak dapat menenangkan diri. Ia mendoakannya agar apa yang dirisaukan anaknya tidak perlu terjadi. Beberapa hari kemudian, sang anak tampak tenang. Ia bisa membantu ibunya menjaga toko. Ia bisa memusatkan pikiran dan perhatiannya pada hal-hal yang baik dan benar.

Sahabat, kecemasan atau kekuatiran sering menimpa manusia. Pertanyaannya adalah mengapa manusia cemas atau kuatir? Jawabannya tentu saja banyak. Ada berbagai alasan bagi seseorang untuk merasa cemas atau kuatir. Di saat orang berada dalam situasi seperti ini, orang akan melakukan hal-hal yang membantu dirinya untuk menenangkan diri.

Sang ibu dalam kisah di atas mengambil salah satu langkah yang terbaik dari berbagai nasihat bagi orang yang sedang berada dalam kekuatiran. Ia membawa anaknya dalam doa-doanya. Ia mempersembahkan situasi yang dihadapi anaknya dalam doa-doanya. Ia yakin, Tuhan akan selalu mendengarkan doa-doanya. Bagi ibu itu, doa menjadi penawar terbaik bagi anaknya yang sedang resah dan gelisah.

Tentu saja orang beriman memilik cara-cara untuk keluar dari kecemasan atau kekuatiran. Orang beriman tidak bekerja sendirian. Orang beriman senantiasa bekerja bersama Tuhan. Mengapa? Karena orang beriman yakin bahwa setiap inchi dari hidupnya selalu disertai Tuhan. Tuhan tidak pernah meninggalkan dirinya sedetik pun.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah sikap penyerahan yang mendalam kepada Tuhan. Orang berima itu orang yang tidak mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Orang beriman itu mengandalkan kekuatan Tuhan yang meraja dalam dirinya. Karena itu, mari kita serahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita biarkan Tuhan yang memimpin perjalanan hidup kita. Dengan demikian, hidup menjadi semakin indah. Hidup ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Membaca dan Mendengarkan Firman Tuhan


Ketika Jacob de Shazer pergi ke Jepang sebagai anak buah Jimmy Doolittle, pada tanggal 18 April 1942, dia adalah seorang ateis. Dia ditangkap dan dipenjarakan oleh orang Jepang. Dia melihat dua orang temannya ditembak oleh dua regu tembak. Dia juga melihat temannya yang lain mati kelaparan.

Selama berbulan-bulan, dia merenungkan pertanyaan mengapa orang-orang Jepang membencinya dan mengapa dia membenci mereka. Dia mulai mengingat kembali beberapa hal yang pernah didengarnya tentang kekristenan.

Dengan berani, dia bertanya kepada petugas penjara, apakah mereka dapat mengusahakan sebuah Alkitab baginya. Mula-mula mereka tertawa terbahak-bahak dan menganggapnya bergurau. Kemudian mereka memperingatkannya, agar ia tidak mengganggu mereka. Tetapi ia terus meminta Alkitab, padahal ia seorang ateis. Seseorang yang tidak percaya adanya Tuhan.

Bulan Mei 1944, seorang penjaga membawakannya sebuah Alkitab. Penjaga itu melemparkan Alkitab itu kepadanya dan berkata, “Engkau boleh meminjamnya selama tiga minggu. Tiga minggu lagi saya akan mengambilnya kembali.”

Sesuai ucapannya, tiga minggu kemudian penjaga itu mengambil Alkitab itu dan de Shazer tidak pernah melihatnya lagi. Pada tahun 1948, de Shazer, istrinya dan bayi laki-lakinya kembali ke Jepang sebagai misionaris. Semua ini disebabkan karena Alkitab yang dipinjam dari seorang penjaga Jepang selama tiga minggu.

Sahabat, Immanuel Kant, seorang filsuf, mengatakan bahwa Alkitab adalah mata air semua kebenaran yang tidak pernah habis. Keberadaan Alkitab merupakan berkat terbesar yang pernah dialami manusia. Tentu saja sumber kebenaran itu telah mengubah hidup seorang ateis menjadi seorang yang percaya akan keberadaaan Tuhan dalam kehidupan ini.

Kisah di atas mengingatkan kita bahwa Alkitab atau Kitab Suci dari agama mana pun memiliki sumber kebenaran yang tak pernah habis ditimba. Orang beriman mesti membaca atau mendengarkan firman Tuhan yang sudah ditulis di dalam Kitab Suci itu. Dengan demikian, orang sungguh-sungguh mengerti kehendak Tuhan bagi hidupnya.

Soalnya, bagi manusia zaman sekarang adalah apakah manusia masih memiliki semangat untuk membaca dan mendengarkan firman Tuhan? Bukahkah mata dan telinga manusia sudah begitu banyak disibukkan oleh berbagai hal? Mata manusia kini tersilau oleh berbagai materi, sehingga tidak mampu lagi membaca firman Tuhan. Akibatnya, Kitab Suci yang begitu sakral hanya tergeletak di ruang tamu diselimuti debu.

Kini telinga manusia lebih banyak diisi oleh hiruk pikuk dunia. Tidak ada tempat lagi bagi firman Tuhan dalam telinga manusia. Akibatnya, manusia hanya mendengarkan keinginannya sendiri. Manusia menuruti kehendak egoismenya sendiri. Hasilnya, banyak dukacita yang mesti ditanggung oleh manusia. Mengapa? Karena ternyata kehendak dirinya sendiri tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita mesti menyediakan mata dan telinga kita bagi firman Tuhan. Kita baca dan renungan firman Tuhan. Kita dengarkan baik-baik kehendak Tuhan bagi hidup kita. Tentu saja Tuhan selalu berkehendak baik bagi kita. Tuhan selalu menginginkan damai dan sukacita bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


817

02 November 2011

Nenek Itu Masih Tersenyum

Di tepian sungai

duduk seorang nenek

dia berkisah

mengenang memori tahun-tahun silam



pernahkah ada cinta yang lampus?

atau terbawa arus sungai?



Dan kini dia bukan sendirian

tangis sang bayi, cucunya

merajuk cintanya yang hampir sirna

dan dia sadar,

cintanya belum terbawa arus sungai



seutas senyum tersungging di wajahnya



Frans de Sales, SCJ

28 Mei 1984

Memberi dengan Hati yang Tulus

Pernahkah Anda memberi hidup Anda kepada sesama Anda? Tentu saja Anda pernah melakukan pemberian seperti ini. Namun yang mesti Anda lakukan adalah Anda mesti memberi dengan segenap hati Anda.
Rata Penuh
Ada seorang anak yang sangat pelit. Apa yang dimilikinya tidak boleh diambil oleh orang lain, bahkan adiknya sendiri pun tidak boleh menyentuhnya. Kalau ia sedang makan sesuatu, ia tidak peduli adiknya yang berada di hadapannya sambil menadahkan tangan. Ia biarkan saja adiknya meminta kepadanya makanan tersebut. Ia akan masukkan semuanya ke dalam mulutnya.

Anak ini kemudian tumbuh dalam kesendirian. Dua adik dan satu kakaknya kurang peduli terhadap dirinya. Mereka dengan enteng saling berbagi. Mereka dengan mudah saling memberi. Ketika mereka memiliki sesuatu yang berharga, mereka akan berbagi bertiga. Sedangkan saudara mereka yang kikir itu tidak diberi bagian.

Dalam perjalanan waktu, anak yang kikir itu lebih banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Usaha-usahanya seringkali tersendat. Ia menjadi orang yang kurang sejahtera dibandingkan tiga saudaranya yang lain. Akibatnya, ia banyak mengeluh. Namun keluhan-keluhannya itu tidak menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya. Ia semakin terpuruk dalam hidupnya.

Sementara tiga saudaranya menikmati hidup yang sejahtera. Usaha-usaha mereka berhasil dengan begitu baik. Mereka tidak perlu mengeluh dalam hidup. Mereka juga siap membantu saudara mereka yang kikir itu, kalau ia meminta bantuan dari mereka. Namun soalnya adalah saudara yang kikir itu merasa gengsinya akan turun kalau ia meminta bantuan dari saudara-saudaranya.

Sahabat, semakin banyak orang memberi, semakin banyak orang mendapatkan kembali hal-hal yang baik. Tentu saja pemberian seperti ini dilakukan dengan sepenuh hati. Bukan dengan terpaksa. Orang memberi dengan setulus hati. Orang memberi tanpa suatu keinginan untuk mendapatkan kembali apa yang diberikan itu dalam jumlah yang lebih banyak.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita untuk tetap memiliki semangat untuk memberi. Sering kita mengalami kesulitan untuk memberi. Mengapa? Karena kita merasa bahwa kita tidak punya apa-apa, mengapa kita mesti memberi? Atau kita merasa apa yang kita punyai itu tidak bernilai apa-apa. Jadi untuk apa kita memberi?

Tentu saja pandangan memberi seperti ini sangat materialistis. Kita tunggu sampai kita punya sesuatu yang berharga dulu baru kita mau memberi. Padahal kita bisa memberi hal-hal lain yang tidak seharusnya barang-barang yang kita punyai. Kita dapat memberi diri kita. Kita dapat menyediakan waktu dan kemampuan kita untuk kemajuan diri sesama kita.

Kita dapat memberi teladan hidup kepada sesama kita. Teladan hidup yang baik akan mampu membangkitkan semangat hidup bagi sesama kita. Ini yang lebih berharga daripada kita mesti memberi sesuatu yang bersifat materi. Mari kita hidupkan semangat untuk memberi dari apa yang kita punyai. Kita beri pengalaman-pengalaman hidup kita bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermanfaat dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Menghadirkan Tuhan dalam Hidup

Pernahkah Anda membaca buku The Ancient Mariner? Kalau Anda pernah membacanya, pasti Anda akan mengatakan bahwa buku ini merupakan salah satu novel dengan imajinasi paling aneh yang pernah dikarang. Apalagi ketika Anda baca pada bagian ketika pelaut kuno itu mewakili mayat semua orang mati yang hidup kembali untuk mengendalikan kapal. Ada mayat yang menarik tali, memegang kemudi, atau membentangkan layar. Betapa anehnya gagasan ini.

Bicara tentang mayat sebenarnya bicara tentang situasi sekitar kebisuan. Mayat mewakili kebisuan atau kekuan. Mayat itu tak bergerak. Kaku. Dingin. Kalau orang tidak punya inisiatif sama sekali akan dikatakan seperti mayat. Orang hidup, tetapi tidak punya gairah. Orang kehabisan akal untuk menjalani hidup ini.

Kalau suatu suasana dalam kehidupan bersama mengalami kebekuan, suasana seperti itu mencerminkan sesuatu yang dingin. Relasi menjadi kaku. Tidak bermakna sama sekali. Ada orang-orang yang hidup. Tetapi mereka tidak saling menghidupi. Mereka tidak saling menyapa dengan senyum yang terbuka lebar. Mereka kuatir dengan diri mereka sendiri. Mereka hanya berusaha untuk keselamatan diri mereka sendiri.

Sahabat, mungkin Anda pernah mengalami suasana seperti ini. Anda mungkin merasa aneh, mengapa suasana yang beku justru terjadi dalam hidup Anda. Mengapa suasana yang kurang menyenangkan itu menghantui diri Anda? Anda terus-menerus bertanya. Namun Anda sendiri belum tentu berani untuk memecah kebekuan itu. Anda tidak berani mengubah situasi seperti itu, karena Anda merasa enggan.

Situasi yang beku dalam hidup kita sering menjadi penghalang bagi kita untuk menghasilkan sesuatu yang berguna. Tidak ada kreativitas. Kalau orang beragama, orang hanya menjalankan agamanya sebagai suatu kewajiban. Yang penting beribadat. Yang penting berdoa ketika harus berdoa. Orang tidak peduli bahwa hidup beragama itu mesti berbuah kebaikan bagi kehidupan bersama.

Tentang orang seperti ini, Santo Paulus mengatakan bahwa orang seperti ini secara lahiriah menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya.

Karena itu, tugas umat beriman adalah menghidupi iman itu dalam perjalanan hidup sehari-hari. Iman mesti berbuah kebaikan bagi diri sendiri dan sesama. Iman yang sungguh-sungguh hidup itu tidak dijalankan hanya karena kewajiban. Orang beriman mesti berani mengubah situasi yang beku menjadi cair dan enak untuk semua orang.

Buah-buah iman itu mesti tampak dalam perbuatan-perbuatan baik. Orang yang memiliki iman yang sejati itu biasanya mengasihi pula sesamanya. Orang seperti ini biasanya peduli terhadap sesamanya. Orang seperti ini tidak membius sesamanya dengan janji-janji yang muluk-muluk. Orang seperti ini menghadirkan Tuhan yang hidup dalam perjalanan hidupnya.

Mari kita membawa Tuhan yang hidup kepada sesama kita. Kita hadirkan Tuhan yang baik itu kepada sesama kita. Dengan demikian, hidup beriman kita berbuahkan kebaikan dan damai dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

816

01 November 2011

Mega-mega Senja

Mega-mega itu berarak duka

mengusik hari nan ceria

menyelimuti diriku

dalam gulita senja



Terbayang wajah itu dua tahun silam

kekenang biasan memori

telah terluruh mega-mega senja

di kala jarak kian mengembang



Frans de Sales, SCJ

24 Mei 1984

Berdoa dengan Segenap Hati dan Tenaga

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda merasa doa-doa Anda tidak dikabulkan oleh Tuhan? Anda berhenti berdoa? Anda mengeluh kepada Tuhan? Atau Anda mengerima kenyataan hidup Anda?

Suatu sore, seorang gadis mengikuti ibadat di gereja. Gadis itu merasa sangat terganggu, karena sore itu hujan deras mengguyur bumi. Atap gereja yang terbuat dari aluminium bergemuruh oleh hempasan hujan yang sangat deras. Gadis itu agak resah. Ia ingin berdoa dalam keheningan malam, tetapi kenapa suara gemuruh hujan menghilangkan konsentrasinya.

Namun gadis itu tidak hilang akal. Ia tidak mau berdiam diri begitu saja. Ia ingin berdoa dengan baik dan tenang. Karena itu, ia pergi ke sudut gereja. Ia berdiri sambil menyandarkan tubuh ke dinding gereja. Ia menatap derasnya butiran air hujan yang seolah ditumpahkan dari langit.

Dalam kondisi seperti itu, ia berdoa, “Tuhan, kami mau mendengarkan sabda-Mu dalam Perayaan Ekaristi. Tapi bagaimana mungkin dengan keterbatasan pendengaran kami seperti ini, kami bisa mendengar sabda-Mu? Hujan deras ini membuat kami tidak bisa mendengar dengan baik. Tolong Tuhan, Perayaan Ekaristi akan segera dimulai. Biarlah selama Perayaan Ekaristi hujan ini reda, supaya kami bisa mendengarkan sabda-Mu dengan jelas.”

Doa-doa itu ia lantunkan dengan penuh keyakinan dan harapan. Ia percaya, Tuhan akan mendengarkan apa yang ia katakan. Mungkin ini naif, masak suara Tuhan bisa terbendung oleh gemuruh hujan?

Setelah, gadis itu masuk gereja, karena waktu hampir menunjukkan jam 17.00 WIB, saatnya Perayaan Ekaristi dimulai. Ketika kaki melewati ambang pintu gereja, ia merasakan suara air yang menghantam aluminium, atap gereja, mulai melembut. Saat Perayaan Ekaristi dimulai, hujan betul-betul reda. Tinggal sisa rintik-rintik kecil yang ada.

Sahabat, kekuatan doa membuktikan bahwa manusia semestinya selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Berdoa itu sebenarnya tidak sekedar berkata-kata di hadapan Tuhan dalam keheningan. Tetapi berdoa itu menyerahkan seluruh kepribadian kita. Kita menyerahkan suka duka hidup kita. Kita menyerahkan iman kita kepada Tuhan. Kita mau mengatakan kepada Tuhan bahwa kita hanya bisa melanjutkan hidup ini dengan bantuan Tuhan. Tanpa bantuan Tuhan, kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa doa yang penuh iman membawa orang semakin dekat dengan Tuhan. Berdoa yang tak kunjung putus merupakan panggilan hidup manusia. Mengapa? Karena pada dasarnya manusia tidak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan dari Tuhan.

Banyak orang kurang yakin akan kebaikan Tuhan. Karena itu, mereka tidak mau berdoa. Atau mereka berdoa hanya pada saat-saat tertentu saja. Atau mereka berdoa karena mereka butuh sesuatu dari Tuhan. Tentu saja sikap seperti ini bukan sikap orang beriman yang baik. Keberadaan kita sebenarnya suatu sikap doa yang terus-menerus. Mengapa? Karena kita adalah milik kepunyaan Tuhan. Hidup kita semestinya selalu terarah kepada Tuhan. Hati yang terarah itu hati yang selalu berdoa.

Mari kita berdoa dengan segenap hati dan tenaga kita. Dengan demikian, Tuhan mendengarkan doa-doa kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Bayang-bayang

Pukul duapuluhduaduapuluh

dia memanggil namaku

perlahan dan mesra

lalu lenyap dalam lelap tidurku

aku terpukau dalam remang gulita



Pukul duapuluhtigatigapuluh

aku memanggil namanya

kali ini dia tersenyum

dan kudekap dalam lelap tidurku

ah, hanya bayang-bayang



Frans de Sales, SCJ

25 Mei 1984

Menampilkan Diri Apa Adanya

Banyak orang memoles diri mereka untuk tampil lebih baik. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda juga ingin memoles diri Anda?

Ada seorang gadis yang ingin tampil dalam suatu acara yang sangat penting. Ia tidak ingin malu di hadapan orang banyak. Ia ingin dielu-elukan sebagai perempuan tercantik yang akan tampil di pentas. Karena itu, yang ia lakukan adalah ia memoles wajahnya sedemikian rupa. Jerawat-jerawat coba ia hilangkan dari pipinya. Dengan make up yang serba tebal, ia berharap bahwa jerawat-jerawat itu tidak akan tampak.

Untuk sementara, gadis itu berhasil menyembunyikan jerawat-jerawatnya. Ia mampu memukau para pengunjung acara itu. Ia mampu menarik perhatian mereka dengan sangat baik. Tepuk tangan sorak-sorai pun menuju ke arah gadis itu. Ia mendapatkan apa yang ia harapkan malam itu.

Namun setelah pulang ke rumahnya, gadis itu merenung tentang kebohongan yang telah ia lakukan. Ia menyadari bahwa ia tidak tampil dengan keasliannya. Ia telah mengelabui publik yang menyambutnya dengan sukacita. Ia merasa, kebohongan itu justru menyakiti hatinya. Ia tidak tampil apa adanya.

“Saya telah membiarkan ratusan orang percaya pada apa yang tidak sesungguhnya ada pada diri saya. Saya menyesal,” katanya.

Sahabat, manusia memang pandai memoles dirinya. Manusia pandai dalam menampilkan dirinya, meski tampil tidak dengan semestinya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena manusia ingin menutupi kekurangan-kekurangannya. Manusia tidak mau orang lain menyaksikan kekurangan-kekurangan yang ada dalam dirinya. Atau bisa jadi manusia tidak ingin mengecewakan orang lain.

Kisah di atas mau mengatakan bahwa gadis itu ingin menyenangkan orang lain. Ia tidak ingin orang lain menyaksikan kerut-kerut di pipinya, karena puluhan jerawat yang bercokol di sana. Ia ingin penampilannya tidak membuat orang lain kecewa. Namun ia kemudian kecewa. Ia merasa tidak tampil apa adanya. Ia telah membohongi publik. Tentu saja kesadaran seperti ini penting meski datangnya kemudian.

Pernahkah Anda memoles diri Anda? Rasanya kita semua pernah memoles diri kita. Caranya bermacam-macam. Ada yang memotong rambutnya sedemikian rupa sehingga kelihatannya aneh. Ia ingin tampil beda dengan yang lain. Ia tidak ingin menjadi makhluk yang sama dengan orang lain. Lantas orang akan menganggap situasi seperti itu situasi yang nyentrik.

Pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah mengapa kita memoles diri kita? Ada banyak alasan. Namun satu hal yang penting adalah kita ingin tampil beda. Kita ingin menunjukkan identitas diri kita. Kita ingin mengatakan kepada orang lain bahwa kita mampu melakukan sesuatu yang spektakuler.

Namun tidak berarti kita mesti menyembunyikan identitas kita yang sebenarnya. Semestinya kita tampil apa adanya sebagaimana kita yang sebenarnya. Polesan hanya bisa menipu manusia. Namun sesungguhnya Tuhan melihat hati kita. Tuhan memperhitungkan yang ada di dalam hati manusia. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menampilkan diri apa adanya. Dengan demikian, kita mampu menghadirkan diri sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ