Pages

01 Januari 2013

Menjadikan Kegagalan sebagai Pemacu Kemajuan

Apa program-program yang gagal Anda selesaikan di tahun yang lalu? Apa sikap Anda terhadap kegagalan-kegagalan itu? Anda kecewa? Atau Anda bersikap realistis?

Tahun 2012 telah kita lewati. Ada banyak pengalaman indah yang telah menemani perjalanan hidup kita selama satu tahun itu. Namun ada juga pengalaman pahit yang mesti kita lewati. Semua itu menjadi bekal bagi kita untuk melangkah maju di tahun yang baru ini. Kita bisa menyusun strategi-strategi baru untuk menjalani hidup di tahun yang baru ini. Dengan demikian, kita boleh melangkah dengan gagah menyongsong hari depan yang lebih cerah.

Tahun lalu sudah banyak hal saya buat. Namun ada juga banyak rencana yang gagal, karena berbagai alasan. Saya tidak mau tenggelam dalam kegundahan atas kegagalan-kegagalan itu. Malah saya mencoba untuk melaksanakan program-program baru yang lebih menantang. Program-program itu saya yakini akan mampu menghasilkan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama.

Kalau ada program yang gagal dilaksanakan, bagaimana? Yah, saya mesti realistis dalam hidup ini. Tentu saja tidak begitu saja bisa dilaksanakan dengan mulus. Ada aral yang melintang. Ada tantangan yang mesti diantisipasi. Untuk itu, dibutuhkan strategi-strategi khusus untuk menghadapi semua itu. Lagi-lagi saya tidak mau takabur. Saya mesti tetap realistis terhadap situasi sekitar yang akan saya hadapi.

Banyak orang masih terbelenggu oleh apa yang dialami di masa lalu. Kegagalan yang mereka alami menjadi suatu ganjalan dalam perjalanan hidup mereka. Akibatnya, mereka sulit untuk bangkit dari keterpurukan itu. Mereka hanya terpaku pada kegagalan demi kegagalan itu. Mereka tidak realistis terhadap hidup ini.

Akibat lebih lanjut adalah mereka tidak bisa mengungkapkan potensi mereka secara maksimal, sehingga gagal menjadi orang sukses. Kadang masa lalu itu memang terlalu menyakitkan atau kadang terlalu menyenangkan, sehingga membuat kita sulit untuk melupakannya. Membuat kita tergoda untuk melihat lagi ke belakang. Padahal seharusnya kita terus melangkah dan menatap ke depan.

Kita semestinya bersikap realistis terhadap ini. Kegagalan boleh saja menghinggapi diri kita. Tetapi kegagalan itu mesti kita gunakan sebagai alat pacu untuk kemajuan diri kita. Kita tidak boleh menyerah pada situasi kegagalan itu. Santo Paulus berkata, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. “

Mari kita sikapi hari-hari hidup kita dengan lebih realistis. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik. Hidup ini menjadi kesempatan bagi kita untuk memajukan hidup kita dan sesama. Selamat Tahun Baru. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

923

16 Desember 2012

Mengelola Luka Batin

Pernahkah Anda merasa hati Anda sangat sakit oleh perbuatan sesama Anda? Saya yakin, setiap dari kita pernah mengalami hal ini. Soalnya adalah bagaimana kita mengelola rasa sakit itu?

Ada seorang ibu yang mengalami luka batin. Hatinya terasa sangat sakit. Mengapa? Karena suami yang sangat dicintai telah meninggalkan dirinya. Padahal mereka telah memiliki empat orang anak yang manis-manis. Ibu itu mesti membesarkan empat orang anak itu seorang diri.

Hati ibu itu semakin sakit ketika ia mendengar bahwa sang suami telah hidup dengan perempuan lain. Bahkan perempuan itu telah memiliki dua orang anak yang kini duduk di bangku SMP. Dua anak itu hasil hubungan dengan suaminya. Bukan dengan lelaki yang lain. Hari-hari ibu itu dipenuh dengan duka nestapa.

Ibu itu berkata dalam hatinya, “Mengapa dia mengatakan masih bujang ketika menikahi saya? Bukankah dia sudah punya dua orang anak? Begitu tega dia membohongi saya.”

Namun ibu itu kemudian sadar bahwa sesal kemudian tidak berguna. Ia kemudian menjalani hidup ini apa adanya. Ia berjuang untuk mencari nafkah bagi keempat anaknya. Ia juga melayani sesamanya. Ia berusaha untuk mengisi batinnya dengan hal-hal yang baik dan benar. Ia mendapatkan cinta yang begitu besar dari orang-orang yang ada di sekitarnya.

Suatu hari, ia menyadari bahwa luka batin itu telah hilang dari dalam batinnya. Ia berkata, “Seiring dengan pertumbuhan anak-anak saya, luka batin itu telah hilang. Sekrang hati saya dipenuhi oleh cinta yang begitu indah. Hati saya sekarang dipenuhi oleh cinta anak-anak saya, cinta Tuhan dan cinta dari orang-orang sekitar saya. Sungguh indah hidup ini.”

Setiap orang pernah mengalami luka batin. Setiap orang punya luka batin. Luka batin itu ditimbulkan oleh berbagai persoalan dalam hidup ini. Luka batin itu tersembunyi di bawah kesadaran manusia. Luka batin itu sangat menyakitkan. Kalau orang tidak bisa mengolahnya, orang akan merasa tertekan seumur hidupnya. Apalagi kalau orang tidak berani menghadapi luka batin itu. Luka batin akan semakin terpendam dan tidak pernah sembuh.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa hanya orang yang berani menghadapi luka batinnya akan menemukan sukacita dalam hidup. Hanya orang yang mau tersembuhkan dari luka batinnya, orang itu mengalami dalam hidupnya. Orang mengalami cinta yang lebih besar. Orang akan mengalami hidup yang lebih indah dalam hidupnya.

Menyalahkan orang lain yang membuat hati kita terluka tidak akan menyembuhkan luka batin kita. Luka batin berakar di dalam batin kita, bukan di luar kita. Karena itu, bila kita merasakan kesakitan yang dalam, kita mesti berhenti menyalahkan orang lain. Kita menghadapi suasana seperti itu dengan hati yang lapang.

Orang beriman tentu senantiasa menyertakan Tuhan dalam upaya menyembuhkan luka batinnya. Untuk itu, kita mesti membuka hati kita lebar-lebar bagi rahmat penyembuhan dari Tuhan bagi batin kita. Kita biarkan Tuhan memenuhi hati kita dengan kasihNya yang besar dan bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

25 September 2012

Membangun Sikap yang Baik dalam Hidup

Pernahkah Anda meragukan kebaikan sesama Anda? Apa sikap Anda terhadap kebaikan sesama Anda?

Ada seorang bapak punya dua orang anak. Kedua anaknya itu sangat ia sayangi. Mereka menjadi andalan masa depannya. Mereka menjadi penerus generasinya di masa yang akan datang. Karena itu, ia mendidik mereka dengan disiplin yang tinggi. Ia ingin kedua anaknya itu mengikuti jejaknya dalam melakukan hal-hal yang baik dalam hidup.

Suatu hari, bapak itu meminta anaknya yang sulung untuk membawa uang ke bank. Uang itu akan ditabung untuk masa depan anak sulung itu. Bapak itu ingin agar uang itu menjadi modal bagi anak sulungnya kelak di kemudian hari. Sayang, anak itu menolak permintaan anak sulungnya. Bapak itu sangat kecewa. Ia melakukan sesuatu yang sangat baik bagi anaknya, namun ia punya sikap yang bertolak belakang.

Namun bapak itu tidak marah. Ia tidak tersinggung akan sikap anak sulungnya itu. Lantas ia mendatangi anak bungsunya. Ia meminta hal yang sama. Ia memberikan pengertian kepada anaknya itu bahwa ia lakukan hal itu demi anaknya sendiri. Bukan demi dirinya sendiri. Ia ingin sang anak memiliki masa depan yang cerah. Sayang, anak bungsu itu juga punya sikap yang sama dengan sang kakak. Ia tidak mau diganggu. Ia sedang sibuk dengan pekerjaannya.

Meski ia mendapatkan sikap seperti itu, bapak itu tidak putus asa. Ia masih punya harapan bahwa ketika mereka tidak sibuk lagi dengan pekerjaan mereka, mereka akan melakukan apa yang dimintanya itu. Toh ia lakukan itu bukan demi dirinya sendiri. Ia lakukan itu untuk kebahagiaan kedua anaknya.

Selang beberapa jam kemudian, si bungsu datang kepada ayahnya. Ia menawarkan bantuannya. Ia membawa uang itu ke bank. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga milik sang kakak. Ia menyesal telah membuat hati sang ayah tertusuk oleh sikapnya.

Sahabat, dua orang punya dua sikap yang berbeda. Kiranya hal ini juga berlaku bagi diri kita sendiri. Dalam hidup ini kita mesti membuat keputusan-keputusan. Kita mesti berani mengambil langkah yang baik demi masa depan kita. Namun sering manusia melakukan hal-hal yang kurang bijaksana bagi hidup mereka.

Kisah di atas memberi inspirasi bagi kita bahwa sesuatu yang baik bagi hidup kita mesti senantiasa kita perjuangkan. Sang ayah tidak peduli terhadap sikap anak-anaknya. Ia masih punya pengharapan bahwa mereka akan berpikir baik-baik tentang masa depan mereka. Benar! Pengharapan bapak itu terpenuhi. Sang anak bungsu kemudian melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya sendiri.

Yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah bukti kesetiaan. Orang tidak hanya berjanji atau bermimpi tentang membangun masa depan yang lebih baik. Yang lebih penting adalah bagaimana membuktikan janji atau mimpi itu. Sering banyak orang cemas akan masa depannya. Banyak orang tidak yakin akan memiliki masa depan yang lebih baik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena mereka tidak berani menghadapi resiko-resiko bagi hidup mereka. Mereka lebih memilih aman saja.

Tentu saja ini bukan sikap orang beriman. Orang beriman berani menjalani hidup ini dengan berbagai resiko. Orang beriman mesti terus-menerus berjuang apa pun yang akan terjadi atas hidup mereka. Orang beriman berpegang teguh pada kasih setia Tuhan. Mereka yakin bahwa Tuhan senantiasa membimbing hidup mereka. Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka berjuang sendirian di dunia ini. Tuhan senantiasa hadir dalam hidup mereka. Mari kita serahkan hidup ke dalam kuasa Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk mewujudnyatakan iman kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

21 September 2012

Memberi dengan Motivasi yang Tulus

Pernahkah Anda memberi sesuatu kepada sesama Anda? Saya kira, kita semua pernah memberi sesuatu kepada sesama kita. Pertanyaannya, bagaimana sikap kita dalam memberi? Apakah kita memberi dengan hati yang tulus atau kita memberi untuk mendapatkan pujian dari orang lain?

Ada dua orang yang terpikat oleh ajakan suatu kelompok beriman. Mereka diajak untuk peduli terhadap orang-orang miskin di sekitar mereka. Kedua orang ini termasuk orang-orang yang kaya. Apa yang mereka lakukan adalah mereka menyumbangkan hal-hal yang berharga yang mereka miliki. Caranya adalah mereka menjual barang-barang berharga itu lalu uang hasil penjualan mereka serahkan kepada kelompok itu.

Yang menjadi persoalan adalah dua orang itu kemudian menyombongkan diri mereka telah memberi perhatian kepada sesamanya yang miskin. Ke mana-mana mereka mencari pujian. Mereka tidak lakukan hal itu dengan hati yang tulus. Akibatnya, mereka ditegur oleh pemimpin kelompok itu. Mereka telah menyalahgunakan maksud kehadiran kelompok itu untuk kepentingan diri mereka sendiri.

Namun kedua orang itu tidak peduli. Mereka terus-menerus mencari perhatian dari banyak orang untuk diri mereka sendiri. Mereka ingin dipuji karena telah melakukan hal-hal yang baik bagi sesama. Akhirnya, kelompok itu mengambil tindakan untuk menghentikan kedua orang itu. Caranya adalah dengan mengeluarkan mereka dari kelompok itu.

Pemimpin kelompok itu berkata, “Kami sudah beri kesempatan bagi mereka untuk menyadari kekeliruan mereka. Namun mereka tidak peduli. Kami harus ambil tindakan tegas. Kami tidak mau ada anggota kami yang memberi dengan tidak tulus hati. Orang yang mencari kebanggaan diri sendiri tidak punya tempat di kelompok kami.”

Sonora, memberi dengan hati yang tulus mesti menjadi andalan hidup orang beriman. Seorang bijaksana mengatakan bahwa orang memberi tangan kanan tidak boleh diketahui oleh tangan kirinya. Artinya, orang tidak boleh mencari keuntungan bagi dirinya sendiri ketika memberi sesuatu kepada sesamanya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti memberi dengan hati yang tulus. Ketidaktulusan membuat orang hidup hanya untuk kesenangan dirinya sendiri. Orang yang melakukan sesuatu untuk mencari pujian akan menemukan kesulitan dalam hidupnya. Ketika pujian tidak lagi tertuju kepada dirinya, orang seperti ini akan mengalami kelesuan dalam hidupnya. Ia tidak punya semangat lagi untuk hidup. Ia tidak punya gairah lagi untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Padahal hidup manusia mesti terus-menerus berlangsung. Hidup manusia tidak tergantung dari pujian orang lain terhadap diri kita.

Karena itu, kita mesti hati-hati terhadap pujian. Kita mesti tulus dalam memberi sesuatu kepada sesama yang membutuhkan. Janganlah kita gunakan sesama kita yang miskin untuk menaikkan popularitas diri kita. Kalau popularitas yang menjadi tujuan hidup kita, cepat atau lambat kita akan mengalami duka dan derita. Popularitas tidak akan bertahan lama dengan cara seperti ini.

Mari kita memberi dengan hati yang tulus. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang memiliki hati yang mudah tergerak oleh belas kasihan bagi sesama kita yang menderita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

KOMSOS KAPal

19 September 2012

Pusatkan Perhatian pada Yang Baik

Apakah anda merasa ada yang kurang beres dalam diri anda? Apa yang menyebabakan hal-hal yang kurang beres itu? Anda merasa ditinggalkan oleh sesama Anda? Atau pikiran Anda yang negatif membuat Anda kurang fokus pada hal-hal yang baik dan benar?

Motivator terkenal asal Amerika Serikat, Zig Ziglar dalam bukunya ‘Breaking To The Next Level” mengatakan bahwa bila kita terus terfokus pada kegagalan-kegagalan di masa lalu, masalah-masalah yang kita hadapi pada hari ini dan kecemasan akan apa yang akan terjadi di esok hari, maka kita akan bersikap negatif. Menurutnya, pendekatan kehidupan seperti ini akan memperpendek umur kita dan membuat waktu terasa seakan lama berputar.

Zig Ziglar memberikan solusi, agar seseorang tidak bersikap negatif. Ia berkata, “Mulailah dengan fakta bahwa Anda masih hidup sekarang ini. Kemudian, konsentrasikan pikiran pada pengalaman-pengalaman Anda yang positif dan menyenangkan”.

Menurutnya, dengan pergantian fokus ini, kita akan mendapat manfaat yang sangat mengagumkan.

Sahabat, banyak orang sering kurang fokus pada apa yang sedang mereka lakukan. Akibatnya, mereka berpindah-pindah tugas. Atau mereka cepat bosan dengan apa yang sedang mereka lakukan. Mereka kurang punya ketekunan terhadap suatu pekerjaan.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi karena orang kurang fokus dalam hidup. Orang kurang tekun dalam mengolah hidupnya. Orang merasa bahwa apa yang mereka lakukan kurang bermakna dalam hidup ini. Akibatnya, mereka mudah meninggalkan apa yang sedang mereka lakukan.

Zig Ziglar menasihati setiap kita untuk memusatkan perhatian kita pada hal-hal yang positif. Ketika kita fokuskan diri pada hal-hal positif, kita akan mengalami bahwa hidup ini menjadi sungguh indah. Hidup ini menjadi saat yang bermanfaat untuk mengungkapkan hidup kita kepada sesama.

Kita percaya bahwa Tuhan senantiasa memberikan kita hal-hal positif. Tuhan menganugerahi kita hal-hal yang baik untuk menumbuhkembangkan hidup ini. Tentu saja hal ini menjadi sulit ketika kita kurang menanggapinya dengan baik. Kita lebih suka memilih untuk memenuhi kehendak kita. Karena itu, kita sering mengalami kesulitan dalam hidup kita. Kita mudah meninggalkan apa yang kita kerjakan. Kita berusaha untuk mencari dan menemukan hal-hal yang lebih menyenangkan hati kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengarahkan perhatian kita pada hal-hal positif. Dengan demikian, hidup kita menjadi suatu kesempatan untuk menumbuhkembangkan hal-hal baik yang ada dalam diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT
920

17 September 2012

Waspadai Uang dan Harta dalam Hidup


Seorang bijak berkata, ”Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari imannya.” Bagaimana sikap Anda terhadap uang yang Anda miliki?

Suatu hari seorang pemuda merasa gelisah hatinya. Ia sudah berusaha untuk hidup ugahari, namun uangnya cepat berkurang. Ia mengaku, ia sering berbelanja. Ia tidak bisa mengendalikan keinginan dirinya. Padahal ia sudah punya program untuk hidup ugahari. Ia ingin menjadi orang yang kaya harta.

Ia sibuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Ia tidak hanya punya satu usaha. Ia membangun berbagai usaha untuk segera meraih impiannya, yaitu menjadi orang kaya. Ia menabung banyak uang di sejumlah bank dari berbagai usaha yang ia punyai. Banyak kali ia mesti menyibukkan diri dalam mengurus berbagai usahanya itu. Ia merasa tidak punya banyak waktu untuk dirinya sendiri.

Karena itu, ia merasa resah ketika ia gagal dalam upayanya untuk hidup ugahari. Ia mudah tergoda untuk menggunakan kekayaannya demi hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Misalnya, ia selalu membeli sofa kesukaannya. Berbagai bentuk dan macam sofa ia beli. Sebenarnya, ia tidak pakai sofa-sofa itu. Ia hanya pakai satu untuk di ruang kerjanya. Sedangkan sofa-sofa yang lain hanya dipajang atau disimpan di gudang.

Akhirnya pemuda itu merefleksi diri. Ia tidak lagi memboroskan uangnya untuk memenuhi keinginan hatinya. Ia menggunakan uangnya untuk membantu orang-orang miskin. Menurutnya, dengan cara ini, ia dapat membantu banyak orang untuk hidup lebih baik. Ia tidak merasa kekurangan dalam hidupnya, meski ia melepaskan uangnya untuk orang lain.

Sahabat, banyak orang di zaman sekarang mencari dan mengejar kekayaan. Mereka mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Mereka merasa bahwa uang mampu memberi kebahagiaan dan ketenangan bagi mereka dalam hidup ini. Mereka mengorbankan begitu banyak waktu dan tenaga untuk mencari dan mengumpulkan uang. Tetapi apakah mereka semakin bahagia dalam hidup ini?

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa harta kekayaan bukan ukuran untuk meraih kebahagiaan dalam hidup. Harta kekayaan sering mengganggu hidup manusia. Manusia menjadi bingung dan resah oleh banyaknya harta kekayaan itu. Manusia merasa terganggu oleh harta kekayaan itu.

Faktanya, uang tidak pernah membuat manusia kaya. Mereka yang sudah kaya masih saja tetap merasa kurang. Mereka mencari dan mengejar uang yang lebih banyak lagi. Filsuf Lucius Annaeus Seneca berkata, “Uang belum pernah membuat orang menjadi kaya.” Sebaliknya uang justru membuat kita selalu merasa miskin, merasa kurang dan tamak, bahkan tidak peduli sebanyak apa pun uang yang telah kita miliki.

Karena itu, orang beriman mesti selalu waspada saat berhadapan dengan uang. Uang bisa membawa bahagia bagi hidup. Tetapi uang juga bisa membawa bencana bagi hidup. Orang mesti memiliki sikap batin yang baik berhadapan dengan uang dan harta kekayaan. Dengan demikian, orang menggunakan harta kekayaan bagi kesejahteraan hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

919

15 September 2012

Gunakan Kekuatan Pikiran untuk Kesejahteraan


Seorang bijak berkata, “Semuanya itu jelas bagi yang cerdas, lurus bagi yang berpengetahuan.” Dalam konteks ini, kita diajak untuk merefleksikan potensi-potensi yang ada dalam diri kita.

“Ada cukup energi atom dalam pikiran manusia untuk meledakkan kota New York,” kata Dr Norman Vincent Peale.

Menurut penulis buku laris The Power of Positive Thinking ini, pikiran manusia memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan pikiran itu mampu membuat manusia menguasai dunia. Kalau kekuatan pikiran manusia ini sepenuhnya digunakan oleh manusia, hal-hal yang luar biasa akan terjadi. Sampai saat ini, setiap orang hanya mampu menggunakan kekuatan pikirannya sebanyak 10 persen. Lalu ke mana 90 persen kekuatan pikiran manusia yang lain?

Ternyata manusia belum menggunakan kekuatan pikirannya seratus persen. Ada berbagai sebab. Namun satu hal yang pasti adalah manusia tidak menggunakan pikirannya untuk berpikir secara positif. Banyak orang menggunakan pikirannya untuk hal-hal negatif. Akibatnya, pikirannya terkungkung oleh hal-hal negatif yang tidak menumbuhkan dirinya. Hal-hal negatif itu justru mengerdilkan dirinya.

Ada data yang menarik, yaitu si jenius teori relativitas, Albert Einstein menggunakan hanya 15 persen potensi pikirannya. Pikiran manusia memiliki kuasa yang super dahsyat, namun manusia menyia-nyiakan 90 persen dari daya ini. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sahabat, manusia diciptakan Tuhan dengan potensi-potensi. Tuhan tidak menciptakan manusia dalam keadaan kosong. Tuhan tidak menciptakan manusia seperti kertas putih. Di dalam diri manusia yang masih lemah gemulai yang lahir dari seorang perempuan itu sudah tertera potensi-potensi dirinya. Hal ini termasuk potensi yang ada dalam pikirannya.

Sayang, potensi-potensi itu sering ditelantarkan oleh manusia. Manusia yang hidup dalam kungkungan budaya yang ketat akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan dirinya secara kreatif. Orang seperti ini cenderung merasa enggan untuk mengembangkan dirinya. Orang seperti ini lebih curiga terhadap kemajuan-kemajuan zaman. Orang seperti ini tidak percaya pada kreativitas dalam hidup. Prinsipnya adalah hidup biasa-biasa saja sudah cukup, kok mau bersusah-susah.

Sebaliknya, orang yang memiliki kesempatan untuk menumbuhkan potensi dirinya akan berusaha semaksimal mungkin menggunakan pikiran dan tenaganya untuk membangun hidup. Orang seperti ini akan kreatif dalam hidupnya. Ia terus-menerus melakukan invoasi-inovasi baru untuk meraih sukses dalam hidupnya. Orang seperti berusaha menggunakan pikirannya untuk hal-hal yang baik. Ia berusaha berpikir positif dalam hidupnya.

Bagi orang beriman, menggunakan kekuatan pikiran untuk kesejahteraan manusia menjadi suatu ungkapan syukur atas kebaikan Tuhan. Tuhan telah memberikan potensi diri itu dengan cuma-cuma. Karena itu, manusia mesti menggunakannya dengan baik untuk kebahagiaan manusia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS KAPal

918

18 Agustus 2012

Dia Memberiku Roti Kehidupan

Banyak orang zaman kini sedang lapar. Mereka tampak beringas. Bisa-bisa sesama manusia diterkam sama mereka. Mengapa mereka begitu lapar? Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun satu hal yang jelas adalah mereka sedang kehilangan kasih. Tidak ada orang yang rela membagikan kasih kepada mereka. Padahal semakin banyak kasih itu dibagikan, semakin berlimpah ruah pula kasih itu.

Sayang, egoisme telah mengerdilkan kasih. Cinta diri yang berlebihan telah membuat banyak orang merasa lapar. Ketiadaan kasih membuat banyak orang beringas dan berusaha untuk menguasai orang lain.

Sudah lama Isabela terlunta-lunta di jalanan kota. Pakaiannya compang-camping dan kumal. Rambutnya awut-awutan. Tubuhnya berbau tidak sedap. Padahal ia seorang gadis cantik. Mengapa terjadi begitu? Karena harta milik kedua orang tuanya telah dirampas oleh paman-pamannya. Sejak ia kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu kecelakaan, Isabela tidak boleh tinggal di rumah warisan orang tuanya. Paman-pamannya telah menguasai rumah dan harta kekayaan lain peninggalan kedua orang tuanya.

Jadilah Isabela, anak semata wayang, seorang anak jalanan yang mengandalkan hidup dari usaha minta-minta. Ia mesti menengadahkan tangannya ke mobil-mobil yang berhenti di perempatan jalan di kala lampu merah menyala. Dengan cara begitu ia dapat mempertahankan hidupnya. Pekerjaan seperti itu ia lakukan beberapa tahun sampai suatu ketika sebuah keluarga menemukan Isabela tertidur lunglai di emperan sebuah toko.

Keluarga itu membawa Isabela ke rumah mereka. Isabela diberi makan dan minum. Lalu ia dimandikan. Itulah pertama kali ia mandi setelah diusir dari rumahnya. Ia diberi pakaian yang baru. Jadilah Isabela seorang gadis cantik yang disayangi keluarga yang sudah punya lima orang anak itu.

“Kalau saja Pak Andreas dan istrinya tidak menemukan saya, mungkin saya sudah mati. Waktu itu seharian saya tidak dapat apa-apa dari mengemis. Tubuh saya jadi lemas,” kata Isabela, sambil menitikkan air matanya, ketika membagikan pengalamannya dalam suatu pertemuan kring.

Bagi Isabela, keluarga yang menyelamatkannya adalah pahlawan. Ia kemudian mendapatkan kasih saying yang sama dengan kelima orang anak dari keluarga itu. Ia bisa kembali ke bangku sekolah. Isabela boleh menuntut ilmu seperti anak-anak yang lain.

“Pak Andreas dan istrinya begitu menyayangi saya. Saya belum pernah mendengar keluhan mereka terhadap saya. Apa yang saya butuhkan untuk sekolah saya selalu mereka penuhi,”
tutur Isabela sambil berkali-kali mengucapkan terimakasih.

Padahal keluarga Andreas tidak pernah mengenal orang tua dari Isabela. Mereka juga tidak punya hubungan keluarga dengan Isabela. Tetapi kasih telah mempertemukan mereka. Kasih telah mengenyangkan yang lapar. Kasih telah mengumpulkan mereka dalam satu keluarga yang bahagia.

“Sebenarnya yang mendorong kami untuk mengambil Isabela waktu itu adalah Tuhan Yesus sendiri. Kami melihat dia seperti Tuhan Yesus yang sedang menderita di kayu salib,”
tutur Pak Andreas mengenai aksinya mengambil Isabela.

“Yah, apa gunanya kalau setiap pagi kami menyembut Tubuh Tuhan dalam misa harian, kalau kami tidak memperhatikan mereka yang menderita? Roti kehidupan yang kami sambut itu telah menggugah hati kami,”
Ibu Andreas menimpali.

Tindakan sepasang suami istri ini ternyata memiliki dasar iman yang kuat. Iman itu ingin mereka hidup dalam perjalanan hidup yang konkrit. Dengan demikian iman berbuahkan kasih bagi sesama yang menderita. Belajar dari Tuhan Yesus yang memberikan diriNya sebagai roti kehidupan bagi dunia, keluarga Andreas juga mengalirkan kehidupan kepada sesama yang membutuhkan.

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi,”
kata Tuhan Yesus (Yoh. 6:35). Keluarga Andreas tidak pernah merasa lapar atau haus meski mereka mesti mengeluarkan anggaran tambahan untuk Isabela yang kini sudah menjadi seorang mahasiswi itu. Justru yang mereka dapatkan adalah berlimpah-limpahnya rahmat dari Tuhan Yesus. Isabela pun belajar untuk membagikan kasih kepada sesama.

“Kalau toh suatu saat Isabela pergi dari rumah ini, kami tidak akan merasa kehilangan. Dia sudah menjadi bagian dari rumah ini. Dia sudah menjadi anak kami yang pandai pula memperhatikan sesamanya yang menderita,” kata Ibu Andreas tentang Isabela.

Kasih itu semakin berlimpah ruah ketika dibagi-bagikan kepada sesama manusia. Roti kehidupan yang dipersembahkan oleh Tuhan Yesus menjadi semakin banyak, karena roti itu dibagi-bagikan kepada semakin banyak orang. “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah,” sabda Tuhan Yesus (Yoh. 12:24).

Tuhan Yesus adalah biji gandum yang jatuh ke dalam tanah yang menghasilkan banyak buah. Ia mempersembahkan diri-Nya agar manusia yang sudah mati oleh dosa Adam dapat memperoleh kehidupan. Melalui Ekaristi Kudus, Tuhan Yesus memberi diri-Nya dengan cinta yang sama yang Ia tunjukkan di atas kayu salib. Pemberian cinta Yesus menjadi contoh bagaimana umat manusia mesti memberi diri bagi sesama. Pemberian diri secara total seperti yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus menjadi bagian dari perjalanan panjang peziarahan para pengikutNya.

Ketika merayakan Perjamuan Terakhir bersama murid-murid-Nya, Tuhan Yesus membagi-bagikan Tubuh-Nya sendiri, roti kehidupan, kepada murid-murid-Nya. Ia memberikan roti kehidupan itu agar manusia memiliki hidup. Yang menarik dari pemberian diri Yesus itu adalah pesan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya untuk melakukan hal yang sama. “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19).

Tuhan Yesus menghendaki agar para murid-Nya, dan juga para pengikut-Nya, membagikan roti kehidupan kepada sesama yang dijumpai dalam perjalanan hidup ini. Para pengikut Kristus itu mesti berani membagikan kasih yang dimiliki kepada setiap orang yang dijumpai. Hanya dengan membagikan kasih itu, sesama tidak akan mengalami kelaparan. Hanya dengan membagikan kasih kepada sesama, manusia akan memperoleh kasih dengan berlimpah-limpah. “Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yoh. 6:51). **



Frans de Sales SCJ

11 Juli 2012

Menjauhkan Diri dari Kesombongan

Apa yang terjadi kalau Anda menyepelekan sesama Anda? Tentu sesama Anda merasa kurang dihargai.

Suatu hari seorang teman mengatakan bahwa saya sombong. Saya bingung mengapa dia mengatakan saya sombong. Pasalnya, selama ini dia selalu saya sapa. Saya selalu peduli terhadap dirinya. Saya tidak melecehkan dirinya. Saya tetap setia dalam berteman dengan dirinya.

Saya penasaran terhadap pandangannya yang berubah tentang diri saya. Lantas dia menjelaskan, ”Sombong artinya tidak mau peduli lagi dengan penderitaan temannya. Padahal saya tahu, kalau kamu bisa dan punya waktu. Apalah artinya bisa dan punya waktu, kalau tidak punya hati seperti Tuhan?”

Saya pun mengerti apa yang dimaksudkannya. Ternyata teman saya itu butuh perhatian yang lebih. Tidak seperti biasanya. Dia sedang menderita. Tentu bukan penderitaan fisik, karena dia segar bugar. Rupanya batinya sedang bersedih. Karena itu, dia butuh perhatian dari sesamanya. Dia butuh hiburan yang meringankan beban batinnya. Dia butuh dukungan untuk dapat keluar dari derita batinnya itu.

Sahabat, ketika kita bertemu dengan orang yang kita kenal dan kita pura-pura tidak kenal, maka kita dianggapnya sombong. Ketika ada orang yang suka berbicara besar serta memamerkan keberhasilan-keberhasilan yang diraihnya, maka kita menyebut orang itu sombong. Orang kaya yang tidak mau bergaul dengan orang miskin juga biasanya disebut sebagai orang yang sombong.

Kesombongan-kesombongan seperti ini memang sangat mudah kita deteksi. Namun ada juga kesombongan yang bersembunyi jauh di dalam hati. Keseombongan seperti ini sulit kita deteksi. Soalnya adalah mengapa orang merasa diri sombong atau orang disebut sombong?

Orang yang sombong itu selalu merasa diri lebih baik dari orang lain. Hal ini ditampakkan melalui tindakan yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan sesuatu. Kita beranggapan bahwa mereka tidak akan bisa melakukan sesempurna apa yang kita lakukan.

Tentu saja hal ini berbahaya bagi kehidupan. Mengapa? Karena orang merasa diri paling kuat. Padahal manusia itu makhluk yang lemah yang mudah jatuh ke dalam dosa. Manusia bukanlah supermen yang tidak punya cacat cela. Setiap orang punya kelemahan-kelemahan diri. Kalau orang merasa diri tidak punya cacat, orang itu akan merasa sangat sakit dan terpuruk, ketika mengalami kejatuhan.

Karena itu, orang beriman mesti menjauhkan diri dari kebiasaan sombong. Orang beriman mesti selalu mendahulukan sikap rendah hati. Dengan sikap rendah hati, orang mampu menerima kehadiran semua orang dalam hidupnya. “Kesombongan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 16:18). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ


917

10 Juli 2012

Memberi dengan Sepenuh Hati

Apa yang akan Anda lakukan ketika sesama Anda mengalami kekurangan dalam hidupnya? Anda biarkan begitu saja, karena Anda merasa kalau Anda memberi Anda akan kehilangan? Atau Anda berani memberi, karena Anda yakin bahwa rahmat demi rahmat akan Anda peroleh dalam hidup ini?

Konon Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Di manapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas. Suatu hari ketika mereka terbang, Kalkun berkata kepada Elang, "Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!"

Elang menjawab, "Kedengarannya ide yang bagus".

Lantas keduanya turun ke bumi. Mereka melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung. Namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekatnya, Sapi berkata, "Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini".

Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, "Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?"

Sapi menjawab, "Oh, kami punya banyak makanan di sini. Tuan Petani memberi kami apapun yang kami inginkan."

Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani. Sapi menjawab, "Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan."

Kalkun tambah bingung, "Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?"

Sapi menjawab, "Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal."

Elang dan Kalkun menjadi syok berat! Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.

Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini.

Sahabat, kebaikan itu mesti dibagikan kepada sesama yang membutuhkan. Banyak orang hanya mau menikmati kebaikan itu untuk diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka menjadi egois. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tidak peduli terhadap sesamanya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada begitu banyak rahmat yang Tuhan berikan kepada kita. Itulah rahmat kebaikan. Rahmat kebaikan itu bukan hanya untuk diri sendiri. Rahmat kebaikan itu mesti disalurkan bagi sesama yang membutuhkan. Tentu saja hal ini tidak segampang yang dipikirkan. Mengapa? Karena sering orang merasa bahwa kebaikan yang diberikan kepada sesamanya itu hilang begitu saja. Menjadi milik orang lain. Bukan lagi menjadi milik mereka.

Tentu saja pikiran seperti ini kurang pas, karena semakin orang memberi kepada sesamanya, semakin banyak rahmat yang diperolehnya. Apalagi kalau orang memberi dengan penuh kasih. Tuhan akan mendukung dengan rahmatNya orang yang rela memberikan apa yang dimilikinya bagi sesamanya.

Karena itu, orang beriman mesti berani memberi apa yang dimiliki bagi sesamanya yang membutuhkan. Yakinlah, apa yang kita berikan itu tidak hilang, tetapi akan membuahkan rahmat berlimpah bagi hidup kita. Mari kita berani memberi apa yang kita miliki bagi sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih damai dan sukacita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ


916