Pages

04 September 2013

Belajar tentang Makna Kehidupan

Apa yang Anda kuatirkan tentang hidup ini? Banyak orang kuatir akan persediaan bahan-bahan untuk makan dan minum. Ada yang kuatir tidak punya barang-barang mewah untuk menunjang hidupnya.

Seorang seorang guru di Australia berkata, “Kami tidak terlalu kuatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika.Kami jauh lebih kuatir, jika mereka tidak pandai mengantri.”

Sewaktu ditanya mengapa dan bisa begitu, ia mengatakan bahwa kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan secara intensif untuk bisa Matematika. Sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri. Ia mengatakan bahwa ada pelajaran berharga di balik proses mengantri.

Guru itu berakata, “Tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu Matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG dan BAGI. Sebagian dari mereka ada yang jadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis, politikus. Biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelasyang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan ‘Etika Moral dan Pelajaran Berharga’ dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.”

Ia mengatakan, ada pelajaran berharga di balik mengantri. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama, jika ia di antrian paling belakang.

Ia berkata, “Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri.”

Di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri. Saat mengantri, anak bisa belajar bersosialisasi menyapa danmengobrol dengan orang lain di antrian. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat, mereka harus terima konsekuensinya di antrian.

Sahabat, berapa dari Anda yang mau peduliterhadap orang lain saat berada di antrian? Mungkin bisa dihitung dengan jari-jari tangan kita. Begitu banyak orang tidak ingin antri. Orang ingin berada di garis depan dalam suatu antrian. Karena itu, mereka mudah menyerobot. Tidak peduli terhadap keberadaan orang lain. Orang merasa diri jauh lebih penting daripada yang lain. Pertanyaannya, mengapa hal ini bias terjadi? Hal ini bias terjadi karena orang memiliki egoism yang begitu besar.

Orang merasa dirinya yang paling penting. Orang tidak berani berhadapan dengan konsekuensi. Mokhtar Lubis dalam bukunya Manusia Indonesia mengatakan bahwa salah satu ciri orang Indonesia itu orang yang tidak bertanggungjawab. Orang yang tidak berani berhadapan dengan tanggung jawab. Selalu mengatakan ‘tidak’ atau ‘bukan saya’ ketika dimintai tanggungjawab atas kesalahan atau kejahatan yang dilakukannya.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah belajar mengantri di tempat-tempat umum. Orang yang dengan sukarela mengantri itu orang yangmemiliki rasa sabar yang tinggi. Orang seperti ini tidak pernah cemas akan kehidupannya. Mengapa? Karena ia sudah tahu akan konsekuensi yang dihadapinya, kalau ia tidak disiplin waktu. Akan ada kreativitas saat mengantri. Bisa sajamenyapa orang-orang yang berada di depan, belakang atau samping kiri kanannya. Keramahannyamemberikan kesempatan baginya untuk memiliki teman dan sahabat baru.

Sayang, di negeri ini tidak ada pendidikan untuk mengantri. Otak anak-anak Indonesia lebih dijejali oleh angka-angka matematis. Bukan nilai-nilai moral dan kehidupan yang sebenarnya lebih mereka butuhkan untukperjalanan hidup mereka.

Untuk itu, dibutuhkan suatu kesadaran baru tentang makna kehidupan. Yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan hal-hal material. Tetapi juga hal-hal moral dan spiritual yang justru membantu orang untuk maju dalam kehidupannya. Mari kita belajar untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, hidup ini lebih harmonis. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tuhan Itu Andalan Hidup Manusia

Apa yang terjadi, ketika hidup Anda tanpa disertai oleh Tuhan? Saya yakin, Anda akan mengalami kecemasan dalam hidup ini. Tema permenungan kita malam ini adalah Tuhan Itu Andalan Hidup Manusia.

Kirsty Collier yangmengalami kelainan jantung. Dokter kemudian memutuskan untuk memotong sepertiga jantungnya yang ternyata bisa tumbuh kembali. Jantung bocah itu tumbuh menggantikan sepertiga jantungnya yang diangkat tanpa harus menjalani transplantasi. Yang luar biasa, Kirsty menjalani pengangkatan sepertiga jantungnyasaat berumur 4 bulan. Bayi itu kuat menjalani operasi yang berat itu.

Berbagai hal mengkuatirkantelah disampaikan dokter kepada orangtua Kirsty. Namun siapa nyana, ternyata bocah itu tumbuh sehat. Bahkan setelah 10 tahun berlalu, tak ada gangguan berarti pada kesehatannya. Yang terkejut justru para dokter, ketika suatuketika melakukan cek up pada tubuh Kirsty. Ternyata jantung bocah ini telahberukuran normal.

Belasan tahun lalu, Kirsty yang berusia 4bulan divonis tak panjang umurnya karena menderita penyakit jantung parah. Kondisi jantungnya tidak sempurna. Pembuluh bilik kiri jantung yang seharusnya mengalirkan darah ke otot jantung, terhubung dengan pembuluh paru-paru tidak keaorta. Akibatnya, organ itu kekurangan oksigen dan akhirnya membesar.

Makin hari kondisi Kristy bertambah kritis. Dokter yang menanganinya, Stephen Westaby, mengambil tindakan medis dengan mengangkat sepertiga bagian jantung yang rusak dan tak berfungsi normal di Rumah Sakit John Radcliffe, Oxford , Inggris. Ketika itu, ditemukan kerusakan fungsi jantung yang sangat parah. Cara-cara biasa sudah tak mungkin lagi kecuali operasi dan pengangkatan.

Tak disangka, Kirsty tumbuh layaknya anak normal. Ia tidak tampak sebagai orang yang sedang menanggung penyakit gawat. Belasan tahun berlalu, Kirsty masih baik-baik saja. Ia tampak sehat dan mampu beraktivitas layaknya mereka yang normal. Alangkah kagetnya dokter begitu memeriksa kondisi Kirsty. Jantungnya kembali ke ukuran normal. Organ pemompa darah itu ternyata tumbuh sendiri dan menutupi sepertiga bagian yang dulu dipotong tanpa harus melewati proses transplantasi. Vonis mati untuk Kirsty langsung menguap. Dia terbebas dari penyakit yang merongrong hidupnya.

Dokter Westaby berkata, “Kami merasa tak ada harapan sama sekali. Saya tak pernah mengira itu akan bekerja.”

Sahabat, banyakhal yang tampak mustahil dalam kehidupan ini. Namun bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil. Selalu saja ada jalan. Selalu saja ada cara untuk menanggulangi berbagai persoalan yang dihadapi. Yang penting adalah orang mau bekerja samadengan Tuhan dalam kehidupan ini.

Kisah tadi memberi kita kekuatan bahwa kecemasan terhadap hidup sebenarnya tidak perlu terjadi. Mengapa? Karena Tuhan menyelenggarakan hidup kita ini. Ketika orang berani memberikan hidup kepada Tuhan, orang akan mengalami damai dalam hidupnya. Tuhan menumbuhkan hidup ini. Tuhan menuntun manusia menuju hidup yang lebih baik.

Karena itu, orang beriman mesti berani memberikan hidupnya kepada Tuhan. Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan menjamin kehidupan ini. Apa pun yang akan terjadi padakehidupan ini, manusia akan mesti mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.

Memang, tidak mudah manusia mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Selalu saja ada gangguan atau godaan untuk meninggalkan Tuhan. Ada saja hal-hal yang menggoda manusia untuk berjalan sendiri tanpa bantuan Tuhan. Akibatnya, manusia mengalami kekeringan dalam hidupnya. Meski berlimpah harta kekayaan, tetapi manusia tidak mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Manusia selalu merasa kurang dalam kehidupanini.

Karena itu, manusia mesti selalu kembali kepada Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan adalah sumber kehidupan manusia. Tuhan telah memberi hidup ini bagi manusia, agar manusia menatanya menjadi lebih baik. Mari kita senantiasa mendekatkan hidup kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Bersama Tuhan, Mampu Mengatasi Persoalan Hidup

Mampukah Anda berjuang sendirian dalam mengatasi persoalan-persoalan Anda? Mungkin Anda mampu. Namun kemampuan Anda itu semu, karena Tuhan senantiasa menolong Anda dalam menghadapi persoalan-persoalan Anda.

Suatu malam yang dingin, seorang bapak bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah gelas besar yang diisi dengan gelas lebih kecil. Sebuah kelereng diletakkan di dalam gelas yang kecil berisi air, lalu ditutup rapat. Gelas besar lalu diisi dengan air hingga hampir penuh.

Lantas ada tangan yang mulai mengaduk-aduk gelas besar itu. Air mulai bergolak. Ada sebagian air yang tumpah. Semakin kuat adukannya, semakin besar pula air bergolak dan semakin banyak pula air yang tumpah ke luar. Teapi gelas kecil dengan kelereng di dalamnya terlihat tetap tenang seperti tidak mengalami apa-apa. Tidak ada yang tumpah meski di luar air tengah tergoncang ke sana ke mari.

Bapak itu kemudian terbangun. Ia bingung mengartikan mimpinya. Setelah beberapa saat, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Kemudian ia duduk dipinggir tempat tidurnya. Ia berdoa memohon ketenangan batin. Ia berkata, “Tuhan, semoga ini hanya sebuah mimpi. Semoga tidak terjadi apa-apa dalam hidup saya hari ini. Terima kasih, Tuhan, atas pernyertaan-Mu selama malam yang telah lewat.”

Sahabat, sering manusia ikut tergoncang oleh kegoncangan yangterjadi di sekitarnya. Mengapa? Karena manusia mudah diombang-ambingkan. Manusia mudah mengalami kecemasan dalam hidupnya oleh situasi di sekitarnya. Akibatnya, manusia sering mengalami duka nestapa dalam hidupnya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa meski terjadi banyak kegoncangan dalam hidup ini, kita mesti tetap bertahan. Ada berbagai persoalan yang kita hadapi, tetapi kalau kita hadapi dengan tenang, kita akan menemukan jalan keluar. Tuhan pasti membantu kita dalam menghadapi persoalan-persoalanhidup.

Kita mesti menyadari bahwa hidup ini tidak selamanya berjalan denganmulus. Ada saat orang berada di puncak kejayaannya. Tetapi ada juga saat orang terpuruk dalam kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, orang mesti tetapbertahan. Orang tidak perlu menyombongkan diri di kala sukses menyertai kehidupannya. Orang pun tidak perlu merasa ditinggalkan oleh Tuhan saat dirinya berada dalam keterpurukan.

Orang beriman itu orang yang selalu percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Orang yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Memang, tidak mudah orang mau menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Mengapa? Karena manusia memiliki egoisme dan gengsi. Dua hal ini mengatakan bahwa manusia bisa berjuang sendiri, tanpa pertolongan dari Tuhan. Manusia mampu mengatasi segala persoalanyang dihadapinya.

Tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Memang, manusia mampu melakukan apa saja untuk dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu hanyasemu, karena Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Kekuatan Tuhan yang menuntun manusia menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Mari kita tetap setia kepada Tuhan dengan menerima pertolongan dari Tuhan. Kita juga mensyukuri kebaikan-Nya, karena Tuhan senantiasa berjalan bersama kita dalam kehidupan ini. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Menghadapi Hidup dengan Penuh Iman

Apayang terjadi ketika Anda menghadapi hidup ini dengan penuh kecemasan? Saya yakin, ada banyak hal negatif yang akan terjadi dalam hidup Anda.

Pada suatu kali seorang pengusaha merasa takut melihat kondisi perekonomian negeri ini. Ia menilai, perekonomian negeri ini semakin lamasemakin buruk. Pemerintah selalu mengumandangkan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi makro, tetapi faktanya di lapangan daya beli semakin menurun.

Ia berkata, “Harga-harga melambung tinggi. Uang yang masuk tetap sama,jika tidak malah berkurang. Harga daging sempat dikatakan tertinggi di dunia, lantas bandingkanlah pendapatan per kapita kita dengan negara-negara lain. Inibisa menimbulkan kekuatiran bagi banyak orang, terutama kalangan menengah kebawah yang akan terkena dampak terbesar dari situasi ini.”

Rasa kuatir terus-menerus timbul dalam hatinya. Tidak mau terus-terusanmerasa cemas, ia pun kemudian berdoa dan kemudian tertidur pulas. Ketikabangun, ia merasa lega. Tetapi kemudian ia mulai merasa cemas lagi, karena persoalanperekonomian nasional tidak juga membaik. Bahkan akhir-akhir ini nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat anjlok. Pengimpor tidak berdaya lagi untuk mengimpor kedelai yang menjadi bahan baku bagi tempe dan tahu.

Sahabat, sepertinya manusia mesti selalu berjudi atas kehidupanini. Manusia mesti berusaha untuk hidup baik dengan ekonomi yang memadai.Tetapi skala besar perekomonian negeri ini juga berpengaruh terhadap kehidupanpribadi manusia secara ekonomis. Daya beli semakin menurun, karena hargabarang-barang kebutuhan hidup semakin tinggi. Pertanyaannya, bagaimana manusiabias hidup sejahtera dengan kondisi ekonomi yang kian terpuruk?

Namun yang mesti dilakukan manusia adalah tidak cepat panik terhadap situasi perekonomian nasional yang tidak menentu. Orang mesti dengan hati-hati mencermati perkembangan, sehingga ketika ada peluang positif orang berani membenahi diri. Dengan demikian, orang tidak perlu cemas berkepanjangan.

Kisah pengusaha yang cemas tadi memberi kita peringatan bahwa orangmesti berani menghadapi kehidupan ini. Ada berbagai resiko yang mestiditanggung, namun orang mesti tetap tenang. Ketenangan akan membantu orang untuk terus-menerus memperbaiki kondisi kehidupannya. Tentu saja orang mestimenjalani kehidupan ini dengan penuh iman kepada Tuhan.

Orang beriman selalu tidak melupakan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Mengapa? Karena hidup ini adalah milik Tuhan. Tuhan yang empunya kehidupan ini. Karena itu, berserah diri kepada Tuhan berarti orang berani menghadapiresiko-resiko kehidupan ini. Orang berani mempercayakan hidupnya kepada Tuhanyang mahapengasih dan penyayang.

Memang, tidak gampang orang mau berserah diri kepada Tuhan. Banyak orang merasa gengsi. Banyak orang merasa bahwa dirinya mampu menghadapi berbagai gejolak kehidupan ini. Akibatnya, mereka dengan gagah perkasa mengandalkan kemampuan diri mereka.

Mari kita menyiapkan diri kita untuk menerima rahmat demi rahmat dari Tuhan, karena kita manusia lemah dan tak berdaya. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk menciptakan kebahagiaan dan kedamaian bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Merekamemilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyakorang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemaniistrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istrimengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuhkesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suamiberkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknyamembosankan.

Sambil menatap suaminya dengansenyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasiltidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sangsuami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat danbagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kueitu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati inimenggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enakuntuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalaniproses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyitaperhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korbanmembuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntutkesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orangyang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indahdan nikmat.

Kisah tadi mau mengatakankepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah adajari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban,bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepungakan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kueyang manis.

Ketika ada tangan yang maubergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatukebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orangyang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini denganpenuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. ** (Frans deSales SCJ)

28 Mei 2013

Menerima Kehadiran Sesama

 
Apa yang akan Anda buat saat menyaksikan sesama Anda mengalami kesulitan dalam hidup ini? Anda mengusirnya pergi, atau Anda membuka hati Anda untuk menerima kehadirannya?

Berniat hendak mengubah nasib dan meningkatkan taraf ekonomi keluarga, Sariam (35), tenaga kerja wanita asal Cianjur, Jawa Barat, pulang dengan kondisi cacat permanen. Hampir seluruh tubuh ibu dari tiga anak ini mengalami luka-luka akibat disiksa majikan selama tiga bulan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kota Jouf, Arab Saudi.

Selain dipukul dan ditendang, tubuh istri Asep Bin Entom (42) asal Kampung Karang Slawi, Desa Girimukti, Kecamatan Sindangbarang, Cianjur, itu sering juga disetrika. Ia juga dipukuli dengan benda tumpul. Akibatnya, seluruh giginya rontok.

Ia berkata, “Kesalahan kecil yang saya lakukan kerap kali mendapat siksaan yang teramat sangat. Seperti menyetrika baju anak majikan tidak rapi, saya disetrika dengan setrika panas.”

Selain itu, majikan juga melarang keras dirinya memakan makanan di kulkas. Bila tertangkap tangan, selain dipukul dengan palu, gajinya pun dipotong. Ia berkata, “Meskipun baru tiga bulan bekerja, saya sudah tidak betah. Saya meminta dipulangkan ke Cianjur. Setiap malam saya hanya bisa menangis dalam setiap doa.”

Akibat sering mendapatkan siksaan, Sariam pernah dirawat inap di rumah sakit yang tidak jauh dari rumah majikan. Ketika itu, adik majikan yang baik hati membawanya ke rumah sakit, karena tidak sadarkan diri setelah mendapat siksaan. Dia sempat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit itu selama 47 hari. Setelah keluar dari rumah sakit, dia melaporkan perbuatan majikan ke polisi setempat.

Sahabat, kemiskinan yang mendera hidup manusia memaksa manusia untuk memperjuangkan hidupnya. Manusia mesti terus-menerus berusaha untuk keluar dari situasi kemiskinannya. Manusia tidak boleh berhenti untuk berjuang. Orang yang beriman itu orang yang senantiasa bangkit dari keterpurukan hidupnya.

Namun terjadi juga kisah sedih dalam perjuangan itu. Kisah sedih Sariam menjadi salah satu bahan refleksi bagi kita. Hidup ini tidak mudah. Di saat kita berusaha untuk keluar dari keterpurukan hidup, masih saja ada kendala. Masih saja ada orang yang menghalangi-halangi usaha kita. Untuk itu, dibutuhkan suatu tekad yang membaja untuk menerjang penghalang-penghalang itu.

Kisah Sariam menampilkan suatu kesulitan yang luar biasa. Kehadirannya tidak diterima dengan baik oleh sang majikan. Tampaknya kehadirannya ditolak. Penderitaan yang mesti ia tanggung menjadi bukti penolakan atas kehadiran dirinya. Padahal ia hadir bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Ia hadir untuk kepentingan orang lain. Ia hadir untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Karena itu, orang beriman mesti belajar untuk menerima kehadiran sesamanya. Orang beriman mesti membuka hatinya lebar-lebar bagi kehadiran sesamanya. Memang, hal ini tidak terlalu mudah. Banyak orang masih tersandra oleh egoisme dan kepentingan dirinya sendiri. Banyak orang masih mengutamakan pemenuhan atas kebutuhan hidupnya sendiri saja. Banyak orang belum mau melihat kepentingan sesamanya.

Mari kita berusaha untuk menghargai orang lain dengan menerima kehadiran sesama kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


974

12 Mei 2013

Membangun Tekad atas Dasar Kasih


 Apa yang akan Anda lakukan, bila semangat hidup Anda kian meredup? Tentu saja ada banyak cara untuk mengatasinya. Untuk itu, Anda tentu memiliki banyak strategi untuk menghadapinya.

Suatu hari seorang pemuda memutuskan untuk mengunjungi neneknya yang tinggal di sebuah desa yang jauh. Ia mesti naik bus menuju kota. Ia sendiri tidak tahu kota itu berada. Pasalnya, ia belum pernah melakukan perjalanan ke kota tersebut. Ia juga belum pernah mengunjungi desa neneknya. Ia lahir di kota yang lain. Sejak lahir, ia belum pernah ke desa sang nenek. Bahkan ia hanya melihat neneknya dari foto mamanya.

Namun pemuda itu tidak putus asa. Ia mencoba untuk melakukan perjalanan itu. Memang, awalnya ia agak pesimis. Namun ia membuat komitmen untuk mencoba melakukan perjalanan yang jauh dan melelahkan itu. Bermodal alamat dan rute perjalanan yang diberikan sang mama, pemuda itu menyatukan tekadnya untuk mengunjungi nenek.

Rute pertama menuju kota yang terdekat dengan desa nenek itu berjalan dengan baik. Ia cukup duduk tenang di atas bus non AC hingga sampai tujuan. Begitu tiba di kota tersebut, ia langsung mencari angkutan untuk menuju desa di mana sang nenek tinggal. Kali ini ia tidak mudah menemukannya. Ia mesti menunggu agak lama. Namun kesabaran yang sering menjadi ciri khasnya membantu dirinya untukk mendapatkan kendaraan.

Benar! Ia mendapatkan sebuah kendaraan yang baik yang mengantar dirinya menuju rumah sang nenek. Ia boleh menikmati alam pedesaan yang indah. Udara yang bersih belum tercemar polusi kendaraan menjadi bagian yang menyegarkan dirinya. Ia boleh berjumpa dengan nenek. Ia bisa berbicara dari hati ke hari dengan sang nenek. Dambaan untuk berjumpa dengan sosok sang nenek akan menjadi kenyataan. Semua itu berkat tekad membara yang senantiasa hidup di dalam dirinya.

Hari-hari berada di desa sang nenek menjadi suatu kesempatan yang membahagiakan dirinya. Menumpahkan seluruh kerinduannya buat sang nenek. Ia boleh menatap mata sang nenek yang sangat mirip dengan mata mamanya. Pemuda itu menemukan sukacita hidup selama beberapa hari bersama sang nenek.

Sahabat, banyak orang ingin merasakan damai dan sukacita dalam hidup mereka. Namun sering mereka kecewa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena mereka kurang punya tekad. Mereka kehilangan determinasi. Mereka kurang punya semangat untuk meraih damai dan sukacita dalam hidup mereka. Akibatnya, kekecewaan yang justru tumbuh dalam hidup mereka.

Kisah pemuda yang sukses berjumpa dengan sang nenek tadi menunjukkan kepada kita bahwa tekad dan komitmen mampu mengalahkan segalanya. Kelelahan dalam menempuh perjalanan jauh tidak ia rasakan. Mengapa? Karena tujuan utamanya adalah mengungkapkan kasihnya kepada sang nenek. Kasih itu mengalahkan segala-galanya. Tekad yang didasarkan atas kasih itu membuahkan hasil yang gemilang. Ia mengalami sukacita dan damai bersama sang nenek.

Dalam hidup sehari-hari, kita juga berjumpa dengan berbagai persoalan hidup. Kita mengalami betapa tidak mudahnya hidup ini. Apakah kita memutuskan untuk tetap berada di tempat? Atau kita mencari cara-cara untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup ini?

Untuk itu, kita butuh tekad dan komitmen. Tekad itu mesti terus-menerus kita tumbuhkan dalam perjalanan hidup kita. Tentu saja tekad itu tidak hanya sekedar tekad. Tetap tekad yang didasarkan atas kasih setia kepada hidup ini. Sedangkan komitmen yang kuat mesti mewarnai hidup ini. Dengan demikian, kita mampu memberikan yang terbaik bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

Memberi Dukungan bagi Anak-anak Bangsa


 
Apa yang akan Anda lakukan, kalau Anda mengalami sakit? Tentu Anda akan mencari dokter untuk menyembuhkan sakit Anda. Anda akan berusaha mati-matian dengan berbagai cara untuk menyembuhkan sakit Anda.

Siapa bilang pengobatan di luar negeri selalu lebih baik? Seorang dosen yang sudah berobat bolak balik luar negeri justru menemukan dokter dan pengobatan terbaik untuk cangkok hatinya ada di Indonesia. Dia adalah Nidjat Ibrahim, dosen wanita yang mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti sejak 32 tahun lalu.

Nidjat yang lahir di Solo 66 tahun lalu merupakan pasien kedua dalam proyek terbesar yang melakukan transplantasi atau cangkok hati di RS Puri Indah, Kembangan, Jakarta, pada 17 Desember 2010. Operasi tersebut memakan waktu sekitar 13 jam.

Nidjat mengetahui bahwa dirinya menderita sirosis atau pengerasan hati pada tahun 2001. Tetapi ia sama sekali tidak merasakan keluhan apa-apa, karena sangat gila kerja. Nidjat berkata, “Saya masih menjabat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Trisakti, saya masih ke luar negeri sendiri. Saya tidak merasakan sama sekali sampai tahun 2008 kok makan ini nggak doyan itu nggak doyan. Mulai ada yang dirasakan.”

Nidjat mengaku, ia sudah bolak balik ke luar negeri untuk mencari penyebab. Ia mencari pengobatan terbaik yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Ia berkata, ”Saya sudah ke Singapura, Penang. Bahkan pengobatan alternatif terapi organik di Purwakarta. Saya sudah coba semua alternatif pengobatan, bahkan di Singapura sampai 3 rumah sakit terus ke Penang.”

Ia menemukan kesuksesan itu justru di Indonesia. Ia menjalani proses cangkok hati dan berhasil dengan baik.

Sahabat, setiap orang yang sakit mendambakan kesembuhan. Karena itu, orang akan berjuang sekuat tenaga untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya. Ke mana pun orang akan berusaha untuk mendapatkan kesembuhan. Bahkan banyak orang yang berani mencari sesuatu yang tidak masuk akal. Mereka pergi kepada dukun atau paranormal untuk memohon kesembutan.

Kisah di atas memberi kita gambaran mengenai usaha yang tidak kenal lelah untuk memperoleh kesembuhan. Nidjat bahkan sampai melanglang buana ke luar negeri untuk kesembuhan sirosis atau pengerasan hatinya. Ia penuh harapan berusaha untuk segera lepas dari belenggu sakit itu. Sayang, ia tidak temukan kesembuhan itu di luar negeri. Justru ia temukan kesembuhan itu di negerinya sendiri, Indonesia.

Ternyata para dokter di dalam negeri tidak kalah dengan para dokter di luar negeri. Para dokter itu mampu memberi kesembuhan kepadanya dengan cangkok hati. Ada pepatah kuno mengatakan, biarlah hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Artinya, sudah saatnya anak-anak bangsa ini menghargai prestasi yang telah diraih oleh sesamanya. Hanya dengan cara itu, kemajuan dalam berbagai bidang dapat diraih oleh anak-anak bangsa ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus memberikan motivasi bagi kemajuan anak-anak bangsa. Dengan demikian, kita sungguh-sungguh mampu membangun negeri ini dengan hati yang tulus. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


972

Menjaga dan Memelihara Hati Kita

 

Mengapa hati Anda kurang terasa damai? Ada berbagai jawaban atas pertanyaan sederhana ini. Namun satu hal yang pasti adalah karena Anda tidak menjaga dan memelihara hati Anda dengan baik.

Dalam suatu acara rohani anak-anak, setiap peserta diberi sebutir telur oleh panitia. Pesannya adalah telur itu dijaga agar jangan pecah atau hilang. Telur itu mesti selalu dibawa setiap saat selama acara rohani berlangsung sampai akhir acara. Entah mereka mengikuti sesi, makan, tidur, bahkan ke kamar mandi, telur itu tidak boleh mereka tinggalkan.

Siapa saja yang kehilangan telur atau sampai memecahkannya, maka ia akan mendapatkan ‘hukuman’ dari Panitia. Dua hari kemudian, ketika acara rohani itu selesai, legalah mereka semua. Namun ada beberapa orang yang harus menanggung hukuman karena memecahkan telur mereka. Seperti halnya menjaga sebutir telur yang mereka lakukan, demikian juga kita harus menjaga hati.

Seorang anak yang memecahkan telur berkata, “Saya sudah menjaganya sedemikian rupa. Tetapi hanya teledor sedikit saja, telur itu pecah. Saya sangat menyesal telah memecahkan telur itu. Artinya, saya belum bisa menjaganya dengan baik.”

Anak itu mengerti, ia mesti menjaga hal-hal yang berharga yang dimiliki dirinya. Ia berjanji kepada pembimbing acara rohani itu untuk memelihara hatinya dengan sebaik-baiknya. Ia boleh mendapatkan hukuman atas kelalaiannya. Namun ia dapat belajar banyak hal tentang kehidupan.

Sahabat, persoalan terbesar yang dihadapi oleh semua manusia di dunia ini adalah persoalan hati. Dari hati muncul motivasi. Dari hati muncul rencana. Dari hati timbul perasaan. Dari hati kemarahan diungkapkan. Dari hati keluarlah pikiran-pikiran, perkataan dan tindakan.

Namun banyak orang kurang menyadari hal ini. Banyak orang sering ceroboh dalam hidup ini. Akibatnya, mereka kehilangan hati yang tulus dan murni dalam menjalani hidup ini. Mereka bertindak seenaknya saja. Ada hal yang hilang dari hidup mereka, sehingga mereka kurang punya ketahanan hidup.

Bagi kita, hati adalah area yang penting dalam kehidupan ini. Hati yang baik mengatur dan mengarahkan setiap hal yang kita kerjakan. Untuk itu, kita mesti menjaga hati kita dengan sebaik-baiknya. Caranya dengan menghidupi nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Tuhan sendiri.

Kalau kita mampu menjaga hati kita dari hal-hal yang kurang baik, kita mampu memancarkan kebaikan Tuhan dalam hidup ini. Kita dapat menemukan bahwa Tuhan begitu mencintai hidup kita. Tuhan tidak pernah menolak kehadiran kita. Tuhan tetap menguasai diri kita, bukan hal-hal lain yang sering mengganggu hidup kita.

Penulis Amsal berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23). Mari kita menjaga hati kita, agar kita mampu memancarkan kasih Tuhan kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

971

04 Mei 2013

Melepaskan Benci dari Diri Kita

Pernahkah Anda dilukai oleh orang lain di masa lalu? Jika ya, sudahkah Anda terlepas dari rasa sakit? Atau luka tersebut terus tertoreh di dalam hati Anda?

Banyak dari kita tahu siapa itu Adolf Hitler. Ia seorang pemimpin Jerman yang sangat rasis. Ia membunuh jutaan orang Yahudi di kamp-kamp konsentrasi selama perang dunia kedua. Setiap orang yang melawan dia akan dihancurkannya. Bahkan orang-orang yang tidak bersalah pun dibunuhnya. Ia menjadi orang yang sangat sadis. Ia menikmati penderitaan orang lain.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut beberapa sumber, Adolf Hitler mempunyai luka batin yang sangat mendalam terhadap orang Yahudi. Ia pernah merasa dilecehkan oleh orang Yahudi. Ia tidak bisa menerima perlakuan seperti itu. Namun luka batin itu tidak diobati oleh Adolf Hitler. Ia membiarkan luka batin itu menguasai dirinya. Kegetiran hatinya itu kemudian menimbulkan penderitaan bagi jutaan orang.

Di kamp konsentrasi Auswitch, misalnya, ribuan orang keturunan Yahudi dimasukkan ke dalam ruang gelap di bawah tanah. Setelah itu gas beracun diluncurkan ke dalam ruangan itu. Akibatnya, ribuan nyawa tak berdosa mati lemas. Adolf Hitler merasa terpuaskan. Ia merasa luka batinnya itu terobati.

Namun hal seperti itu tidak berlangsung lama. Ia terus-menerus dikejar oleh suara hatinya. Ia kemudian melakukan bunuh diri sebelum ditangkap. Luka batin yang tidak diolah dengan baik hanya menimbulkan kepahitan dalam hidup.

Sahabat, setiap orang pernah merasakan sakit hati. Ada banyak penyebab sakit hati itu. Misalnya, ada yang tersinggung oleh kata-kata pedas sesamanya. Ada yang merasa tersinggung karena kehadirannya tidak dianggap. Disakiti atau diperlakukan tidak adil merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi diri kita, bila hal tersebut terjadi dalam kehidupan kita sendiri.

Yang dibutuhkan dari kita adalah mengolah rasa sakit hati itu. Orang yang mampu mengolah rasa sakit hati akan menemukan bahwa hidup ini begitu berharga. Orang belajar dari peristiwa-peristiwa hidup ini untuk memajukan dirinya sendiri. Untuk itu, orang mesti selalu siap untuk menjalani hidup ini dengan hati yang tenang.

Karena itu, orang mesti senantiasa menyadari bahwa ada hal yang lebih penting dari hidup ini. Balas dendam dan benci bukan suatu cara terbaik untuk mengolah luka batin. Luka batin hanya dapat diolah melalui pengampunan yang tulus dari diri kita. Hanya dengan memaafkan sesama, kita mampu bangkit lagi dari luka batin itu. Kita tidak perlu menyiksa diri kita dengan kebencian yang mendalam terhadap sesama kita.

Untuk itu, kita butuh proses untuk menyembuhkannya. Kita butuh saat-saat yang berahmat untuk melapaskan diri dari luka batin yang mencekam diri kita. Caranya adalah dengan menumbuhkan cinta kasih yang mendalam dalam diri kita demi sesama kita.

Seorang bijak berkata, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Tuhan, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan dan mencemarkan banyak orang.” Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

970