Pages

14 Januari 2014

Berani Memaafkan Kesalahan Sesama



Mampukah Anda memaafkan sesama yang telah menyakiti hati Anda? Kiranya tidak gampang kita memaafkan orang yang telah menyakiti hati kita. Lebih mudah kita melakukan balas dendam. Bahkan kita rela untuk menjerumuskan orang yang telah menyakiti hati kita itu.

Ada seorang ibu yang merasa sangat sakit hatinya. Hatinya terluka oleh perbuatan suaminya. Suami itu sangat ia cintai. Ia menyediakan semua kebutuhan suaminya dengan penuh perhatian. Setiap kali suaminya mau pergi kerja, ia selalu menyediakan kebutuhan suaminya. Ia merasa bahwa sekali pun dalam hidupnya, ia tidak pernah lalai memperhatikan suaminya.

Namun akhir-akhir ini ia berbalik seratus delapan puluh derajat. Ia ogah menyiapkan kebutuhan-kebutuhan suaminya. Ia tidak kuat lagi menghadapai tipu muslihat yang dilakukan oleh suaminya. Ia pun tidak bisa mengampuni penyelewengan suaminya. Suaminya telah melakukan perselingkungan dengan wanita lain.

Tentang hal ini ia berkata, “Saya sangat terluka. Saya tidak bisa mengampuni dia. Dia sudah menyakiti saya berulang kali. Saya tidak mau memaafkan dia. Dia tidak pantas dimaafkan.”

Yang terjadi kemudian adalah ibu ini hidup dalam penderitaan. Luka batinnya begitu dalam. Sulit untuk diobati. Ia memandang suaminya sebagai musuh yang harus dienyahkan. Semua perbuatan baiknya bagi suaminya ia hentikan. Ia tidak mau melayani suaminya lagi. Suatu tragedi terjadi dalam bahtera hidupnya. Padahal hanya satu kali sang suami mengingkari cintanya.

Sahabat, ketika orang memiliki kesepakatan untuk membangun bahtera perkawinan, ada berbagai risiko yang mesti mereka hadapi. Salah satu risiko itu adalah ketika orang mesti menghadapi ketidaksetiaan dari pasangannya.

Kalau orang hanya mau menang sendiri, orang akan jatuh ke dalam egoisme yang sangat besar. Egoisme itu akan menguasai dirinya. Egoisme itu akan menutup semua hal yang baik yang ada dalam diri pasangannya. Yang ia lihat dalam diri pasangannya hanyalah hal-hal buruk dan negatif. Tidak ada hal baik sedikit pun.

Karena itu, dibutuhkan komunikasi yang baik dalam kehidupan berkeluarga. Komunikasi yang baik itu mengandaikan saling pengertian dan percaya. Ketika seseorang mempercayai pasangannya, ia tidak perlu kuatir akan berita miring tentang pasangannya.

Untuk itu, pasangan suami istri mesti selalu saling belajar untuk memiliki pengertian dan rasa percaya. Dengan demikian, mereka tidak perlu saling menaruh curiga. Kasih mereka akan bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik. Buah dari kasih itu adalah saling mengampuni. Pintu hati selalu terbuka untuk memaafkan pasangannya. Luka batin tidak perlu tumbuh dalam diri salah satu pasangan hidup.

Memang, tidak gampang menerima dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Lebih gampang kita mencampakkan orang yang bersalah itu. Namun ini bukan semangat orang beriman.

Orang beriman itu senantiasa berusaha dengan berbagai cara untuk menerima kembali sesamanya yang bersalah dan berdosa. Tidak ada jalan buntu dalam membangun kasih dan persaudaraan. Mari kita berusaha untuk senantiasa menerima dan memaafkan sesama yang bersalah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1024

Hormati Hidup, karena Hidup Ini Milik Tuhan



Sering orang merasa bahwa hidup ini adalah milik kepunyaannya. Karena itu, mereka memperlakukan hidup ini dengan sekehendak hati. Hidup tak teratur. Minum minuman keras sampai berlebihan. Begadang sampai pagi. Akibatnya, tubuh mereka dipenuh penyakit yang mengancam nyawa.

Suatu hari ada seorang yang baik dan sangat jujur jatuh sakit. Penyakit yang diderita itu pun mengancam nyawanya. Ia menderita sakit kanker. Waktu memeriksakan diri, dokter mengatakan bahwa kanker yang dideritanya sudah mencapai stadium empat. Orang baik itu sangat terkejut. Para anggota keluarganya pun tidak percaya akan hal itu. Selama ini ia tampak baik-baik saja. Ia jarang jatuh sakit. Baru sekali ini ia sakit dan langsung parah.

Banyak sahabatnya pun tidak percaya akan hal ini. Mereka merasa bahwa tidak mungkin Tuhan memberikan hukuman yang begitu kejam terhadap dirinya. Namun dokter tidak membohongi orang baik itu. Ia sudah menelitinya dengan sangat cermat. Kesimpulannya adalah orang baik dan jujur itu menderita kanker ganas. Bahkan obat-obat yang ia berikan sudah tidak mempan. Orang baik itu hanya bisa membaringkan diri di tempat tidur. Lima bulan kemudian orang baik dan jujur itu menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh tragis!

Para anggota keluarganya tidak mudah menerima kenyataan itu. Namun selama perawatan, orang baik itu berusaha untuk menerima kenyataan yang ada. Ia tidak bisa menolaknya. Bahkan ia berusaha untuk menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia yakin, penyakit hanya mampu membunuh tubuh manusiawinya. Namun penyakit yang ganas itu tidak mampu membunuh jiwanya.

Karena itu, ketika ada sahabatnya yang bertanya, mengapa Tuhan membiarkan orang baik menderita, ia menjawab, ‘Hidup ini milik Tuhan. Hidup ini bukan milik saya. Tuhan mau buat apa terhadap hidup saya ini, itu terserah Tuhan.’

Sahabat, apa yang terjadi seandainya Anda yang mengalami penderitaan seperti yang dialami orang baik dalam kisah tadi? Rasanya Anda akan memberontak. Anda akan menolak penderitaan yang terjadi atas diri Anda. Mengapa? Karena Anda akan merasa bahwa Tuhan itu tidak adil terhadap Anda. Anda masih ingin hidup untuk waktu yang lama. Tetapi kenapa Tuhan begitu cepat mengambil Anda dari dunia ini.

Sikap orang baik dalam kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan tidak menghukum manusia. Penderitaan yang dialami oleh manusia itu melulu karena sifat keinsanan kita. Yang diinginkan oleh Tuhan bagi manusia adalah keselamatan. Untuk itu, Tuhan telah memberikan kasihNya kepada manusia. Melalui orang-orang yang ada di sekitar kita, Tuhan menunjukkan kasih setiaNya itu. Tuhan tetap peduli terhadap kehidupan manusia. Tuhan tidak meninggalkan manusia berjuang sendiri dalam mengarungi gelombang kehidupan.

Dalam penderitaan itu, Tuhan tetap hadir. Tuhan tidak meninggalkan manusia berjuang sendirian melawan sakitnya. Tuhan memberikan semangat kepada setiap orang yang sedang menderita dengan harapan akan kehidupan abadi.

Karena itu, orang beriman mesti memiliki fighting spirit atau semangat juang. Dalam semangat juang itu, manusia memiliki harapan untuk terbebas dari penderitaan. Dalam semangat juang itu, manusia menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Mengapa? Karena hidup ini milik Tuhan. Kapan Tuhan mau mengambil hidup ini dari kita, Dia akan mengambilnya.

Mari kita menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam kuasa Tuhan. dengan demikian, hidup kita semakin memiliki makna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1023

Berusaha Hidup Ugahari


Beberapa waktu lalu (tahun 2009) media-media massa memberitakan pembelian mobil baru untuk para menteri kabinet bersatu jilid 2. Harga mobil itu tidak main-main, yaitu satu koma tiga milyar rupiah. Mobil dengan merek super Soluna Syaloom itu menjadi barang mewah yang membantu pekerjaan para menteri yang belum genap seratus hari bekerja.

Menurut berita yang diperoleh, kehadiran kendaraan mewah itu untuk meningkatkan kinerja para pembantu dekat presiden itu. Karena itu, mereka membutuhkan kendaraan yang lebih baik, meski kendaraan sebelumnya, Toyota Camry itu masih layak pakai.

Tentu saja pembelian mobil mahal tersebut disambut protes oleh berbagai kalangan. Pasalnya, pembelian mobil mewah itu tidak mengindahkan krisis yang dihadapi bangsa saat ini. Ada begitu banyak orang miskin. Ada 37 juta lebih orang miskin di negeri ini yang butuh makanan, pakaian, perumahan dan pendidikan yang memadai. Menurut orang-orang yang protes itu, situasi kemiskinan ini dulu yang mesti diatasi. Bukan membeli mobil baru untuk para pejabat negara yang sudah mapan itu.

Menurut perhitungan, sebuah mobil seharga satu koma tiga milyar itu dapat digunakan untuk membangun tiga sekolah baru. Kalau uang itu digunakan untuk membangun tiga sekolah, tentu saja keprihatinan kita di bidang pendidikan akan dapat teratasi. Tidak perlu lagi ada anak bangsa ini yang masih buta huruf, karena tidak sekolah. Menurut perhitungan, uang sejumlah itu sudah dapat membiayai 23 ribu anak-anak sekolah tingkat SMP untuk SPP satu bulan. Tetapi mengapa uang sejumlah itu digunakan untuk membeli mobil pejabat?

Sahabat, kemewahan hidup bukan merupakan sesuatu yang asing lagi di negeri ini. Di saat digembar-gemborkan slogan hidup hemat, ternyata ada sejumlah kalangan yang menikmati hidup mewah. Ada upaya untuk mengabaikan slogan itu. Atau slogan yang begitu indah itu hanya dijadikan sebuah ucapan di bibir saja. Tidak bermakna bagi hidup sehari-hari.

Akibatnya jurang kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin semakin lebar. Mereka yang kaya akan semakin kaya. Sedangkan mereka yang miskin akan semakin miskin. Mengapa? Karena baik yang kaya maupun yang miskin memiliki kewajiban-kewajiban yang sama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di hadapan hukum semua warga negara diperlakukan sama.

Karena itu, ketika seorang pejabat negara melakukan korupsi besar-besaran semestinya hukumannya lebih besar daripada seorang Nenek Minah yang mencuri tiga buah kakao. Namun yang terjadi adalah bahwa para koruptor itu sulit sekali ditangkap untuk diadili sesuai dengan hukum di negeri ini. Kalau toh ditangkap dan diadili, proses pengadilannya berbelit-belit. Tidak sesederhana yang dipikirkan oleh banyak orang. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Karena itu, orang beriman mesti memiliki hati nurani yang baik. Orang mesti memiliki kekuatan untuk memilah-milah mana yang semestinya digunakan dalam hidup ini, mana yang tidak. Barang mewah mana yang semestinya dipakai untuk kelancaran hidup dan mana yang tidak. Dengan demikian, orang tidak terjerat oleh suatu kehidupan yang menghambur-hamburkan kekayaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1022

Mengusir Rasa Bosan dari Diri




Saya rasa semua orang pernah mengalami rasa bosan. Berbagai cara dilakukan untuk menghilangkan rasa bosan. Ada yang berhasil, namun ada yang gagal mengatasi rasa bosan itu. Akibatnya, mereka tenggelam dalam kesendirian. Bahkan ada yang mengalami frustrasi.

Kebosanan sering dirasakan oleh manusia. Apalagi pekerjaan yang dijalankan dari waktu ke waktu hanya itu-itu saja. Orang mengalami kebosanan sebagai sesuatu yang menyiksa batinnya. Karena itu, orang ingin cepat-cepat lari dari kebosanan itu. Orang berusaha menemukan hal-hal lain untuk mengakhiri kebosanan itu. Misalnya, ada yang memelihara burung di rumah usai bekerja. Atau memelihara dan merawat bunga di halaman rumah setelah seharian lelah bekerja. Atau ada yang pergi ke kolam untuk memancing.

Usaha-usaha yang positif mesti selalu dilakukan untuk menyegarkan kembali diri sendiri setelah lelah bekerja. Orang yang tidak menemukan cara-cara kreatif untuk menyegarkan diri dari rutinitas akan mudah stress.

Pemeran sinetron dan film Dude Harlino hingga kini tetap setia dengan sinetron-sinetron yang terkadang shooting-nya melelahkan. Dude kembali meramaikan layar kaca dengan sinetron terbarunya tahun lalu, Seindah Senyum Winona, bersama pasangan main Velove Vexia.

”Saya bekerja seperti orang-orang bekerja. Jadi tidak bosan karena ini pekerjaan. Seperti wartawan yang tiap hari mencari dan membuat berita, tidak bosan, kan?” kata Dude tentang bekerja.

Karena itu, berbagai persoalan yang timbul ketika pengambilan gambar harus bisa diatasi. Dengan membaca, mendengarkan musik dan menonton film, rasa bosan itu bisa diusir.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang semakin sibuk. Kita dituntut untuk kreatif dalam hidup ini. Kreatif bukan hanya dalam usaha memperoleh hasil yang berlimpah-limpah. Tetapi kreatif juga dalam menemukan cara-cara untuk mengusir kebosanan hidup. Orang yang bosan terhadap hidup dan pekerjaannya mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang negatif. Untuk itu, kita mesti hati-hati dalam hidup ini.

Ada berbagai cara untuk mengusir kebosanan. Dude Harlino menemukan cara mengusir kebosanan dengan membaca, mendengarkan musik dan nonton film. Tentu saja setiap orang punya cara-cara sendiri dalam usaha mengusir kebosanan itu.

Yang penting adalah orang tetap konsisten pada apa yang dikerjakannya. Meski pekerjaan itu tampaknya rutin terus-menerus sepanjang puluhan tahun, tetapi ketika orang sungguh-sungguh tetap setia pada pekerjaannya, orang akan terhindar dari rasa bosan.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi dalam hidupnya. Hal ini menjadi penting ketika kita membuat strategi-strategi bagi kemajuan hidup kita. Kita perlu menemukan titik lemah dalam diri kita. Salah satu titik lemah itu adalah rasa bosan. Kalau orang telah menemukan rasa bosan itu, orang akan dengan mudah mampu mengatasinya.

Mari kita berusaha untuk menemukan penyebab-penyebab rasa bosan dalam hidup kita. Kita tetap menyertakan Tuhan dalam hidup kita, dengan demikian kita dapat mengusir rasa bosan dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT/Tabloid KOMUNIO


1021

Membantu Sesama untuk Hidup dalam Damai

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berjumpa dengan orang-orang yang menolak sesamanya? Anda biarkan saja? Atau Anda berusaha mendamaikannya?

Suatu ketika seorang ibu tua mendatangi saya. Di tangannya ia memegang sebuah kantong plastik hitam berisi pakaian-pakaiannya. Air mata terus-menerus bercucuran dari matanya membasahi wajahnya yang penuh keriput itu.

Sambil menyeka air matanya, ia berkata, “Tolong saya, romo. Saya diusir anak saya.”

Saya bertanya kepadanya, “Kenapa ibu diusir?”

Ia menjawab, “Kata anak saya, saya terlalu cerewet. Saya terlalu banyak menuntut. Jadi lebih baik saya tidak tinggal di rumahnya saja.”

Saya berusaha mengerti keadaan ibu itu. Setelah mengetahui nama dan alamat anaknya, saya mengajak ibu itu pulang ke rumahnya. Kami naik becak sampai di depan pintu rumah anaknya. Saya kaget luar biasa. Saya berhadapan dengan sebuah rumah yang besar dengan halaman luas. Pasti penghuninya bukan orang miskin atau pas-pasan.

Dalam hati, saya berkata, “Sayang sekali rumah sebagus ini kurang dihiasi oleh cinta kasih. Masak, seorang anak tega mengusir pergi ibu yang telah melahirkannya? Tetapi inilah kenyataan zaman.”

Sambil mempersilakan saya duduk, ibu muda itu bertanya, “Oh, romo. Baru pertama kali ke sini?”

Saya menjawab, “Yah, pertama kali ini saya ke sini. Mudah-mudahan saya tidak mengganggu. Saya datang mengantar ibu Anda. Dia baru saja mendatangi saya, karena ia mengaku diusir oleh anak kandungnya sendiri.”

Ibu muda itu tampak tegang. Wajahnya yang ceria berubah menjadi pucat.

“Kenapa ibu saya, romo?” ia pura-pura bertanya.

“Yah, ibu Anda membutuhkan kasih darimu. Dia butuh diterima. Anda masih ingat kata-kata Tuhan Yesus sewaktu Ia ditinggikan di atas salib? Tuhan Yesus menyerahkan ibuNya kepada seorang muridNya. Murid itu menerima tanpa banyak kata,” saya mencecar ibu muda beranak dua itu.

Sambil mencucurkan air mata penyesalan, ibu muda itu berkata, “Maafkan saya, romo. Saya kilaf.”

Saya berkata, “Saya mengerti. Tetapi sekarang Anda mesti minta maaf dari ibu Anda. Katakan padanya bahwa Anda masih mencintainya.”

Ibu muda itu langsung memeluk ibunya, sambil berteriak, ia berkata, “Mama.....”

Sahabat, hari itu juga rekonsiliasi pun terjadi. Damai bersemi kembali. Kasih kembali mereka jalin. Sejak itu, saya tidak pernah mendengar lagi percekcokan di antara mereka. Terjadi suatu harmoni di antara mereka, karena mereka saling menerima sebagai murid-murid Tuhan Yesus.

Namun rekonsiliasi itu bukan berjalan tanpa peran Tuhan Allah yang lebih dahulu menerima kehadiran manusia apa pun dosa yang telah mereka perbuat. Tuhan tidak pernah melupakan ciptaanNya. Kalau pun manusia melupakan Tuhan, Allah tidak akan pernah melupakannya.

Nabi Yesaya berkata, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kadungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”

Benar, Tuhan menghendaki agar kita tidak saling melupakan, karena kita adalah saudara yang mesti saling menerima. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1020

Tuhanlah Andalan Hidup Kita

Di kala Anda tertimpa susah dan derita dalam hidup ini, apa yang Anda lakukan? Anda mengandalkan diri Anda sendiri? Atau Anda meminta bantuan dari dukun? Tentu saja orang beriman mengandalkan Tuhan dalam saat-saat seperti itu. Tuhan menjadi pegangan hidupnya.

Ada seorang pengusaha yang tertimpa masalah. Selain usahanya gagal dan bangkrut, ia sendiri terkena penyakit serius. Waktu itu, kedua anaknya masih duduk di bangku SMP dan SMA. Padahal mereka masih membutuhkan banyak biaya untuk sekolah mereka.

Masalah lain datang pula menghadangnya. Sang istri yang selalu ia andalkan ternyata terpincut oleh lelaki lain. Ia pergi dengan lelaki mantan pacarnya dulu. Hati pengusaha itu seolah-olah hancur lebur. Namun ia berusaha untuk tabah. Ia menyerahkan seluruh persoalan itu kepada Tuhan.

Suatu hari, ia mendatangi seorang pastor. Ia menceritakan semua persoalan yang dihadapinya. Harapannya, ia dapat diberi solusi yang cespleng. Ternyata harapannya meleset. Pastor itu malahan meminta pengusaha itu untuk membantu anak-anak panti asuhan. Ia menuruti permintaan pastor itu.

Sebelum pulang ke rumahnya, pastor itu memberi nasihat, ”Saya harap, Anda mulai rajin beribadat. Persembahkanlah derita dan keluargamu kepada Tuhan. Hanya dengan cara itu, kamu akan dapat menyelesaikan semua masalahmu.”

Pengusaha itu agak bingung. Namun ia menuruti seluruh nasihat pastor itu. Bertahun-tahun kemudian, kedua anaknya berhasil meraih gelar sarjana. Ia sendiri menemukan kebahagiaan hidupnya, meski tanpa sang istri yang mendampinginya. Usahanya kembali pulih.

Ia berkata, ”Sekarang saya tidak mau kehilangan Tuhan lagi. Ternyata Tuhan begitu baik kepada saya. Tuhan tidak pernah meninggalkan saya berjuang sendiri mengatasi persoalan-persoalan hidup saya.”

Sahabat, kesetiaan kepada Tuhan mesti selalu dibangun dalam perjalanan hidup manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kita manusia adalah makhluk yang tidak berdaya tanpa bantuan dari Tuhan. Kita hanya dapat berhasil, kalau kita bekerja bersama Tuhan. Kita dapat meraih cita-cita kita dengan sukses, kalau kita tidak melupakan Tuhan yang bekerja di dalam diri kita.

Namun sering orang yang sudah berhasil lupa akan Tuhan. Mereka seperti kacang lupa kulit. Lupa dari mana mereka berasal. Lupa dari mana sumber kesuksesan itu. Karena itu, orang seperti ini bertumbuh dalam keangkuhan hatinya. Ia merasa ia sendiri dapat mengatasi semua persoalan hidupnya. Usahanya sendiri saja yang mampu membawa dia kepada kesuksesan.

Akibatnya, orang menjadi sombong. Orang lupa akan asal usulnya. Orang lupa bahwa manusia itu hanyalah makhluk yang tidak berdaya. Manusia dapat menjadi berdaya berkat penyelenggaraan Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu memberi kebahagiaan bagi hidupnya. Hanya Tuhan yang mampu membimbing dan memberikan kekuatan kepadanya dalam perjalanan hidup manusia.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan yang mahabaik itu akan selalu setia kepada kita. Tuhan selalu mau repot dengan hidup kita. Karena itu, janganlah bosan-bosan melibatkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1019

09 Januari 2014

Berterima Kasih atas Kebaikan Tuhan

 
Kebaikan Tuhan tak mengenal batas. Ini yang kita alami dalam hidup sehari-hari. Tuhan senantiasa melimpahi kita dengan berbagai rahmat yang membuat hidup kita semakin baik hari demi hari. Namun ada orang yang tidak mau berterima kasih atas kebaikan Tuhan itu. Mereka merasa hidup bahagia yang mereka alami itu adalah usaha dari diri mereka sendiri.

Waktu saya masih kecil, saya sering pergi dengan ayah saya ke kebun. Di sana berbagai hal kami kerjakan bersama. Atau lebih tepat, saya belajar banyak hal dari ayah saya. Suatu sore, ayah saya memanjat pohon kelapa yang berada di pinggir tebing. Sebelum naik, ia berdoa terlebih dahulu. Tinggi pohon kelapa itu sekitar 25 meter.

Yang membuat saya takut adalah angin kencang berhembus dari lembah. Pohon kelapa itu diterpa oleh angin senja. Ayah saya sudah hampir sampai di atas pohon. Sontak saja saya berteriak ketakutan. Namun ayah saya tidak peduli. Ia tetap memanjat hingga memetik buah-buah kelapa yang sudah tua itu. Setelah menurunkan semua kelapa yang sudah tua itu, ia turun.

Setelah mengumpulkan kelapa-kelapa itu, ia berkata kepada saya, “Nak, waktu ayah di atas pohon kelapa, kamu tidak usah berteriak-teriak. Ayah dengar suaramu. Tetapi ayah tidak peduli. Soalnya, ayah sudah berdoa sebelum naik pohon kelapa itu. Jadi ayah percaya, Tuhan akan melindungi ayah.”

Saya tercengang mendengar kata-kata ayah. Ia begitu yakin akan perlindungan Tuhan. Ia menyerahkan keselamatan dirinya kepada Tuhan. Baginya, Tuhan itu menyelenggarakan hidup ini, sehingga ia mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Karena itu, setiap kali ia memulai suatu pekerjaan, ia selalu berdoa terlebih dahulu.

Sahabat, banyak orang mengaku sebagai orang beriman. Namun mereka sering lupa bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap hidup manusia. Ada orang-orang yang tidak bisa mengintegrasikan antara hidup keimanan dan hidup sehari-hari. Bahkan ada orang yang memisahkan keduanya. Padahal Tuhan hadir dalam setiap detik hidup manusia.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh orang beriman? Yang mesti dibuat oleh orang beriman adalah menyatukan antara yang ilahi dan yang insani. Yang ilahi bukanlah suatu kutub yang bertentangan dengan yang insani. Ketika kita melakukan doa atau meditasi, kita menyertakan yang ilahi dalam hidup manusia sehari-hari. Tuhan ingin hidup bersama manusia. Tuhan ingin manusia menerima kehadiranNya dalam diri manusia.

Untuk itu, manusia mesti membuka hatinya lebar-lebar bagi kehadiran Tuhan. Tuhan yang hadir dalam diri manusia itu menguatkan dan memberi semangat kepada manusia untuk perjalanan hidupnya di dunia ini. Tuhan ingin mengalami suka dan duka hidup manusia. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu memampukan manusia untuk senantiasa melakukan hal-hal yang baik.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan yang baik. Namun doa kita itu bukan hanya memohon, tetapi juga bersyukur atas kebaikanNya. Tuhan memberi apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari.

Mari kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang kudus di hadapan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1018

08 Januari 2014

Memiliki Semangat untuk Setia


Tidak mudah untuk melaksanakan sesuatu yang tidak kita sukai. Banyak orang kemudian melanggar aturan-aturan umum yang berlaku. Mereka berpikir bahwa dengan melanggar aturan-aturan itu, hidup mereka akan bahagia.

Suatu hari, seorang pengendara motor melanggar (menerobos) lampu merah. Seharusnya ia berhenti, tetapi ia malah memacu motornya kecencang-kencangnya. Melihat kejadian itu, polisi langsung menghadangnya. Polisi membunyikan peluitnya lantas menyuruhnya minggir di pos polisi.

Namun orang itu tidak mau minggir. Dengan angkuh dan membunyikan motor keras-keras, ia melanjutkan aksinya dengan ngebut sekencang-kencangnya. Polisi mencatat nomor motor tersebut, lantas ia segera mengambil motornya dan mengejar pengendara itu. Sementara temannya yang lain mengontak pos polisi terdekat.

Setelah kejar-kejaran beberapa saat, polisi menangkap pengendara motor itu dengan bantuan polisi di pos terdekat yang sudah menghadang. Pengendara motor itu diperiksa oleh serombongan polisi. Ketika ditanya oleh polisi, pengendara itu menjawab, ”Peraturan itu dibuat untuk dilanggar. Kalau tidak ada pelanggaran, tidak perlu ada peraturan dan polisi. Jadi saya melakukannya dengan kesadaran penuh.”

Jawaban pengendara motor itu sangat menyakitkan hati polisi. Orang itu begitu angkuh. Ia terlalu permisif. Polisi pun mengganjarnya dengan hukuman yang berat. Satu minggu pengendara itu dimasukkan ke dalam sel. Di sana ia diberi pelajaran tentang tatakrama dalam berkendaraan di jalan umum.

Sahabat, berhadapan dengan kisah di atas kita boleh bertanya, masih perlukah orang taat di zaman sekarang ini? Kita hidup di zaman yang memberikan peluang yang sangat besar kepada kebebasan pribadi. Karena itu, ketaatan sering dianggap berlawanan dengan kebebasan. Ketaatan membuat orang tidak bebas dalam mengekspresikan diri. Untuk itu, ada upaya untuk melakukan deregulasi. Artinya, ada upaya untuk mengurangi sebanyak mungkin aturan-aturan yang ada.

Kisah di di atas mau mengatakan kepada kita bahwa orang merasa terbelenggu oleh aturan-aturan yang ada. Padahal aturan itu dibuat untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia, baik pribadi maupun bersama. Bayangkan kalau pengendara itu menabrak orang yang sedang melintasi perempatan jalan? Apa yang akan terjadi? Kecelakaan besar akan menimba hidup manusia. Tidak hanya hidup pengendara motor itu saja. Tetapi mungkin banyak orang akan mengalami celaka sebagai akibat dari ulahnya itu.

Sebagai orang beriman, kita ingin taat pada aturan-aturan yang ada dengan suatu kesadaran penuh. Kita taat pada aturan-aturan yang telah dibuat itu, karena memiliki nilai yang tinggi bagi kehidupan bersama. Keharmonisan dapat terjadi melalui ketaatan terhadap aturan-aturan yang ada.

Dalam hidup sehari-hari orang beriman tidak hanya taat pada aturan-aturan yang ada. Namun orang beriman juga berusaha taat kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Orang beriman taat kepada Tuhan bukan karena takut dihukum ketika tidak taat.

Namun orang beriman taat kepada Tuhan, karena Tuhan memberikan jalan yang terbaik bagi hidup manusia. Tuhan selalu peduli terhadap hidup manusia. Karena itu, mari kita memupuk ketaatan dalam hidup kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1017

07 Januari 2014

Membantu Sesama Tumbuhkan Kebahagiaan


Sering orang merasa kurang punya waktu dan kesempatan untuk membantu sesamanya yang membutuhkan. Atau ada juga orang yang beranggapan, kalau ia membantu sesamanya ia akan kehilangan banyak. Benarkah demikian?

Seorang anak bergumul dengan dirinya sendiri. Ia ingin menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Usaha itu bukan baru saja ia lakukan. Tetapi ia sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak mudah bagi dia untuk menggapai keinginannya. Soalnya adalah ada berbagai rintangan. Ada berbagai godaan yang siap mengganggu usahanya.

Untunglah, suatu hari ia bertemu dengan seorang bijak. Ia meminta nasihat kepada orang bijak itu tentang cara menggapai kebahagiaan. Orang bijak itu bertanya, “Apakah Anda suka membantu orang lain?”

Anak itu menggelengkan kepalanya. Ia mengaku, selama ini ia hanya menuntut bantuan dari orang lain. tetapi soal membantu sesama, ia tidak pernah sedikit pun melakukannya. Karena itu, orang bijak itu menasihatinya untuk mulai menggerakkan kedua tangannya membantu sesamanya.

“Kebahagiaan itu tumbuh dan berkembang, ketika Anda membantu orang lain. Kalau Anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan itu seperti tanaman yang harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi,” kata orang bijak itu.

Anak itu terkejut mendengar kata-kata bijak itu. Ia pun mulai menyadari sikapnya yang egois yang hanya mau dibantu oleh orang lain. Ternyata membantu orang lain itu mendatangkan kebahagiaan dalam hidup. Kebahagiaan itu terletak pada tindakan membantu sesama yang membutuhkan pertolongan.

Sahabat, banyak orang mencari dan berusaha menemukan kebahagiaan pada hal-hal yang berasal dari luar dirinya. Misalnya, punya mobil mewah, rumah mewah atau harta kekayaan yang banyak. Orang melupakan sesuatu yang sangat prinsipial, yaitu kebahagiaan itu mesti tumbuh dari hati yang jujur dan murni. Kebahagiaan itu sebenarnya tidak perlu dicari jauh-jauh. Kebahagiaan itu sudah ada. Tinggal bagaimana manusia menumbukembangkan kebahagiaan itu bagi hidupnya.

Salah satu cara untuk menumbuhkembangkan kebahagiaan adalah dengan keluar dari kungkungan egoisme. Orang mesti berani meninggalkan segala kepentingannya. Orang mesti mampu hidup dalam situasi berbagi dengan sesama yang ada di sekitarnya. Hanya dengan cara ini, orang akan menemukan kebahagiaan. Justru melalui berbagi hidup itu orang mampu menemukan kebahagiaan yang sejati.

Namun apa yang ingin dibagikan itu mesti keluar dari hati yang tulus. Bukan dari hati yang penuh dengan gerutu. Ketika membantu sesama, orang mesti membantunya dengan setulus hati. Membantu sesama itu bukan hanya pertama-tama soal materi atau kekayaan. Tetapi pertama-tama membagi pengalaman hidup yang indah dan menyenangkan. Dengan cara ini, orang akan mampu membahagiakan diri dan sesamanya.

Membantu sesama itu suatu keutamaan bagi orang beriman. Dengan membantu sesama itu, orang menghayati imannya kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Kasih kepada Tuhan menjadi semakin nyata dan indah, ketika orang rela berbagi dengan sesamanya.

Mari kita berusaha terus-menerus untuk berbagi kehidupan dengan sesama. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan sejati dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1016

Berusaha tetap Setia kepada Tuhan




Kesetiaan sering mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan dalam hidup. Orang merasa begitu mudah untuk mengikrarkan kesetiaan itu di hadapan Tuhan dan sesama. Namun begitu hendak melaksanakan kesetiaan itu, orang mulai bingung. Orang tidak tahu mesti buat apa.

Ada seorang pembantu rumah tangga yang tampaknya sangat sibuk. Pagi-pagi ia sudah memegang sapu untuk menyapu halaman. Ia tampak rajin sekali. Tetapi di tangan kirinya ia selalu memegang HP kesayangannya. Dua tahun terakhir ini ia mulai menggunakan HP untuk berkontak dengan orang-orang yang dikenalnya.

Akibatnya, pendapatannya mulai berkurang. Kalau dulu ia masih bisa menyimpan gaji yang lumayan di akhir bulan, kini hanya tersisa sedikit. Untuk beli pulsa saja ia mesti menghabiskan hampir sebagian dari gajinya. Belum lagi ia mesti membeli barang-barang kebutuhan pribadinya. Kadang-kadang ia mengeluh tentang keadaan seperti itu. Tetapi ia tidak bisa menghentikan kebiasaannya untuk mengontak teman-teman atau kenalan-kenalan lain melalui HP.

Suatu hari, ia ditegur oleh ibunya di kampung. Ibunya mengeluh, karena uang kiriman dari putrinya itu tidak sesering dulu. Bahkan beberapa kali ibunya tidak mendapatkan apa-apa dari putrinya. Padahal ia mesti menghidupi tiga orang anaknya yang masih sekolah.

Pembantu rumah tangga itu kemudian mengambil keputusan yang drastis. Ia sadar bahwa hasil keringatnya untuk membiayai adik-adiknya di kampung. Ia sudah mengorbankan segalanya untuk kelangsungan hidup keluarganya. Ia berkorban untuk tidak sekolah demi adik-adiknya. Karena itu, ia memutuskan untuk menjual HP yang dimilikinya. Ia tidak mau lagi memboroskan gajinya hanya untuk hal-hal yang tidak berguna. Hasilnya, tiga kali sebulan ia mengirim uang untuk ibunya yang sudah janda itu. Adik-adiknya dapat bersekolah dengan baik dan tenang. Sang ibu tidak perlu terlalu cemas lagi.

Sahabat, banyak orang di zaman sekarang terkena penyakit afluenza yang menjangkiti masyarakat negara maju. Saat orang memiliki harta benda dan berbagai kemudahan hidup, mereka cenderung menjalani hidup yang konsumtif. Mereka juga mengejar kenikmatan bagi diri sendiri. Akibatnya, orang tidak lagi pikir tentang penghasilan dan pengeluaran.

Tampaknya penyakit afluenza ini sedang menjangkiti banyak orang di negeri ini. Banyak orang mulai mengubah gaya hidup. Kalau dulu orang mesti hidup hemat, sekarang orang ingin lebih menikmati hidup. Orang tidak peduli apakah penghasilannya cukup untuk hidup sebulan atau tidak. Yang penting enjoy saja dulu. Soal punya banyak hutang, itu soal kemudian.

Kisah di atas menunjukkan bahwa penyakit afluenza bisa menyerang siapa saja. Tidak pandang, apakah itu orang yang sudah makmur atau belum. Setiap orang yang punya kesempatan untuk menikmati hidup ini dengan cara hidup konsumtif, penyakit afluenza akan siap menyerang.

Sebagai orang beriman, kita mesti waspada terhadap hal ini. Kita mesti tetap bertahan untuk penuh perhitungan dalam menggunakan apa yang kita miliki. Kita tidak hidup hanya untuk hari ini. Kita juga tidak hidup untuk diri kita sendiri. Kita hidup untuk orang lain juga. Kita hidup untuk suatu masa yang panjang.

Mari kita berusaha untuk tetap setia pada iman kita yang sudah kita bangun bertahun-tahun. Kita ingin hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai orang beriman. Kita ingin berjuang bersama Tuhan dan sesama dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT