Pages

26 Januari 2014

Jangan Sakiti Tubuh Anda

 

Pernahkah Anda sakiti tubuh Anda sendiri? Mungkin Anda akan mengatakan tidak pernah. Namun kalau kita refleksikan lebih dalam, kita akan mengakui bahwa kita pernah menyakiti tubuh kita sendiri. Caranya bermacam-macam.

Minuman alkohol memang diketahui berdampak buruk dan berbahaya bagi tubuh. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa alkohol tiga kali lebih berbahaya dibandingkan dengan heroin. Penelitian ini dilakukan oleh Profesor David Nutt, seorang mantan kepala penasihat obat Inggris dan rekannya. Ia memberikan peringkat terhadap 20 jenis obat dengan melakukan 16 pengukuran.

Masing-masing obat dilihat bahaya dan kerugiannya termasuk kerusakan mental dan fisik, kecanduan, kejahatan, biaya ekonomi serta dampaknya bagi si pengguna dan juga masyarakat luas.

Hasil penilaian ini menyimpulkan bahwa heroin dan methylamphetamine adalah obat yang paling berbahaya bagi individu. Tetapi alkohol, heroin dan kokain adalah obat yang paling merugikan untuk orang lain. Namun ketika nilai untuk kedua jenis bahaya tersebut ditambahkan, maka alkohol muncul sebagai obat yang paling berbahaya lalu diikuti oleh heroin.

Berdasarkan sistem baru yang lebih kompleks, didapatkan bahwa alkohol memiliki peringkat tiga kali lebih berbahaya dibandingkan dengan kokain atau tembakau. Sementara ekstasi menyebabkan seperdelapan bahaya dari alkohol.

“Hasil ini sesuai dengan kesimpulan laporan ahli sebelumnya bahwa alkohol adalah target merugikan yang agresif sehingga diperlukan strategi kesehatan yang valid bagi publik,” kata Prof Nutt.

Prof Nutt menuturkan, jika dilihat dari risiko bahaya secara keseluruhan, maka alkohol dan heroin jelas lebih berbahaya dibandingkan dengan jenis obat-obatan lainnya. Tapi faktor kuantitas atau jumlah dari obat tersebut yang dikonsumsi juga berpengaruh.

Sahabat, manusia sering terjebak dalam godaan-godaan. Sudah tahu bahwa menyeberang sembarangan di jalan yang ramai dan padat akan membahayakan hidup, tetapi masih saja orang melakukannya. Mereka tidak peduli diri mereka berada dalam situasi bahaya.

Atau banyak orang sudah tahu, kalau minum minuman beralkohol mengganggu kesehatan, tetapi masih saja ada orang yang menenggak minuman itu. Bahkan ada yang mengoplos minuman beralkohol itu dengan racun serangga. Seolah-olah orang mau pamer kehebatan. Orang mau mengatakan kepada sesamanya bahwa ia lebih mampu daripada orang lain dalam hal minum minuman beralkohol. Padahal setelah itu, minuman beralkohol menghancurkan organ-organ tubuh yang vital bagi kehidupan.

Kiranya hasil penelitian Prof Nutt di atas mampu menyadarkan manusia bahwa minuman beralkohol tidak memberi kebaikan bagi kesehatan manusia. Minuman seperti itu hanya menumbuhkan gengsi sesaat dalam diri seseorang. Gengsi itu sering menyesatkan manusia.

Sebagai orang beriman, kita mesti memelihara tubuh kita. Mengapa? Karena tubuh kita ini pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Sampai kapan pun kita ini milik Tuhan. Bahkan sampai tubuh kita ini tidak berbentuk lagi, kita tetap milik Tuhan. Karena itu, jangan kita sakiti tubuh kita ini. Dengan demikian, tubuh kita menjadi tempat tinggal Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” kata St Paulus (1Kor 6:19). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1034

25 Januari 2014

Memaknai Kebaikan Tuhan dalam Hidup



Sering orang melarikan diri dari penderitaan yang dihadapi. Mereka kemudian menyalahkan orang lain atau menyalahkan Tuhan. Padahal Tuhan begitu baik terhadap hidup mereka. Tuhan memelihara hidup mereka.

Suatu hari seorang ibu kehilangan anak semata wayangnya. Ia sangat menyayangi anaknya itu. Namun karena suatu penyakit yang tak tersembuhkan, anaknya menutup mata untuk selama-lamanya. Ibu itu seolah-olah kehilangan pegangan hidup. Ia menjadi loyo dalam hidupnya. Ia enggan untuk memulai hidupnya lagi seperti sedia kala. Ia tenggelam dalam duka nestapa yang berlarut-larut.

Ia tidak mau menerima kenyataan itu. Ia berontak terhadap situasi itu. Ia menuduh Tuhan telah melupakan dirinya. Ia memutuskan untuk meninggalkan Tuhan. Ia berkata, “Mengapa Tuhan memberi penderitaan ini bagi hidup saya? Mengapa Tuhan tidak peduli terhadap doa-doa saya?”

Ibu itu terjerembab dalam pikirannya sendiri. Ia menjadi stress. Ia tidak ingin meneruskan hidupnya lagi. Untung, sang suami kemudian menyadarkan dirinya. Sang suami berkata kepadanya, “Kita tidak boleh menyalahkan siapa-siapa. Anak kita meninggal karena penyakit yang menggerogotinya. Lebih baik baginya untuk kembali ke haribaan yang mahakuasa. Kalau dia masih hidup, penderitaannya akan lebih besar lagi.”

Ibu itu tersadar dari situasinya. Ia berusaha untuk bangkit dari keterpurukannya. Berbulan-bulan kemudian ia dapat menerima kenyataan hidupnya.

Sahabat, kebaikan Tuhan sering kita temukan dalam hidup sehari-hari. Kita masih bisa bangun pagi-pagi untuk menghirup udara yang segar. Kita boleh menikmati sarapan pagi bersama orang-orang yang kita cintai. Kita masih boleh bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup kita sehari-hari.

Namun sering manusia kurang menyadari kebaikan Tuhan itu. Manusia merasa bahwa kalau Tuhan itu baik, itulah kewajiban Tuhan. Karena itu, ketika manusia mengalami penderitaan dan kegagalan dalam hidup, mereka cenderung mencari kambing hitam. Siapa yang sering dikambinghitamkan? Jawabannya adalah Tuhan sering disalahkan oleh manusia yang sedang menderita. Tuhan menjadi kambing hitam penderitaan dan kegagalan manusia.

Benarkah sikap demikian? Tentu saja sikap demikian bukanlah sikap orang yang beriman. Orang beriman itu orang yang bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang berani menghadapi resiko kehidupan ini. Bukan orang yang cengeng. Bukan orang yang mudah mengalihkan kesalahan yang dibuatnya kepada orang lain atau Tuhan.

Untuk itu, apa yang mesti dibuat oleh manusia? Yang mesti dilakukan oleh manusia adalah memiliki hati yang lapang. Artinya, hati yang siap sedia menerima resiko apa pun yang dihadapinya. Hati yang lapang itu hati yang tidak kecut. Hati yang tidak takut terhadap setiap bentuk tantangan dan ancam. Hati yang lapang itu hati yang mau menerima sesama apa adanya.

Karena itu, kita mesti bertobat. Artinya, kita menerima setiap kenyataan yang terjadi atas diri kita dengan hati yang lapang dan besar hati. Lantas bersama Tuhan yang kita imani itu kita berusaha untuk mengatasi setiap persoalan hidup kita. Kita biarkan Tuhan berkarya di dalam diri kita dengan rahamatNya. Dengan demikian, kita mampu menanggung setiap beban derita yang kita hadapi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1033

24 Januari 2014

Hidup Ini Anugerah Tuhan



Masihkah Anda mengalami kasih Tuhan dalam hidup Anda, di saat badai mengguncang hidup Anda? Atau Anda melakukan protes terhadap Tuhan, karena merasa Tuhan tidak adil terhadap diri Anda?

Nick Vujicic adalah seorang pria asal Australia yang mempunyai kondisi tubuh cacat. Dia tidak mempunyai kedua tangan dan kaki yang utuh. Kaki sebelah kirinya pendek sekali, nyaris hanya dari mata kaki sampai telapak kaki. Namun Nick mampu menerima kondisinya ini sebagai karunia Tuhan.

Memang, awalnya Nick menolak kondisi dirinya. Ia merasa Tuhan tidak adil telah menciptakan dirinya tidak normal seperti manusia lain. Saat ia berusia lima hingga tujuh tahun, ia protes kepada Tuhan. Kalau Tuhan itu baik, mengapa ia menciptakan dirinya dengan tidak normal? Bahkan waktu berusia 12 tahun Nick mencoba untuk bunuh diri.

Ia berkata, “Saya memang pergi ke sekolah, tapi hidup saya tidak ada di sekolah. Saya melihat diri saya tidak layak lagi untuk hidup. Saya begitu menyesali keadaan diri saya. Tapi yang saya harapkan saat itu seseorang datang dan berkata semuanya akan baik-baik saja. Tapi saya tetaplah seorang yang cacat. Saya tidak bisa bermain bersama teman-teman saya yang normal.”

Namun Nick mengurungkan niatnya untuk berbuat nekad. Hal itu terjadi, ketika sang ibu menunjukkan gambar orang cacat seperti dirinya dari sebuah koran lokal. Nick sadar bahwa ia tidak sendirian. Masih ada orang yang senasib dengan dirinya. Ia pun bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai berjuang. Dan ia berhasil. Ia mengalami kasih Tuhan itu melalui orang-orang yang ada di sekitarnya. Sang mama yang sangat mengasihi dengan merawatnya ia alami sebagai kehadiran Tuhan yang menyertai perjalanan hidupnya.

Sahabat, masihkah Anda yakin bahwa Tuhan masih mengasihi Anda? Kalau Anda masih yakin, mengapa Anda mudah menyerah di kala Anda menghadapi persoalan-persoalan hidup? Mengapa Anda protes terhadap Tuhan, di kala Anda mengalami duka nestapa menimpa diri Anda?

Banyak orang merasa ditinggalkan Tuhan, saat mereka mengalami penderitaan dalam hidup ini. Mereka protes terhadap Tuhan. Mereka berusaha untuk meninggalkan Tuhan. Padahal saat mereka melakukan kesalahan dan dosa, mereka tidak pernah menyertakan Tuhan. Mereka lakukan sendiri dan bahkan sembunyi-sembunyi.

Kisah Nick di atas memberi kita inspirasi bahwa kasih karunia Tuhan tidak berkesudahan. Tuhan tetap setia kepada kita. Tuhan memberi kita kemampuan untuk melintasi perjalanan hidup ini. Tuhan telah menyerahkan bekal hidup bagi kita saat menciptakan diri kita. Dengan cara itu, Tuhan ingin agar kita tetap setia kepadaNya. Kita tetap mengarahkan hidup kita kepada diriNya. Kita terus-menerus mengembangkan diri kita dengan mengandalkan kasih karunia Tuhan itu.

Sebagai orang beriman, kita mesti terus-menerus mencari dan menemukan kasih Tuhan dalam hidup ini. Kasih Tuhan itu dapat kita temukan dalam diri orang-orang yang ada di sekitar kita. Jangan biarkan kasih Tuhan lewat begitu saja. Jangan biarkan hidup kita tanpa arah yang jelas. Mari kita mengalami kasih Tuhan yang hadir dalam hidup kita melalui sesama di sekitar kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1032

23 Januari 2014

Menciptakan Keselarasan dalam Hidup




Kalau Anda punya tujuan hidup, apa yang Anda lakukan untuk meraih tujuan hidup itu? Tentu saja Anda akan lakukan hal-hal yang terbaik untuk menggapai tujuan hidup Anda.

Ada seorangg teman yang sedang berusaha untuk menurunkan berat badannya. Bayangkan, berat badannya melampaui batas, yaitu 120 kilogram. Perawakannya memang tinggi besar. Tetapi ia mengalami kesulitan untuk bergerak dengan leluasa. Jantungnya pun megap-megap. Ia takut nanti punya masalah dengan jantungnya. Ia tidak ingin mati muda. Ia tidak mau mengalami serangan jantung atau stroke.

Sudah bertahun-tahun ia berusaha untuk menurunkann berat badannya. Namun ia masih gagal juga. Ia resah dengan situasi dirinya. Ia mau menurunkan berat badannya. Namun ia kurang berhasil. Ia hidup dalam kecemasan.

Soal yang ia hadapi adalah ia sering ke dapur untuk memasak makanan kesukaannya. Mulutnya tidak berhenti dari cemilan. Ia tidak bisa diet. Ia tidak bisa membiarkan kulkas di rumahnya tetap tertutup. Ia tidak kuat untuk membiarkan perutnya lapar dalam beberapa saat. Ia tidak bisa melawan keinginan lidahnya untuk mencicipi makanan yang enak.

Karena itu, usahanya untuk menurunkan berat badan itu sia-sia saja. Ia mesti menghadapi ancaman serangan jantung dan stroke.

Sahabat, sering orang melakukan hal-hal yang tidak selaras dengan tujuan atau mimpi yang telah dicanangkannya. Orang mudah mengingkari tujuan yang telah ditetapkannya. Orang mudah meninggalkan janji-janjinya. Orang sering kurang peduli terhadap komitmen yang telah dibuatnya. Akibatnya, tujuan yang telah ditetapkan tidak mudah tercapai. Mimpi yang dicanangkan hanyalah mimpi hampa di siang bolong.

Kisah teman saya di stas menjadi contoh orang yang suka melanggar tujuan yang telah ditetapkannya. Orang tidak bisa mengharapkan mukjizat terjadi atas dirinya, kalau ia sendiri tidak mau berjuang. Mukjizat terjadi ketika orang telah berusaha mati-matian. Tuhan intervensi ke dalam hidup seseorang, karena ketidakmampuannya untuk mengatasi krisis atau persoalan hidupnya.

Karena itu, kalau Anda telah menetapkan tujuan hidup Anda, tetaplah berpegang pada hal itu. Usaha untuk mencapai tujuan itu butuh pengorbanan. Tidak ada sukses yang diraih tanpa keringat dan air mata. Kalau Anda ingin ada keseimbangan dalam hidup Anda, jangan memforsis diri Anda dengan hidup yang tidak karuan. Kalau Anda berniat menurunkan berat badan Anda, stop makan sepanjang waktu. Stop buka kulkas untuk mengambil makanan dari sana.

Tujuan utama hidup orang beriman adalah berjumpa dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Untuk berjumpa dengan Tuhan, orang beriman mesti menyediakan hati dan telinganya untuk mendengarkan kehendak Tuhan atas dirinya. Kalau orang hidup hanya menurut kehendak dirinya sendiri, kehendak Tuhan tidak akan terjadi dalam dirinya.

Untuk itu, orang beriman mesti senantiasa fokus pada tujuan hidupnya untuk berjumpa dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari. Orang mesti menyelaraskan kehendak dirinya dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu rahmat bagi hidup ini. Hidup ini memberikan sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT'

1031

22 Januari 2014

Peduli terhadap Penderitaan Sesama



Beberapa waktu lalu, negeri kita dibanjiri oleh berbagai bencana alam. Ada gempa dahsyat yang menimpa manusia. Ada letusan gunung berapi yang memaksa manusia untuk mengungsi. Ada banjir bandang dan tsunami yang mengancam nyawa manusia. Lantas ada juga tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 milik Rusia.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, apa yang Anda mau buat bagi sesama yang menderita? Masihkah hati Anda mudah tergerak oleh penderitaan sesama Anda?

Tanggal 12 Desember 1992 lalu gempa besar menggoncang Kota Maumere, Flores dan sekitarnya. Gempa besar itu disusul oleh tsunami yang melululantakkan Pulau Babi. Dua ribu lebih orang meninggal dunia. Banyak orang hidup dalam ketakutan akan gempa susulan.

Bayangkan, banyak rumah roboh dan hancur berantakan. Kepanikan luar biasa menimpa diri manusia. Mereka tidak tahu mau lari ke mana. Mereka tidak tahu mau buat apa. Ada yang memutuskan untuk tidak lari ke mana-mana.

Hari-hari sebelum peristiwa tragis itu, tidak ada tanda-tanda. Orang hidup biasa saja dalam rutinitas mereka. Apa yang akan terjadi dalam hidup manusia, tidak pernah ada yang tahu. Orang tidak tahu kalau akan terjadi gempa atau badai dalam dirinya. Kadang-kadang semua peristiwa itu berada di luar nalar manusia.

Namun yang terjadi sesudah suatu bencana alam adalah tumbuhnya solidaritas dalam hidup manusia. Terlepas dari tulus tidaknya solidaritas itu, kita menyaksikan adanya hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain. Orang tidak ingin membiarkan sesamanya terpuruk dalam penderitaan.

Karena itu, tangan-tangan baik terus-menerus mengulur bagi sesama yang menderita. Tidak peduli apakah sesama itu dikenal atau tidak. Yang penting adalah sesama itu mendapatkan pengharapan untuk bangkit dari keterpurukannya itu. Keberpihakan hadir dalam diri manusia. Hasilnya adalah semangat juang tumbuh dalam diri para korban bencana alam itu.

Sahabat, apa yang dibutuhkan manusia dalam situasi mencekam atau krisis? Yang dibutuhkan adalah kita mampu menaruh kepercayaan kita pada orang lain. Kita percaya bahwa kita tidak sendirian dalam hidup ini. Masih ada orang lain yang siap mengulurkan tangan bagi hidup kita. Masih ada senyum yang tertuju kepada kita, saat kita mengalami duka nestapa ini. Masih ada hati yang mudah tergerak untuk krisis yang kita hadapi.

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita tidak perlu cemas akan hidup ini. Tuhan mengatakan, jangan cemas akan apa yang kamu makan besok. Pandanglah burung-burung di udara yang terbang kian ke mari. Mereka tidak menabur, tetapi mereka tetap mendapatkan makanan untuk hidup mereka. Tentu saja kita lebih berharga daripada burung-burung di udara. Kita diciptakan dengan akal budi yang dapat membantu kita untuk hidup lebih baik.

Tidak cemas tidak berarti kita tidak perlu berusaha lagi. Justru dalam ketidakcemasan itu ada kesempatan yang lebih besar untuk melakukan hal-hal yang besar bagi orang lain. Solidaritas terhadap orang lain menjadi lebih kuat tertanam dalam diri kita. Kalau kita punya hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan sesama, kita mampu membantu banyak orang.

Mari kita memelihara sikap solidaritas terhadap sesama kita. Dengan demikian, hati kita tetap terbuka terhadap penderitaan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1030

Berharap pada Tuhan Itu Keutamaan




Sebagai orang beriman, masihkah Anda punya harapan kepada Tuhan di saat-saat krisis hidup menimpa Anda? Atau Anda putus harapan, karena merasa Tuhan tidak bisa Anda andalkan lagi?

Seorang anak yang tumbuh dewasa mengatakan bahwa menjadi anak yang dibanggakan orangtua bukanlah impiannya. Hal itu membawa beban bagi dirinya. Di mata saudara-saudaranya, ia memilki masa kecil yang cukup enak dibandingkan mereka. Memang harus diakui, ia adalah anak yang jarang sekali dimarahi oleh orangtuanya. Hal ini wajar, karena ia memang selalu membanggakan mereka. Dari SD hingga SMP, ia selalu memiliki rapor yang bagus. Ia juga termasuk anak rumahan.

Namun masuk SMA, ia mulai sedikit "memberontak" terhadap orangtuanya. Ia yang dulunya suka membaca buku pelajaran pada saat di rumah, tidak ia lakukan lagi. Bahkan agar orangtuanya tidak membanggakan dirinya di depan orang lain atau keluarga besarnya, ia dengan sengaja membuat nilai-nilai mata pelajaran saat kelas 1 SMA cukup jelek. Namun, usahanya itu tidak berhasil.

Meski orangtuanya kecewa dengan hasil rapornya, tetapi mereka tetap menaruh harapan besar kepadanya. Orangtuanya tetap berharap, agar ia dapat membawa keharuman bagi keluarganya. Setelah lama berpikir tentang hal itu, ia menghentikan pemberontakannya. Harapan orangtuanya terlalu indah untuk dilenyapkan. Ia mulai bangkit lagi dari kelesuannya. Di kelas dua, nilai-nilai rapornya sangat baik. Kedua orangtuanya pun merasa bangga atas pencapaiannya itu. Ia capai semua itu berkat ketekunannya.

Sahabat, mengharapkan yang terbaik dari orang yang kita cintai itu sangat wajar. Apalagi harapan itu bukan sesuatu yang jelek. Kita mengharapkan hal-hal yang indah dan baik bagi orang-orang yang kita cintai. Misalnya, sukses meraih cita-cita. Sukses mendapatkan pekerjaan yang baik dan menjanjikan masa depan yang cerah.

Kisah anak di atas menjadi suatu motivasi bagi kita bahwa apa yang kita buat itu juga diharapkan oleh orang lain. Kebaikan yang kita lakukan setiap hari itu tidak hanya untuk diri kita sendiri. Banyak orang sedang menantikan kebaikan kita itu mengalir juga bagi hidup mereka. Karena itu, kita tidak boleh menutup diri terhadap harapan yang begitu besar dalam diri sesama kita. Kita pelihara harapan mereka itu dengan melakukan hal-hal yang baik bagi hidup bersama.

Karena itu, yang kita butuhkan adalah bertanya pada diri kita sendiri: apa yang diharapkan oleh orang lain dari diri kita? Apakah orang lain mengharapkan, agar kita mati konyol karena perbuatan kita yang kurang menyenangkan? Atau orang berharap agar kita meraih sukses dalam hidup ini? Dengan demikian, kesuksesan yang kita miliki itu juga mengalir bagi hidup mereka?

Orang beriman menggantungkann harapannya pada Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan senantiasa memberikan yang terbaik bagi hidup manusia. Tuhan tidak ingin manusia ciptaan-Nya itu binasa. Justru Tuhan senantiasa mengharapkan sukacita dan damai dalam hidup manusia. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kita terus-menerus menaruh harapan kita pada Tuhan. Dengan demikian, hidup ini senantiasa memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1029

Keselarasan antara Kata dan Perbuatan


Apa yang akan Anda lakukan, saat Anda berhadapan dengan sesama Anda yang banyak bicara? Anda biarkan saja? Anda cuek saja? Atau Anda mengambil ide-idenya untuk melakukan berbagai hal yang baik bagi kehidupan ini?

Sudah lima bulan ini, seorang teman saya tidak mau menonton televisi lagi. Ia mogok. Bahkan layar televisi yang ada di rumahnya dia tutup dengan kertas putih. Ia mau berdiam diri saja. Ia tidak mau mendengarkan obrolan-obrolan para politisi di televisi. Menurutnya, para politisi itu hanya mengumbar ide-ide. Mereka lebih banyak bicara. Mereka tidak punya telinga untuk mendengarkan suara rakyat, meski mereka selalu mengklaim bahwa mereka selalu peduli terhadap kepentingan rakyat.

Nyatanya, menurut teman saya itu, banyak kejanggalan terjadi di negeri ini. Ada korupsi yang dibiarkan terus-menerus berlangsung. Padahal ada puluhan juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan. Anehnya lagi, rakyat yang berusaha mati-matian untuk memenuhi kebutuhan mereka, tetapi para politisi itu menyetujui pemungutan pajak.

Melihat situasi seperti itu, teman saya itu kesal. Ia protes. Ia mogok. Langkah selanjutnya adalah ia merencanakan untuk tidak mau bayar pajak. Ia tahu bahwa hal ini melanggar peraturan. Tetapi ia lakukan itu demi tegaknya keadilan. Apalagi selama ini ia sering ditekan oleh petugas pajak untuk menyuap.

Ia berkata, “Saatnya kita harus ambil tindakan. Kita tidak bisa biarkan praktek-praktek kejahatan merajalela terus-menerus.”

Sahabat, ada orang-orang yang lebih suka berbicara daripada melakukan hal-hal yang berguna bagi kehidupan bersama. Orang yang banyak bicara merasa lebih hebat daripada yang sedikit bicara. Soalnya adalah apakah yang dibicarakan itu demi kebahagiaan bersama? Atau yang dibicarakan itu hanya untuk kesenangan pribadi?

Mungkin baik kita mengikuti usulan untuk mendengar lebih banyak dan berbicara lebih sedikit. Mendengar membuat kita belajar banyak hal dari orang lain. Orang yang banyak bicara memberikan ide-ide bagi kita. Kita mendapatkan berbagai masukan bagi karya kita. Karena itu, kita tidak perlu menggerutu saat ada orang di sekitar kita yang banyak bicara. Kita tidak perlu mogok untuk mendengarkan orang lain yang berbicara banyak itu.

Mendengar juga memungkinkan kita untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan sesama kita. Mungkin kita akan mudah membangun relasi yang berguna bagi hidup kita. Dengan cara demikian, kita menjadi orang yang punya banyak sahabat.

Kisah teman saya di atas menjadi suatu pertimbangan yang baik juga. Ia punya sikap yang tegas. Tetapi kurangnya adalah ia mudah mogok. Ia berhenti untuk melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ia memilih untuk bersikap pasif. Semestinya ia mulai membangun relasi dengan sesamanya. Dengan demikian, ia memiliki banyak kemungkinan untuk melakukan hal-hal yang baik bagi hidupnya dan sesamanya.

Orang beriman mesti berani memberikan solusi bagi suatu situasi yang kurang baik. Bukannya mengambil sikap mogok dan tidak melakukan hal-hal yang baik bagi sesama. Mari kita tetap berusaha untuk mendengarkan banyak dan berbuat banyak bagi kehidupan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan orang lain. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1028

Berkat Sebuah Ucapan Syukur



Pernahkah Anda mensyukuri kebaikan Tuhan saat Anda mengalami sukacita dan bahagia? Atau Anda merasa syukur itu tidak perlu diucapkan, karena Tuhan sudah mulia di surga?

Seorang ibu bercerita bahwa saat ia mengantarkan anaknya yang paling kecil ke tempat tidur, dia memanjatkan sebuah doa yang sangat indah. Padahal anaknya itu paling sulit untuk disuruh berdoa.

Anak itu berdoa, “Terima kasih Tuhan untuk kakak saya, ibu saya, ayah saya, rumah saya, teman-teman saya… dan terutama untuk tempat tidur saya.”

Dia menyampaiakan doa syukurnya atas banyak hal yang ia miliki malam itu selama 10 menit. Setelah ia selesai berdoa, ibu menciumnya. Sang anak mengucapkan selamat malam kepada mamanya. Lantas ia pun memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ia terlelap dalam mimpi-mimpi malamnya.

Ibu itu tetap was-was. Beberapa waktu kemudian, ia melongok ke kamar anaknya itu. Ternyata sang anak tidur dengan sangat nyenyak. Tidak ada gangguan sama sekali. Anak itu telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Ia telah mensyukuri kebaikan Tuhan bagi hidupnya. Kebaikan Tuhan itu hadir dalam diri orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sahabat, pernahkah kita mengucapkan syukur atas kebaikan Tuhan bagi hidup kita? Bukankah kita mengucap syukur hanya di saat-saat kita meraih kesuksesan? Tetapi di saat-saat kita mengalami duka nestapa, kita lebih mudah menyalahkan Tuhan? Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena iman kita kurang berakar dalam diri Tuhan. Iman kita masih tertuju pada keuntungan diri kita sendiri alias masih ada pamrih.

Kisah tadi menampilkan suatu bentuk iman yang begitu polos dari seorang anak kecil. Ia percaya bahwa Tuhan yang ia imani itu senantiasa menjaga dirinya. Ia tidak kuatir saat menutup matanya rapat-rapat, sebab pada saat itu pula Tuhan melindunginya. Tuhan menyertai tidur malamnya yang lelap itu.

Karena itu, kita mesti menambah keteguhan iman kita kepada Tuhan. Beriman berarti kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai seluruh hidup kita. Kita mempercayakan hidup kita kepada kuat kuasanya Tuhan.

Seorang bijaksana berkata, “Serahkanlah kekuatiranmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!”

Yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah tidak mengizinkan kekuatiran, ketakutan dan egoisme kita mencuri berkat dari Tuhan. Kita mesti membiarkan berkat Tuhan yang begitu berlimpah atas kita menguasai diri kita. Sebaliknya, kita mesti mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan dengan ucapan syukur.

Di saat banyak orang sulit mensyukuri kebaikan Tuhan, mari kita bersyukur atas kebaikan Tuhan. Dengan demikian, hidup ini semakin bermakna. Kita mengalami Tuhan hadir dalam setiap detik hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1027

16 Januari 2014

Berjuang Meraih Kebahagiaan dalam Hidup

 
Apa yang Anda dambakan dalam hidup ini? Tentu semua orang akan menjawab, hidup yang bahagia lahir dan batin. Untuk memiliki hidup yang bahagia itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Orang mesti berusaha. Orang mesti berani berjuang dalam hidup yang nyata.

Setiap orang mendambakan hidup yang bahagia. Untuk itu, ada berbagai usaha untuk meraih hidup yang bahagia. Ada yang kemudian bekerja mati-matian untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya harta kekayaan. Ada yang memuaskan diri dengan berekreasi ke tempat-tempat wisata yang indah permai. Ada yang mengunjungi sebanyak mungkin teman-temannya.

Namun sering orang salah tanggap. Orang merasa bahwa kebahagiaan itu dicapai setelah keinginan-keinginannya terpenuhi. Apalagi keinginan yang terbesar dalam hidup itu sudah terpenuhi, orang akan merasa sangat senang. Orang seolah-olah merasa berada dalam surga. Orang merasa puas. Orang merasa diliputi sukacita yang tiada tara.

Ada seorang gadis yang merasa senang luar biasa, ketika keinginannya untuk bertunangan dengan pria yang diidam-idamkannya terpenuhi. Hatinya berbunga-bunga. Hari-harinya selalu dikuasi oleh perasaan tenang. Namun setelah beberapa bulan, ia mulai merasa bahwa apa yang telah dicapinya itu sebenarnya membuat dirinya tidak bebas lagi. Ia merasa sedih. Apalagi ia seorang gadis karier yang mesti menentukan segala sesuatu untuk kelanjutan hidupnya.

Gadis itu merasa kariernya terancam. Ia tidak habis pikir mengapa hal itu bisa terjadi. Padahal ia telah memutuskan sendiri memiliki pemuda yang menjadi dambaannya. Ia tidak merasa bahagia. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Ia merasa bahwa hidupnya pun terancam.

Sahabat, kebahagiaan itu bukan hanya soal terpenuhinya keinginan kita. Boleh saja kita meraih keinginan-keinginan yang ada dalam diri kita. Namun bisa saja terjadi bahwa keinginan-keinginan itu justru memasung diri kita. Keinginan-keinginan itu dapat membuat kita tidak bahagia dalam hidup.

Karena itu, orang mesti memiliki pengertian yang benar tentang kebahagiaan. Pengertian yang salah tentang kebahagiaan dapat menyebabkan hidup kita sengsara. Kita dapat menderita lebih parah, ketika kita hanya menyamakan terpenuhinya keinginan dengan kebahagiaan.

Untuk itu, orang mesti menguji keinginan-keinginan hatinya. Jangan-jangan keinginan hatinya itu hanya semu belaka. Dengan demikian, orang tidak terjebak pada hanya mengandalkan terpenuhinya keinginan-keinginannya.

Kebahagiaan itu berarti orang memiliki rasa hidup yang benar. Kebahagiaan itu dicapai ketika orang menjalani hidup ini dengan enak, sesuai kebutuhan, seperlunya, secukupnya, semestinya dan sebenar-benarnya. Kalau orang masih terpasung oleh ambisi pribadi untuk memenuhi keinginan-keinginannya saja, orang gagal meraih kebahagiaan. Orang tidak merasa enak dalam hidupnya. Orang selalu merasa kekurangan dalam hidupnya. Orang belum hidup sebenar-benarnya.

Karena itu, mari kita berusaha mengurangi keinginan-keinginan diri kita. Dengan demikian, kita dapat meraih kebahagiaan hidup yang sebenar-benarnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1026

14 Januari 2014

Kesetiaan dalam Penantian yang Panjang

 


Pernahkah Anda bayangkan bagaimana seorang istri menjalani hari-hari sebagai pasangan seorang serdadu yang tengah bertugas di medan pertempuran? Bukan perkara mudah untuk menjalaninya, bukan? Terlebih, hari-hari selalu dihantui oleh ketidakpastian akan nasib orang yang dikasihi. Apalagi godaan-godaan terus-menerus membahayakan hubungan mereka.

Kisah-kisah penuh warna ini dijalani oleh Claudia Joy Holden, Denis Sherwood, Roxy LeBlanc dan Pamela Moran. Empat perempuan ini bersuamikan serdadu Amerika Serikat. Suami-suami mereka, ditugaskan di medan pertempuran.

Berbagai persoalan hidup muncul mewarnai kehidupan mereka. Dari menjalani kehidupan sebagai "single parent" atau orangtua tunggal hingga menanti ketidakpastian akan nasib suami-suami mereka. Sebuah kisah yang mengugah. Menyelami kehidupan penuh warna yang nyaris serupa dengan kehidupan nyata para pasangan tentara.

Mereka dituntut untuk tetap setia dalam penantian. Mereka mengisi penantian tak menentu itu dengan berbagai kegiatan. Mengurus anak dengan baik merupakan satu sisi kehidupan mereka. Karena itu, kehidupan mereka jauh dari kesepian. Sisi kehidupan seperti ini menjadi suatu keutamaan yang mereka jalani sehari-hari. Hasilnya adalah suatu situasi yang membahagiakan. Suatu situasi yang juga membanggakan atas tugas militer sang suami di medan laga.

Sahabat, dalam hidup sehari-hari kita semua juga sedang menanti. Ada yang sedang menanti orang yang dicintai. Ada yang menanti hadiah dari seseorang. Saya baru saja mendapat SMS dari seseorang. Ia berkata, “Tolong bantuin aku, Tuhan. Aku sekarang ini lagi nggak ada uang belanja. Aku tak tahu mau ke mana aku harus minta bantuan.”

Orang yang saya tidak kenal ini sangat membutuhkan bantuan. Ia ingin meneruskan perjalanan hidupnya yang masih panjang. Ia sedang menantikan uluran tangan orang-orang yang berkehendak baik. Ia sedang mengalami kesulitan hidup. Pantaskah ia berlama-lama menanti uluran tangan dari sesamanya? Bukankah hidupnya mesti berjalan terus? Bukankah ia tidak ingin hidupnya berhenti lantaran tidak mendapatkan sesuap nasi?

Tentu saja pesan sahabat kita satu ini membangunkan insting manusiawi kita untuk memberi dari apa yang kita miliki. Bukankah setiap manusia telah diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk memiliki hati yang rela memberi? Karena itu, penantian penuh harapan dari sahabat kita satu ini sudah semestinya mendapatkan jawaban. Dengan demikian, ia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya dengan senyum bahagia.

Mari kita memupuk hati kita untuk mudah tergugah oleh penantian panjang sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1025