Pages

10 Februari 2014

Menghadapi Persoalan Hidup Bersama Tuhan




Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan persoalan yang mengganggu hidup Anda? Anda lari dari persoalan-persoalan itu? Atau Anda berani menghadapi persoalan-persoalan itu dengan hati yang penuh iman?

Suatu hari seorang bapak berolahraga di tempat fitness menggunakan ‘sepeda diam di tempat’. Bapak itu mengayuh sepeda itu seakan-akan ia sedang berada di jalan yang menurun atau menanjak. Awalnya ia mengayuh pelan-pelan saja. Tetapi makin lama makin kuat. Keringat mengalir deras membasahi sekujur tubuhnya. Ia merasa segar tubuhnya. Ia merasa seolah-olah sedang berolahraga di jalan yang ramai bersama teman-temannya.

Untuk sejenak bapak itu melepaskan diri dari beban hidupnya. Ia merasa hal-hal yang selama ini merisaukan hatinya telah hilang. Ia meneruskan kayuhan sepedanya. Ia merasa seolah-olah sedang menaiki tanjakan yang tinggi, panjang dan berkelok-kelok. Meski terasa berat, tetapi batinnya terasa plong. Hilanglah beban deritanya untuk sesaat.

Beberapa hari belakangan ini bapak itu dilanda oleh masalah yang pelik. Ia dituduh melakukan korupsi di tempat kerjanya. Menurutnya, hal itu hanya tipuan belaka. Yang melakukan korupsi besar-besaran adalah bosnya. Tetapi dia yang dituduh. Karena itu, beberapa hari ini ia merasa stress. Ia butuh waktu untuk istirahat. Ia butuh waktu untuk menyegarkan diri. Ia merasa berolahraga adalah salah satu cara melepaskan diri dari masalah itu.

Sayang, setelah pulang ke rumah, masalah itu masih ada. Ia mesti menghadapi tetangga-tetangganya yang tidak respek lagi terhadap dirinya. Di kantor, ia dikucilkan oleh teman-teman sejawatnya. Serangan demi serangan terhadap dirinya ia rasakan semakin bertubi-tubi menyergapnya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia bersama orang lain. Kita tidak hidup sendirian. Karena itu, apa yang terjadi dengan diri kita sering melibatkan orang lain. Kita berusaha menghindari persoalan-persoalan yang terjadi atas diri kita, tetapi persoalan-persoalan itu masih tetap ada dalam diri kita.

Kisah di atas memberi kita contoh bahwa menghindari masalah tidak berarti kita telah menyelesaikan masalah itu. Mengapa? Karena ternyata masalah itu masih ada. Masalah itu masih menjadi bagian dari hidup kita. Memang, terasa enak dan nikmat, ketika kita meninggalkan sejenak persoalan-persoalan hidup kita. Tetapi kita mesti ingat bahwa masalah-masalah itu masih menjadi bagian dari hidup kita.

Untuk itu, setiap masalah yang kita miliki mesti kita hadapi dengan hati yang lapang. Kita tidak boleh menghindar atau melarikan diri dari masalah-masalah itu. Mengapa? Karena saat kita melarikan diri dari masalah-masalah itu sebenarnya kita terus-menerus dikejar oleh masalah-masalah itu. Kita menjadi tidak tenang. Hidup kita dipenuhi oleh kekuatiran demi kekuatiran.

Orang beriman mesti senantiasa menghadapi setiap persoalan bersama Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa hadir untuk menemani perjalanan hidup kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup ini.

Mari kita berusaha untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kita bersama Tuhan. Dengan demikian, kita dapat mengalami kasih Tuhan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1045

05 Februari 2014

Mengendalikan Keinginan Diri




Hasrat atau keinginan sering menguasai hidup manusia. Ada orang yang mampu mengendalikannya. Namun ada yang tidak bisa mengendalikan keinginan atau hasratnya itu. Akibatnya, terjadi ketimpangan demi ketimpangan dalam hidup bersama.

Aksi yang dilakukan pria paruh baya ini benar-benar sudah di luar batas akal sehat. Betapa tidak? Ia melakukan bunuh diri sesaat setelah menembak ibu mertuanya dan dua orang lainnya dengan senapan di sebuah bar di barat Jepang, Selasa, tanggal 12 Januari 2010 lalu.

Penembakan terjadi sekitar pukul 8:00 waktu setempat di Hibikino City, di luar Osaka. Seorang pejabat kota mengatakan, “Tersangka menembakkan senapan di dalam bar dan kemudian menembak dirinya sendiri di sebuah jalan di luar.”

Penembak itu kemudian diidentifikasi sebagai pegawai pemerintah kota Osaka, bernama Yasuhisa Sugiura.

Kantor Berita Kyodo melaporkan, ketiga korban tewas adalah ibu mertuanya bernama Yoshiko Tanaka dan karyawan bar bernama Tatsuya Fukui. Pemilik bar bernama Hiroto Uehara (49), dalam kondisi kritis karena terluka dalam serangan itu. Namun tidak berapa lama, ia kemudian meninggal.

Saat itu Sugiura dan ibu mertuanya berada di bar untuk berbicara tentang perceraiannya. Dia tampak gembira dan mendadak meninggalkan diskusi. Ia lalu kembali dengan membawa senapan. Kejahatan dengan senjata jarang terjadi di Jepang, karena mereka yang terbukti membawa senjata api ilegal akan diganjar hukuman 10 tahun penjara.

Sahabat, kesadisan sering kali terjadi dalam hidup manusia. Tidak hanya di Jepang seperti dalam kisah di atas. Persoalannya adalah mengapa terjadi kesadisan dalam hidup manusia? Hal ini terjadi karena manusia merasa diri yang paling hebat. Manusia tidak mau menerima kelemahan dirinya. Manusia berusaha menutup kelemahan-kelemahan dirinya dengan melakukan kesadisan demi kesadisan.

Dalam situasi kekerasan dan kesadisan yang terjadi adalah manusia dikuasai oleh egoismenya. Manusia hanya menuruti kehendak dirinya sendiri. Tidak memperhitungkan akibat dari yang dilakukan sesuai kehendak pribadi itu. Kisah di atas mau mengingatkan kita, agar kita mampu mengatasi setiap bentuk egoisme kita. Semestinya manusia mampu mengendalikan emosinya. Semestinya manusia memperhitungkan secara matang apa yang hendak dilakukannya. Tidak asal melakukannya secara membabibuta.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mendahulukan kepentingan umum yang lebih luas. Kepentingan pribadi mesti ditempatkan pada nomor ke sekian. Egosime mesti dibuang jauh-jauh, agar dunia ini menjadi suatu dunia yang lebih baik bagi semua orang.

Orang beriman mesti selalu memperhitungkan akibat-akibat dari apa yang dilakukannya. Orang beriman tidak bisa bertindak sewenang-wenang atas kehendak dirinya sendiri. Tidak membabibuta dalam melakukan sesuatu.

Mari kita berusaha menghidupi semangat peduli terhadap sesama di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan sukacita dan kedamaian dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1041

04 Februari 2014

Membangun Kebahagiaan dari Lubuk Hati

 
Sering orang mengalami kegalauan dalam hidup ini. Kegalauan itu membuat mereka tidak mengalami kebahagiaan dalam hidup ini. Karena itu, mereka berusaha untuk mencari dan menemukan kebahagiaan itu. Ada berbagai macam cara.

Ada seorang pemuda yang sedang mencari kebahagiaan. Ia berusaha untuk mendaki sebuah gunung. Menurutnya, kebahagiaan itu terletak di atas gunung. Ketika ia memandang keindahan dari atas gunung, saat itulah kebahagiaan itu meluputi dirinya. Karena itu, suatu hari pemuda itu mendaki sebuah gunung yang tinggi. Ia membawa bekal secukupnya untuk beberapa hari. Ia ingin tinggal di sana dan menikmati kebahagiaan itu.

Setelah semuanya siap, ia mendaki gunung itu sendirian. Ia merasakan semilir angin yang berhembus menambah nikmatnya pendakian. Gunung yang tinggi itu ia dapat daki dalam beberapa jam. Tidak ada tantangan yang berarti bagi dirinya. Ia hanya memantapkan hatinya untuk menemukan kebahagiaan yang terletak di puncak gunung itu. Karenanya, ia sungguh-sungguh menikmati pendakian itu.

Setelah tiba di atas puncak gunung itu, ia mulai memandang keindahan dari atas gunung itu. Namun tidak seperti apa yang dibayangkannya. Ternyata dari atas puncak gunung itu ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ia merasa bahwa kebahagiaan yang ingin ia temukan di gunung itu justru tidak ia temukan. Ia merasa tertipu. Ia merasa sedih. Ternyata ia tidak lebih bahagia daripada berada di bawah kaki gunung itu. Meski demikian, ia tetap berada di gunung itu seorang diri untuk beberapa saat. Ia tetap ingin berusaha menemukan kebahagiaan dirinya.

Dalam perjalanan turun dari gunung itu ia baru sadar bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu ada di dalam batinnya. Kebahagiaan itu sebenarnya dapat ia temukan di dalam hatinya. Tidak perlu ia jauh-jauh mencari kebahagiaan itu di atas gunung yang sunyi senyap itu.

Sahabat, banyak orang merasa bahwa kebahagiaan itu mesti ditemukan di luar dirinya. Karena itu, orang berusaha untuk mencari dan menemukan kebahagiaan itu di luar dirinya. Orang kurang sadar bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu ada di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Yang semestinya dilakukan adalah orang berusaha untuk menemukan kebahagiaan itu di dalam dirinya. Orang mesti sadar bahwa di lubuk hatinyalah orang dapat membangun kebahagiaan bagi hidupnya.

Karena itu, orang mesti masuk ke dalam batinya sendiri. Orang mesti berusaha untuk mengenali hal-hal inti yang ada di dalam batinnya. Orang tidak perlu melarikan diri dari hatinya sendiri untuk menemukan kebahagiaan di luar dirinya. Untuk itu, dibutuhkan suatu refleksi yang mendalam. Suatu kesempatan mesti diciptakan, agar orang dapat menemukan bahwa di dalam dirinya itu ada kebahagiaan.

Ketika orang mencari kebahagiaan di luar dirinya sendiri biasanya orang sering mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang akan mencoba untuk menemukan sesuatu di luar dirinya yang menjadi jaminan kebahagiaan dirinya. Padahal ketika orang berusaha menemukan hal-hal di luar dirinya, biasanya hal-hal itu bersifat sementara. Uang yang banyak yang ditemukan di luar diri itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Harta yang berlimpah-limpah hanya menambah keresahan dalam diri orang.

Untuk itu, manusia mesti kembali ke kedalaman batinnya. Dengan demikian, kebahagiaan sejati mulai dirancang dari sana. Kebahagiaan sejati mulai ditemukan dan dikembangkan di sana. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1044

03 Februari 2014

Berani Mencintai, Berani Berkorban

 
Hidup itu penuh tantangan. Ketika seseorang mencintai kekasihnya, ada banyak tantangan yang mesti dihadapinya. Kalau ia kuat menghadapi tantangan-tantangan itu, ia mampu menjalani hidup ini dengan normal. Kalau tidak kuat, ia bisa stress dalam hidup ini.

Ada seorang ibu yang mengalami stress. Soalnya adalah suaminya menceraikannya secara sepihak. Suaminya hidup dengan perempuan lain. Ia ditinggalkan sendirian dengan bayi yang masih dalam kandungannya. Hal yang semakin memilukan hatinya adalah anak-anaknya diambil oleh suaminya. Ia dilarang untuk menjenguk anak-anaknya. Sementara janin yang masih berada di dalam kandungannya itu pun diancam untuk diambil begitu dilahirkan.

Ibu itu seolah-olah tidak punya siapa-siapa lagi. Namun ia tetap mencintai anak yang masih ada di dalam kandungannya. Ia berusaha untuk menyelamatkan anak itu. Tidak ada pikiran sama sekali untuk menggugurkan anak itu. Ia bertekad untuk mengandung dan melahirkannya dengan selamat.

Beberapa hari setelah melahirkan anaknya, sang mantan suami datang. Ia meminta agar anak itu ia bawa pulang ke rumahnya. Ia mau mengasuhnya bersama tiga anaknya yang lain. Ibu itu mati-matian tidak mau memberikannya. Ia menuntut suaminya untuk membiarkan anak yang masih kecil itu berada dalam pelukannya. Ia ingin merawatnya dengan baik. Namun sang mantan suami tidak mau menggubris. Ia tetap memaksa untuk membawa pergi bayi itu. Ibu itu tidak berdaya. Ia terpaksa kehilangan bayi yang sangat dicintainya itu.

Hidup sebatang kara ternyata membuat dirinya semakin stress. Ia rindu untuk melihat anak-anaknya. Ia rindu untuk menimang bayi yang dilahirkannya. Namun ia tidak mendapatkan izin dari sang mantan suami. Akhirnya yang terjadi adalah suatu peristiwa yang mengenaskan. Ia meninggal dalam kesepian dan kerinduannya. Cintanya yang begitu besar menyebabkan hidupnya berakhir secara tragis.

Sahabat, mungkinkah cinta yang begitu mendalam dapat membuat seseorang mati? Bisa saja terjadi! Orang yang punya cinta yang begitu besar berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Seorang ibu yang melahirkan anaknya mengorbankan hidupnya demi hidup anaknya. Ia tidak memikirkan keselamatan nyawanya sendiri. Yang ia pikirkan adalah keselamatan anak yang hendak dilahirkannya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa cinta yang begitu besar dapat menyebabkan hidup seseorang berakhir dengan tragis. Ibu itu sangat mencintai anak-anaknya. Bahkan ia berani mengorbankan hidupnya demi anak-anaknya itu. Ia membiarkan dirinya layu dan lusuh hanya demi kehidupan dan keselamatan anak-anaknya. Ia mencintai anak-anaknya sampai membiarkan hidupnya berakhir. Cintanya sampai habis untuk anak-anaknya.

Bagaimana dengan orang beriman? Apakah orang beriman berani berkorban demi cinta yang besar bagi sesama? Tentu saja orang beriman mesti berani mencintai sesama sampai sehabis-habisnya.

Orang beriman mesti berusaha untuk terus-menerus mencintai, apa pun korban yang akan dihadapi. Mengapa? Karena tiada cinta yang dilakukan tanpa korban. Orang yang mencintai sesamanya itu pasti memiliki korban yang besar. Bukan lagi dirinya yang menjadi pusat perhatiannya, tetapi sesama yang dicintainya itu.

Mari kita berusaha untuk mencintai sesama dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, hidup kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1042

01 Februari 2014

Menciptakan Semangat Berjuang



Anda masih punya semangat juang hidup dalam dunia yang serba tidak menentu ini? Saya harap Anda masih punya optimisme yang tinggi untuk menjalani hidup ini.

Kehormatan sebagai pengeliling dunia pertama tunggal dianugerahkan kepada Francis Chichester. Ia hidup dari tahun 1902 hingga 1972. Di tahun 1966, Chichester yang berusia 64 tahun berlayar menggunakan Gipsy Moth IV dengan panjangnya 16 meter dari Inggris.

Sial baginya. Sistim kemudi Gipsy rusak saat berada 3700 kilometer dari Australia. Tapi ia berhasil mencapai Australia. Segera setelah meninggalkan Sydney, Gyspy terbalik. Namun ia berhasil memperbaiki keadaannya. Di sekitar Tanjung Tanduk, Chichester menghadapi gelombang setinggi 15 meter. Dia berhasil mengendalikan Gyspynya. Chichester bukan tipe orang yang cepat menyerah.

Tahun 1960 dia adalah pemenang lomba melintasi atlantik dengan hanya menggunakan satu tangan. Dia juga orang pertama yang melakukan penerbangan tunggal jarak jauh dengan menggunakan pesawat terbang air dari Inggris ke Australia. Pada tanggal 28 Mei 1967, setelah 226 hari berlayar di laut lepas, dia disambut oleh setengah juta orang di Plymouth, Inggris.

Sahabat, suatu kerja keras tanpa menyerah akan membuahkan hasil yang berlimpah bagi kehidupan. Namun suatu kerja keras tanpa konsistensi belum tentu menghasilkan buah yang baik. Konsistensi itu semangat yang memotivasi kerja keras manusia. Konsistensi itu bagai mesin penggerak yang menggerakkan kendaraan untuk dapat berlari.

Karena itu, orang tidak hanya sekedar bekerja keras. Orang mesti menemukan semangat hidup yang memberi konsistensi dalam kerja kerasnya itu. Orang beriman akan menemukan semangat itu di dalam Tuhan. Mengapa? Karena bagi orang beriman, Tuhanlah sumber inspirasi hidup. Tuhan memberi kekuatan kepada manusia untuk memiliki semangat dalam mengerjakan sesuatu.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa sang pengembara itu memiliki semangat hidup yang tinggi. Ia tidak menyerah begitu ada tantangan yang besar yang menghadang hidupnya. Ia terus-menerus berusaha. Ketika kapal yang dikendalikannya dihempas gelombang yang tinggi, ia tetap berusaha untuk mengatasinya. Ia tidak putus asa. Berkat kerja kerasnya itu, ia mengalami kegembiraan. Tentu saja Chichester memiliki konsistensi dalam perjuangannya mengarungi lautan luas.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki konsistensi dalam hidup beriman. Konsistensi itu bisa dalam bentuk kesetiaan atau kejujuran. Orang yang bertahan dalam kesetiaan akan menemukan semangat untuk tetap berjuang. Tidak ada keputusasaan dalam dirinya. Orang terus berusaha, karena memiliki keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu akan menghasilkan buah-buah kebaikan bagi hidup manusia.

Mari kita berusaha untuk memiliki semangat yang memberi kita kekuatan untuk tetap bertahan dalam iman kita. Kita juga mohon bantuan dari Tuhan, agar kita tetap setia pada iman kita masing-masing. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih berguna bagi diri kita dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1040

31 Januari 2014

Menyerahkan Kehendak Diri kepada Tuhan

 


Ada seorang perempuan yang sudah lama menikah. Ia sangat berbahagia hidup dengan suaminya. Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik bagi suaminya. Ia tetap mengandalkan cinta dan kesetiaannya kepada suaminya. Baginya, sebuah perkawinan mesti selalu dilandasi oleh kasih dan kesetiaan.

Ia semakin berbahagia, ketika menyaksikan suaminya pun tetap setia dan mencintainya. Soal yang muncul dalam dirinya adalah sudah sekian lama mereka menikah, namun ia belum memberikan keturunan bagi suaminya. Padahal kasih dan kesetiaan mereka tidak kurang-kurang. Usaha-usaha untuk mendapatkan anak pun telah mereka lakukan sebaik-baiknya.

Karena itu, suatu hari ia berdoa kepada Tuhan. Ia memohon agar diberi seorang anak yang menjadi buah cinta dirinya dengan suaminya. Ia berkata, ”Tuhan, berikanlah kami seorang anak yang dapat membuat perkawinan kami semakin bahagia. Biarlah anak itu akan menjadi buah cinta sejati kami. Aku menyerahkan seluruh hidupku kepada-Mu.”

Rupanya Tuhan mendengarkan doa yang penuh harap itu. Enam bulan kemudian, ia hamil. Ia sangat bergembira. Ia berusaha untuk terus-menerus memupuk suasana gembira dalam dirinya dan keluarganya. Suaminya pun ikut bergembira mendengar peristiwa kehamilan istrinya. Ia pun berusaha untuk semakin menyayanginya. Ia berusaha untuk menggembirakannya.

Sahabat, doa orang yang beriman yang penuh harapan dipanjatkan kepada Tuhan ternyata didengarkan. Tuhan masih hidup. Tuhan masih mendengarkan keluh kesah milik kepunyaanNya. Tuhan tidak melupakan umatNya yang berdoa kepadaNya. Harapan seseorang yang merindukan kebahagiaan dikabulkan oleh Tuhan.

Pernahkah kita berdoa dengan penuh iman dan harapan kepada Tuhan? Atau kita terlalu memaksakan kehendak kita kepada Tuhan dalam doa-doa kita? Mungkin hal kedua ini yang sering kita lakukan. Ketika kita mengalami duka nestapa dalam hidup ini, kita sering memaksa Tuhan untuk menyingkirkan duka nestapa itu. Padahal mungkin duka nestapa itu memiliki hikmah bagi hidup kita. Mungkin duka nestapa itu menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk belajar menyerahkan hidup kita dengan lebih sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Kisah ibu tadi mau mengatakan kepada kita bahwa doa yang dikabulkan adalah doa yang penuh iman menyerahkan seluruh keinginan kepada Tuhan. Biar Tuhan saja yang mengabulkan doa-doanya. Ia tidak memaksakan kehendaknya agar Tuhan mengabulkan doanya. Ia menyerahkan seluruh kehendak dirinya itu kepada Tuhan. Soal dikabulkan atau tidak doanya itu, itu bukan urusannya. Itu urusan Tuhan.

Mari kita menyerahkan doa-doa kita kepada Tuhan. Kita biarkan Tuhan sendiri yang mengabulkan doa-doa kita. Kita tidak perlu memaksa Tuhan. Dengan demikian, hidup kita berkenan kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1039

30 Januari 2014

Mengerjakan Tugas-tugas dengan Sukacita

 

Ada seorang anak yang selalu mengeluh di kala mengerjakan pekerjaan rumah dari gurunya. Ia selalu merasa sulit. Akibat lanjutnya adalah ia enggan untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan gurunya. Ia mengaku tidak bisa menyelesaikan soal-soal itu. Baginya, soal-soal itu hanya bisa dikerjakan oleh orang-orang yang brilian.

Ibunya yang menyaksikan sikap anaknya itu menjadi gelisah. Ia tidak yakin anaknya tidak bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh gurunya. Karena itu, sang ibu berusaha meyakinkan anaknya. Ia berkata, “Nak, kamu pasti bisa mengerjakan soal-soal itu. Kan tidak ada yang sulit.”

Anak itu tidak mau menggubris. Ia sama sekali tidak mau membuka buku pekerjaan rumahnya. Ia merasa yakin bahwa ia tidak mungkin mengerjakan soal-soal itu. Namun ibunya tidak mau menyerah. Ia sangat yakin, anaknya dapat mengerjakan soal-soal yang ditugaskan kepadanya itu.

Ia berkata, “Nak, coba kamu buka buku pekerjaan rumahmu. Ibu yakin, setelah kamu membacanya pasti kamu menyukainya. Kamu pasti mengerjakan soal-soal itu.”

Anak itu pun mulai membuka buku pekerjaan rumahnya. Satu demi satu ia perhatikan soal-soal itu. Tiba-tiba ia berteriak, “Ibu, ini soal-soal yang mudah. Aku pasti dapat mengerjakannya....”

Sahabat, banyak orang menganggap tugas-tugas yang diberikan kepada mereka itu sesuatu yang sulit untuk dikerjakan. Soalnya adalah orang tidak teliti. Orang sudah memiliki prasangka yang bukan-bukan. Akibatnya, orang tidak berani menggerakkan tangan dan kakinya untuk mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tanpa kreativitas, orang tidak akan berhasil mengerjakan suatu tugas pun. Hasilnya akan sangat mengecewakan.

Karena itu, yang mesti dilakukan adalah orang mulai mengerjakan tugas-tugas itu. Tidak perlu terlalu banyak memikirkannya. Mulai saja dan orang akan menemukan bahwa betapa pun beratnya suatu tugas akan dapat diselesaikan dengan baik. Tidak peduli tugas apa yang dikerjakan. Orang mesti memberi perhatian penuh dan yang terbaik. Orang tidak bisa setengah-setengah dalam menyelesaikan tugas itu.

Untuk itu, orang tidak perlu mencari kenyamanan dulu. Orang mesti menciptakan suasana kenyamanan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Mengapa? Karena kenyamanan yang diciptakan sendiri itu akan bertahan lama. Tidak lekang oleh waktu. Orang akan menemukan betapa indahnya kenyamanan itu bagi hidupnya.

Orang beriman mesti melakukan pekerjaan-pekerjaannya dengan penuh iman, pengharapan dan kasih. Mengapa? Karena hanya dengan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, orang beriman akan berhasil dalam tugas-tugasnya. Ia tidak bekerja sendirian. Ia bekerja bersama Tuhan yang terlibat dalam proses hidupnya. Ia senantiasa menyertakan Tuhan dalam tugas-tugasnya. Dengan demikian, tugas-tugas itu dikerjakan dengan penuh sukacita dalam kasih yang membara. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1038

29 Januari 2014

Mewujudkan Iman dengan Berbuat Baik

 


Lindsay Lohan (24) adalah seorang bintang film yang sedang menanjak di Amerika Serikat. Awal Desember 2009 lalu ia berada di Inida untuk pengambilan gambar sebuah film dokumenter tentang perdagangan manusia.

Ia bekerja bersama BBC. Kesibukannya yang luar biasa itu tidak membuat Lindsay buta matanya terhadap sesamanya. Bintang film Means Girls ini merencanakan perjalanan amal ke Guatemala setelah kembali dari India.

Tentang kunjungannya ke India, ia berkata, ”Sejauh ini sudah 40 anak yang berhasil diselamatkan. Inilah hidup sesungguhnya. Melakukan semua ini membuat hidup lebih berarti.”

Rupanya kerja amal itu tidak hanya membantu orang lain. Menurut Ibunya, Dina Lohan, kerja amal yang dilakukan Lindsay Lohan telah mengubah dirinya yang temperamental menjadi lebih rendah hati dan sensitif. Karena itu, setelah kunjungannya ke India, Lindsay akan berkunjung ke Guatemala untuk kembali melakukan kerja amal bersama stasiun televisi milik Oprah Winfrey.

Ibunya berkata, ”Lindsay akan kembali memberi. Kami sedang merencanakan perjalanan untuk membantu anak-anak di Guatemala yang akan difilmkan oleh jaringan TV milik Oprah.”

Sahabat, hidup itu semakin bermakna ketika orang berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Ketika berbuat sesuatu yang baik bagi sesamanya, sebenarnya orang melakukan hal yang indah bagi hidupnya sendiri. Lindsay Lohan telah membuktikannya. Pribadinya berubah menjadi lebih positif, karena kegiatan amal yang dilakukannya untuk sesamanya.

Melakukan sesuatu yang baik bagi sesama kita adalah panggilan kita sebagai orang beriman. Mengapa? Karena pada hakekatnya, orang beriman itu mesti melakukan yang baik bagi sesamanya. Itulah perwujudan iman orang beriman. Orang beriman yang enggan melakukan perbuatan baik bagi sesamanya kehilangan jati dirinya sebagai orang beriman. Ia menjadi lemah dalam hidupnya, karena tidak mempraktekkan ajaran imannya. Ia menjadi orang yang seperti tong kosong nyaring bunyinya. Imannya tidak membuahkan hasil yang baik dan berguna bagi hidup manusia.

Karena itu, orang beriman mesti berani melakukan sesuatu yang baik bagi sesamanya. Orang beriman mesti beranai keluar dari egoismenya untuk melakukan sesuatu yang lebih luas. Dengan demikian, orang tidak terkungkung dalam cinta diri yang berlebihan. Mari kita berusaha untuk melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1037

28 Januari 2014

Membuka Diri untuk Bekerja Sama




Persoalan yang sering dihadapi dalam hidup bersama adalah bekerja bersama yang lain. Kemampuan yang berbeda-beda di antara kita sering menjadi penghalang dalam upaya-upaya bekerja sama untuk membangun hidup yang lebih baik.

Suatu hari seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai. Tiba-tiba datang seekor rubah jantan besar yang hendak memangsa kelinci itu. Menyadari dirinya akan menjadi mangsa, kelinci itu berkata, ”Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang. Saya yakin, saya akan menang.”

Rubah Jantan itu merasa tertantang. Lantas ia berkata, ”Di mana pun jadi. Masak kamu bisa menang melawan aku?”

Mereka pun masuk ke dalam sarang kelinci. Sepuluh menit kemudian, kelinci keluar sambil mengangkat setangkai paha rubah. Ia melahapnya dengan nikmat. Kelinci itu kembali bersantai. Sambil memakai kaca mata hitam dan topi pantai, tiba-tiba ia disergap oleh seekor serigala yang besar. Namun ia dapat menghindar.

Lalu ia berkata, ”Kalau memang kamu berani, ayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci. Yang kalah akan jadi santapan yang menang. Saya yakin, saya akan menang.”

Serigala besar itu merasa tertantang. Ia menerima tawaran kelinci. Serigala itu berkata, “Kamu pasti kalah. Kamu tidak terlatih untuk berkelahi dengan binatang buas seperti kami.”

Mereka pun melangkahkan kaki ke dalam sarang kelinci. Lima belas menit kemudian kelinci keluar sambil menggenggam setangkai paha serigala. Ia melahapnya dengan nikmat.

Senja hari pun tiba. Kelinci itu kemudian melongok ke dalam lubangnya. Sambil melambai, ia berkata, ”Hai keluar. Sudah sore. Besok kita teruskan.”

Dari dalam lubang itu keluarlah seekor harimau yang sangat besar badannya. Sambil menguap, harimau itu berkata, ”Kerja sama yang sukses hari ini. Kita makan kenyang. Saya tidak perlu berlari kencang untuk memangsa makanan.”

Sahabat, seorang pemenang selalu berpikir tentang cara-cara kerja sama yang baik untuk suatu pekerjaan. Kalau orang mau berhasil dalam usaha, orang tidak bisa bekerja sendirian. Orang mesti mau bekerja sama dengan sesamanya. Dengan demkian, hasil yang diperoleh menjadi maksimal. Orang akan mencari strategi-strategi yang baik untuk meraih sukses.

Sebaliknya, seseorang yang kalah biasanya berusaha sendiri. Kerja sama akan ia abaikan. Ia tidak peduli terhadap kebaikan orang lain. Yang ia inginkan adalah ia berjuang untuk meraih kesuksesan bagi kejayaan dirinya sendiri. Ia tidak bisa bekerja sebagai sebuah tim. Baginya, kerja sama hanyalah sebuah penghalang dalam meraih kejayaan itu. Namun sesungguhnya yang terjadi kemudian adalah kerja seorang pecundang itu selalu tidak maksimal. Hasil yang diraih hanyalah sebuah kenikmatan semu saja. Ia hanya memuaskan keinginannya sesaat saja.

Karena itu, yang mesti kita lakukan adalah kita berani membuka diri kita untuk mau bekerja sama dengan semua orang. Untuk itu, dibutuhkan kerendahan hati dalam diri kita. Orang yang sombong akan mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Orang seperti ini sering menjadi pecundang. Sedangkan orang yang rendah hati akan sukses dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1036

27 Januari 2014

Mengosongkan Diri bagi Rahmat Tuhan




Setiap kita pasti pernah mengalami kekurangan. Bagaimana kita berusaha untuk mengatasi kekurangan kita itu? Tentu saja setiap kita punya cara masing-masing untuk mengatasi kekurangan diri kita. Ada yang saling belajar dalam cara mengatasi kekurangan dirinya. Ada yang maunya cari cara sendiri.

Ada seorang pengajar (Lao Tze) yang mendasarkan pemikirannya pada peristiwa-peristiwa yang dipelajarinya dari alam. Menurutnya, alam memberikan pencerahan yang begitu luas bagi hidup manusia. Karena itu, manusia tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan-kebaikan dari alam itu.

Kepada murid-muridnya, ia berkata, “Anda tidak bisa mengisi sebuah mangkuk dengan air, jika Anda tidak mengosongkannya terlebih dahulu.”

Sahabat, banyak orang ingin hidup dalam kelimpahan demi kelimpahan. Namun sering orang bingung bagaimana mengisi kelimpahan itu. Orang beranggapan bahwa orang mesti mempertahankan apa yang telah dimilikinya sekuat-kuatnya. Akibatnya, orang menjadi kikir atau pelit. Ketika sesamanya membutuhkan bantuan, mereka diam saja. Tidak mau menggerakkan tangannya untuk memberi sesamanya apa yang dibutuhkannya.

Orang merasa bahwa kalau melepaskan apa yang dimiliki itu orang akan kehilangan. Orang tidak punya apa-apa lagi. Akibatnya, orang menumpuk kekayaan hanya untuk dirinya sendiri. Orang tidak rela berbagi dengan sesamanya. Orang membiarkan dirinya dikuasai oleh egosime dan kepentingan dirinya sendiri.

Falsafah yang ditampilkan oleh Lao Tze di atas menjadi suatu inspirasi bagi kita. Kalau kita tidak mengosongkan diri kita sendiri, kita tidak mampu menampung rahmat demi rahmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Dalam kondisi hati yang tertutup rapat oleh egoisme, rahmat Tuhan sulit menembus diri kita.

Ketika seseorang mengosongkan dirinya dari kesombongan dan egoisme, rahmat Tuhan dengan mudah menetap di dalam dirinya. Rahmat Tuhan dengan leluasa bekerja di dalam dirinya. Dengan demikian, damai dan sukacita menjadi bagian dari hidup orang itu. Orang dikuatkan oleh rahmat Tuhan itu. Orang dikuasai oleh Tuhan. Ketika orang hidup dalam kuasa Tuhan, orang mengalami Tuhan begitu baik. Tuhan menyapa dan membuat dirinya hidup dengan baik.

Untuk itu, orang beriman mesti memiliki hati yang siap sedia untuk senantiasa menerima rahmat Tuhan bagi hidupnya. Orang mesti berani mengosongkan dirinya dari kesombongan, iri hati dan egoisme. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin indah dan berguna bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1035