Pages

31 Agustus 2009

Sebarluaskan Cinta Kasih





Dalam suatu acara reuni keluarga, seorang anak kagum akan semangat bapaknya. Dengan antusias dan bangga, ayahnya menceriterakan seluruh perjuangan dan pengalaman hidupnya. Ia berbagi keprihatinan, tantangan dan kesulitan yang telah berhasil ia lewati dan atasi. Kini seluruh anggota keluarga mengecap kebahagiaan hidup berkat pengorbanan sang ayah. Keteguhan dan kesetiaan beliau mengatasi badai kesulitan dan keprihatinan.

Kata anak itu, “Sekarang kami menuai gelombang kasih dari orangtua. Bapak bangga dapat mengungkapkan kegigihan usaha, perjuangan dan pengorbanan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Ia sudah mewariskan nilai kehidupan dan mempersatukan anak-anak dan cucu-cucunya. Ia sungguh berusaha memberikan kebahagiaan hidup kepada mereka. Melalui peristiwa reuni keluarga, semua dapat berkumpul bersama. Hal ini ternyata semakin mempererat persaudaraan kami. Semua anggota keluarga dapat memahami jerih payah orangtua dalam upaya memberikan kebahagiaan kepada anak dan cucu pada masa berikutnya. Kami semakin mengenal cinta mereka yang murni. Kami menghargai usaha dan pengorbanan mereka yang sungguh istimewa, mengagumkan sekaligus membanggakan ini.”

Setiap orangtua selalu berusaha memberikan kebahagiaan hidup kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Cita-cita memberikan kebahagiaan kepada keturunan mereka itu mereka wujudkan dan ungkapkan dalam bentuk yang nyata. Mereka mau berkorban, menderita asal anak cucu mereka bisa hidup lebih baik, bersatu dan bahagia.

Karena itu, mereka berjuang dengan penuh sukacita kendati menemukan keprihatinan, tantangan dan kesulitan. Kesulitan dan penderitaan itu tidak mereka rasakan sebagai beban hidup. Sebaliknya, mereka merasakan sukacita dan kebahagiaan. Cinta akan anak-anak membuat orangtua mampu mengatasi penderitaan, bahkan mereka merasa bahagia dalam kesulitan dan perjuangan itu.

Ini yang namanya berbagi cinta. Cinta itu disebarluaskan. Cinta itu mesti menjadi seperti virus yang menyebar ke mana-mana. Dengan demikian, semakin banyak orang mengalami cinta itu.

Dalam hidup ini, setiap orang ingin berbagi cinta. Tuhan sendiri telah memberikan cintaNya yang begitu besar kepada kita. Cinta Tuhan itu tampak dengan menciptkan manusia, memeliharanya dan mengarahkan manusia kepada kebaikan.

Untuk itu, tugas seorang beriman adalah menyebarluaskan cinta itu kepada setiap orang yang ia jumpai dalam hidup ini. Ia mesti merasa bangga bahwa ia mampu membagikan cintanya kepada semua orang. Ini yang namanya cinta universal. Cinta yang tidak memandang siapa yang dicintai. Cinta yang ditujukan kepada semua orang, karena Tuhan mencintai semua orang. Mari kita sebarluaskan cinta dengan setulus hati, agar setiap orang mengalami cinta Tuhan dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




152

30 Agustus 2009

Cinta yang Mengubah Hidup Manusia




Pepatah mengatakan, cinta bisa mengalahkan segalanya. Hal tersebut sepertinya dihayati benar oleh Antonio Cassano yang mengaku dirinya kini telah berubah dan tak lagi bengal, gara-gara cinta.

Terkenal sebagai salah satu pesepakbola paling bengal di Italia, Cassano menunjukkan prilaku di luar dugaan banyak orang selama Piala Eropa lalu. Nyaris tak terdengar berita negatif seputar tindak-tanduk striker Sampdoria itu selama di Austria-Swiss.

Soal sikap santun yang belakangan ditunjukkan, Cassano mengaku dirinya sudah berubah. Kalau dulu sanksi dari klub dan hukuman berupa denda tak membuatnya jera, kunci untuk menjinakkan Cassano ternyata ada pada Carolina Marcialis, wanita yang dipacarinya dalam beberapa bulan terakhir.

Tentang hal ini, ia berkata, “Carolina Marcialis telah mengubah hidup saya. Saya mencintai malaikat ini. Karena dialah saya tak lagi bersikap seperti yang sudah-sudah karena saya tak ingin mengecewakan dia.”

Pada awalnya kisah cinta dua insan ini sempat mengalami hambatan. Karena status Cassano yang cuma pinjaman dari Real Madrid, kepulangan sang pemain ke Spanyol akan membuat hubungan mereka kandas.

Ia berkata, “Saya sangat bahagia. Jika saya tidak bertahan di Genoa saya pikir kisah cinta ini bisa bertahan, saya katakan ini dengan sangat hormat pada Carolina. Saya sangat takut kalau saya harus kembali ke Madrid, jadi saya menunggu mencoba menikmatinya. Sekarang saya dipastikan bertahan, saya tak bisa berbicara tentang wanita lain di kehidupan saya.”

Cinta itu kuat laksana air yang deras yang menguasai hidup manusia. Orang yang mengandalkan cinta di atas segala-galanya akan dikuasai oleh cinta itu. Namun yang dibutuhkan adalah cinta yang tulus dan murni. Bukan cinta yang egois yang hanya mementingkan diri sendiri.

Cinta yang murni itu biasanya cinta yang menumbuhkan harapan. Orang memiliki harapan yang besar untuk senantiasa bertahan dalam cinta yang murni itu. Orang juga memiliki kepastian dalam hidup ini, karena orang yang dicintai itu tidak bermain-main dengann cinta.

Cinta yang murni itu biasanya membahagiakan. Orang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya, karena ia mendapatkan cinta dari sesamanya. Tetapi kebahagiaan itu terjadi dalam hidup seseorang, karena ia juga mampu mencintai sesamanya dengan cinta yang tulus pula.

Kisah Antonio Casano menjadi contoh bagi kita bahwa cinta itu mesti dapat mengubah hidup manusia. Cinta yang tulus dan murni itu membawa perubahan dalam hidup manusia dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Untuk itu, orang beriman mesti selalu membuka hatinya kepada Tuhan untuk diisi oleh rahmat dan cinta Tuhan. Mari kita bertumbuh dalam cinta yang murni, agar hidup kita dapat berubah ke arah yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.151

29 Agustus 2009

Mendidik Hati Nurani





Suatu hari seorang anak membuang sampah di halaman rumah tetangganya. Sampah itu berupa kotoran sapi yang sangat banyak. Hal tersebut menimbulkan bau yang tidak sedap bagi tetangganya itu. Melihat hal itu, pemilik rumah itu sangat marah. Lantas ia menegur anak itu.

Namun anak itu tidak mau mendengarkan teguran itu. Ia bahkan berbalik marah terhadap pemilik rumah itu. Ia merasa diri tidak bersalah. Ia merasa benar. Terjadilah pertengkaran di antara mereka. Pemilik rumah itu merasa heran, mengapa anak itu merasa tidak bersalah. Padahal ia melakukan sesuatu yang tidak senonoh terhadap orang lain. Sampah, apalagi kotoran sapi, itu mesti dibuang pada tempatnya.

Melihat kondisi itu, pemilik rumah itu mengalah. Ia tidak mau bertengkar dengan orang yang tidak tahu sopan santun. Beberapa saat kemudian, anak itu pulang ke rumah dan melaporkan kejadian itu kepada kakaknya. Tanpa pikir panjang, kakaknya mendatangi tetangganya itu dengan sebuah golok. Tidak banyak bicara, ia langsung menghujamkan goloknya ke pemilik rumah itu. Untung, sang istri langsung menangkap golok itu. Kalau tidak, kepala suaminya yang kena bacok. Akibatnya, telapak tangannya hampir putus.

Sang kakak itu tidak merasa bersalah atas perbuatan kejinya. Pemilik rumah itu tidak mau menerima kejadian itu. Ia menuntut kakak dari anak itu bertanggung jawab atas perbuatannya. Setelah berrembug dengan alot, akhirnya, jalan damai dilakukan. Kakak dari anak itu mesti mengganti semua pengobatan atas luka yang diderita oleh istri pemilik rumah itu. Ia menyesali perbuatannya. Namun nasi telah menjadi bubur.

Kisah ini mau mengatakan kepada kita bahwa hati nurani manusia mulai mati terhadap sesama. Dalam kehidupan bersama semestinya orang saling menghargai dan menghormati. Apalagi dalam hidup bertetangga. Tetangga yang baik itu sebenarnya jauh lebih dekat daripada keluarga besar yang tinggal jauh dari kita. Tetangga yang saling peduli merupakan harta yang lebih berharga daripada harta benda yang kita miliki.

Karena itu, dibutuhkan suatu pendidikan hati nurani. Hati nurani yang baik dan bersih akan membantu manusia dalam membangun relasi dengan sesamanya. Orang yang memiliki hati nurani yang baik itu memberi kesempatan bagi sesamanya untuk selalu bertumbuh dan berkembang. Ia tidak akan merusak hubungan yang baik dengan sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar relasi kita dengan sesama terjalin dengan baik dan harmonis. Untuk itu, kita mesti mendidik hati nurani kita untuk peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi sahabat bagi sesama kita. Kita dapat menjadi orang-orang yang membawa sukacita bagi sesama di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


150

28 Agustus 2009

Menaburkan Harapan





Seorang ibu tertegun memandang putrinya yang baru saja dilahirkannya. Ia tersenyum menatap mata anaknya yang begitu bening. Namun air matanya pun menetes satu per satu. Anak yang ia lahirkan itu ternyata cacat. Kakinya hanya sebelah. Meski begitu, ibu itu tetap mencintai anaknya.

Di telinga anak itu, ia berkata, “Nak, ibu menyayangimu. Ibu mencintaimu dengan segenap hati. Meski engkau lahir cacat, ibu tidak akan menolak engkau.”

Ia menggendong anaknya dengan penuh kasih. Tak terbersit sedikit pun rasa benci atau penolakan. Ia menerimanya apa adanya. Bayi itu telah ia pelihara selama sembilan bulan dalam kandungannya. Ia berjanji untuk membesarkan dan memberinya pendidikan yang sebaik-baiknya.

Suatu ketika, ibu itu mensharingkan pengalamannya. Ia mengatakan bahwa anak yang dikasihinya itu pemberian Tuhan. Tuhan menghendaki ia merawat anak itu dengan baik. Itulah tandanya ia mengasihi Tuhan dan sesama. Ia berkata, “Tuhan begitu baik kepadaku. Ia memberi saya seorang anak yang cacat, supaya saya dapat meneruskan kebaikan Tuhan itu.”

Inilah iman. Iman ibu itu telah meluputkan dia dari rasa benci atau menolak kehadiran buah hatinya yang cacat itu. Sumber iman itu ia timba dari Tuhan sendiri yang telah mengaruniakan seorang buah hati baginya. Masihkah iman seperti ini tumbuh dalam diri kita?

Dalam banyak peristiwa kita menyaksikan ada orang yang begitu putus asa menghadapi suatu kegagalan dalam hidup. Bahkan mereka sampai tega mengakhiri hidup ini dengan minum racun atau gantung diri. Seolah-olah tidak ada secercah harapan dalam hidup mereka. Mereka kehilangan iman dalam hidup ini. Mereka kehilangan Tuhan dalam hidup ini.

Tentu sebagai orang beriman, hal ini merupakan suatu tragedi besar dalam kehidupan manusia. Semestinya orang beriman itu memiliki sikap pasrah kepada Tuhan. Suatu penyerahan diri yang total kepada kehendak Tuhan. Dalam iman itu tumbuh kreativitas. Dalam iman itu muncul berbagai usaha dan upaya untuk keluar dari kesulitan hidup.

Iman semestinya membangkitkan semangat hidup untuk semakin berproses dalam hidup ini. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berani membantu sesama yang berada dalam situasi putus harapan. Kita dipanggil untuk menaburkan harapan bagi mereka yang kehilangan harapan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

149

27 Agustus 2009

Belajar dari Pengalaman Hidup





Aktris Teri Hatcher mengumpulkan sumbangan sebesar 35.000 dollar AS untuk membantu kaum miskin di Kenya. Pemain film seri televisi The Desperate Housewives ini menyampaikan sumbangan itu di sela-sela kunjungannya ke Nairobi, ibu kota Kenya, selama dua minggu.

Hatcher tidak pergi sendirian ke Kenya. Ia membawa putrinya, Emerson Rose, yang baru berusia sepuluh tahun. Di sana Rose mengikuti sekolah bersama murid-murid setempat. Tentang anaknya, Hatcher yang juga bermain dalam film Spy Kids ini berkata,

”Anak-anak itu begitu bersemangat. Awalnya mereka sempat malu-malu. Mereka tidak mau berbicara langsung dengan saya. Anak-anak itu hanya mau bicara dengan anak saya.”

Perempuan kelahiran Palo Alto, California, Amerika Serikat, 8 Desember 1964, ini sangat terkesan dengan teman-teman sekolah Rose selama di Nairobi. Ia mengatakan bahwa mereka menyayangi anaknya. Rose pun menjalin persahabatan dengan anak-anak di Nairobi. Suatu persahabatan lintas suku bangsa dan negara. Tentu kondisi seperti ini sangat menyenangkan semua pihak.

Tentang pengalamannya selama dua minggu di Nairobi, Hatcher berkata, “Kami kemudian berbicara berbagai hal, dari soal serius seperti matematika sampai hal ramah-tamah. Apa saja hal yang paling kami sukai dalam hidup ini. Kami juga ngobrol tentang olahraga favorit kami masing-masing.”

Pengalaman itu guru yang sangat berharga. Melalui pengalaman itu orang dapat belajar berbagai hal tentang kehidupan ini. Kisah di atas menunjukkan bahwa persahabatan itu dapat dibangun melalui pengalaman hidup bersama. Saling menghargai dapat dibangun, kalau orang mau bergaul dengan sesamanya.

Kunci untuk semua ini adalah keterbukaan hati kepada sesama. Orang yang mampu membuka hatinya terhadap kehadiran sesama akan menimba begitu banyak hal yang indah bagi hidupnya. Orang yang mau menerima kehadiran sesamanya biasanya orang yang mau belajar dari sesamanya itu.

Dari kisah tadi kita belajar bahwa seorang bintang film terkenal tidak segan-segan menimba ilmu dari anak-anak yang miskin di negeri miskin. Baginya, ilmu kehidupan itu dapat ditimba dari mana saja. Yang penting orang mau membuka hati dan dan mau belajar sesuatu yang baru.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mau belajar sesuatu yang baru dari orang lain. Pengalaman hidup bersama orang lain memperkaya hidup kita. Untuk itu, kita mesti membuka hati bagi sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

26 Agustus 2009

Mengalirkan Kasih Tuhan




Seorang pengelana pernah menulis bahwa di suatu wilayah gurun terdapat dua buah danau yang dialiri oleh banyak sungai. Letak danau-danau itu tidaklah berjauhan, namun keduanya menampakkan perbedaan fenomena alam yang luar biasa.

Danau pertama adalah danau biasa berair tawar yang segar. Ia memiliki beberapa anak sungai yang mengalir ke hilir. Ia adalah danau sebagaimana danau lain dengan kehidupan sewajarnya.

Sedangkan danau kedua, yang lebih besar, menjadi keanehan yang tiada taranya. Ia tidak memiliki anak sungai yang mengalirkan airnya ke laut. Hanya sengat panas gurun yang menguapkan airnya. Tak heran, kandungan mineral dan garamnya amat tinggi. Begitu tinggi sehingga kita dapat mengapung di permukaan begitu saja. Hampir-hampir tidak ada kehidupan dalam danau itu. Pantaslah bila peta mencatatnya dengan nama "Laut Mati".

Hidup manusia itu bagai danau. Kalau manusia mau memberi hidup bagi orang lain, ia akan terus-menerus mengalirkan kasih. Ia selalu berkelimpahan meski ia selalu memberi kepada sesama. Rahmat Tuhan senantiasa menyertainya. Ia juga menjadi sahabat bagi banyak orang, karena ia dikenal sebagai orang yang murah hati.

Sebaliknya, manusia akan menjadi seperti danau yang beku, kalau ia tidak peduli terhadap lingkungan di sekitarnya. Banyak orang akan mengeluh berhadapan dengan orang seperti ini. Apa saja yang dibuat orang lain selalu salah dari sudut pandangnya. Hidup menjadi hambar. Tidak ada kasih yang mengalir dari diri orang ini. Orang seperti ini tidak pernah membuka tangannya untuk sesama. Tangannya selalu erat menggenggam.

Dalam kehidupan ini selalu saja muncul orang-orang yang begitu baik. Mereka selalu peduli terhadap sesamanya. Mengapa bisa terjadi? Karena pada dasarnya manusia itu baik. Manusia yang baik itu semestinya memiliki hati yang terbuka kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Manusia yang baik itu membiarkan Tuhan bekerja dalam dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak hanya berupaya mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kita diajak untuk berani membagikan apa yang kita punyai kepada orang lain di sekitar kita. Dengan cara ini, kita mampu mengalirkan kasih Tuhan kepada sesama. Kasih Tuhan itu selalu kita peroleh setiap saat. Kita ingin agar kasih Tuhan itu tidak hanya menjadi milik kita. Kita ingin kasih Tuhan itu juga menjadi milik sesama yang ada di sekitar kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.147

25 Agustus 2009

Menabur Kasih dalam Hidup





Anne Frank adalah seorang gadis Yahudi yang mati di kamp konsentrasi Nazi Jerman. Di sana ia disiksa bersama ratusan ribu warga Yahudi pada masa Perang Dunia Kedua. Penderitaannya luar biasa hingga akhir hayatnya.

Namun aneh. Meskipun mengalami begitu banyak penderitaan, dalam buku hariannya Anne Frank menulis bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Padahal kekejaman tentara-tentara Nazi begitu luar biasa ia alami. Soalnya, mengapa manusia itu bisa berbuat jahat? Menurut Anne Frank, hal itu disebabkan karena manusia tidak bisa menjaga hati. Akibatnya, hati manusia itu menjadi rusak.

Berbuat dosa atau kejahatan itu mudah. Semudah orang membalikkan telapak tangannya. Melakukan kejahatan itu tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Sekali lewat saja orang bisa jatuh ke dalam kejahatan yang sangat kejam. Peristiwa kamp konsentrasi di Ausswitch adalah salah satu contoh. Tempat ini menjadi saksi bisu sekitar satu juta orang Yahudi yang dibunuh dengan gas beracun. Adolf Hitler yang kejam telah menyebabkan kejahatan yang luar biasa hebat terhadap hidup manusia.

Lain halnya menabur kasih. Menabur kasih itu belum tentu mudah dilakukan. Banyak pikiran yang keluar masuk dalam benak manusia. Seolah-olah melakukan kebaikan itu sesuatu yang berasal dari diri manusia. Semestinya kebaikan itu berasal dari hati manusia yang jernih. Anne Frank mengatakan bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Jadi kebaikan itulah yang semestinya menjadi bagian dari hidup manusia. Kebaikan itu mesti ditumbuhkembangkan dalam diri manusia.

Apa jadinya kalau manusia tidak membiarkan kebaikan dan kasih tumbuh dalam dirinya? Yang terjadi adalah hati yang rusak. Hati yang dikuasai oleh iri hati, permusuhan dan balas dendam. Manusia lebih dikuasai oleh dosa. Kasih hanya menjadi sebuah mimpi hampa. Kasih hanya menjadi dambaan manusia yang tak pernah terwujud.

Karena itu, manusia beriman mesti selalu mengasah kasih dalam hidupnya sehari-hari. Untuk itu, manusia mesti selalu mendengarkan firman Tuhan. Tuhan selalu berbicara kepada kita tentang kasih dan kebaikan dalam hari-hari hidup kita. Kalau kita sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan melaksanakannya dalam hidup kita, saya yakin hidup kita akan menjadi semakin baik. Kita akan selalu mendapat rahmat dan berkat Tuhan.

Kita mesti ingat bahwa pada dasarnya kita ini baik. Dosa dan kejahatan tidak berasal dari diri kita. Dosa itu berasal dari si jahat yang selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke dalam kejahatan. Kalau kita bertahan dalam kebaikan dan kasih, si jahat tidak akan berani mendekati kita.

Mari kita berusaha untuk hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan hidup baik itu kita menyebarkan kabar sukacita bagi sesama. **



Frans de Sales, SCJ



NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.146

24 Agustus 2009

Memiliki Hati yang Terbuka bagi Sesama





Ada seorang pasien yang dirawat di salah satu rumah penampungan Ibu Teresa di Calcuta. Menjelang akhir hidupnya, pasien itu berkata, “Semasa hidupku, aku gelandangan seperti binatang. Tidak ada yang mau peduli. Tetapi sekarang aku mau mati, kok bisa seperti bidadari. Ada yang merawat, ada yang mengasihi...”

Begitulah cara Ibu Teresa peduli terhadap penderitaan sesamanya. Ia membawa para penderita di jalan-jalan kota Calcuta ke tempat penampungan miliknya. Di sana ia merawat mereka. Ia memberi mereka kesempatan untuk menghabisi hari-hari hidup mereka secara manusiawi. Bukan seperti binatang yang tergolek lesu di sudut-sudut kota.

Kata-kata pasien itu merupakan suatu cetusan hati yang tulus dan jujur. Ia mengucapkan terima kasih atas semua pelayanan kasih dari Ibu Teresa. Suatu jamahan kasih yang memberikan pengharapan hidup bagi mereka yang menderita.

Tentang kepeduliannya terhadap sesama, Ibu Teresa berkata, “Kalau semasa hidup mereka tidak layak sebagaimana seorang manusia hidup, biarlah sewaktu mati, mereka boleh mati sebagaimana layaknya seorang manusia mati.” Menurutnya, mereka yang miskin dan menderita harus tahu bahwa kita mengasihi mereka. Mereka tidak perlu rasa iba, tetapi mereka perlu tindakan nyata.

Begitu penting perhatian kita terhadap sesama yang mengalami penderitaan. Coba kita bayangkan kalau kita adalah orang yang sedang menderita. Kita tidak punya apa-apa untuk membantu kita keluar dari penderitaan kita. Apa jadinya? Kita pasti butuh bantuan sesama. Kita perlu perhatian dari sesama. Sedikit bantuan pasti sangat bermakna bagi hidup kita.

Kisah pasien di atas menunjukkan bahwa hidup itu begitu bernilai. Kasih seorang Ibu Teresa menggerakkan hati sang pasien untuk memiliki semangat dalam meneruskan hidupnya. Hidup itu tidak bisa dimusnakan begitu saja. Hidup itu berharga di mata Tuhan.

Karena itu, Tuhan mengirim orang-orang yang memiliki hati yang terbuka oleh penderitaan sesamanya. Tuhan sendiri tidak menghendaki ada ciptaanNya yang binasa. Tuhan selalu peduli terhadap keselamatan manusia. Untuk itu, Tuhan menggerakkan manusia untuk mempunyai kepedulian terhadap sesama.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk membuka hati kita bagi penderitaan sesama di sekitar kita. Hati yang terbuka itu akan membuat kita mudah mengulurkan tangan bagi mereka yang mengalami duka nestapa.

Mari kita berusaha untuk semakin memiliki hati yang peduli terhadap mereka yang sedang menderita. Hati kita juga semestinya merasa menderita ketika menyaksikan sesama menderita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

145

23 Agustus 2009

Menumbuhkan Iman dalam Hidup




Nelson Mandela, siapa tidak kenal? Pria berusia 90 tahun ini terkenal sangat gigih memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Ia pernah dipenjara selama 27 tahun oleh regim apartheid Afrika Selatan. Perjuangan kemudian ia lakukan dari dalam penjara sampai akhirnya kaum kulit hitam Afrika Selatan mendapatkan hak yang sama dengan kaum kulit putih.

Setelah ia terpilih menjadi presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela mengadakan suatu rekonsiliasi. Ia tidak membalas kekejaman yang telah dilakukan kaum kulit putih terhadapnya. Ia mengampuni semua yang bersalah dan mulai membangun Afrika Selatan bangkit dari keterpurukan.

Akhir Juni tahun 2008 lalu diadakan sebuah konser untuk ulang tahunnya di London. Dalam kesempatan itu, Nelson Mandela menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk ambil bagian dalam perjuangan melawan kemiskinan, penindasan, dan penyakit yang melanda dunia. Ia berkata, “Inilah saatnya untuk mengangkat beban secara bersama-sama. Malam ini, kita berdiri di sini. Kami kembali ke London untuk memberikan penghargaan atas perayaan yang indah ini. Tetapi, kendati kita mengadakan perayaan malam ini, marilah kita kenangkan kembali bahwa pekerjaan kita belumlah rampung. Di mana kemiskinan, penyakit, termasuk AIDS dan kemanusiaan masih ditindas, maka menjadi tugas kitalah untuk membebaskan itu semua.”

Kepedulian terhadap sesama yang menderita mesti menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Ada begitu banyak peristiwa mengenaskan yang terjadi di sekitar kita. Peristiwa-peristiwa itu menuntut kita untuk memiliki kepedulian. Kita mesti menjadi pembawa solusi yang berguna bagi sesama.

Soalnya adalah ada begitu banyak orang yang kurang peduli terhadap penderitaan sesamanya. Mereka cuek. Mereka tidak mau tahu. Mengapa ini semua bisa terjadi? Tentu saja hal ini bisa terjadi karena kurangnya kesadaran bahwa semua manusia itu memilik harkat dan martabat yang sama. Kalau ada kesadaran mengenai kesamaan ini, saya yakin banyak orang akan mudah tergerak hatinya oleh belas kasihan.

Nelson Mandela telah melakukan hal yang sangat indah dalam hidupnya. Ia berjuang untuk kesamaan hak bangsanya. Ia juga telah memaafkan semua orang yang telah menghukum dan menganiaya dia. Sosok Nelson Mandela menjadi contoh bagi kita bagaimana kita semestinya memiliki kepedulian terhadap sesama. Kita adalah bagian dari sesama kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki kepedulian terhadap sesama kita. Inilah iman yang hidup yang mesti terus-menerus berkembang dan bertumbuh dalam hidup kita. Tuhan memberkati.**



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

144

Mendidik Kepekaan Hati







Ada seorang anak yang begitu peduli terhadap sesamanya yang menderita. Waktu terjadi gempa bumi di Bengkulu tanggal 12 September 2007 lalu, ia memecahkan celengannya. Ketika ditanya oleh ibunya untuk apa ia memecahkan celengannya, anak itu mengatakan bahwa ia ingin menyumbang untuk sesamanya. Banyak korban gempa yang membutuhkan pertolongan. Jadi ia ingin membagikan apa yang dimilikinya untuk sesamanya.

Untuk itu, ia sendiri membawa hasil tabungannya yang sudah bertahun-tahun ia kumpulkan itu kepada para korban. Banyak orang heran melihat sikap anak itu. Seorang ibu yang melihat perbuatan anak itu meneteskan air mata. Lantas ia bertanya kepada anak itu, “Nak, apa kamu tidak merasa rugi memberikan hasil tabunganmu yang sudah bertahun-tahun kamu kumpulkan itu?”

Anak itu tersenyum. Lantas ia menjawab, “Ibu, saya memberi dengan sepenuh hati. Saya tidak pernah merasa rugi.”

Dalam hidup ini banyak hal tidak terduga terjadi dalam hidup kita. Ada anak yang menurut kita memiliki egoisme yang begitu tinggi, ternyata begitu rela memberikan apa yang dimilikinya untuk sesamanya. Padahal yang dimilikinya itu sudah ia tabung bertahun-tahun. Hal seperti ini bisa terjadi, kalau orang memiliki hati yang mudah tergerak oleh penderitaan sesamanya.

Dalam hidup kita, kita berjumpa dengan banyak orang yang mengalami kesulitan. Mereka akan tetap tidak mendapatkan bantuan, kalau tidak ada orang yang tergerak hatinya untuk membantu. Siapa yang mesti membantu? Yah, kita yang ada di dekatnya. Kita yang mesti memiliki kepekaan hati untuk mereka. Kalau kita tidak mau membantu, siapa lagi yang akan membantu?

Untuk itu, kita perlu mendidik kepekaan hati. Hati yang peka itu tidak datang dengan sendirinya. Dibutuhkan suatu proses pendidikan yang berlangsung terus-menerus. Dibutuhkan banyak waktu untuk memiliki kepekaan hati itu. Ada kalanya orang merasa jenuh, karena orang yang dibantu tidak pernah mengucapkan sepatah kata terima kasih pun. Dalam hal ini orang ditantang untuk tetap bertahan dalam berbuat baik. Orang mesti tetap bertahan dalam membangun hati yang peka terhadap sesama.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk selalu memiliki kepedulian terhadap mereka yang menderita. Artinya, kita mau agar mereka yang menderita itu mendapatkan bantuan dari kita. Hanya dengan membantu itu kita memupuk kepekaan hati terhadap sesama yang menderita. Mari kita berusaha untuk selalu tetap setia pada komitmen kita untuk membantu sesama yang menderita. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.143