Pages

28 Oktober 2009

Berani Menghadapi Resiko Hidup

Albert Schweitzer lahir pada tahun 1875 di Alsace Hulu. Sewaktu kecil ia sering sakit-sakitan dan lamban dalam baca tulis. Ketika berusia delapan tahun, ia mampu bermain organ dengan baik. Setelah dewasa, kecerdasannya makin menonjol. Ia kemudian mampu meraih tiga gelar doktor di bidang filsafat, teologi dan musik. Pada usia 30 tahun, keriernya terus menanjak. Ia pernah ikut konser musik dan menjadi penulis buku.

Suatu hari, ia membaca artikel tentang Kongo di Afrika. Satu kalimat yang sangat menyentuh Schweitzer adalah “Sementara kita sibuk berkotbah, mereka menderita sakit dan mati di depan kita tanpa berbuat apa-apa.”

Schweitzer tersentak dan tergerak untuk berbuat sesuatu. Sekalipun sudah memiliki tiga gelar doktor, ia memutuskan untuk kuliah lagi di fakultas kedokteran. Setelah selesai, ia akan pergi ke Kongo, tetapi teman-temannya menghalanginya. Mereka menasihatinya untuk menyumbang uang saja, sehingga tidak perlu meninggalkan kariernya yang cemerlang.

Namun Schweitzer dan istrinya tetap memutuskan untuk pergi ke Kongo pada tahun 1913. Di sana mereka melayani orang sakit dan menderita selama 50 tahun. Ia rela meninggalkan segala sesuatu di belakangnya demi sesamanya yang menderita. Banyak warga Kongo tertolong oleh pelayanan Schweitzer dan istrinya.

Jarang kita menemukan orang-orang yang sudah mapan dalam hidupnya untuk memulai suatu kehidupan yang belum pasti. Kalau orang diminta untuk memilih mempertahankan hidup yang sudah mapan dengan suatu kondisi yang kurang menyenangkan, pasti orang akan memilih yang pertama. Orang tidak peduli akan penderitaan sesamanya.

Namun Schweitzer punya pandangan yang lain. Ia memilih untuk melayani orang-orang yang menderita sakit. Ia berani mengambil resiko atas hidupnya demi keselamatan sesamanya. Hal ini tentu saja butuh suatu pengalaman iman yang kuat akan Tuhan. Hanya orang yang punya iman yang besar kepada Tuhan yang mampu mengubah hidupnya.

Tentu saja Schweitzer mendasarkan keputusannya pada kasihnya kepada sesama. Iman itu biasanya disertai dengan kasih akan sesama. Kasih yang menuntut suatu perbuatan nyata bagi sesama yang membutuhkan.

Sebagai orang beriman, kita juga diajak untuk berani menghadapi resiko dalam perjalanan hidup kita. Tentu saja hal ini menjadi suatu jawaban iman kita kepada Tuhan yang kita sembah. Karena itu, dibutuhkan suatu keberanian untuk mengambil langkah-langkah hidup yang benar yang berlawanan dengan pandangan-pandangan umum. **

Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

209

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.