Pages

13 Agustus 2009

Memilih Cara-cara yang Halal





Pada suatu hari seekor rubah menyusuri hutan untuk mencari sebuah sumur tua. Setelah menemukan, rubah berhenti untuk mengagumi bayangan dirinya di dalam air sumur yang jernih itu. Begitu asyiknya mengagumi diri hingga dia terjatuh ke dalam sumur dan tak dapat keluar.

Beberapa lama kemudian datanglah seekor kambing. Kambing menengok ke dalam sumur melibat rubah di dalamnya. Tanya kambing ingin tahu, “Apa yang kau lakukan di situ?”

Jawab rubah singkat, “Menikmati air yang manis dan enak yang tidak pernah kuminum.”

Kambing itu berseru, “Oh sangat menyenangkan! Sungguh nikmat bila aku juga merasakannya.”

Rubah bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut denganku?”

Tanpa berpikir panjang, kambing itu melompat ke dalam sumur. Dan secepat kilat rubah melompat ke atas punggung kambing dan keluar dari sumur. Begitu lambat kambing itu menyadari bahwa rubah menipunya. Dia sekarang terperangkap di dalam sumur tua itu.

Di sekeliling kita ada begitu banyak tawaran yang menggiurkan untuk kebutuhan hidup kita. Pertanyaannya, apakah kita mesti mengambil semua tawaran itu bagi hidup kita? Atau kita mesti memiliki sikap yang selektif dan kritis? Rasanya tidak semua tawaran mesti kita ambil. Ada tawaran-tawaran yang sangat berguna bagi hidup kita. Namun ada tawaran-tawaran yang bisa menjerumuskan hidup kita.

Kisah rubah dan kambing dalam sumur di atas menjadi salah satu contoh betapa hidup ini tidak bisa dijalani begitu saja. Hidup ini mesti dijalani dengan penuh pertimbangan dan perhitungan. Kalau orang membangun rumah yang baru, ia mesti duduk membuat perhitungan-perhitungan. Dengan demikian anggaran untuk rumah yang baru itu cukup.

Bagaimana kalau anggaran itu tidak cukup? Ada berbagai cara untuk memenuhi anggaran itu. Ada cara yang halal dengan meminjam di bank atau pinjam sama lembaga. Tetapi ada juga cara yang tidak halal, misalnya dengan korupsi. Orang beriman tentu memilih cara-cara yang halal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bukan dengan cara yang tidak halal.

Cara yang tidak halal itu menyengsarakan diri sendiri di kemudian hari. Misalnya, di saat-saat ini kita menyaksikan ada begitu banyak pejabat atau mantan pejabat yang mesti duduk di kursi pesakitan. Mereka mesti mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan tidak halal mereka di hadapan hakim dan jaksa.

Tetapi cara yang tidak halal itu juga menyengsarakan banyak orang. Semestinya dana yang dianggarkan itu untuk kepentingan banyak orang, tetapi digunakan hanya oleh satu orang. Akibatnya, banyak rakyat menderita. Kelaparan, busung lapar yang terjadi di negeri ini lebih banyak disebabkan oleh hal seperti ini.

Karena itu, orang beriman mesti berani memilih cara-cara yang halal dalam membangun hidupnya. Cara-cara yang halal akan membantu diri dan sesama mengalami kebahagiaan dalam hidup ini. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. 129

12 Agustus 2009

Berusaha dengan Cara yang Wajar





Pada suatu waktu ada sekumpulan katak tinggal di pinggir sebuah sungai. Mereka adalah satu keluarga bahagia dengan sejumlah besar anak. Induk katak mengasihi anak-anaknya dan memberi perhatian penuh kepada mereka.

Pada suatu hari induk katak harus pergi berbelanja. Dia berpesan kepada anak-anaknya supaya waspada sementara dia tidak di rumah. Mereka tidak boleh pergi dari luar tepian sungai. Segera sesudah induk katak pergi, katak-katak kecil keluar tepian sungai. Mereka mengira ada sesuatu yang menarik di luar, sehingga induk mereka melarang mereka pergi ke luar.

Kata katak yang tertua kepada saudara-saudarinya, “Mari kita melihat-lihat daerah sekitar ini.”

“Ya mari!” kata mereka beramai-ramai.

Lalu mereka melompat ke padang melewati seekor binatang besar yang sedang berdiri dan mengunyah rumput.

Dengan hati senang anak-anak katak mengamati binatang besar itu. Ketika tiba-tiba binatang besar itu berpaling ke arah mereka dan membunyikan suara, ”Moo!”, anak-anak katak itu berlarian karena takut.

Ketika mereka kembali ke tepi sungai, induk mereka telah menanti. Mereka dimarahi karena nakal. Akan tetapi anak-anak katak itu begitu senang dengan petualangan mereka. Mereka serentak berseru, “Oh Ibu, ada yang ingin kami sampaikan. Di luar ada binatang begitu besar. Dia mempunyai mata besar dan suaranya seperti guruh.”

Induk mereka tersenyum. Si induk kemudian menjelaskan dengan tenang, “Itu sapi yang kamu lihat. Apakah binatang itu sebesar ini?” induk katak bertanya sambil membuka dadanya.

“Tidak, lebih besar dari itu,” jawab anak-anak katak.

“Kalau begitu binatang itu sebesar ini,” kata induk katak sambil merentangkan dadanya lebih besar lagi.

Anak-anak katak itu menggelengkan kepala mereka. Induk katak itu terus merentangkan dadanya hingga ukuran sangat besar. Akan tetapi tiba-tiba terdengar letusan.. Dada induk katak itu pecah.

Banyak orang berusaha untuk meraih ketenaran. Namun mereka tidak memiliki dasar yang kuat. Mereka berusaha, tetapi sering kali mentok di tengah jalan. Segala macam cara ditempuh untuk meraih ketenaran itu. Sampai akhirnya mereka terpuruk dalam derita batin yang luar biasa. Mereka menjadi stress. Hidup kemudian tidak begitu berarti lagi.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Kisah tadi menunjukkan bahwa banyak orang ingin menjadi lebih besar dari dirinya yang sebenarnya. Usaha terus-menerus dilakukan. Tetapi akibtanya bisa fatal bagi kehidupannya.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh orang beriman? Orang beriman boleh berusaha sekuat tenaga untuk memberi makna yang baik bagi hidup ini. Namun orang mesti tahu diri sampai sejauh mana kemampuannya. Kalau mau sungguh-sungguh maju, orang mesti berani untuk bersikap rendah hati. Orang mesti berani mengakui kekurangan dan kelemahannya. Hal ini menjadi starting point yang sangat baik untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Mari kita berusaha untuk menjadi sukses dengan cara-cara yang wajar dan halal. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB

128

11 Agustus 2009

Usaha Mengendalikan Diri




Suatu hari seekor anjing bernasib baik. Ia menemukan sepotong tulang penuh sumsum. Ia menggondolnya sambil mengamati ke sekeliling, jangan-jangan ada anjing lain yang ingin merebutnya.

Ia bermaksud membawa tulang itu ke taman yang tenang, supaya dapat menikmatinya dengan aman. Dalam perjalanannya, anjing itu harus menyeberangi sebuah sungai.

Ketika melewati jembatan, dia melihat bayangan dirinya di dalam air sungai yang jernih. Dia berpikir bahwa bayangan itu adalah seekor anjing lain, maka dia berhenti untuk melihat lebih teliti.

Dia perhatikan pada mulut anjing lain itu terdapat tulang lebih besar dari yang dibawanya. Amarahnya mulai muncul. Dia ingin sekali merebut tulang itu. Dia berpikir dengan menyalak keras dan buas, anjing itu akan melepaskan tulang yang digigitnya dan dia akan mendapatkannya.

Dia kemudian membuka mulutnya untuk menyalak. Ketika dia membuka mulut, tulang yang digigitnya jatuh ke dalam air. Sekarang anjing yang rakus itu melihat bahwa anjing di dalam air itu tidak membawa tulang lagi. Dia juga tidak. Dia sangat menyesal. Dia pulang ke rumahnya dengan wajah yang sedih.

Situasi seperti ini juga sering menimpa manusia. Orang ingin mengumpulkan barang-barang kebutuhan hidupnya sebanyak-banyaknya. Sampai-sampai lupa bahwa sudah ada sesuatu yang sangat berharga di tangannya yang mesti dipertahankan. Orang terus mencari dan mengumpulkan. Padahal tangannya sudah penuh dengan barang-barang kebutuhan hidupnya.

Ada pepatah yang berbunyi, “Ayam di tangan dilepaskan demi mendapatkan ayam yang masih di halaman rumah”. Hal yang lebih berharga itu tidak dijaga dengan baik. Bahkan dilepaskan untuk sesuatu yang tidak berharga. Ada seorang anak yang selalu menuntut orangtuanya untuk membelikan baju baru setiap bulan. Ia sudah punya baju yang harganya sangat mahal. Tetapi ia ingin baju yang baru lagi. Baju yang mahal ia lepaskan. Ia buang. Padahal baju itu sangat baik dan masih sangat layak dipakai. Orangtuanya mesti memenuhi kebutuhannya. Ia mengancam mereka, kalau tidak dibelikan baju yang baru. Ketika orangtuanya tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhannya, anak itu benar-benar melaksanakan ancamannya. Ia gantung diri. Berakhirlah hidupnya yang sebenarnya masih panjang itu.

Ini contoh kerakusan yang membawa bencana bagi hidup manusia. Kerakusan itu ternyata dapat membuat hidup ini menjadi tragis. Padahal kita semestinya mempertahankan hidup ini. Hidup ini lebih berharga dari apa pun yang kita miliki. Hidup ini memiliki nilai yang sangat luhur, karena merupakan pemberian dari Tuhan sendiri.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita ditandai oleh usaha-usaha untuk menumbuhkan penghargaan terhadap hidup manusia. Kita ingin kritis dalam menilai apa yang kita butuhkan dalam hidup sehari-hari. Kita ingin agar kerakusan tidak menguasai hidup kita. Justru kita ingin agar kita menguasai diri kita. Dengan demikian kita dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




127

10 Agustus 2009

Menggunakan Pikiran Kreatif

Musim panas. Tidak ada hujan di seluruh daerah. Sungai-sungai dan sumber-sumber air kering. Akibatnya, burung-burung dan binatang-binatang lain kehausan.

Seekor burung gagak terbang kian ke mari mencari air, tetapi sia-sia. Akhirnya, ia terbang ke kota. Burung gagak itu mengintai di dalam sebuah rumah. Ia melihat di atas meja ada sebuah tempayan besar berisi air.

Burung gagak itu sangat beruntung. Langsung saja ia terbang menerobos rumah itu menuju tempayan itu. Sayang, hanya ada sedikit air di dalam tempayan itu. Tambahan lagi paruhnya tidak dapat mencapai air, meskipun ia telah berusaha dengan keras.

Burung gagak itu melihat ke sekeliling untuk mencari jalan keluar. Beberapa batu kecil yang berserak di tanah dekat tempat itu memberinya gagasan. Dia terbang memungut batu-batu kecil itu dan memasukkannya satu per satu ke dalam buyung itu. Pekerjaan itu lama. Namun lama-kelamaan batu-batu kecil itu menaikkan permukaan air di dalam tempayan itu. Ketika air sudah mencapai mulut tempayan itu, maka burung gagak itu dapat memuaskan dahaganya.

Di saat orang merasa terdesak, biasanya pikiran-pikiran kreatif muncul. Orang-orang yang berasal dari daerah minus biasanya memiliki daya juang yang tinggi. Mereka tidak peduli pekerjaan yang dijalani. Yang penting pekerjaan itu halal dan dapat membantu mereka akan mengerjakannya dengan sukacita. Mereka tidak malu. Mereka tidak mengandalkan gengsi. Yang penting mereka dapat menemukan penghidupan yang layak.

Kisah burung gagak tadi menjadi inspirasi bagi hidup manusia. Burung gagak itu berusaha tak mengenal lelah untuk memenuhi dahaganya. Banyak waktu yang terbuang untuk melaksakan pikiran kreatifnya. Namun dengan cara itu ia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya yang sangat penting, yaitu air.

Dalam pengajaranNya, Yesus mengatakan bahwa orang mesti tulus seperti merpati tetapi licik seperti ular. Artinya, orang mesti kreatif dalam menempuh hidup ini. Kreativitas akan memampukan manusia mengatasi persoalan-persoalan hidup. Untuk itu, orang tidak boleh menyerah pada situasi yang dihadapi. Orang mesti berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi persoalan-persoalan hidupnya.

Kebutuhan hidup manusia di jaman sekarang ini semakin banyak. Kebutuhan itu menuntut manusia untuk berani bertaruh dalam memenuhi kebutuhan hidup itu. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menggunakan pikiran-pikiran kreatif kita dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. Hanya dengan usaha tanpa mengenal lelah, kita akan meraih apa yang kita butuhkan untuk hidup kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB. 126

08 Agustus 2009

Memberi Teladan Hidup

Suatu hari seorang ibu berambut uban dan sedang patah semangat mendatangi seorang ulama. Ia ingin meminta pertolongan dari ulama itu. Ia berkata, “Pak, tolonglah anak saya yang ada di penjara. Sudah sepuluh tahun ia ada di penjara dan belum sekalipun dia membalas surat-surat yang saya kirim kepadanya. Saya ingin sekali mengetahui keadaannya. Tolong juga sampaikan surat dan foto ini kepadanya.”

Ulama itu menyanggupi permohonan ibu itu. Ketika ia pergi ke kota, ia mengunjungi pemuda itu. Ketika bertemu, ulama itu menunjukkan surat dan foto ibu itu kepada pemuda itu.

Dengan dingin pemuda itu berkata, “Benar, ini foto ibu saya. Dulu rambutnya hitam, tetapi sekarang semua sudah putih...”

Ulama itu bertanya mengapa selama bertahun-tahun ia tidak membalas surat ibunya. Dengan geram dan mata melotot, ia berkata, “Pak, maukah bapak pergi ke rumah ibuku dan mengembalikan foto dan surat ini? Saya sama sekali tidak menyukai ibu saya. Bagi saya, dia adalah wanita paling jahat di dunia. Pertama kali saya mengenal judi di meja ibu saya yang selalu berjudi setiap hari bersama kawan-kawannya? Saya diajari minum alkohol oleh ibu saya sendiri. Karena itulah akhirnya saya masuk penjara selama sepuluh tahun. Kalau sekarang dia mengatakan mencintai saya, itu hanya omong kosong belaka. Sungguh saya membenci ibu saya dan kebiasaannya.”

Ulama itu hanya terbengong. Ia kembali dengan seribu satu pertanyaan di benaknya.

Teladan hidup ternyata sesuatu yang masih sangat dibutuhkan dalam hidup manusia. Pepatah mengatakan, buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik pula. Karena itu, teladan orangtua sangat penting dalam proses pendidikan seorang anak. Teladan yang baik membawa kebaikan dalam hidup. Teladan yang buruk membawa pengaruh negatif dalam pertumbuhan kejiwaan seorang anak.

Untuk itu, orangtua mesti membangun hidup yang baik. Hidup yang dekat dengan Tuhan. Caranya adalah dengan mendengarkan firman Tuhan dan berdoa kepada Tuhan. Namun berdoa saja tidak cukup. Orangtua mesti membangun kedekatan dengan anak-anak.

Di jaman sekarang banyak anak mengeluhkan orangtua mereka yang terlalu sibuk mencari nafkah. Seolah-olah penghasilan keluarga itu yang utama. Sampai-sampai mereka lupa bahwa kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak merupakan tugas utama dari orangtua. Apa gunanya mengumpulkan harta yang banyak, tetapi anak-anak kekurangan cinta kasih dan perhatian.

Karena itu, orangtua perlu berefleksi diri akan peranannya dalam konteks tanggungjawabnya terhadap pendidikan anak-anak mereka. Memberi teladan hidup menjadi suatu kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang cara hidup yang baik. Belajar tentang kehidupan itu mesti dimulai dari keluarga. Orangtualah yang memberi teladan untuk hal ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.133

Waspada terhadap Godaan





Pada suatu waktu ekor seekor serigala terperangkap pada sebuah jerat. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi tidak berhasil. Ia berteriak minta tolong sampai parau suaranya, tetapi tak ada seekor binatang pun yang datang menolongnya. Akhirnya dalam keputusasaan, daripada para pemburu menangkapnya ia memutuskan untuk meninggalkan ekornya. Ia kemudian kembali ke sarangnya tanpa ekor. Dalam perjalanan ia melewati sebuah sungai. Ia berhenti untuk melihat dirinya di dalam air yang jernih. Dia terkejut dengan dirinya yang begitu jelek.

“Oh, apa nanti kata binatang-binatang lain?” gumamnyya dalam hati. “Mereka tentu akan mengejekku.”

Akan tetapi bagaimanapun karena tidak ada jalan lain, serigala itu memutuskan untuk tetap pulang. Ketika bertemu dengan teman-temannya dia dengan sombong bertanya, “Apakah kalian suka dengan keadaanku sekarang? Aku memutuskan untuk meninggalkan ekorku karena selama bertahun-tahun membawanya ternyata menjadi suatu beban. Sekarang aku dapat berjalan lebih bebas. Mengapa kalian tidak mencobanya? Apakah kalian tidak sadar akan kekurangan pada diri kalian?”

Serigala-serigala muda tertarik dengan gagasan itu. Mereka kemudian berpikir untuk mengikuti gagasan itu. Akan tetapi seekor serigala tua yang biasanya diam mendengarkan kini angkat bicara. Dia berkata, “Rekan-rekanku, sebelum kita melakukan rencana itu tunjukkanlah apakah mungkin kita memasang ekor-ekor itu apabila kita ingin mempunyai ekor lagi.”

Tentu serigala itu tidak dapat menjawabnya. Serigala-serigala muda itu akhirnya menyadari bahwa mereka ditipu. Mereka kemudian pergi sambil menertawakan si serigala tanpa ekor itu.

Banyak godaan yang kita hadapi dalam dunia ini. Godaan-godaan itu sering memukau mata manusia. Orang yang tidak tahan terhadap godaan akan segera menanggapi godaan-godaan itu. Padahal godaan-godaan sering mengakibatkan manusia jatuh ke dalam dosa. Kisah di atas menunjukkan suatu godaan yang begitu menarik perhatian. Kalau saja serigala-serigala muda itu tergiur oleh godaan itu, mereka akan menyesal di kemudian hari. Mereka akan kehilangan ekor yang merupakan bagian yang sangat berharga dalam hidup mereka.

Untuk itu, orang mesti berlatih terus-menerus untuk menangkal godaan-godaan. Orang mesti bijaksana dalam menghadapi setiap godaan, sekecil apa pun godaan itu. Sering orang jatuh ke dalam dosa, karena godaan yang kecil. Awalnya dirasa tidak apa-apa. Kalau kesadaran datang terlambat, akibatnya akan fatal bagi hidup. Lama-kelamaan orang akan merasa kebal terhadap dosa-dosa yang dibuatnya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti berpikir sebaik mungkin sebelum mengambil suatu tindakan yang sangat berpengaruh bagi hidup. Kita tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Keputusan yang kita ambil itu memiliki dampak bagi hidup kita dan banyak orang.

Untuk itu, kita mesti ikut sertakan Tuhan dalam mengambil setiap keputusan untuk hidup kita dan hidup sesama kita. Mari kita belajar untuk senantiasa tidak mudah tergoda oleh berbagai tawaran yang menggiurkan. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

124

Menabur Kebaikan dalam Hidup


Di suatu perkampungan puncak gunung Pegunungan Bintang, hiduplah sekelompok orang yang masih murni. Mereka belum mengenal kemajuan modern. Mereka masih mengandalkan hasil alam. Mereka percaya bahwa alam dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Suatu hari datanglah seorang dari negeri maju. Melihat kondisi masyarakat di perkampungan itu, ia merasa prihatin. Lantas timbul keinginannya untuk memajukan masyarakat di perkampungan itu. Ia mulai memperkenalkan bibit-bibit pertanian. Yang paling menarik adalah bibit yang terbungkus dalam plastik putih, yaitu ‘bibit angin’.

Menurut orang itu, kalau bibit angin itu ditabur, akan tumbuh mata angin yang menyemburkan angin segar. Hasilnya, udara akan makin segar dan menyehatkan. Puluhan bahkan ratusan bungkus bibit angin ludes. Bahkan masyarakat di kampung itu rela mengeluarkan kekayaan mereka untuk membeli bibit angin.

Selang beberapa hari, udara pegunungan mulai terasa sejuk, karena bibit angin mulai tumbuh. Angin mulai bertiup dari bibit kecil itu kian ke mari sampai pegunungan lain. Bulan berganti bulan. Tumbuhan itu semakin besar. Lobang untuk keluar angin pun semakin besar. Akibatnya, bukan lagi angin yang keluar. Yang keluar adalah badai angin yang tak terkendali. Masyarakat pun mulai ketakutan. Angin yang ditabur, ternyata badai yang dituai.

Seringkali manusia tidak bisa mengendalikan diri. Sudah memiliki barang-barang kebutuhan hidup yang sudah melimpah, tetapi masih juga ingin memiliki barang-barang itu. Mengapa Komisi Pemberantasan Korupsi mesti dibentuk oleh DPR? Jawabannya, karena manusia tidak bisa mengendalikan diri. Korupsi yang terjadi itu merupakan akibat dari kurangnya manusia mengendalikan dirinya. Manusia tidak bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Yang diinginkan itu belum tentu sudah menjadi kebutuhan hidup.

Karena itu, dalam hal ini orang mesti sungguh-sungguh memperhatikan kebutuhan hidupnya. Keinginan manusia itu mesti diatur dan dikendalikan. Tujuannya agar manusia tidak dikuasai oleh keinginan itu. Orang yang berhasil menguasai keinginannya akan menikmati hidup ini dengan damai dan tenteram. Orang tidak dikejar-kejar oleh keinginan dirinya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hidup kita senantiasa berada di bawah kontrol diri kita. Untuk itu, kita perlu bertanya diri, apa yang sesungguhnya kita butuhkan dalam hidup ini? Mengapa sesuatu itu ingin kita miliki?

Kalau kita berani bertanya diri tentang kebutuhan hidup kita, saya yakin kita akan lebih kritis dalam menentukan kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Kita akan menjadi orang-orang yang mampu mengendalikan diri kita terhadap setiap bentuk godaan. Mari kita berusaha terus-menerus menaburkan benih kebaikan dalam diri kita. Dengan demikian, kita tidak menuai badai yang menghancurkan diri kita sendiri. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
123

Menghargai Hal-hal Kecil



Suatu hari, sebuah speedboat macet di tengah sungai yang lebar. Speedboat yang tampak perkasa itu tidak bisa melanjutkan perjalanan. Puluhan penumpang mulai merasa tidak nyaman. Namun mereka tidak bisa meninggalkan kendaraan air tersebut. Tidak ada speedboat yang dekat, sehingga mereka tidak bisa pindah dari speedboat yang macet itu. Anak-anak bayi mulai menangis karena panas. Beberapa penumpang mulai mengumpat dan menyalahkan sopir speedboat.

Ternyata mesin mengalami persoalan. Karet mesin putus. Tidak ada cadangan. Bagaimana bisa keluar dari permasalahan itu? Tidak mungkin berjam-jam terapung-apung di atas air tanpa kepastian. Tiba-tiba seorang anak kecil mengulurkan dua karet gelang miliknya.

Namun apalah artinya dua karet gelang untuk sebuah mesin speedboat? Sopir speedboat tersenyum sinis. Ia menganggap remeh pemberian anak kecil itu. Namun anak kecil itu meyakinkannya bahwa karet gelang itu dapat berguna untuk menyelamatkan semua penumpang. Beberapa saat kemudian sopir speedboat itu mengambil dua karet gelang itu dan memasangnya pada mesin. Begitu ia menghidupkan mesin, speedboat itu hidup. Ia pun siap melanjutkan perjalanan. Puluhan penumpang itu bisa selamat. Mereka pun dapat meninggalkan tempat itu yang bisa saja menjadi malapetaka bagi mereka.

Sering kita meremehkan hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Kita merasa bahwa yang kecil itu belum tentu dapat memberikan suatu kontribusi yang besar terhadap hidup manusia. Namun kisah dua karet gelang milik seorang anak kecil itu sungguh-sungguh sebuah peristiwa yang menyelamatkan. Ini sebuah mukjijat dalam hidup manusia.

Karena itu, melalui kisah di atas kita diajak untuk senantiasa menghargai yang kecil dan tampaknya tak berguna. Hal yang kecil itu ternyata mampu memberikan sesuatu yang begitu besar bagi hidup manusia. Bahkan hal-hal yang kecil dapat menyelamatkan kehidupan manusia.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar hal-hal yang kecil yang ada di sekitar kita bermanfaat bagi hidup kita. Penghargaan terhadap hal-hal kecil itu suatu keutamaan dalam hidup kita. Di dalam diri kita juga ada hal-hal yang kecil yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup kita. Tuhan menciptakan semua hal kecil itu bukan tanpa tujuan. Tuhan menciptakan hal-hal kecil itu untuk kita gunakan bagi kelangsungan hidup kita.

Untuk itu, kita mesti selalu memiliki kepedulian terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Mari kita memberi penghargaan dan penghormatan terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
121

06 Agustus 2009

Membangun Hidup yang Kokoh

Suatu hari dua orang pemuda termenung di tepi sebuah danau. Hari itu langit biru dan angin bertiup menderu. Lama mereka membisu mengamati betapa angkuhnya bongkahan batu tempat mereka duduk merenung. Dalam hati mereka, bergejolak sebuah pertanyaan, “Mengapa batu ini seolah tak peduli dengan sapaan ombak danau yang begitu ramah?”

Deburan ombak danau itu tak henti menimbulkan pertanyaan sekaligus kekaguman. Ombak itu memang hebat. Meski batu tak bergeming sedikit pun, ombak itu tak mau berhenti menyapa, menghantam dan mendorong batu besar yang diduduki dua pemuda itu.

Hidup kita itu bagai ombak dan batu yang kokoh. Ombak yang tampak ramah, tidak begitu peduli kalau sapaannya tidak didengar oleh lingkungan sekitarnya. Ia terus menyapa. Ia terus menunjukkan kedigdayaannya. Ia tidak putus asa.

Ombak begitu mengagumkan. Ia begitu bersemangat mencoba membangunkan yang angkuh. Ombak begitu semangat meski usahanya tampak tanpa hasil. Di balik semua itu, deburan ombak menarik perhatian begitu banyak orang. Banyak orang yang datang ke pantai dapat menikmati deburan ombak yang mendesah. Hati orang yang sedang suntuk dan stress dapat diobati. Ombak dapat menghalau kegalauan hati manusia. Ada orang yang dapat mengalami kesembuhan berkat deburan ombak yang ramah.

Sementara batu yang kokoh itu dapat menjadi simbol ketegaran hati manusia. Batu yang kokoh itu bagai hati manusia yang kokoh yang tak terpengaruh oleh terjangan erosi jaman. Hati yang kokoh itu tidak mudah ditemukan. Hati yang kokoh itu dibangun melalui proses perjalanan yang lama. Ada kalanya orang gagal. Ada kalanya orang merasa putus asa. Namun proses seperti ini mesti dilalui untuk memiliki hati yang kokoh.

Memiliki hati yang kokoh itu tidak berarti memiliki hati yang kaku dan keras. Hati yang kokoh dan kuat itu hati yang memiliki kepastian hidup. Hati yang terarah kepada kebenaran dan kesempurnaan. Memang, tidak mudah. Namun orang mesti berusaha memiliki hati yang kokoh, agar tidak mudah dipengaruhi oleh kejahatan-kejahatan dunia. Kejahatan itu selalu menggoda manusia untuk meninggalkan imannya. Ini yang mesti diwaspadai oleh setiap orang beriman.

Sebagai orang beriman, kita ingin membangun hidup yang baik dalam hidup sehari-hari. Hidup yang baik itu hidup yang selalu terarah kepada kebaikan. Hidup yang senantiasa mengandalkan Tuhan. Hidup yang menuju kepada Tuhan yang merupakan sumber kebaikan. Mari kita membangun hidup yang kokoh dengan mengandalkan kebaikan Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

(120)

Saling Menguatkan dalam Hidup Bersama


Guilemot adalah sejenis burung laut yang senang hidup berkelompok. Ribuan burung ini hidup bersama di puncak tebing dan batu karang. Karena tidak pandai membuat sarang, mereka hanya meletakkan telur di atas batu karang atau di tanah terbuka. Untung, telur mereka tidak mudah jatuh dari tebing, karena memiliki bentuk yang unik, yaitu seperti buah pir dengan salah satu ujung lebih runcing daripada ujung lainnya. Bentuk yang unik ini membuat telur mereka hanya menggelinding melingkar jika didorong atau terantuk.

Karena burung Guilemot tinggal di tebing batu karang yang sulit dijangkau, sebagian besar pemburu darat tidak bisa mengambil burung ini atau telur mereka. Untuk menghadapi burung lain yang mau mencuri telur mereka, seluruh kawanan burung itu bersatu memekik dan mematuk musuh-musuhnya. Kebersamaan mereka dan kepandaian mereka mencari tempat berlindung benar-benar patut mendapat acungan jempol.

Kehidupan bersama di jaman sekarang masih dibutuhkan. Orang yang hanya mau hidup sendiri biasanya akan kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Ia tidak bisa mempertahankan cara hidupnya. Cepat atau atau lambat orang seperti ini akan tenggelam dalam persoalan hidupnya sendiri.

Karena itu, orang butuh sesama dalam hidup ini. Ada sesama yang ekslusif. Ada sesama yang inklusif. Yang penting adalah orang mau hidup dalam kebersamaan. Kisah di atas mau menunjukkan kepada kita betapa pentingnya hidup bersama itu. Burung-burung itu dapat mempertahankan hidup mereka dari serangan musuh-musuh.

Tentu saja hidup bersama yang kita bangun bukan pertama-tama untuk menghadapi musuh-musuh. Tetapi kita bangun hidup bersama untuk suatu kehidupan yang lebih baik dalam lingkungan kita.

Untuk itu, orang beriman itu mesti belajar hidup berkelompok seperti burung Guilemot. Kita mesti berani hidup berdampingan dalam persekutuan, sehingga kelemahan kita ditutupi oleh yang lain. Kelemahan orang lain ditutup oleh kekuatan kita. Ketika menghadapi persoalan yang berat, kita mesti saling mendukung. Suasana seperti ini paling ideal dikembangkan dalam kelompok kecil, yang jumlah anggotanya tidak begitu besar. Tujuannya untuk membangun kebahagiaan bersama. Kita membangun kepedulian di antara kita. Mengapa? Karena kita tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Kita diciptakan untuk hidup bersama dalam suatu komunitas tertentu.

Mari kita berusaha membangun kebersamaan sebagai orang-orang beriman. Dalam kebersamaan itu kita dapat membaktikan hidup kita bagi orang lain. Kita dapat membagikan pengalaman-pengalaman hidup kita kepada sesama. Kita dapat saling menguatkan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.(119)