Pages

15 Januari 2010

Peka terhadap Suara Tuhan


Lebih dari 200 orang luka parah dan 60 orang kehilangann nyawanya ketika Hotel LaSalle di kota Chicago, Amerika Serikat, terbakar pada dini hari tanggal 5 Juni 1947 lalu. Sepuluh orang di antaranya meninggal, karena melompat dari jendela kamar mereka di lantai atas.

Sebelum api mengamuk, seorang usahawan Chicago menelepon istrinya dari salah satu kamar hotel itu. Dia memberitahunya bahwa ia sedang bermain kartu dengan beberapa temannya. Istrinya menyuruhnya pulang. Namun usahawan itu keberatan. Ia tidak peduli atas permintaan istrinya itu. Usahawan itu mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan satu putaran lagi baru kemudian pulang ke rumah. Tetapi beberapa menit sebelum permainan kartunya selesai, api berkobar. Usahawan itu mati dalam nyala api yang mengerikan itu.

Para regu penolong menyeret tubuhnya yang hangus dari reruntuhan hotel itu keesokan harinya. Semua itu menimpanya, karena dia tidak mau berhenti berjudi sampai satu putaran lagi.

Hidup manusia itu tidak diketahui kapan berakhir. Caranya berakhirnya hidup itu pun tidak pernah diketahui. Seolah-olah dalam hidup ini orang meraba-raba tentang hari esoknya. Orang tidak bisa memastikan apakah semenit kemudian dia masih hidup atau sudah meninggal.

Kisah di atas menunjukkan bahwa orang tidak peduli akan hidupnya. Orang hanya mencintai dirinya sendiri dengan mengikuti kesenangan pribadinya. Orang tidak peduli bahwa ada sesamanya yang membutuhkan kehadirannya. Kesenangan pribadi itu ternyata berakibat fatal terhadap hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus hidup di bawah naungan Tuhan. Orang yang hidup di bawah naungan Tuhan itu senantiasa mendengarkan suara Tuhan. Tuhan berbicara lewat orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan berbicara lewat tanda-tanda yang ada di sekitar kita. Karena itu, kita dituntut untuk peka terhadap suara Tuhan itu. Kita dituntut untuk peka terhadp tanda-tanda jaman di sekitar kita.

Setiap hari kita menerima banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Hal-hal itu merupakan tanda-tanda jaman di mana kita masih diberi perlindungan oleh Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan senantiasa menyertai perjalanan hidup kita.

Karena itu, mari kita syukuri penyertaan Tuhan itu dan senantiasa mendengarkan suaraNya dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
296
Bagikan

14 Januari 2010

Keselarasan antara Pengungkapan dan Penghayatan Iman



Suatu malam, seorang suci bermimpi dibawa ke surga. Pada saat dia berjalan melalui jalan-jalan yang terbuat dari emas, dia melihat sekumpulan benda yang dikiranya adalah siput. Dia bertanya, “Apa yang sedang dilakukan siput-siput di sini?”

Tiba-tiba terdengar jawaban, “Mereka itu bukan siput. Mereka itu telinga dari orang-orang yang mendengarkan kebenaran, tetapi tidak pernah mengindahkannya. Telinga mereka ada di sini, tetapi tubuh mereka berada di neraka.”

Tidak berapa lama kemudian, orang suci itu melihat setumpukan benda lain yang dikiranya ular kecil. Dengan nada yang semakin heran, dia bertanya, “Mengapa ular-ular ini berada di surga?”

Lantas ia mendengar lagi jawaban, “Mereka itu bukan ular. Mereka itu lidah orang-orang yang menyampaikan kebenaran kepada orang lain, tetapi hidup mereka jauh dari kebenaran yang mereka serukan. Lidah mereka ada di sini, tetapi tubuh mereka berada dalam siksaan di neraka.”

Kisah ini mengungkapakan ketimpangan antara iman dan perbuatan. Ada orang yang merasa bahwa beriman saja itu sudah cukup. Orang tidak usaha lagi menghayatinya dalam hidup sehari-hari. Iman seperti ini adalah iman yang mati. Iman yang tidak menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri sendiri. Akibatnya, orang tidak memiliki keselamatan kekal.

Ada dua hal dalam hidup manusia berkenaan dengan iman, yaitu pengungkapan iman dan penghayatan iman. Pengungkapan iman itu berkenaan dengan ibadat yang dilakukan di rumah-rumah ibadat. Pengungkapan iman itu berkenaan dengan doa-doa dan puji-pujian yang dilambungkan kepada Tuhan. Ibadat, doa dan puji-pujian yang dilambungkan kepada Tuhan itu mesti berasal dari hati yang terdalam.

Penghayatan iman itu berkenaan dengan perbuatan nyata dalam hidup sehari-hari. Iman yang mendalam itu akan tampak dari perbuatan seseorang. Iman yang yang hidup itu tampak nyata dari cara hidup seseorang. Biasanya orang yang sungguh-sungguh beriman akan tampak dalam perbuatan baik seseorang. Misalnya, orang tidak mudah marah. Orang sabar dalam hidup ini. Orang mudah memaafkan kesalahan sesamanya. Ia tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Tetapi ia selalu menyediakan beribu-ribu pengampunan bagi sesama yang melakukan dosa dan kesalahan. Orang yang selalu memiliki cinta yang sejati kepada sesamanya dalam hidup yang konkret seperti mau membantu sesamanya yang berkekurangan.

Nah, kalau terjadi keharmonisan antara pengungkapan iman dan penghayatan iman, orang akan mengalami sukacita dan kebahagiaan dalam hidupnya. Kebahagiaan itu akan ia rasakan sungguh menjadi nyata dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menjaga keselarasan antara dua hal ini. Dengan demikian, kebahagiaan dan damai senantiasa menjadi bagian dari hidup kita. Kebahagiaan itu bukan hanya suatu impian. Tetapi kebahagiaan itu menjadi nyata dalam hidup yang konkret. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

303

Bagikan

Memberi Perhatian bagi Mereka yang Membutuhkan

Suatu hari seorang bapak yang sedang sakit sekarat meminta anaknya untuk membelikan obat yang sangat dibutuhkannya. Tetapi anaknya itu mengatakan kepadanya bahwa apotik tidak punya obat yang dibutuhkan ayahnya. Hal itu ia lakukan, karena ia malas untuk keluar di malam hari. Padahal ia bukan anak kecil lagi.

Penyakit ayahnya tambah parah. Kalau saja anak itu mau membeli obat itu, ayahnya tidak terlalu banyak menderita. Ketika melihat penyakit ayahnya semakin parah, akhirnya ia pergi juga untuk membeli obat. Namun terlambat.

Ayahnya hanya bisa berkata kepada anak itu yang menangis tersedu-sedu, “Kasihilah saya dan selalu katakan yang benar. Tuhan tahu apa yang ada di dalam hatimu. Sekarang cium saya dan selamat tinggal.”

Beberapa saat kemudian ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. Anak itu hanya bisa memandang obat yang dibelinya dengan mata basah oleh air mata. Ia menyesali perbuatannya. Ternyata ayahnya lebih membutuhkan obat kejujuran daripada obat yang dibelinya dengan bermalas-malasan.

Perbuatan yang dianggap sepele seringkali menentukan hidup orang lain. Bantuan, meski kecil, akan sangat menolong orang yang sedang membutuhkannya. Apalagi orang yang sedang sakit sekarat. Untuk itu, dibutuhkan orang yang mudah peka terhadap situasi di sekitarnya. Kepekaan untuk tanggap terhadap situasi di sekitar akan mampu membantu orang menyelamatkan sesamanya yang sedang menderita.

Dalam hidup ini kita berhadapan dengan berbagai kebutuhan dari sesama kita. Mereka yang paling dekat dengan kita mesti mendapatkan perhatian yang lebih. Mengapa? Karena merekalah yang menjadi partner hidup kita dalam untung dan malang. Untuk itu, orang mesti belajar untuk terus-menerus memberi perhatian terhadap orang-orang yang dekat dengannya. Dengan belajar memperhatikan itu orang akan mudah untuk peka terhadp kondisi dan situasi sesamanya.

Tugas setiap orang beriman adalah memberi perhatian terhadap sesamanya yang membutuhkan pertolongannya. Memberi perhatian itu bagian dari iman. Hal ini merupakan perwujudan dari iman akan Tuhan. Tuhan begitu menyayangi ciptaanNya. Ia menghendaki agar ciptaanNya itu juga saling memberikan perhatian. Dengan demikian, hidup menjadi lebih harmonis.

Setiap hari kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan. Mari kita bawa semua itu dalam hidup kita hari ini. Dengan demikian, hari ini menjadi hari yang damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

302


Bagikan

Kejujuran Itu Bersumber dari Hati Nurani yang Jernih

Beberapa waktu lalu seorang gadis ingin sekali memiliki SIM C. Dia berusaha mengikuti semua aturan, termasuk mengikuti ujian tertulis dan praktik. Ujian tertulis dia lalui dengan sangat memuaskan. Semua soal yang diberikan dia jawab semua. Dan semua benar. Namun apa lacur, dia gagal di ujian praktik.

Dia gagal di ujian praktik membawa motor di jalur zigzag. Salah satu kakinya menyentuh aspal di tempat ujian itu.

Karena gagal, dia pun berusaha menyogok petugas polisi. Dalam bayangannya, polisi itu akan mau meluluskannya. Tapi anggapannya salah. Justru dia dinasihati petugas polisi itu karena berusaha menyogoknya.

Seolah tidak ada jalan lagi, dia mengeluh, “Duh, susahnya membuat SIM.”

Tidak berapa lama saat berada di tempat pembuatan SIM, seorang petugas mengumumkan, “Bapak ini telah menyogok polisi sebesar 20 ribu rupiah.” Polisi itu menunjuk seorang pria yang tertunduk lesu.

Gadis itu pun terdiam. Seandainya polisi yang dia coba sogok itu terima saja uangnya, mungkin dia juga akan diumumkan seperti pria itu. Betapa malunya dia. Untung, polisi itu menasihatinya untuk tidak menyogok polisi.

Dalam benaknya, gadis itu memang sangat kesal. Mengapa saat ini membuat SIM itu sangat sulit dan petugas pun tidak mau disogok? Karena gagal, akhirnya dia diberi waktu dua minggu untuk kembali menjalani praktik lapangan.

Kisah di atas sungguh-sungguh terjadi di Jakarta dua tahun lalu. Waktu itu pihak kepolisian memperketat semua bentuk pengurusan SIM. Kepolisian RI tidak mau dicap sebagai lembaga terkorup di Indonesia. Mereka mulai berusaha untuk membersihkan diri.

Sogok menyogok memang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memperlancar usaha, orang berani mengeluarkan uang dalam jumlah besar sebagai pelicin. Demi sepucuk surat ijin, orang berani melakukan apa saja, termasuk menyogok. Sebenarnya, sogok menyogok itu menghilangkan suasana fairness, suasana sehat dalam bersaing. Orang ingin menang sendiri. Orang mau memaksakan kemauannya sendiri.

Tentu kondisi seperti ini menghalangi kemampuan orang lain untuk bersaing secara sehat, secara jujur. Karena itu, kejujuran mesti diutamakan. Kalau polisi sudah mulai menciptakan kejujuran dengan menolak sogok pembuatan SIM, kita berharap bahwa akan banyak aspek kehidupan terjadi dalam suasana yang jujur pula.

Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan, kita mesti belajar untuk mengendalikan diri kita. Keinginan untuk berkuasa, untuk memiliki kekayaan yang sebanyak-banyaknya mesti dikendalikan. Kalau tidak dikendalikan akan terjadi ketidakharmonisan dalam hidup kita. Orang yang tidak jujur biasanya dikejar terus-menerus oleh teguran suara hatinya. Akibatnya, ia tidak tenang dalam hidupnya. Ia tidak damai, karena merasa diri ditekan terus oleh suara nuraninya yang jernih.

Mari kita berusaha jujur dalam hidup kita. Kita berusaha untuk senantiasa memiliki hati nurani yang jernih. Dengan demikian, hidup kita menjadi tenang di hadapan Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
295
Bagikan

13 Januari 2010

Menciptakan Suasana yang Baik dalam Keluarga


Ada seorang petani yang menyebarkan benih padi untuk sawahnya. Dua minggu kemudian ia berharap bahwa benih padi itu sudah tumbuh dan akan dipindahkan ke sawah yang sudah siap ditanami. Seminggu sekali ia datang untuk melihat benih padi itu. Ia mendapati tidak semua benih padi yang ia sebar itu tumbuh. Selidik punya selidik, ternyata ada benih yang tidak baik. Padahal benih itu ia beli dengan uangnya sendiri. Tidak ada subsidi dari pemerintah. Ia agak kecewa. Karena itu, ia bertekad untuk menanam dengan benih yang sudah tumbuh itu. Ia berjanji untuk lebih hati-hati lagi lain kali kalau membeli bibit.

Setelah menanami sawahnya, tiga bulan kemudian ia mulai memanen hasilnya. Ia kembali dibuat kaget, karena tidak semua pohon padi menghasilkan benih yang baik. Ia mulai tidak puas dengan hasil pekerjaannya. Namun ia tidak putus asa. Ia bertekad untuk menyimpan benih dari hasil sawahnya itu. Karena itu, ia menyimpan padi yang baik untuk bibit di musim tanam yang akan datang.

Benar. Ketika benih itu ia semaikan, hasilnya luar biasa. Benih yang baik itu tumbuh dengan sangat baik. Hasil panennya pun melimpah. Ia berusaha untuk tetap menyimpan benih yang baik dari hasil panennya itu. Ia memisahkan padi yang terbaik untuk bibit di musim tanam berikutnya. Begitu ia lakukan terus-menerus kebiasaan itu. Ia tidak perlu kecewa atas benih tidak baik yang ia beli. Ia sendiri sudah menyediakannya sendiri.

Suatu kebiasaan baik akan selalu terpelihara dengan baik. Kebiasaan baik itu dapat dilestarikan. Demikian juga dalam mendidik anak-anak. Orangtua mesti memiliki suatu kebiasaan baik yang bisa menjadi contoh bagi anak-anak mereka.

Dorothy Law Nolte menulis pendapatnya dalam buku Children Lerarn What They Live demikian, “Bila anak dibesarkan dalam celaan, maka ia belajar memaki. Bila anak dibesarkan dalam permusuhan, maka ia belajar berkelahi. Bila anak dibesarkan dalam penghinaan, maka ia belajar menyesali diri. Bila anak dibesarkan dalam toleransi, maka ia belajar sabar dan bertahan diri. Bila anak dibesarkan dalam kejujuran, maka ia belajar keadilan. Bila anak dibesarkan dalam kasih dan persahabatan, maka ia belajar cinta yang mendalam.”

Pendidikan awal bagi seorang anak itu sangat menentukan bagi hidup selanjutnya seorang anak. Suatu awal selalu mempunyai pernanan penting dalam pertumbuhan seorang manusia. Karena itu, suasana dalam hidup berkeluarga akan sangat menentukan proses pertumbuhan seorang anak di dalam keluarga. Kalau orangtua menyadari peranan mereka dalam mendidik anak-anak, maka mereka mesti memulainya sejak awal. Hidup mereka mesti dikuasai oleh suasana cinta kasih dan persaudaraan. Dengan demikian, anak-anak yang lahir dalam keluarga itu memiliki suatu hidup yang baik. Mereka tumbuh dalam suasana kasih dan persaudaraan.

Mari kita menciptakan suasana yang baik dalam keluarga kita. Dengan demikian, anak-anak dalam keluarga mampu belajar yang baik. Mereka dapat saling mengasihi dan kasih itu akan terpancar dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
294
Bagikan

12 Januari 2010

Dipanggil untuk Saling Mengampuni


Seorang bapak menceritakan pengalaman traumatisnya semasa kecil sampai remaja, yang menjadi bagian tak terlupakan dalam sejarah hidupnya. Dia anak seorang guru teladan yang menerapkan sistem hukuman fisik dalam mendidik anak-anaknya di rumah. Karena sebagian besar anak di keluarganya laki-laki, perilaku orangtuanya semakin terwajarkan secara jender.

Bapak itu berkata, “Dipukuli dan dibentak adalah makanan kami sehari-hari sejak umur lima tahun, bahkan sampai remaja lima belas tahun.” Matanya yang marah seketika berubah menjadi berair mata saat dia mencoba menceritakan satu per satu kisah hidupnya.

Karena itu, ketika dia membaca atau menonton televisi yang memberitakan kekerasan terhadap anak dan remaja, ingatan masa lalunya terngiang kembali di benaknya. Semua itu masih terekam sempurna dalam ingatan seseorang yang telah dewasa.

Di tengah budaya masyarakat tradisional Indonesia, hukuman fisik dianggap mujarab dalam mengarahkan tingkah laku anak yang tidak sesuai dengan etika kebiasaan masyarakatnya. Sejarah pendidikan kolonial ikut pula terlibat dalam membangun pola pendidikan tradisional yang melegitimasikan aksi hukuman fisik, berupa suatu tindakan yang menyakiti secara fisik, dengan tujuan untuk menekan perilaku negatif seorang anak. Melalui itu dipercaya bahwa perilaku positif anak saja yang akan terbentuk.

Pertanyaannya, mengapa mesti terjadi kekerasan dalam pendidikan? Menurut para ahli, terjadinya kekerasan yang dilakukan seorang pendidik itu karena ia sudah kehilangan akal. Akibatnya, emosinya yang bermain. Ia tidak kreatif dalam mengarahkan anak didiknya yang sulit diatur di dalam kelas. Alasan klasik yang dibuat adalah agar anak didik memiliki disiplin dalam hidup mereka.

Tentu kita semua prihatin menyaksikan, membaca atau mendengar kekerasan masih terjadi di sekolah. Semestinya lembaga pendidikan menjadi tempat untuk menanamkan nilai-nilai yang baik seperti mampu mengendalikan emosi, mampu mengampuni yang melakukan kesalahan.

Sebagai orang yang beriman, kita ingin belajar untuk mampu memaafkan mereka yang melakukan kesalahan orang lain seberapa besar dan banyak pun kesalahan itu dilakukan. Mengapa? Karena kita juga manusia yang lemah yang kadang-kadang atau sering melakukan kesalahan.

Orang yang mampu mengampuni kesalahan sesamanya adalah orang yang selalu mau melihat sisi positif orang lain. Sejelek-jeleknya orang, ia masih memilik hal baik dan positif yang mesti ditumbuhkembangkan dalam hidup ini.

Kita semua dipanggil untuk saling mengampuni ketika ada sesama yang bersalah. Semangat mengampuni mesti menjadi bagian hidup orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Tuhan juga selalu mengampuni dosa dan kesalahan kita. Karena itu, kita juga mesti mengampuni sesama yang bersalah kepada kita.

Setiap hari ini kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita pelihara kebaikan itu dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


291

Bagikan

11 Januari 2010

Membiarkan Tuhan Terlibat dalam Hidup Kita


Benyamin Langham tidak beda dengan balita lainnya. Tetapi ia lahir dari keluarga yang sebelumnya dinyatakan tidak mungkin bisa mendapatkan keturunan. Ayah kandung Benyamin lumpuh total. Namun keajaiban terjadi.

Orangtua Benyamin mengikuti suatu pilot project yang dijalankan di sebuah klinik kesuburan terkenal di London. Pelopor pengobatan baru yang memungkinkan jutaan pasangan tak subur lainnya memiliki keturunan. Di Inggris, setiap tahun tercatat 400 pria muda mengalami kecelakaan fatal yang membuat mereka lumpuh dari pinggang ke bawah. Secara teoritis, kecelakaan seperti itu membuat mereka tidak mungkin bisa membuahi atau mempunyai anak.

Melalui pilot project di London itu, ayah Benyamin dapat mengikuti berbagai program. Akhirnya, ia dapat mempunyai anak. Benyamin lahir dari pilot project itu. Ia lahir sebagai anak yang istimewa, karena secara normal sebenarnya ayahnya sudah tidak mampu lagi mempunyai anak.

Kisah seperti di atas juga kadang-kadang terjadi di sekitar kita. Ada keluarga yang sudah lama menikah, tetapi belum dikaruniai anak. Banyak dari mereka yang terus-menerus berusaha untuk memiliki anak kandung sendiri. Berkat kerja keras dari pasangan seperti ini suatu ketika Tuhan mengaruniakan kepada mereka buah hati yang mereka dambakan. Tentu saja mereka akan sangat mensyukuri hal ini.

Sebagai orang beriman, hal ini mesti dilihat dari terang iman. Artinya, ada campur tangan Tuhan dalam proses-proses yang terjadi secara ajaib seperti ini. Kalau Tuhan tidak ikut campur tangan dalam hal-hal seperti ini, maka apa pun usaha manusia akan sia-sia belaka.

Seorang yang memiliki maksud baik untuk kelangsungan generasinya tentu tidak akan memalingkan diri begitu saja dari penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Baginya, Tuhan mesti mendapat tempat utama dalam hidupnya. Tuhan mesti menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya. Hidup yang ia jalani ini berkat kasih karunia Tuhan atas dirinya.

Ada orang yang membanggakan semua maksud baiknya dan keberhasilan dalam hidupnya sebagai usaha-usahanya sendiri. Ini baik. Tetapi ia juga mesti sadar bahwa ia selalu bersama orang lain dan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Karena itu, suatu kesombongan hanya akan membawa orang seperti ini ke dalam jurang kebinasaan.

Karena itu, sebagai orang beriman kita ingin agar hidup dan karya kita senantiasa berjalan di bawah bimbingan Tuhan yang mahapengasih dan mahapenyayang. Orang yang berada di bawah naungan Tuhan akan selalu mengalami kebahagiaan. Ia tidak merasa hidup ini sebagai suatu keterpaksaan. Justru ia akan mengalami suatu sikap bebas dalam mengekspresikan dirinya. Syaratnya adalah orang mau menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Orang membiarkan Tuhan terlibat dalam hidupnya.

Mari kita berusaha untuk hidup di bawah naungan Tuhan. Kita menciptakan suasana, agar Tuhan mau terlibat dalam persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




293

Bagikan

Perbuatan Baik yang Membahagiakan



Ketika terjadi wabah SARS di Hongkong beberapa tahun lalu, seorang dokter merawat begitu banyak pasien. Ia tidak kenal lelah merawat mereka. Ia sangat setia mendatangi para pasien yang dirawat di ruangan khusus itu. Ada pasien yang sembuh lalu pulang ke rumahnya. Ada pasien yang tidak bisa tertolong.

Suatu hari virus SARS pun hinggap ke diri dokter itu. Ia mengalami suatu penderitaan yang luar biasa. Akhirnya, ia sendiri meninggal dunia. Sebenarnya dokter itu bisa saja menghindari tugas itu. Tetapi ia justru merawat para pasien SARS itu dengan sukacita. Penderitaan yang dia alami merupakan konskuensi dari pekerjaannya. Itulah pengorbanan dirinya. Karena itu, ia mengalami sukacita di saat-saat ia terserang virus yang sama.

Melihat kerelaan, kesetiaan dan sukacita dokter itu dalam merawat para pasien, para kerabat dan teman-temannya tidak meratapi kepergiannya. Justru mereka mengadakan ucapara pemakaman dengan sukacita. Mereka menyanyikan lagu-lagu gembira saat penguburannya. Suasana seperti ini membuat para peliput acara pemakaman itu terheran-heran. Mengapa mereka tidak sedih, karena kehilangan dokter yang setia dan baik hati itu?

Jawabannya adalah suatu perbuatan baik itu mesti disyukuri. Dokter itu telah melakukan perbuatan yang sangat baik dengan merawat para pasien. Ia mengorbankan hidupnya demi hidup sesama. Dari pengorbanannya itu banyak pasien diselamatkan.

Suatu perbuatan baik itu menjadi suatu kesaksian hidup bagi orang lain. Namun perbuatan baik itu selalu dibarengi dengan semangat berkorban. Tentu semangat ini bersumber dari semangat cinta kasih yang besar terhadap hidup orang lain. Biasanya perbuatan baik yang dilandasi oleh kasih yang besar membuat orang bahagia dalam hidupnya. Meski penderitaan datang menghadang, orang seperti ini akan mengalami suatu sukacita dalam hidupnya. Penderitaan yang ia alami itu ditutup oleh pengorbanan dan cinta kasih yang dilakukannya bagi orang lain.

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah perbuatan baik yang penuh pengorbanan itu bukan sekedar suatu kempensasi. Kalau hal ini terjadi, orang yang berbuat baik itu akan selalu mengeluh atas pengorbanan demi pengorbanan yang dilakukannya. Karena itu, orang mesti memiliki hati yang tulus murni dalam melakukan perbuatan baik bagi sesama di sekitarnya. Ia tidak boleh melakukannya karena terpaksa.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar perbuatan baik yang kita lakukan itu didasarkan pada semangat cinta kasih yang besar kepada sesama kita. Pengorbanan yang kita lakukan bagi sesama itu mesti tumbuh dari hati yang tulus murni. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan menemukan kebahagiaan dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Setiap hari ini kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita bawa semua itu dalam hidup kita. Kita serahkan semua itu kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang akan memberi kita damai pada malam ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



292
Bagikan

Membantu Sesama yang Mengalami Kesulitan




Ada seorang yang buta sejak kecil. Ia ingin sekali melihat indahnya dunia. Tetapi keinginannya itu hanyalah suatu mimpi panjang. Kalau tidak dibantu, ia tentu tidak akan dapat melihat.

Suatu hari, ia berusaha mencari pertolongan dari orang lain untuk membantu pekerjaannya. Kebetulan orang buta ini juga seorang pengarang prosa dan puisi. Ia menulis menggunakan huruf-huruf brail. Tulisan-tulisannya pernah diterbitkan oleh beberapa surat kabar dan juga dibukukan.

Menurut pengakuannya, ia dapat menulis berkat bantuan saudara-saudara di sekitarnya. Mereka menolongnya untuk mencarikan mesin ketik yang bisa ia pakai untuk menuangkan ide-idenya. Atau ada juga yang merekam kata-katanya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah tulisan yang indah.

Hasil karyanya pun dikirim oleh saudaranya ke surat kabar atau majalah. Ketika ia mau menerbitkan sebuah buku, saudara-saudaranya itu membantunya dari awal hingga pemasaran. Dalam kondisi seperti itu, orang buta itu merasa sangat bahagia. Ia gembira ada orang-orang yang begitu memiliki perhatian yang besar terhadapnya. Betapa indah hidup ini.

Karena itu, ia memutuskan untuk tidak mencari penyembuhan atas matanya. Ia berkata, “Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki sekarang ini. Tuhan tentu punya maksud baik bahwa saya memiliki mata yang buta. Saya tidak mau merajuk kepada Tuhan.”

Di sekitar kita, kita jumpai begitu banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita. Mereka merindukan tangan-tangan yang mampu menjamah mereka dengan hati yang tulus. Bantuan meski kecil sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Di sekitar kita ada orang-orang yang kurang beruntung. Misalnya, para tunanetra, penderita kusta atau orang-orang jompo. Mereka semua membutuhkan bantuan dari kita. Sering orang hanya terharu melihat penderitaan sesamanya. Orang kurang tergerak hatinya untuk mengulurkan tangan bagi sesamanya yang menderita.

Karena itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk memberikan perhatian kepada mereka yang mengalami kesusahan dalam hidup ini. Ketika kita membantu mereka, sebenarnya kita mendidik diri kita untuk memiliki hati yang peka terhadap sesama. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


290
Bagikan

10 Januari 2010

Menabur Kasih, Menuai Kebaikan

Suatu hari seorang anak bertengkar dengan ayahnya. Soalnya sebenarnya sepele saja, yaitu ayahnya tidak mau membelikan permen kesukaannya. Anak itu memberontak. Anak itu bahkan mengancam ayahnya. Sang ayah pun tidak mau mengalah. Ia mengancam balik kepada anaknya itu.

Melihat anaknya tidak mau mengalah, sang ayah menampar pipinya kuat-kuat. Pipi anak itu merah. Ia langsung menangis. Segera ia berlari keluar rumah dan naik ke tebing karang yang terjal di tepi laut.

Dari atas tebing itu ia berteriak bahwa ia akan terjun dari atas tebing yang tinggi itu. Ia ingin mati tenggelam dalam laut itu. Orang-orang tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

Ayahnya berlari menyusul. Seluruh keluarga dan separuh desa ikut terlibat menyelamatkan anak yang nekat itu. Dengan berbagai upaya, akhirnya mereka berhasil menghentikan anak itu dan membawanya pulang ke rumah. Namun hubungan antara anak dan ayah itu tidak pernah pulih kembali. Meski ayahnya sudah meminta maaf atas tindakannya yang keras, anak itu tetap tidak mau memaafkan ayahnya. Anak itu tumbuh menjadi pria yang bermuka masam. Tampak ia tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya.

Pendidikan yang salah pada awal pertumbuhan seorang manusia sering membawa orang tumbuh menjadi pribadi yang mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Apalagi ada luka batin yang begitu dalam dan lama bertahan dalam diri seseorang. Orang hidup, namun ada hal-hal yang terpaksa yang dijalaninya. Kondisi seperti ini seringkali menghancurkan kehidupan manusia.

Karena itu, suatu pendidikan yang mendahulukan kasih dan persaudaraan mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia. Ada pepatah yang mengatakan siapa yang menabur angin akan menuai badai. Tetapi yang menabur kasih akan menuai kebaikan demi kebaikan.

Kiranya pepatah ini sangat tepat diterapkan dalam hidup manusia di jaman sekarang ini. Kini kita mengalami banyak kesulitan hidup karena berbagai kebobrokan yang terjadi. Ada KKN yang begitu menguasai hidup manusia menjadi penghalang bagi kehidupan bersama yang harmonis. Ada kecemburuan sosial yang begitu tinggi dalam kehidupan bersama. Ada juga kecurigaan di antara warga bangsa ini. Terjadi kesenjangan yang begitu dalam antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Untuk itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani mengubah cara pendidikan yang salah yang dilakukan oleh keluarga-keluarga. Cara-cara keras bukan lagi menjadi andalan dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Pendidikan mesti diarahkan pada pembatinan nilai-nilai cinta kasih dan persaudaraan. Mari kita coba mendidik generasi penerus bangsa ini dengan kasih yang mendalam. Kasih yang kita taburkan dalam diri mereka akan menghasilkan banyak kebaikan dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

288


Bagikan