Pages

15 Januari 2011

Belajar untuk Tidak Menuntut Tuhan

Ada seorang pemuda yang taat berdoa. Ia sedang berpacaran dengan seorang gadis muda yang baik hati. Keduanya adalah dua konglomerat kaya. Masing-masing mereka selalu berdoa, “Tuhan berikanlah aku pasangan yang menurut Engkau terbaik...”

Setelah mereka menikah, keadaan berubah. Doa mereka berubah menjadi, “Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik.”

Tetapi setelah tujuh tahun menikah, mereka belum dikaruniai anak. Namun setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Tuhan ternyata mendengarkan doa mereka. Kali ini doa mereka berubah lagi, “Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.”

Setelah sembilan bulan sang istri mengandung, lahirlah seorang anak bagi mereka. Seorang anak laki-laki. Sang ayah langsung melonjak kegirangan. Tetapi setelah tiga hari, sang dokter memanggil sang ayah ke rumah sakit. Dokter itu berkata, ”Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada Anda. Apakah Anda siap menerimanya?”

Si ayah menjawab, ”Kabar apapun, saya siap menerimanya. Saya siap menghadapi yang terburuk”

Dokter itu mengatakan bahwa putranya tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain. Putranya akan menderita suatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan, yaitu cacat mental yang serius.”

Sambil menitikkan air mata, sang ayah berdoa, ”Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik. Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu.”

Sahabat, biasanya orang yang doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan itu mengeluh. Mereka menuntut keadilan dari Tuhan. Mereka sering memaksa Tuhan untuk mengabulkan doa-doa mereka. Padahal dikabulkan atau tidak doa-doa mereka itu bukan urusan mereka. Tuhan yang punya urusan terhadap terkabulnya doa seseorang.

Karena itu, kisah tadi menunjukkan suatu iman yang sangat mendalam kepada Tuhan. Sang ayah begitu pasrah kepada Tuhan. Apa pun yang diberikan oleh Tuhan ia terima dengan sukacita. Ia tidak mengeluh. Ia tidak menuntut Tuhan untuk mengabulkan doa-doanya sesuai dengan kehendak pribadinya. Yang ia inginkan adalah kehendak Tuhan terjadi atas dirinya. Bukan kehendaknya yang ia paksakan kepada Tuhan.

Orang yang bersikap seperti ini biasanya orang yang bahagia dalam hidupnya. Orang yang hidup apa adanya. Meski ia memiliki segala sesuatu yang ia butuhkan untuk hidupnya, ia tetap merendahkan dirinya di hadapan Tuhan. Baginya, Tuhan adalah segalanya dalam hidupnya. Hanya Tuhan yang dapat memberikan yang terbaik bagi dirinya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk tetap menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Sikap iman yang benar adalah sikap pasrah. Suatu sikap yang hanya mengandalkan Tuhan di dalam hidup ini. Sikap seperti ini mendatangkan sukacita dan damai dalam hidup ini. Mari kita belajar untuk berdoa penuh iman kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


591

13 Januari 2011

Memelihara Sikap Optimis dan Positif

Suatu hari ada seorang murid yang terlambat masuk kelas. Padahal hari itu adalah ujian semester kenaikan kelas. Matapelajaran yang diuji hari itu adalah matapelajaran yang sulit, yaitu Matematika. Namun ia masih sempat mengerjakan soal-soal Matematika tersebut. Ia mengerjakannya dengan baik dan benar. Ia tidak merasa bahwa semua soal Matematika itu sulit baginya. Ia mengerjakan soal-soal itu dengan penuh optimis dan dengan perasaan positif.

Padahal dalam kata pengantarnya sebelum ujian, guru Matematika mengingatkan murid-muridnya agar mereka hati-hati. Soalnya adalah ada dua soal yang sangat sulit. Belum pernah ada murid yang berhasil mengerjakan dua soal itu dengan baik. Karena itu, murid-murid menjadi cemas dan berpikir yang bukan-bukan. Mereka dilanda oleh sikap pesimis. Hasilnya, tidak seorang pun dari mereka yang dapat mengerjakan dua soal itu dengan benar.

Hanya satu orang murid yang dapat mengerjakan dua soal itu dengan baik dan benar. Dia adalah murid yang datang terlambat itu. Dialah murid pertama yang dapat mengerjakan soal itu dengan baik dan benar. Ketika ditanya, murid itu mengatakan bahwa ia tidak punya pikiran yang negatif tentang dua soal Matematika itu. Ia mengerjakannya dengan bebas. Tidak ada tekanan apa-apa.

Sahabat, berpikir dan bertindak optimis dalam hidup itu menyenangkan. Apalagi hal itu disertai dengan sikap positif terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Orang yang demikian biasanya akan menemukan kesuksesan dalam hidupnya. Orang tidak merasa tertekan dalam hidupnya. Sebaliknya orang merasa memiliki kebebasan dalam mengerjakan hal-hal yang berguna bagi dirinya dan sesama.

Kekuatan pikiran positif membantu seseorang untuk bertumbuh dalam hidupnya. Kekuatan optimisme mendorong orang untuk senantiasa bertahan dan mengerjakan segala sesuatu dengan enteng. Orang seperti ini akan menemukan keindahan dalam hidupnya. Orang seperti ini akan terus-menerus memacu dirinya untuk tetap maju.

Sebaliknya, orang yang pesimis dan berpikir negatif tentang suatu hal biasanya mengalami tekanan-tekanan dalam hidupnya. Ia tidak punya kebebasan untuk bertindak dengan baik dan benar. Dalam kondisi demikian, ia akan mudah mengalami stress. Akibatnya, apa yang dikerjakannya itu asal-asalan saja. Hasilnya pun sangat jauh dari yang diharapkan.

Karena itu, orang mesti memiliki sikap positif dan optimis dalam hidup ini. Apa pun kesulitan yang dihadapi pasti ada jalan pemecahannya. Untuk itu, orang mesti yakin bahwa sebenarnya tidak ada yang sulit dalam hidup ini. Yang ada adalah bagaimana orang menyikapi dan bertindak dalam memecahkan sesuatu yang sulit dalam hidupnya itu. Mari kita tetap memelihara sikap positif dan optimis dalam diri kita. Kita akan menemukan kesuksesan dalam hidup ini. Dengan demikian, sukacita dan damai menjadi bagian dari hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

590

12 Januari 2011

Berusaha Memiliki Pikiran Yang Jernih


Ada seorang remaja yang tidak bisa diam atau hening. Ia menghiasi hidupnya dengan bunyi-bunyian musik. Earphone selalu ada di telinganya. Di kamarnya, ia selalu menyetel lagu-lagu yang keras. Saat hening menjadi sesuatu yang aneh baginya. Yang dia inginkan adalah menikmati musik-musik keras itu sepuas hati.

Suatu kali ibunya keberatan terhadap gaya hidupnya. Pasalnya, nilai-nilai di sekolahnya turun drastis. Menurut sang ibu, anaknya itu tidak punya pikiran yang bening. Bunyi musik-musik keras itu telah membuat anaknya lambat dalam berpikir. Akibatnya, nilai-nilainya di kelas turun drastis.

Ibunya bertanya, ”Mengapa kamu suka dengan musik-musik keras seperti itu? Bukankah kamu butuh waktu untuk hening, agar dapat konsentrasi dalam belajar?”

Anak itu menjawab, ”Saya tidak bisa hening, ibu. Waktu hening itu sesuatu yang berat bagi saya untuk saya lakukan.”

Dengan wajah sedih, ibu itu berkata, ”Kamu mesti berlatih untuk hening. Dalam keheningan itu pikiranmu akan terarah. Kamu akan dapat memfokuskan hidupmu pada yang kamu inginkan.”

Anak itu berjanji untuk mengheningkan dirinya. Perlahan-lahan ia berusaha untuk menjauhkan dirinya dari musik-musik keras. Setiap hari ia mengurangi lagu-lagu keras itu. Hasilnya adalah nilai-nilai matapelajarannya mulai membaik. Keheningan ternyata membantunya untuk berpikir lebih jernih.

Sahabat, banyak orang takut akan keheningan. Banyak orang tidak menyukai keheningan itu. Mengapa? Karena mereka takut terhadap keheningan. Mereka takut kalau hidup mereka menjadi sunyi sepi. Mereka tidak ingin hidup dalam kesendirian. Karena itu, mereka menghiasi diri mereka dengan hal-hal yang membuat mereka dikuasai oleh kebisingan.

Tentu saja pandangan seperti ini tidak benar. Keheningan itu membantu orang untuk mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Dalam keheningan orang dapat menemukan kebaikan Tuhan. Dalam keheningan itu orang dapat memaknai hidup ini secara lebih baik.

Dalam keheningan orang dapat mengolah pikirannya dengan lebih baik. Orang akan menemukan hal-hal yang menakjubkan bagi hidupnya berkat keheningan itu. Keheningan membantu orang untuk berpikir secara jernih dan terarah tentang hal-hal yang berguna bagi hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar pikiran kita senantiasa jernih. Kita ingin agar hidup kita selalu terarah pada hal-hal yang baik dan benar. Pikiran yang jernih dan baik biasanya akan menghasilkan hal-hal yang spektakuler dalam hidup ini. Banyak penemuan baru dalam berbagai bidang kehidupan manusia berasal dari kebeningan pikiran. Pikiran dapat bening, kalau orang mampu masuk dalam keheningan hidupnya. Mari kita berusaha untuk mengheningkan diri kita dalam situasi dunia yang hiruk pikuk ini. Dengan demikian, kita dapat memiliki pikiran yang jernih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

11 Januari 2011

Mensyukuri Indahnya Hidup

Ada seorang pertapa yang selalu dikunjungi oleh orang dari berbagai tempat. Menurut mereka, pertapa itu orang yang sangat bijaksana. Ia memberikan nasihat-nasihat yang sangat baik bagi mereka. Karena itu, mereka rela mengorbankan waktu mereka untuk mendatangi pertapa itu.

Namun sebenarnya yang dilakukan oleh pertapa itu sangat sederhana. Ia cuma menasihati mereka untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Mereka mesti mensyukuri setiap pemberian dari Tuhan kepada mereka. Hanya dengan mensyukuri itu mereka dapat menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Nasihat itu dilaksanakan dengan baik oleh mereka. Hidup mereka menjadi damai. Mereka mengalami ketenteraman dalam hidup ini.

Pertapa itu berkata, “Hal yang sangat sulit dilakukan oleh manusia adalah bersyukur atas hidup ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena manusia merasa bahwa hidup ini adalah milik mereka. Padahal bukan. Hidup ini adalah pemberian dari Tuhan.”

Menurut pertapa itu, bersyukur mesti menjadi keutamaan dalam hidup manusia. Orang yang senantiasa mensyukuri kebaikan Tuhan akan selalu mengalami bahwa hidup ini memiliki sisi yang begitu indah. Sedangkan orang yang sulit mensyukuri pemberian Tuhan lebih sering memandang hidup ini dari sisi negatif.

Sahabat, sudahkah Anda mensyukuri hidup Anda hari ini? Bukankah ada begitu banyak hal baik yang Anda jumpai hari ini? Atau kalau Anda belum mensyukuri kebaikan hidup ini, apa alasannya? Bukankah Tuhan tidak pernah menyakiti hati Anda?

Bersyukur berarti kita menerima kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Inilah sikap iman yang benar. Orang beriman itu orang yang menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Orang membiarkan Tuhan sendiri yang berkarya di dalam hidupnya. Orang hanya mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Tidak ada hal-hal lain yang diandalkan dalam hidup ini. Dengan cara ini, orang beriman akan menemukan hidupnya begitu bermakna.

Karena itu, orang mesti menyisihkan waktunya untuk bersyukur atas segala hal indah yang telah diperoleh dalam hidupnya. Dengan rasa syukur, orang mampu menghargai pemberian dari Tuhan. Dan yang diharapkan adalah juga tetap menghargai kehadiran Tuhan dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa bersyukur itu menjadi awal yang indah bagi hidup ini. Bersyukur itu menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk mengembangkan hidup kita. Mengapa? Karena hidup ini tidak boleh berhenti pada apa yang sudah kita capai sekarang ini. Hidup ini mesti berjalan terus. Hidup ini mesti terus-menerus kita isi dengan hal-hal yang baik dan berharga. Dengan demikian, hidup ini semakin berguna bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

10 Januari 2011

Mensyukuri Indahnya Hidup

Ada seorang pertapa yang selalu dikunjungi oleh orang dari berbagai tempat. Menurut mereka, pertapa itu orang yang sangat bijaksana. Ia memberikan nasihat-nasihat yang sangat baik bagi mereka. Karena itu, mereka rela mengorbankan waktu mereka untuk mendatangi pertapa itu.

Namun sebenarnya yang dilakukan oleh pertapa itu sangat sederhana. Ia cuma menasihati mereka untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan. Mereka mesti mensyukuri setiap pemberian dari Tuhan kepada mereka. Hanya dengan mensyukuri itu mereka dapat menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Nasihat itu dilaksanakan dengan baik oleh mereka. Hidup mereka menjadi damai. Mereka mengalami ketenteraman dalam hidup ini.

Pertapa itu berkata, “Hal yang sangat sulit dilakukan oleh manusia adalah bersyukur atas hidup ini. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena manusia merasa bahwa hidup ini adalah milik mereka. Padahal bukan. Hidup ini adalah pemberian dari Tuhan.”

Menurut pertapa itu, bersyukur mesti menjadi keutamaan dalam hidup manusia. Orang yang senantiasa mensyukuri kebaikan Tuhan akan selalu mengalami bahwa hidup ini memiliki sisi yang begitu indah. Sedangkan orang yang sulit mensyukuri pemberian Tuhan lebih sering memandang hidup ini dari sisi negatif.

Sahabat, sudahkah Anda mensyukuri hidup Anda hari ini? Bukankah ada begitu banyak hal baik yang Anda jumpai hari ini? Atau kalau Anda belum mensyukuri kebaikan hidup ini, apa alasannya? Bukankah Tuhan tidak pernah menyakiti hati Anda?

Bersyukur berarti kita menerima kehadiran Tuhan dalam hidup ini. Inilah sikap iman yang benar. Orang beriman itu orang yang menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Orang membiarkan Tuhan sendiri yang berkarya di dalam hidupnya. Orang hanya mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Tidak ada hal-hal lain yang diandalkan dalam hidup ini. Dengan cara ini, orang beriman akan menemukan hidupnya begitu bermakna.

Karena itu, orang mesti menyisihkan waktunya untuk bersyukur atas segala hal indah yang telah diperoleh dalam hidupnya. Dengan rasa syukur, orang mampu menghargai pemberian dari Tuhan. Dan yang diharapkan adalah juga tetap menghargai kehadiran Tuhan dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa bersyukur itu menjadi awal yang indah bagi hidup ini. Bersyukur itu menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk mengembangkan hidup kita. Mengapa? Karena hidup ini tidak boleh berhenti pada apa yang sudah kita capai sekarang ini. Hidup ini mesti berjalan terus. Hidup ini mesti terus-menerus kita isi dengan hal-hal yang baik dan berharga. Dengan demikian, hidup ini semakin berguna bagi kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


588

07 Januari 2011

Hidup Ini Begitu Berharga


Ada seorang ibu yang melahirkan anak secara normal. Namun anak yang lahir itu tidak normal. Anak itu lahir hanya memiliki pangkal otak. Ibu itu tahu dan sadar bahwa anak yang dilahirkan itu tidak akan hidup lama. Ia akan menghembuskan nafas terakhirnya. Denyut jantungnya yang normal tidak didukung oleh kondisi otak yang tidak normal. Karena itu, ia pasrah. Ia menyerahkan hidup anaknya kepada Tuhan. Hanya Tuhan yang mampu menyelenggarakan hidup bagi anaknya itu.

Yang dilakukan ibu itu adalah ia menerima kehadiran anaknya itu dengan hati yang tulus. Ia memberinya susu. Ia merawatnya. Ia mengajak anaknya itu berbicara layaknya anak-anak normal. Anak itu dapat menanggapi dirinya. Ia membalas kasih mamanya dengan senyum yang indah. Setiap hari hal itu terjadi. Ibu itu sangat bahagia menyaksikan kondisi anaknya.

Satu tahun kemudian anak itu meninggal dunia. Dalam damai ia menghembuskan nafas terakhirnya. Seutas senyum bahagia tersungging di wajah anak itu. Bagi sang mama, saat kematian itu menjadi saat yang sangat mengharukan. Ia menangis. Ia merasakan kehilangan yang luar biasa. Senyum kasih anaknya telah pergi untuk selamanya. Ia tidak dapat memberinya kasih lagi.

Namun beberapa hari kemudian, ibu itu menemukan sukacita. Mengapa? Karena kasih yang ia berikan bagi anaknya itu tidak sia-sia. Kebahagiaan ternyata telah menemani hari-hari hidup anaknya yang singkat itu. Ia bersyukur, ia boleh dipercaya oleh Tuhan untuk memelihara dan mengasihi buah hatinya. Hidup itu begitu indah. Hidup itu berharga.

Sahabat, hidup yang indah dan berharga itu menjadi semakin berharga ketika ada kasih yang menyertainya. Hidup tanpa kasih, kata orang, bagai sayur tanpa garam. Untuk memiliki kasih yang sejati, orang mesti berani mengorbankan hidupnya. Korban itu mesti ditampakkan dalam perbuatan yang nyata.

Kisah tadi menunjukkan bahwa korban itu tidak sia-sia. Kasih yang ditunjukkan dalam hidup sehari-hari itu ternyata membuahkan hasil yang nyata. Anak itu mengalami sukacita dan damai. Anak itu menemukan kasih yang tulus dari sang ibu. Anak itu menemukan betapa hidup ini sungguh-sungguh berharga.

Keindahan dan berharganya hidup tidak diukur dari panjang atau pendeknya hidup seseorang. Juga tidak diukur dari kaya dan miskinnya orang. Atau tidak juga diukur dari tinggi atau rendahnya jabatan seseorang. Namun indah dan berharganya hidup seseorang diukur dari bagaimana orang menjalani hidup ini. Karena itu, ukuran yang sesungguhnya terletak pada bagaimana seseorang memaknai hidup ini dalam kasih. Kasih itu menjadi ukuran indah dan berharganya hidup ini.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa memaknai hidup ini dengan kasih yang tulus. Ketulusan kasih itu mampu membawa orang untuk tetap setia kepada Tuhan dan sesama. Orang mampu membagikan kasih itu kepada sesama yang dijumpainya dalam hidup sehari-hari. Mengapa? Karena hidup ini bukan hanya untuk diri sendiri. Hidup kita ini juga diperuntukkan bagi sesama. Mari kita memaknai indah dan berharganya hidup ini dengan membagikan kasih kita kepada sesama. Dengan demikian, hidup ini semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

06 Januari 2011

Berani Mempertanggungjawabkan Perbuatan


Ada seorang anak yang suka menghindar. Setiap kesalahan yang diperbuatnya selalu dilemparkan kepada orang lain. Ia selalu berusaha mengelak. Dia berkata, “Itu bukan kesalahanku. Kenapa aku yang dipersalahkan?”

Dengan mengelak seperti itu, ia tidak perlu dipersalahkan. Ia lolos dari suatu masalah. Ia membebankan masalah atau kesalahan yang dilakukannya kepada orang lain. Namun kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sekali-sekali ia jatuh ke tanah juga. Suatu kali anak itu kena batunya. Ia tidak bisa mengelak dari kesalahan yang diperbuatnya. Ada bukti-bukti yang tidak bisa ia elak lagi. Ia terpaksa mengakui perbuatannya yang salah itu.

Ia kesal terhadap hal itu. Ia berteriak-teriak. Ia tidak mau menerima kesalahan yang dibuatnya sendiri itu. Ia bersungut-sungut. Ia berusaha untuk mengalihkan perhatian orang-orang terhadap persoalan yang lain. Namun kali ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia harus menanggung akibat dari kesalahan yang diperbuatnya.

Sahabat, banyak orang sering tidak mau bertanggungjawab atas apa yang diperbuatnya. Bisa berbuat, tetapi enggan bertanggungjawab. Mengapa? Karena orang tidak berani menanggung resiko atas apa yang dilakukannya. Orang melarikan diri dari resiko dengan mengatakan bahwa ia tidak melakukannya. Dengan demikian, mereka tidak perlu menanggung akibat dari perbuatannya.

Mochtar Lubis mengatakan bahwa inilah salah satu ciri orang Indonesia. Beliau mengatakan bahwa dengan mengatakan tidak terhadap apa yang dilakukannya, seseorang ingin melepaskan tanggung jawab. Hal ini umum terjadi di Indonesia. Bahkan orang yang sudah jelas-jelas kedapatan bersalah masih juga membela diri.

Untuk itu, orang mesti berubah. Yang salah katakan salah. Yang benar katakan benar. Tidak perlu membuat rekayasa yang membingungkan banyak orang. Orang mesti berani menghadapi resiko apa pun yang akan terjadi. Keberanian untuk bertanggung jawab itu bagian dari iman. Orang mesti berani mempertanggungjawabkan imannya di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, orang tetap bertahan dalam kebaikan.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani bertanggungjawab apa yang kita lakukan. Sekecil apa pun kesalahan yang kita lakukan, kita mesti mempertanggungjawabkannya. Kita tidak perlu kuatir atau takut terhadap resiko yang akan kita hadapi. Keberanian kita menunjukkan bahwa kita mau bersungguh-sungguh dalam iman akan Tuhan.

Untuk itu, kita mesti memasrahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan membimbing hidup kita. Tuhan selalu peduli terhadap hidup kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


586

04 Januari 2011

Bersyukur di Saat-saat Sulit



Ada seorang narapidana yang senantiasa mensyukuri kebaikan Tuhan. Baginya, Tuhan selalu baik. Meski ia dijebloskan ke dalam penjara, ia tetap yakin bahwa Tuhan itu baik. Perbuatan jahat yang dilakukannya itu melulu karena kehendak pribadinya. Karena itu, ia tidak perlu menyalahkan Tuhan. Ia mesti tetap bersyukur atas kebaikan Tuhan sama seperti sebelum ia mendekam di penjara.

Sikapnya itu membuat orang-orang yang dekat dengannya itu heran. Bukankah ia sendirian memperjuangkan kehidupannya? Bukankah di saat-saat seperti itu Tuhan seolah-olah menghilang?

Namun narapidana itu berusaha untuk menyadarkan orang-orang itu akan kebaikan Tuhan. Ia berkata, “Tuhan begitu baik kepada saya di dalam ruangan yang sempit ini. Secara fisik, saya tidak punya kebebasan. Namun saya merasa Tuhan selalu setia mendampingi saya. Tuhan tidak pernah menyakiti hati saya. Setiap pagi ia memberi udara segar bagi saya.”

Narapidana itu menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan yang diimani itu dengan mensyukuri kebaikan Tuhan itu. Ia tidak mau meninggalkan Tuhan. Ia tetap memasrahkan hidupnya kepada Tuhan.

Sahabat, betapa banyak orang lupa mensyukuri kebaikan Tuhan. Apalagi ketika sukses dan kebahagiaan menjadi bagian hidupnya. Orang lupa bahwa ada Tuhan yang selalu mendampingi dan menyertai perjalanan hidup manusia. Orang kurang peduli terhadap kasih dan kesetiaan Tuhan dalam hidupnya sehari-hari.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan tetap menyertai manusia. Dalam saat-saat sulit hidup ini Tuhan tetap hadir untuk memberikan kekuatan. Karena itu, dalam saat-saat sulit itu manusia semestinya tidak perlu mengeluh atau menolak kehadiran Tuhan.

Keluhan-keluhan itu hanya menunjukkan kurangnya iman kita kepada Tuhan. Keluh kesah yang bahkan menyangsikan kehadiran Tuhan itu menunjukkan bahwa manusia tidak sabar dalam penderitaannya. Manusia gampang menyerah pada situasi sulit yang dihadapinya. Manusia begitu rapuh.

Karena itu, yang mesti dilakukan oleh orang beriman adalah senantiasa mensyukuri kebaikan dan penyertaan Tuhan. Sering manusia kurang menyadari penyertaan Tuhan. Sering manusia ingin menggapai cita-citanya seorang diri tanpa menyertakan Tuhan.

Tentu saja sikap seperti ini berbahaya. Tuhan tetap menyertai setiap orang meskipun manusia tidak memintanya. Tuhan tetap setia membantu ciptaan-Nya dalam hidupnya sehari-hari. Karena itu, patutlah kita bersyukur atas kebaikan Tuhan itu dalam situasi sulit hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

585

Tuhan Tidak harus Menjawab Setiap Doa Kita


Ada sepasang suami istri bertekun dalam doa agar anaknya yang menderita penyakit kanker ganas dapat disembuhkan. Anak itu sangat menderita. Ia sering mengerang kesakitan. Ia mengalami kesulitan untuk tidur. Tubuhnya yang dulu gemuk berubah menjadi kurus.

Suami istri itu ikut menanggung penderitaan anak mereka. Karena itu, mereka meminta bantuan dari Tuhan untuk menyembuhkan penyakit anak mereka. Sayang, doa mereka tampaknya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Sang anak yang sangat dicintai itu menghembuskan nafas terakhirnya dalam diam. Ia diambil kembali oleh Tuhan yang telah menciptakannya. Ia kembali kepada Tuhan yang menjadi pemilik yang asli dari hidupnya.

Suami istri ini sangat terpukul menghadapi kematian sang buah hati. Mereka punya cita-cita yang begitu tinggi bagi anak semata wayang mereka itu. Kehilangan besar bagi mereka begitu sang buah hati menghembuskan nafas terakhir. Hati mereka menjadi galau. Mengapa Tuhan tidak mengabulkan permohonan mereka? Mengapa Tuhan tidak mau mendengarkan doa-doa mereka?

Tahun-tahun pun berlalu. Tiga tahun setelah kepergian anak mereka itu, sang istri mengandung lagi. Hari-hari mereka kembali dihiasi oleh sukacita. Kesedihan hati telah sirna. Mereka kembali meyakini kekuatan doa mereka. Ternyata Tuhan mendengarkan doa mereka. Tuhan mengabulkan doa mereka dengan cara yang lain.

Sahabat, banyak orang berdoa kepada Tuhan dengan tujuan-tujuan tertentu. Mereka meminta agar Tuhan segera mengabulkan doa-doa mereka. Mereka tidak mau tahu. Yang penting Tuhan harus mengabulkan permohonan mereka. Kalau Tuhan tidak cepat mengabulkan permohonan mereka, mereka akan meninggalkan Tuhan. Untuk apa percaya lagi kepada Tuhan yang tidak segera mengabulkan permohonan umat-Nya!

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan tidak mesti mengabulkan permohonan seseorang secara langsung. Tuhan punya kebebasan untuk mengabulkan doa-doa umat-Nya. Tuhan punya cara sendiri untuk mengabulkan doa-doa manusia.

Karena itu, yang dibutuhkan dari manusia adalah sikap iman yang benar kepada Tuhan. Dalam kondisi apa pun, manusia semestinya menyerahkan kepada Tuhan apa saja yang dimohonkan itu. Manusia tidak perlu memaksakan kehendaknya kepada Tuhan.

Kadang-kadang jawaban Tuhan itu lain dari yang kita harapkan. Tidak sedikit orang yang akhirnya meninggalkan Tuhan, karena jawaban doa yang diterima tidak sesuai dengan harapan dan keinginan hati mereka. Jawaban Tuhan yang berbeda itu demi kebaikan manusia sendiri. Ia akan menjawab doa-doa manusia sesuai dengan rencana dan maksudNya yang baik untuk hidup manusia.

Karena itu, kita mesti percaya bahwa jawaban tidak terhadap permohonan kita diberikan Tuhan, karena kasih sayang-Nya kepada kita. Ia mengenal apa yang terbaik untuk kita. Ia mendidik kita untuk memahami sudut pandang Tuhan dan bukan sudut pandang manusia. Bukan berarti Tuhan tidak menyayangi kita, juga tidak berarti permohonan kita salah. Mungkin kita merasa lemah, ketika jawaban Tuhan tidak seperti yang kita harapkan, tetapi ingatlah bahwa Tuhan ingin kita mendapatkan yang terbaik menurut pandangan-Nya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

584

03 Januari 2011

Menyusun Strategi-stategi untuk Tahun Baru

Tadi pagi Johan agak sewot sama mamanya. Pasalnya, kemarin ia sudah merengek-rengek meminta dibelikan terompet, namun ditolak. Anak berusia sepuluh tahun itu kemudian meninggalkan rumahnya. Selama seharian ia pergi. Ia baru muncul di sore hari, ketika matahari sudah menuju peraduannya.

Menurut Johan, alasan yang dibuat ibunya itu hanya mengada-ada. Alasanya adalah sang ibu ingin menggunakan uang seefisien mungkin. Tidak untuk beli hal-hal yang kurang berguna. Apalagi hal-hal itu hanya untuk kesenangan sesaat. Johan tersinggung mendengar alasan ibunya itu. Ia ingin sekali bergembira. Ia ingin sekali bersukacita pada malam tahun baru. Ia ingin merayakannya bersama teman-teman sebayanya dengan meniup terompet pada malam tahun baru.

Keinginan Johan tak tercapai. Maksud hati ingin merayakan malam tahun baru dengan meriah. Tetapi ganjalan ekonomi keluarga membuat ia mesti mengikuti nasihat sang mama. Alasan itu membuat ia sedih. Ia sewot. Namun ia mesti berusaha untuk mengatasi kemarahannya. Mengapa? Karena itulah kenyataan hidupnya. Ia hanyalah anak seorang janda yang profesinya sebagai tukang cuci.

Johan kemudian sadar. Cara menyambut tahun baru tidak harus dengan meniup terompet. Tidak mesti dengan membuang-buang uang untuk membeli terompet. Ia dapat merayakan tahun baru bersama teman-temannya di rumah kontrakan ibunya yang sederhana itu. Artinya, ia dapat merayakannya dalam kesederhanaan.

Sahabat, berapa banyak dari kita yang merayakan tahun baru dengan gegap gempita? Berapa banyak dari kita yang menghabiskan sekian banyak uang untuk menyambut tahun baru? Dengan alasan untuk melepas tahun yang lama dan menyambut tahun baru, begitu banyak orang yang mengorbankan begitu banyak hal.

Kisah tadi mau mengingatkan kita bahwa tahun baru dapat dimaknai secara sederhana. Yang penting adalah suasana batin yang sungguh-sungguh bersih dan gembira. Yang penting adalah orang dapat memiliki suatu disposisi batin yang baik dan menyenangkan untuk menyambut tahun baru dengan penuh optimis.

Karena itu, kita dapat bertanya pada diri kita masing-masing tentang apa yang telah kita buat selama tahun yang silam. Apakah saya memiliki hati yang mudah tergerak oleh penderitaan sesama saya? Apakah saya mau peduli terhadap sesama yang hidup bersama saya? Apakah saya punya cinta yang lebih besar terhadap sesama saya? Atau apakah saya lebih mementingkan diri sendiri, sehingga egoisme justru menguasai diri saya?

Kalau kita sudah bertanya tentang apa yang telah kita buat setahun yang silam, kita juga boleh memiliki kiat-kiat untuk tahun yang baru ini. Sebagai orang beriman, kita ingin agar tahun yang baru memiliki makna yang mendalam bagi hidup kita. Karena itu, berpijak pada hal-hal baik yang telah kita buat selama tahun yang silam, kita ingin meraih sukses yang lebih besar di tahun yang baru. Untuk itu, kita mesti menyusun strategi-strategi yang tepat untuk meraih keinginan-keinginan kita. Tentu saja kita masih tetap menyertakan Tuhan dalam perjuangan kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

583