Pages

10 Oktober 2011

Menemukan Makna Hidup



Apakah Anda sungguh yakin, hidup Anda memiliki makna yang mendalam? Atau Anda sering merasa bahwa hidup ini kurang bermakna? Mengapa hidup Anda kurang bermakna? Mungkin Anda tidak menemukan sesuatu yang utama yang menjadi fokus perjuangan Anda. Anda merasa bahwa apa yang Anda lakukan biasa-biasa saja. Datar-datar saja. Karena itu, Anda butuh waktu untuk mengintrospeksi diri Anda.

Caranya mungkin Anda dapat mencontoh apa yang dilakukan oleh Lily Allen, seorang penyanyi asal Inggris ini. Menyadari bahwa hidupnya tidak bermakna, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia hingar bingar musik untuk sementara. Lantas ia menghabiskan waktunya di sebuah kawasan hutan di Brasil untuk belajar tentang penggundulan hutan.

Tentang hal ini, ia berkata, ”Selama ini hidupku terasa hampa, karena tidak bermakna. Terkadang aku juga merasa tak punya tujuan. Aku pergi ke Brasil untuk membuat diriku bangga, karena bisa menggunakan ketenaran untuk tujuan positif.”

Menurut pengakuan perempuan berusia 24 tahun ini, ia tidak ingin menunjukkan bahwa ia tahu segala-galanya. Ia ingin memahami beberapa hal yang tidak ia ketahui. Ia berada di Brasil karena ingin belajar dan berusaha menjadi lebih baik.

Ternyata Lily Allen tidak hanya belajar tentang penggundulan hutan. Setelah menyaksikan akibat buruk dari pengrusakan hutan, ia mengajar para penggemarnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Menurutnya, sangat penting bagi setiap orang untuk memikirkan dampak perilaku mereka terhadap masa depan bumi.

Pemilik albumm Alright, Still ini berkata, ”Kita semua harus berusaha mengurangi emisi karbon. Aku juga berusaha, tapi kuakui ini tidak mudah.”

Sahabat, kita hidup dalam zaman yang kurang begitu peduli terhadap lingkungan hidupnya. Begitu banyak penebangan pohon-pohon tanpa mengadakan aksi penanaman kembali. Akibatnya, banyak gunung mulai gundul karena kehilangan hutan. Satwa-satwa langka pun banyak yang punah. Mereka tidak punya tempat lagi untuk berlindung. Kalau pengrusakan lingkungan tidak dihentikan, bukan tidak mungkin manusia juga akan mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Karena itu, kita butuh kesadaran tentang makna hidup. Kita tidak bisa hidup biasa-biasa saja. Kita mesti mengambil alternatif untuk menjadikan hidup kita ini lebih bermakna bagi kehidupan banyak orang. Untuk itu, kita mesti membuka wawasan pandang kita seluas-luasnya.

Apa yang telah dilakukan oleh Lily Allen dapat menjadi salah satu contoh bagi kita. Kita mesti memiliki kepedulian terhadap lingkungan di mana kita hidup. Langkah berani mesti kita ambil. Mungkin kita mesti meninggalkan kegiatan-kegiatan rutin kita sehari-hari. Kita ambil waktu untuk merefleksikan makna hidup kita. Mengapa kita hidup? Mau ke mana hidup ini mesti kita bawa?

Kiranya makna hidup yang lebih mendalam dapat kita temukan ketika kita tidak hidup biasa-biasa saja. Tetapi makna hidup itu dapat kita temukan, ketika kita memberi waktu khusus untuk merefleksikan panggilan hidup kita. Mari kita berusaha terus-menerus untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


802

09 Oktober 2011

Berlajar untuk Bertobat dari Dosa


Ada seorang pemuda yang punya hobby bermain catur di internet. Hobby itu membuat pemuda itu sangat ketagihan. Tiada satu hari pun ia lewatkan tanpa bermain catur. Setiap waktu luang ia gunakan untuk bermain catur. Bahkan waktu-waktu kerja ia gunakan juga untuk bermain catur di internet. Hasilnya? Pemuda itu merasa puas.

Suatu hari, pemuda itu menyadari kebiasaan buruknya itu. Ia berusaha untuk melepaskan diri dari ketagihan itu. Namun ia gagal. Ia tetap saja berada di depan komputer untuk bermain catur. Ia berkata, ”Ah, kan hanya sebentar. Tidak lama lagi saya akan berhenti juga.”

Pemuda itu terus-menerus berusaha untuk menghentikan kebiasaan buruknya itu. Ia mengalami jatuh dan bangun. Sambil memberi alasan-alasan yang menyegarkan dirinya, pemuda itu terus berusaha. Apa yang terjadi kemudian? Suatu hari, ia berusaha untuk tidak membuka permainan catur di internet. Kalau ada godaan untuk main catur, ia mengalihkan ke hal-hal lain. Ia tidak mau membuka permainan catur itu.

Kali ini ia berhasil. Ia melupakan permainan catur. Ia memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Keesokan harinya, ia mencoba hal yang sama. Kali ini ia pun berhasil. Hari-hari berikutnya, pemuda itu tidak lagi peduli terhadap permainan catur. Pikirannya terfokus pada pekerjaan-pekerjaannya.

Sahabat, sering manusia berkelit dan berdalih tentang dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Manusia tidak mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah dirasakan nikmat. Manusia berusaha untuk mempertahankan kenikmatan itu meski sebenarnya kenikmatan yang dialami itu hanyalah semu. Manusia tetap mau tenggelam dalam kenikmatan dosa.

Namun ternyata orang tidak bisa berlama-lama hidup dalam kenikmatan dosa. Mengapa? Karena kenikmatan dosa itu mengganggu ketenteraman hidup. Orang selalu merasa tidak aman dan nyaman. Dosa menggerogoti kedamaian manusia. Dosa meracuni hidup manusia. Dosa membuat hidup manusia tidak harmonis. Damai sulit tercapai ketika orang hidup di dalam dosa. Mengapa? Karena orang selalu merasa dikejar-kejar oleh dosa itu.

Akibat dari dosa tidak hanya dialami oleh diri sendiri. Akibat dosa juga dialami oleh sesama, karena perbuatan dosa selalu bersifat sosial. Penderitaan akibat dosa juga dialami oleh orang yang tidak melakukan dosa. Misalnya, dosa korupsi dan manipulasi yang dilakukan seorang pejabat berakibat pada kemiskinan bagi rakyat yang dipimpinnya. Anggaran yang semestinya digunakan untuk kebutuhan masyarakat itu digunakan untuk diri sendiri.

Karena itu, orang mesti berusaha menyadari kedosaannya. Caranya adalah dengan berefleksi diri. Ada saatnya orang mesti menukik ke dalam dirinya sendiri. Orang mesti berani mempertanyakan dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya. Dengan demikian, orang mampu berubah dan bertobat. Artinya, orang membuka dirinya untuk rahmat Tuhan yang hadir dalam hidupnya. Bertobat yang sesungguhnya adalah menerima Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


801

Membangun Relasi yang Lebih Dalam



Seorang ibu menceritakan pengalaman pahitnya dalam hidup berkeluarga. Ia sering disiksa oleh suaminya. Ia sering ditinggal pergi oleh suaminya berbulan-bulan. Bahkan suaminya itu telah menjalin kasih dengan perempuan lain.
Rata Penuh
Hati ibu itu terasa hancur. Ia merasa seolah-olah sudah jatuh ditimpa tangga pula. Hidup terasa berat baginya. Padahal, ia menikah dengan suaminya itu untuk menemukan kebahagiaan dalam hidup. Ia ingin mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya.

Dari segi materi, ibu itu tidak berkekurangan. Ia punya usaha sendiri yang sungguh-sungguh mendatangkan banyak keuntungan. Ia tidak perlu kuatir akan masa depan tiga orang anaknya. Ia mampu menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi. Ia mampu membimbing anak-anaknya untuk memiliki masa depan yang cerah. Satu hal kekurangan dalam hidupnya, yaitu ketidakharmonisannya dengan sang suami. Kalau suaminya berada di rumah, mereka selalu bertengkar. Tidak ada damai di antara mereka.

Ibu itu berkata, ”Yang membuat saya bertahan adalah anak-anak saya. Mereka begitu mencintai saya. Mereka mau berbagi dengan saya.”

Namun suatu hari tumbuh pula rasa sesal dalam diri ibu itu. Ia menyesal, mengapa suaminya pergi meninggalkannya berbulan-bulan. Mengapa ia selalu melihat segi negatif dalam diri suaminya? Ibu itu tidak hanya berhenti pada rasa sesal. Ia berusaha untuk mengembalikan suaminya ke sisinya. Untuk itu, ia mesti mengubah sikap-sikapnya. Ia mau melihat segi-segi positif yang ada dalam diri suaminya. Ia mengakui bahwa ketidakharmonisan yang terjadi selama ini juga buah dari kesalahan dirinya.

Usaha itu berhasil. Setelah lama berpisah, sang suami kembali ke sisinya. Mereka pun hidup bahagia sebagai suami istri. Derita yang lama dialami oleh ibu itu pun berakhir dengan sukacita dan damai.

Sahabat, banyak pasangan suami istri di zaman sekarang mengalami kekeringan hidup rohani. Mereka punya banyak masalah dalam hidup. Ada yang berhasil menemukan solusi atas persoalan-persoalan mereka. Namun ada juga yang hidup di bawah tekanan, karena persoalan-persoalan yang tidak terselesaikan.

Pertanyaannya, mengapa pasangan suami istri mengalami kekeringan hidup rohani? Salah satu jawabannya adalah relasi mereka kurang mendalam. Mereka kurang saling mengenal. Pengenalan mereka hanya di kulit luar saja. Akibatnya, mereka mudah tersulut di saat ada persoalan yang menghadang kehidupan berkeluarga mereka. Mereka kurang punya dasar yang kokoh untuk meneruskan perjalanan hidup mereka sebagai suami istri. Banyak pasangan suami istri akhirnya memutuskan untuk berpisah. Sayang, memang. Tetapi itulah kenyataan yang ada.

Karena itu, apa yang mesti dibuat untuk mempertahankan hidup sebagai suami istri? Yang pertama-tama mesti dibuat adalah berusaha untuk mengenal pasangan masing-masing. Tentu saja hal ini menjadi tantangan yang tidak ringan. Seseorang mesti mengenal betul isi hati pasangannya. Orang mengatakan, dalamnya laut dapat diduga. Tetapi dalamnya hati siapa yang tahu.

Namun berkat bantuan rahmat Tuhan, orang beriman mampu mengenal pasangannya dengan baik. Untuk itu, orang mesti berani menyerahkan hidupnya dan pasangannya ke dalam kuasa Tuhan. Orang beriman membiarkan Tuhan mengintervensi hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi indah dan membahagiakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

800

Berusaha Menerima Perubahan

Ada seorang pemudi yang selalu merasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak dicintai. Ia merasa ditolak oleh orang lain. Hal itu karena ia merasa bahwa sekarang ia menjadi orang yang jelek. Dulu tubuhnya langsing, tetapi sekarang menjadi besar tidak berbentuk. Dulu wajah dan kulitnya halus, namun sekarang menjadi hitam, kasar, dan kusam.

Perasaan negatifnya terus berkembang. Akibatanya, ia gelisah. Ia merasa resah dan tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Karena itu, dengan bermacam-macam cara dan sarana, ia memanipulasi penampilannya. Tujuannya untuk bisa menambah rasa percaya diri. Padahal sebenarnya tidak mengubah apa-apa.

Cara yang ditempuh itu menunjukan bahwa ia telah menolak tubuhnya sendiri. Artinya ia juga membenci dirinya sendiri, karena tidak berani menerima perubahan atau kenyataan. Sampai pada suatu ketika gadis itu mengalami stress berat. Ia jatuh sakit, karena tidak sanggup menerima dan menghadapi perubahan yang terjadi.

Suatu hari sahabatnya datang mengunjunginya. Sahabatnya itu tampak ceria. Sikap dan perilakunya dewasa. Tutur katanya menunjukkan kepribadian yang matang. Meski secara fisik sudah berubah, namun sahabatnya telah menerima perubahan. Ia menerima kenyataan bahwa dengan bertambahnya usia atau faktor-faktor lain, setiap orang akan mengalami perubahan secara alami. Sahabatnya mengimbangi perubahan fisik itu dengan berbagai kegiatan positif yang mengembangkan kematangan pribadi dan rohani.

Kehadiran sahabatnya itu menyadarkan gadis itu terhadap segala kecemasan yang dialaminya. Ia belajar dari sahabatnya. Akhirnya, ia berani menerima perubahan, sehingga hidupnya menjadi ringan dan gembira.

Sahabat, hidup kita ini selalu berubah. Kemarin kita mengalami perasaan yang berbeda dengan sekarang ini. Mungkin kemarin kita merasa sedih, takut, kuatir. Namun sekarang kita merasa ada semangat dan suasana yang baru. Kemarin rasanya tubuh ini tidak dapat bergerak sedikit pun, tetapi saat ini ada suatu perubahan. Kita sudah menggerakkan badan kita.

Ternyata perubahan itu membawa dinamika yang indah. Perubahan itu membantu kita untuk mengenal secara lebih dalam siapa diri kita ini. Apakah kita tumbuh menjadi lebih dewasa atau kita tetap saja kekanak-kanakan? Kalau kita tidak merasa bahwa tidak ada perubahan dalam diri kita, kita akan mudah cemas. Bahkan kita akan mengalami stress dalam hidup ini.

Karena itu, langkah yang mesti kita lakukan adalah menerima kenyataan diri kita. Kita adalah makhluk yang terus-menerus berubah. Perubahan itu senantiasa menuju kebaikan. Untuk itu, kita mesti mensyukuri perubahan itu. Dengan demikian, kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Hidup ini menjadi suatu rahmat dari Tuhan sendiri. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


799

06 Oktober 2011

Tuhan adalah Arah Hidup Manusia


Apakah Anda pernah kesasar? Saya rasa semua orang pernah kesasar. Ada seorang teman saya yang sering kesasar. Padahal ia sudah berkali-kali lewat jalan yang sama. Bahkan pulang ke rumah pun beberapa kali ia nyasar. Akibatnya, banyak waktu ia buang untuk mencari jalan yang benar.

Ketika ditanya alasannya, teman saya ini selalu mengatakan bahwa ia lupa jalan. Pengalaman lupa itu sering menyengsarakan dirinya. Ia sering cemas ketika mengadakan suatu perjalanan. Kalau sampai ia nyasar lagi, ia merasa sakit hati. Ia memarahi dirinya sendiri. Ia kesal terhadap dirinya.

Karena seringnya nyasar, teman saya itu membeli peta kota-kota di Indonesia. Ia berusaha untuk mempelajarinya. Ia berusaha untuk menghafal jalan-jalan di kota-kota tersebut. Di dalam kendaraannya, ia memiliki berbagai peta. Menurutnya, dengan cara itu ia dapat mengatasi kebiasaan nyasarnya itu. Hebatnya, ia berhasil. Ia tidak perlu menghabiskan banyak waktu lagi untuk mencapai tujuan.

Tentang keberhasilannya ini, ia berkata, ”Saya berusaha menghafal jalan-jalan dan alamat-alamat. Tetapi saya tidak hanya lihat peta. Saya juga berusaha untuk menandai tempat-tempat yang saya lewati itu.”

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang sering tidak punya arah yang pasti. Kita jadi bingung. Kita harus memutuskan untuk memilih arah hidup kita, agar kita tidak nyasar ke arah yang salah. Kita tidak ingin sesat dalam hidup kita. Kita tidak ingin hidup ini berakhir sia-sia.

Karena itu, kita mesti mengatur cara hidup kita. Kita tidak bisa hidup seenaknya saja. Orang yang hidupnya tidak teratur biasanya tidak punya tujuan hidup yang terarah. Orang seperti ini biasanya plin-plan. Sebaliknya, hidup yang teratur akan membantu hidup kita menjadi lebih baik.

Dalam salah satu pengajaran-Nya, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan kehidupan. Bagi orang yang beriman kepada Yesus, Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kebahagiaan abadi. Tidak ada jalan lain. Melalui Yesus itu manusia beriman melintasi perjalanannya di dunia ini menuju keselamatan yang abadi.

Yesus tidak hanya memberikan pernyataan bahwa dirinya jalan, kebenaran dan kehidupan. Ia sendiri rela mengorbankan hidupnya bagi manusia. Ia sendiri wafat di kayu salib untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Ia mengajarkan kebenaran kepada manusia. Kebenaran itu ialah bahwa Tuhan senantiasa mengasihi manusia. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendiri di dunia ini. Untuk itu, manusia mesti selalu mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Hanya dengan cara demikian, manusia tidak akan mengalami salah jalan. Manusia akan menemukan kebahagiaan dalam hidupnya, kalau tetap berpegang teguh pada Tuhan.

Tuhan, bantulah kami untuk senantiasa berpegang teguh pada iman kami akan Dikau. Dengan demikian, kami mengalami kasih setia-Mu. Kami tidak perlu salah jalan untuk mengalami damai dan sukacita di dalam Engkau. Amin. **



Frans de Sales, SCJ


798

05 Oktober 2011

Mampu Menangkap Tanda-tanda Zaman



Ada seorang pemuda yang sangat peduli terhadap sesamanya. Ia menjadi sukarelawan untuk mengajar anak-anak usia sekolah di kampungnya. Di kampung itu tidak ada sekolah. Ia membuka ruang tamu rumahnya yang kecil itu menjadi sekolah. Namun tidak ada guru yang mau mengajar anak-anak itu. Padahal anak-anak itu sudah saatnya untuk menempuh pendidikan dasar. Pemuda itu prihatin. Ia tidak tega melihat anak-anak itu tumbuh tanpa pendidikan yang baik.

Selain tidak ada guru yang mau mengajar, kendala lain adalah ia sendiri tidak lulus Sekolah Dasar. Ia putus sekolah saat duduk di kelas empat SD. Hal ini menjadi salah satu penghalang bagi dirinya. Namun pemuda itu tetap punya tekad baja. Ia tidak mau menyerah. Ia mulai belajar sendiri matapelajaran-matapelajaran dasar. Ia juga mencari buku-buku untuk menjadi bahan bacaan baginya.

Setelah pemuda itu merasa mampu mengajar, ia mengumpulkan anak-anak usia sekolah itu di rumahnya. Ia mulai mengajar mereka. Ia memanfaatkan kemampuan yang ada pada dirinya untuk mengajar anak-anak itu. Ruang tamu rumahnya itu ia sulap menjadi sebuah kelas. Meski sempit, anak-anak usia sekolah itu tampak sangat bersemangat. Mereka boleh mendapatkan pendidikan dalam masa pertumbuhan mereka.

Suatu hari, kepala kampung berkunjung ke rumah pemuda itu. Ia kagum terhadap ide yang dikerjakan oleh pemuda itu. ”Apa yang mendorong Anda melakuan semua ini?” tanya kepala kampung itu

”Saya kasihan melihat anak-anak di kampung ini tidak bersekolah. Mereka mesti mendapatkan pendidikan yang memadai. Mereka tidak boleh dibiarkan tumbuh tanpa pendidikan,” kata pemuda itu.

Sahabat, masih banyak anak negeri ini yang belum mendapatkan pendidikan yang baik. Keterbelakangan menjadi salah satu sebab terjadinya hal seperti ini. Namun ada hal lain yang menjadi penyebab, yaitu kerelaan dari sesama untuk membantu anak-anak negeri ini mendapatkan pendidikan.

Kisah kerelaan pemuda di atas menjadi salah satu contoh betapa kerelaan berkorban menjadi salah satu daya dorong dalam memulai suatu tindakan. Orang tidak hanya prihatin terhadap situasi yang ada. Tetapi orang berani menyerahkan diri untuk membantu sesamanya. Orang berani mempertaruhkan hidupnya untuk sesamanya.

Inilah yang disebut dengan cinta. Cinta menuntut korban. Cinta menuntut orang mampu membaca tanda-tanda zaman. Pemuda dalam kisah di atas mampu membaca tanda-tanda zaman. Ia mencintai anak-anak di kampungnya. Ia ingin agar masa depan mereka punya tujuan dan arah. Tidak hanya berhenti di kampung terbelakang. Tidak hanya digerus oleh kemiskinan.

Ia tidak ingin anak-anak itu tumbuh seperti dirinya yang tidak punya pendidikan yang baik. Karena itu, ia berani mengorbakan dirinya. Dalam keterbatasannya, ia menjadi sahabat bagi mereka. Ia menemani perjalanan anak-anak itu meraih masa depan yang lebih baik.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mampu membaca tanda-tanda zaman. Artinya, kita mesti mampu menemukan kebutuhan-kebutuhan sesama yang ada di sekitar kita. Kita berusaha memenuhi kebutuhan sesama itu dengan rela berkorban dengan penuh kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


797

04 Oktober 2011

Berkorban Tanpa Pamrih



Suatu hari saya harus menjemput seorang teman di bandara. Ia datang pada siang hari. Namun ia mengalami penundaan penerbangan. Lama saya harus menunggu teman saya itu. Waktu menunggu itu saya gunakan untuk jalan-jalan di sekitar bandara. Saya juga mampir di kafe untuk minum dan makan. Lama saya duduk di sana. Pesawat tidak datang-datang juga. Akhirnya saya putuskan untuk pulang. Soalnya, saya ada acara pada malam harinya.

Di tengah perjalanan, teman saya itu menelpon bahwa dia sudah mendarat. Ia minta saya untuk menjemputnya. Pasalnya, baru pertama kali itu ia ke Kota Palembang. Ia takut tersesat. Ia takut nyasar. Ia juga mengatakan bahwa ia belum makan sejak pagi. Jadi ia ingin mampir ke rumah makan untuk makan.

Saya langsung balik kanan. Saya kembali ke bandara. Saya mesti menjemput teman saya itu. Saya tidak ingin mengecewakan teman saya itu. Apalagi sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Itulah saatnya kami saling bertemu untuk bercerita tentang pengalaman kami masing-masing.

Sampai di bandara, teman saya itu sudah keluar ke pelataran bandara. Ia mencari-cari saya. Ia tampak agak cemas. Tiba-tiba saya muncul dari belakang. Saya menepuk punggungnya. Ia sangat terkejut. Lantas begitu melihat saya, ia langsung memeluk saya. Ia sangat bergembira. Ia tidak perlu cemas lagi. Ia telah menemukan sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa. Kegembiraan menjadi bagian dari hidupnya malam itu. Ia menemukan bahwa hidup ini semakin bermakna, ketika ada orang yang mau berkorban untuknya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang banyak perhitungan. Orang berhitung tentang berapa jumlah uang yang mesti mereka peroleh dari suatu pekerjaan. Orang berhitung tentang keuntungan yang mereka peroleh setelah membantu sesamanya. Orang ingin agar apa yang dikorbankannya memperoleh kembali gantinya.

Tentu saja situasi seperti ini sering membuat relasi antarsesama menjadi renggang. Orang terlalu memperhitungkan korban yang telah dikeluarkannya. Orang memiliki pamrih yang begitu besar terhadap sesamanya.

Pertanyaannya, sejauh mana peranan iman dalam kehidupan sehari-hari? Apakah iman hanya berperan untuk diri sendiri? Bukankah iman mesti hidup dalam kehidupan yang nyata dengan berani berkorban tanpa pamrih?

Sebagai orang beriman, kita mesti berani mengorbankan hidup kita bagi kebahagiaan sesama. Korban itu mesti dilakukan tanpa pamrih. Hanya dengan cara ini, kita dapat membahagiakan sesama. Kita yang berani berkorban itu pun akan menemukan sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Orang yang berkorban secara semu akan menemukan hidup ini menjemukan. Hidup ini kurang bermakna. Hidup ini tidak membahagiakan. Hidup ini tidak indah bagi dirinya. Orang seperti ini akan mudah frustrasi dan stress. Mengapa? Karena orang tidak menemukan makna yang terdalam dari hidup ini. Mari kita berani mengorbakan hidup kita bagi kebahagiaan sesama tanpa menghitung untung atau rugi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


796

Memberi Kepercayaan pada Sesama



Suatu hari saya pulang ke kota asal saya, Maumere, Flores. Dari Denpasar, saya naik pesawat menuju Maumere. Selama dua jam lebih pesawat menjelajah udara kepulauan Sunda kecil menuju timur. Sore itu, udara kurang begitu cerah. Ada awan hitam yang menyelimuti bumi. Pilot mengumumkan bahwa kota Maumere sedang diterpa hujan deras. Namun pilot mengatakan bahwa pesawat akan mendarat dengan mulus. Tidak ada hambatan apa-apa.

Perlahan namun pasti, pilot mengarahkan pesawat menuju landasan. Dari arah laut Flores, pilot tidak bisa langsung menurunkan pesawatnya, karena ada pohon-pohon lontar. Tambahan pula hujan yang masih turun membuat pilot kurang begitu melihat dengan jelas landasan.

Yang dia lakukan adalah mendaratkan pesawat itu begitu saja. Akibatnya, pesawat itu melompat-lompat beberapa kali. Semua penumpang berteriak. Ada yang menundukkan kepala di antara kedua kaki. Ada yang menarik nafas panjang-panjang. Roda pesawat terus bergulir menuju ujung landasan. Makin lama semakin pelan. Pilot berhasil menghentikan pesawat itu sebelum rodanya melewati landasan. Beberapa penumpang memberikan tepuk tangan meriah atas keberhasilan pilot menyelamatkan pesawat dan penumpang.

Sesudah pesawat benar-benar berhenti, pilot keluar dari tempat kemudi. Ia tersenyum kepada para penumpang. Ia mengangkat jempolnya ke arah penumpang. Itu tandanya pesawat dan semua penumpang selamat. ”Terima kasih Anda telah mempercayai saya. Tanpa kepercayaan Anda, saya belum tentu berhasil mendaratkan pesawat ini dalam kondisi jelek seperti ini,” kata pilot itu.

Sahabat, kepercayaan yang kita berikan kepada seseorang akan memacu orang itu untuk melakukan hal-hal yang baik dan besar. Orang mendapatkan tambahan motivasi. Orang mendapatkan dukungan dari sesamanya. Karena itu, kita diajak untuk senantiasa memberikan dukungan kepada sesama kita.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kepercayaan yang diberikan kepada pilot itu sungguh-sungguh bermanfaat. Ia punya tanggung jawab untuk menyelamatkan pesawat dan semua isinya. Selain memang itulah tanggung jawab seorang pilot, tetapi kepercayaan yang diberikan itu menambah semangat dalam dirinya.

Namun orang beriman tidak harus diberi semangat tambahan, ketika melakukan kebaikan bagi sesama. Secara kodrati, orang beriman itu dengan sendirinya melakukan hal-hal baik bagi sesamanya. Mengapa? Karena itulah panggilan hidup manusia. Berbuat baik sebanyak-banyaknya bagi sesamanya. Dengan demikian, sukacita dan damai hadir dalam hidup manusia.

Untuk itu, dibutuhkan kreatifitas dalam menjalani hidup ini. Orang tidak bisa hanya menunggu untuk melakukan sesuatu. Seperti pilot yang menyelamatkan para penumpang itu. Dia tentu tidak hanya mengikuti arus saja. Tetapi dia butuh kreatifitas untuk mendaratkan pesawat dengan baik dan benar.

Mari kita terus-menerus berusaha untuk menaruh harapan pada Tuhan. Dengan demikian, kita dapat menemukan damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


795

02 Oktober 2011

Menumbuhkan Kecermatan dalam Hidup


Akhir tahun 1999 yang lalu saya berada di kota Timika, Papua. Suatu sore, di tempat saya tinggal didatangi seorang pilot asal Belanda. Ia sudah fasih berbahasa Indonesia. Istrinya adalah seorang Indonesia asal Solo. Sudah lima tahun ia menerbangkan pesawat-pesawat twin otter milik AMA atau Asociation Mission Aviation.

Sore itu, ia tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju Biak. Bersama pesawatnya, ia sudah berada di ketinggian. Namun dari kejauhan ia melihat awan hitam yang sangat pekat. Ia kembali ke bandara intenasional Moses Kilangin Timika.

“Saya tidak mungkin melanjutkan perjalanan. Langit sangat gelap. Di depan saya ada begitu banyak gunung yang tinggi. Saya tidak mau ambil resiko. Jadi saya kembali ke Timika,” kata pilot itu.

Pilot itu bisa mengambil keputusan seperti itu, karena ia sudah berpengalaman menerbangkan pesawat-pesawat kecil. Ia tahu daerah mana yang membahayakan dirinya. Ia mengerti betul ada berapa rintangan yang ada di hadapannya. Keputusan yang dia ambil bukan hanya untuk keselamatan dirinya sendiri. Tetapi keputusan itu demi keselamatan orang lain, yaitu para penumpang dan orang-orang yang mencintainya.

Pilot itu berani mengalah demi kebaikan. Itulah tindakan heroik yang telah dibuatnya. Tindakan heroik itu bukan hanya berani mengorbankan hidup. Tetapi juga dalam hal-hal yang membawa keselamatan bagi banyak orang.

Sahabat, sering kita menyaksikan ada orang yang bertindak begitu berani. Atau sebenarnya adalah tindakan yang gegabah. Orang mau membuktikan bahwa mereka bisa melakukan sesuatu yang sangat sulit. Padahal mereka tidak punya ketrampilan untuk itu. Akibatnya, kecelakaan yang justru mereka alami.

Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang ingin dipuji. Orang ingin mendapatkan pengakuan dari pihak lain. Berapa banyak nyawa kaum remaja yang mesti melayang karena kebut-kebutan di jalan?

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita tidak boleh gegabah dalam hidup ini. Kita mesti memperhitungkan segala sesuatu yang akan kita lakukan untuk hidup kita. Mengapa? Karena keputusan yang kita ambil untuk melakukan sesuatu itu bukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri. Keputusan itu juga untuk banyak orang lain.

Akibat dari keputusan gegabah yang kita ambil dapat berakibat bagi orang lain. Karena itu, suatu keputusan mesti diambil dengan cara yang secermat-cermatnya. Jangan asal buat keputusan yang hanya untuk menyenangkan diri sendiri.

Kita hidup dalam dunia di mana pujian sangat dikejar oleh manusia. Banyak orang mengejar pujian untuk sesuatu yang sangat sepele. Misalnya, orang berani terjun dari tebing yang tinggi hanya untuk dikatakan ia orang yang hebat dan pemberani. Ini sesuatu yang sepele, namun membahayakan nyawa. Namun orang mau melakukan itu. Bukankah ini suatu kebodohan? Bukankah yang menderita adalah dia sendiri?

Sebagai orang beriman, kita mesti cermat dalam hidup ini. Apa yang kita lakukan itu tidak hanya berakibat pada diri kita sendiri. Tetapi juga berakibat pada orang-orang yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



794

01 Oktober 2011

Menumbuhkan Iman agar Menjadi Kokoh


Suatu kali saya bepergian dari kota Milwaukee, Wisconsin, ke Lexington, Kentucky, Amerika Serikat. Pesawat yang saya tumpangi transit di kota Detroit, Michigan. Saya harus naik pesawat yang lain untuk sampai di kota Lexington. Sekitar satu jam saya menunggu pesawat yang akan mengangkut saya dan penumpang lain menuju kota Lexington.

Begitu diumumkan nomor penerbangan yang akan kami gunakan, saya langsung menuju ke pesawat. Melihat pesawatnya, saya heran. Kok kami akan diterbangkan dengan pesawat kecil? Tambahan lagi pesawat tersebut dikendalikann seorang pilot yang masih muda. Tidak ada pramugari atau pramugara yang menyertai penerbangan itu. Begitu semua penumpang masuk, pilot sendiri yang menutup pintu pesawat. Lantas ia membagi-bagikan makanan kecil dan minuman kepada para penumpang yang berjumlah 12 orang. Beberapa saat kemudian, pilot menuju ruang kemudi. Pesawat pun take off.

Selama perjalanan saya berdoa, ”Tuhan, apakah Engkau mau kami semua hilang di belantara Amerika ini? Apa yang Engkau inginkan dari kami?”

Saya menjadi ragu dengan keselamatan kami. Seorang penumpang yang duduk di sebelah saya tahu apa yang saya rasakan. Ia tersenyum memandang saya. ”Anda tidak perlu takut. Pesawat kecil ini sudah terlatih untuk menjelajah daerah ini. Pilotnya masih muda. Tetapi dia sangat berpengalaman. Jadi, tenanglah,” kata orang itu.

Saya tidak begitu percaya dengan kata-katanya. ”Anda boleh saja berkata begitu. Tetapi kalau ada apa-apa dengan pesawat ini, kita akan terjun bebas. Tidak ada yang selamat,” jawab saya.

Penumpang itu tersenyum menyaksikan ketidakpercayaan saya. Setelah setengah jam penerbangan, pesawat kecil itu mendarat dengan mulus. Tidak ada benturan keras di landasan pacu. Ternyata pesawat kecil dan pilot yang masih muda itu bisa dipercaya.

Sahabat, kadang-kadang hati kita kecut menyaksikan sesuatu yang tampaknya tidak punya kekuatan. Kita tidak percaya bahwa sesuatu yang kecil itu juga punya kekuatan yang besar. Kita cenderung menganggap remeh sesuatu yang kecil itu. Padahal seperti kisah pengalaman tadi, sesuatu yang kecil itu mempunya kekuatan yang luar biasa. Pesawat yang kecil itu ternyata mampu membawa kami sampai tujuan. Tidak ada gangguan apa-apa.

Karena itu, berhadapan dengan sesuatu yang kecil yang tampaknya kurang berarti, kita tidak boleh memvonis begitu saja. Kita mesti beri kesempatan bagi yang kecil dan kurang berdaya untuk bertumbuh. Dengan demikian, yang kecil itu dapat mengembangkan diri semaksimal mungkin.

Iman yang kita miliki pun awalnya sesuatu yang kecil. Ketika kita pertama kali mengenal Tuhan, mungkin kita kurang begitu yakin bahwa Tuhan mampu menolong kita. Kita ragu-ragu, apakah Tuhan dapat membantu kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita. Namun lama-kelamaan, ketika kita sungguh-sungguh menumbuhkan iman yang kecil itu, kita menjadi orang yang percaya. Kita semakin membangun kesetiaan kepada Tuhan yang kita imani.

Mari kita bangun dan tumbuhkan iman kita yang kecil. Dengan demikian, kita semakin memiliki kesetiaan kepada Tuhan yang kita imani. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ