Pages

09 Februari 2012

Meraih Kualitas Hidup melalui Usaha Keras

Anda ingin sukses dalam hidup Anda? Apa yang Anda lakukan? Anda diam saja di tempat tanpa usaha dan latihan? Atau Anda mulai berusaha menemukan berbagai cara untuk meraih kesuksesan itu?

Seorang pemain biola, yang diakui oleh dunia internasional, percaya bahwa fokus dan latihan dengan disiplin adalah kunci kualitas penampilannya. Sekalipun dalam padatnya jadwal bermain untuk 90 konser per tahun, ia masih sempat latihan rata-rata 5 sampai 6 jam sehari.

Begitulah hidup seorang pemain biola terkenal bernama Midori. Tentang kehidupan sehari-harinya, Midori berkata, “Saya latihan untuk pekerjaan saya. Saya latihan setiap hari...”

Meski bermain biola dengan lihai, Midori tetap rendah hati. Ia terus-menerus berlatih untuk mendapatkan ketrampilan yang sungguh-sungguh punya kualitas tinggi bagi kehidupannya. Baginya, kualitas itu hanya dapat dicapai melalui latihan yang keras dan terus-menerus.

Hasilnya adalah ia menjadi seorang pemain biola terkemuka di dunia. Ia mendapatkan order untuk konser per bulan lebih dari tujuh kali. Tentu saja ini suatu pencapaian yang sangat spektakular. Namun ia tetap memilih untuk tidak mendiamkan tangannya usai melakoni konser-konser besar. Setelah mengadakan konser, ia kembali berlatih setiap hari selama lima hingga enam jam. Luar biasa.

Sahabat, Anda ingin sukses dalam hidup Anda? Anda ingin hidup Anda lebih berkualitas? Tidak ada jalan lain, kecuali berlatih dan berlatih. Anda dituntut untuk melakukan latihan yang terus-menerus untuk mendapatkan kualitas yang tinggi dalam kehidupan Anda.

Kisah Midori di atas mencengankan kita. Ia mampu melayani 90 konser dalam satu tahun. Ia berhasil melakukannya dengan baik dalam kualitas yang tinggi, karena ia mau berlatih. Ia mau mengorbankan banyak waktu dalam kehidupannya untuk meraih kualitas yang tinggi dalam bermain biola. Ia ingin mengejar kesempurnaan itu dengan berlatih dan berlatih.

Banyak orang ingin memiliki hidup yang penuh kualitas. Banyak orang ingin meraih impian-impian mereka. Namun banyak pula dari mereka yang jatuh, karena mereka ingin meraihnya dalam waktu yang singkat. Mereka ingin mencapai kualitas hidup yang baik dengan malas-malasan saja. Tentu saja ini hal tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada keberhasilan yang dilalui tanpa pengorbanan.

Sama seperti seorang musisi yang mengejar kesempurnaan dalam permainan musik dengan berlatih keras, kita juga mesti berani berkorban untuk meraih impian-impian kita. Artinya, ketika kita hanya mau bermalas-malasan, kita tidak akan mampu meraih hidup yang lebih berkualitas.

Kalau kita hanya ingin meraih cita-cita kita dalam waktu yang singkat, jangan harap kita mampu meraihnya. Tiada keberhasilan yang diraih tanpa pengorbanan. Mari kita berusaha untuk terus-menerus berlatih, agar kita mampu meraih hidup yang penuh kualitas. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


869

08 Februari 2012

Menumbuhkan Semangat Memberi dalam Hidup

Apa yang terjadi dalam hidup Anda, kalau Anda memberikan apa yang Anda miliki untuk sesama Anda? Anda merasa kehilangan? Atau Anda merasa Anda menjadi orang yang lebih kaya?

Ada seorang pemuda yang biasa memberi sesuatu kepada teman-temannya. Di saat teman-temannya mengalami kesulitan dalam hidup, ia mengulurkan tangan membantu mereka. Bagi pemuda itu, ia lakukan hal seperti itu sejak ia masih kecil. Orangtuanya selalu mengajarkan kepadanya untuk memberi sesuatu atau bantuan kepada orang lain. Dengan memberi, ia mengalami sukacita dalam hidupnya.

Ia berkata, “Memberi itu membuat saya lebih kaya. Saya punya banyak teman. Saya tidak kehilangan sesuatu pun dalam hidup ini. Bahkan saya mendapatkan banyak hal untuk hidup saya.”

Tentu saja semangat memberi itu sudah menjadi bagian dari hidup pemuda itu. Ia merasakan sakit hatinya saat ia tidak bisa mengulurkan tangannya untuk membantu sesamanya. Ia mengaku, ia pernah tidak bisa tidur semalam suntuk karena tidak bisa membantu temannya.

Meski pemuda itu bukan orang yang kaya, ia selalu berusaha memberikan apa yang dia punyai untuk sesamanya yang membutuhkan. Ia bersyukur memiliki semangat untuk memberi. Dengan cara itu, ia merasakan hidup ini semakin berguna bagi orang lain. Ia boleh mengungkapkan dalam kata dan perbuatan kasihnya kepada sesamanya.

Sahabat, sudahkah Anda memberi sesuatu kepada sesama Anda hari ini? Atau Anda malah menuntut orang lain untuk memberi Anda sesuatu yang Anda butuhkan? Kalau hal kedua ini yang menjadi semangat Anda, lalu Anda akan selalu merasa tidak punya apa-apa. Di saat Anda memberi, Anda akan merasakan ada sesuatu yang hilang dari diri Anda.

Kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa memberi itu menjadi suatu semangat yang menjadi bagian dalam hidup kita. Semangat memberi mesti menjadi hidup kita. Orang yang rela memberikan apa yang dimiliki bagi sesamanya akan mendapatkan banyak hal bagi hidupnya. Ia tidak perlu cemas akan hari depannya. Ia tidak perlu kuatir akan kehilangan apa yang ia berikan itu.

Namun banyak orang tidak suka memberi. Mereka mengira bahwa dengan memberi itu mereka kehilangan banyak hal. Ada yang berprinsip bahwa ia baru mau memberi ketika ia sudah menjadi kaya. Dalam hal ini orang mesti hati-hati. Mengapa? Semangat memberi itu tidak datang dengan tiba-tiba. Semangat memberi itu dapat hadir dalam diri orang berkat kebiasaan memberi yang terus-menerus.

Pemberian yang bernilai tinggi terjadi kita memberikan diri kita bagi kebahagiaan sesama kita. Artinya, di saat situasi menuntut pengorbanan dari diri kita, kita mesti berani memberikan diri kita untuk sesama kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih bermakna. Mari kita memberi. Hanya dengan memberi, kita akan mendapatkan banyak hal untuk kehidupan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

868

07 Februari 2012

Kasih yang Tulus Tumbuhkan Kebesaran Jiwa

Apa sikap Anda terhadap orang yang Anda sayangi ketika musibah menimpa dirinya? Anda biarkan saja? Atau Anda menolak kehadirannya?

Ada seorang gadis cantik yang cerdas. Setelah menyelesaikan sekolahnya di perguruan tinggi, gadis itu bekerja di sebuah perusahaan terkenal. Gajinya cukup tinggi. Meski begitu, gaya hidupnya sangat sederhana. Ia jarang berfoya-foya. Ia tinggal di sebuah apartemen dekat kantornya. Hal itu ia lakukan untuk menghindari biaya mahal, kalau ia mesti tinggal di rumah ibunya yang berada di luar kota.

Di rumah gadis itu, hidup ibunya yang sudah janda. Sebagian kepala dari ibunya botak. Kulit kepalanya menampakkan borok yang baru mengering. Rambut kepalanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Wajahnya pun cacat seperti luka bakar. Ia seperti sebuah monster yang mengerikan.

Gadis itu tidak pernah tahu tentang penyebab dari kondisi ibunya. Namun ia selalu mencintainya. Ia selalu menerima kehadiran sang ibu dengan penuh kasih. Apalagi sang ibu telah membesarkan dan membiayai sekolahnya hingga selesai. Sesekali di akhir pekan, gadis cantik itu membawa sang ibu berjalan-jalan di pantai.

“Nak, apa kamu tidak malu punya ibu seperti ini? Bukankah wajah ibu jelek dan penuh koreng-koreng?” Tanya ibunya suatu hari.

Gadis itu terkejut mendengar pertanyaan ibunya. Ia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang menusuk hatinya itu. Gadis itu tersenyum. Ia hanya menggelengkan kepala. Ia tidak pernah merasa malu. Baginya, sang ibu telah mengasihinya begitu tulus. Ia ingin membalas kasih yang tulus itu, meskipun sebenarnya ia tidak pernah dapat membalasnya dengan sempurna.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang nyata. Artinya, kita hidup bersama orang lain yang tidak selamanya sempurna dalam berbagai hal. Ada saja orang-orang yang dekat dengan kita memiliki cacat dalam hidupnya. Ada saja orang-orang yang kita kasihi menderita penyakit yang ganas. Ada saja orang-orang yang begitu kita kagumi jatuh ke dalam kesalahan dan dosa yang berat.

Apa sikap kita yang paling baik terhadap kondisi seperti ini? Kita menolak kenyataan seperti itu? Atau dengan lapang dada dan penuh kasih setia kita menerima kenyataan itu?

Kisah di atas sangat menyentuh hati kita. Gadis cantik itu bisa saja meninggalkan ibunya seorang diri. Bisa saja ia tidak mengakui perempuan tua itu sebagai ibu kandungnya. Namun ia tidak lakukan itu. Mengapa? Karena ia mengalami betapa kasih sang ibu memampukan dirinya untuk meraih sukses dalam hidupnya. Berkat kasih itu pula ia memiliki masa depan yang cerah dan baik.

Kebahagiaan dapat tercipta dalam hidup kita, kalau kita mau menerima kehadiran sesama kita dengan tangan terbuka. Ketika kita menerima kenyataan diri sesama yang kita cintai sebenarnya kita menerima diri kita sendiri. Ketidaksempurnaan yang dimiliki oleh orang-orang yang dekat dengan kita sebenarnya juga menjadi milik kita.

Menerima cacat fisik atau psikis dari orang yang kita cinta itu butuh kebesaran jiwa. Kita mesti berani mengabaikan gengsi yang ada dalam diri kita. Hal ini bisa kita lakukan, kalau kita memiliki cinta yang tulus dan mendalam terhadap orang-orang yang ada di sekitar kita. Mari kita tumbuhkan kasih yang tulus dalam diri kita dengan menerima kehadiran sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


867

04 Februari 2012

Menumbuhkan Sikap Syukur dalam Hidup

Apa yang akan Anda lakukan saat Anda merasakan kasih yang tulus dari sesama Anda? Anda cuek saja? Atau Anda menumbuhkan sikap syukur dalam diri Anda?

Ada seorang anak yang sangat mensyukuri kebaikan orangtuanya. Padahal selama ini ia merasa telah dibohongi oleh ayah ibunya. Ternyata mereka bukan orangtua aslinya. Mereka adalah orangtua angkat yang telah merawat dirinya sejak bayi. Ia menerima dengan lapang dada saat diberitahukan kepadanya bahwa ia hanyalah anak angkat.

“Saya tetaplah seorang anak yang patut bersyukur atas kebaikan keluarga angkat saya. Mereka sangat baik kepada saya. Mereka sangat mencintai saya. Apa pun yang saya minta, mereka selalu memberikan yang terbaik. Apa pun yang terjadi, mereka adalah orangtua saya,” kata anak itu.

Anak itu bertumbuh dalam suasana cinta kasih yang begitu mendalam. Ia merasakan sendiri kepedihan ibu angkatnya saat ia mesti dirawat di rumah sakit karena demam berdarah. Ibu angkatnya itulah yang menjaga dirinya siang dan malam. Sang ibu rela meninggalkan pekerjaannya. Sang ibu rela meninggalkan ayah angkatnya demi kesembuhan dirinya. Sungguh, suatu cinta yang sangat mendalam telah ia alami sepanjang kehidupannya. Karena itu, ia tetap mensyukuri kebaikan orangtua angkatnya.

Sahabat, kita semua ingin hidup dalam damai. Kita tidak ingin persoalan-persoalan selalu mengusik diri kita. Namun kadang-kadang kita sendiri yang menciptakan suasana yang kurang baik. Tentu saja kalau ini yang kita lakukan berarti kita menjerumuskan diri kita sendiri ke dalam pencobaan.

Kisah anak angkat tadi menjadi inspirasi bagi hidup kita. Pengalaman kasih yang begitu dalam membantu diri anak itu untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman akan Tuhan. Tidak sedikit pun timbul pikiran dalam hatinya untuk mengingkari kasih setia kedua orangtuanya. Malah ia bersyukur memiliki orangtua yang begitu baik.

Tentu saja ada hal-hal yang menjadi pendukung bagi dirinya untuk tetap bertahan dalam ungkapan syukur yang terus-menerus. Pertama, cinta yang begitu tulus dan mendalam dari orangtua angkatnya. Orang yang mengalami cinta yang tulus itu mesti sadar bahwa hanya dengan dan melalui cinta itu orang dapat hidup dengan damai. Hanya dengan dan melalui cinta itu orang mampu menanggapi kebaikan sesamanya.

Kedua, cinta yang tulus itu kemudian ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tidak hanya membiarkan cinta yang tulus itu hadir begitu saja dalam dirinya. Tetapi orang secara kreatif menumbuhkembangkannya. Cinta yang tulus tetaplah cinta yang tidak berguna saat tidak ditumbuhkembangkan dengan baik dan benar. Orang yang mampu menumbuhkembangkan cinta yang tulus itu orang yang mampu bersyukur atas kebaikan Tuhan.

Karena itu, yang dibutuhkan dari diri setiap orang adalah sikap syukur yang terus-menerus ditampilkan dalam hidup. Selalu saja ada usaha yang terus-menerus untuk menumbuhkembangkan hidup di atas dasar cinta kasih. Tentu saja hal ini tidak gampang. Ada berbagai tantangan yang mesti dihadapi. Anak dalam kisah tadi mesti menghadapi kenyataan bahwa dirinya hanyalah anak angkat. Namun cinta yang tulus telah mengalahkan tantangan hidup itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk terus-menerus mensyukuri kebaikan Tuhan melalui cara hidup kita sehari-hari. Tuhan begitu baik kepada kita. Tuhan selalu peduli terhadap kita. Mari kita berusaha untuk mensyukuri kebaikan Tuhan dengan hidup baik di hadapanNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

866

30 Januari 2012

Semangat Berusaha untuk Hidup Lebih Baik

Setiap orang menginginkan hidup yang aman dan tenteram. Untuk itu, ada berbagai usaha untuk membangun hidup yang damai dan sejahtera.

Suatu hari seorang investor memanggil orang-orang yang menggunakan uangnya. Ia ingin mereka mempertanggungjawabkan modal yang telah diberikan kepada mereka. Baginya, investasi yang ia berikan itu mesti menghasilkan. Tidak boleh ada yang menyia-nyiakannya. Mereka mesti berhasil dalam usaha mereka itu.

Ada tiga orang yang mendapatkan modal dari investor itu. Masing-masing mereka mendapatkan modal sesuai dengan kemampuan mereka. Orang yang pertama datang menghadap investor itu. Ia melaporkan kegiatan usaha dengan modal sepuluh milyar rupiah. Menurut orang itu, selama satu tahun modal itu ia gunakan untuk usaha yang menghasilkan laba bersih sebanyak 15 milyar rupiah.

Investor itu sangat senang mendengar sukses dari orang yang menjalankan usaha itu. “Baik sekali usahamu itu. Kamu orang yang baik dan setia. Kamu sudah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Saya menambahkan lagi modal untuk usahamu itu,” kata investor itu.

Lantas datang orang yang kedua. Dengan wajah gembira, ia menyampaikan hasil usahanya selama satu tahun. Dengan modal lima milyar rupiah, ia menghasilkan sepuluh milyar rupiah. Usahanya pun berkembang dengan pesat. Melihat hal itu, sang investor sangat gembira. Modal lima milyar itu ia ambil kembali tanpa ada bunga. Sedangkan dari laba sepuluh milyar itu, investor itu menyerahkan kepada orang itu tujuh milyar rupiah sebagai modal usaha. Tiga miliar rupiah menjadi modal dari investor itu. Ada suasana sukacita di antara mereka. Ada rasa puas atas apa yang telah dilakukan.

Namun dengan wajah yang bermuram durja orang yang ketiga menghadap investor itu. Ia melaporkan kegagalan demi kegagalan atas usaha-usahanya. Modal tiga milyar rupiah yang diberikan kepadanya tidak ia gunakan dengan sebaik-baiknya. Ia hanya biarkan saja di dalam brankas di rumahnya.

Sang investor sangat marah mendengar penjelasan dari orang yang ketiga itu. Ia tidak habis pikir, mengapa uang yang begitu banyak dibiarkan nganggur di dalam brankas.

“Yang saya kehendaki adalah kamu mau berusaha untuk kemajuan dirimu sendiri. Bukan untuk saya. Baiklah. Saya ambil semua investasi yang telah saya berikan kepadamu. Kamu tidak layak untuk menjalankan usaha,” kata investor itu dengan penuh penyesalan.

Sahabat, masing-masing kita dipercaya untuk mengelola kemampuan-kemampuan yang ada pada diri kita. Tentu saja saat kita diciptkan, kita telah dibekali dengan berbagai perangkat. Kita tidak diciptakan seperti kertas putih yang kosong. Di dalam diri kita sudah ada berbagai hal yang mesti kita kembangkan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa setiap orang telah diberi tanggung jawab. Tugas setiap orang adalah mengembangkan tanggung jawab itu melalui karya-karya yang berguna bagi kehidupannya. Tujuannya untuk menjadi bekal bagi perjalanan hidup kita. Untuk menggapai ketenteraman dan kebahagiaan hidup, orang mesti berusaha. Orang tidak bisa menunggu mutiara yang indah jatuh dari langit.

Sebagai orang beriman, kita ingin terus-menerus mengusahakan kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri kita. Kita tidak hanya ingin tinggal diam. Kita mau dengan penuh kreativitas menumbuhkan kemampuan-kemampuan kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang maju dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


865

Bertumbuh dalam Kasih


Kita hidup berkat kasih dari Tuhan dan sesama. Karena itu, kita mesti tumbuhkan kasih itu dalam hidup ini. Hanya dengan menumbuhkan kasih itu, kita dapat meneruskan kehidupan ini.

Ada seorang duda yang sangat kaya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat ia kasihi. Mereka punya kegemaran yang sama, yaitu mengoleksi lukisan-lukisan terkenal. Mereka berkeliling dunia untuk mencari dan mengumpulkan lukisan-lukisan itu. Karya-karya tak ternilai harganya dari Picasso, Van Gogh, Monet dan banyak lainnya menghiasi dinding rumah mereka. Duda itu sangat bangga dengan keahlian anaknya memilih karya-karya bermutu.

Ketika musim dingin tiba, perang melanda negeri mereka. Anak muda itu pergi untuk membela negerinya. Setelah beberapa minggu, ayahnya menerima telegram bahwa anaknya telah hilang. Kolektor seni itu dengan cemas menunggu berita berikutnya. Ternyata yang dicemaskan terjadi: anaknya telah tewas ketika sedang merawat seorang temannya yang terluka. Keinginan untuk merayakan ulang tahunnya bersama anaknya sirna sudah. Ia merasa sedih dan kesepian.

Pada hari ulang tahunnya, terdengar ketokan di pintu yang membangunkan orang tua itu. Ketika ia membuka pintu, seorang serdadu berdiri di depannya dengan membawa bungkusan besar. “Saya adalah teman anak bapak. Saya adalah orang yang sedang diselamatkannya, ketika ia tewas. Bolehkah saya masuk sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan,” kata serdadu itu.

Serdadu itu menuturkan bahwa anak orang tua itu telah menceritakan padanya kecintaannya, juga ayahnya, pada barang-barang seni. “Saya adalah seorang seniman. Saya ingin memberikan pada Anda barang ini,” kata serdadu itu.

Lantas ia pun membuka bungkusan yang dibawanya itu. Ternyata di dalamnya ada lukisan foto anak orang tua itu. Memang, bukan karya yang sangat bagus dibandingkan dengan lukisan-lukisan yang telah dimilikinya. Tetapi lukisan itu cukup rinci menggambarkan wajah anaknya. Dengan terharu, orang tua itu memajang lukisan itu di atas perapian, menyingkirkan lukisan-lukisan lain yang bernilai ratusan juta rupiah.

Sahabat, apa yang sangat berharga dalam diri Anda? Jawabannya tentu saja ada banyak hal yang berharga dalam diri Anda. Namun ada satu yang sangat berharga, yaitu hidup yang penuh kasih sayang. Melalui hidup yang penuh kasih itu, Anda akan mengalirkan kebaikan demi kebaikan bagi sesama Anda.

Kisah orang tua yang kehilangan anak tadi menjadi suatu inspirasii bagi kita. Ternyata orang tua itu menjadi sedih karena kehilangan putranya. Ia mengalami duka yang mendalam begitu mendengar gugurnya sang anak di medan perang. Tetapi hidupnya kembali bersemi begitu ia menyaksikan kembali foto wajah ayahnya.

Kasihnya yang begitu besar terhadap anaknya membuat ia bersedih hati saat kehilangan sang anak. Namun kasih itu pula yang telah memberi ia kekuatan untuk melanjutkan perjalanan hidup ini. Ia sadar bahwa hanya melalui kasih itu ia mampu membahagiakan orang lain.

Kita hidup berkat kasih yang kita peroleh dari sesama kita. Kita tidak bisa hidup tanpa kasih. Namun hidup kita menjadi semakin bermakna, ketika kita mengalami begitu besarnya kasih Tuhan atas diri kita. Tuhan tidak pernah meninggalkan diri kita. Tuhan senantiasa mengasihi kita melalui penyertaanNya bagi diri kita. Mari kita tumbuhkan kasih dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin bermakna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


864

28 Januari 2012

Syukuri Peristiwa-peristiwa Kecil dalam Hidup

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda mengalami hal-hal kecil yang menyulitkan hidup Anda? Tentu Anda akan berusaha untuk menyingkirkannya. Namun apa yang akan Anda lakukan, ketika hal-hal kecil itu menguntungkan Anda?

Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat untuk menceritakan pengalamannya. Sebagian besar karyawan meninggal saat terjadinya serangan atas WTC. Pada pertemuan pagi itu, pimpinan keamanan menceritakan kisah, bagaimana mereka bisa selamat. Semua kisah itu hanyalah mengenai hal-hal yang kecil.

Seorang kepala keamanan perusahaan selamat pada hari itu, karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK. Karyawan yang lain masih hidup, karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya. Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat waktu. Seorang karyawan terlambat, karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas.

Seorang karyawan ketinggalan bus. Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya, sehingga ia perlu waktu untuk ganti pakaian. Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan. Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telepon yang berdering. Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan, sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama. Seorang karyawan tidak memperoleh taksi.

Seorang karyawan baru saja membeli sepasang sepatu baru. Ia memakai sepatu baru pagi itu dan berangkat kerja dengan penuh semangat. Tetapi sebelum sampai di kantor yang berada di lantai 40 gedung WTC, sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Ia berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester. Inilah yang menyebabkan ia bisa tetap hidup sampai hari ini.

Sahabat, pernahkah Anda dihalangi oleh hal-hal kecil dalam hidup Anda, sehingga membuat Anda tidak maju? Mungkin banyak. Hal-hal kecil seperti itu tentu saja menyakitkan hati Anda. Anda ingin membangun hidup yang lebih baik, tetapi Anda tidak bisa lakukan. Ada saja halangan-halangan yang membuat Anda tidak bisa maju.

Kisah di atas mengungkapan pengalaman para karyawan yang mengalami keselamatan berkat hal-hal kecil. Hal-hal itu seolah-olah menjadi penghalang bagi hidup mereka. Tetapi ketika terjadi tragedi-tragedi besar dalam hidup, orang pun mulai merasa beruntung boleh diselamatkan oleh hal-hal kecil itu.

Kadang kita merasa bahwa pengalaman-pengalaman kecil dalam hidup ini tidak memiliki makna yang mendalam. Kita baru sadari setelah kita menyaksikan sendiri hal-hal kecil itu sungguh-sungguh membantu kita untuk keluar dari kesulitan-kesulitan hidup.

Karena itu, kita mesti mensyukuri peristiwa-peristiwa kecil dalam hidup kita itu. Dengan demikian, kita semakin menjadi orang yang kuat dalam iman dan kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


863

26 Januari 2012

Tumbuhkan Kasih yang Tak Terbatas Rata Penuh



Apa yang menjadi hal yang utama dalam hidup Anda? Diri Anda sendiri? Atau kehidupan bersama dengan semua orang?

Suatu hari seorang gadis mendatangi seorang bijak. Ia bertanya kepada orang bijak itu tentang dosis kasih yang sehat. Orang bijak itu terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia tidak habis pikir, di zaman seperti ini masih ada orang yang peduli terhadap kasih. Bukankah kasih satu terhadap yang lain sudah semakin musnah? Bukankah kasih itu sudah terkamuflase dengan berbagai bentuk egoisme dan kepentingan diri?

“Sebenarnya apa yang kamu rasakan dari kasih itu? Apakah kamu punya masalah dengan kasih?” tanya orang bijak itu kepada gadis itu.

Gadis itu tersenyum mendengar pertanyaan orang bijak itu. Ia tidak siap untuk menjawab pertanyaan orang bijak itu. Bagi gadis itu, kasih itu adalah segala-galanya dalam hidup ini. Orang yang tidak mempunyai kasih tidak akan mengalami damai dalam hidupnya. Yang ada adalah permusuhan yang terus-menerus.

Setelah lama terdiam, gadis itu berkata, “Saya ingin hidup secara baik dan normal. Saya tidak ingin hidup saya dipenuhi oleh permusuhan. Saya ingin hidup saya selalu dipenuhi oleh kebaikan dan kasih.”

Orang bijak itu berdecak kagum atas jawaban gadis itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis itu akan menjawab seperti itu. Karena itu, orang bijak itu berkata, “Anda telah menemukan damai dalam hidup saat Anda mulai bicara tentang kasih. Anda telah mulai merajut hidup yang bahagia saat Anda mengutamakan kasih di atas segala-galanya.”

“Tetapi yang saya butuhkan adalah berapa dosis kasih yang sehat yang harus saya gunakan dalam satu hari?” Tanya gadis itu.

“Nak, dalam hal kasih, tidak ada dosis. Yang harus Anda lakukan adalah mengasihi terus-menerus tanpa batas. Ketika Anda mengasihi sesamamu, saat itu pula Anda mengalami sukacita dan damai,” kata orang bijak itu.

Sahabat, banyak orang mengalami kekeringan kasih dalam hidupnya. Akibatnya, mereka membatasi kasih itu. Mereka tidak mau melakukan hal-hal yang lebih besar dan baik bagi sesama. Mengapa hal seperti ini terjadi dalam kehidupan manusia? Hal ini terjadi karena manusia egois. Manusia melakukan sesuatu bagi sesamanya hanya untuk kebahagiaan dirinya sendiri.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kasih itu tidak berkesudahan. Orang yang melakukan hal-hal yang baik bagi sesamanya mesti mendasarkan perbuatannya pada kasih itu. Kasih tidak bisa dibatasi seperti dokter yang memberi dosis kepada seorang penderita sakit. Mengapa? Karena setiap orang yang melakukan kasih itu menumbuhkan kehidupan.

Orang yang mengutamakan kasih dalam hidupnya akan menemukan hidup ini begitu indah. Ia memberi hidup dengan kasih yang tak terbatas. Dari waktu ke waktu ia akan bertumbuh menjadi orang yang kaya akan kebaikan.

Memang, tidak mudah untuk bertumbuh dalam kasih itu. Mengapa? Karena orang sering dikuasai oleh egoisme. Orang dikuasai oleh kepentingan dirinya sendiri. Orang tidak dikuasai oleh kasih yang tak terbatas terhadap sesamanya.

Karena itu, orang beriman mesti selalu mengutamakan kasih dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih indah dan baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

861

25 Januari 2012

Mempertanggunjawabkan Pemberian Tuhan bagi Hidup

Apa yang menyusahkan Anda hari ini? Apakah hati Anda berbeban, karena sejumlah masalah yang mengancam Anda? Apakah Anda dipenuhi oleh kegelisahan dan kekuatiran? Mengapa Anda kuatir atau cemas? Bukankah Tuhan begitu baik terhadap Anda? Bukankah Tuhan telah mengabulkan permohonan Anda hari ini?

Suatu hari, seorang anak datang kepada ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membelikan mainan mobil untuk dirinya. Ia ingin sekali bermain mobil-mobilan untuk menumbuhkan semangat dalam hidupnya. Ia yakin, ayahnya akan mengabulkan permohonannya.

“Ayah, satu permintaan ini saja yang saya ajukan kepada ayah. Tolong belikan saya mobil-mobilan,” kata anak itu.

Ayahnya tersenyum mendengar permintaan anaknya. Ia menganggukkan kepala tanda setuju. Lantas ia mengusap-usap kepala anaknya. “Nak, apa saja yang kamu minta akan ayah kabulkan. Yang penting adalah kamu pertanggungjawabkan apa yang ayah berikan kepadamu,” kata ayah itu.

Anak itu menganggukkan kepala. Ia mau bertanggungjawab atas pemberian ayahnya itu. Karena itu, ketika ayahnya memberi dia sebuah mobil-mobilan yang cantik, ia menggenggamnya erat-erat. Ia menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Ia yakin, hanya dengan memelihara mobil-mobilan itu, ia dapat mempertanggungjawabkan pemberian ayahnya itu.

Sahabat, kepada kita semua telah diberi berbagai hal oleh Tuhan. Kita diberi bakat-bakat yang mesti kita kembangkan dengan sebaik-baiknya. Kita diberi kesempatan untuk hidup dalam dunia ini. Ketika kita meminta pertolongan dari Tuhan, kita diberi berbagai hal. Tuhan begitu baik kepada kita.

Kisah tadi mencerminkan Tuhan yang baik itu. Tuhan yang baik itu hadir dalam diri sang ayah yang mengabulkan permohonan anaknya. Tuhan yang baik itu juga mengharapkan pertanggungjawaban atas kebaikan yang telah diberikanNya itu. Karena itu, kita mesti memelihara pemberian Tuhan itu dengan baik dan benar.

Namun dalam hidup ini ada orang yang rakus. Ada orang yang selalu merasa tidak cukup atas pemberian dari Tuhan itu. Orang seperti ini ingin selalu memiliki banyak hal bagi darinya. Orang ingin menumpuk banyak hal bagi dirinya. Padahal Tuhan mengharapkan agar pemberian-Nya itu digunakan untuk kebaikan. Pertanggungjawaban atas pemberian Tuhan itu mesti ditunjukkan dengan melakukan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama.

Orang yang menyalahgunakan pemberian Tuhan biasanya mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya tidak mengalami sukacita dan damai. Karena itu, orang diharapkan untuk sungguh-sungguh mempertanggungjawabkan pemberian Tuhan itu. Caranya adalah dengan berbuat amal baik bagi sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diundang untuk terus-menerus melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi sesama. Dengan cara itu, kita mempertanggungjawabkan kasih karunia Tuhan kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

23 Januari 2012

Membangun Cinta yang Tulus

Apa yang akan Anda lakukan kalau Anda mengalami kesulitan dalam membangun kasih dengan sesama? Anda putus harapan? Atau Anda akan berusaha terus untuk merebut kasih itu?

Ada seorang gadis yang sangat merindukan kasih sayang seorang ayah. Selama ini ia merasa bahwa seorang lelaki yang ada di rumahnya hanyalah sosok yang mengerikan. Lelaki itu jarang menyapanya dengan penuh kasih. Ia merasa lelaki itu begitu jauh dari dirinya. Tidak ada ikatan batin yang begitu dekat dengan lelaki itu.

Karena itu, gadis itu tidak merasakan ada sentuhan kasih yang bermakna dari lelaki itu. Menurut ibunya, lelaki itu adalah ayah kandungnya. Lelaki itu pula membiayai seluruh hidupnya. Ia bisa pergi ke sekolah berkat kerja keras lelaki itu. Namun gadis itu merasa bahwa hubungan mereka begitu formal. Hubungan mereka begitu kaku bagai atasan dan bawahan.

“Benar bahwa ia membayar uang sekolahku. Ia juga membiayai kebutuhan hidupku. Tapi sebatas itukah yang disebut kasih sayang seorang ayah? Dia tak lebih daripada seseorang yang harus memenuhi sebuah tuntutan hukum untuk mendampingi diriku. Tetapi ia bukanlah ayahku. Setiap ongkos yang keluar untuk membayar uang sekolahku harus aku bayar dengan derai air mata dan isakan tangis. Harus aku bayar dengan mata yang membengkak. Inikah kasih sayang seorang bapak?” kata gadis itu.

Gadis itu hidup dalam malapetaka. Hatinya tidak tenang. Ia tidak mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya dari seorang ayah. Ia tidak menemukan kehangatan dari seorang ayah. Ia merasa kecewa terhadap hidupnya. Namun suatu hari ia berusaha untuk bangkit. Ia tidak mau menunggu terlalu lama ayahnya berubah. Ia memaksakan diri untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan ayahnya. Hasilnya? Relasi di antara mereka menjadi lebih baik. Mereka boleh bersenda gurau. Ia boleh merasakan kehangatan hati seorang ayah.

Sahabat, apa yang menjadi dasar hidup Anda? Mungkin orang yang mata duitan akan mengatakan bahwa dasar hidupnya adalah uang. Punya uang yang banyak akan menjadikan dirinya mudah untuk membangun masa depannya. Mungkin orang yang mengutamakan kehidupan bersama akan mengatakan bahwa dasar hidup itu adalah membangun kebaikan dalam relasi yang harmonis.

Bagi orang beriman, dasar hidup itu terletak pada cinta yang mendalam terhadap sesama. Hanya dengan mencintai sesama, hidup akan menjadi lebih baik. Orang akan mengalami damai dalam hidupnya di saat cinta akan sesama menjadi dasar hidup. Kisah gadis tadi menunjukkan bahwa ia ingin memiliki cinta yang tulus dari sang ayah. Ia tidak ingin relasi mereka hanya sekedar antara ayah dan anak. Ia ingin mendapatkan sapaan lembut dari seorang ayah.

Untuk itu, orang tidak bisa menunggu satu pihak saja untuk mengusahakan cinta yang tulus itu. Cinta yang tulus akan memiliki kemampuan yang luar biasa, kalau diusahakan bersama. Gadis tadi sungguh-sungguh berusaha untuk memiliki cinta yang tulus itu. Ia tidak tinggal diam. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta yang tulus itu. Caranya adalah dengan lebih dahulu membangun cinta itu. Ia tidak hanya menunggu. Ia bergerak. Ia aktif untuk menciptakan cinta yang tulus itu.

Mari kita berusaha untuk menciptakan cinta yang tulus dalam hidup kita dengan berusaha aktif membangun hidup dalam cinta. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin damai dan indah. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


859