Pages

30 September 2009

Berdoa dengan Hati yang Tulus


Ada seorang pemuda yang malas berdoa. Ia berkata bahwa doa pagi waktu bangun tidur dan doa malam menjelang tidur intisarinya setiap hari sama saja. Waktu malam intinya ialah mengucap syukur untuk perlindungan sepanjang hari, lalu memohon perlindungan Tuhan untuk sepanjang malam. Sedangkan doa pagi intinya ialah berterima kasih untuk perlindungan sepanjang malam dan memohon kekuatan serta perlindungan untuk kehidupan di hari yang baru.

Pemuda itu kemudian mengambil dua helai kertas dan menuliskan doa pagi dan doa malam yang sudah ia hafal dengan baik. Setelah selesai ia tempelkan doa pagi di sebelah kiri tempat tidurnya dan doa malam di sebelah kanannya.

Keesokan harinya, ketika bangun di pagi hari, ia hanya berkata kepada Tuhan: “Tuhan, Engkau kupersilakan membaca doa pagiku di sebelah kiri ini. Silahkan baca ya Tuhan, itulah doaku.” Pada waktu malam, dengan mata yang mengantuk ia berkata, “Tuhan saya mau tidur. Silakan Engkau baca sendiri doa malamku.”

Doa seperti pemuda ini memang sangat gampang. Tetapi kemalasan seperti ini sering tidak membawa kebahagiaan bagi hidup. Doa seperti ini sering menghantui hidup seseorang. Orang berdoa hanya karena merasa wajib. Kalau tidak ada kewajiban, orang tidak perlu berdoa.

Hal yang sama akan terjadi ketika seseorang menjalankan ibadahnya hanya karena kewajiban agamanya. Ia merasa sudah beres kalau sudah melaksanakan kewajiban itu. Akibatnya, orang akan merasa dikejar-kejar oleh kewajiban. Padahal ibadah yang baik itu mesti dilaksanakan dengan hati yang bebas. Doa yang baik itu mesti muncul dari hati yang tulus. Doa orang yang percaya itu tidak memerintah Tuhan untuk bekerja bagi dirinya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berdoa dengan hati yang tulus. Doa orang yang tulus itu didengarkan oleh Tuhan. Untuk itu, orang tidak perlu berdoa dengan panjang-panjang. Berdoa dengan kalimat-kalimat yang pendek itu akan sangat efektif dan menghasilkan banyak buah bagi hidup.

Mari kita berusaha berdoa dengan hati yang tulus. Dengan demikian Tuhan yang mahapengasih dan penyayang memberikan yang terbaik yang kita butuhkan dalam hidup ini. Kita yakin, Tuhan itu baik kepada kita. Kita percaya Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




183

29 September 2009

Berusaha Menjadi Sabar di Hadapan Tuhan



Suatu hari seorang pemuda masuk ke rumah makan dan duduk di kursi yang disediakan di sana. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang pelayan dengan daftar menu makanan restoran itu dan secarik kertas. Tujuannya agar pemuda itu menuliskan pesanan makanannya di atas kertas itu. Tetapi pemuda itu tidak menulis apa-apa. Ia hanya berkata, “Tolonglah agar segera dibuatkan makanan yang enak untukku. Saya sangat lapar.”

Pelayan itu menjadi heran. Lalu ia berkata, “Anda harus menuliskan dahulu di atas kertas ini makanan apa yang hendak Anda pesan. Setelah itu makanan itu dibuat oleh juru masak di dapur. Anda boleh lihat di daftar menu hari ini. Ada nasi rames, nasi uduk, soto ayam, bakmi goreng, capcay, tekwan dan mpek-mpek.”

Pemuda itu menjadi tidak sabar. Dengan marah ia berkata, “Aku tidak peduli. Pokoknya aku minta makanan secepatnya.”

Ada banyak orang yang kurang sabar dalam hidupnya. Bahkan ketika mereka memohon pertolongan dari Tuhan pun mesti cepat-cepat dikabulkan. Pikir mereka, tidak ada waktu lagi untuk menunggu lebih lama. Maka mereka sering memaksakan kehendak kepada Tuhan. Doa mereka harus segera terlaksana dalam hidup mereka.

Pertanyaannya, apakah sikap seperti ini menunjukkan sikap hati seorang yang beriman kepada Tuhan? Orang yang beriman itu orang yang sabar. Orang beriman itu orang yang penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam berdoa, orang beriman itu membiarkan Tuhan mengabulkan doa-doanya atau tidak. Pengabulan doa itu ada di tangan Tuhan. Yang penting bagi seorang beriman adalah ia berdoa kepada Tuhan dengan penuh pengharapan.

Doa yang manjur itu terjadi di kala orang mengarahkan doa-doanya kepada Tuhan. Maksudnya jelas bagi hidupnya. Orang yang tidak macam-macam. Orang yang tidak menggerutu dalam doanya akan mendapatkan pengabulan doa dari Tuhan. Doa dengan penuh iman itu membawa kebahagiaan bagi hidup.

Karena itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk senantiasa menyerahkan setiap permohonan kita kepada Tuhan. Kita biarkan Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu mengabulkan permohonan kita. Tuhan yang punya hak untuk mengabulkan atau tidak mengabulkan doa-doa kita.

Mari kita berusaha untuk bersabar dalam doa-doa kita. Kita percayakan seluruh hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Biarlah Tuhan yang mengabulkan setiap doa permohonan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

182

28 September 2009

Berdoa untuk Kebaikan Sesama



Ada seorang yang sangat saleh. Dia bernama Hyde. Ia menggunakan waktunya berjam-jam untuk berdoa setiap harinya, sehingga orang menyebutnya: Hyde si pendoa. Sebagai seorang yang sangat tekun berdoa, namanya sangat terkenal di seluruh dunia.

Pada suatu hari, seorang tokoh terkenal dari luar kota datang mengunjungi Hyde. Ia diperkenankan masuk ke dalam ruangan di mana Hyde sedang berdoa. Orang ini berpikir, “Ah... sebentar lagi aku pasti akan mendengar doa paling indah dari kata-katanya.”

Ketika ia masuk ke dalam ruangan itu, ia memang melihat Hyde sedang berdoa dengan penuh kesungguhan. Lalu ia juga ikut berlutut di sebelah Hyde. Tetapi ia tidak mendengar Hyde mengucapkan sepatah kata pun. Setelah ditunggu 5 menit, yang keluar dari mulut Hyde hanyalah kata ‘Tuhan’. Lima menit kemudian, nama Tuhan disebut lagi. Dan tidak berapa lama kemudian Hyde kembali mengucapkan nama terindah itu: ‘Tuhan’.

Apa yang terjadi? Tokoh terkenal yang berdoa di sisi Hyde itu menceritakan bahwa ketika Hyde menyebut nama Tuhan sampai tiga kali, ruangan itu dipenuhi dengan kuasa Tuhan sedemikian rupa. Ia merasa tubuhnya hampir terangkat dari lantai.

Doa adalah nafas kehidupan manusia. Sebagaimana tanpa nafas tubuh kita akan mati, demikianlah tanpa doa, kerohanian kita akan merana. Banyak orang menganggap remeh kekuatan doa. Ada orang yang menganggap bahwa berdoa itu membuang-buang waktu saja. Tidak ada hasil apa-apa. Benarkah demikian?

Kisah tadi menunjukkan bahwa doa mempunyai kekuatan yang luar biasa. Doa yang singkat tidak kalah kuatnya dengan doa yang panjang-panjang. Apalagi kalau doa itu dilantunkan dengan penuh iman kepada Tuhan.

Semua agama mengajarkan kepada kita betapa penting doa itu. Doa seseorang memiliki kekuatan untuk mengubah hati manusia. Manusia yang keras hatinya dapat berubah menjadi lembut, kalau ia didoakan oleh sesamanya. Kalau orang itu dipersembahkan kepada Tuhan, ia akan memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati.

Kata orang, kekerasan hati hanya dapat diubah dengan doa orang-orang yang penuh harap kepada Tuhan. Sebagai orang beriman, kita semua diajak untuk memanjatkan doa bagi semua orang yang ada di sekitar kita. Kita tidak hanya mendoakan diri kita sendiri. Kita mesti doakan juga orang-orang yang berada di sekeliling kita. Mereka menjadi bagian dari hidup kita. Mereka juga mesti mendapatkan perhatian dari kita lewat doa-doa kita.

Karena itu, mari kita berdoa setiap waktu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.



181

27 September 2009

Membuat Prioritas dalam Hidup


Entah karena terlalu lama bermain game perang yang menggunakan pedang, seorang anak kalap mengambil pedang dan menusuk keluarganya saat diminta berhenti bermain game.

Itulah yang terjadi di suatu pagi di Switzerland. Seorang anak berumur 19 tahun tak terima diminta berhenti bermain game kesukaannya oleh ibunya. Kesal, ia langsung mengambil pedang sepanjang 60 cm dan menusuk sang ibu layaknya menikam musuh di dalam game.

Kejadian itu sontak membuat kakak pemain game itu membela sang ibu. Alhasil, sang kakak juga terkena tusukan. Kedua korban segera dilarikan ke rumah sakit, karena menderita luka tusukan di tangan dan perut.

Beberapa hari kemudian kedua korban tersebut sudah membaik. Sang kakak sudah tak lagi dirawat, sementara ibunya masih dirawat untuk pengobatan lebih lanjut.

Tidak dijelaskan lebih detil, game apa yang sangat digandrungi remaja kalap itu. Hanya disebutkan, game tersebut merupakan Role Playing Game (RPG) yang banyak menggunakan pedang untuk membasmi musuh.

Saat ditangkap dan diperiksa, remaja itu dinyatakan sehat dan tidak menderita penyakit psikologis apapun. Perbuatannya itu murni karena marah dan kalap. Sebesar itukah pengaruh game kesukaannya hingga dapat 'terbawa' ke dalam kehidupan nyata?

Sesuatu yang sepele bisa membawa akibat fatal bagi kehidupan. Menegur anak sendiri yang terlalu berlebihan dengan hobbynya bisa saja membawa malapetaka. Untuk itu, orang mesti hati-hati.

Dalam kehidupan sehari-hari kita berjumpa dengan orang-orang yang begitu total dengan hobby-hobbynya. Misalnya, ada suami yang hobby memelihara burung-burung. Di waktu pagi, siang dan sore, ia mencurahkan perhatiannya untuk burung-burung peliharaannya. Ia begitu tenggelam dalam kehidupan burung-burung itu. Sering terjadi ia lebih peduli pada burung-burung itu daripada anak-anak atau istrinya. Prioritas perhatian untuk mereka semakin merosot. Akibatnya, relasi mereka menjadi renggang. Padahal anak-anaknya membutuhkan perhatian yang lebih untuk pertumbuhan kepribadian mereka.

Ada banyak dalih yang akan keluar dari mulut suami itu kalau diingatkan oleh istrinya tentang perhatian bagi anak-anaknya. Ia akan membela diri. Misalnya, ia akan mengatakan bahwa perhatian untuk anak-anak bisa dilakukan oleh ibu atau guru-guru di sekolah. Nanti kalau anak-anak yang sudah mulai menyeleweng dari kaidah-kaidah kehidupan bersama, lalu ia mulai sadar. Syukur-syukur kesadaran itu muncul sebelum penyelewengan itu belum terlalu jauh. Tetapi kalau sudah terlalu jauh akan berakibat fatal bagi kehidupan anak-anak itu.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita memiliki prioritas-prioritas dalam hidup ini. Kita ingin menempatkan hal yang paling utama dalam hidup kita. Hal-hal lain yang menjadi pendukung hidup kita bukan menjadi prioritas perhatian kita. Untuk itu, keluarga-keluarga mesti duduk bersama menentukan prioritas apa yang menjadi perhatian mereka dalam kehidupan bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

180

26 September 2009

Jangan Hanya Bermimpi


Di sebuah gunung yang tinggi terdapat satu sarang burung elang. Sarang itu berisi empat butir telur besar. Suatu hari, terjadi sebuah gempa yang mengguncang gunung itu, sehingga menyebabkan sebuah telur terlempar keluar sarang, bergulir ke kaki gunung, hingga berhenti di dekat peternakan ayam. Ayam-ayam yang melihat telur itu berpikir bahwa telur besar itu pun harus dilindungi dan dijaga. Ada seekor ayam bersedia mengerami dan memelihara telur elang itu.

Setelah beberapa hari, telur itu pun menetas dan lahirlah seekor elang yang indah. Sayangnya, elang itu dibesarkan untuk menjadi seekor ayam, sehingga sang elang kecil itu pun percaya bahwa ia tidak lebih dari seekor ayam. Sang elang mencintai rumah dan keluarganya, tapi jiwanya berteriak agar dia dapat melakukan lebih banyak lagi.

Ketika suatu kali elang bermain-main di halaman, dia melihat ke atas di mana ada segerombol besar elang sedang terbang dengan sangat gagahnya.

Elang itu berteriak, “Oh, saya ingin bisa terbang seperti burung-burung itu.”

Para ayam pun menertawakan keinginannya itu. Kata mereka dengan nada ejekan, “Kamu tidak bisa terbang seperti burung-burung itu. Kamu tidak dapat terbang dengan burung-burung itu. Kamu adalah ayam dan ayam tidak terbang tinggi.”

Sang elang terus memandangi kelompok elang itu. Keluarganya yang asli berada di atas sana. Dia bermimpi bisa hidup bersama mereka. Sang elang tidak bisa melupakan mimpinya. Tetapi setiap kali dia membicarakan hal itu, semua ayam mengatakan bahwa dia tidak bisa terbang. Dan dia pun percaya. Akhirnya, sang elang berhenti bermimpi dan melanjutkan hidupnya sebagai seekor ayam hingga akhir hayatnya.

Ada orang merasa bahwa mereka hidup dalam suasana yang salah. Dalam kondisi ekonomi sulit begitu, ada orang yang menyesal hidup saat ini. Mereka bermimpi seandainya mereka hidup di tahun tujuhpuluhan mungkin hidup mereka lebih baik. Atau ada juga yang bermimpi hidup di negeri yang makmur dan aman sentosa. Mereka yakin, hidup mereka jauh lebih baik.

Tetapi sekarang orang mesti realistis. Inilah hidup itu. Hidup di jaman sekarang banyak menantang manusia. Manusia dituntut untuk menerima kenyataan hidup ini. Namun manusia mesti tetap berusaha untuk keluar dari kesulitan-kesulitan hidup itu. Caranya adalah dengan menyatukan kemauan, kerja keras dan mimpi. Orang yang ingin keluar dari kesulitan hidup itu mesti berani kreatif melakukan berbagai hal yang baik dan positif untuk kemajuan dirinya.

Inilah iman yang hidup. Iman yang hidup itu iman yang tampak dalam hidup nyata. Orang yang mau mengamalkan imannya dalam hidup sehari-hari itu menjadikan iman itu nyata dan berguna. Iman yang nyata dan berguna itu memotivasi orang untuk tetap bertahan dalam kesulitan hidup. Iman seperti ini mendorong orang untuk tetap melakukan hal-hal yang baik untuk keluar dari kesulitan hidup itu.

Karena itu, mari kita bekerja keras. Jangan terlalu lama bermimpi tentang hidup yang enak dan bahagia. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB



179

25 September 2009

Belajar Semakin Peka

Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin." Suatu hari, seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi Rumah Seribu Cermin itu. Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat apa yang ada di dalamnya.

Sambil melompat-lompat ceria, ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinganya terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah. Ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar. Seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat.

Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat, aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin.”

Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, “Tempat ini sungguh menakutkan. Aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi.”

Kita senantiasa berhadapan dengan wajah-wajah dalam hidup ini. Ada wajah yang seram, namun hatinya baik. Ada wajah yang ramah, namun bisa saja hatinya penuh dengan iri dan dengki. Tampilan wajah-wajah itu pun tidak sama setiap saat. Bahkan sebuah wajah itu bisa berubah-ubah dalam berbagai situasi.

Karena itu, kita dituntut untuk memiliki kepekaan yang tinggi untuk menafsirkan makna dari wajah-wajah itu. Hidup bersama akan menjadi lebih indah dan harmonis, kalau kita mampu menangkap makna dari wajah-wajah itu. Bisa jadi tampilan wajah seseorang merupakan cermin dari wajah kita sendiri. Kita mesti tanggap ketika wajah seseorang sedang cemberut kepada kita. Menurut survei, anak-anak jaman sekarang sulit sekali menangkap makna wajah ayahnya yang sedang cemberut. Mereka juga sulit sekali mengerti ketika ibu mereka sedang menasihati dan memarahi.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena anak-anak jaman sekarang kurang punya kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Yang mereka pelajari di sekolah adalah ilmu pasti yang tidak butuh penafsiran atas yang tampak. Yang tampak itulah yang ada.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mencari makna dari apa yang tampak. Ada apa di balik senyum manis yang tersungging di wajah seseorang? Kepekaan terhadap situasi di sekitar kita merupakan hal penting dalam hidup kita. Dengan kepekaan itu, kita dapat mengerti tentang situasi hidup sesama kita. Mari kita berusaha untuk semakin peka akan dunia sekeliling kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
178

24 September 2009

Kau yang Berjanji, Kau yang Mengingkari


Suatu hari ada seorang pedagang berjalan bersama kudanya pulang dari pasar. Barang dagangan dimuat oleh kuda jantan itu. Barang-barang itu akan dijual kembali di desa, tempat pedagang itu tinggal

Di tengah jalan, di daerah yang sepi dan jauh dari desa-desa lain, tampaklah dari kejauhan segerombolan perampok bergerak maju mendekatinya. Melihat pertanda yang membahayakan itu, dengan gugup pedagang itu berkata kepada kudanya, “Ayo, kita lari ke desa yang paling dekat di depan kita. Jika tidak, perampok-perampok itu akan menyiksa kita dan menjarah barang dagangan kita.”

Kuda itu tidak mempedulikan kata-kata tuannya. Tetapi kemudian ia menjawab, “Maafkanlah hambamu ini, tuan. Mengapa kita harus lari tunggang langgang menjauhi perampok-perampok itu?”

Pedagang itu semakin panik. Lantas ia berkata dengan nada keras, “Ah, kamu tolol. Jika kita tidak lari, kita pasti akan ditangkap oleh perampok-perampok itu. Aku akan mereka lukai dan barang dagangan kita akan dirampas. Sedangkan kamu sendiri akan mereka bawa.”

Kuda itu malah berhenti. Ia sulit sekali ditarik oleh pedagang itu. Kemudian ia berkata, “Jadi masalahnya hanya soal ganti tuan? Selama bebannya masih sama dan harus hamba pikul di punggung hamba, tak soal bagi hamba siapa orang yang menjadi tuan hamba."

Pemilik kuda itu tertegun sejenak lantas mulai lari menjauhi para perampok. Sementara kuda itu berlari di belakangnya dengan santai.

Begitu banyak pemimpin sudah yang kita miliki dalam hidup kita. Ada pemimpin pemerintah dari ketua RT hingga presiden. Ada juga para pemimpin kelompok-kelompok tertentu yang juga silih berganti memangku jabatan. Pertanyaannya, apakah para pemimpin itu sungguh-sungguh membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat atau para anggotanya?

Menjelang pemilukada atau pemilu legislatif yang lalu di berbagai daerah di Indonesia kita mendengar janji-janji. Misalnya, kalau nanti terpilih menjadi bupati atau walikota atau gubernur, ia akan menciptakan ribuan lapangan kerja. Kesejahteraan masyarakat akan ditingkatkan. Macam-macam janji dilontarkan kepada para calon pemilih.

Tetapi apakah janji-janji itu ditepati? Kita tidak menyangsikan janji-janji itu. Tetapi adalah fakta bahwa kehidupan ekonomi masyarakat kita tidak semakin membaik. Ada BLT dari pemerintah untuk rakyat miskin. Tetapi utang negeri ini semakin menggunung. Seorang ahli ekonomi di negeri ini mengatakan bahwa selama emopat tahun terakhir ini utang luar negeri kita bertambah empat ratus triliun. Ini siapa yang harus bayar? Buat apa utang sebesar itu?

Hal yang jelas adalah semakin banyak orang yang merasakan bahwa hidup ini semakin sulit. Ada orang yang hanya bisa makan kenyang satu hari sekali. Meski sudah ganti pemimpin, tetapi bebannya tetap sama. Bahkan beban hidup masyarakat semakin berat. Lalu di mana janji-janji itu?

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita berani menepati janji yang kita buat. Ingat janji apa pun yang kita buat itu merupakan utang yang mesti kita bayar. Karena itu, mari kita belajar untuk menepati janji-janji kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal
177

23 September 2009

Berusaha Menepati Janji



Pada suatu hari, Moli seekor anjing, sedang tidur-tiduran di beranda rumah tuannya. Angin sangat sejuk, semilir bertiup dari sela-sela pohon memasuki bulu-bulunya yang halus. Matahari tidak terlalu terik, sehingga suasana sangat tenang dan nyaman. Moli sangat menikmati ketenangan ini. Tiba-tiba, dari kejauhan ia melihat dua anjing tetangganya, Putih dan Kuning sedang berkelahi dengan hebatnya. Mereka saling mengejar dan saling menggigit.

Kata Moli, “Perkelahian itu harus dihentikan. Aku akan melerai mereka.”

Secepat kilat, larilah Moli ke ajang perkelahian. Sesampainya di sana, ia segera memisahkan mereka. Ia mendorong Putih ke kiri dan mendorong Kuning ke kanan. Setelah Putih dan Kuning berhasil dilerainya, Moli kembali ke kandangnya.

Tetapi ada sesuatu yang aneh. Beberapa saat kemudian, Putih justru berbalik mengejar Moli dan menyerangnya. Setelah berjuang keras, akhirnya Moli berhasil melepaskan diri dari kedua anjing itu. Moli babak belur, penuh luka dan berdarah di sekujur tubuhnya.

Dengan wajah kecewa, Moli gerutunya, “Sialan. Mau berbuat baik, malah jadi korban.”

Damai itu sangat dibutuhkan dalam hidup ini. Suasana damai senantiasa dapat meningkatkan kemajuan-kemajuan dalam hidup manusia. Dalam suasana damai orang dapat bekerja. Dalam suasana damai orang dapat menikmati hidup ini dengan lebih baik.

Namun sering terjadi bahwa damai yang dibangun itu dirusak oleh suasana yang tidak mengenakkan. Ada egoisme berlebihan yang sering menjadi pemicu rusaknya suatu suasana damai yang tercipta. Hanya untuk kepentingan diri sendiri dan kepentingan sesaat orang tega merusak harmoni dan damai yang sudah ada.

Apa yang mesti dibuat oleh orang beriman? Orang beriman mesti berani mempertahankan suasana damai dalam kehidupan bersama. Orang beriman mesti setia pada komitmen damai yang sudah disepakati bersama. Orang mesti berani mencari tahu seluk beluk persoalan yang dihadapi.

Karena itu, orang beriman mesti memiliki kasih yang besar dan kuat akan Tuhan dan sesama. Hanya dengan kasih itu, orang mampu memperjuangkan damai. Hanya dengan kasih, orang dapat mempertahankan damai yang sudah tercipta.

Kita hidup dalam dunia yang rentan. Sering damai yang sudah tercipta itu dirusak oleh provokasi murahan. Untuk itu, kita mesti belajar untuk mengatasi persoalan-persoalan yang ada. Kita mesti mengenal terlebih dahulu akar dari persoalan-persoalan itu. Kemudian kita menyiapkan diri untuk menjadi juru damai bagi mereka yang sedang bertikai. Mari kita berusaha untuk mempertahankan damai yang sudah kita miliki. Kita juga terus-menerus memperjuangkan damai itu hadir dalam hati kita dan hati sesama kita. Dengan demikian kita dapat menjadi pembawa damai bagi sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
176

22 September 2009

Hati-hati terhadap Kesombongan Palsu


Ada seekor tikus yang hidup mewah di bawah lumbung. Dasar lumbung itu sedikit berlubang, sehingga setiap hari selalu ada butir-butir padi yang jatuh ke lantai bawahnya. Dengan demikian, setiap hari tikus itu dapat makan kenyang. Tikus itu dapat hidup makmur dan ia bangga sekali akan nasib baiknya.

Pada suatu hari, tikus itu mau menunjukkan kemakmuran dan keberuntungan hidupnya kepada tikus-tikus lain. Ia mengundang teman-temannya, agar malam berikutnya datang ke tempat tinggalnya untuk makan malam. Agar tersedia cukup makanan bagi tikus-tikus yang diundang, dua malam sebelum acara pesta makan itu, tikus itu membuat lubang pada dasar lumbung menjadi lebih besar. Tujuannya agar lebih banyak butir-butir padi yang jatuh ke lantai.

Namun pada hari berikutnya, pemilik lumbung itu menemukan lubang besar itu lalu menutupnya rapat-rapat sehingga pada hari menjelang malam pesta itu tidak lagi ada butir padi yang jatuh ke lantai di bawah lumbung.

Pada malam hari yang sudah ditetapkan untuk pesta makan, banyak tikus berdatangan ke bawah lumbung tempat tinggal tikus. Tetapi tidak ada butir-butir padi di bawah lumbung itu. Dengan demikian, gagallah pesta makan malam itu. Alangkah malunya tikus penghuni bawah lumbung itu, sementara tikus-tikus tamu pergi meninggalkan tempat pesta. Ada yang tersenyum, tertawa, menggerutu, mengumpat menurut keberanian, kebiasaan dan gaya masing-masing.

Ada dari antara kita yang sering membanggakan sesuatu yang kita anggap hebat. Seorang bapak menceritakan anaknya yang meraih berbagai prestasi dalam hidupnya. Dengan menceritakan kehebatan anaknya, ia merasa harga dirinya diangkat. Ia menjadi bangga. Ia dapat menepuk dadanya keras-keras begitu mendengar pujian yang dilontarkan oleh orang-orang kepadanya. Sebaliknya ia menjadi loyo, kalau tidak ada yang memujinya.

Kalau ada orang yang tahu persis tentang anaknya, misalnya ternyata anaknya tidak punya prestasi apa-apa, ia menjadi malu. Atau ia berkelit kepada sesuatu yang lain. Ini yang namanya kesombongan palsu. Biasanya orang yang punya prestasi tinggi itu cenderung merendahkan diri di hadapan orang lain. Orang yang tidak mau gembar-gembor.

Kisah tikus yang sombong karena berlimpah makanan tadi dapat menjadi contoh bagi kita. Sebagai orang beriman, kita mesti tetap menunjukkan kerendahan hati kita kepada sesama. Memang ada begitu banyak keahlian dan kemampuan yang kita miliki. Namun semua itu mesti kita gunakan untuk menggembirakan orang lain tanpa rekayasa. Semua yang ada pada diri kita dapat menjadi suatu kesaksian bahwa Tuhan begitu mencintai hidup kita. Tuhan tetap memenuhi hidup kita dengan kebaikan-kebaikan dan rejeki sehari-hari. Mari kita hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
175

Menjadi Pembawa Damai



Seorang penggemar akuarium dan ikan-ikan memelihara ikan hiu pada tempat-tempat yang telah dirancangnya. Ada akuarium kecil, ada akuarium sedang, ada akuarium besar. Pada akuarium yang berukuran kecil, hiduplah ikan hiu kecil. Pada akuarium yang berukuran sedang, tumbuh dan hiduplah ikan hiu yang berukuran sedang. Dan pada akuarium besar, tumbuh dan hiduplah seekor ikan hiu yang berukuran besar.

Seorang pengunjung yang menyaksikan ikan-ikan hiu itu terheran-heran. Ia bertanya, “Bagaimana mungkin kamu bisa mendapatkan ikan-ikan hiu dengan berbagai macam ukuran seperti ini? Dari mana kamu dapatkan rnereka?”

Sang penggemar akuarium itu tertawa. Lalu ia menjawab, “O, saya tidak membeli ikan-ikan itu dalam ukuran seperti sekarang. Pada mulanya, ikan-ikan hiu itu sama, lalu saya taruh pada akuarium yang berbeda ukurannya. Dan kini, mereka berkembang sesuai dengan ukuran akuarium itu.”

Manusia tidak bertumbuh dan berkembang dalam situasi yang sama. Ada orang yang hidup di lingkungan yang keras. Hasilnya, ia bisa bertumbuh menjadi orang yang keras dalam hidupnya. Ia bisa saja sulit diatur. Cara bicaranya pun keras. Ia tidak gampang untuk diajak kompromi.

Tetapi ada juga orang yang hidup di lingkungan yang damai. Suatu lingkungan yang mengandalkan kebersamaan dalam menjalin persaudaraan. Orang ini akan tampil tenang. Ia tidak tergesa-gesa dalam hidupnya. Ia mudah menjadi orang yang bijaksana dalam membangun kehidupannya. Ia dapat menjadi orang yang begitu terbuka terhadap orang lain.

Namun ada juga orang dapat menjadi orang yang begitu tenang dan damai dalam hidupnya meski lingkungan di mana ia hidup itu keras. Ia mampu menguasai suasana di sekelilingnya. Ia tumbuh menjadi orang yang penuh toleran terhadap sesama di sekitarnya. Sebaliknya, bisa saja ada orang yang susah diatur dan keras meski ia tumbuh dan berkembang di lingkungan yang damai dan tenteram. Ia dapat saja menjadi orang yang egois yang tidak toleran terhadap lingkungannya. Ia dapat menjadi orang yang mau menang sendiri. Orang yang sombong dalam hidupnya.

Nah, Anda tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mana? Sebagai orang beriman, kita mesti dapat hidup dalam lingkungan mana pun. Artinya, kita mesti mampu beradaptasi dengan lingkungan di mana kita tinggal. Kalau kita mampu beradaptasi, kita akan mudah diterima oleh siapa pun yang ada di lingkungan itu. Orang memiliki hati yang terbuka untuk kita. Dengan demikian, kita menjadi orang-orang yang berguna bagi masyarakat di lingkungan kita hidup. Artinya, kita dapat diandalkan untuk menjadi orang yang mampu menciptakan damai dan kesejahteraan bagi lingkungan hidup kita.

Mari kita menjadi orang-orang yang membawa damai bagi sesama. Hanya dengan damai itu, kita dapat menciptakan suatu masyarakat yang baik dan sejahtera. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




174