Pages

11 Januari 2010

Perbuatan Baik yang Membahagiakan



Ketika terjadi wabah SARS di Hongkong beberapa tahun lalu, seorang dokter merawat begitu banyak pasien. Ia tidak kenal lelah merawat mereka. Ia sangat setia mendatangi para pasien yang dirawat di ruangan khusus itu. Ada pasien yang sembuh lalu pulang ke rumahnya. Ada pasien yang tidak bisa tertolong.

Suatu hari virus SARS pun hinggap ke diri dokter itu. Ia mengalami suatu penderitaan yang luar biasa. Akhirnya, ia sendiri meninggal dunia. Sebenarnya dokter itu bisa saja menghindari tugas itu. Tetapi ia justru merawat para pasien SARS itu dengan sukacita. Penderitaan yang dia alami merupakan konskuensi dari pekerjaannya. Itulah pengorbanan dirinya. Karena itu, ia mengalami sukacita di saat-saat ia terserang virus yang sama.

Melihat kerelaan, kesetiaan dan sukacita dokter itu dalam merawat para pasien, para kerabat dan teman-temannya tidak meratapi kepergiannya. Justru mereka mengadakan ucapara pemakaman dengan sukacita. Mereka menyanyikan lagu-lagu gembira saat penguburannya. Suasana seperti ini membuat para peliput acara pemakaman itu terheran-heran. Mengapa mereka tidak sedih, karena kehilangan dokter yang setia dan baik hati itu?

Jawabannya adalah suatu perbuatan baik itu mesti disyukuri. Dokter itu telah melakukan perbuatan yang sangat baik dengan merawat para pasien. Ia mengorbankan hidupnya demi hidup sesama. Dari pengorbanannya itu banyak pasien diselamatkan.

Suatu perbuatan baik itu menjadi suatu kesaksian hidup bagi orang lain. Namun perbuatan baik itu selalu dibarengi dengan semangat berkorban. Tentu semangat ini bersumber dari semangat cinta kasih yang besar terhadap hidup orang lain. Biasanya perbuatan baik yang dilandasi oleh kasih yang besar membuat orang bahagia dalam hidupnya. Meski penderitaan datang menghadang, orang seperti ini akan mengalami suatu sukacita dalam hidupnya. Penderitaan yang ia alami itu ditutup oleh pengorbanan dan cinta kasih yang dilakukannya bagi orang lain.

Namun hal yang perlu diperhatikan adalah perbuatan baik yang penuh pengorbanan itu bukan sekedar suatu kempensasi. Kalau hal ini terjadi, orang yang berbuat baik itu akan selalu mengeluh atas pengorbanan demi pengorbanan yang dilakukannya. Karena itu, orang mesti memiliki hati yang tulus murni dalam melakukan perbuatan baik bagi sesama di sekitarnya. Ia tidak boleh melakukannya karena terpaksa.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar perbuatan baik yang kita lakukan itu didasarkan pada semangat cinta kasih yang besar kepada sesama kita. Pengorbanan yang kita lakukan bagi sesama itu mesti tumbuh dari hati yang tulus murni. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan menemukan kebahagiaan dalam melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Setiap hari ini kita menerima begitu banyak hal baik dari Tuhan dan sesama. Mari kita bawa semua itu dalam hidup kita. Kita serahkan semua itu kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang akan memberi kita damai pada malam ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



292
Bagikan

Membantu Sesama yang Mengalami Kesulitan




Ada seorang yang buta sejak kecil. Ia ingin sekali melihat indahnya dunia. Tetapi keinginannya itu hanyalah suatu mimpi panjang. Kalau tidak dibantu, ia tentu tidak akan dapat melihat.

Suatu hari, ia berusaha mencari pertolongan dari orang lain untuk membantu pekerjaannya. Kebetulan orang buta ini juga seorang pengarang prosa dan puisi. Ia menulis menggunakan huruf-huruf brail. Tulisan-tulisannya pernah diterbitkan oleh beberapa surat kabar dan juga dibukukan.

Menurut pengakuannya, ia dapat menulis berkat bantuan saudara-saudara di sekitarnya. Mereka menolongnya untuk mencarikan mesin ketik yang bisa ia pakai untuk menuangkan ide-idenya. Atau ada juga yang merekam kata-katanya yang kemudian dikumpulkan menjadi sebuah tulisan yang indah.

Hasil karyanya pun dikirim oleh saudaranya ke surat kabar atau majalah. Ketika ia mau menerbitkan sebuah buku, saudara-saudaranya itu membantunya dari awal hingga pemasaran. Dalam kondisi seperti itu, orang buta itu merasa sangat bahagia. Ia gembira ada orang-orang yang begitu memiliki perhatian yang besar terhadapnya. Betapa indah hidup ini.

Karena itu, ia memutuskan untuk tidak mencari penyembuhan atas matanya. Ia berkata, “Saya sangat mensyukuri apa yang saya miliki sekarang ini. Tuhan tentu punya maksud baik bahwa saya memiliki mata yang buta. Saya tidak mau merajuk kepada Tuhan.”

Di sekitar kita, kita jumpai begitu banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita. Mereka merindukan tangan-tangan yang mampu menjamah mereka dengan hati yang tulus. Bantuan meski kecil sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.

Di sekitar kita ada orang-orang yang kurang beruntung. Misalnya, para tunanetra, penderita kusta atau orang-orang jompo. Mereka semua membutuhkan bantuan dari kita. Sering orang hanya terharu melihat penderitaan sesamanya. Orang kurang tergerak hatinya untuk mengulurkan tangan bagi sesamanya yang menderita.

Karena itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk memberikan perhatian kepada mereka yang mengalami kesusahan dalam hidup ini. Ketika kita membantu mereka, sebenarnya kita mendidik diri kita untuk memiliki hati yang peka terhadap sesama. Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


290
Bagikan

10 Januari 2010

Menabur Kasih, Menuai Kebaikan

Suatu hari seorang anak bertengkar dengan ayahnya. Soalnya sebenarnya sepele saja, yaitu ayahnya tidak mau membelikan permen kesukaannya. Anak itu memberontak. Anak itu bahkan mengancam ayahnya. Sang ayah pun tidak mau mengalah. Ia mengancam balik kepada anaknya itu.

Melihat anaknya tidak mau mengalah, sang ayah menampar pipinya kuat-kuat. Pipi anak itu merah. Ia langsung menangis. Segera ia berlari keluar rumah dan naik ke tebing karang yang terjal di tepi laut.

Dari atas tebing itu ia berteriak bahwa ia akan terjun dari atas tebing yang tinggi itu. Ia ingin mati tenggelam dalam laut itu. Orang-orang tahu bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya.

Ayahnya berlari menyusul. Seluruh keluarga dan separuh desa ikut terlibat menyelamatkan anak yang nekat itu. Dengan berbagai upaya, akhirnya mereka berhasil menghentikan anak itu dan membawanya pulang ke rumah. Namun hubungan antara anak dan ayah itu tidak pernah pulih kembali. Meski ayahnya sudah meminta maaf atas tindakannya yang keras, anak itu tetap tidak mau memaafkan ayahnya. Anak itu tumbuh menjadi pria yang bermuka masam. Tampak ia tidak pernah merasa bahagia dalam hidupnya.

Pendidikan yang salah pada awal pertumbuhan seorang manusia sering membawa orang tumbuh menjadi pribadi yang mengalami banyak kesulitan dalam hidupnya. Apalagi ada luka batin yang begitu dalam dan lama bertahan dalam diri seseorang. Orang hidup, namun ada hal-hal yang terpaksa yang dijalaninya. Kondisi seperti ini seringkali menghancurkan kehidupan manusia.

Karena itu, suatu pendidikan yang mendahulukan kasih dan persaudaraan mesti menjadi hal yang utama dalam hidup manusia. Ada pepatah yang mengatakan siapa yang menabur angin akan menuai badai. Tetapi yang menabur kasih akan menuai kebaikan demi kebaikan.

Kiranya pepatah ini sangat tepat diterapkan dalam hidup manusia di jaman sekarang ini. Kini kita mengalami banyak kesulitan hidup karena berbagai kebobrokan yang terjadi. Ada KKN yang begitu menguasai hidup manusia menjadi penghalang bagi kehidupan bersama yang harmonis. Ada kecemburuan sosial yang begitu tinggi dalam kehidupan bersama. Ada juga kecurigaan di antara warga bangsa ini. Terjadi kesenjangan yang begitu dalam antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Untuk itu, sebagai orang beriman, kita mesti berani mengubah cara pendidikan yang salah yang dilakukan oleh keluarga-keluarga. Cara-cara keras bukan lagi menjadi andalan dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Pendidikan mesti diarahkan pada pembatinan nilai-nilai cinta kasih dan persaudaraan. Mari kita coba mendidik generasi penerus bangsa ini dengan kasih yang mendalam. Kasih yang kita taburkan dalam diri mereka akan menghasilkan banyak kebaikan dalam hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

288


Bagikan

09 Januari 2010

Hidup Itu sungguh Berharga

Kiranya tidak ada orang yang mau duduk dan mati di kursi listrik. Mungkin orang gila pun tidak mau mengalami kematian yang keji seperti itu. Namun seorang lelaki Lituania berusia 70 tahun malah membuat sendiri kursi listrik yang lantas dipakainya untuk membunuh dirinya. Ia ditemukan tewas di apartemennya di Kauna, Lithuania, oleh sanak saudaranya.

Pria ini tidak meninggalkan pesan apa-apa. Secarik kertas tulisan tangan pun tidak ditemukan di sekitar apartemennya. Orang menduga bahwa pria ini mengalami stress yang berat, sehingga ia tega mengakhiri hidupnya dengan cara yang keji itu. Barangkali ia tidak lagi menemukan makna kehidupan ini bagi dirinya sendiri.

Barangkali bagi pria ini ia sudah cukup menjalani hidup yang begitu lama. Ia memiliki tanggung jawab atas dirinya sendiri, sehingga ia berani memilih sendiri cara untuk mengakhiri hidupnya.

Hidup itu hak yang paling azasi bagi setiap orang. Tanpa hidup, orang tidak bisa lagi meneruskan kegiatan-kegiatan yang berguna bagi diri dan bagi sesamanya dalam hidup ini. Orang mengalami suatu saat yang stagnan dengan hilangnya hidup ini.

Karena itu, hidup itu sangat berarti dan bermakna bagi hidup manusia. Semestinya manusia mensyukuri hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Hidup itu rahmat istimewa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Untuk itu, manusia tidak punya hak untuk menghentikan hidupnya.

Jalan kematian itu suatu misteri yang akan sampai pada setiap orang. Ada saat di mana hidup itu akan berakhir. Karena itu, orang tidak bisa menentukan kapan hidupnya berakhir. Apalagi merancang sendiri kematiannya. Orang seperti ini lancang terhadap hidupnya sendiri. Ia sok berkuasa atas hidupnya. Padahal hanya Tuhan yang punya kuasa atas hidup manusia.

Setiap agama mengajarkan umatnya untuk mempertahankan hidup ini. Karena itu, mari kita berjuang untuk terus-menerus mempertahankan hidup kita apapun kesulitan yang kita hadapi. Hidup itu berharga di hadapan Tuhan, sehingga Tuhan tetap memelihara kita dengan rahmatNya apapun kondisi manusia itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com




289
Bagikan

08 Januari 2010

Memadukan Kenyataan dan Mimpi


Sebut saja namanya Wartinem. Perempuan beranak enam ini menekuni profesi sebagai penjual jamu gendong. Ia sudah melakukan profesi ini selama 40 tahun. Gurat-gurat ketuaan mulai menghiasi wajahnya. Usaha kerasnya tidaklah sia-sia. Gelas demi gelas jamu yang dijualnya ternyata mampu menghantar keenam anaknya meraih gelar sarjana. Padahal suaminya tidak bisa bekerja lagi karena sakit.

Ketika ditanya tentang rahasia kesuksesannya, ibu sederhana ini menjawab dengan singkat, “Saya mencintai anak-anak saya. Karena itu, saya mesti bekerja untuk hidup mereka.”

Perjuangan Wartinem memang patut diacungi jempol. Banyak godaan dan tantangan yang dihadapi ketika berjualan jamu. Bahkan ia pernah dicopet. Semua uang hasil jualan jamu hari itu lenyap. Namun Wartinem tetap tabah. Ia tetap berjualan jamu. Semua itu ia lakukan demi keenam anaknya yang sangat dicintainya. Mereka mesti mendapatkan pendidikan yang baik. Begitu ia selalu berpikir dalam hatinya.

Karena itu, korban yang ia lakukan berkenan kepada Tuhan. Tuhan membalas korbannya dengan memberikan yang terbaik bagi keenam anaknya. Mereka berhasil meraih pendidikan yang tinggi. Mereka pun kemudian memperoleh pekerjaan yang lebih baik yang sesuai dengan keahlian mereka.

Kisah Ibu Wartinem menunjukkan iman yang hidup. Iman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang beriman itu orang yang tetap berjuang, meski berbagai godaan dan tantangan menghadangnya. Ia tidak peduli panas dan terik yang menerpanya.

Namun dalam dunia ini ada juga banyak orang yang mau enak-enak hidupnya. Mereka ingin meraih sukses yang tinggi, tetapi tidak mau bekerja keras. Mereka memiliki banyak mimpi, tetapi tidak menjadi kenyataan, karena mimpi itu tidak disertai dengan kerja keras. Akibatnya, orang-orang seperti ini mengalami stress dalam hidupnya. Orang-orang seperti ini mudah putus asa di kala menghadapi godaan dan tantangan.

Orang beriman itu selalu memadukan mimpi dan kenyataan dalam hidupnya. Karena itu, orang yang beriman itu rela berkorban untuk meraih cita-cita hidupnya. Ia tidak peduli seberapa besar korban yang mesti ditanggungnya. Ia tidak malas-malasan sambil mengharapkan bintang jatuh dari langit. Bintang itu mesti ia kejar dan tangkap untuk kemajuan hidupnya.

Mari kita berusaha meraih cita-cita dengan memadukan antara kenyataan dan mimpi dalam hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

287

Bagikan

07 Januari 2010

Mampu Keluar dari Kesulitan


Kalau Anda ke Yogyakarta, jangan lupa mampir ke Kota Gede. Kota Gede yang terletak di bagian selatan Yogya ini terkenal dengan sebutan Kota Perak. Di sana banyak pengrajin perak yang hidupnya tergantung dari usaha perak ini. Namun masa sulit pun menimpa masyarakat kota ini. Para turis asing yang menjadi andalan pembeli perak sudah jarang datang. Hal ini terjadi karena para pengrajin Kotagede kalah bersaing.

Produk ekspor dari kora perak ini kalah bersaing dengan produk dari negara lain seperti Hongkong, Thailand, Malaysia dan Vietnam. Negara-negara ini unggul dalam desain dan tidak dikenai pajak bahan baku.

Akibatnya, banyak pengrajin yang kewalahan memasarkan produk mereka. Di dalam negeri kurang banyak diminati. Turis-turis asing juga tidak mau datang lagi ke Kota Perak untuk membeli hasil karya dari perak ini. Para pengrajin terus-menerus mengalami kesulitan.

Dalam kesulitan seperti ini ada sejumlah pengrajin mulai membanting stir. Mereka membuka usaha-usaha lain yang menarik perhatian para turis. Nah, para pengrajin seperti ini mulai mendapatkan penghasilan yang memadai untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

Dalam hidup ini orang mesti berani untuk mengambil terobosan-terobosan. Kesulitan yang menghadang semestinya menjadi sumber inspirasi bagi seseorang untuk menemukan cara-cara baru untuk keluar dari kesulitan. Orang mesti memiliki kreativitas yang lebih untuk menjalani hidup ini dengan penuh antusias.

Ada orang yang mudah menyerah begitu menghadapi kesulitan-kesulitan. Seolah-olah tidak ada jalan lain bagi dirinya untuk keluar dari kesulitannya. Orang seperti ini biasanya tidak ingin maju dalam hidupnya. Ia mudah putus asa. Padahal orang yang mudah putus asa itu tidak mencerminkan dirinya sebagai orang yang beriman.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk tidak terpuruk dalam kesulitan yang kita hadapi. Mengapa? Karena masih ada jalan keluar yang bisa ditempuh. Ada berbagai cara yang halal dan baik yang dapat kita gunakan untuk keluar dari kesulitan hidup ini.

Untuk itu, orang beriman mesti mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Orang beriman mesti bekerja bersama Tuhan. Tuhan siap membantu, kalau orang mau membuka diri dan hati meminta pertolongan dari Tuhan. Orang beriman mesti terus-menerus menggunakan pikirannya untuk menemukan cara-cara keluar dari kesulitan hidup. Mari kita coba. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


286

Bagikan

06 Januari 2010

Belajar dari Kesalahan


Suatu hari seorang pengusaha sukses diwawancarai oleh wartawan di rumahnya. Wartawan itu bertanya, “Apa rahasia sukses Anda?”

Dengan wajah serius, pengusaha sukses itu menjawab, “Hanya ada dua kata!”

Wartawan itu penasaran. Ia bertanya lagi, “Apa itu, Pak?”

Pengusaha itu menjawab dengan suara tegas, “Keputusan tepat!”

Wartawan itu tidak puas dengan jawaban yang pendek itu. Ia mengejar lagi dengan pertanyaan, “Lalu apa rahasia membuat keputusan yang tepat?”

Pengusaha sukses itu tersenyum. Namun dengan penuh wibawa ia menjawab, “Hanya satu kata.”

Wartawan itu menggeleng-gelengkan kepala. Ia semakin penasaran, mengapa pengusaha suskes itu tidak mau banyak bicara. Lantas ia bertanya lagi, “Apa itu, Pak?”

Dengan suara tegas, pengusaha itu menjawab, “Pengalaman!”

Wartawan itu bertanya lagi, “Lalu apa rahasia mendapatkan banyak pengalaman?”

Penguasa itu tersenyum sinis lalu menjawab, “Hanya dua kata!”

Wartawan itu hampir putus asa. Namun ia tetap mengejar pengusaha itu dengan pertanyaan lagi, “Apa itu?”

Pengusaha itu menjawab dengan mantap, “Keputusan salah!”

Banyak orang takut salah dalam hidup ini. Mereka berusaha untuk menjalani hidup dengan lurus dan benar seratus persen. Padahal untuk mencapai yang lurus dan benar dengan seratus persen itu sering mustahil. Manusia itu makhluk yang terbatas. Keterbatasan itu sering membuat manusia jatuh ke dalam kesalahan.

Orang yang biasanya tidak mau salah dalam hidup adalah orang yang ideal. Orang yang mau menjalani hidup ini di awang-awang. Akibatnya, orang tidak dapat mendarat pada realitas yang ada di dunia ini.

Kisah tadi mau menampilkan sisi yang lain dari kehidupan. Orang yang berani belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya akan menemukan keberhasilan dalam hidup. Ia tidak takut menghadapi realitas hidup yang pahit.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk belajar menggali makna dari kesalahan dalam hidup ini. Orang yang mampu keluar dari kesalahan akan menemukan keberhasilan dalam hidup ini. Tuhan senantiasa memberi kesempatan kepada mereka yang melakukan kesalahan. Untuk itu, orang beriman mesti memiliki penyerahan diri yang mendalam kepada Tuhan. Orang beriman mesti berani mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan akan membantu kalau orang mau berserah diri kepadaNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


285

Bagikan

05 Januari 2010

Belajar Berkorban


Suatu hari, Ibu Lena menuturkan bahwa ketika pacaran, ia sungguh kagum terhadap suaminya. “Ia begitu semangat. Kendati harus berjalan kaki begitu jauh, ia tetap tempuh tanpa rasa lelah,” kata Ibu Lena..

“Hujan pun tak menjadi penghalang bagi dia untuk bertandang ke rumah keluargaku. Karena cintanya padaku, ia mempunyai semangat yang luar biasa. Semangat itu yang akhirnya mempersatukan kam,” tutur Ibu Lena dalam suatu pertemuan ibu-ibu wanita katolik.

Karang-kadang Lena jatuh kasihan terhadap calon suaminya. “Kalau pulang, saya antarkan dengan sepeda onthel. Dia saya boncengkan. Maklum, saat itu belum banyak motor seperti sekarang. Saya juga bersemangat dan tidak merasa berat memboncengkan dia, meskipun jalan menanjak. Semangat memupuk cinta itu menyatukan hati kami,” lanjut Ibu Lena.

Cinta yang tulus sering kali mengabaikan segala hal yang terasa berat dan penat. Orang yang mencintai itu selalu mengiringi hidupnya dengan korban. Karena korban itulah ia berhasil meraih cita-citanya. Biasanya cinta yang disertai dengan korban itu langgeng, lestari.

Cinta yang disertai dengan korban itu tidak digapai dalam sesaat. Tetapi melalui suatu proses yang sering berhadapan dengan berbagai tantangan. Kalau orang berhasil melewati tantangan itu, orang akan mengalami makna cinta yang mendalam bagi hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar cinta yang kita ungkapkan kepada orang lain itu tetap langgeng. Untuk itu, kita butuh korban dari diri kita sendiri. Cinta yang diucapkan tanpa bukti itu bagai tong kosong yang nyaring bunyinya. Beribu-ribu halaman buku boleh ditulis tentang cinta. Tetapi kalau tidak menjadi nyata dalam hidup, cinta seperti ini tetap tidak memiliki makna yang mendalam dalam hidup ini.

Karena itu, kita mesti belajar dari pengalaman hidup sehari-hari. Suatu hari seorang ibu tukang parkir ditanya mengapa ia melakukan pekerjaan seperti itu, ia menjawab bahwa ia lakukan itu demi cinta. Ia mencintai suami dan anak-anaknya. Karena itu, ia merelakan waktunya untuk mencari nafkah. Ia mengorbankan dirinya untuk kebahagiaan suami dan anak-anaknya.

Melakukan korban itu indah, kata orang. Mengapa? Karena korban itu mendatangkan sukacita bagi diri sendiri dan bagi sesama. Karena itu, mari kita jangan takut berkorban bagi sesama. Buah yang kita petik dari korban adalah kebahagiaan diri kita dan sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



Bagikan

04 Januari 2010

Berlatih untuk Meningkatkan Kemampuan




Ada seorang penjual batu akik di pinggir jalan. Agar jualannya menarik dan diminati pembeli, ia pun menggosok batu-batu akik itu. Ia menggosoknya terus-menerus, sehingga orang-orang yang lewat mau berhenti dan melihatnya.

Suatu hari datang seorang pembeli. Ia heran melihat penjual batu akik itu tak henti-henti menggosok-gosok batu akik itu. Ia bertanya, “Pak, bagaimana bapak bisa tahu kalau batu-batu akik yang bapak gosok itu sudah siap dijual? Bagaimana bapak tahu kalau gosokannya sudah cukup halus?”

Sambil tersenyum, bapak itu memandang pembeli itu. Ia berkata, “Gampang sekali. Saya dekatkan saja batu akik ini ke wajah saya. Kalau wajah saya sudah terlihat di batu akik, itu tandanya batu akik itu sudah cukup mengkilap. Batu akik itu sudah siap dijual.”

Pembeli itu terdiam. Ia mengerti penjelasan penjual batu akik itu. Ternyata ada berbagai cara untuk menemukan keindahan dalam hidup ini.

Hidup manusia itu seperti batu akik yang terus-menerus digosok. Untuk menjadi baik dan benar, hidup ini mesti diolah. Tidak cukup orang hidup dengan apa yang ada dalam dirinya saat ini. Kemampuan yang dimiliki itu dapat berkembang menjadi lebih baik, kalau ia terus-menerus melatihnya.

Orang mengatakan bahwa sebagian besar keahlian seseorang itu dicapai dengan lebih banyak berlatih. Bakat dibutuhkan untuk memacu seseorang dalam mencapai keahlian. Namun bakat bukan segalanya. Hal yang sangat diperlukan adalah latihan terus-menerus.

Soalnya adalah ada orang yang sulit berlatih. Tidak ada kemauan dalam dirinya untuk berlatih. Padahal latihan yang terus-menerus itu meningkatkan keahlian seseorang. Seorang olahragawan hebat itu meraih kesuksesan bukan dengan malas-malasan. Tetapi ia meraih kesuksesannya dengan berlatih sebanyak-banyaknya.

Orang seperti ini biasanya tidak takut menghadapi resiko dalam hidupnya. Resiko dapat diatasi, kalau orang mau berlatih dengan baik dan benar. Orang seperti ini biasanya memiliki iman yang tangguh. Dalam pengalaman hidupnya, ia berani melintasi berbagai tantangan hidup. Ia berani menghadapi berbagai aral yang menghadang.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha dalam hidup yang nyata. Usaha keras kita pasti berkenan kepada Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Untuk itu, kita mesti berani menyerahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan. Dia akan memberikan segala yang kita butuhkan dalam hidup ini, kalau kita berani berserah diri kepadaNya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
283
Bagikan

03 Januari 2010

Keluar dari Belenggu Kebodohan



Seekor induk ayam sedang mengerami telur-telurnya. Suatu saat, induk ayam itu berkata kepada anaknya yang masih dalam bentuk telur, “Nak, lihat itu di atas langit biru sangat indah, bunga mawar merah sangat memukau. Suara burung-burung berkicau sangat merdu. Rumput dan pepohonan berwarna hijau. Alam sekitar ini sangat nyaman dan mempesona.”

Sang anak yang masih berada di dalam telur menjawab, “Ibu bohong. Saya tidak melihat langit biru. Saya tidak mendengar burung-burung berkicau. Yang saya lihat hanyalah kegelapan. Tidak ada yang indah-indah. Ibu bohong!”

Tidak lama kemudian, sang induk menangkap seekor cacing tanah yang sangat lezat. Lalu ia berkata, “Nak, cacing tanah ini sangat lezat rasanya!”

Lagi-lagi anak yang ada di dalam telur itu menjawab, “Bu, Ibu bohong. Saya tidak merasakan sedikit pun rasa lezat itu.”

Keesokan harinya setelah menetas, anak ayam itu mulai melihat keluar dan menyaksikan keadaan sekelilingnya. Ia pun berkata kepada induknya, “Bu, Ibu benar. Memang langit yang biru itu sangat indah. Burung-burung berkicau sangat merdu. Bunga-bunga mawar berwarna merah memikat. Rerumputan dan pepohonan yang hijau itu sangat sejuk. Alam sekitar ini memang sungguh indah.”

Tidak lama kemudian induk ayam itu menangkap lagi seekor cacing tanah. Ia memberikannya kepada anaknya. Setelah makan, anak ayam itu berkata, “Bu, Ibu benar. Cacing tanah itu sangat lezat rasanya.”

Kegelapan dan kebodohan sering membelenggu hidup manusia. Orang yang buta huruf sering kali dibodohi oleh orang-orang pintar. Akibatnya, mereka ikut saja hasutan demi hasutan dari orang-orang pintar. Mereka bagai kerbau yang dicocok hidupnya. Mereka ikut saja kemauan orang-orang pintar ke jurang yang dalam sekali pun.

Karena itu, orang mesti keluar dari kebodohan dan kegelapan itu. Orang yang bodoh itu seperti ayam yang masih berada dalam telur yang tidak merasakan apa yang indah dan berguna bagi hidupnya. Kalau sudah keluar, barulah dia dapat merasakan betapa indah dunia ini dan betapa lezat makanan yang diberikan kepadanya.

Manusia mesti keluar dari belenggu kebodohan itu kalau ia ingin maju dan tidak ingin dijerumuskan ke jurang yang dalam. Caranya adalah dengan belajar dari kehidupan sehari-hari. Pengalaman hidup itu guru yang paling manjur dalam hidup ini. Banyak hal yang sangat baik dan berguna yang dapat dipelajar dalam kehidupan ini. Soalnya adalah manusia sering malas atau tidak mau tahu dengan pengalaman hidup dirinya sendiri dan orang lain.

Ada begitu banyak contoh dari orang-orang yang berhasil dalam hidupnya justru merangkak dari nol. Ada orang yang tidak punya apa-apa, tetapi karena mau belajar dari pengalaman hidup, ia menjadi orang yang berhasil dalam hidupnya.

Mari kita belajar dari pengalaman hidup yang mampu memberikan kepada kita kebahagiaan dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


281

Bagikan