Pages

31 Agustus 2010

Membangun Pesaudaraan dengan Harta yang dapat Binasa


Ada dua orang bersaudara bekerja bersama-sama di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Yang lainnya masih lajang. Ketika hari mulai senja, kedua bersaudara itu membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Suatu hari, saudara yang masih lajang itu berpikir, ”Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.”

Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudaranya yang telah menikah itu berpikir dalam hatinya, ”Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti. Sedangkan saudaraku tidak memiliki siapa pun. Tidak seorang pun akan peduli padanya pada masa tuanya.”

Karena itu, setiap malam ia pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu menyimpan rahasia itu masing-masing. Sementara itu, padi mereka sesungguhnya tidak pernah berkurang. Suatu malam keduanya bertemu dan barulah saat itu mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Harta kekayaan bisa menjadi pemersatu dalam kehidupan berkeluarga. Tetapi harta kekayaan bisa saja memecah belah persaudaraan. Hal ini tergantung dari bagaimana orang memaknai kehadiran harta kekayaan dalam hidupnya. Orang yang hidupnya untuk mengejar harta akan menaruh obsesinya pada harta kekayaan. Orang seperti ini berusaha mati-matian untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Kadang ia lupa bahwa hartanya yang banyak itu tidak dapat ia gunakan. Ia senang mengumpulkannya, tetapi belum tentu dapat menggunakannya dengan baik.

Tetapi orang yang menggunakan harta kekayaan untuk kesejahteraan hidupnya akan memandang harta sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Harta kekayaan yang banyak itu bukan tujuan kebahagiaan hidup manusia. Tujuan utama kehidupan manusia adalah kebahagiaan, bukan mengumpulkan harta. Orang seperti ini akan menggunakan harta kekayaan untuk membangun persaudaraan. Ia memandang setiap orang sebagai sahabat yang dapat membantunya mencapai tujuan hidup, yaitu kebahagiaan.

Kisah tadi mengingatkan kita, agar kita memupuk persaudaraan dengan menggunakan harta kekayaan yang kita miliki. Kedua saudara itu tidak mau persaudaraan mereka rusak hanya karena kehadiran harta kekayaan.

Sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk senantiasa menemukan makna hidup di balik harta kekayaan yang kita miliki itu. Karena itu, mari kita perkuat persaudaraan dalam hidup kita dengan menggunakan harta yang dapat binasa. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

484

30 Agustus 2010

Inspirasi Kehidupan 2

Inspirasi Kehidupan

Klik gambar untuk membuka lengkap

29 Agustus 2010

Inspirasi Kehidupan 3

Inspirasi Kehidupan 3
Klik gambar untuk melihat

28 Agustus 2010

Inspirasi Kehidupan 5

Inspirasi Hari Ini

Klik gambar untuk melihat.

27 Agustus 2010

Persahabatan yang Memperkaya Nilai-nilai Kehidupa

Seorang pemuda berusia 20 tahun itu tampak sendirian di tengah keramaian pesta kaum muda. Ia duduk di pojok ruangan. Tiada yang menemani. Hanya sebotol minuman ringan dan sepiring makanan kecil. Wajahnya tampak murung. Ia tidak bergairah. Padahal kaum muda yang berpesta malam itu berjingkrak-jingkrak. Mereka tertawa. Mereka bernyanyi beria-ria. Tiada yang murung.

Pemuda itu tetap duduk di pojok ruangan itu. Padahal beberapa kaum muda mengajaknya untuk melantai bersama. Ia menolak. Ia memilih untuk menyendiri. Ia lagi tidak enak badan.

Belakangan baru ketahuan bahwa pemuda itu memang tidak punya teman. Ia tidak punya sahabat yang bisa diajaknya untuk ngobrol. Karena itu, tidak ada teman yang dapat ia bagikan perasaan hatinya. Suka dan duka ia miliki sendiri. Ia tidak mengalami betapa kayanya persahabatan yang baik. Ia terpuruk dalam kesendiriannya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena pemuda itu tidak mau membuka dirinya bagi persahabatan. Pemuda itu ingin hidup sendirian dan menyendiri.

Ketika ditanya, dia berkata, “Saya ingin hidup sendiri. Saya tidak ingin mengganggu orang lain. Saya juga tidak ingin diganggu.”

Membangun persahabatan dengan orang lain itu bukan untuk mengganggu ketenangan orang lain. Membangun persahabatan itu merupakan hakekat kehidupan manusia. Tidak ada orang yang diciptakan untuk dirinya sendiri. Setiap orang diciptakan untuk orang lain. Manusia itu makhluk sosial yang mesti membangun kehidupan bersama dengan orang lain.

Seorang bijak mengatakan bahwa manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu mencari sahabat. Namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang mendapatkan banyak teman, tetapi menyia-nyiakannya. Artinya, membangun persahabatan itu adalah suatu keharusan. Namun persahabatan itu mesti mampu memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Tidak hanya untuk satu pihak saja.

Persahabatan adalah bagian dari hidup manusia. Persahabatan itu memperkaya hidup manusia. Hanya dengan membangun persahabatan orang akan menemukan makna hidupnya sendiri. Hidup seseorang baru memiliki arti yang lebih dalam, ketika ia mampu hidup bersama orang lain.

Melalui persahabatan itu orang dapat membagikan hidupnya kepada orang lain. Orang dapat berbagi kebahagiaan yang menguatkan sesamanya. Orang dapat juga mensharingkan pengalaman hidupnya kepada orang lain. Dengan demikian, hidup ini semakin memiliki nilai-nilai yang berguna untuk kehidupan.

Sebagai orang beriman, dorongan kita untuk membangun persahabatan adalah kasih Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Tuhan sendiri menghendaki kita hidup bersahabat dengan semua orang. Persahabatan itu mesti membangun pesaudaraan dan cinta kasih yang mendalam. Mari kita membangun persahabatan yang baik dan benar untuk kehidupan yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

483

26 Agustus 2010

Inspirasi Kehidupan 1

Inspirasi Kehidupan
Klik gambar untuk melihat.

Memberi Motivasi dengan Kata-kata

Ada dua orang laki-laki yang dirawat di kamar yang sama di sebuah rumah sakit. Yang satu harus duduk selama satu jam sehari untuk mengosongkan air yang ada di paru-parunya. Tempat tidurnya dekat jendela, sehingga ia bisa melihat keluar. Sedangkan yang lain mesti berbaring lurus di atas punggung. Tempat tidurnya agak jauh dari jendela, sehingga ia tidak bisa menyaksikan apa yang terjadi di luar.

Keduanya menghabiskan waktu mereka dengan obrolan-obrolan. Mereka menjadi sangat akrab, meski sebelumnya mereka tidak saling mengenal. Mereka bercerita tentang pekerjaan, keluarga dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi.

Setiap sore, laki-laki yang tidur dekat jendela menceritakan kepada temannya apa yang ia lihat di luar jendela. Berbagai kegiatan di luar jendela itu menarik perhatian temannya. Ia pun mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia merasa bahagia. Ia merasa tenang, ketika mendengarkan kata-kata temannya. Meski ia tidak bisa melihat, namun mendengar saja sudah cukup baginya. Kata-kata temannya itu sungguh-sungguh bermakna baginya.

Ia mencoba membayangkan berada di luar jendela. Ia bayangkan sedang menggandeng istri dan anak-anaknya. Atau ia membayangkan sedang mendampingi istrinya yang sedang membaca novel di tepi kolam di rumahnya. Lantas pria yang tidur itu berkata, “Saya menyukai ceritamu. Suasana itu membuat saya semakin bersemangat untuk sembuh. Nanti ketika saya sembuh, saya akan menceritakan semua ini kepada keluarga saya.”

Kata-kata yang indah dan menarik dapat membangkitkan semangat seseorang yang sedang menderita. Kata-kata indah itu dapat membantu orang yang sedang sakit dapat sembuh kembali. Kata-kata itu seperti pemicu yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia. Kata-kata itu dapat membantu orang untuk melakukan sesuatu yang indah dan menawan bagi orang lain.

Kata-kata itu dapat membantu kita untuk menggerakkan tangan kita untuk melakukan sesuatu yang bernilai bagi hidup kita. Di dalam kata-kata itu tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Kekuatan kata-kata itu selalu hadir dalam hidup kita. Untuk itu, kita mesti memiliki kata-kata yang sopan dan santun untuk membangun relasi yang baik dengan sesama. Kata-kata kita mampu membangkitkan semangat hidup orang lain.

Sebagai orang beriman, tentu kita ingin mendasarkan kata-kata kita pada firman Tuhan. Kalau kita menggunakan firman Tuhan itu dengan benar dan baik, kita akan membantu orang untuk memiliki semangat hidup. Orang yang sakit dapat menemukan kesembuhannya, ketika mendengarkan kata-kata kita yang santun dan lembut. Orang yang sedang putus asa dapat menemukan motivasi untuk melanjutkan hidupnya, ketika mendengar nasihat kita yang menyenangkan hatinya.

Mari kita gunakan kata-kata yang baik, benar dan santun dalam membangun persahabatan dengan semua orang. Hanya dengan cara demikian, kita dapat memberikan semangat hidup kepada sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


482

25 Agustus 2010

Merebut Kesempatan untuk Hidup yang Lebih Baik



Seorang gadis melepaskan kesempatan yang begitu berharga baginya untuk membangun karier yang lebih baik. Ia ditawari untuk bekerja di perusahaan asing yang punya prospek yang sangat besar. Bahasa Inggrisnya sempurna. Ilmu dia punya. Tetapi yang membuat ia melepaskan kesempatan itu adalah hal sepele: ia tidak mau jauh dari keluarganya.

Terhadap keputusannya itu, banyak orang menganggapnya sebagai suatu kebodohan. Apalagi ketika mereka mendengar alasannya yang sepele itu. Tetapi baginya, itulah cara terbaik baginya untuk tetap dekat dengan orangtuanya. Ia lebih mencintai orangtuanya daripada membangun karier bagi dirinya sendiri. Ia memilih untuk tidak mempunyai apa-apa.

Banyak orang membutuhkan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya. Banyak orang ingin agar kariernya menanjak, sehingga mereka dapat membangun kehidupan yang lebih baik. Bagi mereka, kesempatan yang ada mesti direbut. Tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Kesempatan itu hanya datang sekali. Ia tidak datang untuk kedua kali.

Kesempatan itu adalah waktu, karena ia hanya datang satu kali. Setelah itu, ia berlalu ketika orang tidak menggunakannya dengan baik. Karena itu, orang mesti menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya dan sebanyak mungkin untuk kehidupan ini. Orang tidak boleh membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Menyia-nyiakan kesempatan hanyalah suatu kebodohan dalam hidup.

Kisah gadis tadi menunjukkan lemahnya iman seseorang. Orang yang punya iman itu orang yang mampu menghadapi tantangan jaman. Orang yang berani meninggalkan kelekatan dirinya dengan hal-hal di sekitarnya. Orang yang mampu menggunakan kemampuannya untuk membangun hidup yang lebih baik bagi kesejateraan dirinya dan sesama.

Karena itu, kesempatan adalah peluang yang dapat segera diambil untuk membangun hidup yang lebih baik. Kesempatan itu keluasan yang membuka jalan-jalan baru bagi masa depan yang terang benderang. Orang yang melewatkan kesempatan begitu saja akan mengalami penyesalan dalam hidupnya. Peluang itu berlalu bersama waktu. Tidak akan kembali lagi.

Di hadapan kita berjajar pintu-pintu kesempatan yang terbuka lebar. Kita mesti masuk ke dalam pintu-pintu itu. Kita rebut kesempatan itu untuk membangun suatu kehidupan yang lebih baik. Jangan kita hanya menonton dan mengagumi kesempatan-kesempatan itu. Kita maju dan menggunakannya untuk kebahagiaan diri kita.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa berusaha untuk merebut peluang-peluang yang berhamburan di depan mata kita. Peluang-peluang itu menjadi bekal bagi kita dalam perjalanan menuju kesejahteraan bagi hidup kita. Namun orang beriman mesti berpikir tentang hidup sesamanya. Orang beriman mesti peduli terhadap lingkungan hidupnya. Sesama bukanlah musuh yang mesti ditaklukkan, tetapi sesama adalah teman seperjalanan menuju kesuksesan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

481Rata Penuh

24 Agustus 2010

Membuka Diri terhadap Dunia yang Luas

Seorang gadis bertahun-tahun tinggal di dalam rumahnya saja. Kalau ia keluar, paling sebatas pagar sekeliling rumahnya. Di rumah ada televisi. Tetapi ia memilih tidak menghabiskan waktunya di depan televisi. Waktu-waktu digunakannya untukk bekerja. Akibatnya, ia tidak begitu tahu tentang kemajuan dunia. Ia lebih sibuk dengan dirinya sendiri.

Suatu hari, ia diminta oleh ibunya untuk berbelanja ke pasar untuk kebutuhan dapur mereka. Biasanya sang ibu yang belanja. Namun kali itu sang ibu berhalangan. Apa yang dilakukan gadis itu? Setelah di pasar, ia bingung tidak tahu mau buat apa. Ia tidak bisa memilih apa yang semestinya ia beli untuk kebutuhan dapur. Ia juga tidak tahu harga sayu-sayuran. Jadi ia memilih untuk pulang daripada kebingungan berjalan ke sana ke mari.

Ketika ibunya pulang, ibunya sangat terkejut ketika tahu bahwa putrinya tidak belanja barang-barang kebutuhan dapur. Ketika ia bertanya tentang hal itu, putrinya mengatakan bahwa ia tidak tahu mau beli apa. Selama ini ibunya sudah memenuhi dapur dengan belanjaannya. Ia tinggal memasak. Jadi dunia gadis itu hanya sekitar dapur. Ia tidak mengerti kalau di pasar itu lebih banyak barang-barang kebutuhan yang dijual daripada yang ada di dapur rumahnya.

Ada orang yang dunianya sangat sempit. Ada yang dunianya selebar meja tulisnya. Ada yang dunianya seluas rumah dan halaman rumahnya. Tetapi ada juga yang dunianya itu seluas jagat raya ini. Tak terhingga. Mengapa ini bisa terjadi? Karena orang yang punya dunia seluas jagat raya itu selalu membuka diri terhadap berbagai informasi. Ia juga mau mencari informasi yang berguna bagi dirinya sendiri. Ia tidak tinggal diam saja di tempat dan membiarkan dunia informasi datang mempengaruhinya.

Kisah tadi menunjukkan bahwa suatu dunia yang sempit itu membuat orang memiliki gerak hidup yang terbatas. Pengetahuan pun terbatas. Karena itu, ketika orang mesti keluar ke dunia yang lebih luas, orang mengalami kesulitan. Orang mengalami kebingungan. Tentu saja hal seperti ini tidak menguntungkan bagi kehidupan manusia.

Karena itu, orang mesti berani untuk berpetualang. Orang tidak bisa hanya terkungkung dalam dunia yang sempit. Di sekitar kita ada gunung, lembah, dataran dan lautan yang membentang. Semua itu menanti kita untuk kita jelajahi. Bukan hanya untuk bersenang-senang. Tetapi lebih-lebih untuk mengalami betapa dalam dan luasnya kasih Tuhan kepada manusia.

Tuhan telah menyediakan semua itu untuk kita garap. Tuhan menyediakan semua itu bagi kesejahteraan hidup kita. Tuhan menciptakan semua itu, agar manusia memiliki kehidupan yang layak.

Sebagai orang beriman, mari kita membuka diri kita lebar-lebar terhadap berbagai hal yang ada di sekitar kita. Kita serap semua itu demi kesejahteraan hidup kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang mampu bersyukur kepada Tuhan atas semua yang telah dianugerahkanNya kepada kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
480

23 Agustus 2010

Berani Menerjang Rintangan-rintangan




Ada seorang pemuda yang selalu ragu-ragu untuk memulai suatu usaha. Padahal kalau saja ia mulai dengan berani usaha itu, ia akan meraub keuntungan yang berlipat-lipat. Tetapi karena ia selalu ragu-ragu, akibatnya usaha itu tidak pernah berjalan. Ia kehilangan keuntungan yang banyak. Ia menjadi seorang yang bermimpi tentang hasil usaha yang banyak. Tetapi ia sendiri tidak mampu meraihnya. Keragu-raguan itu telah membuat ia gagal dalam usaha tersebut.

Rintangan yang paling besar adalah sikap ragu-ragu itu. Kalau saja pemuda itu mampu menyingkirkan rintangan itu, ia tentu menjadi orang yang maju dalam hidupnya. Rupanya sikap ragu-ragu itu telah membuat ia tidak punya kemampuan untuk memiliki ketahanan dalam hidup. Apa saja yang ia usahakan selalu gagal. Ia terlalu banyak memikirkan tentang berbagai hal yang tidak masuk akal.

Itulah keterbatasan dirinya. Kemampuannya untuk menerjang sikap ragu-ragu dalam dirinya itu hilang. Ia tidak punya nyali untuk meneruskan perjalanan hidupnya. Ia mau hidup biasa-biasa saja. Ia tidak mau lebih maju lagi dalam berusaha. Ia mudah menyerah pada situasi yang ada.

Orang yang sering ragu-ragu dalam hidupnya biasanya akan menemukan suatu hidup yang tidak membahagiakan. Orang seperti ini sering punya macam-macam pikiran yang menaungi dirinya. Sebentar-sebentar ia akan bertanya pada dirinya sendiri, kalau saya lakukan ini apa yang akan terjadi? Kalau saya buat ini, bagaimana kata orang tentang diriku?

Tentu saja sikap seperti ini sering menghambat orang untuk maju dalam perjuangan hidupnya. Orang tidak pernah akan melangkahkan kakinya lebih jauh lagi. Orang seperti ini akan tetap berhenti di tempat. Tidak maju-maju. Orang mudah menyerah pada keterbatasan dirinya.

Apa yang mesti dilakukan terhadap orang seperti ini? Kepada orang seperti ini mesti dikatakan bahwa setiap orang punya keterbatasan. Namun keterbatasan itu dapat menjadi kekuatan bagi manusia untuk dapat maju dalam kehidupannya. Keterbatasan itu mampu membantu seseorang untuk memilah-milah apa saja yang bisa dilakukannya untuk kemajuan dirinya.

Yang mesti disadari dalam hidup ini adalah kita mesti berani untuk melangkahkan kaki kita. Kita mesti berani menerjang halangan-halangan yang mungkin akan menghadang kita. Karena itu, kita jangan dulu cepat-cepat tunduk pada rintangan-rintangan. Mungkin yang kita temui dalam perjalanan hidup kita bukan rintangan, tetapi jalan mulus yang membantu kita berhasil dalam usaha-usaha kita.

Karena itu, mari kita singkirkan pikiran-pikiran yang tidak-tidak yang ada dalam diri kita. Atau kita jadikan hal-hal itu sebagai kekuatan untuk membantu kita meraih sukses dalam usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

479