Pages

29 November 2011

Sukacita karena Cinta


Ada seorang wanita yang menikah dengan pria yang tidak dicintainya. Ia menikah hanya menuruti keinginan orangtuanya. Suaminya menyuruhnya untuk bangun pukul lima pagi tiap hari, membuatkan sarapan untuknya dan menyajikannya tepat pukul enam. Sang suami mengharapkannya selalu siap melayaninya.

Hidup wanita itu menderita, karena hanya berusaha melayani setiap kebutuhan dan permintaan suaminya. Sampai suatu waktu suaminya meninggal dunia.

Beberapa tahun kemudian, wanita itu menikah kembali. Kali ini dengan seorang pria yang sangat dicintainya. Suatu hari, ketika sedang membereskan dan membersihkan kertas-kertas kuno, dia menemukan selembar kertas berisi peraturan yang harus dilakukan sebagai istri. Peraturan itu dibuat oleh mendiang suaminya.

Dengan hati-hati, dia membaca peraturan itu. “Bangun pukul lima. Hidangkan pada pukul enam tepat.” Dia terus membaca dan tiba-tiba berhenti serta merenung.

“Lho, bukankah apa yang saya lakukan sekarang pun persis dengan apa yang saya lakukan dulu? Mengapa sekarang saya bisa melakukannya dengan sukacita, tanpa merasa terpaksa?” katanya.

Ia tersenyum geli setelah menyadari perjalanan hidupnya. Lantas ia menjawab dalam hatinya, ”Ini karena cinta. Saya lakukan semua ini karena cinta. Saya merasakan sukacita atas apa yang aku lakukan ini.”

Sahabat, pernahkah Anda merasa melakukan sesuatu karena terpaksa? Apa hasil yang Anda peroleh? Tentu saja Anda tidak akan mengalami sukacita. Anda tidak merasa bahagia setelah melakukan semua hal yang baik itu. Anda justru merasa tertekan. Anda merasa apa yang telah Anda lakukan itu tidak membuahkan sesuatu bagi hidup Anda.

Sebaliknya, kalau Anda melakukan sesuatu dengan semangat yang dilandasi oleh cinta, Anda akan lakukan apa saja demi cinta itu. Tidak perlu diminta, Anda akan lakukan sesuatu untuk orang-orang yang Anda cintai itu. Meski berat pekerjaan itu, Anda akan merasa ringan karena menyenangkan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita lakukan demi cinta akan membahagiakan hidup kita. Untuk itu, kita mesti senantiasa menimba kasih dari Tuhan yang adalah sumber cinta. Tuhan memberi tanpa menarik kembali. Tuhan memberi tanpa meminta kita untuk membalasnya. Yang diinginkan Tuhan dari kita adalah kita mencintai sesama kita dengan setulus hati. Bukan dengan terpaksa. Mari kita mengandalkan kasih dalam hidup ini. Dengan demikian, kita mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ



832

27 November 2011

Menenangkan Hati dan Pikiran

Dalam Kisah legenda Tiga Negara, diceritakan bahwa negeri Shu memiliki seorang ahli strategi jenius bernama Kung Ming. Berkali-kali pihak musuh ingin menghancurkan pasukan Shu dan membunuhnya. Tapi berkali-kali mereka gagal meski pihak Shu punya tentara lebih sedikit.

Pernah satu kali Kung Ming dan ratusan tentaranya mendadak dikepung puluhan ribu tentara negeri Wei di kota Hsi Cheng. Hendak memanggil bala bantuan, jelas tidak mungkin. Lari juga sudah terlambat. Nah, apa yang dilakukan Kung Ming? Ternyata dia justru menyuruh prajuritnya membuka keempat pintu gerbang kota lalu membiarkan suasana hening tanpa suara sama sekali.

Kung Ming dan dua pembantunya lalu naik ke loteng kota dan memainkan siter dengan tenangnya. Ketika gerombolan musuh datang, pemandangan dan suasana hening yang aneh itu justru membuat mereka menjadi ragu-ragu bahkan takut. Akhirnya, mereka justru kabur, karena takut diperdaya Kung Ming yang terkenal banyak akalnya. Siasat Kung Ming ini kini terkenal dengan nama Siasat Kota Kosong.

Sahabat, apa yang terjadi ketika Anda menghadapi suatu persoalan rumit dalam hidup Anda? Banyak dari Anda yang panik, tidak tenang. Banyak dari Anda yang bertindak gegabah. Banyak orang ceroboh. Akibatnya, persoalan yang sebenarnya mudah diselesaikan akhirnya menjadi berlarut-larut. Untuk itu, apa yang diperlukan dari manusia saat menghadapi persoalan?

Kisah sukses Kung Ming mengalahkan musuh meski tak punya kekuatan sama sekali menjadi inspirasi bagi kita. Kekuatannya sebenarnya hanya satu. Ia tetap tenang, sehingga bisa menghasilkan jalan keluar atas persoalan yang dihadapinya. Ia tidak mudah panik. Ia juga tidak mencampuradukan persoalan rumit yang dihadapinya itu. Satu per satu ia usahakan untuk diselesaikan dengan tenang.

Ketika orang panik saat menghadapi persoalan, orang tidak akan fokus lagi pada penyelesaian persoalan itu. Akibatnya, masalahnya tidak selesai. Justru masalah tersebut dapat melebar ke mana-mana.

Untuk itu, kita diajak untuk bersikap tenang ketika kita menghadapi suatu persoalan. Usahakan agar persoalan-persoalan itu dihadapi satu per satu. Jangan mencampuradukan persoalan-persoalan. Persoalan yang rumit seperti benang kusut akan terurai dengan mudah, kalau kita menghadapinya dengan penuh ketenangan.

”Juga orang bodoh akan disangka bijak, kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya" (Amsal 17:28). Mari kita menenangkan hati dan pikiran kita untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kita hadapi. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

830

Menyiapkan Diri untuk Meraih Sukses


Suatu ketika, seorang pria mendapati seekor gorila bergelantungan di pohon pekarangan belakang rumahnya. Segera saja, ia menelepon jasa penangkapan binatang buas. Dengan segera juga, seorang pawang gorila datang membawa sebuah tongkat, seekor anjing, borgol dan senapan.

Pawang itu berkata kepada pemilik rumah, ”Dengarkan taktiknya. Saya akan memanjat pohon itu dan memukul gorilanya dengan tongkat sampai dia jatuh. Nah, begitu ia jatuh, anjingku ini sudah dilatih untuk langsung menggigit organnya. Saat si gorila melindungi diri dengan menyilangkan kedua tangannya di depan, kamu langsung pakaikan borgol ini, ya.”

Pemilik rumah itu menjawab, ”Oke, mengerti. Tapi buat apa senapan ini?”

Sambil tersenyum kecut, pawang itu berkata, ”Oh itu.. Yah, kalau saya jatuh duluan sebelum si gorila, kamu tembak anjingku.”

Sahabat, kesuksesan dalam hidup setengahnya ditentukan oleh persiapan yang matang. Orang tidak bisa meraih keberhasilan tanpa persiapan yang baik. Orang yang meraih kesuksesan dengan persiapan yang minim hanyalah suatu kebetulan. Itu hanya sekali terjadi. Tidak akan berulang-ulang lagi.

Para pencipta sejarah kehidupan manusia biasanya tidak muncul dengan tiba-tiba. Presiden Soekarno sukses membawa kemerdekaan bagi bangsa ini tidak muncul dengan tiba-tiba. Ia telah mempersiapkan diri dengan menuntut ilmu di perguruan tinggi. Ia mengikuti berbagai organisasi. Ia sering ditangkap oleh pihak penjajah saat melakukan suatu gerakan. Ia dibuang di berbagai tempat di negeri ini untuk menjauhkan dirinya dari perjuangan sesama sahabatnya.

Sukses akhirnya ia raih dengan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan asing. Kesuksesan itu ia raih melalui berbagai cara. Ia berjuang untuk itu. Ia mengalami situasi sepi dan sendirian. Namun ia tetap tegar. Ia terus-menerus memupuk keyakinannya bahwa suatu saat nanti bangsa Indonesia akan terbebas dari belenggu penjajahan.

Apa yang telah Anda lakukan untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini? Anda tidur-tidur saja sambil bermimpi kebahagiaan akan jatuh dari langit-langit rumah Anda? Anda nongkrong saja di depan rumah Anda sambil menyaksikan penjual martabak keliling yang berlepotan keringat menjajakan dagangannya?

Tentu saja kalau Anda ingin sukses dalam hidup ini, Anda mesti mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Tidak ada yang mudah. Yang ada adalah Anda mesti menyiapkan mental Anda sebaik-baiknya untuk masuk ke dalam dunia yang penuh persaingan. Kalau persiapan Anda cukup baik dan matang, tampaknya Anda tidak perlu tunggu waktu lama untuk meraih kesuksesan dan kebahagiaan.

Sambil menyiapkan diri Anda baik-baik, mari kita mohon kekuatan dari Tuhan. Dengan demikian, Anda tidak hanya berjuang sendiri. Namun Anda sertakan Tuhan dalam perjuangan Anda. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

25 November 2011

Merasakan Sakitnya Cambukan Tuhan


Seorang wanita sedang menikmati udara musim panas di Swiss. Suatu hari dia berjalan-jalan. Ketika mendaki sebuah lereng gunung, dia tiba di rumah seorang gembala. Dia menuju pintu dan melongok ke dalam. Dia melihat seorang gembala sedang duduk dikelilingi ternaknya. Di dekatnya terbaring seekor domba. Ketika wanita itu memperhatikan dengan cermat, ia melihat kaki domba itu patah. Hatinya cepat tergerak oleh rasa simpati terhadap domba yang terluka itu.

Sambil memandang gembala itu, ia bertanya, “Apa yang terjadi dengan domba itu?”

Gembala itu menjawab, ”Bu, saya telah mematahkan kakinya.”

Perempuan itu sangat terkejut mendengar jawaban seperti itu. Wajah wanita itu menyiratkan kengerian dan rasa sakit. Ketika melihat hal itu, gembala itu berkata: “Bu, dari semua domba saya, domba inilah yang paling bandel. Dia tidak pernah mematuhi saya. Dia tidak mau mengikuti arah yang saya tunjukkan. Dia ngelayap ke tempat-tempat curam dan terjal yang membahayakan dirinya. Tidak hanya itu, dia juga membuat domba-domba saya yang lain berserakan. Saya sudah berpengalaman menangani domba nakal semacam ini. Jadi, saya mematahkan kakinya. Hari pertama saya mendekatinya dan memberinya makan, dia mencoba menggigit saya. Saya membiarkan hal ini selama dua hari. Kemudian, saya kembali lagi. Dan sekarang, dia tidak mau memakan makanan yang saya berikan, tetapi juga menjilati tangan saya dan menunjukan sikap penyerahan bahkan kasih sayang. Dan sekarang izinkan saya memberitahu ibu sesuatu. Jika domba itu sudah sehat, dia akan menjadi domba teladan dalam kumpulan ternak saya. Tidak ada domba yang lain yang lebih cepat mendengar suara saya. Tidak ada domba lain yang mengikuti saya begitu dekat selain dia.”

Sahabat, pernahkah Anda merasakan sakitnya dicambuk atau ditampar orang? Tentu saja Anda akan merasa sakit. Anda tidak mau terima perlakuan kasar dari orang lain. Anda manusia yang mesti dilindungi dan dihargai. Mungkin Anda akan marah besar. Anda akan beradu mulut dengan orang yang menampar Anda. Atau Anda akan menyumpahinya habis-habisan.

Namun pernahkah Anda mengadakan refleksi atas kejadian seperti itu? Apakah hal seperti itu hanya Anda rasakan sebagai sesuatu yang memalukan Anda? Atau Anda akan berusaha untuk menemukan titik lemah dari hidup Anda?

Mungkin kisah domba yang kakinya dipatahkan tadi dapat memberi inspirasi kepada kita untuk belajar menemukan hal-hal baik dari perlakuan yang kita rasakan kurang adil. Mungkin kisah tadi dapat membantu kita untuk merefleksikan perjalanan hidup kita. Bukankah kita manusia lemah? Bukankah kita manusia yang mudah jatuh ke dalam kesalahan dan dosa?

Dalam hidup beriman, kadang-kadang kita rasakan Tuhan mencambuk kita. Mengapa? Karena kita tidak setia kepada Tuhan. Kita mau berjalan sendiri menurut keinginan diri kita. Kita menenggelamkan diri kita di dalam lubang dosa dan kenistaan. Karena itu, kita perlu cambukan. Dengan demikian, kita mampu menyadari tujuan hidup kita.

Sang Bijaksana berkata, ”Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak; ‘hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibr. 12:5-6). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


828

24 November 2011

Siapa Mencintai Uang Tidak akan Puas dengan Uang

Siapa Mencintai Uang Tidak akan Puas dengan Uang



Seorang milyarder asal Austria bernama Karl Rabeder, memberikan setiap sen kekayaannya senilai tiga juta Poundsterling atau setara Rp 50 Miliar setelah menyadari kekayaannya tidak membuat dirinya bahagia. Dia menjual villa mewah dengan danaunya serta pemandangan pegunungan Alps senilai Rp 21 Miliar. Dia juga menjual rumah pertanian dari batu serta belasan hektar lahan dengan nilai Rp 10 Miliar. Turut ia jual adalah enam koleksi pesawat terbang layang senilai Rp 6 Miliar dan sebuah mobil mewah senilai Rp. 700 Juta.

Dia mengatakan bahwa dia berencana untuk tidak menyisakan apa pun dari kekayaannya, karena bagi dia uang menghalangi datangnya kebahagaian. Ia akan keluar dari rumah mewahnya itu, lalu menyepi ke sebuah rumah sederhana. Semua hasil penjualan hartanya akan menjadi modal untuk lembaga amal yang dia dirikan di Amerika Tengah dan Latin, tetapi ia tidak akan mengambil gaji dari situ.

Sejak menjual hartanya, Rabaeder mengatakan bahwa dirinya merasa bebas. Ia tidak lagi merasa terbebani. Namun dia mengatakan, ia tidak akan menghakimi orang kaya yang memilih untuk terus menumpuk kekayaan.

Sahabat, tahun lalu muncul gagasan untuk mengadakan uang aspirasi bagi para anggota DPR. Uang itu akan digunakan untuk membangun rumah di daerah di mana para anggota DPR tersebut mewakili konstituennya. Rumah yang dibangun itu menjadi sekretariat di mana para konstituen akan datang untuk memberikan aspirasi mereka. Spontan saja banyak kalangan mempersoalkan gagasan tersebut. Lebih banyak kritik yang dituai oleh para anggota DPR.

Menurut banyak kalangan, saat ini yang dibutuhkan bukan dana aspirasi. Tetapi yang dibutuhkan saat ini adalah kinerja para anggota DPR yang sungguh-sungguh peduli terhadap masyarakat. Yang dikuatirkan adalah penyalahgunaan terhadap dana aspirasi yang begitu besar. Jangan-jangan uang tersebut masuk kantong pribadi. Jangan-jangan gagasan tersebut hanyalah cara untuk mengelabui masyarakat.

Lantas orang pun bertanya, apa motivasi di balik gagasan tersebut? Jawabannya adalah orang ingin membahagiakan diri dengan uang. Orang merasa bahwa kalau mereka memiliki uang yang banyak, mereka akan mengalami sukacita dan damai. Tentu saja pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar.

Coba kita simak kembali kisah Rabeder di atas. Milyarder asal Austria itu justru tidak merasakan kebahagiaan dengan memiliki kekayaan yang berlimpah. Sikapnya pun jelas! Ia melepaskan semua kekayaannya itu, karena tidak membahagiakan dirinya. Ia tidak ingin hidupnya tergantung pada kekayaan itu. Baginya, kekayaan itu mesti dikendalikan oleh dirinya.

Ternyata kebahagiaan itu tidak diukur dari harta kekayaan. Ketenangan hidup itu tidak terletak pada banyaknya uang dan harta yang dimiliki. Tetapi kebahagiaan itu terjadi ketika orang mampu menggunakan harta kekayaan itu demi membahagiakan diri dan sesamanya. Karena itu, ketika harta kekayaan tidak bisa diandalkan untuk mencapai kebahagiaan, harta itu mesti dilepas.

Mari kita membangun sikap yang benar terhadap harta kekayaan yang kita miliki. Dengan demikian, kita akan mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Sang Bijaksana berkata, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya” (Pengkotbah 5:19). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


829

22 November 2011

Mendidik Hati yang Mudah Tersentuh

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan sesama Anda yang sedang menderita? Anda tergerak hati oleh belas kasihan? Atau Anda biarkan saja, karena Anda tidak punya hubungan apa-apa dengannya?

Remaja bernama Bagas Yanuarsa (13) ini benar-benar berhati besar. Di tengah teman seusianya yang sibuk bermain dan belajar, dia justru rela menghabiskan waktunya untuk merawat ibunda tercinta, Muniroh (32), yang mengidap penyakit scleroderma.

Scleroderma adalah penyakit yang konon disebut manusia kayu. Akibat penyakit yang dideritanya ini, Muniroh tidak mampu melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga normal. Muniroh sudah 4 tahun mengidap penyakit ini.

Mereka sekeluarga tinggal di Dusun Gales, Desa Sideroje, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Bersama sang adik bernama Rizal Dwi Ananto (4), Bagas mau tidak mau harus menggantikan pekerjaan ibunya yang hanya bisa duduk dan berbaring.

Sebelum berangkat ke sekolah, biasanya Bagas dan Rizal harus mencuci piring, memasak bahkan mencuci pakaian. Sementara sang suami, Supriyanto (36), bekerja sebagai tenaga honorer di Pusat Pengembangan dan Permberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Seni Budaya Yogyakarta, jarang pulang mengingat jarak Yogya dan Magelang yang cukup jauh.

"Suami saya pulang kadang tiga hari sampai lima hari sekali. Jadi selama ini hanya anak saya yang mengurus saya. Saya merasa kasihan dengan anak saya yang tidak bisa bermain bersama anak-anak lain," kata Muniroh.

Bagi Bagas, apa yang dia lakukan saat ini ikhlas untuk ibu tercintanya. Bagas menganggap tugas-tugas ini bagian dari kewajibannya sebagai anak. Meski dia tidak menampik masa kecilnya tidak seindah teman-temannya.

"Saya rela melakukan ini semua. Mau bagaimana lagi, ibu sudah seperti itu. Saya yang merawat ibu, menggantikan baju, memandikan ibu. Semua itu saya lakukan hanya untuk ibu saya tercinta," kata Bagas.

Sahabat, kisah-kisah kemanusiaan yang menyayat hati selalu terjadi dalam perjalanan hidup manusia. Ada kisah-kisah heroik yang membuat kita berdecak kagum. Ada kisah-kisah kasih yang mendorong kita untuk membuka hati kita bagi sesama. Ada pula kisah-kisah pengorbanan yang memberi kita motivasi untuk mengulurkan tangan kita bagi sesama yang sedang menderita.

Kisah Bagas memilukan hati kita. Kita tersentuh oleh pengorbanan yang dilakukan oleh sang anak bagi sang ibu tercinta. Namun kisah pengorbanan Bagas memberi kita suatu semangat untuk berani meninggalkan egoisme kita. Kita mesti berani rela kehilangan hal-hal yang menyenangkan hati kita. Kita rela memberi perhatian bagi orang-orang yang kita cinta dengan hati yang tulus.

Bagas melakukan hal ini dengan mulus. Ia tidak perlu berkata kepada ibunya, “I love you mama.” Tetapi ia menunjukkan dalam perbuatan bahwa ia sangat mencintai sang mama tercinta.

Apa yang mesti kita lakukan untuk orang-orang di sekitar kita yang mengalami duka nestapa dalam hidup ini? Kita biarkan saja mereka terjerembab dalam penderitaan mereka? Atau kita menyingsingkan lengan baju kita untuk membantu mereka agar lepas dari penderitaan?

Orang beriman tentu mudah tersentuh hatinya oleh penderitaan sesamanya. Karena itu, mari kita mengorbankan hidup kita bagi sesama yang sedang menderita. Dengan demikian, hidup ini menjadi semakin damai dan indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


827

21 November 2011

Kematian Kecil

di antara pekik tawa

tak tertunda suatu malapetaka

dari rintihan pahit getir serakah dunia

menghanyut ke kekelaman kelabu ungu



kau kurenggut patah remuk

mengapa tak kau tanggung?

kau tak tega meronta kesakitan?

di bawah roda-roda keparat ini?



kau yang jadi omelan

kau yang menjilat busa-busa liur keparat ganas

kau yang ditindih gading retak pecah

di mana sekarang wajahmu?



bira nafasmu mencuat meronta dari poros bumi

merajuk hatiku yang lagi tegar cinta

menjulur lidahmu harapkan kasih

namun kian kurenggut citamu di kaki cinta

hingga berkeping beterbangan disambar angin

aku pengkhianat!

penjerumus kematian kecil ini!



Frans de Sales, SCJ

6 Mei 1982

Melepaskan Hal-hal Buruk dari Diri

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang baik? Anda biarkan saja diri Anda terjerumus? Atau Anda berusaha untuk keluar dari situasi seperti itu?

Ada seorang pemuda yang terkenal keras kepala. Ia juga tidak bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Suatu hari ia mendatangi seorang tua yang bijaksana. Ia ingin belajar memiliki hati yang lembut seperti orang tua itu. Ia sadar bahwa hanya dengan memiliki hati yang lemah lembut orang akan mengalami hidup yang damai dan sejahtera. Ia ingin meninggalkan sikapnya yang keras kepala itu.

Namun orang tua yang bijaksana itu mengajak pemuda itu berjalan memasuki hutan. Setelah lama berjalan, orang tua itu menghentikan langkahnya. Lalu ia menunjuk sebatang pohon yang kecil. “Cabutlah pohon!” katanya kepada pemuda itu.

Pemuda itu heran memandang orang tua itu. Namun ia segara membungkuk ke arah pohon kecil itu. Hanya dengan dua jari, ia dengan mudah dapat mencabut pohon itu. Ia tidak butuh banyak tenaga untuk melepaskan pohon kecil itu dari akarnya. Orang tua itu tersenyum menyaksikan pemuda itu.

Lantas orang tua itu mengajak pemuda itu untuk meneruskan perjalanan. Setelah berjalan lebih jauh lagi, orang tua itu berhenti di depan sebatang pohon yang agak besar. Sambil menatap wajah pemuda itu, ia berkata, “Coba, cabut pohon ini.”

Pemuda itu menuruti perintah orang tua itu. Namun kali ini, dia menggunakan kedua tangannya. Dengan sekuat tenaga, ia mencabut akar pohon itu. Kali ini pun pemuda itu berhasil melaksanakan permintaan orang tua itu. Ia bangga bahwa ia memiliki kesetiaan kepada orang tua itu.

Kedua insan itu meneruskan perjalanan. Tidak berapa lama, mereka berhenti di bawah sebatang pohon yang agak besar dan keras. Sambil melemparkan senyumnya, orang tua itu berkata kepada pemuda itu, “Sekarang, cabutlah pohon ini!”

Pemuda itu menggelengkan kepalanya. Pohon itu terlalu besar untuk dilepaskan dari akar-akarnya. “Aku tidak dapat mencabut pohon sebesar ini. Untuk memindahkannya diperlukan sebuah buldozer,” kata pemuda itu.

Sahabat, semakin besar pohon mengakar ke dalam tanah, sulitlah pohon itu dicabut menggunakan tangan. Meski kita memiliki tenaga yang luar biasa kuat, tetapi mustahil bagi kita untuk melepaskannya. Kita lebih mudah menggunakan parang atau kapak untuk memotong pohon tersebut.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa dosa dan kesalahan yang kita lakukan itu semakin sulit kita lepaskan, ketika akar-akarnya semakin dalam membelit jiwa kita. Kebiasaan kita yang baik atau buruk yang sudah kita bangun bertahun-tahun akan sulit kita tinggalkan. Kita akan bawa ke mana pun kita pergi.

Kalau kebiasaan itu baik, yang kita tanamkan dalam diri dan sesama adalah hal-hal baik. Kita dapat mempengaruhi sesama kita untuk melakukan hal-hal baik itu. Namun ketika kita lebih menonjolkan hal-hal yang buruk, kita akan mengalami kesulitan untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk itu. Kita mengalami kesulitan untuk meninggalkan hal-hal yang kurang baik dari dalam diri kita. Mengapa? Karena sudah mengakar dan menguat.

Karena itu, orang beriman mesti selalu berusaha untuk melepaskan hal-hal yang buruk sejak awal. Orang butuh waktu dan kesempatan yang baik meninggalkan dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan buruknya itu. Dengan demikian, hidup menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri sendiri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

20 November 2011

Membahagiakan Sesama

Bacaan Kitab Suci selengkapnya klik disini kunjungi Renungan Pagi

Apa kabar Anda hari ini? Saya harap Anda mengalami suasana yang menggembirakan, karena Tuhan menyertai Anda hari ini. Anda mesti selalu bersemangat untuk menjalani hari ini, sehingga Anda bisa membagikan kasih Anda kepada sesama.

Seorang ibu bekerja seharian penuh. Ia bangun pagi-pagi untuk menyiapkan sarapan bagi anak-anak dan suaminya. Lantas ia mengepel lantai rumah dan membersihkan kaca-kaca jendela. Meski capek, ia masih bias tersenyum. Ia bersyukur dapat mengabdikan hidupnya bagi sesama yang sangat dicintainya. Baginya, hidup itu suatu pengorbanan. Hidup itu mesti membaktikan hidup bagi sesama. Ia bahagia melakukan hal-hal yang baik bagi sesamanya.

Ia berkata, “Kebahagiaan dapat saya rasakan saat saya mampu memberikan hidup saya bagi orang-orang yang terdekat. Mereka mencintai saya. Ini tanda saya mencintai mereka.”

Sahabat, tentu saja setiap kita ingin hidup bahagia. Namun kita juga ingin sesama kita bahagia. Kebahagiaan yang hanya dialami dan dirasakan sendiri hanyalah suatu bentuk pemuasan ego saja. Kita tidak bisa bahagia sendirian. Kita senantiasa berada dalam relasi dengan sesama kita. Karena itu, menjadi suatu tugas bagi kita untuk menyalurkan kebahagiaan itu kepada sesama kita.
Rata Penuh
Nah, kebahagiaan seperti apa yang dikehendaki Tuhan, mari kita dengarkan pengajaran Yesus ini.

Dalam salah satu pengajaran-Nya, Yesus bersabda, "Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal."

Sahabat, ada banyak orang yang membutuhkan bantuan dari kita. Mampukah kita mengulurkan tangan kita bagi mereka yang membutuhkan? Mari kita memberi perhatian kepada sesame yang membutuhkan. Dengan demikian, damai dapat menjadi bagian dari hidup manusia. Tuhan memberkati. ** (Frans de Sales, SCJ)

19 November 2011

Tuhan Itu Satu-satunya Pegangan Hidup

Suatu hari ada sebuah rumah di suatu kota terbakar. Pemiliknya terbangun dari tempat tidurnya. Ia panik menghadapi asap yang mulai memenuhi seluruh ruangan. Dalam kondisi seperti, itu ia ingat ada sebuah lemari dinding yang bisa menyelamatkan dirinya. Ia masuk ke dalamnya. Namun pintu lemari itu tidak bisa dibuka dari dalam. Ia bertahan di dalam lemari dinding itu.

Sementara itu, tetangganya menelpon pemadam kebakaran untuk datang ke tempat kejadian. Tidak lama kemudian, petugas pemadam kebakaran datang. Mereka berhasil memadamkan api yang mulai membesar. Pada saat bersamaan, mereka membuka pintu di mana pemilik rumah itu berada. Mereka mendengar suara pemilik rumah yang menggedor-gedor pintu lemari dinding dari dalam.

Nyawa pemilik rumah itu selamat. Ia bersyukur atas bantuan para petugas pemadam kebakaran. Ia juga bersyukur bahwa ia telah membuat lemari dinding yang kini menyelamatkan nyawanya.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang mudah membuat kita terbakar. Terbakar oleh apa? Kita dapat terbakar oleh situasi hidup yang tidak menentu. Ada berbagai godaan yang membuat manusia kehilangan jati dirinya. Orang menjadi salah arah dalam hidupnya. Akibatnya, orang tidak memaknai kehidupan ini. Orang hidup asal hidup saja. Orang tidak punya visi yang jelas dalam hidupnya.

Untuk itu, orang mesti mempunyai visi dalam hidup ini. Kisah di atas mau mengatakan bahwa orang mesti memiliki pegangan yang pasti dalam hidup ini. Kalau orang tidak punya pegangan hidup, orang akan mengalami kebinasaan ketika godaan-godaan menyerang kehidupan.

Bagi orang beriman, pegangan hidup kita satu-satunya adalah Tuhan yang hidup dalam keseharian hidup kita. Sering orang beriman kurang menyadari kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Mereka merasa Tuhan tidak tahu perbuatan-perbuatan mereka. Padahal Tuhan tidak jauh dari hati kita. Tuhan hadir bersama langkah-langkah kaki kita. Tuhan hadir dalam kata-kata yang kita ucapkan. Tuhan hadir dalam perbuatan-perbuatan baik dan jahat yang kita lakukan.

Karena itu, orang beriman mesti menggantungkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Hanya dengan cara demikian, orang mengalami kebahagiaan dalam hidupnya. Orang mengalami Tuhan yang begitu peduli terhadap hidupnya. Untuk itu, kita mesti mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


826