Pages

03 Februari 2013

Menumbuhkan Kesabaran dalam Hidup

 
Apa yang Anda rasakan, kalau orang yang sudah berjanji dengan Anda tidak datang-datang juga? Padahal Anda sudah menunggunya dalam waktu yang lama? Pembicaraan yang akan Anda lakukan sangat berguna bagi usaha-usaha Anda.

Ada seorang pengusaha yang sedang resah. Soalnya, partnernya yang sudah berjanji untuk datang, tidak muncul-muncul juga. Padahal apa yang akan dibicarakannya menyangkut proyek yang sangat besar. Proyek itu akan menguntungkan perusahaannya berkali-kali lipat. Ia tidak ingin kehilangan proyek itu. Ia ingin sukses. Ia tidak ingin proyek itu lepas dari tangannya.

Memang, ada banyak pekerjaan yang bisa ia selesaikan sambil menunggu partnernya itu. Atau ia bisa saja pergi ke tempat lain untuk mengurus usahanya. Namun keresahan terus membayangi dirinya. Ia tidak ingin partnernya kecewa, kalau tidak menjumpai dirinya di kantornya. Karena itu, ia tetap menunggu, meski ia merasa bosan menunggu orang yang belum tentu datang.

Ia berkata dalam hatinya, “Saya akan tetap menunggu, meski ini pekerjaan yang membosankan. Saya yakin, dia akan datang pada waktunya.”

Benar. Penantiannya tidak sia-sia. Partnernya tiba pada saat yang dinantikannya, meski terlambat. Ia boleh merasakan sukacita dan damai. Ia yakin, proyek yang besar itu menjadi miliknya.

Sahabat, menunggu sepertinya menjadi suatu kegiatan yang menjemukan. Apalagi kalau kita melakukannya tanpa kasih. Ketika kita sedang menunggu, entah itu suami, teman, atau orang lain yang sudah terlebih dahulu membuat janji dengan kita, kita merasakan waktu yang begitu panjang. Hal itu tidak mengenakkan diri kita.

Kisah di atas menunjukkan buah dari suatu penantian yang penuh kesabaran. Orang boleh resah saat menunggu orang yang telah berjanji dengannya. Namun kesetiaan menanti telah membuahkan hasil yang berlimpah baginya. Mimpi untuk sukses menjadi kenyataan. Menumbuhkan keyakinan pada diri sendiri menjadi suatu kekuatan untuk meraih kesuksesan.

Namun sering dalam hidup ini banyak orang kurang sabar. Mereka ingin cepat-cepat meraih sukses itu. Akibatnya, mereka sering kurang percaya diri. Mereka juga menjadi kurang percaya pada orang lain. Lebih meningkat lagi. Mereka menjadi kurang percaya pada Tuhan. Hidup mereka tidak karuan. Tidak ada arah yang pasti.

Tentu saja orang beriman mendasarkan kesabarannya pada Tuhan yang mahapengasih dan mahabaik. Tuhan senantiasa peduli terhadap umatNya. Tuhan tidak membiarkan ciptaanNya merana dalam hidupnya. Karena itu, Tuhan melindunginya dengan berbagai cara. Untuk itu, manusia mesti menumbuhkan kesabaran itu dalam hidup sehari-hari. Orang yang sabar dipercaya oleh Tuhan menjalani hidup ini dengan penuh sukacita dan damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS KEUSKUPAN AGUNG PALEMBANG

02 Februari 2013

Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita



Pernahkah Anda merasa ada sesuatu yang hilang dari hidup Anda? Saya rasa Anda pernah mengalami hal ini. Apalagi ketika Anda merasa Tuhan jauh dari hidup Anda, Anda pasti akan mencari dan menemukannya.

Suatu hari, seorang gadis merasa galau dalam hidupnya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan ia merasa galau. Kegalauan itu menguasai dirinya seharian penuh. Ia menjadi bingung, karena baru kali itu ia merasa diri dikuasai kegalauan itu. Ia terus berusaha mencari penyebab kegalauan yang timbul dalam hatinya.

Setelah lama merenung, gadis itu mendapatkan jawabannya. Selama ini, ia selalu berusaha sendiri. Ia merasa kuat untuk bekerja sendiri. Ia merasa bahwa apa yang dilakukan itu sudah benar. Tetapi sejatinya masih ada yang kurang dalam pekerjaannya. Masih ada yang tertinggal yang belum ia lengkapkan pada pekerjaannya.

Untuk itu, ia masuk ke dalam kamarnya. Di sana ia mengheningkan diri. Ia berusaha untuk bertemu dengan Tuhan dalam suasana hening itu. Ia memohon kepada Tuhan untuk melengkapi pekerjaannya. Ia berdoa, “Tuhan, bantu saya menyempurnakan pekerjaan saya. Dengan demikian, saya memperoleh ketenangan dalam hidup ini.”

Setelah berdoa dalam keheningan itu, ia melanjutkan pekerjaannya. Ia merasa bahwa Tuhan ikut terlibat dalam pekerjaannya. Tuhan campur tangan melalui rahmatNya. Tuhan tidak meninggalkan manusia bekerja sendirian. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pekerjaannya itu pun selesai dengan sukses.

Sahabat, banyak orang merasa cukup bekerja sendirian. Mereka merasa bahwa tenaga dan pikiran mereka sendiri mampu membawa mereka pada kesuksesan hidup. Karena itu, mereka tidak peduli terhadap bantuan orang lain. Mereka merasa orang lain menjadi pengganggu dalam pekerjaan mereka.

Kisah di atas mau mengungkap hal yang sebaliknya. Manusia tidak mampu bekerja sendirian. Manusia membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan manusia membutuhkan rahmat demi rahmat dari Tuhan yang diimaninya. Gadis dalam kisah di atas merasa ada yang kurang. Ia sudah berjuang untuk meraih kesempurnaan dalam pekerjaannya, tetapi masih saya ada yang kurang. Yang kurang itu kemudian disempurnakan oleh Yang Tak Kelihatan, yaitu Tuhan. Tuhan menyentuhnya dengan rahmat demi rahmat, sehingga pekerjaan gadis itu menjadi sempurna.

Ungkapan ‘melibatkan Tuhan' dalam kehidupan kita sudah tidak asing lagi bagi orang yang percaya. Melibatkan Tuhan dalam segala perkara. Melibatkan Tuhan dalam kehidupan rumah tangga. Melibatkan Tuhan dalam pekerjaan kita. Hal-hal ini mau mengatakan kepada kita bahwa kita manusia terbatas. Kita tidak bisa melakukan segala-galanya sendirian. Kita butuh bantuan dari Yang Tak Kelihatan bagi pekerjaan-pekerjaan kita.

Memang, Tuhan tidak bisa lihat dengan mata telanjang. Tetapi Tuhan bekerja seperti garam yang larut dalam sayuran yang kita makan. Tuhan bekerja diam-diam dan kita merasakan akibatnya. Untuk itu, yang dibutuhkan dari kita adalah hati yang terbuka menerima rahmat demi rahmat yang datang dari Tuhan. Dengan demikian, hidup kita menjadi sungguh-sungguh indah.

Santo Paulus berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Tuhan” (Roma 8:28). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT



941

01 Februari 2013

Berusaha Keluar dari Kebuntuan Hidup

Apa yang akan terjadi ketika Anda mengalami jalan buntu dalam kehidupan ini? Anda berhenti total? Atau Anda berusaha mencari cara-cara untuk keluar dari kebuntuan itu?

Monica Seles menjadi petenis nomor satu dunia pada 30 April 1993. Namun ia kemudian terpuruk setelah ditikam oleh seseorang saat bertanding di sebuah turnamen tenis di Jerman. Ia menjalani pengobatan atas lukanya cuma dua hari di rumah sakit. Namun ia terluka secara psikologis selama dua tahun.

Akibatnya, ia tidak bisa bertanding selama kurun waktu itu. Ia selalu diliputi kecemasan. Ia mengalami mimpi buruk atas peristiwa itu. Bahkan sponsornya, produk sepatu FILA mendendanya, karena kehilangan banyak pemasukan atas kondisi Monica Seles itu. Ia semakin terpuruk dalam daftar ranking WTA.

Namun tahun 1995 ia kembali ke lapangan tenis. Ia menjuarai turnamen Kanada Open. Tidak berhenti di situ, Monica Seles menjuarai Australia Terbuka di tahun 1996. Turnamen Grand Slam ini memberi kekuatan mental yang luar biasa baginya. Ia semakin termotivasi untuk menjadi seorang juara. Dengan modal ini, ia terus bertanding di turnamen-turnamen besar. Ia pun masuk final Grand Slam Prancis Terbuka hampir bersamaan dengan kematian ayah dan pelatihnya yang menderita kanker.

Monica Seles meraih delapan gelar Grand Slam dan medali perunggu pada Olimpiade 2000 lalu. Ia menorehkan banyak gelar juara dan mengumpulkan jutaan dollar hadiah uang. Ia menggunakan kesempatan sebaik-baiknya bagi kemajuan dirinya.

Sahabat, banyak orang sering terjebak dalam ketidakberdayaan mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena orang hanya melihat satu sisi kehidupan. Padahal hidup ini penuh warna-warni. Ada banyak segi kehidupan yang bisa dilalui untuk memajukan diri.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa masih ada pintu terbuka, ketika pintu yang lainnya tertutup. Masih ada kesempatan yang begitu banyak setelah satu kesempatan tertutup rapat bagi hidup kita. Monica Seles masih menemukan kemampuan terbaiknya, meski ia sempat kehilangan harapan. Tragedi penikaman yang menimpanya menjadi satu titik hitam dalam hidupnya yang kemudian ia lalui dengan baik. Setelah melewati tragedi itu, ia meraih sukses yang gilang-gemilang.

Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah menutup satu pintu tanpa membuka pintu yang lain. Tuhan tidak pernah menutup satu kesempatan tanpa membuka kesempatan yang lain. Mengapa Tuhan tidak menutup pintu atau kesempatan? Hal ini mau menunjukkan bahwa Tuhan ingin menarik perhatian kita. Dia ingin agar kita memiliki prioritas yang benar dalam mengelola hidup ini. Bila kita menyimpang dari jalan-Nya, kita menghancurkan hidup kita.

Tuhan ingin mengarahkan kita pada kesempatan yang lebih besar. Kita biasanya ingin tinggal di zona nyaman dan aman serta tidak menyukai perubahan. Semua perubahan mempunyai resiko dan tantangannya masing-masing. Tuhan ingin menantang kita untuk tetap berusaha dalam meraih kesuksesan hidup. Mari kita mengarahkan hidup hanya kepada Tuhan semata. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

940

30 Januari 2013

Tuhan Bekerja dalam Peristiwa-peristiwa Hidup Kita

Bagaimana sikap Anda ketika berhadapan dengan peristiwa-peristiwa yang biasa dalam hidup Anda? Anda merasa bosan, karena hidup ini seolah-olah datar saja? Atau Anda mensyukurinya, karena Tuhan tetap bekerja dalam peristiwa-peristiwa biasa itu?

Suatu hati seorang ibu tua mendatangi saya. Berulang kali ia mengucapkan terima kasih atas doa saya bagi cucunya yang sakit. Beberapa hari sebelumnya saya mendoakan cucunya yang terbaring lemah di rumahnya. Cucunya itu sulit menggerakkan tubuhnya. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Entah penyakit apa yang dideritanya, saya tidak begitu tahu pasti.

Saya sendiri merasa bahwa doa saya yang sederhana itu tidak punya pengaruh apa-apa. Apalagi doa saya itu menimbulkan mukjizat yang besar. Karena itu, saya tidak terlalu menggubris nenek itu. Tetapi nenek itu ngotot. Ia mengatakan bahwa berkat doa saya itu, sang cucu kini sudah bisa duduk. Ia juga sudah bisa mengenali orang-orang yang ada di sekitarnya.

Saya tidak percaya akan hal itu. Saya tersenyum sinis mendengar cerita nenek itu. Melihat saya tidak begitu menanggapi kata-katanya, nenek itu sewot. Ia marah terhadap saya. Ia mengatakan bahwa saya orang yang tidak mau percaya akan kebaikan Tuhan.

Ia berkata, “Bukankah Tuhan telah begitu baik kepada cucu saya melalui doa-doa romo? Mengapa romo tidak mau percaya? Saya harap, kali ini romo mau percaya akan kata-kata saya.”

Saya tetap skeptis terhadap kata-katanya. Karena itu, sore harinya saya mendatangi rumahnya. Benar! Saya menyaksikan sendiri cucunya bisa duduk dan makan. Lantas begitu melihat saya masuk ke dalam rumah, ia pun tersenyum lebar menyambut kehadiran saya. Saya membalas senyumnya untuk memberikan semangat hidup kepadanya.

Sahabat, banyak orang ingin melihat hal-hal ajaib terjadi dalam hidupnya. Hal-hal yang kecil disepelekan. Tidak digubris. Seolah-olah hal-hal kecil itu tidak punya pengaruh sama sekali dalam kehidupan ini. Akibatnya, banyak orang cenderung mencari dan menemukan hal-hal spektakuler dalam hidup ini.

Kisah pengalaman saya di atas mau mengatakan kepada kita bahwa Tuhan pun bekerja melalui hal-hal yang tampak senderhana. Tuhan masuk ke dalam hidup manusia melalui peristiwa-peristiwa hidup kita yang biasa-biasa. Sebuah doa yang sederhana bisa menjadi cara Tuhan hadir dalam kehidupan kita. Ucapan syukur kita yang kita anggap kurang berarti menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk mengalirkan rahmatNya bagi hidup kita.

Kita ambil contoh udara yang kita hirup setiap hari. Sering kita tidak peduli akan pentingnya udara bagi kelangsungan hidup kita. Apalagi udara itu tidak bisa kita lihat atau kita pegang. Karena itu, kita sering merasa cuek saja terhadap kehadiran udara. Apalagi tanpa kita pikirkan atau usahakan pun udara akan ada terus-menerus selama dunia ini masih ada.

Tetapi kalau kita sadar sungguh-sungguh kehadiran udara itu, kita mesti bersyukur atas kebaikan Tuhan. Dengan udara yang tidak bisa dilihat itu, kita boleh mengalami keajaiban-keajaiban dalam hidup ini. Kita bisa menjalani hidup ini dengan baik dan normal. Bukankah ini suatu mukjizat yang datang dari Tuhan?

Karena itu, mari kita hargai pemberian Tuhan bagi hidup kita, seberapa kecil pun pemberian itu. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk berjumpa dengan Tuhan. Seorang bijaksana berkata, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN. Tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi” (Rat 3:22-23). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


939

29 Januari 2013

Memiliki Kasih yang Berlimpah-limpah

Apa yang akan Anda lakukan ketika rasa cemas menguasai diri Anda? Orang mengatakan bahwa kecemasan itu menguasai diri manusia ketika manusia mengalami kekurangan kasih. Atau terjadi deficit kasih dalam diri manusia. Karena itu, yang mesti dilakukan adalah berusaha untuk memiliki kasih yang berlimpah-limpah.

Karl Barth adalah seorang teolog ternama. Ia juga salah seorang teolog Kristen yang terbesar di abad 20 ini. Suatu ketika, seusai sebuah seminar, seorang anak muda bertanya kepadanya, “Jika Anda merangkum semua pengajaran Anda, bagaimana Anda merangkumnya dalam sebuah kalimat?"

Karl Barth menjawab dengan riang dengan mengutip lagu anak-anak Sekolah Minggu, "God Loves me, this I know, for the Bible tells me so..."

Karl Barth mengatakan, lagu ini sering ia dengar waktu masih kecil. Lagu ini senantiasa disenandungkan oleh ibunya di telinganya. Ia tetap mengingat lagu itu ke mana pun ia pergi. Karena itu, ia menyimpulkan bahwa manusia dapat menjalani hidup ini hanya karena Tuhan mengasihi. Kasih Tuhan tak pernah berhenti.

Karena itu, meski ia seorang teolong ternama, Karl Barth tetap membuka hatinya bagi curahan kasih Tuhan atas dirinya. Ia tidak jemu-jemu datang kepada Tuhan untuk menimba kasih Tuhan itu. Kasih Tuhan itu nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kasih Tuhan itu hidup dan menaungi hidup manusia.

Sahabat, banyak orang masih meragukan kasih Tuhan yang meresap dalam hidup mereka. Hal ini tampak dalam sikap hidup maupun perbuatan nyata. Misalnya, di saat orang merasa galau dalam hidupnya, orang serta merta meninggalkan Tuhan. Mereka pergi kepada berhala-berhala untuk meminta pertolongan. Atau mereka pergi kepada dukun untuk meramal nasib mereka. Padahal jelas-jelas berhala-berhala itu tidak bisa membantu manusia. Berhala-berhala itu tidak punya jiwa, tidak hidup.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kasih Tuhan tak pernah berhenti. Meski kita mengalami duka dan derita dalam hidup ini, Tuhan tetap setia kepada kita. Tuhan memberi kita kemampuan-kemampuan untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup kita. Yang penting adalah kita tetap bertahan untuk hidup dalam kasih Tuhan itu.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini bukan rasa cemas atas apa yang akan dihadapi. Yang dibutuhkan adalah iman yang mendalam kepada Tuhan. Beriman berarti kita mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Beriman berarti hanya Tuhan yang memegang kendali dalam kehidupan kita ini. Bukan hal-hal lain yang mengendalikan hidup kita.

Unuk itu, kita mesti buang semua rasa cemas atau kuatir dari diri kita. Kita mesti memenuhi diri kita dengan kasih Tuhan yang bernyala-nyala itu. Dengan demikian, yang ada dalam diri kita hanyalah kekuatan kasih. Dengan kekuatan kasih itu, kita dapat melangkah maju untuk membangun hidup yang lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

KOMSOS Keuskupan Agung Palembang


938

27 Januari 2013

Menghadapi Godaan dengan Iman

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika godaan menerpa diri Anda? Anda menyerah dan mengikuti godaan itu? Atau Anda tetap bertahan pada integritas diri Anda?

Suatu hari, dompet seorang gadis menipis. Ia tidak perlu kuatir akan hal itu. Mengapa? Karena ia membawa kartu ATM. Karena itu, ia bergegas memasuki sebuah bilik Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Saat itu, ia sangat membutuhkan uang tunai untuk belanja sebelum pulang ke rumahnya. Ia tidak mau pulang ke rumah dulu untuk ambil uang.

Begitu masuk ke bilik ATM itu, layar monitornya bertuliskan, "Apakah Anda ingin melanjutkan dengan transaksi yang lain?" diikuti pilihan "ya dan tidak". Hal itu berarti masih ada kartu ATM yang tertinggal dalam kondisi aktif di sana. Gadis itu mulai tergoda. Ia ingin mengambil uang tanpa harus kehilangan uang.

Setelah melihat kiri dan kanan, ia memastikan bahwa tidak ada orang lain yang melihat. Ketika ia pilih tombol "ya" dan mengklik info saldo, ternyata masih ada hampir Rp 20 juta uang tersisa. Ah, godaan itu semakin kuat menarik diri gadis itu.

Ia berkata dalam hati, “Bagaimana cara mendapatkan uang itu? Ditarik tunai atau ditransfer ke rekening pribadi?”

Keringat dingin mulai mengucur deras membasahi wajah gadis itu. Degup jantungnya menjadi lebih kencang. Ia melihat kiri dan kanan lagi. Ia memastikan lagi bahwa tidak ada orang yang sedang mengamati dirinya. Tetapi ada dua suara dalam hati nuraninya sepertinya sedang berebut pengaruh. Yang satu mengatakan, "Ambil saja. Kapan lagi? Ini berkatmu..." Sementara suara yang lain berkata, "Ingat posisimu! Jaga integritas!"

Gadis itu sadar. Secepat kilat ia memilih untuk menaati larangan yang lain itu. Bagaimana pun uang itu hak milik orang lain, bukan miliknya.

Sahabat, godaan tidak pernah berhenti menyerang kehidupan kita. Bahkan godaan itu menyerang dari segala lini. Kita seolah-olah tidak bisa bergerak. Kita dilingkupi oleh godaan-godaan itu. Ketika kita lengah, kita dapat saja masuk dalam perangkap godaan itu. Kita jatuh ke dalam godaan itu.

Kisah di atas menjadi inspirasi bagi kita untuk tetap bertahan pada kebenaran. Kita mesti berani mengatakan ‘tidak’ terhadap tawaran menggiurkan yang ditujukan kepada kita. Kita dituntut untuk memilih yang baik dan benar yang membawa kebahagiaan bagi diri kita. Ketika kita jatuh ke dalam godaan, dosa menjadi bagian dari hidup kita.

Orang yang hidup dalam dosa mengalami kegalauan dalam hidupnya. Orang tertekan oleh dosa-dosa itu. Orang tidak merasa bebas dalam menjalani hidup ini. Selalu saja suara kebenaran menuntut dirinya untuk berlaku jujur.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup ini adalah mempertahankan integritas pribadi. Ketika orang berani membuat komitmen untuk hidup baik dan benar, orang mesti menepatinya. Orang mesti berusaha keras untuk tetap setia pada komitmen itu. Kalau hal ini yang dilakukan, orang akan mengalami damai dalam hidupnya. Sukacita dalam menjalani hidup ini menjadi bagian yang tak terpisahkan.

Seorang bijaksana berkata, “Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya” (Amsal 11:6). Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

Saat Gagal, Tetap Berserah Diri kepada Tuhan

Pernahkah Anda gagal dalam hidup ini? Saya rasa, setiap dari kita pernah mengalami kegagalan dalam hidup ini. Soalnya, bagaimana pandangan Anda tentang kegagalan itu? Ketika Anda memandang kegagalan sebagai akhir dari segala-galanya, Anda akan mengalami kehancuran dalam hidup ini.

Kisah Simson atau Samson sangat menarik untuk disaksikan atau didengar. Dikisahkan bahwa Simson dipersembahkan untuk Tuhan selepas minum susu dari ibunya. Sejak lahir, ia dipenuhi oleh kuasa Tuhan. Ia menjadi orang yang sangat kuat karena matiraga dan ulah tapanya. Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Simson.

Namanya berarti sinar mentari atau mentari kecil. Seperti mentari, ia terus-menerus bersinar. Ia memberikan jaminan bagi bangsanya bahwa bangsanya tidak akan bisa ditaklukkan oleh bangsa-bangsa lain. Sejak dia lahir dan tumbuh dewasa, dia seperti panas mentari yang membakar musuh-musuhnya dengan sangat dahsyat.

Sayang, kekuatannya itu tunduk di bawah rayuan Delilah. Rambutnya yang panjang yang menjadi sumber kekuatannya, berhasil dipotong oleh Delilah yang berasal dari Lembah Sorek. Akibatnya, Simson ditangkap oleh bangsa Filistin. Ia dipenjarakan dan kemudian mendapatkan penganiayaan yang luar biasa.

Tetapi Tuhan tetap menyertai Simson. Dalam keadaan tak berdaya, Tuhan masih melindungi Simson. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Simson masih melakukan hal-hal yang ajaib. Ia masih bisa membunuh orang-orang yang menganiaya dirinya.

Di akhir hidupnya, Simson berkata, “Biarlah kiranya aku mati bersama-sama orang Filistin ini."

Lalu membungkuklah ia sekuat-kuatnya. Rubuhlah rumah di mana ia ditahan dan menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak daripada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya.

Sahabat, ketika hal-hal kurang baik menimpa seseorang, orang selalu berpikir bahwa Tuhan meninggalkan orang tersebut. Padahal belum tentu. Dalam suasana kurang baik pun Tuhan tetap bekerja untuk menyelamatkan umat manusia. Kisah Simson menjadi salah satu contoh yang menarik bagi kita.

Orang selalu mengenang kisah Simson dengan sedih. Kisah tentang kegagalan. Orang akan mengingat kisahnya yang memalukan karena diperalat oleh seorang pelacur dan berakhir menjadi seorang badut buta di istana musuh. Tetapi benarkah seperti ini? Bukankah "Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak daripada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya?" Pertempuran terakhirnya adalah puncak kemuliaannya, tak peduli segala kegagalan dan kekelaman yang dia lewati.

Tuhan tidak pernah mencap kita sebagai orang gagal. Tak peduli betapa memalukan kegagalan kita. Tak peduli sekali pun semua orang, bahkan saudara-saudari kita mengecam kita, Tuhan senantiasa memberi kesempatan. Hal itu dibuktikan melalui Simson. Pertempuran terakhirnya lebih dahsyat dari segala pencapaian seumur hidupnya.

Kasih Tuhan itu seperti mentari abadi. Tidak pernah pudar. Kasih Tuhan selalu bersemi selama-lamanya, tidak peduli apakah kita masih ada atau tidak. Karena itu, apa yang mesti kita buat? Yang mesti kita buat adalah berserah diri di bawah kuasa Tuhan. Kita membiarkan Tuhan menguasai seluruh hidup kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


936

25 Januari 2013

Mengasah Ketrampilan bagi Kemajuan Diri

 Apa yang terjadi ketika Anda berhenti mengasah ketrampilan yang Anda miliki? Saya yakin, ketrampilan Anda akan berhenti. Anda tidak akan lebih trampil lagi.

Anda tentu mengenal Shania Twain. Paling kurang Anda pernah mendengar namanya. Atau Anda pernah menikmati lagu-lagu country rocknya yang menawan. Tetapi tahukah Anda bahwa Shania mesti berjuang keras untuk menjadi terkenal? Apalagi ketika dia mulai rekaman, kedua orangtuanya tewas dalam suatu kecelakaan.

Shania Twain lahir di Ontario, Kanada. Ia bertumbuh menjadi seorang penyanyi dan penulis lagu-lagu. Ia mulai menyanyi di bar-bar pada usia delapan tahun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sering ia dibayar 20 dollar untuk menyanyi dari tengah malam sampai pagi hari, ketika bar tutup. Meski ia tidak menyukai bernyanyi di bar-bar itu, Twain yakin bahwa menyanyi di bar-bar itu menjadi sebuah pertunjukkan seni sekolah.

Shania mesti bekerja lebih keras lagi, ketika kedua orangtuanya meninggal dalam suatu kecelakaan maut di jalan raya. Ia mesti kembali ke rumah untuk menghidupi tiga saudara tirinya. Ia sekaligus menjadi ibu dan ayah bagi mereka. Untuk mendapatkan pemasukan harian, ia menyanyi dan menari di bar-bar di Ontario.

Namun pengalaman menyanyi dan menari di bar-bar di Ontario itu kemudian membantu dirinya dalam mengembangkan bakatnya. Lagu-lagunya menjadi megahit yang melambungkan namanya. Ia dinamai Ratu Country Pop. Album-albumnya terjual lebih dari 85 juta keping di seluruh dunia. Ia juga meraih 7 grammy award dan sejumlah penghargaan lainnya.

Bagi Shania, yang ia lakukan adalah untuk meraih hidup yang lebih layak bersama keluarganya. Ia sangat peduli terhadap kakak-kakak kandung dan adik-adik tirinya. Sungguh, luar biasa suatu karya besar yang tetap membumi. Shania tetap hidup sederhana meski memiliki kekayaan yang berlimpah.

Sahabat, orang biasa mengerjakan hal-hal yang luar biasa sering kita jumpai dalam perjalanan hidup ini. Tetapi ketika orang mengerjakannya dengan penuh ketulusan, hasil yang diperoleh pun akan sangat tinggi. Orang melaksanakannya dengan bebas, tanpa beban sedikit pun. Orang hanya fokus pada kebaikan bagi orang lain.

Kisah Shania Twain menjadi salah satu contoh bagi kita untuk tetap setia pada tugas pokok kita. Ia setia pada panggilannya untuk menjadi penulis dan penyanyi Country Pop. Ada banyak tantangan yang mesti ia hadapi. Ada banyak godaan untuk meninggalkan dunia yang sedang ditekuninya. Namun ia tetap bertahan pada panggilan hidupnya.

Banyak orang merasa bahwa mereka tidak perlu berjuang lagi begitu mereka meraih kesuksesan dalam hidup. Mereka telah merasa puas dengan pencapaian mereka. Akibatnya, mereka hanya menikmati hasil dari kesuksesan mereka. Tidak ada upaya-upaya lagi dalam mengembangkan kesuksesan itu.

Tentu saja sikap seperti ini membahayakan perjalanan hidup. Sikap seperti ini membuat manusia kehilangan kreativitas dalam hidup ini. Akan terjadi ketumpulan dalam berkreasi. Mengapa? Karena sebuah ketrampilan yang tidak pernah diasah lagi akan mengalami kemandegan. Tidak akan berkembang dengan lebih maksimal lagi.

Bercermin dari Shania Twain, mari kita asah terus ketrampilan-ketrampilan yang kita miliki. Dengan demikian, ketrampilan-ketrampilan itu berguna bagi hidup kita dan sesama kita. Bagi orang beriman, hal ini juga menjadi kesempatan untuk mengungkapkan iman kepada kepada Tuhan, Sang Pemberi hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

935 

23 Januari 2013

Tetap Berusaha meski dalam Keterbatasan



Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menjumpai diri Anda lemah tak berdaya? Anda putus asa? Atau Anda mau bangkit untuk meraih sukses yang gilang gemilang?

Erik Weihenmayer lahir pada 23 September 1968 merupakan orang buta pertama yang menjejakkan kakinya di puncak Everest pada 25 Mei 2001 lalu. Ia juga melakukan hal yang sama saat mendaki gunung Ararat. Ia juga mendaki tujuh puncak gunung dunia pada September 2002 lalu.

Ketika lahir, Erik didiagnose punya kelainan pada retinanya bagi seorang anak yang masih sangat muda, berusia tiga tahun. Hati orangtuanya hancur luluh saat mendengar penjelasan dokter bahwa retinanya melekat pada bola matanya yang menghalanginya untuk langsung melihat. Ia mempunyai keterbatasan pandangan, tetapi begitu usia belasan ia mesti buta. Erik menyaksikan keputusasaan orangtuanya terhadap kondisi matanya.

Erik memang kehilangan pandangannya, namun bukan keberaniannya. Setelah menjadi buta, pertama-tama Erik tidak mau menggunakan tongkat atau belajar huruf braile. Ia ingin membuktikan bahwa ia dapat melanjutkan perjalanan hidupnya. Ia mencoba untuk bermain bola, tetapi kemudian ia sadar bahwa ia tidak bisa. Ia kemudian belajar gulat. Di sekolah mengenah, ia mengikuti kejuaraan gulat gaya bebas di Iowa, Amerika Serikat. Lantas ia masuk Boston College dan meraih gelar sarjana dalam Bahasa Inggris. Kini ia menjadi seorang guru di Phoenix Country Day School.

Erik mengatakan, proses pelatihan dan meraih keinginannya merupakan hadiah tertingginya, saat-saat yang paling bahagia dalam hidupnya. Ia berkata, “Menjejakkan kaki di puncak tertinggi dunia menjadi suatu tanda bahwa pada hari itu Anda membawa situasi yang tidak terkontrol berada di bawah kontrol.

Sahabat, banyak orang terpaku pada keterbatasan mereka. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk menjadi penonton yang baik daripada menjadi pemain di tengah-tengah lapangan. Orang hanya mau duduk manis sambil bertepuk tangan saat menyaksikan para pemain berjuang di lapangan.

Kisah tadi memberi kita inspirasi bahwa keterbatasan membuka kesempatan untuk mengembangkan diri. Terbatas dalam hal fisik tidak berarti akhir dari segala-galanya. Ketika ada keberanian, orang mesti mencoba untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi kehidupannya. Erik Weihenmayer yang buta memberikan harapan yang besar kepada dunia. Tidak ada yang mustahil ketika orang berani menghadapi tantangan-tantangan kehidupan.

Untuk itu, orang mesti mengubah cara pandang terhadap kondisi hidupnya. Orang mesti memandang hidup ini dengan lebih optimis. Cacat atau keterbatasan mesti memacu orang dalam meraih cita-cita yang didambakan sejak lahir. Citra diri yang benar dan sehat adalah cara pandang diri kita seperti Tuhan melihat kita sebagai ciptaan yang mulia dan berharga.

Orang yang punya tekad membaja akan meraih kesuksesan dalam hidupnya. Sebaliknya, orang yang mudah menyerah pada keadaan akan menyesali diri seumur hidup. Mengapa? Karena orang seperti ini tidak mau melakukan apa-apa untuk kemajuan dirinya dan sesama. Orang seperti ini hanya menggantungkan diri pada orang lain.

Sebagai orang beriman, tentu saja kita mau melibatkan Tuhan dalam karya-karya kita. Mari kita membuka hati bagi Tuhan, agar Tuhan menuntun dan membimbing kita dalam perjalanan hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

934

22 Januari 2013

Memiliki Telinga yang Peka terhadap Suara Tuhan

Apakah Anda punya telinga yang baik untuk mendengarkan suara Tuhan? Apakah Anda punya hati yang peka untuk disentuh oleh Tuhan? Saya rasa, semua kita punya telinga yang mampu mendengarkan suara Tuhan. Kita semua punya hati yang mampu disentuh oleh Tuhan.

Joan of Arc adalah seorang pejuang asal Prancis. Ia memimpin pasukan Prancis dalam beberapa kemenangan penting selama Perang Seratus Tahun. Perang ini kemudian menaikkan Raja Charles VII menjadi raja Prancis. Joan mengatakan bahwa ia mendapatkan pesan dari Tuhan untuk membela Charles VII dan membebaskan Prancis dari dominasi Inggris dalam Perang Seratus Tahun tersebut.

Tetapi kemudian ia ditangkap oleh kaum Burgundi. Ia dijual ke Inggris lalu dipenjarakan. Ia kemudian dibakar hidup-hidup pada usia 19 tahun. Namun 20 tahun kemudian namanya dibersihkan setelah ditemukan tidak ada kesalahan apa pun pada dirinya.

Suatu hari, seseorang bertanya kepada Joan of Arc, mengapa Tuhan berbicara hanya kepadanya. Ia menjawab, "Tuan, Anda salah. Tuhan berbicara kepada semua orang. Saya hanya mendengarkan.”

Sahabat, banyak orang tidak menyadari bahwa setiap hari Tuhan berbicara kepada diri mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena manusia menutup telinganya rapat-rapat terhadap suara Tuhan. Manusia juga menutup hatinya terhadap sentuhan rahmat Tuhan.

Joan of Arc memasang telinga dan hatinya untuk mendengarkan suara Tuhan. Karena itu, ia mau berjuang demi pembebasan bangsanya dari dominasi bangsa Inggris. Ia tidak peduli, apakah ia masih muda atau sudah tua. Yang penting baginya adalah Tuhan menghendaki kebebasan bangsanya. Setelah mendengarkan suara Tuhan, ia berani menghadapi resiko atas apa yang dilakukannya.

Mendengarkan suara Tuhan di zaman sekarang ini tidak gampang. Banyak orang telah disibukkan oleh berbagai hal yang menyenangkan diri sendiri. Banyak orang lebih suka mendengarkan kehendak dirinya sendiri. Padahal kehendak diri sendiri sering membawa orang pada kesesatan. Suara Tuhan itu jernih dan membawa orang kepada keselamatan.

Para pemimpin di zaman sekarang ini sering menjadi orang-orang yang sibuk pada diri mereka sendiri. Mereka dengan mudah terperangkap dalam kewajiban-kewajiban mereka. Akibatnya, mereka sulit untuk mendengarkan suara Tuhan. Konsekuensinya, mereka tidak mengerjakan tugas-tugas bagi kesejahteraan umum. Mereka lebih peduli pada kesejahteraan pribadi.

Kalau saja para pemimpin zaman sekarang memiliki telinga dan hati yang mampu mendengarkan suara Tuhan, pasti hati mereka lebih tersentuh untuk peduli terhadap kepentingan umum. Untuk itu, para pemimpin mesti meminta Tuhan untuk memberikan telinga yang mampu mendengarkan suara Tuhan. Dengan demikian, yang didengarkan adalah kehendak Tuhan yang menyelamatkan semua orang. Mereka tidak hanya mendengarkan kehendak mereka yang lebih mementingkan kehendak pribadi.

Untuk itu, kita butuh saat teduh untuk mendengarkan pengarahan dari Tuhan. Dengan demikian, yang kita kerjakan adalah kehendak Tuhan bagi keselamatan semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

932