Pages

19 November 2013

Menemukan Kebaikan-kebaikan dalam Diri

 

Apa yang membuat Anda memiliki semangat dan optimisme dalam hidup ini? Kelebihan-kelebihan Anda?

Ada dua orang pemuda yang saling bersahabat. Suatu kali sahabat yang satu, sebut saja namanya si Anton, merasa diri tidak berarti. Alasannnya adalah wajahnya kurang tampan, kurus dan sakit-sakitan. Akibatnya, hidupnya loyo dan kurang bersemangat. Tidak ada gairah untuk hidup. Ia menjadi malas-malasan dalam hidup ini.

Sahabatnya, sebut saja namanya, Budi, prihatin dan sedih menyaksikan hari-hari hidup Anton. Budi adalah seorang pelukis. Melihat si Anton yang sedih itu, maka ia mulai melukis wajah temannya itu. Dalam lukisan itu, Anton kelihatan gemuk, tampan dan sehat serta segar.

Setelah lukisan itu jadi, Budi menyerahkannya kepada Anton. Anton sangat terkejut melihat lukisan dirinya yang begitu segar dan semangat. Ia bertanya kepada Budi, “Apakah aku ini seperti ini?”

Tanpa pikir panjang, Budi menjawab, “Ya, kamu itu gemuk, tampan dan sehat.”

Karena kata-kata dari teman itu, kini Anton menjadi kelihatan segar dan bergairah untuk hidup lagi. Ia bangkit dari keterpurukan hidupnya. Ia memandang hidup ini secara lebih optimis. Ia mulai buka usaha untuk kelangsungan hidupnya. Setelah beberapa tahun, ia meraih sukses yang luar biasa. Usahanya menjadi besar. Ia menjadi salah seorang bos yang patut diperhitungkan di kotanya.

Sahabat, sering orang memandang hidup ini dari segi yang negatif dan jelek saja. Orang mengira bahwa banyaknya kekurangan dan kelemahan dalam dirinya akan menghambat perjalanan hidupnya. Akibatnya, orang mudah putus asa dalam usaha-usahanya. Orang bahkan tidak mau melakukan apa-apa untuk kemajuan dirinya sendiri.

Kisah imajinatif di atas memberi kita semangat untuk melihat hidup ini dari segi positif. Meski banyak kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri kita, tetapi masih ada sejumlah kebaikan yang bisa membantu kita untuk maju dalam hidup ini. Kita punya kemampuan untuk meraih sukses dalam hidup ini.

Untuk itu, kita mesti selalu menyadari bahwa Tuhan telah memberi kita begitu banyak hal baik. Hal-hal baik itu mesti kita gunakan sebagai modal untuk membangun hidup kita. Memang, tidak mudah. Ada berbagai tantangan yang mesti kita hadapi. Namun sebagai orang beriman kita mesti yakin bahwa Tuhan tetap membantu hidup kita.

Anton dalam kisah di atas dibantu untuk menemukan makna hidup melalui temannya yang seorang pelukis. Ia diberi semangat untuk menjalani hidup ini dengan baik. Ia diberi kesempatan untuk melihat hidup ini secara lebih optimis. Bantuan itulah yang membuat Anton berubah menjadi orang yang sukses dalam hidupnya.

Karena itu, kita mesti menemukan kebaikan-kebaikan kita untuk hidup yang lebih baik. Mari kita menatap hidup ini dengan penuh semangat. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


983

18 November 2013

Memaknai Penderitaan dalam Hidup Nyata

Pernahkah Anda mengalami kesedihan yang sangat mendalam? Saya rasa setiap orang pernah mengalaminya. Soalnya, apakah Anda terpaku menyerah pada kesedihan itu? Atau Anda bangkit untuk memaknai kesedihan itu?

Ada seorang ibu yang mengalami kesedihan yang amat mendalam. Orang yang paling dekat dengannya, yaitu sang suami, telah pergi untuk selamanya. Dia mesti berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya. Lantas ia pergi ke seorang tua yang bijaksana. Dia meminta nasihat bagaimana mengatasi kesedihannya yang amat mendalam itu.

Melihat ibu yang muram itu, orang tua itu pun berkata, “Saya dapat menolongmu. Tetapi engkau harus terlebih dahulu menyerahkan biji-bijian kepada saya.” Kata orang bijak itu sekali lagi, “Tetapi syaratnya, biji-bijian itu harus engkau dapatkan dari rumah orang yang tidak pernah mengalami kesusahan sama sekali!”

Mata ibu itu terbelalak. Ia berpikir, nasihat itu sangat mudah. Karena itu, dengan penuh semangat ibu itu mulai mencari biji-bijian. Namun, setiap mengunjungi sebuah rumah, ia selalu bertemu dengan orang-orang yang bermasalah. Ia menjadi lemas. “Kok tidak ada seorang pun di dunia ini yang bersih dari masalah?” ia bertanya dalam hatinya.

Akhirnya ia kembali kepada orang tua bijak itu, tanpa membawa satu biji pun. “Alangkah piciknya saya ini! Ternyata kesusahan bisa menimpa siapa saja,” ia berkata kepada orang bijak itu.

Orang tua yang bijak itu pun berkata, “Bagus sekali, engkau telah mendapatkan pelajaran berharga. Karena engkau juga mengalami kesusahan, maka engkau dapat bersimpati dan menghibur mereka. Nah, dengan memberikan penghiburan kepada orang lain, maka kesusahanmu sendiri akan semakin berkurang.”

Sahabat, sering banyak orang merasa bahwa hanya diri mereka yang mengalami penderitaan dalam hidup ini. Orang lain mengalami hidup yang indah dan baik-baik, tetapi diri mereka selalu mengalami duka nestapa. Akibatnya, banyak orang menjadi stress menghadapi hidup ini. Mereka tidak tahu harus buat apa.

Kisah imajinatif di atas mau menyadarkan kita bahwa kita masing-masing memiliki duka dan derita dalam hidup ini. Duka yang kita alami tentu tidak sama dengan duka yang dialami oleh orang lain. Ibu itu merasa hanya dirinya sendiri yang sedang menderita. Orang lain tidak mengalami penderitaan seperti dia alami. Ternyata tidak. Setiap orang punya kesusahannya sendiri.

Bagi kita, yang penting dalam hidup ini adalah kita memaknai arti penderitaan itu. Tidak semua penderitaan membawa kehancuran bagi diri kita. Setiap kali kita mengalami penderitaan, kita mesti berusaha untuk menemukan makna di balik penderitaan itu. Tentu saja Tuhan tidak ingin kita binasa melalui penderitaan itu. Tuhan ingin agar kita semakin mengimani dirinya.

Karena itu, dalam duka dan derita itu kita diajak untuk mencari dan menemukan makna yang terdalam dari penderitaan itu. Penderitaan membuat kita kuat dalam iman. Mengapa? Karena kita berani menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, Sang Pencipta kita. Mari kita berusaha sekuat tenaga untuk berserah diri kepada Tuhan. Kita andalkan Tuhan dalam hidup ini. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


982

16 November 2013

Kritis untuk Hidup Lebih Baik

 
Apa yang terjadi ketika Anda mengkonsumsi obat-obatan yang berlebihan? Pasti Anda akan mengalami ketidakseimbangan dalam hidup ini.

Artis Sienna Miller (30) kuatir dengan berbagai macam obat yang diresepkan dokter di Los Angeles, Amerika Serikat. Dia merasa mendapat resep obat dengan kadar zat adiktif yang tinggi untuk membunuh rasa sakit, yang tidak dibutuhkan oleh dirinya.

Kepada majalah Vogue, Miller mengatakan, semua orang di Los Angeles kecanduan obat-obatan karena sering diresepkan dokter. Bahkan, beberapa artis terkenal yang kecanduan obat penghilang rasa sakit, seperti Steven Tyler dan Gerard Butler, harus masuk ke tempat rehabilitasi.

”Aku sudah diberi resep obat Vicodin, dikatakan untuk menghilangkan rasa sakit. Padahal, aku benar-benar tidak membutuhkannya. Ini benar-benar resep heroin yang bisa membuat kecanduan,” kata Sienna.

Sahabat, setiap orang tentu ingin sehat. Tidak ada orang yang ingin sakit. Ketika orang mengalami sakit, orang cepat-cepat pergi ke dokter untuk memeriksakan diri. Orang kemudian diberi obat sesuai dengan penyakitnya. Namun orang juga mesti kritis berkenaan dengan obat yang diberikan kepadanya. Orang tidak bisa begitu saja mengkonsumsi obat-obat dengan dosis tinggi.

Pengalaman Artis Sienna Miller menjadi contoh bagi kita untuk tetap hati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan. Ia kritis. Ia mampu membaca situasi dirinya. Ia juga belajar dari pengalaman-pengalaman orang-orang lain. Yang ia jaga adalah keselamatan dirinya. Ia sungguh-sungguh mencintai kehidupan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mesti kritis. Mengapa? Karena pengetahuan kita yang terbatas dapat memicu kita untuk mengikuti apa saja resep obat yang diberikan kepada kita. Kita mengkonsumsinya tanpa memikirkan dampak negatif dari obat-obat kimia itu. Setiap obat kimia memiliki efek samping. Bisa saja efek samping itu bereaksi dalam waktu yang singkat. Tetapi bisa saja bereaksi dalam waktu yang panjang.

Yang kita inginkan adalah kita mempertahankan hidup ini selama mungkin. Tuhan telah memberi kita kesempatan untuk hidup. Karena itu, kita ingin menjalani hidup ini dengan baik dan sehat. Sikap kritis dalam mengkonsumsi obat-obatan menjadi hal yang penting bagi kita. Hanya dengan hidup sehat, kita mampu mengarahkan hidup ini untuk memuji dan memuliakan Tuhan.

Mari kita perjuangkan hidup ini. Dengan demikian, hidup ini memiliki makna yang mendalam. Kita boleh mengalami damai dan sukacita dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

981

15 November 2013

Mengubah Kelemahan Menjadi Berkat


 Apa yang akan Anda lakukan terhadap kelemahan-kelemahan dan kurangan-kekurangan yang ada dalam diri Anda? Anda merasa sedih, karena kekurangan-kekurangan itu menjadi penghambat dalam usaha untuk memajukan diri Anda?

Emmanuel "Manny" Yarbrough pernah merasa minder dengan tubuhnya yang begitu besar. Wajar saja ia merasa minder. Dengan tinggi 2 meter dan berat badan 350 Kg, siapa yang tidak merasa dirinya sebagai orang aneh di tengah-tengah masyarakat? Setiap mata memandang kepadanya, begitu ia muncul di depan umum. Ada kalanya, ada orang yang mencibir dirinya. Ada yang mengata-ngatai dirinya sebagai orang yang tidak mampu mengendalikan diri.

Tetapi Emmanuel Manny tidak membiarkan dirinya direndahkan. Ia tidak mau terus berlarut-larut dalam keterpurukan. Ia memutuskan untuk membuang pikiran negatif tentang dirinya. Ia mulai bangkit. Caranya adalah dengan mencoba untuk menggali potensi yang ada di dalam dirinya.

Potensi yang ia temukan adalah olahraga Sumo. Ia pun mulai mendalami olahraga tersebut. Setiap hari ia berlatih olahraga Sumo. Ternyata olahraga itu sangat cocok dengan tubuhnya yang besar. Hasilnya sangat luar biasa. Setelah bekerja keras dan pantang menyerah, Pria asal AS tersebut berhasil menjadi juara dunia amatir Sumo. Ia sekaligus menjadi atlet Sumo paling populer di luar Jepang.

Sahabat, setiap orang punya kekurangan. Tetapi apakah hal itu menjadi alasan bagi kita untuk berhenti berjuang? Ternyata tidak! Kekurangan juga bisa menjadi berkat, ketika kita berusaha membuang jauh-jauh rasa rendah diri terhadap kekurangan yang kita miliki. Kekurangan bisa diubah menjadi suatu kesuksesan, ketika kita punya tekad yang besar untuk sukses dalam hidup ini.

Kisah Emanuel Manny menjadi contoh bagi kita untuk mengubah kekurangan yang kita miliki menjadi daya kekuatan bagi hidup kita. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah bekerja keras dengan penuh kesungguhan hati. Kita mesti membuang jauh-jauh anggapan orang tentang diri kita. Belum tentu anggapan orang itu benar.

Sayangnya, kadang kita sendiri lebih mudah melihat kekurangan diri kita sebagai suatu hambatan untuk maju. Akibatnya, kita sering ragu-ragu untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi kemajuan diri kita. Kita gampang putus asa untuk mulai mengubah diri kita. Kita merasa diri tidak mampu untuk keluar dari kekurangan diri kita.

Pandangan seperti ini keliru. Kita mesti membuang jauh-jauh persepsi kita yang keliru tentang kekurangan atau kelemahan yang ada pada diri kita. Yang mesti kita lakukan adalah kita mulai bangkit dari kekurangan atau kelemahan itu. Kita jadikan kekurangan kita modal untuk membangun hidup kita.

Memang, hal ini tidak mudah. Tetapi kita mesti berani mulai, agar hidup ini menjadi semakin berguna bagi diri dan sesama kita. Kelemahan yang ada dalam diri kita bukan alasan bagi kita untuk tetap terpuruk dalam kelemahan. Tetapi kelemahan itu menjadi motivasi bagi kita untuk bangkit dan mulai mengembangkan diri kita.

Untuk itu, kita butuh iman. Yesus berkata, “Kalau kamu punya iman sebesar biji sesawai, kamu dapat memindahkan gunung yang ada di hadapanmu ke dalam laut.” Nah, beriman berarti kita mau mengubah kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri kita menjadi berkat bagi diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

980 

Mewujudkan Iman dalam Hidup yang Nyata

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika tantangan dan rintangan menghadang Anda? Anda berhenti di tempat atau Anda berani menghadapinya?

Ada seorang perempuan sedang hamil tujuh bulan. Ia tetap bekerja seperti biasa. Ia seorang sopir taksi di Jakarta. Ia sedang mengandung anaknya yang keempat. Demi kelangsungan hidup, perempuan ini mesti bekerja dari jam 4 pagi hingga jam 12 malam. Karena jam kerjanya seperti itu, dia harus tidur di pool, malam libur baru pulang. Suatu pekerjaan yang tidak mudah bagi seorang perempuan yang sedang hamil. Tetapi ia mesti melakukannya demi keluarganya.

Tiga hari ia melakukan pekerjaan itu, satu hari libur. Saat libur itu, ia gunakan kesempatan itu untuk mengurus ketiga anak yang lain yang masih kecil-kecil. Sementara suaminya bekerja sebagai pengawas bangunan. Tuntutan hidup di Ibu Kota memaksa pasangan suami istri itu untuk bekerja. Mereka mesti membagi waktu untuk mengurus ketiga anak mereka.

Bekerja sebagai sopir taksi tidak selalu mulus. Suatu ketika ia dirampok oleh penumpangnya. Uang hasil kerja hari itu ludes. Black Berry-nya pun lenyap dirampas oleh penumpangnya itu. Dalam kondisi seperti itu, ia pasrah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia tidak bisa melawan.

“Saya ingat anak-anak saya yang masih kecil-kecil. Kalau saya melawan lalu dibunuh, siapa yang akan memberi mereka makan?” kata ibu itu.

Di waktu yang lain, seorang penumpang mabuk hampir memperkosa dirinya. Untunglah ia cepat-cepat membawa taksinya ke tempat yang ramai. Begitu berhenti, ia langsung berteriak-teriak. Akibatnya, penumpang mabuk itu pun ditangkap polisi. Bagi perempuan itu, inilah tantangan hidup yang nyata. Ia mesti menghadapinya dengan penuh resiko.

Pengorbanan perempuan itu tidak sia-sia. Hasil keringatnya ia gunakan untuk kebutuhan hidup keluarganya. Anak-anaknya boleh mengalami kasih sayang yang berlimpah. Mereka tidak perlu menderita kelaparan.

“Saya bahagia, meski saya mesti berkorban untuk keluarga saya. Kami hidup rukun dan damai,” katanya.

Sahabat, kebahagiaan itu diperoleh melalui korban. Dalam kehidupan keluarga, suami istri saling berkorban untuk saling memberikan kebahagiaan. Anak-anak akan terjamin hidupnya, ketika suami istri sungguh-sungguh menyadari tugas dan kewajiban mereka. Keluarga seperti ini hidup dalam realitas yang sesungguhnya.

Kisah nyata di atas mau mengatakan kepada kita bahwa korban yang dilakukan dengan penuh cinta kasih akan membawa sukacita dalam hidup. Apa pun yang dilakukan dengan terpaksa hanya menjadi beban dalam hidup ini. Perempuan itu menyadari betul resiko menjadi seorang sopir taksi di kota besar. Namun demi kasih sayangnya kepada keluarga, ia mampu melakukannya dengan penuh sukacita.

Orang beriman mesti berani menampakkan imannya dalam hidup sehari-hari. Iman itu mesti mewujud dalam pengorbanan diri demi kasih sayang yang mendalam kepada sesama yang paling dekat. Korban seperti ini biasanya membawa damai dan sukacita dalam hidup.

Untuk itu, orang beriman mesti berani menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Tantangan dan rintangan itu menjadi motivasi dalam menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Hanya dengan berani berkorban, orang akan menemukan jati dirinya yang sesungguhnya dalam hidup yang nyata. Mari kita wujudkan iman dalam hidup sehari-hari dengan mengorbankan hidup kita demi kebahagiaan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

979

08 November 2013

Perjuangkan Hidup hingga Nafas Terakhir

 


Apa yang akan Anda lakukan ketika hidup ini terasa kurang membahagiakan? Anda memutuskan untuk menghentikan hidup Anda? Atau Anda akan berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan dan mengembangkan hidup Anda?

Tidak semua orang mengenal Jean-Dominique Bauby, kecuali kaum perempuan dan mereka yang berbahasa Perancis atau mereka yang suka membaca majalah bernama Elle. Ia adalah pemimpin redaksi Elle. Tahun 1996 ia meninggal dalam usia 45 tahun setelah menyelesaikan memoarnya yang ditulisnya dengan sangat istimewa. Ia memberi judul memoarnya dengan Le Scaphandre et le Papillon. Artinya, Buih dan Kupu-kupu.

Tahun 1995, ia terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuhnya lumpuh. Ia mengalami apa yang disebut 'locked-in syndrome', kelumpuhan total yang disebutnya 'seperti pikiran di dalam botol'.

Memang, ia masih dapat berpikir jernih, tetapi sama sekali tidak bisa berbicara maupun bergerak. Satu-satunya otot yang masih dapat diperintahnya adalah kelopak mata kirinya. Jadi itulah caranya ia berkomunikasi dengan para perawat, dokter rumah sakit, keluarga dan temannya.

Mereka menunjukkan huruf demi huruf dan Jean akan berkedip bila huruf yang ditunjukkan itu yang dipilihnya. Bukan main. Luar biasa!

Betapa mengagumkan tekad dan semangat hidup maupun kemauannya untuk tetap menulis dan membagikan kisah hidupnya yang begitu luar biasa. Ia meninggal 3 hari setelah bukunya diterbitkan. Salah satu ungkapan yang dituangkannya dalam memaornya adalah "Saya akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia, jika saya dapat dengan biasa mengunyah ludah yang ada di dalam mulut saya.”

Mengapa ia menulis seperti itu? Karena mengunyah ludahnya sendiri pun ia tidak mampu. Dalam kondisi seperti itu, Jean berjuang. Ia tidak berhenti memupuk semangatnya untuk hidup. Sayang, setahun kemudian setelah stroke itu, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggalkan kenangan yang manis buat orang-orang di sekitarnya.

Sahabat, perjuangan tanpa henti mesti senantiasa ditunjukkan oleh setiap insan. Mengapa? Karena setiap kita telah diberi kemampuan untuk menumbuhkembangkan hidup kita. Tuhan telah memberi kita martabat yang begitu mulia. Martabat itu mesti kita perjuangkan terus-menerus dalam keseharian hidup kita.

Kisah Jean tadi mengajak kita untuk memandang hidup ini begitu bernilai dan mulia. Kita diberi anugerah yang berlimpah-limpah oleh Tuhan. Hal ini sangat disadari oleh Jean. Ia berjuang meski hanya bisa menggerakkan kelopak mata kirinya. Dalam kondisi seperti itu, ia masih bisa menelurkan sebuah karya yang bernilai.

Hidup ini begitu bernilai. Saya kira semua orang beriman akan setuju terhadap pernyataan ini. Soalnya, banyak orang tahu tentang hal ini, tetapi tidak menjadi kenyataan dalam hidup sehari-hari. Banyak orang melukai diri sendiri dengan dosa dan kesalahan yang dilakukannya. Orang tega membunuh dirinya secara perlahan-lahan dengan mengkonsumsi narkoba, alkohol atau rokok. Orang tega menyengsarakan sesamanya dengan manipulasi dan korupsi.

Orang beriman tentu akan menghindari semua hal negatif yang merugikan dirinya. Karena itu, kita mesti memperjuangkan hidup ini seperti yang telah diperjuangkan oleh Jean hingga nafas terakhirnya. Dengan demikian, hidup ini sungguh-sungguh bermakna. Kita dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT
 
978

04 November 2013

Menghadapi Godaan dengan Cerdas


Hidup yang damai sering tidak terjadi, karena manusia terjebak oleh berbagai godaan si jahat. Apa yang Anda lakukan ketika Anda berhadapan dengan godaan-godaan dari si jahat? Anda lari ketakutan? Atau Anda berani menghadapinya dengan cerdas?

Suatu hari ada seekor kucing menjual cacing. Ia isi cacing-cacing itu dalam gerobak dorongnya. Hari mulai siang. Tetapi belum ada seekor burung pun berminat atas cacing-cacing itu. Ia kesal dengan keadaan itu, karena ia sendiri mulai merasa lapar. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

Namun kucing itu tidak hilang akal. Ia berpikir, kalau jual biasa-biasa saja seperti ini ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tidak ada pembeli yang datang untuk membeli cacing-cacing yang sudah ia dapatkan dengan susah payah itu.

Ia berkata, “Saya harus mengubah taktik penjualan. Saya tidak bisa menjual cacing-cacing ini dengan harga mahal.”

Lantas ia pun mulai menjatuhkan harga jualnya. Ia berteriak, “Dijual cacing murah…. Dijual cacing murah…”

Tiba-tiba dari kejauhan terbanglah seekor burung kutilang yang kelaparan. Kucing berteriak. Rupanya sudah lama ia mengincar cacing-cacing itu. Kini ia punya kesempatan untuk membelinya dengan harga murah. Ia akan menggunakan cacing-cacing itu untuk mengenyangkan perutnya.

Tawar-menawar pun dilakukan. Akhirnya disepakati bahwa kucing memberikan seekor cacing dan kutilang menggantinya dengan sebuah bulu sayapnya. Burung kutilang itu pun terbang ke atas pohon dengan seekor cacing setelah ia menukarnya dengan satu bulunya. Ia menyantap cacing itu dengan lahap.

Karena rasa enak dan nikmatnya, burung kutilang itu pun ketagihan. Ia kembali ke gerobak yang sedang didorong oleh kucing itu. Ia menukarkan lagi satu bulunya dengan seekor cacing. Ia lakukan hal itu terus-menerus. Lama-lama bulu di sayapnya mulai habis. Tatkala, burung kutilang tidak bisa terbang, karena bulunya mulai banyak berkurang, kucing itu pun dengan sigap menyergap burung kutilang itu. Kucing itu memangsanya.

Sahabat, si jahat selalu menggunakan berbagai cara untuk memikat manusia. Satu cara tidak berhasil, ia akan menggunakan cara-cara lain yang lebih berdaya guna. Ketika mangsanya lengah, si jahat akan segera menerkamnya. Ia merenggut mangsanya itu hingga hancur berkeping-keping.

Kisah imajinatif di atas mau mengingatkan kita akan kuat kuasanya godaan dalam hidup kita. Ketika kita lengah dalam hidup ini, kita akan menjadi mangsa di jahat. Akibatnya, hidup kita akan mengalami penderitaan demi penderitaan. Kita tidak bahagia dalam hidup ini, karena kita kehilangan damai. Si jahat hanya menawarkan kedamaian semu dalam hidup ini. Damai yang sesungguhnya tidak terjadi dalam hidup kita.

Karena itu, orang beriman mesti cerdas menghadapi godaan-godaan dalam hidupnya. Kita mesti tetap membentengi diri kita dengan iman yang kuat dan teguh kepada Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan senantiasa berada di pihak kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membangun damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


975

31 Oktober 2013

Menghadapi Godaan dengan Kritis

Apa yang akan terjadi ketika Anda menghadapi berbagai godaan? Anda lari? Atau Anda tetap menghadapinya dengan penuh iman?

Ada cara unik untuk memburu serigala seperti yang dilakukan oleh orang Eskimo. Orang Eskimo melumuri mata pisaunya dengan darah dan membiarkannya membeku. Kemudian ia melumuri lagi dengan darah dan dibiarkan kering dan membeku lagi. Begitulah dilakukan berulang-ulang sampai pisau tersebut tidak kelihatan seperti pisau lagi.

Lalu orang Eskimo itu menaman sebagian pisaunya dengan menghadap ke atas di dalam tanah. Serigala yang mengendus bau amis itu akan mulai menjilati pisau itu. Semakin lama, ia semakin menikmatinya hingga tanpa terasa lapisan darah tersebut habis.

Tanpa sadar serigala ini mulai menjilati mata pisau. Akibatnya, lidahnya sendiri tergores mata pisau serta mengeluarkan darah segar. Masih belum sadar, ia terus menjilati darahnya sendiri dengan penuh nafsu sampai ia kehabisan darah. Maka matilah ia!

Sahabat, dalam kehidupan kita sehari-hari kita menghadapi banyak godaan. Godaan untuk menguasai yang lain menjadi suatu godaan yang sangat besar. Untuk apa orang menguasai yang lain? Ada banyak jawaban. Namun satu hal yang pasti adalah agar orang mau mengabdi kepada dirinya. Orang ingin mencari nama, supaya tenar. Orang ingin mengatakan kepada dunia bahwa ia sungguh-sungguh berkuasa dalam dunia ini.

Akibatnya, manusia lupa dirinya sendiri ketika sedang berkuasa. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kekuasaan itu menumbuhkan nafsu yang berlebihan. Sampai-sampai bahwa kekuasaan yang penuh nafsu itu akan menghancurkan dirinya sendiri. Serigala itu penuh nafsu meminum darahnya sendiri. Ia tidak mampu mengontrol dirinya lagi. Mengapa? Karena merasa enak dan nikmat.

Godaan-godaan menawarkan kepada manusia berbagai bentuk. Orang sering terkecoh oleh godaan-godaan seperti ini. Kalau orang tidak hati-hati, orang akan dikuasai oleh godaan-godaan itu. Orang bisa mati dalam situasi seperti ini. Karena itu, yang mesti dilakukan adalah orang mesti waspada dalam hidupnya. Artinya, orang mesti melihat setiap godaan dengan teliti atau cermat. Orang tidak boleh begitu saja menanggapi godaan-godaan itu sebagai sesuatu yang baik dan benar.

Orang beriman mesti senantiasa mewaspadai setiap tawaran yang datang kepadanya. Sikap kritis menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika orang kritis terhadap situasi yang ada di sekitarnya, orang akan mampu menghadapi godaan-godaan itu dengan mantap.

Untuk itu, ketakwaan kepada Tuhan menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan ini. Bertakwa berarti orang mampu menempatkan dirinya di hadapan Tuhan dan sesama dengan penuh iman. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk merebut kebahagiaan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

974

27 September 2013

Mengandalkan Kehendak Tuhan

Kita hidup dalam dunia yangpenuh dengan tantangan. Kalau kita tidak bertahan dalam tantangan, kita akan binasa. Karena itu, yang kita butuhkan adalah tuntunan dari Tuhan.

Menyadari bahwa hidupnya tidakakan lama lagi, seorang nenek menyerahkan hamper satu kilogram emasnya kepada cucu tersayangnya. Emas sebanyak itu ia kumpul sejak ia masih gadis. Ketikamenikah, emasnya semakin banyak. Pasalnya, sang suami selalu memberi uang untukia kelola. Kelebihan pengelolaan itu ia belikan emas. Lama-kelamaan ia memilikiemas dalam jumlah hampir satu kilogram itu.

Kepada cucunya, ia berkata, “Kamu harus simpan emas ini baik-baik. Jangan ada yang tahu. Kalau kamu punya kebutuhan yang mendesak, kamu boleh jual setengahnya.”

Sang cucu begitu bahagia menerima pemberian cuma-cuma dari sang nenek. Ia berkata kepada sang nenek, “Saya sangat bahagia mendapatkan emas ini. Tetapi tentu saja saya tidak akan serta merta menggunakannya. Bagi saya, emas ini membantu saya untuk meraih kebahagiaan dalam hidup.”

Sang nenek tersenyum mendengar pernyataan cucunya. Ia yakin, sang cucu tidak akan menghambur-hamburkan hartayang telah ia kumpulkan dengan susah payah itu. Ia yakin, cucunya akanmenggunakannya dengan bijaksana.

Nenek itu berkata, “Dengan berbagai cara saya telah mengumpulkan emas dalam jumlah yang besar ini. Ini kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan telah memberi saya kemampuan untuk berusaha. Kamu juga mesti menggunakan kemampuanmu untuk meraih kebahagiaan dalam hidup.”

Sang cucu kemudian memeluksang nenek. Ia berjanji untuk setia mengembangkan dirinya. Ia berjanji untuk mengembangkan pemberian sang nenek dengan sebaik-baiknya.

Sahabat, hidup manusia didunia ini singkat. Banyak orang mengharapkan umur yang panjang, tetapikenyataan bisa berkata lain. Ada yang ingin hidup seratus tahun, tetapi di usia belum 50 tahun mereka telah mengakhiri perjalanan hidup mereka di dunia ini. Orang bahkan tidak punya kuasa atas diri mereka.

Orang Jawa mengatakan bahwa hidup itu hanya mampir minum. Artinya, hidup itu sebentar. Seorang bijaksana mengatakan bahwa hidup manusia seperti suatu giliran jaga malam. Hidup ini seperti mimpi, seperti bunga dan rumput. Hidup manusia seperti angin dan bayangan. Hidup manusia seperti uap, sebentar ada lalu lenyap

Kisah tadi mau mengatakankepada kita bahwa hidup yang singkat ini mesti disiasati dengan bijaksana. Jangan hidup yang singkat ini dilalui dengan duka nestapa. Orang mesti melalui hidup yang singkat ini dengan meraih kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup ini. Meski hidup ini singkat, orang mesti menata hidupnya. Dengan demikian, hidup initidak hilang seperti angin.

Orang beriman tentu saja tidak mengandalkan diri sendiri dalam menata hidupnya. Tetapi orang beriman mesti menata hidupnya bersama Tuhan. Orang beriman selalu memikirkan apa yang Tuhankehendaki bagi perjalanan hidupnya yang singkat ini. Tentu saja Tuhan menghendaki manusia hidup dalam kasih Tuhan. Artinya, orang beriman senantiasa membuka hatinya untuk menerima kasih Tuhan. Setelah itu, orang beriman mengalirkan kasih itu kepada sesamanya.

Hal ini tidak mudah, karena orang mesti memperjuangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang mesti menata hidupnya menjadi orang yang berguna bagi dirinya dan sesamanya. Untuk itu, mengandalkan kehendak Tuhan menjadi segala-galanya dalam kehidupan yang singkat ini. Tuhan memberkati. **

26 September 2013

Tuhan Itu Andalan Hidup Manusia

Apa yang terjadi, ketika hidup Anda tanpa disertai oleh Tuhan? Saya yakin, Anda akan mengalami kecemasa ndalam hidup ini. Tema permenungan kita malam ini adalah Tuhan Itu Andalan Hidup Manusia.

Kirsty Collier yang mengalami kelainan jantung. Dokter kemudian memutuskan untuk memotong sepertiga jantungnya yang ternyata bisa tumbuh kembali. Jantung bocah itu tumbuh menggantikan sepertiga jantungnya yang diangkat tanpa harus menjalani transplantasi. Yang luar biasa, Kirsty menjalani pengangkatan sepertiga jantungnya saat berumur 4 bulan. Bayi itu kuat menjalani operasi yang berat itu.

Berbagai hal mengkuatirkan telah disampaikan dokter kepada orangtua Kirsty. Namun siapa nyana, ternyata bocah itu tumbuh sehat. Bahkan setelah 10 tahun berlalu, tak ada gangguan berarti pada kesehatannya. Yang terkejut justru para dokter, ketika suatu ketika melakukan cek up pada tubuh Kirsty. Ternyata jantung bocah ini telahberukuran normal.

Belasan tahun lalu, Kirsty yang berusia 4 bulan divonis tak panjang umurnya karena menderita penyakit jantung parah. Kondisi jantungnya tidak sempurna. Pembuluh bilik kiri jantung yang seharusnya mengalirkan darah ke otot jantung, terhubung dengan pembuluh paru-paru tidak ke aorta. Akibatnya, organ itu kekurangan oksigen dan akhirnya membesar.

Makin hari kondisi Kristy bertambah kritis. Dokter yang menanganinya, Stephen Westaby, mengambil tindakan medis dengan mengangkat sepertiga bagian jantung yang rusak dan tak berfungsi normal di Rumah Sakit John Radcliffe, Oxford , Inggris. Ketika itu, ditemukan kerusakan fungsi jantung yang sangat parah. Cara-cara biasa sudah tak mungkin lagi kecuali operasi dan pengangkatan.

Tak disangka, Kirsty tumbuh layaknya anak normal. Ia tidak tampak sebagai orang yang sedang menanggung penyakit gawat. Belasan tahun berlalu, Kirsty masih baik-baik saja. Ia tampak sehat dan mampu beraktivitas layaknya mereka yang normal. Alangkah kagetnya dokter begitu memeriksa kondisi Kirsty. Jantungnya kembali ke ukuran normal. Organ pemompa darah itu ternyata tumbuh sendiri dan menutupi sepertiga bagian yang dulu dipotong tanpa harus melewati proses transplantasi. Vonis mati untuk Kirsty langsung menguap. Dia terbebas dari penyakit yang merongrong hidupnya.
 
Dokter Westaby berkata, “Kami merasa tak ada harapan sama sekali. Saya tak pernah mengira itu akan bekerja.”
 
Sahabat, banyak hal yang tampak mustahil dalam kehidupan ini. Namun bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil. Selalu saja ada jalan. Selalu saja ada cara untuk menanggulangi berbagai persoalan yang dihadapi. Yang penting adalah orang mau bekerja sama dengan Tuhan dalam kehidupan ini.

Kisah tadi memberi kitakekuatan bahwa kecemasan terhadap hidup sebenarnya tidak perlu terjadi. Mengapa? Karena Tuhan menyelenggarakan hidup kita ini. Ketika orang berani memberikan hidup kepada Tuhan, orang akan mengalami damai dalam hidupnya. Tuhan menumbuhkan hidup ini. Tuhan menuntun manusia menuju hidup yang lebih baik.

Karena itu, orangberiman mesti berani memberikan hidupnya kepada Tuhan. Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan menjamin kehidupan ini. Apa pun yang akan terjadi pada kehidupan ini, manusia akan mesti mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.

Memang, tidak mudah manusia mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Selalu saja ada gangguan atau godaan untuk meninggalkan Tuhan. Ada saja hal-hal yang menggoda manusia untuk berjalansendiri tanpa bantuan Tuhan. Akibatnya, manusia mengalami kekeringan dalam hidupnya. Meski berlimpah harta kekayaan, tetapi manusia tidak mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Manusia selalu merasa kurang dalam kehidupan ini.

Karena itu, manusia mesti selalu kembali kepada Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan adalah sumber kehidupan manusia. Tuhan telah memberi hidup ini bagi manusia, agar manusia menatanya menjadi lebih baik. Mari kita senantiasa mendekatkan hidup kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ