Pages

19 Maret 2014

Pengalaman akan Kasih Meneguhkan Hidup



Pengalaman akan kasih senantiasa menjadi milik setiap manusia dalam hidup sehari-hari. Namun ada pula manusia yang kurang begitu mengalami kasih itu. Akibatnya, menusia mengalami ganguan secara psikologis dan spiritual.

Seorang remaja putri begitu tersanjung oleh pujian dari ayahnya atas prestasi gemilang yang diraihnya. Ia mengaku, selama ini ayahnya jarang sekali memberikan pujian kepadanya. Baru kali ini sang ayah memberikan pujian yang tinggi. Ayahnya pun mentraktir dirinya di sebuah restoran ternama di kotanya.

Remaja itu berkata, “Saya bersyukur atas perhatian ayah saya yang begitu besar. Hal ini menjadi pemacu bagi saya dalam meraih prestasi yang lebih besar lagi. Meski ayah jarang memberikan pujian, tetapi sejak awal saya yakin ayah sangat mendukung saya.”

Gadis remaja itu merasakan kasih yang begitu besar dari sang ayah. Ia ingin tetap berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya. Perjalanan hidupnya masih jauh. Ia masih sangat membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya. Ia ingin agar kasih sayang orangtuanya senantiasa hadir dalam setiap perjalanan hidupnya.

Sahabat, sering orang mengalami kehilangan kasih sayang dalam hidupnya. Orang merasa hidup sendiri tanpa mendapatkan perhatian yang memadai dari sesamanya. Akibatnya, orang mengalami pertumbuhan yang lambat dalam kasih sayang itu. Orang mudah merasa loyo dalam hidupnya. Orang mudah menyerah ketika menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kasih sayang merupakan kebutuhan manusia. Pengalaman akan kasih sayang itu memberikan kekuatan kepada seseorang untuk memacu dirinya dalam kegiatan-kegiatan hariannya. Orang menjadi lebih berani untuk melangkahkan kaki untuk merebut cita-cita yang dicanangkannya.

Bagi orang beriman, kasih sayang itu bersumber dari Tuhan sendiri. Tuhan senantiasa mengasihi ciptaanNya. Tuhan tidak pernah meninggalkan ciptaanNya berjuang sendirian di dunia ini. Tuhan senantiasa menyayangi ciptaanNya dengan menyertai dan membimbing ciptaanNya itu. Karena itu, orang beriman mesti menyerahkan hidupnya kepada kasih Tuhan.

Memang, tidak gampang orang berserah diri kepada kasih Tuhan. Mengapa? Karena manusia lebih mudah mengasihi dirinya sendiri. Manusia lebih mudah hidup dalam kuasa kasihnya, daripada membiarkan Tuhan menguasai dirinya dengan kasih. Manusia lebih suka berjuang sendiri dalam hidupnya.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah suatu pertobatan baru. Artinya, orang rela meninggalkan kesenangan dirinya sendiri dan menerima tawaran kasih sayang dari Tuhan. Orang tidak lagi memaksakan kehendaknya sendiri kepada Tuhan dan sesama. Tetapi orang berusaha untuk hidup dalam kehendak Tuhan. Orang berusaha untuk menumbuhkan kasih Tuhan dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih sukacita dan bahagia. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1078

18 Maret 2014

Mengasah Mutiara-mutiara yang Indah

Tuhan telah membekali kita semua dengan bakat-bakat. Yang mesti kita lakukan adalah kita mengasah bakat-bakat kita itu menjadi lebih baik lagi.

Suatu ketika Daiju mengunjungi guru Baso di China. Ketika mereka bertemu, Baso bertanya, "Kamu sedang mencari apa?"

Tanpa pikir panjang, Daiju menjawab, “Pencerahan.”

Baso agak bingung mendengar jawaban Daiju. Lantas ia berkata, “Kamu sudah memiliki mutiara dalam rumahmu. Mengapa kamu mencari lagi sesuatu di luar?"

Daiju tidak bisa mengerti. Dia tidak bisa menangkap kata-kata Baso dengan baik dan jelas. Jadi ia bertanya, “Di manakah mutiara itu?”

Sambil tersenyum, Baso menjawab, “Apa yang kamu tanyakan itu adalah mutiara itu.”

Seketika itu juga, Daiju mendapatkan pencerahan. Sejak saat itu dia mengajak teman-temannya untuk membuka mata mereka guna melihat mutiara dalam rumah mereka masing-masing dan menggunakan mutiara itu. Ternyata ada begitu banyak mutiara bertebaran di dalam rumah mereka. Mutiara-mutiara itu mesti digunakan untuk kebahagiaan mereka.

Sahabat, kita sering bingung akan diri kita sendiri. Kaum remaja yang sedang tumbuh biasanya masih belum punya pegangan yang pasti. Mereka masih meraba-raba tentang kemampuan-kemampuan mereka. Mereka mudah sekali tergoda oleh sesuatu yang ada di luar diri mereka. Karena itu, mereka mudah sekali mengikuti trend yang ada. Mereka suka mengikuti mode yang sedang berkembang.

Seolah-olah sesuatu yang ada di luar diri mereka itulah yang mesti mereka kejar dan dapatkan. Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa dalam diri kita tersedia mutiara-mutiara indah yang mesti kita temukan dan kembangkan. Mutiara-mutiara itu sangat berguna bagi kehidupan kita.

Kalau mutiara-mutiara berharga ini sudah kita temukan, kita mesti mulai mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna untuk kehidupan kita. Ada orang yang tidak peduli dengan kemampuan-kemampuan yang ada dalam dirinya. Mereka biarkan begitu saja, sehingga mati dan tak berguna bagi hidup mereka. Tentu hal seperti ini sangat kita sayangkan. Mutiara-mutiara berupa kemampuan-kemampuan itu mesti diolah dan dikembangkan sebaik mungkin. Dengan demikian, menjadi sesuatu yang berharga bagi hidup kita.

Sebagai orang beriman, kita tidak ingin mutiara-mutiara itu lenyap begitu saja dari diri kita. Kita ingin agar mutiara-mutiara itu menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai bagi perjalanan hidup kita. Karena itu, kita mesti mengolah dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang berguna untuk hidup kita.

Orang beriman itu orang yang tidak mau membiarkan kemampuan-kemampuan dalam dirinya sirna begitu saja. Orang beriman itu selalu mau berusaha untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya. Dengan demikian, ia dapat menghayati imannya dalam hidup yang nyata.

Mari kita berusaha sekuat tenaga untuk mengolah dan mengembangkan mutiara-mutiara indah di dalam diri kita. Jangan biarkan mutiara-mutiara itu menjadi karat dan tak berguna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

17 Maret 2014

Mengandalkan Kehendak Tuhan



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Kalau kita tidak bertahan dalam tantangan, kita akan binasa. Karena itu, yang kita butuhkan adalah tuntunan dari Tuhan.

Menyadari bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, seorang nenek menyerahkan hampir satu kilogram emasnya kepada cucu tersayangnya. Emas sebanyak itu ia kumpul sejak ia masih gadis. Ketika menikah, emasnya semakin banyak. Pasalnya, sang suami selalu memberi uang untuk ia kelola. Kelebihan pengelolaan itu ia belikan emas. Lama-kelamaan ia memiliki emas dalam jumlah hampir satu kilogram itu.

Kepada cucunya, ia berkata, “Kamu harus simpan emas ini baik-baik. Jangan ada yang tahu. Kalau kamu punya kebutuhan yang mendesak, kamu boleh jual setengahnya.”

Sang cucu begitu bahagia menerima pemberian cuma-cuma dari sang nenek. Ia berkata kepada sang nenek, “Saya sangat bahagia mendapatkan emas ini. Tetapi tentu saja saya tidak akan serta merta menggunakannya. Bagi saya, emas ini membantu saya untuk meraih kebahagiaan dalam hidup.”

Sang nenek tersenyum mendengar pernyataan cucunya. Ia yakin, sang cucu tidak akan menghambur-hamburkan harta yang telah ia kumpulkan dengan susah payah itu. Ia yakin, cucunya akan menggunakannya dengan bijaksana.

Nenek itu berkata, “Dengan berbagai cara saya telah mengumpulkan emas dalam jumlah yang besar ini. Ini kemampuan yang diberikan oleh Tuhan. Tuhan telah memberi saya kemampuan untuk berusaha. Kamu juga mesti menggunakan kemampuanmu untuk meraih kebahagiaan dalam hidup.”

Sang cucu kemudian memeluk sang nenek. Ia berjanji untuk setia mengembangkan dirinya. Ia berjanji untuk mengembangkan pemberian sang nenek dengan sebaik-baiknya.

Sahabat, hidup manusia di dunia ini singkat. Banyak orang mengharapkan umur yang panjang, tetapi kenyataan bisa berkata lain. Ada yang ingin hidup seratus tahun, tetapi di usia belum 50 tahun mereka telah mengakhiri perjalanan hidup mereka di dunia ini. Orang bahkan tidak punya kuasa atas diri mereka.

Orang Jawa mengatakan bahwa hidup itu hanya mampir minum. Artinya, hidup itu sebentar. Seorang bijaksana mengatakan bahwa hidup manusia seperti suatu giliran jaga malam. Hidup ini seperti mimpi, seperti bunga dan rumput. Hidup manusia seperti angin dan bayangan. Hidup manusia seperti uap, sebentar ada lalu lenyap

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup yang singkat ini mesti disiasati dengan bijaksana. Jangan hidup yang singkat ini dilalui dengan duka nestapa. Orang mesti melalui hidup yang singkat ini dengan meraih kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup ini. Meski hidup ini singkat, orang mesti menata hidupnya. Dengan demikian, hidup ini tidak hilang seperti angina atau menguap lenyap begitu saja.

Orang beriman tentu saja tidak mengandalkan diri sendiri dalam menata hidupnya. Tetapi orang beriman mesti menata hidupnya bersama Tuhan. Orang beriman selalu memikirkan apa yang Tuhan kehendaki bagi perjalanan hidupnya yang singkat ini. Tentu saja Tuhan menghendaki manusia hidup dalam kasih Tuhan. Artinya, orang beriman senantiasa membuka hatinya untuk menerima kasih Tuhan. Setelah itu, orang beriman mengalirkan kasih itu kepada sesamanya. Janganlah kasih itu hanya menjadi milik diri sendiri.

Hal ini tidak mudah, karena orang mesti memperjuangkannya dalam kehidupan sehari-hari. Orang mesti menata hidupnya menjadi orang yang berguna bagi dirinya dan sesamanya. Untuk itu, mengandalkan kehendak Tuhan menjadi segala-galanya dalam kehidupan yang singkat ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1077

15 Maret 2014

Menghadapi Persoalan Hidup dengan Iman


Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda mesti berhadapan dengan seorang raksasa? Saya rasa, Anda akan mengalami kecemasan dalam hidup Anda.

Seorang anak gembala melawan seorang prajurit raksasa. Tentu saja hal ini sesuatu yang mengagetkan. Bagaimana mungkin, seorang anak yang lemah mampu menaklukkan seorang prajurit raksasa? Tetapi inilah yang terjadi dalam kehidupan ini.

Ribuan tahun yang lalu tampil seorang anak gembala bernama Daud. Ia menantang seorang prajurit raksasa bernama Goliat. Sang raksasa dikenal sebagai orang yang sangat kuat. Ia menggunakan senjata yang lebih hebat. Pedang bermata dua yang tajam siap menerjang Daud. Sedangkan Daud hanya menggunakan batu.

Namun tanpa rasa takut, Daud menantang Goliat. Raja Saul tergoda untuk melengkapi Daud dengan segala perlengkapan baju perang dan senjatanya. Daud menolaknya, karena tahu dia tidak bergantung pada itu. Daud siap berperang karena kuasa Tuhan menaunginya.

Dengan hanya sebuah katapel, Daud menembakkan sebutir batu kepada Goliat. Batu itu melesak ke dalam kepala sang raksasa. Daud menaklukkan raksasa itu bukan dengan kekuatan sendiri, namun oleh kekuatan Tuhan.

Batu itu mengenai dahi Goliat yang jatuh terjerembab ke tanah. Pedang Goliat bermata dua yang tajam menjadi tidak bermakna. Daud memenangkan pertempuran. Kemenangan itu berakibat bagi banyak orang. Orang-orang yang berada di pihak Daud mengalami pembebasan.

Sahabat, dalam kehidupan kita, kita juga berperang melawan raksasa-raksasa. Tentu saja raksasa-raksasa dalam arti kiasan, bukan seperti Goliat. Raksasa-raksasa yang kita hadapi dalam hidup kita adalah depresi, kekecewaan, penyesalan, kebimbangan, pencobaan, ketakutan, keputusasaan, kesepian, kekuatiran. Ada juga raksasa kecemburuan, penundaan waktu, kegagalan, kemarahan dan rasa bersalah yang menghantui hidup kita.

Kisah di atas dapat menjadi pelajaran bagi kita untuk menaklukkan raksasa yang sering menghantui diri kita. Di kala kita menghadapi depresi, kita mesti berusaha untuk keluar dari depresi itu. Kita mesti berani memerangi depresi itu. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik. Kita menjadi lebih damai dalam menjalani hidup ini.

Memang, hal ini tidak mudah. Namun dengan bantuan rahmat Tuhan, kita akan mampu mengatasi depresi dalam hidup kita.

Namun sering manusia cenderung untuk mengatasi persoalan-persoalan dalam hidupnya sendirian. Manusia merasa mampu melakukan hal-hal spektakuler sendirian. Manusia mengandalkan kekuatannya sendiri. Manusia menyombongkan dirinya. Padahal Daud mampu mengalahkan si raksasa Goliat dengan bantuan Tuhan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Tuhan senantiasa peduli terhadap hidup manusia. Yang penting adalah manusia mau membiarkan Tuhan masuk ke dalam kehidupannya. Yang penting, manusia mau menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan.

Mari kita libatkan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, hidup kita terbebas dari ‘raksasa-raksasa’ yang mengganggu hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1076

Tuhan Itu Andalan Hidup Manusia



Apa yang terjadi, ketika hidup Anda tanpa disertai oleh Tuhan? Saya yakin, Anda akan mengalami kecemasan dalam hidup ini.

Kirsty Collier mengalami kelainan jantung. Dokter kemudian memutuskan untuk memotong sepertiga jantungnya yang ternyata bisa tumbuh kembali. Jantung bocah itu tumbuh menggantikan sepertiga jantungnya yang diangkat tanpa harus menjalani transplantasi. Yang luar biasa, Kirsty menjalani pengangkatan sepertiga jantungnya saat berumur 4 bulan. Bayi itu kuat menjalani operasi yang berat itu.

Berbagai hal mengkuatirkan telah disampaikan dokter kepada orangtua Kirsty. Namun siapa nyana, ternyata bocah itu tumbuh sehat. Bahkan setelah 10 tahun berlalu, tak ada gangguan berarti pada kesehatannya. Yang terkejut justru para dokter, ketika suatu ketika melakukan check up pada tubuh Kirsty. Ternyata jantung bocah ini telah berukuran normal.

Belasan tahun lalu, Kirsty yang berusia 4 bulan divonis tak panjang umurnya karena menderita penyakit jantung parah. Kondisi jantungnya tidak sempurna. Pembuluh bilik kiri jantung yang seharusnya mengalirkan darah ke otot jantung, terhubung dengan pembuluh paru-paru tidak ke aorta. Akibatnya, organ itu kekurangan oksigen dan akhirnya membesar.

Makin hari kondisi Kristy bertambah kritis. Dokter yang menanganinya, Stephen Westaby, mengambil tindakan medis dengan mengangkat sepertiga bagian jantung yang rusak dan tak berfungsi normal di Rumah Sakit John Radcliffe, Oxford , Inggris. Ketika itu, ditemukan kerusakan fungsi jantung yang sangat parah. Cara-cara biasa sudah tak mungkin lagi kecuali operasi dan pengangkatan.

Tak disangka, Kirsty tumbuh layaknya anak normal. Ia tidak tampak sebagai orang yang sedang menanggung penyakit gawat. Belasan tahun berlalu, Kirsty masih baik-baik saja. Ia tampak sehat dan mampu beraktivitas layaknya mereka yang normal. Alangkah kagetnya dokter begitu memeriksa kondisi Kirsty. Jantungnya kembali ke ukuran normal. Organ pemompa darah itu ternyata tumbuh sendiri dan menutupi sepertiga bagian yang dulu dipotong tanpa harus melewati proses transplantasi. Vonis mati untuk Kirsty langsung menguap. Dia terbebas dari penyakit yang merongrong hidupnya.

Dokter Westaby berkata, “Kami merasa tak ada harapan sama sekali. Saya tak pernah mengira itu akan bekerja.”

Sahabat, banyak hal tampak mustahil dalam kehidupan ini. Namun bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil. Selalu saja ada jalan. Selalu saja ada cara untuk menanggulangi berbagai persoalan yang dihadapi. Yang penting adalah orang mau bekerja sama dengan Tuhan dalam kehidupan ini.

Kisah di atas memberi kita kekuatan bahwa kecemasan terhadap hidup sebenarnya tidak perlu terjadi. Mengapa? Karena Tuhan menyelenggarakan hidup kita ini. Ketika orang berani memberikan hidup kepada Tuhan, orang akan mengalami damai dalam hidupnya. Tuhan menumbuhkan hidup ini. Tuhan menuntun manusia menuju hidup yang lebih baik.

Karena itu, orang beriman mesti berani memberikan hidupnya kepada Tuhan. Orang beriman mesti yakin bahwa Tuhan menjamin kehidupan ini. Apa pun yang akan terjadi pada kehidupan ini, manusia mesti mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.

Memang, tidak mudah manusia mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Selalu saja ada gangguan atau godaan untuk meninggalkan Tuhan. Ada saja hal-hal yang menggoda manusia untuk berjalan sendiri tanpa bantuan Tuhan. Akibatnya, manusia mengalami kekeringan dalam hidupnya. Meski berlimpah harta kekayaan, tetapi manusia tidak mengalami sukacita dan damai dalam hidupnya. Manusia selalu merasa kurang dalam kehidupan ini.

Karena itu, manusia mesti selalu kembali kepada Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan adalah sumber kehidupan manusia. Tuhan telah memberi hidup ini bagi manusia, agar manusia menatanya menjadi lebih baik. Mari kita senantiasa mendekatkan hidup kepada Tuhan. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1075

14 Maret 2014

Andalkan Rahmat Tuhan untuk Memurnikan Hati


Hati setiap orang mesti dimurnikan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan yang penuh tantangan di dunia ini. Namun sering manusia tergoda untuk mengandalkan dirinya sendiri.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika Serikat, tahun 1994, saya terkejut menyaksikan orang-orang minum air langsung dari keran. Mereka menyebut sumber air yang ada di tempat-tempat umum itu fountain. Tinggal tekan tombol, air akan muncrat ke atas. Orang tinggal menadahnya dengan mulut. Dahaga pun lenyap.

Di rumah-rumah pun demikian. Orang tinggal membuka keran lalu menadahnya dengan gelas dan meminumnya. Orang tidak perlu takut akan menderita sakit perut. Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi, karena air sudah disterilkan dengan teknologi filterisasi.

Teknologi filterisasi ini membuat air murni dan aman diminum tanpa harus direbus terlebih dahulu. Dengan teknologi ini, air terbebas dari kandungan-kandungan, baik bakteri maupun ion-ion atau logam-logam yang ada dalam air. Teknologi filterisasi ini bahkan bisa mengubah air laut menjadi air minum yang bersih. Secara sepintas, air yang ada bisa jadi terlihat segar dan bersih, berwarna biru cerah. Tetapi kita mesti tetap memastikan bahwa air itu murni, sehingga aman diminum.

Sahabat, hidup rohani manusia mesti selalu mengalami pembersihan. Kita membersihkan hidup kita dari berbagai kotoran, akibat dari dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Sadar atau tidak, dosa dan kejahatan senantiasa mengancam hidup rohani kita. Kita telah berjuang untuk menghindari dosa dan kejahatan itu. Namun tetap saja kelemahan daging kita, membuat kita jatuh ke dalam dosa dan kejahatan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup rohani kita juga mesti murni. Kita mesti murni seperti air yang bisa langsung diminum dari keran. Memang, tidak mudah. Kita punya kecenderungan untuk melakukan dosa dan kesalahan. Santo Paulus mengatakan bahwa roh memang kuat, tetapi daging kita lemah.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kita mesti menimba kekuatan dari Tuhan. Kita mohon kekuatan rahmat, agar kita menjadi kuat dalam perjalanan mengarungi hidup ini. Orang yang kuat itu orang yang selalu mengandalkan rahmat Tuhan. Orang yang murni hatinya itu orang yang senantiasa mengharapkan bantuan dari Tuhan untuk memurnikan hatinya.

Soalnya adalah manusia ingin berjuang sendiri. Manusia merasa dirinya mampu memurnikan hati dan hidupnya. Karena itu, manusia menolak bantuan dari rahmat Tuhan. Manusia tidak mau peduli terhadap kebaikan dan belas kasih Tuhan. Akibatnya, manusia mudah jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Manusia terjerembab ke dalam bahaya kematian jiwanya.

Mari kita mengandalkan rahmat dan belas kasih Tuhan. Dengan demikian, hidup kita dimurnikan oleh rahmat Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang kuat berkat kerahiman Tuhan atas diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1074

13 Maret 2014

Bersama Tuhan, Mampu Mengatasi Persoalan Hidup



Mampukah Anda berjuang sendirian dalam mengatasi persoalan-persoalan Anda? Mungkin Anda mampu. Namun kemampuan Anda itu semu, karena Tuhan senantiasa menolong Anda dalam menghadapi persoalan-persoalan Anda.

Suatu malam yang dingin, seorang bapak bermimpi. Dalam mimpi itu, ia melihat sebuah gelas besar yang diisi dengan gelas lebih kecil. Sebuah kelereng diletakkan di dalam gelas yang kecil berisi air, lalu ditutup rapat. Gelas besar lalu diisi dengan air hingga hampir penuh.

Lantas ada tangan yang mulai mengaduk-aduk gelas besar itu. Air mulai bergolak. Ada sebagian air yang tumpah. Semakin kuat adukannya, semakin besar pula air bergolak dan semakin banyak pula air yang tumpah ke luar. Tetapi gelas kecil dengan kelereng di dalamnya terlihat tetap tenang seperti tidak mengalami apa-apa. Tidak ada yang tumpah, meski di luar air tengah tergoncang ke sana ke mari.

Bapak itu kemudian terbangun. Ia bingung mengartikan mimpinya. Setelah beberapa saat, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Kemudian ia duduk di pinggir tempat tidurnya. Ia berdoa memohon ketenangan batin. Ia berkata, “Tuhan, semoga ini hanya sebuah mimpi. Semoga tidak terjadi apa-apa dalam hidup saya hari ini. Terima kasih, Tuhan, atas pernyertaanMu selama malam yang telah lewat.”

Sahabat, sering manusia ikut tergoncang oleh kegoncangan yang terjadi di sekitarnya. Mengapa? Karena manusia mudah diombang-ambingkan. Manusia mudah mengalami kecemasan dalam hidupnya oleh situasi di sekitarnya. Akibatnya, manusia sering mengalami duka nestapa dalam hidupnya.

Mimpi di atas mau mengatakan kepada kita bahwa meski terjadi banyak kegoncangan dalam hidup ini, kita mesti tetap bertahan. Ada berbagai persoalan yang kita hadapi, tetapi kalau kita hadapi dengan tenang, kita akan menemukan jalan keluar. Tuhan pasti membantu kita dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup.

Kita mesti menyadari bahwa hidup ini tidak selamanya berjalan dengan mulus. Ada saat orang berada di puncak kejayaannya. Tetapi ada juga saat orang terpuruk dalam kehidupannya. Dalam kondisi seperti itu, orang mesti tetap bertahan. Orang tidak perlu menyombongkan diri di kala sukses menyertai kehidupannya. Orang pun tidak perlu merasa ditinggalkan oleh Tuhan saat dirinya berada dalam keterpurukan.

Orang beriman itu orang yang selalu percaya akan penyelenggaraan Tuhan. Orang yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam setiap peristiwa hidupnya. Memang, tidak mudah orang mau menyertakan Tuhan dalam hidupnya. Mengapa? Karena manusia memiliki egoisme dan gengsi. Dua hal ini mengatakan bahwa manusia bisa berjuang sendiri, tanpa pertolongan dari Tuhan. Manusia mampu mengatasi segala persoalan yang dihadapinya.

Tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan begitu saja. Memang, manusia mampu melakukan apa saja untuk dirinya sendiri. Tetapi kemampuan itu hanya semu, karena Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Kekuatan Tuhan yang menuntun manusia menuju kesuksesan dalam hidupnya.

Mari kita tetap setia kepada Tuhan dengan menerima pertolongan dari Tuhan. Kita juga mensyukuri kebaikanNya, karena Tuhan senantiasa berjalan bersama kita dalam kehidupan ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1073

Andalkan Rahmat Tuhan untuk Memurnikan Hati

Hati setiap orang mesti dimurnikan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan yang penuh tantangan di dunia ini. Namun sering manusia tergoda untuk mengandalkan dirinya sendiri.

Ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di Amerika Serikat, tahun 1994, saya terkejut menyaksikan orang-orang minum air langsung dari keran. Mereka menyebut sumber air yang ada di tempat-tempat umum itu fountain. Tinggal tekan tombol, air akan muncrat ke atas. Orang tinggal menadahnya dengan mulut. Dahaga pun lenyap.

Di rumah-rumah pun demikian. Orang tinggal membuka keran lalu menadahnya dengan gelas dan meminumnya. Orang tidak perlu takut akan menderita sakit perut. Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal itu bisa terjadi, karena air sudah disterilkan dengan teknologi filterisasi.

Teknologi filterisasi ini membuat air murni dan aman diminum tanpa harus direbus terlebih dahulu. Dengan teknologi ini, air terbebas dari kandungan-kandungan, baik bakteri maupun ion-ion atau logam-logam yang ada dalam air. Teknologi filterisasi ini bahkan bisa mengubah air laut menjadi air minum yang bersih. Secara sepintas, air yang ada bisa jadi terlihat segar dan bersih, berwarna biru cerah. Tetapi kita mesti tetap memastikan bahwa air itu murni, sehingga aman diminum.

Sahabat, hidup rohani manusia mesti selalu mengalami pembersihan. Kita membersihkan hidup kita dari berbagai kotoran, akibat dari dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat. Sadar atau tidak, dosa dan kejahatan senantiasa mengancam hidup rohani kita. Kita telah berjuang untuk menghindari dosa dan kejahatan itu. Namun tetap saja kelemahan daging kita, membuat kita jatuh ke dalam dosa dan kejahatan.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa hidup rohani kita juga mesti murni. Kita mesti murni seperti air yang bisa langsung diminum dari keran. Memang, tidak mudah. Kita punya kecenderungan untuk melakukan dosa dan kesalahan. Santo Paulus mengatakan bahwa roh memang kuat, tetapi daging kita lemah.

Untuk itu, yang dibutuhkan adalah kita mesti menimba kekuatan dari Tuhan. Kita mohon kekuatan rahmat, agar kita menjadi kuat dalam perjalanan mengarungi hidup ini. Orang yang kuat itu orang yang selalu mengandalkan rahmat Tuhan. Orang yang murni hatinya itu orang yang senantiasa mengharapkan bantuan dari Tuhan untuk memurnikan hatinya.

Soalnya adalah manusia ingin berjuang sendiri. Manusia merasa dirinya mampu memurnikan hati dan hidupnya. Karena itu, manusia menolak bantuan dari rahmat Tuhan. Manusia tidak mau peduli terhadap kebaikan dan belas kasih Tuhan. Akibatnya, manusia mudah jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Manusia terjerembab ke dalam bahaya kematian jiwanya.

Mari kita mengandalkan rahmat dan belas kasih Tuhan. Dengan demikian, hidup kita dimurnikan oleh rahmat Tuhan. Kita menjadi orang-orang yang kuat berkat kerahiman Tuhan atas diri kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1074

12 Maret 2014

Menghadapi Hidup dengan Penuh Iman



Apa yang terjadi ketika Anda menghadapi hidup ini dengan penuh kecemasan? Saya yakin, ada banyak hal negatif yang akan terjadi dalam hidup Anda.

Pada suatu kali seorang pengusaha merasa takut melihat kondisi perekonomian negeri ini. Ia menilai, perekonomian negeri ini semakin lama semakin buruk. Pemerintah selalu mengumandangkan tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi makro, tetapi faktanya di lapangan daya beli semakin menurun.

Ia berkata, “Harga-harga melambung tinggi. Uang yang masuk tetap sama, jika tidak malah berkurang. Harga daging sempat dikatakan tertinggi di dunia, lantas bandingkanlah pendapatan per kapita kita dengan negara-negara lain. Ini bisa menimbulkan kekuatiran bagi banyak orang, terutama kalangan menengah ke bawah yang akan terkena dampak terbesar dari situasi ini.”

Rasa kuatir terus-menerus timbul dalam hatinya. Tidak mau terus-terusan merasa cemas, ia pun kemudian berdoa dan kemudian tertidur pulas. Ketika bangun, ia merasa lega. Tetapi kemudian ia mulai merasa cemas lagi, karena persoalan perekonomian nasional tidak juga membaik. Bahkan akhir-akhir ini nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat anjlok. Pengimpor tidak berdaya lagi untuk mengimpor kedelai yang menjadi bahan baku bagi tempe dan tahu.

Sahabat, sepertinya manusia mesti selalu berjudi atas kehidupan ini. Manusia mesti berusaha untuk hidup baik dengan ekonomi yang memadai. Tetapi skala besar perekomonian negeri ini juga berpengaruh terhadap kehidupan pribadi manusia secara ekonomis. Daya beli semakin menurun, karena harga barang-barang kebutuhan hidup semakin tinggi. Pertanyaannya, bagaimana manusia bias hidup sejahtera dengan kondisi ekonomi yang kian terpuruk?

Yang mesti dilakukan manusia adalah tidak cepat panik terhadap situasi perekonomian nasional yang tidak menentu. Orang mesti dengan hati-hati mencermati perkembangan, sehingga ketika ada peluang positif, orang berani membenahi diri. Dengan demikian, orang tidak perlu cemas berkepanjangan.

Kisah pengusaha yang cemas di atas memberi kita peringatan bahwa orang mesti berani menghadapi kehidupan ini. Ada berbagai resiko yang mesti ditanggung, namun orang mesti tetap tenang. Ketenangan akan membantu orang untuk terus-menerus memperbaiki kondisi kehidupannya. Tentu saja orang mesti menjalani kehidupan ini dengan penuh iman kepada Tuhan.

Orang beriman selalu tidak melupakan Tuhan dalam perjalanan hidupnya. Mengapa? Karena hidup ini adalah milik Tuhan. Tuhan yang empunya kehidupan ini. Karena itu, berserah diri kepada Tuhan berarti orang berani menghadapi resiko-resiko kehidupan ini. Orang berani mempercayakan hidupnya kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

Memang, tidak gampang orang mau berserah diri kepada Tuhan. Banyak orang merasa gengsi. Banyak orang merasa bahwa dirinya mampu menghadapi berbagai gejolak kehidupan ini. Akibatnya, mereka dengan gagah perkasa mengandalkan kemampuan diri mereka.

Mari kita menyiapkan diri kita untuk menerima rahmat demi rahmat dari Tuhan, karena kita manusia lemah dan tak berdaya. Dengan demikian, hidup ini menjadi kesempatan untuk menciptakan kebahagiaan dan kedamaian bersama Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT


1072

11 Maret 2014

Menjalani Proses Kehidupan dengan Berani Berkorban



Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tantangan. Namun sering banyak orang menghindari tantangan. Mereka memilih menjalani hidup ini dengan cara yang biasa-biasa saja. Akibatnya, banyak orang mengalami kejenuhan dalam hidup ini. Mereka begitu cepat putus asa.

Suatu ketika seorang suami menemani istrinya yang sedang membuat kue di dapur. Suami itu menyaksikan sang istri mengocok campuran beberapa bahan baku. Sang istri mengocoknya dengan penuh kesabaran, agar adonan kue bisa menjadi bagus. Sambil tersenyum sang suami berkata kepadanya bahwa pekerjaan itu terlihat melelahkan dan tampaknya membosankan.

Sambil menatap suaminya dengan senyuman, sang istri berkata, “Meski pegal, hal ini akan menentukan berhasil tidaknya kue yang akan dibakar.”

Setelah beberapa waktu, sang suami mulai melihat hasilnya. Pada saat disajikan, kue itu terasa lezat dan bagus bentuknya. Kue itu sukses dibuat.

Sambil mencicipi potongan kue itu, sang pun berpikir bahwa proses pembuatan kue hingga bisa dinikmati ini menggambarkan proses kehidupan. Kesabaran memberikan hasil yang baik dan enak untuk dinikmati. Meski dilalui dengan pegal dan capek, orang mesti menjalani proses kehidupannya.

Sahabat, hidup selalu menyita perhatian manusia. Hidup selalu meminta manusia untuk berani berkorban. Korban membuat orang capek dalam menjalani proses kehidupan. Korban menuntut kesabaran, karena korban akan mendatangkan sukacita dalam kehidupan ini. Orang yang berani bersabar dalam kehidupannya akan menemukan hidup ini begitu indah dan nikmat.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kue itu baru bisa menjadi enak dan nikmat setelah ada jari-jemari yang rela mengocoknya. Kalau tidak ada yang berani berkorban, bahan-bahan baku tetaplah seperti itu. Tidak akan berubah bentuknya. Tepung akan tetap berada dalam bungkusnya. Telur akan tetap berada dalam cangkangnya. Gula tidak akan pernah berubah menjadi kue yang manis.

Ketika ada tangan yang mau bergerak untuk mencampur bahan-bahan baku itu dan mengocoknya, kue yang enak dan nikmat dapat tersaji di atas meja. Lidah-lidah dapat mencicip enaknya kue. Namun semua itu butuh korban. Semua itu butuh kesabaran dalam melakukan suatu kebaikan bagi kehidupan ini.

Banyak orang kurang sabar dalam menjalani proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat-cepat menjadi orang yang kaya raya. Mereka ingin menjadi orang yang bahagia dalam sekejap. Tentu saja ini hanya mimpi. Tidak ada yang instant dalam kehidupan ini. Tidak ada yang mendadak terjadi dalam kehidupan ini. Semua mesti melalui proses. Dalam proses itu, terjadi korban yang mesti dilalui dengan penuh kesabaran.

Karena itu, mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Orang yang hanya mau enaknya saja sering terjebak dalam kebingungan. Lantas kegalauan menjadi bagian dari kehidupannya. Orang beriman itu orang yang berani berkorban untuk meraih kebahagiaan dalam hidupnya. Mari kita menjalani proses kehidupan ini dengan penuh kesabaran. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup ini sungguh-sungguh memiliki makna yang mendalam. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

1071