Pages

08 Juli 2010

Tuhan tetap Peduli terhadap Hidup Kita

Kebaikan Tuhan tampak dalam hidup sehari-hari. Ketika manusia mengalami kesulitan dalam hidup, Tuhan membantu. Tuhan tidak tinggal diam. Tuhan senantiasa mengulurkan bantuan kepada manusia. Hal ini terjadi dalam hidup para murid Yesus. Suatu kali perahu mereka diterpa taufan yang dahsyat.

Sayang, ketika taufan itu menerpa perahu mereka, Yesus sedang tidur nyenyak di buritan kapal. Karena itu, mereka panik. Mereka tidak tahu harus buat apa. Mereka tidak dapat mengandalkan kekuatan diri mereka sendiri.

Karena itu, mereka mencari dan membangunkan Yesus. Dengan penuh harapan mereka meminta bantuan kepada Yesus. Mereka ingin selamat sampai di seberang. Mereka tidak ingin mati tenggelam begitu saja di danau itu. Mereka masih ingin belajar tentang kebenaran dan kebaikan kepada Yesus. Mereka memaksa Yesus. Bahkan mereka menuduh Yesus tidak peduli terhadap keadaan mereka.

Ternyata Tuhan tetap peduli terhadap kehidupan manusia. Dalam diri Yesus, Tuhan ingin tetap mengungkapkan kasih setia dan penyertaanNya terhadap hidup manusia. Tuhan tidak inginkan manusia berjuang sendirian di dunia ini. Karena itu, ia turun tangan. Yesus menghardik taufan yang ganas itu. Yesus menenangkan danau yang sedang diamuk oleh taufan itu. Dengan demikian, terjadi suatu kedamaian dalam diri para murid. Mereka menemukan bahwa Tuhan begitu baik. Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia berjuang sendiri di dunia ini.

Di dunia ini banyak orang menyangsikan kuasa Tuhan. Orang bertanya, mampukah Tuhan membantu mereka dalam kesulitan hidup? Ketika manusia mengalami kehidupan yang agak kurang menyenangkan, sering manusia menuduh Tuhan tidak mau membantu. Tuhan tidak peduli terhadap hidup mereka. Akibatnya, banyak orang lari dan mencari bantuan dari hal-hal gaib.

Mereka merasa bahwa hal-hal itu akan dapat membantu mereka. Ternyata tidak. Justru mereka tetap dibuat penasaran. Mereka tidak mendapatkan bantuan apa-apa. Justru yang didapatkan adalah ketidakdamaian. Mengapa? Karena Tuhan tidak bekerja dalam situasi hidup seperti itu. Kehadiran Tuhan ditolak oleh manuisa.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti mengutamakan kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Mengapa? Karena kehadiran Tuhan itu membahagiakan manusia. Tuhan tidak ingin melukai hati manusia. Tuhan menghendaki agar kita senantiasa setia kepadaNya. Kesetiaan itu memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam hidup ini.

Mari kita tetap datang kepada Tuhan. Setiap kali kita mengalami kesulitan, baiklah kita mencari Tuhan. Kita meminta bantuan kepada Tuhan untuk dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

432


Bagikan

07 Juli 2010

Berusaha Memurnikan Cinta Kasih

Ada seorang ibu yang bekerja begitu rajin. Pagi-pagi buta ia sudah bangun. Ia membersihkan rumah. Ia merebus air dan mengisinya di dalam termos-termos, sehingga tetap panas. Ia memasak untuk sarapan bagi suami dan anak-anaknya. Ia lakukan semua itu dengan cinta yang mendalam kepada keluarganya. Ia ingin agar tidak ada seorang pun yang menderita kekurangan di dalam keluarganya.

Ketika ditanya tentang kegiatannya, ia menjawab, “Ini panggilan hidup saya sebagai orang beriman. Saya lakukan semua ini sebagai cinta saya kepada sesama. Inilah hidup. Kita mesti melayani sesama.”

Ibu itu mengorbankan hidupnya untuk sesamanya, terutama untuk orang-orang yang terdekat dengannya. Ia merelakan hidupnya untuk kebahagiaan sesamanya. Ia ingin agar orang lain mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia berkata, “Saya tidak merasa terbebani dengan melakukan semua ini. Ini semua untuk kebahagiaan mereka. Saya lakukan semua ini dengan setulus hati. Tuhan yang membantu saya melakukan semua ini. Tanpa bantuan Tuhan, saya tidak bisa buat apa-apa.”

Kita semua dipanggil untuk melakukan kebaikan bagi sesama kita. Kebaikan itu bersumber dari pengorbanan yang kita lakukan bagi sesama. Ada kalanya orang mengeluh tentang beratnya suatu pengorbanan. Tetapi ada kalanya orang merasa gembira atas pengorbanan yang dilakukan bagi sesamanya. Kisah ibu di atas menunjukkan kepada kita bahwa kasih terhadap sesama mesti dilakukan dengan hati yang tulus. Tanpa pamrih. Orang yang berkorban bagi sesamanya dengan tulus akan menemukan sukacita dan damai dalam hidupnya.

Sayang, di dunia ini masih ada orang yang melakukan sesuatu dengan terpaksa. Banyak perhitungan untung rugi yang dibuat. Tentu saja hal seperti ini menumbuhkan kasih yang tidak sehat. Orang mau peduli terhadap sesamanya hanya demi kepentingan dirinya sendiri. Kalau hal ini terus-menerus terjadi dalam hidup bersama, kita akan mengalami kegagalan dalam hidup. Cinta kasih yang kita tunjukkan hanya karena terpaksa. Bukan karena ketulusan hati kita.

Karena itu, orang yang sungguh-sungguh mencintai sesamanya itu orang yang memiliki kerelaan yang tinggi untuk berkorban. Orang seperti ini menampakkan Tuhan yang tetap hidup dalam dirinya. Tuhan yang senantiasa memiliki kepedulian terhadap manusia. Tuhan yang ingin terlibat dalam suka duka hidup manusia. Tuhan yang tidak membiarkan manusia berjuang sendiri di dunia ini.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk memiliki cinta kasih yang tulus terhadap sesama kita. Artinya, apa yang kita lakukan untuk sesama kita itu tanpa memperhitungkan untung rugi. Kita lakukan melulu untuk kebahagiaan sesama. Mari kita senantiasa berusaha untuk memurnikan cinta kasih dalam hidup ini. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

431


Bagikan

06 Juli 2010

Dalam Ketidakberdayaan, Memohon Pertolongan

Suatu hari saya terkesan menyaksikan seorang anak penjual koran di perempatan jalan. Begitu lampu merah menyala, ia langsung mendatangi setiap mobil. Ia menawarkan koran yang dibawanya itu kepada setiap pengendara mobil. Ia berteriak, “Koran... Jangan lewatkan berita hangat hari ini....”

Begitu ia sampai pada saya, saya memberikan senyum manis kepadanya. Ia menyodorkan koran hari itu kepada saya. Ia berkata, “Pak, tolong saya. Buat nambah uang sekolah...”

Saya terkesan mendengar kata-kata yang tulus keluar dari mulut bocah kelas lima SD itu. Saya pun langsung menyodorkan uang lima ribu rupiah untuk koran seharga dua ribu rupiah. Ketika ia hendak mengembalikan sisanya, saya menolaknya. Saya berkata, “Itu untuk tambahan uang sekolahmu. Bekerjalah yang baik, ya...”

Anak itu membalas kata-kata saya dengan senyum lalu melanjutkan pekerjaannya menawarkan koran kepada pengendara berikutnya. Ia mendapatkan apa yang ia harapkan. Ia dapat melanjutkan sekolahnya. Berkat kerja kerasnya itu, anak itu dapat berhasil dalam sekolahnya. Ia mampu membiayai sendiri sekolahnya berkat kerjanya yang tekun itu.

Ketekunan dalam bekerja dapat mendatangkan hasil yang berlimpah bagi kehidupan manusia. Iman yang hidup itu tampak dalam diri orang yang berani bekerja dengan tekun dan penuh pengharapan. Anak dalam kisah di atas berani mempertaruhkan hidupnya untuk masa depannya yang cerah. Ia tidak hanya bermalas-malasan saja. Ia ingin meneteskan keringatnya di perempatan jalan demi hidupnya.

Karena itu, ia berani memohon pertolongan. Ia berani mengungkapkan ketidakberdayaannya kepada sesamanya. Dengan meminta itu, ia mau mengatakan kepada orang lain bahwa ia memiliki ketergantungan kepada orang lain. Orang seperti ini biasanya tidak menyombongkan dirinya ketika ia berhasil dalam hidupnya. Orang seperti ini akan dengan mudah mensyukuri kebaikan Tuhan dan sesama terhadap dirinya.

Untuk itu, orang mesti tetap setia pada komitmen dalam hidupnya. Orang mesti berani bertahan dalam pekerjaannya untuk meningkatkan kualitas hidup. Orang seperti ini orang yang yakin bahwa Tuhan tetap setia dan mengasihi dirinya.

Sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa bertekun dalam iman kita kepada Tuhan. Ketekunan itu ditunjukkan dalam karya yang nyata. Ketekunan itu terjadi, ketika orang tidak mudah menyerah pada situasi hidupnya. Orang terus-menerus berjuang untuk menggapai cita-cita yang diinginkan. Mari kita terus berusaha, agar kualitas hidup kita menjadi lebih baik. Dengan demikian, kita menjadi lebih berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


430

Bagikan

05 Juli 2010

Menyadari Keterbatasan Hidup

Seorang teman merasa beruntung ia dapat memainkan keyboard dengan sangat baik. Bersamaan dengan itu, ia dapat melantunkan lagu-lagu merdu yang dapat dinikmati oleh banyak orang. Karena itu, teman saya itu merasa bersyukur kepada Tuhan atas anugerah bakat yang begitu besar kepadanya. Ia tidak menjadi besar kepala dengan kemampuannya itu. Bahkan ia terus-menerus belajar untuk semakin trampil dalam bermain keyboard.

Waktu-waktu luang selalu ia gunakan untuk bermain keyboard yang ada di rumahnya. Dengan cara itu, ia semakin lancar dan trampil. Tetapi teman saya itu juga sadar bahwa ia hanya dapat bermain keyboard dengan baik kalau listrik tidak menjadi masalah. Menurutnya, alat-alat elektronik seperti yang digunakanya itu sangat tergantung pada listrik. Tanpa listrik, ia tidak dapat bermain keyboard dengan baik.

Karena itu, ia pun merasa bersyukur atas anugerah energi listrik yang tersedia itu. Ia berkata, “Kita manusia mesti selalu bersyukur atas kebaikan Tuhan yang begitu melimpah kepada kita. Tuhan telah menyediakan semua hal untuk kita pakai. Karena itu, kita mesti menggunakannya dengan sebaik-baiknya bagi kemajuan diri kita dan sesama.”

Betapa dalam iman teman saya itu. Segala sesuatu ia lihat dalam kacamata kebaikan Tuhan atas hidup manusia. Ia pasrahkan hidupnya kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya, ia serahkan kepada Tuhan. Baginya, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk berbakti kepada Tuhan.

Ketergantungan kepada sesama dan hal-hal yang ada di sekitar kita menunjukkan bahwa manusia itu makhluk yang terbatas. Keterbatasan diri manusia itu mesti selalu menyadarkan kita bahwa kita hanya dapat bertumbuh dan berkembang berkat bantuan orang lain.

Sering banyak orang merasa bahwa mereka hidup tanpa bantuan orang lain. Mengapa? Karena mereka merasa, mereka sendiri dapat melakukan segala-galanya. Mereka merasa, mereka makhluk yang tak terbatas. Tentu saja pandangan seperti ini tidak benar. Sifat makhluk itu terbatas. Kita manusia juga adalah makhluk yang terbatas. Karena itu, kita membutuhkan orang lain dan hal-hal lain untuk melengkapi kekurangan-kekurangan kita.

Karena itu, dibutuhkan suatu kemampuan untuk menyadari keterbatasan kita di hadapan Tuhan dan sesama. Orang yang mampu menyadari keterbatasan dirinya akan dapat menerima kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Orang seperti ini biasanya terbuka kepada kehendak Tuhan. Orang seperti ini mampu membiarkan kehendak Tuhan terjadi dalam dirinya.

Sebagai orang beriman, mari kita berusaha terus-menerus untuk menyadari keterbatasan kita di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang dapat membuka hati kita terhadap kehendak dan kasih Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



429

Bagikan

04 Juli 2010

Mengenal Tuhan dalam Hidup

Suatu kali seorang bapak bercerita bahwa ia beruntung dapat mengenal Tuhan. Artinya, ia beruntung memiliki iman kepada Tuhan. Sebelum dia mengenal Tuhan, ia merasa bahwa hidupnya itu tidak berarti apa-apa. Tidak ada makna. Ia hidup dan bekerja, tetapi tidak memiliki makna sama sekali. Karena itu, ia sering bingung dalam hidup ini. Ia merasa tidak punya pegangan apa-apa. Pikirannya sering kosong. Tidak ada sesuatu pun yang nyangkut di kepalanya.

Karena itu, ia berusaha untuk mencari Tuhan. Ia ingin mengenal Tuhan secara lebih dekat. Ia ingin hidupnya ini memiliki makna yang mendalam. Ia ingin lebih berguna bagi banyak orang. Ia ingin hidup terarah kepada Tuhan. Setelah lama mencari Tuhan, ia menemukan Tuhan ternyata begitu baik terhadapnya. Selama ini ia mengalami perlindungan dari Tuhan atas dirinya. Usaha-usahanya yang berhasil baik itu ternyata berkat karunia Tuhan.

Ia mensyukuri kasih karunia Tuhan itu. Ia pun semakin mendalami imannya. Ia memberikan dirinya kepada Tuhan. Ia yakin, dengan cara itu, ia dapat mengalami sukacita dan damai dalam hidup ini. Ia merasakan sukacita dan damai itu hadir dalam keluarganya. Ketika sebelum mengenal Tuhan, ia sering bertengkar dengan istrinya. Kini ia merasakan damai dan ketenteraman senantiasa menyertai hidupnya.

Pengenalan akan Tuhan menjadi suatu keharusan bagi setiap orang beriman. Ketika orang beriman sungguh-sungguh mengenal Tuhan, damai dan sukacita menjadi bagian hidup mereka. Untuk itu, orang beriman mesti menyerahkan seluruh hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Orang beriman mesti berani membiarkan dirinya dikuasai dan dituntun oleh Tuhan. Hanya dengan cara ini, orang beriman akan memiliki damai dan sukacita itu.

Karena itu, orang mesti berani mengubah cara hidup dan cara pandangnya tentang Tuhan. Orang beriman mesti yakin bahwa hanya Tuhan yang mampu membantu dirinya. Hanya Tuhan yang mampu memberikan kebahagiaan bagi hidupnya. Tidak ada kekuatan lain yang mampu memberikan kebahagiaan itu.

Mengapa banyak orang mengalami ketidakbahagiaan di dunia ini? Karena banyak orang hanya mau mengerjakan apa yang menjadi ambisi pribadinya. Banyak orang tidak mendengarkan kehendak Tuhan atas dirinya. Tuhan punya rencana terhadap setiap orang. Tuhan menghendaki agar setiap orang mengalami sukacita dan damai. Soalnya adalah banyak orang hanya mengutamakan egoismenya sendiri. Banyak orang tidak mendengarkan dengan baik apa rencana Tuhan bagi dirinya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa mengenal Tuhan secara lebih dekat itu membawa damai bagi hidup kita. Karena itu, orang beriman mesti mengesampingkan kehendak pribadinya, ambisi pribadinya. Orang beriman mesti mengutamakan kehendak Tuhan terjadi dalam hidupnya. Dengan demikian, hidup ini menjadi sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan. Hidup ini menjadi berkat bagi diri sendiri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

428
Bagikan

03 Juli 2010

Tuhan Menguasai Manusia dengan Kasih

Ada seorang bapak jatuh sakit. Ia menderita suatu penyakit misterius yang sangat mengganggu kondisi tubuhnya. Ia mesti berhenti bekerja. Sakitnya itu berbulan-bulan lamanya. Melihat kondisi itu, istrinya menjadi panik. Soalnya, suaminya itulah satu-satunya tulang punggung keluarga. Kalau suaminya tidak bekerja, apalagi dalam waktu yang lama, kondisi ekonomi keluarga akan berbahaya.

Karena itu, istrinya berusaha sekuat tenaga, agar suaminya itu dapat sembuh. Ia membawanya ke rumah sakit yang baik. Dokter-dokter berusaha untuk mengobati penyakitnya. Mereka berusaha agar suaminya dapat sembuh kembali. Tetapi rupanya pengobatan yang dijalani itu tidak mujarab. Suaminya tidak kunjung sembuh. Sang istri semakin bingung. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan suaminya?

Dalam keadaan bingung seperti itu, teman-temannya datang berkunjung. Mereka menasihati ibu itu untuk membawa suaminya kepada orang pintar alias dukun. Menurut mereka, suami ibu itu kena sihir atau ilmu gaib dari orang yang membencinya.

Tetapi ibu itu tidak mau. Ia tetap bertahan pada pendiriannya bahwa suaminya menderita penyakit yang bisa disembuhkan. Ia tidak mau membawa suaminya kepada orang pintar atau dukun. Baginya, Tuhan adalah andalan hidupnya. Tuhan yang harus disembah oleh manusia. Tuhan lebih berkuasa dari segala sesuatu yang ada di bawah kolong langit ini. Berkat keteguhan imannya itu, beberapa bulan kemudian suaminya sembuh. Suaminya dapat bekerja kembali.

Dalam hidup ini banyak godaan yang bisa saja datang kepada kita dalam situasi apa pun. Apalagi ketika kita mengalami dukacita dalam hidup ini. Dalam kondisi seperti itu, orang gampang jatuh ke dalam godaan-godaan. Orang mudah termakan oleh bujuk rayu dari orang lain.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa penyerahan diri kepada Tuhan merupakan satu-satunya jalan bagi kebahagiaan manusia. Iman kepada Tuhan itu mesti tampak dalam hidup sehari-hari. Orang tidak boleh mudah tergoda oleh bujuk rayu dari orang lain yang menawarkan kebahagiaan semu. Ketegaran dalam iman yang mendalam kepada Tuhan itu mampu membawa orang kepada keselamatan.

Orang yang bertahan di hadapan Tuhan akan menemukan kebahagiaan yang langgeng. Banyak orang masih meragu-ragukan kuat kuasa Tuhan. Banyak orang belum percaya bahwa Tuhan mampu memberikan kesembuhan bagi manusia. Banyak orang belum yakin akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidup mereka. Mengapa bisa terjadi? Karena manusia ingin mencapai apa yang diinginkannya secara mudah dan cepat. Orang kurang sabar dalam meniti hari-hari hidup mereka.

Orang yang berpegang teguh pada Tuhan itu seperti orang-orang yang menggotong seorang yang lumpuh. Mereka membawanya kepada Yesus, agar orang lumpuh itu disembuhkan. Namun karena tidak ada jalan untuk sampai kepada Yesus, mereka membongkar atap rumah di mana Yesus sedang mengajar. Mengapa mereka lakukan itu? Karena mereka sadar bahwa hanya Tuhan Yesus mampu memberi kesembuhan. Hanya Tuhan Yesus yang mampu mereka andalkan.

Karena iman yang begitu besar, Yesus berkata kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!”

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan Yesus dapat melakukan apa saja bagi kebahagiaan hidup kita. Tuhan menguasai manusia dengan kasih. Tuhan tidak menuntut balasan dari manusia atas segala sesuatu yang telah diberikanNya untuk kehidupan manusia. Yang dikehendaki Tuhan hanyalah kebahagiaan dan damai bagi manusia. Karena itu, mari kita datang mendekat kepada Tuhan. Kita berikan seluruh hidup kita kepada kuasaNya. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


427

Bagikan

02 Juli 2010

Menjadi Terang bagi Sesama

Di lautan lepas biasanya terdapat beberapa mercusuar. Fungsi mercusuar adalah menjadi tanda bahwa di tempat tertentu terdapat karang atau tempatnya sangat dangkal, sehingga tidak bisa dilewati oleh kapal besar. Kalau sampai mercusuar itu mati, akibatnya akan sangat fatal bagi kehidupan manusia. Nahkoda kapal tidak bisa membelokkan kapal dari karang. Akibatnya, kapal dapat menabrak karang dan bisa mengalami karam atau tenggelam.

Karena itu, kehadiran mercusuar sangat penting di laut lepas. Fungsinya untuk menyelamatkan nyawa manusia dari kecelakaan. Nahkoda kapal yang melihat mercusuar akan langsung menghindari kapal dari daerah itu. Lampunya yang bersinar terang sangat berguna bagi para nahkoda untuk mengarahkan kapal ke tempat yang aman.

Kita hidup dalam tanda-tanda. Kita membutuhkan tanda-tanda itu untuk keselamatan dan kesejahteraan hidup kita. Tanda-tanda itu dapat menuntun manusia kepada kebaikan. Karena itu, tanda-tanda dalam hidup kita tidak bisa dianggap remeh. Tanda-tanda itu berguna untuk mengarahkan hidup kita kepada kebaikan.

Dalam salah satu pengajaranNya, Yesus mengatakan kepada para pendengarNya bahwa mereka adalah lampu atau pelita. Lampu itu mesti bernyala terus. Lampu itu mesti ditempatkan di tempat yang tinggi, agar dapat dilihat orang.

Orang beriman itu seperti lampu yang terus-menerus bernyala. Tetapi nyalanya itu berasal dari perbuatan-perbuatan baik yang ditunjukkan dalam hidup sehari-hari. Mengapa? Karena itulah kesaksian hidup orang beriman. Orang beriman mesti selalu memberi kesaksian tentang kebaikan kepada semua orang yang dijumpai.

Dalam hidup ini kita menyaksikan begitu banyak kejahatan terjadi di sekitar kita. Betapa banyak kejahatan yang kita saksikan di layar televisi. Kita juga membaca dalam surat kabar-surat kabar tentang kejahatan yang terjadi setiap hari di seantero dunia ini. Hati kita terasa sakit menyaksikan semua itu. Seolah-olah dunia ini hanya dipenuhi kejahatan. Mengapa kejahatan dapat terjadi dalam hidup manusia? Jawabannya adalah karena manusia lebih mencintai budaya kematian. Manusia membiarkan dirinya dipenuhi oleh kuasa kejahatan itu.

Karena itu, orang beriman mesti mengambil sikap yang lain. Orang beriman mesti berani melawan arus. Caranya adalah dengan menjadi terang bagi sesama. Orang beriman mesti menjadi terang bagi hidup sesamanya. Artinya, orang beriman mau memperjuangkan kehidupan dalam situasi yang nyata. Orang beriman mesti berani menjadi pembawa damai dan sukacita bagi kehidupan. Mari kita berusaha menjadi terang yang bercahaya terus-menerus untuk meredupkan setiap bentuk kejahatan. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



426

Bagikan

01 Juli 2010

Mencairkan Suasana Hidup yang Beku


Suatu hari di musim dingin di tahun 1994, saya terkagum-kagum melihat bulldozer yang mengeluarkan garam dari ‘pantatnya’. Bulldozer itu sedang membersihkan salju yang menumpuk di jalan raya. Setelah meminggirkan semua salju itu, buldozer lantas mengeluarkan garam. Ternyata garam itu berfungsi untuk mencairkan sisa-sisa salju yang masih ada di atas jalan aspal.

Dengan cara itu, jalan raya akan segera terbebas dari licin. Jalan pun menjadi enak untuk dilewati oleh kendaraan bermotor. Baru pertama kali itu saya menyaksikan hal seperti itu. Salju yang membeku berubah menjadi air yang mengalir ke parit. Garam yang asin itu membantu salju menjadi cair kembali.

Dalam salah satu pengajaranNya, Yesus mengatakan bahwa para muridNya adalah garam dunia. Kita tahu fungsi garam itu. Di dapur di rumah kita masing-masing biasanya tersedia garam untuk memasak. Makanan yang tidak diberi garam akan terasa hambar. Hanya bisa dimakan oleh mereka yang pantang makanan yang mengandung garam.

Karena itu, Yesus menekankan tentang pentingnya para murid hadir di dalam dunia seperti garam. Suatu kehadiran yang membuat suasana menjadi enak dan menyenangkan. Artinya, kehadiran orang beriman itu mesti membantu suasana di sekitarnya menjadi lebih baik. Kalau situasi di sekitar orang beriman itu kurang kondusif, orang beriman diajak untuk membuat situasi menjadi lebih baik. Kalau tidak ada damai, orang beriman mesti menjadi pembawa damai. Kalau ada kebekuan dalam membangun relasi, orang beriman kristiani diajak untuk mencairkannya dengan menampilkan kasih seluas-luasnya. Tentu saja tugas ini tidak mudah.

Pertanyaan bagi kita adalah mampukah kita menjadi orang-orang yang dapat mengubah situasi yang beku menjadi cair dan menyenangkan? Tentang hal ini, Yesus berkata, "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Tugas menjadi garam itu merupakan tugas semua orang di jaman sekarang ini. Di jaman sekarang ini, banyak peristiwa menyedihkan terjadi dalam hidup manusia. Ada kekerasan dalam rumah tangga. Ada permusuhan yang berlarut-larut bahkan terjadi di antara sesama saudara. Kurangnya semangat pengampunan menjadi salah satu sebab terjadinya berbagai peristiwa yang mengenaskan itu.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa menumbuhkan semangat untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Perubahan lingkungan di sekitar kita dapat terjadi kalau kita masing-masing mengubah cara hidup kita. Mari kita berusaha untuk hidup lebih baik. Dengan demikian, dunia sekitar kita dapat menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com
425

Bagikan

30 Juni 2010

Hati-hati terhadap Pujian

Selama musim kemarau, seorang gadis kecil membantu tetangganya. Ia menyiram bunga-bunga yang tumbuh di halaman tetangganya itu. Apalagi waktu itu tetangganya yang adalah seorang janda miskin sedang sakit. Bagi janda miskin itu, bunga-bunga itulah hartanya yang paling berharga. Gadis kecil itu tidak tega melihat bunga-bunga itu layu di senja hari. Ia lakukan semua itu tanpa sepengetahuan janda miskin itu.

Setelah sebulan sakit, janda miskin itu pun sembuh. Hal pertama yang ia lakukan ialah ia mendatangi bunga-bunganya. Dalam hati ia berpikir bahwa bunga-bunga itu sudah lama mati seperti dirinya yang terbaring lemah selama sebulan. Tetapi ia sangat terkejut begitu menyaksikan bunga-bunga segar yang tetap hidup di halaman rumahnya. Ia tidak habis pikir. Siapa yang telah memelihara bunga-bunganya itu.

Suatu sore ia mengintip dari lobang jendela, kalau-kalau ada orang baik yang telah menyiram bunga-bunganya itu. Benar. Ia menyaksikan seorang gadis kecil membawa sebuah ember berisi air. Setelah berada di halaman rumahnya, gadis kecil itu mulai menyirami bunga itu satu per satu. Janda itu tersenyum menyaksikan perbuatan baik gadis kecil itu.

Janda itu berdecak kagum akan kebaikan gadis kecil itu. Lantas ia membuka jendela yang membuat gadis itu terkejut. Ia berkata, “Hai gadis kecil, terima kasih. Kamu sudah baik sekali sama saya. Tuhan memberkati.”

Gadis kecil itu sangat terkejut mendengar suara janda tua itu. Ia pun tersenyum. Beberapa saat kemudian ia menyelinap pergi. Ia tidak ingin kebaikannya dipuji-puji oleh orang lain.

Kebaikan itu tidak mesti dilihat orang. Perbuatan baik itu juga tidak mesti diketahui oleh orang lain. Kisah gadis kecil yang peduli terhadap tetangganya itu dapat menjadi suatu inspirasi bagi kita untuk melakukan kebaikan dalam diam. Dalam ketersembunyian kita dapat melakukan berbagai hal yang baik bagi kepentingan sesama kita.

Kata orang, perbuatan baik yang dilakukan dalam diam biasanya membuahkan kebahagiaan yang berlipatganda bagi sesama. Perbuatan baik seperti ini biasanya jauh dari kepentingan-kepentingan pribadi. Orang melakukannya melulu demi kebahagiaan sesama. Tanpa suatu perhitungan untung rugi.

Persoalannya adalah banyak orang melakukan kebaikan untuk dipuji-puji oleh orang lain. Atau orang melakukan kebaikan hanya untuk dilihat orang. Padahal pujian itu sering membahayakan hidup manusia. Orang sering terpaku pada pujian itu. Orang merasa puas kalau dipuji. Kalau tidak ada pujian orang merasa hidupnya tidak berarti. Orang merasa bahwa apa yang dilakukannya itu tidak berguna apa-apa.

Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti hati-hati terhadap setiap bentuk pujian yang dialamatkan kepada kita. Mengapa? Karena pujian itu mendatangkan kerugian besar bagi manusia. Pujian dapat membuat manusia lupa diri. Pujian membuat manusia berhenti untuk melakukan kebaikan bagi sesamanya. Mari kita tetap bertahan dalam berbuat baik tanpa mengharapkan pujian dari sesama. Dengan demikian, kita dapat semakin kreatif dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

424

Bagikan

29 Juni 2010

Membangun Ketegaran Jiwa Rata Penuh


Beberapa waktu lalu ada seorang bocah dibuang oleh orangtuanya di dekat bak sampah di sebuah jalan di Surabaya. Bocah berusia tiga tahun itu mempunyai ciri-ciri bibir sumbing dan belum bisa berbicara.

Orangtua bocah itu menuliskan pesan di atas kertas yang ditempel di punggung anaknya. Bunyi pesan itu adalah ”Saya sudah tidak kuat lagi mengasuh anak ini. Semoga yayasan bhakti kasih bisa merawatnya. Terima kasih. Tuhan Memberkati.”

Kebetulan lokasi anak yang dibuang itu dekat dengan Yayasan Bhakti di Jalan Kutisari Indah Barat V nomor 36. Diperkirakan orangtuanya ingin menyerahkan bocah itu kepada pihak yayasan, tetapi enggan melakukannya.

Bocah ditemukan oleh seorang warga dengan kondisi baju dan celananya basah kuyup. Ia mengenakan baju warna merah dan celana pendek hitam. Setelah menemukan bocah itu, warga tersebut melaporkannya ke pihak polisi. Kini bocah tersebut berada di bawah asuhan Yayasan Bhakti Kasih Surabaya.

Kisah di atas membuat hati kita tersentuh oleh belas kasihan terhadap kehidupan. Ada orang yang tega menolak kehadiran buah hatinya. Ada orang yang punya hati yang begitu gampang menyerah pada situasi sulit. Semestinya orang berani mengambil resiko atas apa saja yang akan terjadi dalam hidup ini. Apalagi kelahiran seorang anak dalam keluarga tidak serta merta lahir begitu saja.

Hadirnya seorang anak di dalam keluarga sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum pernikahan suatu pasangan. Karena itu, sudah dapat dipastikan bahwa seorang anak lahir atas dasar cinta yang mendalam dari sepasang suami istri. Karena itu, ketika orang menolak kehadiran seorang anak dalam perkwinannya merupakan penolakan atas cintanya sendiri.

Tanggung jawab terhadap cinta kasih yang telah dirajut bersama menjadi berkurang nilainya. Orang hanya mau menerima yang baik dan menyenangkan saja. Orang enggan untuk menerima yang kurang baik dan menyusahkan dirinya. Akibatnya, yang kurang baik ditinggalkan. Yang menyusahkan diri dihindari. Lebih mudah melarikan diri dari tanggungjawab. Orang tidak berani menghadapi dan mengatasi kesulitan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti berani menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam hidup ini. Orang beriman itu orang yang berani menghadapi resiko dalam hidupnya. Orang beriman itu orang yang cerdas dalam mengelola hidupnya. Orang yang tidak menyerah begitu saja pada kenyataan hidup yang tidak mengenakkan. Orang beriman itu tegar dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

Ketika murid-murid Yesus menolak kedatangan anak-anak, Yesus berkata, “Biarlah anak-anak itu datang kepadaKu, sebab merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Yesus menerima anak-anak itu dan memberkati mereka. Yesus memperhatikan kehadiran anak-anak itu.

Karena itu, orang beriman mesti bercermin pada sikap Yesus itu. Menerima kehadiran sesamanya dalam hidup sehari-hari. Tidak menolak sesamanya, karena kekurangan yang ada pada sesamanya itu. Untuk itu, kita butuh kekuatan dari Tuhan yang dapat membantu usaha-usaha kita untuk menyelesaikan persoalan hidup. Mari kita terus-menerus berusaha untuk membangun hidup iman kita dalam kenyataan hidup sehari-hari. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

423
Bagikan