Pages

31 Desember 2010

Hidup Itu mesti Punya Tujuan

Suatu hari ada seorang yang sedang berlayar di samudra yang luas. Ia hanya ingin berlayar dan menikmati indahnya angin laut. Dengan perahu yang memadai untuk berlayar, ia berusaha untuk menikmati hidup ini. Ia berlayar dan berlayar. Namun di tengah perjalanan kebosanan melanda dirinya. Ia pun mengubah tujuan pelayarannya. Tetapi ia tidak tahu apa yang menjadi tujuannya. Ia terus berlayar. Ia tidak perlu kuatir akan persediaan makanan yang dimilikinya. Ia punya banyak makanan.

Akhir dari pelayaran itu adalah ia terjebak oleh badai angin yang menerpa samudera dan perahunya. Ia terdampar di sebuah pantai. Perahunya tertancap di dalam pasir. Tidak bisa keluar. Tidak ada orang lain di pantai itu selain dirinya sendiri. Ia sendiri mesti menolong dirinya sendiri. Dengan sisa makanan yang ada, ia masih bisa bertahan selama satu bulan. Namun tinggal di pantai itu seorang diri selama sebulan tentu hanya menghabis-habiskan waktu.

Karena itu, orang itu mulai merancang hidupnya. Ia menyadari bahwa hidup tanpa tujuan itu tidak memiliki nilai apa-apa. Hidup yang memiliki tujuan itu akan memiliki nilai yang tinggi. Hidup semakin terarah. Tidak terombang-ambingkan oleh godaan dan tantangan yang menghadang.

Sahabat, coba Anda hidup tanpa suatu arah yang jelas, Anda akan menemukan fatamorgana-fatamorgana yang indah. Namun fatamorgana-fatamorgana itu hanyalah suatu kekosongan. Tidak memiliki makna yang mendalam bagi hidup Anda. Mengapa? Karena fatamorgana-fatamorgana itu hanyalah bayang-bayang hampa. Bukan kenyataan hidup. Hanya mimpi-mimpi.

Hidup tanpa tujuan yang jelas itu hanya mimpi-mimpi. Orang bermimpi menggenggam pulau, tetapi ketika dia membuka tangannya ternyata tidak ada. Kosong. Hidup tanpa tujuan yang pasti itu bagai orang yang berlayar tanpa tujuan. Orang hanya membiarkan perahunya dibawa oleh angin. Ia tidak mengendalikan perahunya. Ia membiarkan diri dihanyutkan oleh angin bersama perahunya.

Karena itu, orang mesti mengetahui arah untuk mencapai tujuan hidupnya. Untuk itu, orang memerlukan peta. Orang mesti berani memetakan tujuan hidupnya. Di dalam memetakan tujuan hidup itu, orang juga menemukan kekuatan dan kelemahan dirinya. Kekuatan digunakan untuk meraih tujuan hidupnya. Sedangkan kelemahan digunakan untuk memotivasi diri dalam mencapai tujuan yang diimpikan itu.

Dengan cara ini, orang dapat meraih mimpi-mimpi dalam hidupnya. Orang tidak perlu kuatir terhadap berbagai persoalan hidup yang dihadapinya. Mengapa? Karena tujuan hidupnya sudah jelas. Orang tinggal berusaha untuk meraih tujuan hidupnya.

Orang beriman merancang tujuan hidupnya bersama Tuhan. Orang beriman berjuang menggapai tujuan hidupnya di dalam dan bersama Tuhan. Mereka selalu mengandalkan Tuhan dalam hidup mereka. Dengan demikian, mereka mengalami sukacita dan damai bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **

Selamat Tahun Baru 2011



Frans de Sales, SCJ

http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com/

30 Desember 2010

Jangan Berkeluh Kesah

Ada seorang kepala keluarga yang selalu mengeluh. Apa saja yang tidak berkenan di hatinya selalu ia keluhkan. Bahkan sesuatu yang kecil sekalipun ia keluhkan. Setiap kali ia mengluh, istrinya diam saja. Ia menerima setiap keluhan suaminya dan menyimpannya baik-baik di dalam hatinya. Ia tidak ingin bertengkar dengan suaminya. Ia tidak ingin ribut-ribut dengan suaminya. Apalagi suaminya sudah menyiapkan seribu satu pembelaan diri yang mematikan.

Namun suatu hari sang istri tidak tahan lagi mendengar keluhan demi keluhan dari sang suami. Setelah suaminya mengeluarkan semua unek-uneknya, ia pun mulai berbicara. Ia berkata, “Bapak selalu mengeluh dan menyalahkan semua orang di rumah ini. Namun bapak tidak pernah sadar bahwa yang bapak keluhkan itu justru karena kekurangan dan kelemahan bapak. Seharusnya bapak lebih bersyukur atas kebaikan dan kasih sayang yang kami berikan kepada bapak. Mengapa hal ini tidak terjadi?”

Suaminya sangat terkejut mendengar kata-kata istrinya itu. Baru pertama kali itu ia mendengar bantahan dari istrinya yang sangat menampar dirinya. Mulutnya ternganga lebar. Namun tidak ada kata pembelaan yang keluar dari mulutnya. Semuanya tertahan oleh keheranannya. Ternyata istrinya dapat mengatakan sesuatu yang benar. Seharusnya ia tidak perlu mengeluh dan menyalahkan orang lain atas sesuatu yang tidak beres. Sejak itu, ia tidak berani mengeluh lagi.

Sahabat, pantaskah orang selalu mengeluh dan menyalahkan sesamanya? Padahal setiap orang telah dikarunia kelengkapan oleh Tuhan untuk hidupnya? Bukankah semestinya manusia mensyukuri setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya?

Orang yang biasa mengeluh itu sebenarnya mengungkapkan kekurangan-kekurangan dan keterbatasan dirinya. Orang seperti ini sedang berakting seolah-olah dia dapat melakukan apa saja. Ternyata orang seperti ini hanya bisa mengeluh. Tidak dapat melakukan apa yang dikeluhkannya itu.

Karena itu, orang mesti menyadari dirinya sendiri. Orang tidak boleh membiarkan kekuatan yang ada pada dirinya musnah oleh keluh kesah dari dirinya. Orang mesti menggunakan kekuatan dan kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan sesamanya. Bukan hanya berkeluh-kesah.

Untuk itu, orang mesti tegar hatinya. Orang tidak boleh membiarkan semangatnya hilang hanya karena tidak tahu apa jawaban atas persoalan-persoalan hidupnya.

Orang beriman adalah orang-orang yang tidak gampang berkeluh-kesah. Orang beriman itu orang yang terus-menerus mencari cara-cara untuk menemukan langkah-langkah bagi pemecahan persoalan-persoalan hidup. Orang beriman lebih ringan tangan untuk bekerja daripada berkeluh kesah sepanjang hari. Mari kita terus-menerus melakukan karya-karya yang berguna bagi kehidupan kita. Dengan demikian, tidak ada waktu untuk berkeluh-kesah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

29 Desember 2010

Meraih Sukses dengan Hal-hal Kecil


Ada seorang gadis yang ingin meraih cita-citanya yang tinggi. Ia ingin menjadi seorang astronot yang bisa mengitari ruang angkasa. Untuk itu, ia menyiapkan diri dengan belajar. Langkah yang ia tempuh adalah langsung belajar prinsip-prinsip hidup di ruang angkasa. Para instrukturnya heran terhadap ulah gadis itu. Mereka menyarankan agar dia mempelajari dulu hal-hal dasar tentang teknologi sederhana.

Namun gadis itu menolak. Ia ingin mempelajari hal-hal yang tinggi, karena ia akan mengitari ruang angkasa. Para instrukturnya pun mengalah. Mereka memberi dia ilmu-ilmu ruang angkasa yang sulit dipahami oleh gadis itu. Ia terus berusaha. Namun suatu ketika gadis itu menyerah. Terlalu berat baginya. Ia pun memutuskan untuk tidak meneruskan cita-citanya menjadi seorang astronot.

Dari peristiwa itu gadis itu dapat belajar tentang pentingnya memulai sesuatu dari yang kecil dulu. Ia tidak bisa meraih sesuatu yang besar secara tiba-tiba. Ia mesti mulai belajar dari hal-hal yang kecil dan mendasar seperti yang disarankan oleh para instrukturnya.

Sahabat, kesuksesan dalam hidup itu dambaan semua orang. Setiap orang ingin mengalami kebahagiaan dan damai melalui sukses yang diraih dalam hidup. Namun banyak orang sering lupa bahwa sukses itu diraih melalui hal-hal kecil yang senantiasa diperjuangkan. Banyak orang ingin sukses yang diraih dalam waktu yang singkat. Akibatnya, terjadi frustrasi dalam hidup ini, karena orang tidak melewati proses membangun kesuksesan itu dari hal-hal kecil.

Karena itu, orang yang ingin sukses dalam hidupnya mesti mulai dari hal-hal kecil. Orang tidak boleh berhenti, ketika mulai membangun kesuksesan itu. Orang mesti bertumbuh dan berkembang untuk mencapai kesuksesan itu. Sesuatu yang kecil yang tetap dijalankan secara terus-menerus akan mengembangkan diri seseorang. Orang mesti memelihara momentum yang telah didapati itu. Dengan demikian, orang dapat meraih cita-cita yang telah dicanangkannya.

Untuk itu, orang mesti hati-hati menerima tawaran demi tawaran yang diberikan secara instan. Orang mesti bertahan pada prinsip bahwa sesuatu yang besar itu dicapai dengan melakukan hal-hal kecil dalam hidup ini. Hal-hal kecil itu dikumpulkan menjadi banyak dan besar. Biasanya kesuksesan yang dicapai dengan cara seperti ini akan tetap bertahan. Tidak akan tergerus oleh pengaruh jaman.

Orang beriman perlu bertanya diri, ”Ke mana kita akan bergerak? Apa hal kecil yang dapat kita kerjakan sekarang?” Barangkali hal kecil yang dapat dikerjakan sekarang adalah masing-masing dari kita saling memberikan perhatian. Caranya sederhana, yaitu memberikan senyum kepada sesamanya setiap hari. Kalau hal ini dikembangkan dan dipertahankan terus, dunia ini akan menjadi dunia yang aman dan damai bagi semua orang. Dengan demikian, cita-cita untuk hidup bahagia di dunia ini dapat tercapai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


580

27 Desember 2010

Mengubah Rasa Takut Menjadi Berkat

Ada seorang murid yang takut menghadapi ujian. Setiap kali ujian itu mendekat, ia mengalami sakit perut. Akibatnya, ia selalu serba salah dalam mengerjakan soal-soal ujian. Ia tidak tahu mengapa hal itu terjadi atas dirinya. Ia menanyakan hal itu kepada orangtuanya. Namun mereka juga tidak mengerti. Orangtuanya hanya menyarankan kepadanya untuk tetap tenang dan fokus pada ujian yang akan diikutinya. Namun setiap kali mengikuti saran orangtuanya, ia selalu merasa takut. Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengancam dirinya.

Suatu hari ia memutuskan untuk berani menghadapi ujian semesternya. Apa yang terjadi? Ternyata rasa takut itu justru memberikan dorongan baginya untuk terus maju. Awalnya tangan dan dahinya dipenuhi keringat. Namun begitu ia masuk ke ruang ujian, ia menjadi tegar. Ia tidak grogi atau takut lagi. Ia mengerjakan soal-soal yang diberikan dengan baik. Kali ini ia mendapat nilai sempurna: sepuluh. Tidak seperti di waktu-waktu yang lalu, ketika ia masih diliputi rasa takut.

Ia berkata kepada ibunya setelah selesai ujian, ”Mama, saya tidak takut lagi. Tadi saya kerjakan ujian-ujian itu dengan baik. Ternyata rasa takut itu hanya perasaan saja yang mengganggu diri saya. Ketika saya menghadapinya dengan tenang, rasa takut itu hilang.”

Sahabat, banyak orang takut akan hidup ini. Banyak orang takut terhadap hal-hal yang tidak ada. Banyak orang takut terhadap bayangan-bayangan. Sayangnya rasa takut seperti ini kemudian menguasai diri seseorang. Akibatnya, orang itu seolah-olah tidak bisa berbuat apa-apa. Orang itu terkungkungan oleh bayangan ketakutan yang dibuatnya sendiri.

Kalau Anda sekarang sedang merasa takut, coba perhatikan rasa takut Anda itu. Perhatikan pesan yang berusaha disampaikannya. Rasa takut itu sebenarnya membuat Anda lebih waspada dalam hidup ini. Mungkin rasa takut itu sedang memberi Anda peluang untuk mengatasi masalah-masalah yang sedang Anda hadapi.

Karena itu, Anda mesti mengambil sikap secara lain terhadap rasa takut itu. Semestinya Anda gunakan rasa takut itu sebagai dorongan untuk mengatasi persoalan-persoalan hidup Anda. Rasa takut itu tidak perlu dilebih-lebihkan. Tetapi mesti diminimalisir sedemikian rupa untuk menghadapi persoalan-persoalan dalam hidup Anda. Tidak usaha terlalu kuatir akan rasa takut itu.

Kisah tadi mau mengajak kita untuk mengubah rasa takut menjadi sesuatu yang lebih berguna bagi hidup kita. Gunakan rasa takut itu sebagai motivasi untuk kemajuan diri Anda. Kalau Anda terus-menerus tenggelam dalam rasa takut, Anda akan selalu gagal dalam hidup ini. Jadi Anda mesti bertindak untuk mengubah rasa takut menjadi rahmat yang menghasilkan buah-buah kebaikan dalam hidup Anda.

Orang beriman selalu menyertakan Tuhan dalam mengatasi rasa rakutnya itu. Orang seperti ini akan senantiasa memperoleh perlindungan dari Tuhan atas perbuatan-perbuatan baiknya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

Selamat Natal dan Tahun Baru 2011

24 Desember 2010

Terbuka Terhadap Hal-hal Baru

Suatu hari seorang anak mendekati ayahnya yang sedang mengasah parang. Setelah membuka hutan untuk ladang, parang menjadi tumpul. Karena itu, sang ayah mesti mengasahnya. Anak itu bertanya kepada ayahnya, ”Mengapa ayah mengasah parang hari ini?”
Rata Penuh
Sambil tersenyum, sang ayah menjawab, ”Parang ini sudah tumpul, nak. Kemarin ayah gunakan untuk memotong pohon-pohon untuk membuka ladang. Ayah harus mengasahnya supaya tetap tajam. Hari ini ayah akan gunakan lagi parang ini untuk bekerja.”

Anak itu masih belum yakin akan penjelasan ayahnya. Ia bertanya lagi, ”Tetapi kan parang itu masih bisa dipakai walaupun tidak diasah, ayah?”

Sambil menggelengkan kepalanya, sang ayah berkata, ”Benar, nak. Tetapi kalau tidak diasah tidak akan setajam sebelumnya. Setelah diasah, parang ini akan lebih tajam lagi. Akan lebih berguna bagi ayah, nak.”

Sahabat, sesuatu yang sudah tumpul mesti diasah lagi agar tetap tajam. Seorang penebang pohon akan selalu mengasah parang atau kampak, agar selalu tajam. Dengan demikian, parang atau kampak itu akan berfungsi dengan lebih maksimal. Tidak banyak pohon yang bisa ditebang oleh parang atau kampak yang tumpul.

Seorang pemanah akan selalu mengencangkan busurnya, agar dapat menggunakannya dengan efektif. Larinya anak panah akan lebih kencang dan mengenai sasaran. Busur yang tidak kencang memperlambat larinya anak panah.

Demikian pula pikiran manusia mesti selalu diasah untuk selalu menghasilkan kejernihan dalam berpikir. Pikiran manusia yang tidak pernah diasah dengan ilmu-ilmu baru hanyalah akan terkungkung di dalam dunianya sendiri. Bagai katak dalam tempurung. Dunianya sempit dan gelap. Orang seperti ini tidak terbuka terhadap hal-hal baru yang menguntungkan bagi hidupnya.

Pikiran yang selalu diasah akan memiliki ketajaman dalam mencerna dan memikirkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan ini. Orang bijak itu selalu mengasah pikirannya dengan ilmu-ilmu baru. Orang pandai tidak berhenti pada pengetahuan yang dimilikinya. Ia selalu menambah pengetahuannya dengan membaca dan belajar dari kehidupan sehari-hari.

Orang seperti ini biasanya orang yang rendah hati. Orang yang selalu ingin belajar dari sesuatu atau dari orang lain. Orang yang selalu terbuka pikirannya untuk memajukan dirinya. Orang yang selalu ingin memajukan orang lain juga. Baginya, keterbatasan dirinya mesti dibuka, agar hal-hal baru dapat masuk dan menjadi bagian dari dirinya.

Orang beriman itu selalu menyediakan pikirannya untuk pengetahuan dan ilmu-ilmu baru. Dengan demikian, orang beriman dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Kemampuan-kemampuan itu dapat berguna bagi banyak orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

578

23 Desember 2010

Berani Mencoba Sesuatu yang Baru

Ada seorang gadis yang suka mengutak-atik alat-alat elektronik. Semua alat elektronik yang ada di rumahnya sudah pernah ia bongkar. Ia lakukan hal itu sejak ia masih kelas enam SD. Ia menyukai hal itu. Ia tidak hanya membongkar alat-alat elektronik itu. Tetapi ia juga memperbaiki peralatan yang rusak. Awalnya ia belajar dari ayahnya yang juga suka mengutak-atik alat-alat elektronik. Padahal profesi ayahnya adalah dosen ilmu sosial di sebuah perguruan tinggi.

Ketika ditanya tentang kesukaannya itu, gadis itu mengatakan bahwa ia ingin mencoba sesuatu yang baru. Ia ingin belajar sendiri memperbaiki alat-alat elektronik yang rusak. Ia berkata, ”Saya tidak harus mempelajarinya di bangku sekolah untuk memperbaiki alat-alat yang rusak di rumah sendiri. Saya belajar sendiri. Saya belajar dari buku-buku dan dari ayah saya..”

Dengan berani mencoba sesuatu yang baru, gadis itu menjadi orang yang sungguh-sungguh ahli. Ia sering dipanggil untuk memperbaiki alat-alat elektronik yang rusak. Ia menunjukkan dengan sungguh-sungguh keahliannya. Semakin hari semakin bertambah pula pelanggannya. Ia melayani mereka dengan sangat baik dan memuaskan. Peralatan elektronik yang rusak itu dapat digunakan lagi.

Sahabat, banyak orang takut mencoba sesuatu yang baru. Mereka merasa bahwa mencoba sesuatu yang baru itu hanyalah buang-buang waktu. Apalagi hal tersebut tidak berkenaan dengan profesi dan keahlian mereka. Takut melakukan kesalahan merupakan sebab terbesar orang tidak berani mencoba sesuatu yang baru. Orang enggan untuk mengambil resiko atas apa yang dicoba itu. Orang kurang berani berhadapan dengan tantangan baru.

Mencoba sesuatu yang baru adalah suatu tantangan bagi setiap orang. Kalau orang berani berhadapan dengan resiko, orang akan dengan segera menghadapi tantangan itu. Orang tidak peduli akan kegagalan yang akan dihadapi. Bahkan kegagalan dipandang sebagai sukses yang akan diraih di masa yang akan datang.

Namun orang mesti juga memperkaya diri dengan ilmu-ilmu yang ada. Orang tidak perlu merasa rendah diri ketika mempelajari sesuatu yang baru. Orang mesti memiliki semangat untuk belajar dan belajar terus. Bekal yang dimiliki dari ilmu-ilmu dan sumber-sumber lain akan membantu orang untuk berani mencoba sesuatu yang baru.

Kisah tadi menunjukkan bahwa gadis itu memiliki semangat untuk mempelajari sesuatu yang baru. Tidak hanya itu. Ia juga belajar dari sumber-sumber lain. Ia membuka hati dan pikirannya untuk ilmu-ilmu lain yang tidak ia miliki sebelumnya. Ilmu-ilmu itu menjadi pendukung baginya dalam usahanya untuk mencoba sesuatu yang baru.

Karena itu, orang beriman mesti berani mencoba sesuatu yang baru. Artinya, orang mesti juga berani menghadapi resiko yang akan terjadi. Orang mesti berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Orang seperti ini biasanya akan sukses dalam hidupnya. Dengan demikian, orang dapat sungguh-sungguh menemukan damai dan sukacita dalam hidupnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ
577

21 Desember 2010

Ketekunan Menghasilkan Buah Berlimpah


James E Casey adalah penggagas United Parcel Service atau biasa disingkat dengan UPS. Perusahaan ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat dalam bidang jasa pengantaran barang-barang pos. Namun UPS bukan hanya berkembang di Amerika Serikat. Jasa ini pun menyebar ke penjuru dunia.

Tetapi tahukah Anda siapa James E Casey? Ketika ia berusia sebelas tahun, ia terpaksa berhenti dari sekolah. Ia lakukan itu karena ia harus membantu keluarganya mencari nafkah. Ayahnya tidak kuat lagi bekerja untuk menghidupi keluarganya. Ayahnya sakit-sakitan.

Pekerjaan pertama yang diperoleh Casey adalah mengantar pembungkus ke sebuah gudang serba ada dengan gaji sebulannya sebesar dua setengah dollar. Selain itu, ia juga bekerja sebagai pengantar telegraf di sebuah perusahaan telegraf.

Ketika berusia 15 tahun, James Casey dan dua rekannya yang bekerja sebagai pengantar telegraf memulai usaha sendiri. Usaha mereka adalah usaha mengantar barang-barang pos. Usaha itu kemudian berhasil dengan baik. Mereka menamainya United Parcel Service. Mereka mengawalinya dengan berjalan kaki mendatangi rumah-rumah dan kantor-kantor untuk mengantar barang-barang dan surat-surat. Setelah punya modal, mereka membeli sepeda dan menggunakan sepeda. Ketika modal mereka semakin besar, mereka menggunakan motor. Akhirnya, mereka menggunakan truk untuk mengantar barang-barang dan surat-surat.

Saat ini, United Parcel Service mempunyai lebih dari 340.000 karyawan yang tersebar di seluruh dunia. Omset per tahunnya lebih dari 22 milyar dollar.

Sahabat, usaha yang dikerjakan dengan tekun dan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang berlimpah. Meskipun kecil, usaha yang dijalankan dengan baik dan benar akan bertumbuh dan berkembang menjadi usaha yang besar. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa ketekunan dalam berusaha dapat menghasilkan sesuatu yang berguna untuk banyak orang.

Yang penting adalah orang dengan sungguh-sungguh mencurahkan hidupnya untuk usaha itu. Orang juga mesti memikirkan kepentingan banyak orang. Tidak hanya mementingkan dirinya sendiri. James Casey dan kawan-kawannya tentu saja tidak hanya memikirkan diri mereka sendiri. Usaha yang baik dan berhasil selalu memiliki dampak positif bagi kehidupan banyak orang.

Karena itu, orang mesti memiliki motivasi yang positif ketika memulai sebuah usaha. Orang mesti berani melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain. Keuntungan yang diperoleh dari usaha itu tidak melulu dihitung berdasarkan angka-angka yang kelihatan. Tetapi orang mesti berani menghitungnya dari kesejahteraan yang diperoleh orang lain dalam usaha itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk melakukan suatu usaha dengan tekun dan setia. Ketika kita setia dalam hal-hal kecil, kita akan diberi kepercayaan untuk mengelola sesuatu yang lebih besar. Mari kita berusaha terus-menerus untuk memberi makna yang lebih baik terhadap usaha-usaha kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

20 Desember 2010

Keberanian untuk Terus-menerus Belajar

Ada seorang pemuda yang selalu merasa diri tahu segala-galanya. Ia juga sering memosisikan dirinya sebagai orang yang pintar dan cerdas. Setiap pertanyaan yang ditujukan kepadanya diusahakannya untuk dijawab dengan tepat. Padahal sebenarnya banyak yang tidak ia ketahui. Hal itu membuat pemuda itu menjadi orang yang sombong. Apa saja kesulitan yang dihadapi orang lain ia coba bantu. Ia tampil seolah-olah ia orang yang sangat ringan tangan.

Suatu hari pemuda itu kena batunya. Ia dimintai bantuan oleh seorang anak kecil di desanya. Dengan senang hati ia membantu. Namun yang terjadi adalah ia malah membuat anak kecil itu semakin menderita. Anak itu meminta pemuda itu untuk memecahkan soal Matematika kelas duanya. Dengan berbagai cara, pemuda itu mencari jalan untuk memecahkan soal itu. Namun ia tidak mendapatkan cara terbaik untuk memecahkan soal itu. Akibatnya, anak kelas dua SD itu mengusirnya pergi. Anak itu merasa terganggu.

Setelah pemuda itu pergi, anak itu justru dapat menyelesaikan soal Matematika itu. Setelah beberapa waktu kemudian ia bertemu dengan pemuda itu, ia mengejek pemuda itu. Ia berkata, “Kalau tidak tahu, katakan tidak tahu. Soal begitu mudah kok tidak tahu?” Sejak itu, pemuda itu tidak berani lagi menyombongkan dirinya.

Sahabat, banyak orang merasa diri mereka tahu segala-galanya. Karena itu, mereka malu untuk mengatakan tidak tahu kepada orang yang membutuhkan jawaban mereka atas suatu persoalan. Kalau sudah ketahuan tidak tahu apa-apa baru orang berani mengakui keterbatasan dirinya. Tentu saja hal ini mesti disadari oleh setiap orang.

Sebenarnya sikap yang paling baik adalah mengatakan dengan terus terang tentang kondisi diri kita. Kalau kita tidak tahu tentang sesuatu, kita mesti mengatakannya dengan terus terang. Namun tidak berarti kita membiarkan diri kita tidak tahu sama sekali.

Yang mesti kita lakukan adalah kita berusaha untuk mencari tahu apa yang tidak kita ketahui itu. Kita mesti berusaha untuk mengenal dan mengetahui situasi di sekitar kita. Atau kita mesti berusaha untuk mengisi diri kita dengan pengetahuan-pengetahuan yang berguna bagi diri kita.

Karena itu, belajar merupakan satu-satunya cara untuk mengisi diri kita dengan pengetahuan-pengetahuan yang selalu baru dan segar. Kalau orang punya sikap ingin belajar terus-menerus, ia akan memiliki segudang pengetahuan yang dapat ia gunakan kapan saja untuk menjawab setiap persoalan yang dihadapainya.

Orang beriman itu orang yang berani menyiapkan kesempatan untuk terus-menerus balajar. Dengan demikian, ia tidak akan pernah kekurangan ilmu pengetahuan bagi diri dan sesama. Untuk itu, orang mesti berlajar terus-menerus. Hanya dengan cara ini orang dapat memberikan kontribusi bagi hidup bersama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


575

19 Desember 2010

Menjadi Peka terhadap Situasi Sekitar


Tindakan Alexei Dymovsky, seorang perwira polisi di Rusia ini patut ditiru. Tidak tahan dengan budaya korupsi yang terjadi, ia membuat sebuah rekaman video tentang perilaku korup para atasannya.

Seperti diberitakan AFP, Senin (9/11/2009), Dymovsky, polisi yang berusia 32 tahun ini menuding atasannya di wilayah Novorossiisk telah melakukan jual beli perkara. Dymovsky adalah penyidik senior di wilayah tersebut yang memegang divisi kejahatan narkotika dan penyelundupan.

Menurutnya, ia tidak tahan selalu diminta untuk menutup-nutupi kejahatan. Ia berkata, “Saya tidak tahan karena selalu diminta untuk menutupi kejahatan. Saya capek disuruh memenjarakan orang yang tidak bersalah.”

Dalam videonya, Dymovsky juga meminta bertemu langsung dengan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin untuk membahas permasalahan di lembaga kepolisian. Ia juga meminta agar pemerintah memerhatikan kesejahteraan polisi.

Tentang gaji seorang polisi, ia mengeluh, “Bagaimana bisa bekerja profesional dengan gaji hanya sekitar 14,000 ruble (USD 549) per bulan.”

Menteri Dalam Negeri Rusia Rashid Nurgaliyev memerintahkan penyelidikan menyeluruh atas laporan dari Dymovksy. Tim langsung mulai bekerja. Rashid berkata, “Laporan lengkap akan disampaikan pada Presiden Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin.”

Sahabat, setiap hari di negeri kita juga digonjang-ganjing oleh persoalan pemberantasan korupsi. Ada pernyataan-pernyataan yang masih menyimpan tanda tanya-tanda tanya di benak masyarakat. Sebetulnya apa yang sesungguhnya terjadi dengan aparat hukum di negeri ini? Apakah benar aparat hukum di negeri ini sudah berada di titik nadir?

Korupsi terjadi karena ketidakjujuran. Pertama, ketidakjujuran terhadap diri sendiri. Orang yang tidak jujur terhadap dirinya sendiri biasanya menyembunyikan kelemahan-kelemahan yang ada dalam dirinya. Orang seperti ini mempunyai cita-cita yang tinggi, tetapi tidak punya modal yang banyak. Akibatnya, orang seperti ini menggunakan wewenang dan kekuasaan yang dimilikinya untuk melakukan korupsi. Kalau saja ia mengakui keterbatasan dirinya, ia tidak perlu ngoyo dalam usaha meraih cita-citanya.

Kedua, ketidakjujuran terhadap orang lain. Orang seperti ini biasanya mudah membuat janji-janji kepada orang lain. Ketika ia sulit menepati janji, ia mulai mencari cara-cara untuk menepati janji itu. Akibatnya, ia mulai melakukan ketidakjujuran. Ia dapat melakukan korupsi, agar orang lain senang. Padahal orang lain tidak tahu dari mana uang atau harta benda yang dimilikinya itu berasal.

Ketiga, ketidakjujuran terhadap Tuhan. Orang yang tidak jujur biasanya mengabaikan perintah Tuhan dalam hidupnya. Orang seperti ini menganggap enteng firman Tuhan yang mengarahkan dirinya kepada kebaikan dan kebenaran. Ia mudah mengingkari kebaikan-kebaikan yang berasal dari Tuhan sendiri. Akibatnya, suara hatinya tidak lagi bekerja dengan baik. Suara hatinya menjadi tumpul. Ketika ia melakukan korupsi, suara hatinya tidak menegurnya.

Kita mesti berani mendengarkan suara hati kita yang berbicara jujur kepada kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang peka terhadap situasi hidup di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


574