Pages

30 Desember 2010

Jangan Berkeluh Kesah

Ada seorang kepala keluarga yang selalu mengeluh. Apa saja yang tidak berkenan di hatinya selalu ia keluhkan. Bahkan sesuatu yang kecil sekalipun ia keluhkan. Setiap kali ia mengluh, istrinya diam saja. Ia menerima setiap keluhan suaminya dan menyimpannya baik-baik di dalam hatinya. Ia tidak ingin bertengkar dengan suaminya. Ia tidak ingin ribut-ribut dengan suaminya. Apalagi suaminya sudah menyiapkan seribu satu pembelaan diri yang mematikan.

Namun suatu hari sang istri tidak tahan lagi mendengar keluhan demi keluhan dari sang suami. Setelah suaminya mengeluarkan semua unek-uneknya, ia pun mulai berbicara. Ia berkata, “Bapak selalu mengeluh dan menyalahkan semua orang di rumah ini. Namun bapak tidak pernah sadar bahwa yang bapak keluhkan itu justru karena kekurangan dan kelemahan bapak. Seharusnya bapak lebih bersyukur atas kebaikan dan kasih sayang yang kami berikan kepada bapak. Mengapa hal ini tidak terjadi?”

Suaminya sangat terkejut mendengar kata-kata istrinya itu. Baru pertama kali itu ia mendengar bantahan dari istrinya yang sangat menampar dirinya. Mulutnya ternganga lebar. Namun tidak ada kata pembelaan yang keluar dari mulutnya. Semuanya tertahan oleh keheranannya. Ternyata istrinya dapat mengatakan sesuatu yang benar. Seharusnya ia tidak perlu mengeluh dan menyalahkan orang lain atas sesuatu yang tidak beres. Sejak itu, ia tidak berani mengeluh lagi.

Sahabat, pantaskah orang selalu mengeluh dan menyalahkan sesamanya? Padahal setiap orang telah dikarunia kelengkapan oleh Tuhan untuk hidupnya? Bukankah semestinya manusia mensyukuri setiap anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya?

Orang yang biasa mengeluh itu sebenarnya mengungkapkan kekurangan-kekurangan dan keterbatasan dirinya. Orang seperti ini sedang berakting seolah-olah dia dapat melakukan apa saja. Ternyata orang seperti ini hanya bisa mengeluh. Tidak dapat melakukan apa yang dikeluhkannya itu.

Karena itu, orang mesti menyadari dirinya sendiri. Orang tidak boleh membiarkan kekuatan yang ada pada dirinya musnah oleh keluh kesah dari dirinya. Orang mesti menggunakan kekuatan dan kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan sesamanya. Bukan hanya berkeluh-kesah.

Untuk itu, orang mesti tegar hatinya. Orang tidak boleh membiarkan semangatnya hilang hanya karena tidak tahu apa jawaban atas persoalan-persoalan hidupnya.

Orang beriman adalah orang-orang yang tidak gampang berkeluh-kesah. Orang beriman itu orang yang terus-menerus mencari cara-cara untuk menemukan langkah-langkah bagi pemecahan persoalan-persoalan hidup. Orang beriman lebih ringan tangan untuk bekerja daripada berkeluh kesah sepanjang hari. Mari kita terus-menerus melakukan karya-karya yang berguna bagi kehidupan kita. Dengan demikian, tidak ada waktu untuk berkeluh-kesah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan mengisi

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.