Pages

30 November 2013

Bangun Relasi yang Baik dan Intens dengan Sesama


Apa yang akan Anda lakukan ketika sesama Anda dalam hidup bersama mempunyai masalah dalam hidupnya? Anda biarkan saja? Atau Anda terlibat dalam usaha-usaha untuk memecahkan persoalannya?

Ada seorang anak yang merasa kurang bersahabat dengan ayahnya. Ia merasa hidupnya hampa, meski sang ayah ada di sampingnya. Hal itu terjadi karena sewaktu kecil ia jarang berjumpa dengan ayahnya. Ayahnya seorang pengusaha yang sangat sibuk. Setiap kali ia punya masalah, ia selalu curahkan kepada sang ibu. Sedangkan sang ayah selalu merasa ia tidak punya persoalan hidup.

Akibatnya, ia kurang punya relasi yang mendalam dengan ayahnya. “Saya merasa kurang punya cinta terhadap ayah saya. Relasi kami tidak begitu intens. Ketika saya pulang ke rumah, saya jarang bertemu dengan ayah,” kata anak itu.

Kini anak itu punya hidup sendiri. Saat ayahnya berusaha untuk mendekatinya, ia selalu mengelak. Atau ia bisa dekat dengannya, tetapi ia tetap merasa hampa. Relasi antara mereka tidak punya makna yang dalam. Kondisi seperti ini membuat hatinya sedih. Ia ingin sekali dekat dengan ayahnya, tetapi ia mengalami kesulitan untuk mendekati ayahnya. Ada suasana canggung antara mereka.

Situasi seperti ini kemudian membuat dirinya resah. Ia tidak ingin kehilangan ayahnya. Ia tidak ingin hanya dekat dengan ibunya. Ia juga tidak ingin ayahnya merasa terasing dalam keluarganya. Ia ingin ayahnya mau memasang telinga untuk mendengarkan masalah-masalah yang dihadapinya. Ia ingin berbagi pengalaman hidup dengannya.

“Dalam hidup keluarga, semua mesti saling peduli. Ketika ada yang punya masalah, yang lain juga mesti merasakan. Saya ingin ayah saya juga merasakan masalah yang saya alami. Saya ingin ayah bisa membantu saya untuk menyelesaikan masalah-masalah saya,” katanya.

Sahabat, setiap orang ingin membangun relasi yang baik dan intens dengan orang-orang yang terdekat. Relasi yang baik dan intens akan membawa orang pada hidup yang bahagia dan tenteram. Dalam kehidupan bersama itu orang akan saling peduli. Ketika ada yang punya masalah, yang lain ikut terlibat dalam upaya menyelesaikannya.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa kegundahan dalam hidup bersama terjadi, ketika ada relasi yang kurang baik dan intens. Anak itu merasa sedih, karena relasi dengan ayahnya kurang akrab. Ia ingin mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapinya, tetapi ia tidak mampu. Relasi yang kurang dekat dan intens itu menyebabkan ia merasa enggan untuk mengungkapkan masalah-masalahnya kepada ayahnya.

Karena itu, yang dibutuhkan dalam hidup bersama adalah membangun relasi yang baik dan intens. Tentu saja dibutuhkan suatu rasa percaya di antara pada anggota yang hidup bersama itu. Kepercayaan akan memberi suasana bebas untuk saling mengungkapkan persoalan-persoalan yang dihadapi. Mengapa? Karena ketika satu anggota punya masalah, setiap orang yang ada dalam hidup bersama itu punya kesempatan untuk membantu memecahkan persoalan itu.

Orang beriman dipanggil untuk terlibat dalam persoalan-persoalan hidup sesamanya. Tujuannya untuk membantu sesamanya mengatasi persoalan-persoalan itu. Kehadiran seseorang dalam hidup bersama itu menjadi rahmat bagi orang lain. Rahmat itu semakin membuahkan hal-hal baik, ketika digunakan sebaik-baiknya untuk kebahagiaan bersama. Mari kita membangun relasi yang baik dan intens dengan sesama. Dengan demikian, hidup bersama menjadi lebih baik dan menyenangkan bagi semua orang. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

TTabloid KOMUNIO


992

29 November 2013

Menemukan Keselarasan Hidup




Ketika terjadi kekacauan dalam hidup Anda dan masyarakat di mana Anda hidup, apa yang akan Anda lakukan? Anda biarkan begitu saja? Atau Anda berusaha membangun suatu keselarasan dalam hidup bersama?

Pada awal kariernya, Dannecker, seorang pemahat dari Prancis, terkenal karena karyanya yang menampilkan Ariadne dan dewi-dewi Yunani lainnya. Suatu kali ia tedorong untuk mencurahkan seluruh tenaga dan waktunya untuk menghasilkan sebuah adikarya. Ia bertekad untuk mengukir sosok Yesus.

Dua kali usahanya gagal sebelum akhirnya ia mengukir sebuah patung Yesus yang sangat indah. Karyanya begitu indah dan agung, sehingga setiap orang yang memandangnya begitu mengagumi dan mencintainya.

Suatu ketika, ia menerima undangan dari Napoleon Bonaparte, seorang penguasa yang sangat terkenal waktu itu. Kata Napoleon, “Datanglah ke Paris. Tolong ukirkan bagi saya patung Venus untuk ditempatkan di Louvrre.”

Tetapi Dannecker menolak. Bukan karena gengsi. Tetapi ia menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan sekaligus dua hal yang berlawanan. Ia berkata, “Tuan, tangan yang pernah memahat Yesus ini tidak akan dapat lagi memahat dewi kafir.”

Bonaparte sangat kagum mendengar kata-kata Dannecker. Suatu sikap yang sangat mengagumkan dari seorang seniman yang sering mengejar setoran. Lebih baik ia tidak mendapatkan penghargaan daripada harus kehilangan hal yang sangat berharga yang telah ia temukan.

Sahabat, kita hidup dalam dunia yang berwajah ragam. Di satu sisi, kita dituntut untuk berbakti kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari. Tetapi di sisi lain, kita berhadapan dengan hal-hal yang mencoba untuk mengaburkan iman kita.

Misalnya, banyak orang beribadat begitu khusyuk kepada Tuhan, tetapi dalam hidup sehari-hari mereka tidak menunjukkan iman yang mendalam kepada Tuhan. Tingkah laku mereka tidak sesuai dengan ajaran kebaikan dan kasih dari agama yang mereka anut. Terjadi suatu pemisahan yang mendalam antara ibadat yang meriah dengan hidup yang nyata.

Tentu saja situasi seperti ini tidak dikehendaki oleh Tuhan dan setiap agama. Hidup ini semestinya menjadi perpanjangan dari ibadat atau doa yang disampaikan kepada Tuhan. Kalau orang berdoa agar orang lain bersikap adil terhadapnya, ia mesti juga belajar untuk bersikap adil. Bukannya dalam hidup sehari-hari menindas sesama.

Karena itu, orang beriman itu mesti selalu waspada dan berefleksi diri terus-menerus. Apakah apa yang dilakukannya itu sesuatu yang sesuai dengan iman yang dianutnya atau tidak? Mana yang mesti didahulukan dalam hidup: hukum yang keras yang tidak mengindahkan cinta kasih atau cinta kasih yang membawa kebahagiaan bagi banyak orang?

Sebagai orang beriman, kita ingin agar apa yang kita lakukan itu sesuai dengan apa yang kita ucapkan dalam doa-doa maupun dalam ibadat kita. Orang beriman yang baik itu orang yang selalu hidup secara selaras antara yang dilakukan dan yang didoakan dengan khusyuk dalam ibadat.

Mari kita berusaha untuk selalu hidup dalam keselarasan antara dua hal ini. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


999

28 November 2013

Selalu Membangun Relasi dengan Tuhan


Apa yang Anda lakukan ketika hati Anda terasa penat dan kurang bersukacita? Anda melarikan diri dari Tuhan dan mencari jalan sendiri?

Suatu ketika, ada seorang ibu berkisah tentang keluarganya. Dia mulai mengingat kembali pengalaman-pengalaman indah, ketika banyak orang bertamu di rumahnya. Banyak tamu yang datang membawa persoalan dan minta diselesaikan. Bahkan tidak jarang ada tamu yang minta bantuan dana.

Waktu itu suaminya adalah seorang pemimpin dan sangat berpengaruh. Banyak orang menaruh hormat dan segan terhadap keluarga ibu tersebut. Di sisi lain, orang-orang pun selalu siap membantu keluarga tersebut apabila dibutuhkan. Itu dulu!

Sekarang keadaan telah berubah. Suaminya telah tiada. Dia meninggal mendadak karena serangan jantung. Rumahnya kini sepi. Orang-orang yang dahulu sering datang ke rumahnya, semuanya sudah menghilang. Semua jasa dan budi baik dari keluarga ibu itu dilupakan begitu saja. Apabila ibu itu minta bantuan orang, semuanya seolah-olah sibuk. Mereka tidak bersedia. Misalnya, ketika ibu itu meminta bantuan orang untuk membetulkan pagar depan rumah yang sudah rusak, tidak ada satu pun orang yang bersedia.

Ibu itu sangat kecewa atas persahabatan dan persaudaraan yang telah tercipta. Orang-orang hanya mau bersahabat pada waktu mereka dalam kesulitan. Keluarga ini ditinggalkan, ketika mereka tidak punya pengaruh lagi. Orang hanya mau berkawan di dalam suka, namun tidak di dalam kesulitan.

Sahabat, kedekatan dengan sesama merupakan suatu bentuk ungkapan kasih kita. Intensitas kasih itu semakin mendalam terjadi, ketika kedekatan itu pun semakin kuat dirasakan. Situasi seperti ini biasanya menumbuhkan persahabatan yang saling menguntungkan. Artinya, orang tidak hanya mencari kesenangan diri sendiri saat menjalin relasi dengan orang lain. Orang sungguh-sungguh memperhitungkan kedamaian dan kebahagiaan sesamanya.

Kisah di atas menjadi suatu pengalaman yang menyakitkan. Orang hanya mau dekat, ketika mengalami kesulitan dalam hidup. Orang menjadi jauh, ketika keuntungan yang dicari tidak ditemukan lagi. Tentu saja relasi seperti ini sebuah relasi yang semu. Ada aji mumpung yang diperjuangkan. Orang tidak peduli akan sesamanya lagi begitu mendapatkan hal-hal yang dibutuhkan untuk hidupnya sehari-hari.

Kisah di atas membantu kita untuk senantiasa merefleksikan jalinan persahabatan yang selama ini kita bangun. Apakah relasi yang kita bangun itu suatu relasi yang tulus tanpa pamrih? Atau kita hanya mau menimba keuntungan bagi diri sendiri dalam membangun relasi dengan sesama?

Bagi orang beriman, dangkal atau dalamnya relasi dengan sesama menjadi cerminan relasinya dengan Tuhan. Dalam hal membangun relasi dengan Tuhan, orang beriman mesti senantiasa menyadari bahwa ia tidak hanya mendekati Tuhan saat membutuhkan bantuan dari Tuhan. Setiap waktu kita selalu mendapatkan rahmat demi rahmat dari Tuhan. Tidak kita minta pun Tuhan menganugerahkan kepada kita kasih setianya.

Karena itu, tidak ada alasan bagi kita hanya membangun relasi dengan Tuhan pada saat-saat kita membutuhkan bantuan dari Tuhan. Kita mesti selalu datang kepada Tuhan dalam setiap situasi hidup kita. Kita biarkan rahmat Tuhan bekerja atas diri kita. Dengan demikian, kita boleh mengalami hidup yang damai bersama Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

993

27 November 2013

Siap Sedia dalam Hidup Bersama

 

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menyaksikan keadaan yang tidak berkembang menjadi lebih baik di sekitar Anda? Anda kesal dan meninggalkan tempat di mana Anda tinggal? Atau Anda mencoba untuk memajukan lingkungan Anda?

Ada seorang pemuda yang kuliah di kota mengambil gelar Ir (insinyur) pertanian. Ia berharap nanti kalau sudah selesai diwisuda akan kembali ke kampung halaman. Ia ingin membangun desanya. Ia tidak mau melihat desanya selalu tertinggal. Karena itu, ia punya tekad membaja untuk menuntut ilmu di kota dan kembali membangun desanya.

Tentu saja, teman-temannya menertawakan harapan pemuda itu. Teman-temannya berkata, “Jika akan sukses, seseorang harus bekerja di kantor, memakai dasi serta berpakaian rapi. Jadi nanti ia akan kembali ke kampung dan menjadi petani seperti orang-orang yang tidak berpendidikan. Kapan kayanya?”

Kata-kata teman-temannya itu tidak menjadi penghalang baginya untuk belajar di kota. Justru kata-kata itu menjadi rangsangan bagi dirinya untuk belajar keras. Ia belajar dengan tekun dan membuat riset-riset yang cemerlang dalam bidang pertanian. Ia melakukan praktek-praktek yang akan ia gunakan untuk mengembangkan desanya melalui bidang pertanian.

Begitu lulus, Pemuda itu kembali ke kampungnya. Dengan bekal ilmu pengetahuannya, dia bekerja sebagai petani. Beberapa tahun kemudian pekerjaan pemuda itu menunjukkan hasil. Banyak orang di kampungnya belajar dari cara kerja insinyur muda itu. Mereka semua berhasil. Mereka kemudian bekerja sama lalu mendirikan koperasi usaha tani yang kepemimpinannya diserahkan kepadanya.

Ia mendapat kehormatan bukan karena melakukan pekerjaan yang dicari-cari orang. Malahan sebaliknya. Pekerjaan yang dimulainya adalah pekerjaan yang dianggap tidak layak. Pekerjaan yang semua temannya anggap amat tidak pantas.

Sahabat, sering banyak orang mencari kehormatan diri tidak dengan kerja keras. Mereka merasa bahwa dengan bermalas-malasan mereka dapat meraih cita-cita yang tinggi. Tentu saja pandangan seperti ini keliru. Orang tidak bisa hanya bermalas-malasan dalam hidup ini. Orang mesti berani bekerja keras demi meraih hidup yang lebih baik.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk memandang hidup ini tidak sebagai suatu kesempatan untuk bersenang-senang saja. Hidup ini punya tujuan yang mesti diraih. Tujuan hidup manusia adalah mengalami hidup yang bahagia dan damai bersama orang-orang di sekitar kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri kita sendiri. Kita juga hidup bagi orang lain. Karena itu, ketika kita melakukan suatu pekerjaan, kita juga mengembangkan hidup orang lain.

Untuk itu, dibutuhkan suatu sikap siap sedia untuk melakukan hal-hal yang baik dan benar bagi kehidupan bersama. Dalam sikap siap sedia itu, orang juga punya kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan lingkungannya. Pemuda dalam kisah di atas tanggap terhadap kebutuhan kampungnya. Penduduk kampung membutuhkan suatu sistim pertanian yang lebih baik dan modern. Ia punya keahlian yang bisa membantu masyarakat untuk semakin maju dalam dunia pertanian.

Orang beriman mesti siap sedia untuk mengubah hidup yang kurang baik menjadi lebih baik. Orang beriman mesti berani mengorbankan hidupnya bagi kemajuan bersama. Mari kita siapkan seluruh jiwa dan raga kita untuk memajukan hidup bersama. Dengan demikian, kita menemukan hidup yang lebih damai dan tenteram. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO


991

26 November 2013

Berusaha Setia Kendati Lemah

 
Sejauh mana kesetiaan Anda kepada orang-orang yang sangat dekat dengan Anda? Ketika Anda merasa dikhianati, apakah Anda masih setia?

Ada seorang anak yang dijanjikan oleh ayahnya untuk jalan-jalan ke pantai dan berenang pada hari Minggu. Itulah hadiah baginya atas prestasi menjadi juara satu di kelasnya, bahkan di sekolahnya. Sudah sering ia meraih prestasi seperti itu, namun baru kali ini ia mendapat hadiah dari sang ayah. Sungguh, suatu kesempatan yang sangat indah baginya bisa jalan-jalan dan berenang.

Ayahnya berjanji akan menepati acara jalan-jalan dan berenang itu. Mendengar janji itu, betapa senang hati anak tersebut. Hatinya berbunga-bunga. Sudah satu minggu, ia tidak bisa tidur hanya karena akan bersenang-senang bersama ayahnya. Anak itu sudah membayangkan bagaimana main-main dengan air, berenang kemudian bakar ikan di pantai.

Tetapi pada hari Minggu pagi, sang ayah mendapatkan telpon dari bos-nya untuk menemaninya keluar kota. Ini masalah pekerjaan, sehingga ia tidak bisa menolak. Ia harus mengikuti perintah bosnya itu. Bosnya akan mengadakan perjalanan bisnis pada hari itu juga. Kalau ia tidak mengikuti perintah itu, bisa-bisa ia dipecat dari pekerjaannya.

Karena itu, dengan hati kecewa ia meminta maaf kepada sang anak yang sudah siap-siap dengan pakaian olahraganya untuk jalan-jalan ke pantai. Mendengar permintaan maaf itu, sanga anak terpana. Ia sangat kecewa. Hadiah yang terindah itu belum terwujud. Janji itu belum menjadi nyata. Air matanya meleleh. Tetapi kemudian ia mesti menganggukkan kepala demi pekerjaan sang ayah. Ia tidak boleh memaksa ayahnya.

Sahabat, banyak janji yang diucapkan dari bibir-bibir manusia. Banyak pasangan suami istri berjanji untuk saling setia saat mereka menikah. Tetapi kemudian janji-janji itu tinggal janji saat ada tantangan yang menghadang kelanggengan keluarga. Ketika ada yang tidak setia alias selingkuh, kesepakatan untuk hidup bersama pun berakhir. Begitu mudah orang mengkhianati cintanya.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk tetap setia pada janji-janji yang telah kita ucapkan. Apa pun tantangan yang menghadang, semestinya kita tetap setia pada janji yang telah kita buat. Ketika kita membuat suatu janji sebenarnya kita tidak hanya sekedar mengucapkannya. Janji itu mesti terwujud dalam keseharian hidup kita. Janji itu mesti menjadi nyata dalam perjalanan hidup kita.

Untuk itu, kita mesti bercermin dari kesetiaan Tuhan. Dalam perjalanan hidup ini, Tuhan selalu setia kepada manusia, ciptaanNya. Kesetiaan itu tampak dalam rahmat demi rahmat yang dicurahkan ke dalam diri kita. Tuhan tetap setia, meski kita sering tidak setia kepadaNya. Tuhan tetap mengasihi kita, meski kita sering menolak kasih-Nya dengan melakukan dosa dan kejahatan.

Kasih dan kesetiaan Tuhan itu juga tampak dalam memberikan matahari dan udara untuk manusia. Setiap hari kita boleh menghirup udara yang segar. Setiap hari kita boleh mendapatkan sinar matahari untuk kelanjutan hidup kita.

Karena itu, kita diajak untuk tetap setia kepada Tuhan melalui orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita mesti berusaha untuk tetap setia pada komitmen yang telah kita buat, meski kita ini manusia lemah. Dengan demikian, hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk mewujudkan kasih kita kepada Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

25 November 2013

Membangun Kebenaran dalam Hidup

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menghadapi berbagai kebohongan dalam hidup? Anda biarkan begitu saja? Atau Anda berusaha untuk berusaha untuk hidup benar?

Di Yunani kuno, ada filsuf bernama Socrates (470 – 399 Seb. M). Para penguasa yang culas dibuatnya menjadi marah dan dendam kepadanya. Socrates dianggap telah melakukan tindakan subversif atau tindakan makar. Socrates – si pembela kaum miskin – ini dijatuhi hukuman mati pada umur yang ke-70. Atau Socrates akan selamat, jika tidak menyuarakan kebenaran yang ada dalam masyarakat.

Para muridnya datang kepada Socrates untuk meminta dia mengalah saja. Mereka berharap, ia berkompromi dengan orang yang mempunyai kuasa dan punya uang.

Namun Socrates berkata, “Tidak, tidak! Saya tidak akan diam dan saya tidak akan berhenti untuk membela kaum tertindas. Pengakuan salahku akan membuat mereka enak kembali. Sekarang, setidaknya mereka sudah terjaga. Mereka akan berhati-hati, jika akan mengambil keputusan. Aku membuat diri mereka panas dan gerah serta gelisah. Dan apabila mereka ingin membunuhku, terserah. Tetapi aku tidak akan berhenti untuk berjuang.”

Socrates tidak menghitung untung rugi. Ia memilih mati demi keyakinannya, demi kepeduliannya terhadap masyarakat kecil. Meski sudah mati, namun suaranya masih punya arti bagi yang kecil, bagi yang tersingkir dan yang miskin.

Sahabat, kebenaran sering mengusik oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Orang yang ingin berkuasa secara sewenang-wenang sering takut oleh kebenaran. Mereka takut kalau-kalau kebohongan demi kebohongan yang mereka sembunyikan akan ketahuan. Karena itu, siapa saja yang menyuarakan kebenaran akan dibungkam dengan berbagai cara.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa memperjuangkan kebenaran tidak semudah yang dibayangkan. Orang mesti berani menghadapi berbagai resiko yang akan menimpa dirinya. Socrates berani menghadapi resiko itu. Ia rela dihukum mati, yang penting kebenaran ditegakkan. Suara kebenaran yang diwartakannya mesti tetap berdengung, meski ia diancam hukuman mati oleh para penguasa pada zamannya.

Di negeri ini kebenaran sering kurang dihargai. Banyak orang merasa lebih berguna membohongi orang yang lebih berkuasa daripada dirinya. Atau sebaliknya, banyak orang yang berkuasa merasa patut membohongi bawahannya. Akibatnya, terjadi banyak kebohongan di negeri ini. Ada kebohongan publik yang dilakukan oleh sejumlah orang, sehingga kesejahteraan di negeri ini belum tercapai.

Cita-cita untuk memiliki suatu bangsa yang berkeadilan sosial bagi segenap penghuni negeri ini belum bisa diraih. Masih ada jalan panjang yang mesti dilewati. Masih ada jurang dan ngarai yang mesti dituruni. Pertanyaannya, sampai kapan segenap rakyat di negeri ini dapat merasakan keadilan yang merasa?

Untuk itu, yang mesti dilakukan adalah suatu pertobatan massal. Artinya, orang mesti kembali memperjuangkan kebenaran untuk membangun suatu bangsa yang adil dan sejahtera bagi semua orang.

Karena itu, orang mesti bercermin pada Tuhan yang adalah kebanaran sejati. Orang beriman mesti menerima kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Ketika orang dikuasai oleh kebohongan, orang menjauhkan diri dari Tuhan. Tuhan bukan andalan hidupnya. Mari kita andalkan Tuhan untuk membangun kebenaran dalam hidup. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT

989

24 November 2013

Percayakan Hidup pada Tuhan

 

Apa yang akan Anda lakukan, ketika penyakit menyerang tubuh Anda? Anda menyerah begitu saja? Atau Anda mau berjuang untuk mengatasi penyakit Anda dengan mempercayakan hidup Anda kepada Tuhan?

Michelle Price adalah gadis kecil periang yang senang memanjat pohon, menunggang kuda, bermain ski, bercerita tentang banyak kisah dan menyanyi. Orangtua yang sangat mengasihinya membuat hidup Michelle seolah tak memiliki sedikit beban pun sampai ia berumur 8 tahun. Ketika itu, kaki kanannya mulai terasa sakit dan bengkak.

Setelah beberapa dokter melakukan pemeriksaan, mereka mengatakan kepada orangtuanya bahwa Michelle menderita salah satu jenis penyakit kanker tulang yang mematikan. Dokter itu mengatakan, kesempatan untuk hidup kurang dari 4%. Sebagian besar kakinya harus diamputasi.

Orangtua Michelle sangat ketakutan tentang bagaimana mereka harus menceritakan hal tersebut kepadanya. Ketika mereka akhirnya menceritakan kepada Michelle, maka reaksi pertama dari Michelle: "Oh Papa, saya tidak akan dapat berdansa lagi, jika saya tidak mempunyai kaki! Saya tidak mau menjadi seorang yang cacat!"

Dia menangis terisak-isak untuk beberapa menit. Tetapi ketika ia melihat wajah ibunya dipenuhi air mata, ia berhenti menangis. Ia mengambil napas panjang dan berkata, "Saya akan baik-baik saja, Mami. Jangan menangis. Saya memang takut ketika Papa menceritakan kepada saya, tetapi Tuhan membuat hati saya tenang. Saya akan baik-baik saja. Percayalah, Mami."

Michelle bertanya kepada ayahnya, mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi. Ayahnya tidak bisa menjawab. Michelle berpikir untuk beberapa saat. Lantas dengan tersenyum ceria, ia berkata, "Mungkin saya tahu jawabnya. Jika para dokter itu belum memiliki obat untuk mengobati penyakit saya, mungkin mereka dapat mempelajari kaki saya dan menemukannya. Dengan demikian, mereka dapat membantu anak-anak lain yang sakit seperti saya."

Sahabat, banyak orang takut menghadapi penyakit yang sedang mendera tubuh mereka. Mereka mudah panik. Mereka menyalahkan orang lain. Mereka menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan diri mereka. Dalam kondisi seperti ini, orang kemudian kehilangan pegangan hidupnya. Orang mudah menyerah pada kenyataan hidupnya. Orang tidak mau berjuang lagi untuk melawan penyakit yang bersarang dalam tubuh mereka.

Kisah di atas memberi kita inspirasi untuk berani menyerahkan hidup kita kepada Tuhan yang telah menciptakan kita. Michelle tidak takut menghadapi penyakit kanker ganas yang mematikan itu. Ia menghadapinya dengan penuh iman. Ia tahu, Sang Pencipta punya rencana atas hidupnya. Tuhan tidak akan meninggalkan dirinya berjuang sendiri. Michelle bahkan menguatkan orang-orang yang ada di sekitarnya untuk tetap percaya pada Sang Khalik.

Hidup beriman itu mesti menjadi nyata dalam hidup sehari-hari. Seseorang yang menyatakan dirinya beriman mesti menunjukkannya dalam kenyataan hidup. Ia tidak bisa hanya beriman dengan bibir saja. Kalau ia beriman hanya dengan bibir, ketika tantangan menghadang dirinya, ia akan melarikan diri. Atau ia menyerah kalah pada tantangan hidup itu. Ia tidak berani memperjuangkan nilai-nilai iman yang dimilikinya. Bahkan ia akan menyalahkan Tuhan yang telah menciptakan dirinya.

Karena itu, orang beriman mesti terus-menerus memupuk imannya. Orang mesti sadar bahwa iman itu belum selesai, ketika orang mengucapkan pengakuan imannya. Orang mesti menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja hal ini tidak gampang. Tetapi orang mesti terus-menerus berjuang untuk tetap bertahan dalam imannya. Mari kita percayakan hidup kita kepada Tuhan. Mengapa? Karena pada Tuhan ada kasih setia dan pengampunan berlimpah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO

988

23 November 2013

Pusatkan Diri pada Tuhan yang Mahapenyayang

 

Apa yang akan Anda lakukan, ketika Anda berusaha untuk merebut kebahagiaan? Anda memusatkan segala usaha pada diri Anda? Atau Anda berusaha untuk memusatkan perhatian pada Tuhan yang mahabaik?

Suatu hari seorang pemuda pergi ke tempat ibadat. Ia berusaha untuk tiba pada waktunya. Ia membawa serta black berry kesayangannya. Ia berpikir, nanti kalau pemimpin ibadat berkotbah, ia bisa bbm. Ia bisa gunakan kesempatan itu untuk berkontak dengan teman-temannya.

Benar, saat tiba giliran pemimpin ibadat berkotbah, ia bbm. Dengan asyik ia memencet-mencet black barrynya. Ia merasa senang. Ia merasa bahagia bisa berkontak dengan teman-temannya. Komunikasi bisa berjalan dengan baik, meski ia sembunyi-sembunyi saja melakukannya. Ia menggunakan kesempatan dalam kesempitan.

Sayang, damai dan bahagia hanya sesaat ia peroleh dari bbm yang ia gunakan selama kotbah pemimpin ibadat itu. Seorang pencopet telah merampas black barry miliknya. Rupanya pencopet itu menyusup di tengah-tengah jemaat yang sedang beribadat itu. Pemuda itu sangat kesal atas ulah pencopet itu. Ia heran, mengapa ada pencopet yang pura-pura ikut beribadat. Padahal ia ingin menikmati dua kegiatan sekaligus, yaitu mendengarkan kotbah dan bermain bbm. Ia ingin dua hal itu sungguh-sungguh ia gunakan dalam waktu yang sempit.

Sahabat, kita ingin melakukan berbagai kegiatan dalam waktu bersamaan. Seolah-olah kita ini manusia yang super. Kita ingin berhasil dalam hidup ini dengan melakukan banyak hal. Kita ingin bahagia dalam hidup dengan berbagai hal itu. Sayang, keinginan kita sering tidak tercapai. Kita gagal dalam hidup ini. Kita menjadi tidak bahagia.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa memusatkan perhatian pada suatu titik itu menjadi sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini. Orang yang fokus akan mengalami damai dan bahagia dalam hidup ini. Orang yang focus itu lebih banyak suksesnya. Orang tidak bisa melakukan banyak hal secara serabutan. Orang mesti berani memilah-milah, mana yang baik untuk dilakukan untuk kebahagiaan dirinya dan sesamanya.

Fokus hidup orang beriman adalah Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Sering manusia lupa akan hal ini. Manusia sering merasa bahwa pusat perhatian hidupnya adalah kebahagiaan dirinya sendiri. Ternyata tidak. Pusat perhatian manusia mesti ditempatkan pada diri Tuhan yang senantiasa menemani perjalanan hidup manusia.

Karena itu, yang dibutuhkan dari manusia beriman adalah hati yang senantiasa terarah kepada Tuhan. Hati yang selalu berdegup bagi kehadiran Tuhan dalam hidup manusia. Tentu saja hal ini tidak mudah terjadi. Mengapa? Karena manusia ingin mencari kebahagiaannya sendiri. Manusia ingin memenuhi keinginan dirinya. Egoisme manusia begitu kuat, sehingga selalu cenderung untuk memenuhi kesenangannya sendiri.

Mari kita berusaha untuk memusatkan perhatian kita pada Tuhan. Dengan cara demikian, kebahagiaan Tuhan senantiasa mengalir ke dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Majalah FIAT


994

22 November 2013

Bangkit dari Kesedihan dan Penderitaan

 
Apa yang akan Anda lakukan ketika kesedihan dan penderitaan menimpa diri Anda? Anda tenggelam dalam situasi itu terus-menerus? Atau Anda mau bangkit dari situasi seperti ini untuk menatap hidup yang lebih baik?

Suatu hari, ada seorang pemuda meninggal dunia. Ia menderita leukemia, tetapi tidak pernah ada yang tahu. Ia meninggal secara tiba-tiba. Beberapa hari sebelumnya, ia baru saja melamar gadis pujaannya. Rencananya, tiga bulan kemudian mereka akan menikah. Tragis, pemuda itu begitu cepat meninggal dunia.

Kepergiannya untuk selama-lamanya itu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi orang-orang dekatnya. Orangtuanya begitu sedih menyaksikan peristiwa itu. Sang pacar pun mengalami duka yang mendalam. Ia tidak habis pikir, mengapa orang yang begitu dikasihi itu telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.

Sang pacar masih menangis selama beberapa hari setelah meninggalnya sang kekasih. Ia begitu sedih. Ia begitu menderita. Ia merasa seolah-olah hidup ini telah berakhir tanpa sang kekasih. Makan tak enak, minum pun tak segar. Ia tetap terpuruk dalam kesedihan yang sangat mendalam. Setiap hiburan yang diberikan kepadanya tidak berguna sama sekali.

Empat puluh hari kemudian, wajah sang pacar masih murung juga. Ia tidak mau bertemu dengan orang-orang. Bahkan sang ibu yang sangat dikasihinya pun ia tidak mau temui. Ia mengunci diri di kamarnya. Ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling malang di dunia. Kebahagiaan telah direnggut dari dirinya saat sang kekasih meninggal dunia.

Sahabat, penderitaan dan kesedihan boleh saja menimpa diri manusia. Sebenarnya hal-hal ini juga menjadi bagian dari kehidupan manusia. Ada situasi bahagia saat orang mengalami kasih yang begitu besar dari orang-orang di sekitarnya. Tetapi ada juga saat kesedihan dan penderitaan yang melanda hidup manusia.

Kisah di atas mau mengatakan kepada kita bahwa ada orang yang tidak begitu saja menerima kenyataan hidup. Orang menolak kesedihan dan penderitaan yang menimpa dirinya. Orang hanya ingin mengalami hal-hal yang bahagia dan sukacita. Orang hanya mau menerima hal-hal yang baik saja. Yang pahit dan kurang menyenangkan orang ingin cepat-cepat melepaskannya dari hidupnya.

Bisa jadi orang seperti ini kurang peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Orang tidak membuka mata dan hatinya untuk melihat dan mengalami duka nestapa yang terjadi dalam hidup sehari-hari. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah orang berani membuka mata dan hatinya terhadap kesedihan dan penderitaan yang dialami manusia. Ada orang yang kehilangan suami. Ada orang yang kehilangan orang-orang terdekat yang begitu disayangi dalam waktu yang sekejap.

Tetapi orang-orang ini tidak tenggelam dalam kesedihan dan penderitaan yang berlarut-larut. Mereka mudah bangkit dari situasi hidup seperti ini. Mereka berani menatap hidup ini dengan penuh optimis. Mereka berhasil keluar dari diri mereka untuk melihat dan menyaksikan kenyataan hidup sehari-hari.

Orang beriman mesti terus-menerus memupuk harapannya pada Tuhan yang mahakuasa dan mahakasih. Orang mesti yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan dirinya berjuang sendirian dalam perjalanan hidup di dunia ini. Tuhan memberi kekuatan dan semangat bagi manusia untuk bangkit dari keterpurukan hidup.

Mari kita berusaha untuk keluar dari kesedihan dan penderitaan yang kita alami. Kita buka mata dan hati kita terhadap peristiwa-peristiwa hidup kita. Dengan demikian, kita dapat menangkap makna kesedihan dan penderitaan yang sedang kita alami. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

986

21 November 2013

Berkorban sebagai Ungkapan Kasih yang Tulus


Apa yang akan Anda lakukan, ketika kasih menuntut korban? Anda menghindarinya? Atau Anda berani berkorban demi kasih yang tulus bagi sesama Anda?

Ada dua insan hendak melaksanakan pernikahan dalam beberapa bulan yang akan datang. Sang Gadis berambut panjang, sedang si cowok memiliki biola tetapi tidak memiliki tas biola. Hari Valentine merupakan saat yang tepat untuk saling memberikan kado.

Sang pemuda itu begitu terpesona oleh rambut panjang yang mengurai dari kepala gadis itu. Sayang, kadang-kadang rambut yang panjang itu awut-awutan. Mengapa? Karena tidak ada penjepit yang menyatukan rambutnya. Karena itu, pemuda itu berpikir untuk memberikan kado sebuah jepitan pita emas untuk rambut kekasihnya yang panjang itu. Soalnya, ia tidak punya uang untuk membelikan jepitan pita emas itu.

Karena rasa sayangnya kepada gadis pujaannya, pemuda itu memutuskan untuk menjual biola kesayangannya. Hasil penjualan biola itu ia belikan sebuah jepitan pita emas. Ia membungkusnya dalam sebuah kotak yang indah dengan kertas kado berwarna emas. Bungkusan itu akan ia berikan saat Valentine Day. Ia berpikir, gadis pujaannya akan bergembira luar biasa saat membuka kado itu.

Sementara itu, sang gadis juga ingin memberikan kado untuk pemuda pujaannya. Ia menyaksikan pemuda itu membawa biolanya ke mana-mana, tetapi tanpa tas. Ia kuatir, kalau biola itu rusak di kala diterpa hujan dan angin. Ia memutuskan untuk memotong rambutnya yang panjang itu.

Lantas ia menjual potongan rambut itu. Hasilnya ia gunakan untuk membeli tas untuk biola kesayangan kekasihnya. Ia membungkus tas itu dalam sebuah kotak dengan kertas kado berwarna emas. Ia akan hadiahkan kepada kekasihnya saat Valentina Day. Ia berharap, sang kekasih akan bergembira menerima kado dari tangannya.

Saat Valentine Day tiba, kedua insan itu ingin buat kejutan. Mereka berjanji untuk bertemu di sebuah taman yang indah. Sang gadis membawa kado yang cukup besar. Sedangkan sang pemuda membawa kado yang kecil. Saat berjumpa, keduanya saling terkejut. Sang pemuda terkejut luar biasa menyaksikan kekasihnya yang kini berambut pendek. Padahal ia ingin memberi hadiah sebuah jepitan pita emas untuk rambutnya. Sedangkan sang gadis terkejut, karena biola kesayangan kekasihnya itu sudah lenyap. Semuanya telah lenyap. Tetapi yang tertinggal dalam hati kedua insan itu adalah cinta yang berkobar-kobar.

Sahabat, kasih yang sejati selalu menuntut korban. Orang-orang yang saling mengasihi dengan tulus biasanya tidak memperhitungkan untung atau rugi. Yang mereka lakukan adalah mereka saling memberi diri. Mereka saling memberi hidup. Mereka menumbuhkan kasih itu dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Kisah imajinatif di atas memberi kita inspirasi untuk tetap berani berkorban sebagai ungkapan kasih kita yang tulus kepada sesama. Kasih yang tidak egois menumbuhkan buah-buah yang baik dalam kehidupan bersama. Dalam hidup berkeluarga, misalnya, suami istri yang saling mengasihi dengan tulus akan saling berkorban. Mereka saling memberi. Bahkan mereka memberi diri mereka sendiri. Apa pun yang mereka lakukan demi kasih, mereka lakukan dengan tanpa pamrih.

Ketika egoisme menguasai hidup manusia, orang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kasihnya hanya berpusat pada dirinya sendiri. Kasih seperti ini tidak berbuah kebaikan bagi hidup bersama. Kasih seperti ini hanya berbuahkan nafsu menguasai yang lain. Orang tidak peduli terhadap sesamanya yang membutuhkan bantuan.

Orang beriman mesti bertumbuh dalam kasih yang tulus. Dengan demikian, hidup ini berbuah kebaikan. Setiap orang akan mengalami damai dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales SCJ

Tabloid KOMUNIO/Majalah FIAT

985