Pages

29 September 2010

Menyadari Pentingnya Lingkungan Hidup






Kabut asap menyelimuti Kota Palembang sejak subuh tadi pagi (10/9/2009). Selain mengganggu pernafasan, kabut ini juga membuat jarak pandang menjadi terganggu, hanya berkisar 500 meter. Sementara itu, beberapa hari terakhir ini kabut asap juga mengganggu penerbangan. Pesawat-pesawat yang akan mendarat di bandara Sultan Mahmud Badaarudin II Palembang mesti menunggu sampai menemukan sela untuk bisa mendarat. Akibatnya, pesawat-pesawat tersebut mesti berputar-putar di atas Kota Palembang.

Seorang penumpang mengatakan bahwa asap itu telah membuat penerbangan menjadi lebih lama, yaitu satu jam lebih. Semestinya penerbangan dari Jakarta ke Palembang hanya memakan waktu 50 menit. Di darat pun jarak pandang menjadi terganggu. Seorang penumpang sebuah bus mengatakan bahwa bus yang ditumpangi tidak berani melaju dengan cepat. Soalnya, jarak pandang hanya sekitar 50 hingga 100 meter saja.

Ia berkata, “Bus kami berjalan merayap, jarak pandang sekitar 50-100 meter. Apalagi di jalan begitu banyak motor, sehingga bus terlambat tiba.”

Sahabat, sepertinya asap bukan lagi sesuatu yang aneh. Setiap tahun kabut asap senantiasa mengganggu kehidupan manusia. Mengapa bisa terjadi? Kata orang, ada asap pasti ada apinya. Bukan hal yang aneh lagi kalau Indonesia tidak diselimuti asap pada musim kemarau. Hari-hari ini di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya banyak sekolah diliburkan, karena asap.

Soalnya, mengapa terjadi asap? Asap terjadi karena pembakaran. Asap mengepul dan menyelimuti dunia ini, karena ada tangan-tangan yang menyulutkan api ke hutan-hutan. Ada orang yang tidak mau susah-susah membuka hutan untuk perkebunan atau perladangan. Hutan belantara yang semestinya menjadi tempat yang nyaman, kini berubah menjadi tempat yang menakutkan. Hutan sudah habis dilalap si jago merah. Yang tersisa hanya asap yang menyebar ke berbagai tempat mengganggu kehidupan manusia.

Apa yang mesti dibuat oleh manusia? Yang mesti dibuat pertama-tama adalah kesadaran diri. Manusia mesti mulai sadar bahwa alam ciptaan ini adalah bagian dari kehidupan manusia. Membinasakan alam ciptaan ini sama dengan membinasakan diri manusia sendiri. Alam sekitar kita menjaga keseimbangan iklim dunia ini. Kalau kita kehilangan hutan, kita juga akan kehilangan banyak oksigen yang memberi hidup kepada manusia.

Hal kedua yang mesti dibuat manusia adalah menjaga, agar alam lingkungan ini tidak dirusak begitu saja. Manusia memang membutuhkan hal-hal untuk kehidupannya. Namun tidak berarti manusia dengan semena-mena menghancurkan alam sekitarnya. Manusia mesti bersikap cerdas dan bijaksana, agar alam ciptaan ini menjadi suatu kekayaan yang berguna bagi kehidupan manusia.

Hal ketiga yang mesti dibuat adalah melestarikan alam lingkungan. Artinya, manusia mesti menanam kembali hutan yang sudah lenyap. Manusia mesti berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan hutan yang sudah punah itu. Tentu saja hal ini tidak mudah. Ada banyak tantangan yang mesti dihadapi. Namun kalau manusia mau berusaha, akan ada hasil yang berguna bagi kehidupan manusia. Mari kita berusaha untuk menghentikan pemusnahan alam lingkungan di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

512

28 September 2010

Berusaha Hidup Apa Adanya


Ada seorang anak yang hidupnya bersahaja. Padahal ia anak seorang pedagang yang kaya raya di kotanya. Ia ingin hidup apa adanya seperti teman-temannya yang lain. Ia mau berjalan kaki menuju sekolahnya. Ia tidak mau dianjar oleh orangtua atau pembantunya. Ia ingin berusaha untuk menghayati hidup ini dengan sungguh-sungguh.

Bagi anak itu, semua harta kekayaan ayahnya adalah anugerah dari Tuhan. Jadi tidak perlu ia menonjol-nonjolkan harta kekayaan itu. Ia berkata, ”Harta kekayaan itu dapat saja hilang dalam waktu yang singkat. Jadi saya tidak perlu mengandalkan harta kekayaan itu. Cukuplah saya menggunakannya untuk kemajuan diri saya dan sesama saya.”

Orangtuanya sampai heran melihat sikap anaknya. Kalau saja ia mau memiliki apa saja, tentu orangtuanya akan memenuhinya. Namun ia tidak mau. Yang ia inginkan adalah ia membangun persahabatan dengan semua orang. Karena itu, ia ingin tampil apa adanya. Ia mau agar teman-temannya tidak segan bergaul dengannya. Ia ingin agar tidak ada perbedaan antara yang miskin dan kaya. Semua manusia itu sama di hadapan Tuhan.

Sahabat, tentu saja semangat seperti ini menjadi suatu keutamaan yang mesti dikejar oleh setiap manusia. Mengapa? Karena ketika orang berani mengalahkan kepentingan dirinya sendiri, ia akan menemukan begitu banyak hal baik dalam hidupnya. Ia tidak perlu bersusah payah mencari cara-cara untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Semua sudah tersedia baginya.

Soalnya adalah gengsi sering membutakan hati manusia. Karena dorongan untuk sama dengan orang lain, orang berusaha untuk memenuhi dirinya dengan apa saja. Padahal sebenarnya orang tidak mampu mencukupi dirinya sendiri. Orang mesti hidup apa adanya. Orang tidak perlu dibuai oleh gengsi.

Ada orang mengatakan bahwa gengsi itu mahal. Kok bisa? Karena demi gengsi orang rela mengumpulkan apa saja untuk dirinya sendiri. Orang berani menghiasi dirinya dengan hal-hal yang mahal. Orang ingin menyamai sesamanya. Tidak cukup orang hidup sesuai dengan apa yang dimilikinya. Tentu saja sikap seperti ini akan membahayakan diri sendiri. Orang berusaha sekuat tenaga untuk sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin dikejarnya.

Kisah tadi menunjukkan kepada kita bahwa hidup apa adanya itu membantu orang untuk menemukan dan mengerti tentang dirinya sendiri. Orang dapat membangun sesuatu yang bernilai tinggi tanpa harus mengandalkan harta kekayaan yang dapat binasa. Orang dapat membangun persahabatan yang seluas-luasnya dengan tampil apa adanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk berani mengambil langkah yang baik dalam hidup ini. Langkah yang baik itu adalah hidup apa adanya. Kita tidak perlu tergoda oleh gengsi yang sering menggerogoti hidup manusia. Dengan demikian, kita dapat membangun suatu persahabatan dengan semua orang. Kita dapat menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

511

27 September 2010

Memberikan Tanggapan yang Positif terhadap Sesama

Seorang bapak selalu memberikan tanggapan yang positif terhadap hal-hal yang dilakukan oleh anak-anaknya. Menurutnya, tanggapan positif itu membantu anak-anaknya untuk bertumbuh dengan lebih baik. Namun tidak berarti ia begitu toleran terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji yang dilakukan anak-anaknya. Ia tetap kritis terhadap mereka.

Ketika anak-anaknya itu melakukan hal-hal yang baik, ia selalu memberikan tanggapan yang positif. Ia tidak segan-segan memberikan pujian-pujian kepada mereka. Hasilnya? Anak-anaknya bertumbuh menjadi anak-anak yang baik. Mereka memiliki sopan santun yang baik. Mereka memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap sesamanya. Mereka juga memiliki prestasi yang tinggi di sekolah, karena mereka mendapat semangat dari sang bapak.

Dengan kondisi seperti itu, semua anaknya meraih cita-cita mereka. Mereka hidup dengan jujur dan damai dengan semua orang. Ketika ditanya tentang sikapnya, bapak itu menjawab, “Sebagai orangtua saya mesti memberikan dukungan kepada anak-anak saya. Dengan memberikan tanggapan yang positif terhadap usaha-usaha mereka, mereka dapat bertumbuh dan berkembang dengan lebih baik.”

Sahabat, pernahkah Anda memberikan tanggapan yang positif terhadap setiap usaha yang dilakukan oleh sesamamu? Mungkin banyak dari kita yang lebih mudah memberikan penilaian yang negatif terhadap usaha-usaha sesamanya. Banyak dari kita yang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh sesamanya itu kurang punya nilai yang tinggi. Banyak dari kita yang merasa bahwa hasil pekerjaan kita lebih bernilai tinggi.

Tentu saja situasi seperti ini mudah membuat sesama kita loyo dan gampang putus asa. Apa yang sudah dilakukannya ternyata kurang mendapatkan tanggapan yang positif. Mengapa situasi ini bisa terjadi? Karena orang memiliki egoisme yang tinggi. Orang kurang rela memberikan suatu tanggapan yang positif terhadap sesamanya. Orang memandang dirinya lebih baik dari yang lain. Tindakan yang benar dan baik hanya ada pada dirinya. Sedangkan orang lain melakukan sesuatu yang tidak lebih baik dari dirinya.

Hal seperti ini tentu saja membuat orang tidak bisa maju dalam hidupnya. Semestinya orang berani memberikan tanggapan yang positif terhadap hasil kerja sesamanya. Bahkan kalau boleh memberikan pujian terhadapnya. Mengapa? Dengan tanggapan yang positif dan pujian yang membangun orang akan lebih giat lagi dalam usahanya. Orang akan bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang lebih berguna bagi Tuhan dan sesamanya.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita mesti rela untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap hasil kerja sesama kita. Kita memberikan pujian-pujian yang mendorong orang tersebut untuk lebih maju lagi dalam hidupnya. Dengan demikian, semakin banyak orang baik yang menghuni bumi ini. Semakin banyak orang berusaha untuk menciptakan damai bagi sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

510

26 September 2010

Menumbuhkan Cinta yang Sejati dalam Hidup



Seorang pemuda sangat mencintai seorang gadis. Mengapa? Karena di matanya, gadis itu sangat cantik. Gadis itu selalu tampil menawan dan menyenangkan hatinya. Karena itu, ia berusaha untuk memiliki gadis itu. Senyum gadis yang indah dan menawan itu telah memukau hati sanubarinya. Ia tidak bisa menahan diri lagi untuk mendekati dan memilikinya.

Hasilnya, keinginannya itu tercapai. Gadis itu menjadi gandengannya. Ia dapat bepergian bersama gadis itu. Ia tidak hanya menjadi pujaannya saja. Kini gadis itu sudah berada di tangannya. Lelaki mana yang tidak ingin didampingi oleh seorang gadis cantik? Tentu sebagian besar kaum lelaki menginginkannya.

Soalnya adalah pemuda itu kemudian mulai menyesal begitu ia mengenal gadis itu secara lebih dekat. Ternyata kecantikan, keindahan dan kemolekan yang dimiliki gadis itu tidak asli. Ia telah memolesnya dengan kosmetik. Bekas-bekas jerawat kemudian muncul kembali ketika gadis itu tidak memakai kosmetik. Pemuda itu menyesal telah memuja gadis seperti itu. Ia kecewa. Ia ingin meninggalkannya. Ia tidak mau menjalin relasi yang lebih jauh lagi dengan gadis itu. Ia telah merasa tertipu.

Sahabat, masih adakah cinta yang sejati dalam hidup ini? Mungkin pertanyaan ini sering dilontarkan oleh manusia jaman sekarang. Mengapa muncul pertanyaan seperti ini? Karena banyak orang hanya mencintai sesamanya secara lahiriah saja. Hal-hal luar yang tampak memukau itu menjadi andalan dalam hidup orang. Karena itu, ketika hal-hal lahiriah itu berubah menjadi jelek, orang berusaha untuk meninggalkannya.

Kisah tadi meninggalkan kepedihan bagi gadis itu. Ia tidak ingin dicintai hanya secara fisik yang tampak cantik, indah dan menawan. Ia ingin lebih dari itu. Namun pemuda yang telah memujanya itu hanya mencintai sebatas yang lahiriah. Cintanya itu bersyarat. Cintanya tidak tulus. Cintanya tidak murni. Cintanya tidak sejati.

Semestinya cinta sejati yang ditanamkan dalam hidup. Semestinya orang berani menerima dan mencintai sesamanya apa adanya. Semestinya dalam mencintai orang tidak perlu menempatkan syarat-syarat yang berat. Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, orang akan mengalami kekecewaan. Orang dapat frustrasi karena syarat-syarat itu tidak terpenuhi.

Karena itu, orang mesti menumbuhkan cinta yang sejati dalam hidupnya. Cinta yang sejati itu akan indah pada waktunya, ketika orang berani untuk mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Cinta yang sejati itu akan bertumbuh subur, ketika orang rela mengorbankan dirinya bagi orang yang dicintainya.

Sebagai orang beriman, kita mesti senantiasa menumbuhsuburkan cinta yang sejati dalam hidup ini. Suatu cinta yang dapat saja berasal dari keindahan, kecantikan dan kemolekan seseorang. Cinta yang menjauhkan diri kita dari syarat-syarat yang membuat orang kehilangan cinta yang sejati. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com


509

25 September 2010

Memaknai Kebebasan dalam Hidup





Ada seorang pemuda yang jatuh cinta kepada seorang gadis. Ia begitu terobsesi oleh penampilan fisik gadis itu. Cintanya itu pun mendapatkan jawaban yang positif. Keduanya berpacaran dan berencara untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia sungguh-sungguh mencintai gadis itu.

Soal yang muncul adalah lama-kelamaan gadis itu mulai bersikap cuek terhadapnya. Pertama-tama bukan karena gadis itu memiliki cowok idaman lain. Namun pertama-tama karena gadis itu tidak mau kehilangan kebebasannya. Pemuda itu selalu memberi nasihat yang mengekang dirinya. Misalnya, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Ia harus menuruti nasihat-nasihat dari pemuda yang memujanya itu.

Gadis itu merasa risih. Baginya, cinta itu mesti dalam kondisi orang bebas untuk saling memberikan diri. Dalam situasi bebas itu, orang akan menemukan hakekat sesungguhnya dari cinta itu. Nasihat-nasihat yang mengekang diri itu dirasakan oleh gadis itu sebagai suatu bentuk merosotnya cinta. Orang tidak dapat hidup dalam suasana cinta yang dipaksakan. Orang tidak dapat meneruskan relasi cinta mereka, ketika salah satu pihak mengalami situasi terkekang.

Sahabat, kebebasan menjadi unsur yang penting dalam menjalin relasi cinta. Kebebasan dalam arti ini bukan berarti kebebasan yang semau gue. Tetapi suatu kebebasan yang memberi ruang gerak kepada pihak lain untuk mengungkapkan cintanya. Dalam situasi bebas orang merasa dipercaya untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian, cinta yang ditumbuhkembangkan adalah cinta yang tulus. Cinta yang mampu membahagiakan setiap orang.

Memberi kebebasan kepada orang yang dicintai itu berarti orang ingin menumbuhkembangkan hidup orang itu. Orang mau agar sesamanya tidak hidup dalam keterpurukan. Orang ingin agar sesamanya keluar dari lingkaran egoisme. Karena itu, dalam hal mencintai orang mesti berani memberi ruang kebebasan kepada sesamanya. Dengan demikian, orang yang dicintai itu mampu menemukan dirinya sendiri dalam perjalanan hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita mesti belajar dari Tuhan yang senantiasa mencintai manusia tanpa syarat. Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk melakukan apa saja. Namun yang penting adalah manusia mampu mempertanggungjawabkan kebebasan tersebut. Yang penting manusia dapat menumbuhkan cinta kasihnya yang mendalam kepada sesamanya. Suatu cinta yang dikembangkan tanpa syarat. Suatu cinta sejati yang mesti menjadi andalan dalam hidup ini.

Karena itu, kita mesti rela untuk diubah oleh Tuhan. Cinta kita yang sarat dengan egoisme dan kepentingan diri sendiri itu mesti diubah oleh Tuhan menjadi suatu cinta yang memberi kebebasan dan penghargaan yang tinggi terhadap cinta sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

508

24 September 2010

Memaknai Diam dalam Hidup


Seorang bapak sering berdiam diri. Ia tidak banyak bicara. Namun ia sangat peduli terhadap keluarganya. Ia bekerja rajin untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Baginya, keluarganya itu menjadi tumpuan hidupnya. Ia tidak ingin melihat keluarganya berantakan. Ia tidak ingin menyaksikan keluarganya hidup tidak sejahtera.

Karena itu, setiap kebutuhan dari anak-anaknya selalu ia usahakan untuk dipenuhi. Semuanya ia lakukan dalam diam. Ia menjawab permintaan anak-anaknya dengan anggukan kepala. Atau ia menggelengkan kepala, ketika ia tidak setuju terhadap tindakan anak-anaknya yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam diam itulah ia menunjukkan kecintaannya kepada keluarganya. Dalam diam itulah ia mengumpulkan potensi dan kemampuannya untuk menjadikan keluarganya sebuah keluarga yang bermartabat dan bermoral. Dalam diam itu ia memberi ruang gerak kepada istri dan anak-anaknya. Ia memperjuangkan kelangsungan hidup keluarganya dalam situasi diam itu.

Sahabat, pernahkah Anda merasakan suasana diam sebagai suasana yang indah? Pernahkah Anda pergi ke hutan belantara sendirian dan merasakan bahwa dalam kesunyian dan diam itu ada begitu banyak hal yang indah? Kalau Anda belum pernah mengalaminya, cobalah Anda lakukan. Coba Anda mengambil waktu untuk berdiam diri.

Dalam situasi seperti itu, Anda dapat merenungkan makna kehidupan ini. Dalam situasi diam itu, Anda dapat menemukan betapa agung dan mulia cinta yang Anda miliki untuk orang-orang yang ada di sekitar Anda. Dalam diam, Anda dapat memberi ruang yang lebih besar bagi Tuhan dan sesama untuk bergulat dengan Anda.

Soalnya adalah sering banyak orang mengalami kesulitan untuk hidup dalam diam. Banyak orang merasa takut untuk berdiam diri. Banyak orang lebih suka menghiasi diri mereka dengan berbagai macam bunyian. Mengapa? Karena orang tidak menemukan makna diam dalam hidup ini. Orang merasa bahwa diam itu sunyi sepi. Diam itu tidak banyak memiliki makna. Padahal dalam diam itu begitu banyak hal yang dapat dilakukan. Dalam diam itu, orang mampu menemukan Tuhan. Dalam diam itu orang mampu merefleksikan cinta yang selama ini mereka perjuangkan.

Di dalam diam itu ada kekuatan. Diam itu digunakan untuk berbagai hal baik bagi kepentingan bersama. Coba Anda bayangkan, kalau dunia ini hanya dipenuhi oleh hiruk pikuk. Apa yang akan terjadi? Banyak orang hanya bisa ngomong, tetapi tidak berani beraksi. No action talk only. Hasilnya? Tidak banyak hasil yang dipetik dari banyaknya omong itu.

Sebagai orang beriman, kita berlajar untuk berdiam untuk suatu tujuan yang sangat mulia. Kita berdiam diri untuk menemukan Tuhan dan membiarkan Tuhan bekerja di dalam diri kita. Dalam diam, kita menemukan kekuatan dari cinta Tuhan yang begitu besar terhadap kita. Karena itu, mari kita berusaha untuk berdiam diri, ketika kita ingin mendengarkan suara Tuhan. Kita berusaha untuk berdiam diri, ketika kita mau memaknai hidup ini secara lebih mendalam. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

507

23 September 2010

Belajar Mendengarkan Sesama



Seorang bapak mengajarkan anak-anaknya untuk mau mendengarkan sesamanya. Soalnya, ia memberi alasan, setiap kali terjadi pertengkaran selalu saja diakhiri dengan perkelahian. Padahal sebenarnya tidak perlu terjadi pertengkaran hingga perkelahian, kalau saja masing-masing mau menahan diri untuk tidak bicara. Kalau saja masing-masing mau mendengarkan yang lain, tentu saja pertengkaran hingga perkelahian tidak terjadi di antara anak-anak itu.

Bapak itu berkata kepada anak-anaknya, ”Kalian harus belajar saling mendengarkan. Hanya dengan cara itu kalian dapat saling mendengarkan.”

Anak-anaknya mulai paham. Mereka mulai berusaha untuk mendengarkan yang lain. Meski awalnya agak sulit, tetapi lama kelamaan bisa juga. Mereka dapat saling mengerti. Tidak terjadi pertengkaran dan perkelahian di antara mereka. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang saling mengasihi.

Sahabat, mendengarkan orang lain itu tidak mudah. Manusia lebih mudah berbicara dan lebih suka didengarkan oleh orang lain. Banyak orang minta perhatian dari orang lain ketimbang harus memasang telinga bagi orang lain. Akibatnya, orang sering membuat dirinya tuli. Orang kurang mau mendengarkan sesamanya. Kata-kata yang baik dan benar dari sesamanya berlalu begitu saja.

Mengapa pasangan suami istri sering bertengkar dalam membangun hidup bersama? Karena mereka tidak mau saling mendengarkan. Karena telinga mereka tersumbat oleh egoisme. Karena mereka hanya mau pasangannya mendengarkan kata-kata dirinya sendiri. Kalau hal ini terus-menerus berlangsung di dalam kehidupan berkeluarga, cepat atau lambat keluarga ini akan berantakan. Hancur berkeping-keping.

Mendengarkan itu membutuhkan kesabaran. Orang tidak bisa begitu saja mudah mendengarkan. Orang mesti belajar untuk memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan sesamanya. Untuk dapat mendengarkan dengan baik, orang mesti mengambil suasana rileks. Orang tidak bisa sambil melakukan pekerjaan yang sibuk sambil mendengarkan curahan hati sesamanya.

Mendengarkan itu juga membutuhkan kerendahan hati. Biasanya orang yang rendah hati itu mau dan mampu mendengarkan sesamanya dengan baik. Orang seperti ini biasanya merelakan waktunya untuk sesamanya. Orang seperti ini biasanya mau menerima apa adanya orang yang sedang berbicara kepadanya.

Untuk itu, kita mesti mau menyediakan diri untuk mendengarkan sesama. Tidak usah berpikir bahwa kita akan kehilangan waktu, ketika kita mesti mendengarkan keluh kesah sesama kita. Justru dengan menyediakan waktu luang bagi sesama untuk mendengarkannya, kita menjadi orang yang punya kepedulian terhadap sesama. Tidak mudah mendengarkan orang lain. Tetapi kita mesti berani mencoba untuk mendengarkan sesama kita, kalau kita juga mau didengarkan oleh orang lain.

Sebagai orang beriman, kita mesti berusaha untuk mendengarkan sesama kita. Kata-kata sesama kita dapat menjadi pegangan bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

506

22 September 2010

Pentingnya Kehadiran bagi Sesama



Ada seorang manager sebuah perusahaan yang sangat disukai oleh para karyawannya. Salah satu hal yang sangat berkesan dari para karyawan adalah manager tersebut sangat peduli terhadap mereka. Ia selalu hadir bersama mereka.

Kehadirannya itu tidak hanya di perusahaan. Tetapi ia juga hadir ketika para karyawan atau orang-orang dekat para karyawannya itu mengalami musibah. Kehadirannya memberikan makna yang begitu mendalam. Kehadirannya itu menguatkan para karyawannya. Kehadirannya memberi motivasi kerja yang sangat tinggi dari para karyawannya. Apalagi ia selalu tampil bersahabat dengan semua orang.

Hasilnya, perusahaan yang dipimpinnya mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tidak terjadi krisis di dalam perusahaan itu meski krisis ekonomi melanda dunia. Dengan caranya yang khas, manager tersebut meyakinkan para karyawannya bahwa kalau mereka mau berusaha, krisis tidak akan pernah melanda hidup mereka.

Hal yang juga mengagumkan adalah para karyawan itu sangat percaya kepadanya. Mereka memberikan seluruh hidup mereka untuk kemajuah perusahaan itu. Perusahaan ini tidak pernah ditinggalkan oleh para karyawannya. Bahkan di saat krisis melanda dunia, perusahaan ini malah menambah tenaga kerja. Hal seperti ini sulit sekali ditemukan di perusahaan-perusahaan lain yang menerapkan pendekatan yang berbeda.

Sahabat, kehadiran itu sesuatu yang penting dalam hidup ini. Kehadiran itu seperti kado yang tak ternilai harganya. Kehadiran dari seorang pemimpin memberi nilai lebih kepada mereka yang dipimpin. Kehadiran itu memberikan rasa percaya diri dan rasa cinta yang begitu besar.

Bayangkan kalau Anda sedang jatuh cinta kepada seseorang, tetapi orang yang bersangkutan tidak pernah hadir dalam hidup Anda. Apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah Anda merasa jauh. Anda merasa tidak dihargai. Anda tidak percaya terhadap orang yang Anda cintai itu.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah kehadiran yang menciptakan suasana kedekatan. Suatu suasana di mana orang dapat saling memandang. Suasana di mana orang dapat berkomunikasi satu sama lain. Orang saling mencurahkan isi hatinya kepada yang lain.

Suasana untuk berbagi perasaan menjadi sesuatu yang indah. Suatu saat yang meneguhkan relasi. Suatu saat yang memberi motivasi untuk hidup semakin lebih baik dan baik lagi. Untuk itu, dalam kehadiran itu dibutuhkan suatu keinginan untuk membangun hidup lebih baik lagi. Kehadiran itu tidak hanya untuk kehadiran. Kehadiran itu untuk memajukan kehidupan. Kehadiran itu ada untuk menciptakan suasana kasih sayang.

Mari kita berusaha untuk hadir dalam hidup sesama kita. Kita dapat memberikan dukungan dan dorongan bagi sesama untuk semakin bertumbuh dalam iman, pengharapan dan cinta kasih. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

505

21 September 2010

Berusaha Memberi Makna bagi Hidup





Suatu hari seorang anak kecil memperhatikan sumber air yang perlahan-lahan mengeluarkan air. Air itu kemudian mengalir menuju ke tempat yang lebih rendah. Terus begitu setiap saat, setiap hari. Anak itu menikmati suasana seperti itu. Ia tidak mau beranjak dari sumber air itu. Namun kemudian ayahnya memanggilnya pulang ke rumah. Ia meninggalkan sumber air itu dengan tatapan penuh tanya.

Sambil berjalan bersama ayahnya, ia bertanya, “Ayah, mengapa air itu mengalir? Ke mana air itu mengalir?”

Ayahnya tersenyum mendengar pertanyaan anaknya yang kritis. Lantas ia menjawab, “Anakku, setiap tetes air yang keluar dari sumber itu tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai, selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan setelah sampai di samudera mereka tahu bahwa suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Mereka menjadi awan dan turun dalam bentuk hujan.”

Anak itu termenung mendengarkan penjelasan ayahnya. Ayahnya melanjutkan, “Sebagian air itu menyuburkan pohon-pohon, rerumputan, sebagian tertampung di danau-danau dan sebagian kembali ke laut. Tidak ada yang sia-sia. Demikian pula dengan hidup kita. Tidak ada yang sia-sia.”

Sahabat, hidup manusia begitu berharga. Hidup ini selalu punya makna. Selalu punya arti entah bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Tidak ada yang sia-sia. Hidup ini selalu memiliki tujuan. Sama seperti air yang turun ke bumi. Selalu punya arti setelah menyuburkan tanah dan tanaman.

Karena hidup ini tidak pernah sia-sia, maka orang mesti selalu menghargainya. Orang mesti selalu memperjuangkannya dan menjadikan hidupnya memiliki nilai bagi hidupnya dan bagi hidup orang lain. Karena itu, kita butuh suatu ketahanan diri dalam memberi nilai terhadap hidup ini.

Sering orang merasa bahwa hidupnya itu hanya sebatas apa yang ada. Hidup ini seolah-olah sia-sia. Tidak memiliki makna yang mendalam. Nyatanya hidup ini memiliki begitu banyak nilai yang berguna untuk kemajuan hidup. Karena itu, orang mesti berusaha terus-menerus agar hidup ini semakin memiliki makna. Orang yang mau berusaha itu orang yang memberikan penghargaan yang tinggi terhadap hidup ini.

Artinya, orang mau mensyukuri pemberian Tuhan bagi dirinya. Orang yang tidak hanya menerima begitu saja hidup ini. Tetapi orang yang rela mengembangkannya bagi sesuatu yang lebih berguna lagi. Untuk itu, kita tidak boleh putus asa dalam hidup ini. Keputusasaan hanya menunjukkan bahwa kita ini orang-orang yang kurang beriman. Orang yang pantang menyerah itu orang yang senantiasa mengimani Tuhan dalam hidupnya.

Mari kita berusaha untuk senantiasa menemukan nilai-nilai yang baik dalam hidup ini. Dengan demikian, kita berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.co

504

20 September 2010

Memelihara Kerendahan Hati






Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman tampaknya nyaris sempurna. Lulus dengan gelar sarjana S-1 dan MBA (Master of Business Administration) dari universitas bergengsi UCLA (University of California), Karpman langsung mendapat pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan sebagai pialang saham. Dia pun bisa menikahi perempuan idamannya, Stephanie dan dikarunai dua anak. Mereka pun rutin berlibur ke tempat-tempat mahal di penjuru dunia.

Setelah 20 tahun meniti karir sebagai pialang, Karpman pun naik jabatan menjadi eksekutif perusahaan. Gajinya pun naik menjadi US$750.000 (sekitar lebih dari Rp 8,8 miliar) per tahun.

Dalam wawancara dengan sebuah stasiun televisi, ia berkata, “Saat itu hidup begitu indah. Kami bisa cetak banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak berlanjut?”

Dari segala sisi, Karpman dan keluarga saat itu hidup dalam “Impian Amerika”. Mereka tinggal di sebuah rumah besar di kota Tampa, Florida. Rumah mereka pun dilengkapi lapangan golf.

“Saat itu saya sudah tidak tahu berapa harga barang-barang di toko. Pokoknya, tinggal bawa troli dan ambil saja,” kata Karpman.

Dia begitu percaya diri dengan kemampuannya mencetak banyak uang. Maka, tahun 2005 dia meninggalkan perusahaan tempatnya bekerja dan membuat usaha sendiri yang sejenis. Untuk mendirikan perusahaan sendiri sekaligus meningkatkan taraf hidup, dia dengan enteng mengeluarkan dana US$500.000 dari tabungannya. Seperti kebiasaan orang-orang Amerika, Karpman juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah.

Namun, badai krisis keuangan menerpa Amerika Serikat (AS). Karpman tak mampu menarik investor, sehingga perusahaannya bubar. Sejak saat itu, dia menjadi penganggur dan sulit mendapat kerja. Padahal, di masa lalu, Karpman tak perlu pusing mencari kerja.

“Dulu, saat menjalani tes wawancara kerja, saya bisa jadi bersikap kurang ajar, karena justru sayalah yang sering menanyai si pewawancara, apakah perusahaannya cukup layak mempekerjakan saya. Sekarang, justru saya yang berharap-harap minta kerja sambil memegang topi di tangan,” katanya.

Sahabat, bisa saja orang salah perhitungan dalam meniti perjalanan hidupnya. Orang merasa begitu percaya diri terhadap status yang dimiliki. Orang begitu percaya diri terhadap kekayaan yang dipunyainya. Orang berpikir bahwa status dan harta yang dimiliki itu akan langgeng untuk selama-lamanya. Padahal tidak. Semua itu hanya sementara. Ketika status seseorang hilang, ia menjadi sama dengan manusia lain. Ketika harta kekayaan seseorang itu ludes karena kebakaran dan bencana, saat itu pula orang akan mengalami keterpurukan dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa kita mesti tetap menyikapi setiap sukses dengan hati yang lapang. Kita mesti memiliki suatu ketahanan hati yang kuat, sehingga mampu membendung kecerobohan-kecerobohan yang kita lakuan. Orang mesti melakukan sesuatu dengan kecermatan yang luar biasa. Dengan demikian, kegagalan dapat diantisipasi sebelumnya.

Karena itu, orang beriman mesti tetap memelihara kerendahan hatinya. Orang beriman mesti berani hidup sederhana. Hanya dengan cara demikian, orang akan menemukan sukacita dan bahagia dalam hidupnya. Mari kita terus-menerus berusaha, agar kita dapat sukses dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

503