Pages

25 September 2011

Beriman dalam Hidup Sehari-hari

Ada seorang guru bijaksana yang mengajar penuh wibawa. Ia tidak hanya mengajar, tetapi ia juga menyembuhkan orang-orang sakit yang datang kepadanya. Ia tidak memandang siapa mereka. Ia menerima semua orang yang datang kepadanya dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda. Ia juga tidak memaksa mereka untuk menganut ajarannya. Kalau mereka mau menjadi muridnya, syukur. Kalau mereka tidak mau, juga tidak apa-apa.

Suatu hari, ada seorang pejabat tinggi datang kepadanya. Pejabat tinggi itu orang yang tidak seiman dengan guru bijaksana itu. Ia berkata, ”Guru, bantu saya. Ada seorang bawahan saya yang sakit lumpuh. Tiba-tiba saja dia menjadi lumpuh. Saya bingung. Dia sangat menderita. Sekarang dia berada di rumah saya.”

Guru bijaksana itu mendengarkan dengan penuh perhatian. ”Saya akan datang menyembuhkannya. Mari kita pergi sekarang,” kata guru bijaksana itu kepada pejabat tinggi itu.

Namun pejabat tinggi itu merasa tidak layak menerima kehadiran guru bijaksana itu. ”Saya tidak layak menerima guru di rumah saya. Katakan sepatah kata saja, maka bawahan saya itu akan sembuh,” kata pejabat tinggi itu.

Guru bijaksana itu tertegun mendengar kata-kata pejabat tinggi itu. Ia kagum terhadap iman orang itu. Lantas ia berkata, ”Terjadilah apa yang kauinginkan.”

Saat itu juga bawahan dari pejabat tinggi itu sembuh. Ada beberapa orang yang datang memberi kabar bahwa bawahannya sudah sembuh. Pejabat tinggi itu tersungkur di kaki guru bijaksana itu. ”Guru, jadikan saya salah seorang muridmu,” katanya.

Dengan senyumnya yang menawan, guru bijaksana itu berkata, ”Janganlah kau mau menjadi murid saya hanya karena sebuah mukjijat. Tidak baik orang beriman hanya karena mukjijat.”

Sahabat, banyak orang baru beriman kepada Tuhan setelah keajaiban-keajaiban terjadi dalam hidup mereka. Benarkah demikian? Ada benarnya. Namun orang mesti kritis. Orang mesti melanjutkan dengan mendalami imannya kepada Tuhan. Orang tidak boleh berhenti pada keajaiban-keajaiban itu. Mengapa? Karena bahayanya adalah ketika tidak ada keajaiban lagi orang tidak beriman lagi kepada Tuhan.

Orang beriman itu mesti membangun imannya dalam hidup sehari-hari. Pengalaman-pengalaman hidup yang biasa-biasa dalam hidup sehari-hari itu memberi makna iman. Iman itu mesti bertumbuh di dalam kehidupan yang nyata. Iman itu bertumbuh ketika orang membuka hatinya lebar-lebar bagi kasih Tuhan dalam hidup yang nyata. Iman itu bertumbuh subur, ketika orang peduli terhadap sesamanya yang sakit dan menderita. Seseorang dikatakan sungguh-sungguh punya iman, ketika ia mampu menjamah sesamanya yang membutuhkan bantuannya.

Mari kita bertumbuh dalam iman dalam hidup sehari-hari dengan membuka hati kita bagi hadirnya Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


787

24 September 2011

Menyadari Panggilan Hidup sebagai Ibu


Menjadi ibu bukan sekedar sebuah kewajiban. Namun menjadi ibu itu suatu panggilan hidup dari setiap perempuan. Soalnya adalah apakah banyak perempuan menyadari hal ini? Bukankah kita menyaksikan ada kaum ibu yang kurang peduli terhadap anak-anak yang mereka lahirkan? Ada pula yang menyiksa buah hati yang mereka lahirkan itu.

Namun bagi supermodel asal Brasil, Adriana Lima, menjadi ibu lebih membanggakan daripada menjadi model. Model pakaian dalam terkenal Victoria’s Secret ini melahirkan anak perempuannya yang diberinya nama Valentina. Perempuan berusia 30 tahun ini melahirkan Valentina November 2009 lalu. Sekarang ia sedang menikmati setiap momen menjadi ibu.

”Pekerjaan terbaik di dunia bagiku adalah menjadi ibu. Aku tak pernah menyangka bisa mencintai sedemikian besar. Aku justru selalu bertanya apakah cinta tanpa syarat itu ada? Sekarang aku tahu itu ada, karena aku merasakannya sendiri,” kata Adriana.

Menjadi seorang ibu ternyata bukan sekedar melahirkan dan mempunyai anak. Lima berpenghasilan tertinggi di antara para model, yaitu 7,5 juta dollar AS. Tentang perannya sebagai ibu dalam kehidupan nyata, ia berkata, ”Peristiwa ini sungguh-sungguh mengubah diriku. Kini aku menjadi lebih matang dan merasa lebih aman. Peristiwa ini juga mengubah prioritas hidupku.”

Lima bercerita, saat melahirkan Valentina, dia mengalami proses kelahiran yang cukup berat. Dia menderita preeklampsia dan harus melahirkan bayinya enam minggu lebih awal. ”Beratnya hanya 1,9 kilogram. Aku berharap bisa langsung membawanya ke rumah, tetapi tak mungkin,” kata Adriana tentang anaknya.

Sahabat, tentu saja ungkapan kegembiraan sebagai ibu dari Adriana Lima ini memberi kekuatan kepada setiap ibu. Menjadi seorang ibu berarti orang memberikan hidupnya bagi generasi muda penerus dirinya. Orang mengorbankan banyak hal bagi sang anak. Seorang ibu tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ia memikirkan kelangsungan hidup sang anak.

Karena itu, menjadi ibu merupakan suatu panggilan untuk memperjuangkan kehidupan. Kehidupan seorang anak manusia ada di tangan seorang ibu. Baik buruknya seorang anak ditentukan oleh seorang ibu. Karena itu, dibutuhkan tanggung jawab yang besar dari seorang ibu. Ia tidak hanya sekedar melahirkan anaknya. Tetapi ia mesti merawat sang anak dalam suasana cinta kasih yang mendalam.

Seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab akan memberikan seluruh hidupnya bagi anak yang dilahirkannya. Ia tak jemu-jemu mencintai anaknya itu. Ia mengorbankan seluruh hidupnya untuk anak yang dilahirkannya. Semoga kaum ibu menyadari panggilannya menjadi ibu bagi anak-anak mereka. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

786

23 September 2011

Beriman dalam Keseharian Hidup




Ada seorang kaya yang sangat kikir. Ia punya banyak pembantu. Namun ia memberi mereka gaji di bawah upah minimum. Baginya, yang penting para pembantunya itu melaksanakan tugas-tugas dengan penuh tanggung jawab. Ia membayar tenaga mereka dan mereka tidak protes. Orang kaya ini juga tidak takut kepada Tuhan. Baginya, Tuhan itu hanyalah ilusi orang-orang. Tuhan itu tidak ada. Ia tidak hanya mengungkapkannya melalui pikirannya saja. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari ia tidak peduli terhadap orang lain. Kalau ada orang miskin yang datang kepadanya, ia segera mengusirnya pergi. Ia tidak ingin melihat wajah mereka. Ia tidak mau mereka mengganggu dirinya.

Suatu hari orang kaya yang kikir ini jatuh sakit. Sakitnya itu sangat parah. Ia mesti dibawa ke rumah sakit oleh istrinya. Para pembantunya yang tinggal di rumah merasa damai. Mereka tidak perlu dipelototi atau diperintah-perintah oleh orang kaya yang kikir itu. Mereka pun tidak mau mengunjungi bos mereka itu.

Dalam situasi sakit yang mencekam itu, orang kaya yang kikir itu meminta bantuan Tuhan. “Tuhan, kalau Engkau ada, tunjukkanlah kebaikan-Mu kepadaku. Sembuhkanlah penyakit saya ini,” ia berdoa, Istrinya yang menemaninya kaget mendengar doa suaminya. “Pak, bukankah bapak tidak percaya bahwa Tuhan itu ada? Mengapa bapak berdoa minta bantuan Tuhan?” ia bertanya.

“Bukankah semua orang melakukan hal yang sama ketika mereka sakit? Jadi saya juga berdoa, siapa tahu Tuhan itu ada. Siapa tahu Tuhan membantu saya,” suaminya menjawab. Sahabat, dalam hidup ini ada banyak orang yang kurang percaya akan hadirnya Tuhan. Mereka mengandalkan sesuatu yang lain di luar diri mereka. Mereka tidak yakin bahwa Tuhan hadir dalam keseharian hidup mereka. Karena itu, mereka berani melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, membunuh sesamanya, mencuri, merampok atau melakukan tindakan korupsi.

Karena itu, apa yang harus dilakukan oleh orang beriman dalam hidup ini? Orang beriman mesti tetap membangun keyakinannya kepada Tuhan. Orang beriman mesti tetap setia kepada Tuhan. Kesetiaan itu ditunjukkan dengan menghargai hidup dan hak-hak hidup orang lain. Hanya dengan cara itu, orang mengakui diri beriman dalam praksis hidup sehari-hari.

Mari kita tetap memberikan hidup kita kepada Tuhan dengan berlaku adil terhadap sesama kita. Kita mau melaksanakan ajaran cinta kasih yang menjadi dasar dan sumber hidup manusia. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna bagi diri kita dan sesama kita. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ


785

21 September 2011

Hidup dengan Rencana yang Cermat



Ada seorang pemburu yang kecewa. Ia meluapkan kekecewaannya dengan membakar hutan di mana ia berburu rusa. Pasalnya adalah sudah lima hari ia berburu, tetapi rusa-rusa itu tidak muncul-muncul juga. Ia merasa ditipu oleh rusa-rusa itu. Padahal biasanya ia pulang membawa rusa yang besar-besar saat berburu rusa. Akibatnya, ia kecewa. Ia mengambil pemantik, menghidupkannya dan membakar hutan itu. Kebakaran besar pun terjadi.

Setelah satu minggu, pemburu itu baru menyadari kesalahannya. Kesalahan yang ia lakukan adalah ia mengambil posisi di mana angin bertiup dari belakangnya. Ia tidak melawan arah angin yang datang itu. Akibatnya, rusa-rusa itu mencium bau dari dirinya. Rusa-rusa itu tahu bahwa mereka sedang berada dalam bahaya. Karena itu, mereka pun lari terbirit-birit untuk menyembunyikan diri.

Pemburu itu sangat menyesal. Ia tidak menyadari hal itu. Ternyata ia tidak membuat survei lebih dahulu tentang arah angin. Akibatnya, apes baginya. Ia tidak berhasil membawa hasil buruannya pada hari itu. Ia pulang dengan tangan hampa. Ia tidak cermat dalam berburu.

Sahabat, kecermatan dalam hidup mesti selalu dikembangkan. Mengapa? Karena kecermatan itu akan membantu orang dalam meraih kesuksesan hidup. Orang yang cermat akan hidup dengan baik. Orang yang tidak cermat biasanya sering salah perhitungan. Akibatnya, kerugian demi kerugian akan menjadi bagian hidupnya. Sesal kemudian tidak berguna.

Kisah tadi mau mengajak kita untuk senantiasa memperhitungkan tindakan-tindakan yang akan kita lakukan. Karena itu, orang mesti memiliki rencana untuk hidupnya. Orang tidak bisa hidup begitu saja tanpa rencana-rencana yang cermat. Akibat yang akan dialami adalah ketidakpastian dalam hidup. Orang tidak punya pegangan hidup, karena tidak punya rencana hidup.

Sebagai orang beriman, kita mesti menjalani hidup ini dengan rencana yang cermat. Rencana itu kita buat bersama Tuhan. Kok mesti begitu? Karena Tuhan ingin agar kita hidup bahagia. Tuhan ingin agar hidup kita itu sungguh-sungguh bermakna. Hidup ini mesti memiliki kemampuan untuk berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Untuk itu, dibutuhkan suatu rencana yang cermat.

Kehadiran Tuhan dalam hidup kita membantu kita untuk tetap setia pada rencana-rencana yang telah kita buat. Tuhan memberikan semangat bagi kita, agar kita dapat menjalani hidup ini dengan baik. Mari kita hidup dengan rencana-rencana yang cermat. Dengan demikian, hidup ini kita alami sebagai sesuatu yang damai dan indah. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


784

20 September 2011

Dunia Ini Bagian dari Diri Kita

Hewan-hewan langka semakin punah. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini bisa terjadi, karena berbagai faktor. Namun satu faktor yang paling dominan adalah manusia yang berburu hewan-hewan itu untuk kebutuhan diri mereka. Hewan-hewan langka tersebut dibunuh dan dijual untuk kepentingan manusia.

Salah satu hewan yang sering diburu adalah ikan paus. Di banyak tempat di dunia ini banyak orang berburu mamalia yang hidup di laut ini. Salah satu tempat yang menjadi perburuan ikan paus adalah di perairan Norwegia. Orang-orangg Norwegia termasuk orang-orang yang tangguh dalam berburu ikan paus.

Penyanyi asal Inggris, Leona Lewis, merinding saat menyaksikan tayangan yang menunjukkan seekor ikan paus mati perlahan-lahan setelah diburu pemburu paus Norwegia. Ia berkata, ”Tayangan mengerikan yang dirilis WSPA itu menunjukkan, perburuan paus yang dilakukan orang-orang Norwegia adalah hal yang sangat kejam. Itulah mengapa harus dihentikan saat ini juga.”

Karena itu, ia berharap Pemerintah Norwegia bersikap lebih tegas melawan perburuan paus. Penyanyi lagu ”Bleeding Love” ini merupakan anggota organisasi penyayang binatang World Society for the Protection of Animals (WSPA). Ia juga meminta para pemimpin negara-negara Skandinavia menghentikan perburuan sebelum makhluk itu punah.

Bagi Leona Lewis, perbuatan ini bertentangan dengan perilaku bangsa yang modern dan beradab seperti Norwegia. Ia berkata, “Pemerintah Norwegia harus mendengar suara ribuan orang di seluruh dunia, termasuk orang-orang Norwegia yang memprotes perdagangan paus.”

Sahabat, apakah Anda salah seorang yang peduli terhadap hewan-hewan atau tanaman-tanaman yang terancam punah? Atau Anda seorang yang masa bodoh saja, karena hadirnya hewan dan tanaman itu tidak berpengaruh terhadap hidup Anda?

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, Anda semestinya punya kepedulian terhadap hadirnya hewan-hewan atau tanaman-tanaman langka itu. Mereka adalah bagian dari ekosistem di mana kita hidup. Ketika salah satu dari rantai ekosistem itu lenyap, kehidupan kita pun akan terpengaruh. Pemanasan global atau global warming yang terjadi sekarang ini merupakan salah satu bukti manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan hidup.

Kita mesti menyadari kerusakan lingkungan merupakan kerusakan terhadap hidup kita sendiri. Mengapa? Karena kerusakan itu juga mempengaruhi kehidupan kita. Ketika panas menerpa kehidupan kita, kita tidak merasa nyaman. Hidup kita menjadi terganggu. Hidup kita menjadi terancam. Dan bahkan kita juga akan cepat punah dari kehidupan ini.

Karena itu, mari kita menanamkan kesadaran yang mendalam pada diri kita. Dunia yang kita hidupi sekarang ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Ketika kita merusaknya, kita juga merusak diri kita sendiri. Kalau kita memeliharanya sebaik-baiknya, kita juga akan mengalami kebahagiaan dalam hidup ini. Mari kita lestarikan lingkungan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


783

15 September 2011

Mengendalikan Keinginan




Ada seorang nenek yang ingin membahagiakan cucunya. Suatu hari ia memasak bubur kesukaan cucunya. Seperempat ayam kampung ia cuil-cuil untuk dicampurkan ke dalam bubur tersebut. Ia berharap cucunya akan menikmati bubur kesukaannya itu. Kali ini ia mau buat kejutan bagi cucunya itu.

Begitu cucunya pulang dari sekolah, sang nenek langsung menghidangkan bubur itu. Melihat bubur kesukaannya, sang cucu langsung melahapnya. Bubur satu mangkok besar itu ia habiskan dalam sekejap.

“Masih ada, nek?” tanya sang cucu.

Sambil tertawa, sang nenek menjawab, “Besok nenek akan masak lagi. Tidak baik kamu makan sebanyak-banyaknya. Kamu akan cepat bosan. Tidak boleh kamu habiskan makanan sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat.”

Sang cucu tidak begitu percaya akan kata-kata sang nenek. Baginya, makanan yang enak itu mesti dihabiskan. Tidak boleh disisakan. Karena itu, dia memaksa neneknya untuk mengambilkan bubur yang menurut dia masih disimpan oleh neneknya. Rupanya mulutnya sudah tidak tahan untuk melahap bubur kesukaannya.

Namun tetap saja sang nenek tidak memenuhinya. Nenek itu mengatakan bahwa cucunya mesti mengendalikan diri. Ia tidak boleh mengikuti keinginannya. “Keinginanmu itu harus kamu kendalikan. Yang berhasil mengendalikan keinginannya akan menemukan hidup ini sebagai sesuatu yang indah. Ia tidak perlu menderita, karena terlanjur mengikuti keinginannya,” kata nenek itu.

Sahabat, pernahkah Anda berusaha untuk mengendalikan keinginan Anda? Misalnya, Anda ingin sekali makan bakso kepala sapi, namun Anda sedang diet. Kalau Anda makan, Anda akan melanggar diet Anda. Anda sudah tahu akibatnya, yaitu berat badan tubuh Anda tidak bisa turun. Atau Anda akan mengalami serangan stroke yang berat. Tentu saja Anda akan mengalami suatu pergulatan batin. Anda dituntut untuk menggunakan kebebasan Anda untuk memutuskan: apakah Anda memilih untuk hidup sehat atau mengalami penderitaan.

Orang yang mampu mengendalikan keinginan dirinya akan menemukan hidup ini sebagai sesuatu yang menggembirakan. Hidup ini terasa ringan. Orang mampu memutuskan untuk memilih yang baik dan benar bagi hidupnya. Tidak gampang untuk mengendalikan diri. Mengapa? Karena banyak orang ingin hidup enak. Padahal hidup yang enak itu belum tentu membahagiakan. Hidup yang enak bisa menjerumuskan orang ke dalam kegelapan hidup.

Banyak orang memilih untuk mengikuti keinginan-keinginan mereka. Sebenarnya mereka sadar bahwa keinginan-keinginan itu dapat menjerumuskan hidup mereka ke dalam kebinasaan. Namun mereka kurang peduli. Mereka lebih memilih untuk memenuhi keinginan mereka. Kalau sudah terlanjur, lalu mereka menyesal. Ingat, sesal kemudian tidak berguna.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk mampu mengendalikan keinginan-keinginan diri kita. Kita mesti sadar bahwa tidak setiap keinginan mesti dipenuhi. Ada keinginan yang tidak perlu dipenuhi, karena tidak menyangkut kebutuhann primer. Tidak dipenuhi tidak apa-apa. Mari kita berusaha mengendalikan keinginan-keinginan diri kita. Dengan demikian, kita dapat tumbuh dalam suasana yang baik dan menggembirakan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


782

14 September 2011

Memiliki Cinta yang Tulus dan Murni



Ada seorang ibu yang enam tahun lalu melahirkan anaknya. Namun sang anak belum juga dapat merangkak. Ia belum juga dapat berdiri. Kaki dan tangannya tampak lemas, meski anak itu sangat bersemangat. Anak semata wayangnya itu suka tersenyum. Matanya menatap tajam. Bicaranya lancar. Satu kekurangan dalam dirinya, yaitu ia tidak bisa berdiri dan berjalan seperti anak-anak normal lainnya.

Meski kondisi anaknya seperti itu, sang ibu tidak pernah berhenti memberinya semangat. Dengan penuh kasih, sang ibu memberikan sentuhan-sentuhan. Sang ibu membisikkan kata-kata indah ke dalam telingannya. Ia memberi motivasi bagi sang buah hati untuk tetap maju dalam hidupnya.

Ia berkata, “Nak, minggu depan kamu akan bisa berjalan. Tidak usah kuatir. Setelah kamu bisa berjalan, kamu akan berlari sekuat-kuatnya. Mau kan?”

Sang buah hati itu menganggukkan kepalanya. Ia ingin sekali melakukannya. Lantas ia berkata kepada ibunya, “Tapi mama, kalau minggu depan saya belum bisa berjalan, apa mama akan menangis? Apa mama akan memarahi saya? Kalau saya belum bisa berlari, apa mama akan memukul pantat saya?”

Sang ibu tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan buah hatinya. Ia menatap wajahnya dalam-dalam. Lantas ia tersenyum. Sang buah hati pun membalas senyumnya. Dua senyum itu bertaut. Suatu optimisme tampak pada wajah dua insan itu.

Sang ibu berkata dengan penuh kepercayaan, “Kalau kita percaya kepada Tuhan, tidak ada yang mustahil. Suatu saat kamu pasti bisa berjalan dan berlari.”

Sahabat, banyak orang mudah putus asa saat tidak punya jalan untuk keluar dari persoalan hidup. Mereka berhenti di tempat. Mereka cemas, bagaimana bisa keluar dari persoalan-persoalaa hidup. Tidak ada gerakan untuk keluar dari persoalan-persoalan hidup. Akibatnya, mereka gagal dalam kehidupan ini.

Orang yang putus asa itu orang yang kehilangan daya dorong dalam hidupnya. Daya dorong itu adalah cinta yang mendalam. Suatu cinta yang tulus dan murni mampu membangkitkan orang dari keterpurukan hidup. Ini yang tidak dimiliki oleh mereka yang putus asa. Cinta mereka terhadap diri dan sesama tidak mendalam. Cinta mereka begitu dangkal. Cinta mereka tidak sedalam samudera.

Karena itu, kita mesti terus-menerus belajar untuk mencintai diri kita sendiri dan sesama kita. Kisah ibu tadi menjadi suatu contoh yang indah bagi kita. Ia memberikan cintanya yang begitu tulus dan murni. Ia memiliki daya dorong yang begitu kuat bagi sang buah hati. Ia ingin agar sang buah hati tetap memiliki semangat untuk bangkit dan berjuang.

Sebagai orang beriman, daya dorong kita yang terbesar adalah kasih Tuhan kepada kita. Setiap hari Tuhan mengasihi kita dengan berbagai cara. Cinta Tuhan begitu tulus dan murni. Tuhan senantiasa memberi apa yang kita butuhkan. Tuhan ingin agar kita memiliki sukacita dan damai dalam hidup ini.

Untuk itu, kita mesti menyerahkan hidup kepada Tuhan. Dengan demikian, kita dapat menimba kuatnya cinta Tuhan bagi hidup kita. Kita dapat terus-menerus memiliki harapan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


781

13 September 2011

Berusaha Mengatasi Keterbatasan Diri




Ada seorang pemuda yang sulit sekali bangun pagi. Ia baru bisa bangun jam 10 pagi. Ketika ditanya alasannya, ia mengatakan bahwa ia butuh waktu lebih lama untuk tidur. Padahal ia seharusnya berangkat untuk bekerja. Karena itu, ia selalu terlambat masuk kerja. Berbagai alasan ia ungkapkan ketika ditegur oleh bosnya.

Suatu ketika, pemuda itu kemudian punya tekad yang kuat untuk mengubah pola hidupnya. Ia ingin menjadi orang yang sukses. Ia tidak ingin berlama-lama menikmati empuknya kasur. Namun ia mengalami kesulitan. Tidak gampang baginya untuk meninggalkan kebiasaannya tidur berjam-jam.

Pemuda itu tidak putus asa. Ia terus-menerus berusaha. Ia ingin sukses dalam usahanya. Karena itu, setiap malam ia pergi tidur jam delapan. Ia punya keyakinan bahwa lebih cepat tidur ia akan bangun lebih pagi juga. Hari-hari pertama ia masih gagal. Ia masih tetap bangun sekitar jam sepuluh pagi. Ia tetap tidak putus asa. Ia lakukan lagi hari-hari berikutnya. Dan suatu hari, ia berhasil. Pagi itu ia bangun jam enam pagi. Setelah dua minggu berusaha, ia pun berhasil.

Ia sangat bergembira atas keberhasilannya itu. Kini ia tidak perlu lagi membuat alasan-alasan. Ia tidak perlu dipertanyakan lagi oleh bosnya. Ia bisa datang ke tempat kerjanya tepat waktu.

Sahabat, ada hal-hal kecil yang sering dianggap sepele oleh banyak orang. Namun sebenarnya hal-hal kecil itu sangat berpengaruh dalam hidup manusia. Hal-hal kecil itu dapat membantu manusia untuk bertumbuh dalam kebersamaan. Ketika orang mau hidup bersama orang lain, orang akan mendapatkan kesempatan untuk berkembang lebih baik.

Karena itu, hal-hal yang kecil itu mesti diolah. Hal-hal kecil itu mesti didayagunakan. Kisah tadi menunjukkan kepada kita usaha untuk mengatasi hal-hal yang dianggap kecil itu ternyata tidak mudah. Orang mesti berjuang. Orang mesti berusaha mengatasi keterbatasan dirinya. Dengan demikian, ia dapat hidup dan berkarya bersama orang lain dengan lebih baik.

Dalam kisah tadi, pemuda itu sungguh-sungguh berusaha. Ia tidak mau menyerah pada keadaan. Ia berusaha terus-menerus untuk mengatasi keterbatasan dirinya. Ia berhasil berkat kerja kerasnya. Ia boleh mengalami sukacita. Ia boleh memetik hasil usahanya itu. Namun tidak hanya dia sendiri yang menikmati kesuksesan hasil usahanya. Orang-orang yang ada di sekitarnya pun mengalami kebaikan dari perubahan diri pemuda itu. Artinya, hidup yang kita jalani ini kita tidak hidupi untuk diri kita sendiri. Kita juga hidup bagi orang lain di sekitar kita.

Karena itu, setiap kali ada perubahan dalam diri kita, orang lain juga akan merasakan perubahan itu. Sebagai orang beriman, kita mesti sadar bahwa setiap perubahan yang baik yang terjadi pada diri kita juga memberi pengaruh yang baik bagi sesama kita. Mari kita berusaha mengubah kebiasaan-kebiasaan kita yang kurang baik. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

780

12 September 2011

Menumbuhkan Tanggung Jawab dengan Cinta Mendalam


Ada seorang tukang cukur yang sangat berpengalaman. Setiap hari ia mendapatkan pelanggan sekitar dua puluh orang. Ia sangat sibuk dengan pekerjaan itu. Namun ia melakukan pekerjaan itu dengan sangat bersukacita. Ia melakukannya bukan karena terpaksa. Ia melakukannya demi orang-orang yang ia cintai.

Suatu hari ia mendapat pelanggan seorang yang terpandang di kotanya. Orang itu sangat terkenal. Tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Dengan penuh semangat ia memotong rambut orang terkenal dan terpandang itu. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi orang terpandang itu. Ia ingin agar orang terpandang tampil semakin anggun dan berwibawa. Ia tidak ingin memalukan orang terkenal itu.

Sambil memotong rambut orang itu, ia berkata, “Bapak, saya tidak tahu mengapa bapak datang ke tempat saya hari ini. Tetapi saya sangat bersukacita. Bapak mau menaruh kepercayaan kepada saya. Saya tidak akan sia-siakan kepercayaan bapak.”

Orang terpandang itu tersenyum mendengar kata-kata tukang cukur itu. Lalu ia berkata, “Bapak, saya bisa saja pergi ke salon yang lebih canggih untuk memotong rambut saya. Namun saya memilih bapak untuk memotong rambut saya. Saya datang ke tempat bapak bukan karena bayarannya lebih murah. Tidak! Saya yakin, bapak tidak akan membuat saya malu. Bapak akan mengerjakannya dengan penuh tanggung jawab.”

Tukang cukur itu sangat bersyukur atas kepercayaan yang diberikan orang terpandang itu. Ia memotong rambut orang terpandang itu dengan sangat rapih dan baik sekali. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi orang terpandang itu.

Sahabat, seseorang yang dipercaya untuk melakukan hal-hal besar akan mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Ia ingin membuktikan diri sebagai orang yang dapat dipercaya. Ia ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang dapat diandalkan untuk melakukan sesuatu yang besar. Ia ingin mempertanggungjawabkan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Namun kepercayaan itu mesti didasari oleh kasih. Orang tidak hanya mengerjakan suatu pekerjaan demi pekerjaan itu. Namun orang mesti disemangati oleh kasih yang mendalam kepada sesamanya. Tukang cukur dalam kisah tadi tidak mengerjakan pekerjaan itu untuk pekerjaan itu. Ia mengerjakannya karena ada kasih yang mendalam kepada sesamanya. Kasih itu mendorong dirinya untuk melakukan pekerjaan itu. Ia menjadi bahagia.

Pertanyaan bagi kita adalah apakah apa yang kita lakukan itu didasarkan pada kasih yang mendalam kepada sesama kita? Atau kita melakukan suatu pekerjaan hanya karena kewajiban saja? Banyak orang melakukan suatu pekerjaan karena kewajiban. Orang merasa wajib melakukan suatu pekerjaan karena ia mesti bertanggung jawab atas sesamanya. Atau ada orang yang melakukan suatu pekerjaan karena merasa malu kalau dikatakan tidak punya pekerjaan.

Sebagai orang beriman, tentu kita tidak demikian. Kita ingin melakukan suatu pekerjaan, karena didorong oleh kasih yang berkobar-kobar kepada sesama. Dengan demikian, kita bekerja dengan lepas bebas. Tidak terbebani oleh kewajiban-kewajiban tertentu. Kita memiliki daya dorong yang kuat dari kasih yang besar kepada sesama. Mari kita lakukan suatu pekerjaan karena cinta kasih kita kepada sesama. Dengan demikian, hidup kita menjadi lebih damai. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

779

11 September 2011

Indahnya Memberi

Pagi itu wajah seorang nenek berusia 76 tahun itu tampak gembira ria. Di tangannya ia memegang sebuah gunting tanamann berwarna oranye. Nenek ini memang seorang yang suka bekerja di kebun. Di halaman rumahnya terhampar bunga-bunga yang sedang merekah indah. Warna-warni bunga-bunga itu membuat sang nenek selalu bersukacita. Ia merasa hidupnya semakin hidup. Kerut-kerut di wajahnya seolah-olah musnah di kala ia berada di tengah-tengah kebun bunganya.

Pagi itu, dengan sekali sentak, setangkai bunga mawar merah muda telah pindah dari kebunnya. Ketika ditanya untuk apa, sambil ternyum, ia berkata, “Ini untuk ulang tahun cucu tersayang saya. Cucu saya itu orang baik. Saya tidak boleh melewatkan ulang tahunnya hari ini.”

Itulah tanda cinta sang nenek kepada cucunya. Baginya, sekuntum mawar itu memberikan sukacita dalam diri sang cucu. Ia pun bergembira dapat memberi hadiah dari kebun di halaman rumahnya. Begitu cucunya pulang sekolah, ia akan memberikan hadiah terindah itu kepada cucunya.

Bagi sang nenek, hidup itu adalah memberi. Menurutnya, ketika seseorang memberi apa yang dimiliki kepada orang lain sebenarnya ia tidak kehilangan apa-apa. Apalagi yang diberikan itu adalah cinta dan perhatian. Orang yang memberi cinta dan perhatian akan menuainya lebih banyak lagi.

Karena itu, setangkai mawar merah muda bagi ulang tahun sang cucu itu tanda cinta dan perhatiannya kepada sang cucu. Ia ingin membahagiakan sang cucu. Ia ingin agar sang cucu mengalami sukacita pada hari ulang tahunnya. Namun lebih dari itu, ia ingin agar sang cucu senantiasa menemukan cinta dan perhatian dari sesamanya. Ia boleh berbahagia berkat cinta dan perhatian itu.

Sahabat, pernahkah Anda mengalami sukacita, ketika Anda memberi sesuatu kepada sesama Anda? Atau Anda malahan merasa berdukacita, karena Anda merasa kehilangan ketika memberi itu? Nah, kalau Anda merasa berdukacita, Anda mesti belajar dari sang nenek dalam kisah tadi. Ia memberi dengan penuh sukacita. Ia mengalami kebahagiaan dalam hidupnya.

Sering orang beranggapan bahwa ketika seseorang memberi sesuatu kepada orang lain, ia kehilangan. Sebenarnya tidak. Ketika kita memberi, memang sesuatu itu hilang. Namun maksud baik kita dan perbuatan baik kita tetap ada di dalam diri kita. Semakin banyak kita berbuat baik, kita akan menemukan bahwa kebaikan itu menjadi suatu habit, kebiasaan yang tidak bisa lepas dari diri kita lagi.

Kita kemudian bertumbuh dalam kebaikan itu terus-menerus. Yang dikenang dari diri kita adalah kebaikan-kebaikan kita itu. Kebaikan itu kemudian tumbuh dalam hidup orang lain juga. Tidak hanya menjadi milik diri kita. Mengapa? Karena pada dasarnya orang mau belajar sesuatu yang baik dari sesamanya.

Karena itu, belajar dari sang nenek dalam kisah tadi, mari kita terus-menerus menyediakan diri kita untuk memberi. Apa yang kita berikan kepada orang lain hanyalah simbol dari cinta dan perhatian kita kepada sesama. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih indah. Dengan memberi, kita mau menjadi bagian dari hidup sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


778