Pages

10 Oktober 2009

Mengolah Harta untuk Kebahagiaan Hidup

Di sebuah keluarga terjadi keributan antara dua orang anak. Anak pertama sangat suka akan anjing. Ia memiliki tiga ekor anjing kecil dari berbagai ras yang berbeda. Ia memeliharanya dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Waktu luangnya ia habiskan untuk ketiga anjing ini. Bahkan uang saku yang diberikan oleh orangtuanya habis untuk membeli makanan bagi ketiga anjingnya.

Kalau ada anggota keluarga yang mengganggu anjing-anjingnya, ia menjadi sangat marah. Ia akan membela mati-matian ketiga anjingnya. Bahkan bisa terjadi perang mulut.

Sementara anak kedua tidak suka memelihara binatang. Waktu-waktu luangnya ia gunakan untuk memelihara tanaman di halaman rumahnya. Ia begitu perhatian terhadap tanaman-tanaman itu. Ia punya koleksi tanaman-tanaman yang mahal dari berbagai jenis tanaman.

Suatu hari, anjing-anjing milik kakaknya menggunakan bunga-bunga di halaman rumah itu sebagai teman main. Banyak bunga yang rusak. Sang kakak membiarkan saja anjing-anjing itu menggigit bunga-bunga yang mahal dan indah itu. Tidak lama kemudian datang sang adik yang menendangi anjing-anjing itu satu per satu. Ia marah melihat tanamannya dirusak. Sang kakak tidak bisa menerima perlakukan adiknya terhadap anjing-anjingnya. Mereka pun bertengkar. Keributan besar terjadi di antara mereka. Mereka hampir saja berkelahi. Untung, sang ibu datang melerai dan mendamaikan keduanya.

Harta dunia yang kita miliki bisa menjadi pemicu perpecahan. Keributan bisa terjadi gara-gara apa yang kita senangi dirusak oleh orang lain. Emosi kita bisa meluap-luap, kalau barang yang begitu berharga dan kita cintai hilang atau rusak. Bisa saja kita tidak bisa tidur berhari-hari hanya memikirkan barang-barang berharga yang hilang atau rusak oleh keteledoran kita.

Kita memang membutuhkan harta atau barang-barang untuk kelanjutan hidup kita. Tidak ada orang yang dapat hidup di dunia ini secara baik, kalau ia tidak memiliki uang atau barang-barang. Karena itu, kita pasti ingin tetap menjaga baik-baik harta kekayaan yang kita miliki.

Namun cinta yang berlebihan terhadap harta kekayaan dapat membawa bencana dalam hidup kita. Kalau kita terlalu terikat pada apa yang kita miliki akan membiarkan barang-barang itu menguasai diri kita. Padahal semestinya kitalah yang menguasai barang-barang atau harta kekayaan itu.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk menggunakan harta kekayaan itu untuk membangun persaudaraan dan damai. Orang beriman itu sadar bahwa harta kekayaan itu hanyalah sarana untuk kelangsungan hidupnya. Harta kekayaan itu bukan tujuan dari hidup ini. Tujuan utama hidup kita adalah mengalami kebahagiaan dan damai dengan sarana harta yang kita miliki. Percuma kita memiliki harta kekayaan, tetapi hidup kita tidak bahagia. Percuma kita bekerja mati-matian untuk mengumpulkan harta, tetapi hidup kita selalu dikejar-kejar oleh ketakutan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


193

09 Oktober 2009

Berani Berkorban bagi Sesama




Seorang gadis kesal sama papanya. Soalnya, papanya selalu menasihati dia untuk selalu tekun berdoa dan beribadat. Namun ia sendiri malas untuk melakukan semua itu. Kalau gadis itu mengingatkan papanya untuk berdoa dan beribadat, papanya selalu menegurnya dengan kata-kata yang pedas.

Akibatnya, gadis itu tumbuh menjadi anak yang cuek. Ia tidak begitu peduli terhadap papanya. Ia bosan berbicara dengan papanya. Baginya, tidak ada gunanya berkomunikasi dengan papanya dalam urusan ibadat. Pasti papanya tidak mau kalah, meskipun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia perjuangkan.

Suatu hari gadis itu merasa sikapnya yang cuek itu mesti ia akhiri. Ia mulai sadar bahwa sebenarnya ia tidak bisa mengubah apa-apa pada diri papanya. Bahkan papanya semakin malas saja untuk berdoa dan beribadat. Ia berkata dalam hatinya, “Lebih baik saya mengubah diri saya sendiri menjadi lebih baik. Saya akan melakukan puasa pada hari-hari tertentu. Saya mau berdoa untuk papa saya, agar ia mau mengubah sikap hidupnya.”

Setelah melakukan puasa dan doa untuk sang papa dalam waktu yang lama, gadis itu menemukan ada perubahan dalam diri papanya. Ia merasa sangat bersyukur atas hal itu. Ia berdoa, “Tuhan, terima kasih Engkau telah mengubah sikap hidup papa saya. Semoga ia dapat menemukan kehadiranMu dalam hidup sehari-hari bersama keluarga kami.”

Banyak orang lebih suka menyaksikan orang lain berubah daripada dirinya sendiri berubah. Dalam kenyataan hidup, sangat sulit mengubah watak seseorang yang sudah dewasa atau sudah tua. Sangat sulit mengajar sesuatu yang baru kepada orang yang sudah tua. Bagi orang yang sudah tua, lebih baik mereka hidup apa adanya. Hidup sejauh mereka mampu.

Kisah gadis tadi menunjukkan bahwa perubahan itu bisa terjadi melalui suatu proses yang lama dan berat. Mengubah cara hidup orang lain yang sudah tertanam puluhan tahun itu butuh kerja keras. Gadis dalam kisah tadi melakukannya dengan korban. Ia mesti puasa dan berdoa, agar papanya dapat mengubah tingkah lakunya yang kurang baik.

Pengorbanan itu ternyata begitu penting dalam hidup sehari-hari. Tanpa korban, orang tidak bisa hidup dengan damai dan tenang. Tanpa korban, perubahan akan sulit terjadi dalam hidup seseorang.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita diajak untuk rela berkorban bagi kebaikan sesama kita. Bahkan kita mesti berani berkorban bagi orang yang tidak bersabahat dengan kita atau musuh-musuh kita. Mampukah kita menjadi sahabat yang baik bagi musuh kita? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.
192

08 Oktober 2009

Menumbuhkan Kepercayaan dalam Hidup Berkeluarga

Ada seorang ibu yang punya dua orang anak. Setiap hari ia mengantar dan menjemput kedua anak ke sekolah. Sementara suaminya hingga kini tidak pernah peduli terhadap sekolah anak-anaknya. Dia lebih sibuk dengan pekerjaannya untuk menghidupi keluarga. Namun sering kali dia mengomeli ibu itu, kalau ia pulang terlambat setelah mengantar atau menjemput anak-anak.

Sang suami berkata, “Wah, kunjungi pacar lama, ya?” Kata-kata seperti itu sudah sering ia ucapkan kepada istrinya. Istrinya merasa tersinggung setiap kali mendengar kata-kata seperti itu. Ia bertanya dalam hatinya, “Bagaimana mungkin saya masih mau main selingkuh dengan lelaki lain? Saya kan sudah punya anak dan suami? Tidak ada niat sedikit pun kembali ke pacar lama yang juga tinggal di kota ini. Saya sudah menambatkan hati pada suami saya untuk selama hidup. Jadi saya tidak tahu mau buat apa. Sudah capek mengantar dan menjemput anak-anak malah masih dicurigai suami seperti itu.”

Ibu itu sering hilang akal kalau mendengar kata-kata suaminya. Ia juga punya perasaan. Ia tidak ingin hubungannya dengan suaminya menjadi retak. Ia sangat mencintai anak-anaknya. Ia ingin tetap membangun keluarga yang baik. Ia hanya berharap, agar suaminya berubah pikiran. Tidak memikirkan yang bukan-bukan tentang dirinya.

Kurangnya perhatian dari seseorang terhadap orang lain dapat menimbulkan persoalan-persoalan dalam hidup bersama. Apalagi dalam hidup berkeluarga. Sering muncul kecemburuan dalam membangun hidup berkeluarga. Kisah tadi menjadi salah satu contoh betapa kecemburuan itu bisa merenggangkan hubungan suami istri. Kecurigaan bisa terjadi dalam hidup berkeluarga, karena hal-hal yang sepele.

Karena itu, orang mesti mampu berefleksi diri. Artinya, orang mesti berani bertanya diri, ada apa dengan pasangannya. Lantas bagaimana dengan diri sendiri? Mengapa sang suami atau istri sampai tega melemparkan kata-kata yang menusuk perasaan? Mungkinkah ada ketidakjujuran dalam membangun relasi dalam hidup perkawinan?

Sebuah perkawinan yang harmonis itu menuntut pengertian yang mendalam dari kedua belah pihak. Perkawinan yang bahagia itu biasanya ditandai dengan adanya rasa percaya terhadap pasangan. Kepercayaan yang mulai luntur di antara pasangan suami istri sering menjadi pemicu hancurnya sebuah keluarga.

Untuk itu, keluarga-keluarga mesti memperhatikan hal ini. Kepercayaan satu terhadap yang lain mesti dibangun sejak awal. Kepercayaan itu bukan hanya janji-janji hampa di bibir saja. Kepercayaan itu mesti ditunjukkan dalam hidup nyata. Suatu kepercayaan yang tampak dalam tindakan nyata. Mungkinkah dapat terjadi?

Sebagai orang beriman, setiap pasangan suami istri mesti berani membangun kepercayaan di antara mereka. Untuk itu, mereka mesti memiliki cinta yang utuh dalam hidup perkawinan. Cinta mereka tidak bisa sepotong-sepotong. Kalau ini yang terjadi, bukan keharmonisan yang terjadi. Tetapi justru yang terjadi adalah kehancuran dalam hidup berkeluarga. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


191

07 Oktober 2009

Mempertahankan Bahtera Perkawinan

Ada seorang ibu mengeluh bahwa suaminya yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya ternyata tidak setia. Suaminya punya gandengan lain yang lebih cantik dan muda. Ia mengaku, sejak awal perkawinan itu suaminya tidak pernah memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Anehnya, mereka sudah punya dua orang anak yang manis-manis.

Ibu itu juga tidak mengerti mengapa situasi seperti itu bisa terjadi. Yang pasti baginya sekarang adalah suaminya lebih memperhatikan gandengan barunya itu. Bahkan suaminya cuek saja, ketika ia mempersoalkan hal ini. Ia menuntut agar suaminya kembali hidup bersama dengannya. Ia meminta agar suaminya meninggalkan perempuan simpanannya.

Namun suaminya tidak bergeming. Ia semakin mesra dengan cewek selingkuhannya. Sang istri tambah sewot. Apalagi ia mesti menanggung hidup dirinya dan kedua anaknya sendirian. Suatu hari, sang suami itu akhirnya sungguh-sungguh meninggalkan rumah. Ia hidup bersama cewek simpanannya itu.

Kisah seperti ini biasa kita dengar. Ada ketidaksetiaan di antara suami istri, meski mereka sudah lama menjalin hubungan perkawinan. Pertanyaannya, mengapa hal ini mesti terjadi? Ada banyak sebab terciptanya situasi seperti ini. Mungkin saja pasangan itu sejak awal tidak sungguh-sungguh saling mencintai. Mereka menikah karena terpaksa. Bangunan cinta mereka belum sungguh-sungguh kokoh. Dengan demikian, ketika terjadi goncangan terhadap bahtera perkawinan mereka, perkawinan itu pun mudah goyah.

Jalan pintas yang dilakukan adalah perpisahan. Padahal perpisahan itu melukai banyak pihak. Selain suami istri yang mengalami perpisahan itu, anak-anak mereka juga akan mengalami luka batin yang mendalam. Mereka bertumbuh dalam suasana yang tidak seimbang. Tidak ada orang yang menjadi panutan bagi hidup mereka. Mereka bertumbuh dalam suasana ketidaksetiaan.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh sepasang suami istri untuk mempertahankan perkawinan mereka? Pertama, mereka mesti membangun cinta yang lebih mendalam. Meskipun awalnya cinta mereka kurang mendalam, mereka mesti bisa memulai suatu proses untuk semakin saling mencintai. Ini tidak mudah. Namun mereka mesti mencoba. Mereka tidak boleh putus asa.

Kedua, mempertahankan perkawinan meski digoyang oleh gelombang itu untuk sesuatu yang mulia. Yaitu untuk kelangsungan cinta mereka sendiri dan cinta akan anak-anak yang lahir dari cinta mereka. Untuk itu, pasangan suami istri mesti tetap setia pada komitmen yang telah mereka buat ketika menikah. Bertahan dalam cinta itu lebih indah daripada menyerah kalah karena tantangan yang menghadang.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar pasangan suami istri tetap setia seumur hidup dalam hidup perkawinan mereka. Karena itu, mereka mesti menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan akan senantiasa melindungi setiap suami istri yang penuh iman mempertahankan bahtera perkawinan mereka. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


190

06 Oktober 2009

Hidup di Dunia

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia sangat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha keras untuk menemukan kembali arlojinya. Ia mempersalahkan keteledoran diri sendiri.

Lantas tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu. Teman-teman karyawan yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun, sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut. Saat itu, seorang anak kecil, yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang, ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Lantas ia mendatangi tukang kayu itu dan memberikan arloji kesayangannya.

Tukang kayu itu sangat gembira. Namun ia juga heran karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Namun cuma anak kecil itu seorang diri saja, ia berhasil menemukan arloji itu.

Tukang kayu itu bertanya, "Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini?"

Jawab anak kecil itu, "Saya hanya duduk dengan tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tok-tak, tok-tak. Dengan itu, saya tahu di mana arloji itu berada."

Kini kita hidup dalam dunia yang bising. Banyak orang mengalami kesulitan untuk mendapatkan keheningan dalam hidup ini. Atau banyak orang kurang menyadari pentingnya keheningan bagi hidup. Kita menyaksikan banyak orang memenuhi dirinya dengan hal-hal yang membuat ramai dirinya. Banyak telinga anak muda tidak lepas dari ear phone. Mereka tampak tidak bisa melepaskan diri dari musik. Akibatnya, mereka juga kurang peduli terhadap lingkungan hidup di sekitar mereka.

Ada lagi orang yang setiap saat selalu memenuhi kamar tidur atau kamar kerjanya dengan bunyi musik yang bising. Menurut mereka, dengan musik seperti itu mereka dapat menghilangkan kesepian hidup. Tetapi soalnya adalah kesepian ada dalam batin manusia. Jadi kehadiran musik hanya menghilangkan kesepian luar saja. Kesepian batin tetap ada. Dibutuhkan suatu keheningan batin untuk mendayagunakan kesepian batin menjadi sesuatu yang berguna bagi hidup.

Dalam keheningan kita dapat menemukan banyak hal baik bagi hidup kita. Kisah tadi merupakan salah satu contoh betapa keheningan itu sangat berguna bagi hidup manusia. Dalam keheningan itu seseorang dapat menemukan hal-hal yang sangat berharga dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita tetap membutuhkan kehehingan. Dalam kehehingan itu kita dapat menemukan dan menangkap kehendak Tuhan bagi hidup kita. Mari kita ciptakan suasana hening dalam diri kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan kehendak Tuhan bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **


189

05 Oktober 2009

Pengaruh Lingkungan dalam Hidup Kita

Suatu hari, seorang nyonya, istri seorang tokoh masyarakat terkemuka, sedang berkunjung ke desa asalnya. Ketika sedang berjalan-jalan di lingkungan desa, ia mendapatkan segumpal tanah yang bentuknya aneh. Tanah liat itu ternyata berbau harum sekali. Diambilnya tanah liat itu lalu dibawanya pulang ke kota. Meski sudah dibawa berkilo-kilometer jauhnya, tanah liat itu tetap saja masih mengeluarkan aroma harum. Bahkan ketika tanah liat tersebut dibawa ke kamar tidur nyonya itu, seluruh ruangan dipenuhi dengan baunya yang harum.

Malam harinya, karena terdorong keingintahuan yang tak mampu ditahannya lagi, nyonya itu mengambil tanah liat tadi dan mengamat-amatinya. Kemudian ia bertanya dalam hati, “Tanah liat apa ini? Mengapa bisa begini harum? Siapa yang mengharumkannya? Dan untuk apa diharumkan?”

Tiba-tiba tanah liat itu berbicara. “Apakah nyonya benar-benar ingin tahu?” tanya tanah liat itu.

Mendengar kata-kata tanah liat itu, terkejutlah nyonya terhormat itu. Dengan gugup dan amat takut, nyonya itu menjawab, "Eh, iya. Aku ingin tahu."

"Tidak usah takut, Nyonya," kata tanah liat itu. Mendengar kata-kata tanah liat itu, nyonya itu menjadi tenang kembali.

Kata tanah liat itu, "Begini, nyonya. Saya hanyalah tanah liat biasa. Tetapi lama sekali saya ditempatkan berdampingan dengan minyak wangi dari Paris. Bahkan, saya sempat ketumpahan minyak dalam jumlah yang lumayan banyak. Karena itulah saya berbau wangi."

Kita hidup dengan orang yang memiliki berbagai watak, suku, kebiasaan yang berbeda-beda. Keberagaman itu turut mempengaruhi kepribadian kita. Lingkungan hidup di mana kita tinggal ikut berpengaruh dalam pembentukan kepribadian kita. Seseorang dapat memiliki watak yang keras juga dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia hidup. Ia tidak begitu saja lahir dengan watak yang keras. Lingkungan berperanan dalam membentuk watak seseorang.

Atau orang yang tumbuh dalam suasana kasih dan saling mengampuni akan memiliki watak seperti ini dalam perjalanan hidupnya. Ia menjadi orang yang mudah diterima oleh banyak orang, karena begitu mudah memperhatikan sesamanya yang membutuhkan pertolongannya. Ia menjadi orang yang mudah mengampuni sesamanya yang melakukan kesalahan terhadapnya.

Namun semua itu mesti mengalami proses dalam perjalanan hidup seseorang. Untuk itu, orang mesti berani mengolah kepribadiannya. Orang tidak bisa membiarkan wataknya yang keras dan mau menang sendiri terus-menerus bertumbuh dan berkembang. Kita hidup bersama orang lain. Mereka juga memiliki watak yang mempengaruhi hidup kita. Ada orang yang begitu mudah menyerah pada apa yang sudah ada. Tentu hal ini mesti mendapatkan perhatian. Kita ingin menjadi orang-orang yang memiliki kepribadian yang lemah lembut dan rendah hati.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk mengasah watak dan kepribadian kita. Dengan demikian kita dapat menjadi orang-orang yang mampu hidup bersama orang lain di sekitar kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.




188

04 Oktober 2009

Mengolah Pengalaman Hidup

Suatu Pagi yang cerah, ada seorang penganggur yang sedang duduk-duduk di tepi jalan di antara dua kota. Tak lama kemudian, lewatlah seorang turis di jalan itu. Wajahnya tampak kusut. Ketika melintas di hadapan sang penganggur, berhentilah sang turis dan bertanya kepadanya, “Pak, numpang tanya. Orang-orang macam apa yang tinggal di kota di depan itu?”

Tanpa memandang sang turis, sang penganggur balik bertanya, “Orang-orang macam apa yang Anda temui di kota yang baru saja Anda tinggalkan?”

Sang turis menjawab, “Oh, sangat mengerikan. Mereka egois dan kurang ajar.”

Mendengar jawaban itu, sang penganggur mendongakkan kepalanya. Lalu ia berkata, “Kalau begitu, di kota depan itu pun Anda akan menjumpai orang-orang yang sama.”

Tak lama setelah itu, seorang turis lain juga lewat di jalan itu. Wajahnya tampak riang gembira. Ketika melintas di hadapan sang penganggur, berhentilah sang turis dan bertanya kepadanya, "Pak, numpang tanya. Orang-orang macam apa yang tinggal di kota di depan itu?”

Tanpa memandang sang turis, sang penganggur balik bertanya, “Orang-orang macam apa yang Anda temui di kota yang baru saja Anda tinggalkan?”

Sang turis menjawab, “Oh, menyenangkan sekali. Mereka amat baik dan bersahabat.”

Sang penganggur mendongakkan kepalanya. Sambil tersenyum ia berkata kepada sang turis, “Kalau begitu, di kota depan itu pun Anda akan menjumpai orang-orang yang sama.”

Turis itu membalas senyum si penganggur, lalu berjalan menuju ke kota di depannya dengan gembira.

Pengalaman hidup kita dapat mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang lain atau suatu masyarakat tertentu. Orang yang memiliki pengalaman indah tentang orang lain atau suatu masyarakat akan menyimpan dalam hatinya hal-hal yang baik. Orang yang punya pengalaman masa lalu yang jelek tentang orang lain atau suatu masyarakat akan menyimpan memori yang jelek pula.

Untuk itu, orang mesti mampu mengolah pengalaman masa lalu itu. Kisah tadi menunjukkan bahwa turis kedua dapat mengolah pengalaman masa lalunya. Ia memiliki suasana gembira dalam hatinya, karena ia memiliki pengalaman yang indah. Namun semestinya setiap orang mampu memiliki kegembiraan dalam hidupnya, meski memiliki pengalaman masa lalu yang kurang begitu baik.

Orang mesti berani menerima pengalaman jelek masa lalunya dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Pengalaman masa lalu yang jelek itu mesti mengalami proses daur ulang. Hal ini membutuhkan suasana batin yang baik dan menyenangkan.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mampu mengolah pengalaman-pengalaman hidup kita. Hanya dengan mengolahnya dengan baik, kita akan menjadi orang-orang yang senantiasi menghiasi hidup kita dengan suasana kegembiraan. Mari kita pandai-pandai mengolah pengalaman hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


187

03 Oktober 2009

Menemukan Solusi atas Persoalan


Suatu senja, seorang laki-laki mengendarai seekor kuda menuju ke laut dan sampai di sebuah penginapan. Ia turun dari kuda dan dengan keyakinan seperti pengendara lain yang menuju ke laut malam itu, ia menambatkan kudanya di sebatang pohon di samping pintu dan memasuki rumah penginapan.

Tengah malam, ketika semua sedang tidur, seorang pencuri datang dan mencuri kuda pengembara itu. Di pagi harinya, laki-laki itu bangun dan mendapati kudanya telah dicuri orang. Ia sangat bersedih hati karena kudanya. Mengapa ada orang yang tega mencurinya? Kemudian, tamu-tamu lain yang tinggal di penginapan itu datang mengerumuninya dan mulai berbicara.

Laki-laki pertama berkata, “Betapa bodohnya kamu menambatkan kuda di luar kandang.”

Laki-laki kedua berkata, “Lebih bodoh lagi karena tak kauikat kaki kuda itul"

Laki-laki ketiga berkata, “Terlampau bodoh menuju laut dengan mengendarai kuda.”

Dan yang keempat berkata, “Hanya kaki kudalah yang lamban dan malas.”

Pengembara itu semakin heran. Kemudian ia berteriak, “Sahabat-sahabatku, karena kudaku dicuri, kalian buru-buru mencerca kesalahan dan kekuranganku. Tapi aneh, tak satu kata pun kalian ucapkan untuk menyalahkan orang yang telah mencuri kudaku.”

Mengeritik orang lain itu sering terjadi dalam hidup manusia. Orang sering merasa dirinya yang paling baik dan benar. Ia tidak menyadari bahwa apa yang dikritiknya itu sebenarnya tidak mampu ia lakukan. Ada orang yang hanya bisa mengkritik orang lain. Apa saja yang dibuat oleh orang lain dianggap salah.

Kisah tadi menunjukkan bahwa orang mesti hati-hati dalam mengkritik sesamanya. Orang mesti berani memberi solusi-solusi, tidak hanya mengkritik sesamanya. Sebenarnya kritik itu baik sejauh kritik itu membangun atau memperbaiki situasi yang kurang beres menjadi beres. Sebuah kritik yang tidak memberi kemajuan dalam hidup bersama hanyalah sebuah kritik yang tidak bermakna.

Sebagai orang beriman, kita mesti menyadari diri kita sendiri. Kita boleh saja mengkritik kalau kritik itu memberikan suatu kemajuan dalam hidup bersama. Kritik yang baik selalu memberi kemungkinan-kemungkinan bagi pembangunan hidup bersama. Kita tidak begitu saja mengkritik perbuatan orang lain. Sebelum kita mengkritik, kita mesti tahu lebih dulu apakah kritik itu mampu memberi manfaat bagi hidup bersama atau tidak.

Kalau sebuah kritik hanya memecah belah hidup bersama, kita mesti bertanya diri apakah kritik kita itu relevan atau tidak. Karena itu, mari kita membangun suatu hidup bersama yang baik. Kita beri solusi-solusi yang baik terhadap setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup bersama. Dengan demikian hidup kita menjadi lebih baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.


186

02 Oktober 2009

Berdoa Itu Mendengarkan Kehendak Tuhan


Pernahkah Anda memerhatikan murid TK belajar mewarnai gambar? Umumnya, anak-anak itu menghadapi dua macam kesulitan. Pertama, mereka sulit mencari warna yang cocok dengan gambarnya. Kedua, mereka mencoret-coretkan pensil atau spidol berwarna keluar dari garis batas gambar yang ada. Hasilnya tidak bagus untuk dilihat.

Tetapi ketika usia anak-anak itu bertambah dan kemampuan mereka juga makin berkembang, mereka dapat memilih warna yang cocok. Hasil karyanya tidak lagi keluar dari garis batas yang ada pada gambar itu. Dengan demikian kita akan melihat hasil karya yang bagus dan memuaskan.

Doa yang baik itu tidak langsung jadi. Doa itu mengalami proses dalam hidup manusia. Awalnya doa kita masih banyak salah. Doa kita masih seperti ungkapan hati anak-anak. Lambat laun doa kita menjadi doa yang baik dan lebih berkenan kepada Tuhan. Doa kita menjadi lebih bermakna.

Namun semua itu mesti dijalani dengan tekun. Doa itu mesti selalu dipanjatkan kepada Tuhan. Kadang orang merasa jemu untuk berdoa kepada Tuhan. Orang merasa bosan untuk berdoa. Apalagi orang jatuh ke dalam rutinitas dalam berdoa. Rutinitas akan membawa orang pada kebosanan dalam berdoa.

Untuk itu, orang beriman mesti membangun hidupnya dengan baik. Tuhan akan selalu memberi kekuatan kepada kita. Tuhan yang mahapengasih dan penyayang itu senantiasa memberikan yang terbaik bagi kebutuhan hidup kita.

Karena itu, kita mesti selalu belajar untuk bertumbuh dan berkembang dalam relasi kita dengan Tuhan. Kita mesti terus-menerus berusaha untuk menghidupi kasih Tuhan dalam hidup kita. Hanya dengan menghidupi kasih Tuhan itu, kita akan menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan.

Dengan membangun relasi yang baik dengan Tuhan, kita akan menemukan kehendak Tuhan bagi hidup kita. Kata orang, Tuhan itu hanya seinchi dari kaki kita. Artinya, Tuhan begitu dekat dengan kita. Tuhan ada di hadapan kita. Sering kita lupa bahwa Tuhan selalu berada di dekat kita. Akibatnya, kita melakukan hal-hal yang kurang berkenan kepadaNya.

Mari kita menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita dengan memanjatkan doa-doa kepadaNya. Dengan demikian kita mampu melaksanakan kehendak Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.





185

01 Oktober 2009

Menjalin Relasi yang Baik dengan Tuhan


Seorang ayah mengajari anaknya yang berusia 5 tahun tentang doa dan kuasa Tuhan yang dapat menjawab setiap permohonan doa orang yang percaya kepadaNya. Anak itu menerima semua pengajaran ayahnya dengan hati yang sangat terbuka. Tetapi ia agak bingung karena belum tahu bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang tepat untuk berdoa.

Pada waktu itu, ia sedang bermain-main dengan huruf-huruf alfabet A-B-C-D yang terbuat dari plastik. Tiba-tiba timbul ide dalam diri anak tersebut. Ia berpikir bahwa Tuhan itu Mahakuasa, jadi Ia dapat melakukan apa saja yang mustahil bagi manusia.

Maka dengan tangannya ia mencampuradukkan mainan huruf-huruf plastik A-B-C itu seraya berkata, “Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caranya berdoa, sebab aku masih kecil. Tetapi ayahku berkata bahwa Engkau Mahakuasa dan aku percaya akan hal itu. Maka kini aku mencampuraduk huruf-huruf ini, biar Engkau ya Tuhan yang menyusunnya menjadi kata-kata doa bagiku.”

Anak ini sangat polos dan tulus. Ia sadar, ia tidak tahu kata-kata yang indah yang ia panjatkan kepada Tuhan dalam doa-doanya. Karena itu, kita yakin, Tuhan mendengarkan doanya. Anak ini ingin berhubungan langsung dengan Tuhan. Ia merasa bahwa Tuhan itu seperti ayahnya sendiri. Karena itu, ia meminta Tuhan menyusun huruf-huruf permainannya menjadi kata-kata doa baginya.

Doa merupakan sumber energi paling kuat yang dikenal oleh manusia. Doa menawarkan sebuah hubungan langsung dengan Tuhan. Doa itu seperti berkas sinar yang tak henti-hentinya tercurah dari hati dan pikiran seorang pendoa.

Doa membuka hati kita untuk menerima bantuan dari Tuhan yang selalu mengelilingi dan menyertai kita. Tuhan menunggu kita untuk memanjatkan doa-doa kita kepadaNya. Tuhan ingin agar kita membangun relasi yang baik denganNya. Caranya adalah dengan berdoa kepadaNya. Artinya, orang beriman menyerahkan seluruh keluh kesahnya kepada Tuhan. Dan membiarkan Tuhan menjawab keluh kesah itu dengan penuh kasih.

Sebagai orang beriman, kita tentu ingin agar setiap persoalan hidup kita didengarkan oleh Tuhan. Kita ingin agar Tuhan mengabulkan setiap permohonan kita. Karena itu, mari kita berdoa dengan penuh iman kepadaNya. Kita biarkan Tuhan menguasai diri kita dengan kuasaNya. Dengan demikian kita menjadi orang-orang yang senantiasa mengandalkan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.