Pages

11 Desember 2009

Gunakan Uang untuk Kesejahteraan Bersama



Ada seorang yang sangat kaya yang sepanjang hidupnya bekerja keras untuk mengumpulkan uang. Ia mencintai uang lebih dari segala sesuatu yang lain. Bahkan istri dan anak-anaknya sering ia kalahkan demi mencari dan mengumpulkan uang.

Menjelang ajalnya, ia memanggil istrinya. Ia berkata, “Pada saat aku mati nanti aku minta supaya kamu memasukkan semua uangku ke dalam peti mati. Aku ingin membawa semua uangku menghadap Tuhan.”

Kemudian ia meminta istrinya untuk bersumpah dengan menumpangkan tangan di atas Kitab Suci.

Pada hari kematian orang kaya itu, istrinya duduk di samping peti dengan wajah yang penuh duka. Ia ditemani sahabat karibnya. Ketika upacara pemakaman selesai dan peti mati hendak ditutup, sang istri tampil ke depan. Ia berteriak, “Tunggu sebentar.” Lalu ia mendekati peti sambil meletakkan sebuah kotak di dalamnya. Kemudian para petugas menutup peti itu.

Beberapa saat kemudian, sahabat karibnya berkata kepadanya, “Aku yakin kamu bukan orang bodoh. Kamu pasti tidak meletakkan semua uang suamimu di peti itu, bukan?”

Istri itu menjawab, “Saya orang beriman. Saya tidak bisa berbohong. Saya telah bersumpah untuk meletakkan semua uangnya di dalam peti itu.”

Sahabat karibnya itu sangat terkejut mendengar kata-kata temannya itu. “Jadi kamu memberikan semua uang itu kepadanya?” tanya sahabat karib itu.

Istri itu menjawab, “Tentu saja. Tetapi saya memberikannya dalam bentuk cek.”

Uang begitu menggoda hati manusia. Dengan uang yang banyak orang dapat melakukan apa saja sesuai dengan keinginan hatinya. Uang dapat digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Uang dapat digunakan untuk menjalin relasi dengan sesama manusia. Uang dapat digunakan untuk membangun persahabatan dan cinta kasih dengan semua orang.

Namun uang dapat membawa orang kepada kegelapan dalam hidup. Karena godaan untuk memiliki uang yang banyak, orang dapat menghilangkan nyawa sesamanya. Uang dapat mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi hidup manusia. Uang dapat menyebabkan orang masuk dalam penjara.

Karena itu, sebagai orang beriman kita diingatkan akan godaan terhadap uang. Kita boleh memiliki sebanyak-banyaknya uang. Namun yang penting bagi kita adalah kita menggunakannya untuk kesejahteraan hidup kita dan sesama. Uang yang kita miliki semestinya membantu kita untuk membangun hidup yang baik dengan sesama.

Dalam keluarga, uang mesti digunakan untuk kesejahteraan keluarga. Uang digunakan untuk menuntun anak-anak untuk meraih cita-cita yang baik. Uang mesti dipakai untuk menciptakan keharmonisan keluarga orang-orang beriman. Mari kita gunakan uang secara bijaksana, agar hidup kita menjadi lebih baik dan sejahtera. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

257

Bagikan

10 Desember 2009

Hidup Ini Rahmat dari Tuhan



Almarhum Ateng, seorang pelawak terkenal, memiliki iman yang begitu mendalam kepada Tuhan. Ia termasuk orang yang rajin beribadat, meski kesibukan sebagai seniman selalu menghantui hidupnya.

Suatu kali dia berkata, “Ketika saya masih muda, saya mencari uang. Saya kerja keras untuk mendapatkan uang itu. Tuhan memberkati dengan memberi saya uang itu. Tuhan juga memberikan banyak hal untuk mendukung hidup saya. Tuhan telah memberikan semua itu secara cuma-cuma. Dia tidak menuntut apa-apa dari saya. Sekarang saya mau membaktikan diri saya untuk Tuhan dan sesama.”

Di masa tuanya, Ateng aktif dalam hidup keagamaannya. Setiap kali ada acara di Panti Asuhan, ia selalu hadir untuk memberi warna tersendiri. Ia menghibur anak-anak panti asuhan dan mereka yang berkunjung dengan lawak-lawaknya yang segar dan menghibur. Orang-orang yang hadir mengalami sukacita yang besar. Mereka merasa bahagia.

Untuk acara-acara seperti ini, Ateng tidak pernah meminta uang. Ia hadir untuk memberi mereka hiburan. Ia memberikannya dengan cuma-cuma seperti Tuhan telah memberi kasih yang cuma-cuma kepadanya. Ateng pun merasa bahagia atas hiburan lawak yang ia bawakan untuk sesamanya.

Dalam kacamata iman, Ateng berkata, “Inilah cara saya bersyukur, memuji dan memuliakan Tuhan. Selama ini Tuhan telah memberikan semua kebutuhan saya. Tuhan telah memberkati karya dan usaha saya.”

Hidup ini adalah suatu anugerah dari Tuhan. Hidup kita ini suatu rahmat dari Tuhan. Tuhan memberikan hidup ini kepada kita, karena Dia begitu mencintai kita. Karena cintaNya itu, Tuhan selalu peduli terhadap hidup kita. Tuhan tidak mau membiarkan kita celaka dalam hidup ini. Karena itu, Dia selalu melindungi kita dari marabahaya.

Tuhan tidak hanya menganugerahkan hidup ini kepada kita. Tuhan juga menjamin hidup kita. Jaminan itu ditunjukkan dengan memberikan kemampuan-kemampuan kepada kita. Kita mesti gunakan itu untuk mengembangkan dan memajukan diri kita. Kalau kita tidak gunakan kemampuan yang diberikannya kepada kita, berarti kita melalaikan cinta kasihNya kepada kita. Akibatnya, justru kita yang akan mengalami kegagalan dalam hidup ini. Hidup kita menjadi tidak berarti tanpa menggunakan kemampuan yang diberikan Tuhan itu untuk kemajuan diri kita.

Ketika kita menggunakan dengan sebaik-baiknya rahmat Tuhan itu, kita semakin memuliakan Tuhan. Untuk itu, kita butuh ketekunan dalam berusaha. Kita butuh kesetiaan dalam mengembangkan dan memajukan kemampuan-kemampuan itu dalam hidup ini.

Mari kita berusaha untuk senantiasa setia kepada Tuhan, karena Tuhan selalu setia dan mencintai hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

255

Bagikan

09 Desember 2009

Berbagi Kasih


Seorang ibu merasa bangga dan terharu terhadap putri kecilnya. Putrinya itu ia dampingi dan bimbing dengan kasih untuk bertumbuh menjadi anak yang baik. Hasil dari pendampingan itu adalah anak itu semakin peka terhadap lingkungan sekitarnya. Ia mempunyai kasih yang besar dengan memberikan perhatian kepada teman-temannya. Mereka yang mengalami kesulitan dan menderita ia beri perhatian yang besar.

Ibu itu bercerita bahwa waktu putrinya merayakan ulang tahun yang kesembilan, ia merayakan dalam suasana yang sederhana. Ia mau merayakannya dengan teman-temannya.

“Kami sudah sibuk memesan hotel untuk merayakan ulang tahunnya. Semua temannya saya undang. Kami mencari tempat yang luas yang bisa dihadiri banyak undangan. Tetapi putri saya menolak. Ia ingin merayakan ulang tahunnya di panti asuhan bersama teman-temannya. Ia ingin berbagi kegembiraan dengan anak-anak panti asuhan,” kata ibu itu.

Meski heran terhadap sikap anaknya, ibu itu sungguh-sungguh merasa terharu. Anaknya memiliki hati yang mulia. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya di panti asuhan. Kebahagiaan itu juga dirasakan putri berusia sembilan tahun itu. Ia memberikan semua hadiah yang ia peroleh untuk anak-anak panti asuhan. Sungguh, ia mampu berbagi kasih dengan sesamanya.

Kita hidup dalam dunia yang semakin tipis dalam sikap peduli terhadap sesama. Banyak anak jaman ini tumbuh dalam dunianya sendiri. Misalnya, banyak anak menghabiskan begitu banyak waktu di depan playstation. Mereka merasa sungguh-sungguh menemukan kebahagiaan kalau berjam-jam menikmati permainan di video game itu. Mereka tidak peduli bahwa waktu yang mereka buang itu sebenarnya dapat digunakan untuk membangun relasi yang baik dengan sesamanya. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang kurang peduli terhadap sesama di sekitarnya.

Kisah tadi mau mengajak kita semua untuk sadar bahwa memiliki semangat berbagi dengan sesama itu merupakan panggilan hidup kita sebagai orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Tuhan menghendaki agar kita membagikan kasih kita kepada sesama. Kasih yang kita bagikan itu tidak akan hilang binasa. Justru kasih yang kita bagikan itu memberikan suatu rahmat yang melimpah bagi hidup kita.

Berbagi kasih berarti kita ingin memberikan hidup kita untuk sesama. Kasih itu mengalir melalui perhatian, pelayanan dan sikap bela rasa yang kita berikan untuk sesama kita. Mari kita berusaha untuk selalu memiliki kemampuan untuk berbagi kasih dengan sesama kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

256


Bagikan

08 Desember 2009

Harta Kekayaan Bukan Tujuan Hidup Manusia



Ada sepasang suami istri yang sangat sibuk dengan berbagai usaha mereka. Mereka jarang sekali bertemu di rumah. Mereka juga tidak punya waktu untuk anak-anak mereka. Mereka berprinsip ‘asal ada uang semua akan beres’. Karena itu, anak-anak mereka jarang jumpai. Mereka menyediakan uang saku yang banyak untuk masing-masing anak.

Mereka terus memperluas usaha-usaha mereka di kota-kota lain. Mereka tidak pernah lelah mencari peluang-peluang baru. Mereka tidak pernah menyerah pada tantangan dan kesulitan yang menghadang mereka. Padahal mereka sudah punya segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk hidup selama lima puluh tahun lagi.

Suami istri ini memang tidak pernah puas atas apa yang telah mereka miliki. Mereka ingin memiliki barang-barang kebutuhan hidup yang sebanyak-banyaknya. Hidup mereka sudah berkecukupan. Namun mereka masih saja tetap mau mengumpulkan harta kekayaan untuk diri mereka.

Suatu hari mereka diingatkan oleh salah seorang anak mereka yang merasa bosan tinggal di rumah. Anak itu mengatakan bahwa kedua orangtuanya tidak memperhatikan mereka lagi. “Mama, coba pikirkan kami. Kekayaan yang mama dan papa kumpulkan itu tidak lebih berharga dari kami,” kata anak itu kepada mamanya.

Namun sang mama cuek saja. Ia menganggap anaknya itu sudah cukup mendapatkan perhatian melalui uang saku yang semakin banyak setiap bulan itu. Bahkan ia keberatan terhadap kata-kata anaknya itu. Ia tetap jarang berada di rumah bersama anak-anaknya. Harta kekayaan sungguh-sungguh sangat menguasai dirinya. Ia tidak bisa lepas lagi dari kekayaannya itu.

Kelekatan pada harta kekayaan membawa orang jatuh pada menghalalkan segala cara. Demi uang, suami istri bisa mengabaikan tugas utama mereka dalam mendidik anak-anak mereka. Demi uang, mereka bisa meninggalkan rumah dan keluarga dalam waktu yang lama.

Harta kekayaan dapat menyilaukan mata orang. Akibatnya, orang menilai hidup ini dari seberapa banyak harta kekayaan yang dimiliki seseorang. Tentu saja hal ini akan sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Ada begitu banyak dimensi dalam pribadi manusia yang dapat hilang hanya karena orang terlalu lekat pada harta kekayaan itu.

Karena itu, sebagai orang beriman kita mesti hati-hati terhadap harta kekayaan itu. Harta mesti digunakan sebagai sarana untuk membantu hidup manusia menjadi lebih baik. Harta kekayaan itu bukan tujuan hidup manusia. Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan. Harta kekayaan dapat membantu manusia untuk mencapai tujuan hidupnya.

Ada nasihat, ‘Kuasailah harta kekayaan, maka engkau akan menang.’ Mari kita menggunakan harta kekayaan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya demi kebahagiaan yang menjadi tujuan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

254
Bagikan

07 Desember 2009

Tuhan Mau Mengampuni Kesalahan Manusia

Suatu hari seorang pastor terkejut melihat seorang perempuan memasuki rumahnya. Perempuan itu membawa sejumlah pasir yang masih basah oleh air laut. Ia bertanya, “Tahukah pastor apa ini? Tahukah pastor mengapa saya membawa pasir ini ke sini?”

Pastor itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu maksudnya. Ia menatap perempuan dengan pasir di tangannya itu dalam bingung dan diam.

Lantas perempuan itu menjawab sendiri pertanyaannya, “Inilah dosa-dosa saya. Dosa-dosa saya tidak terhitung banyaknya seperti pasir di laut. Bagaimana saya bisa memperoleh pengampunan bagi semua dosa saya?”

Setelah tahu maksudnya, pastor itu tersenyum. Lalu ia berkata, “Sekarang, kembalikan pasir-pasir itu ke pantai. Buatlah gundukan. Lalu duduk dan lihatlah bagaimana ombak datang dan mengikis habis gundukan itu perlahan-lahan tapi pasti. Itulah cara kerjanya pengampunan Tuhan. Belas kasihNYa seluas lautan. Menyesalah sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mengampuni engkau.”

Perempuan itu terharu mendengar penjelasan pastor. Ternyata belas kasih Tuhan begitu luar biasa. Dia mengampuni dosa umatNya betapa pun banyak dan besarnya dosa manusia itu.

Ada banyak orang yang merasa bahwa Tuhan akan memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada orang yang melakukan banyak dosa. Mereka beranggapan bahwa Tuhan itu sebagai seorang hakim yang kejam yang selalu menjebloskan para penjahat ke dalam penjara. Karena itu, orang merasa sangat takut kepada Tuhan. Orang yang berdosa tidak berani dekat dengan Tuhan.

Kisah tadi menunjukkan bahwa anggapan seperti itu tidak benar. Ternyata Tuhan begitu baik. Tuhan lebih suka mengampuni daripada menghukum mereka yang bersalah. Tuhan lebih suka memberikan jalan keluar bagi para pendosa daripada menutup belas kasihanNya terhadap orang yang berdosa. Bagi Tuhan, lebih baik satu orang berdosa yang bertobat daripada seribu orang yang menganggap dirinya baik dan suci.

Namun Tuhan juga menuntut dari setiap orang hati yang mau kembali kepadaNya. Rahmat pengampunan baru memiliki daya guna yang kuat, ketika orang yang berdosa mengungkapkan pertobatannya dalam hidup yang nyata. Pertobatan itu tidak hanya kata-kata di mulut. Pertobatan itu mesti ditunjukkan dalam perbuatan sehari-hari. Nah, kalau ini terjadi, maka pengampunan dari Tuhan dapat terwujud dengan baik.

Mari kita hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Mari kita saling mengampuni, karena Tuhan senantiasa mengampuni dosa-dosa yang kita perbuat. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

253

Bagikan

06 Desember 2009

Proses Belajar Terus-menerus



Ada seorang gadis mudah sekali terbakar emosinya. Ia mudah marah tanpa alasan yang jelas. Setiap orang yang ada di dekatnya pasti dimarahinya kalau ia sedang mengalami suatu kesulitan. Ia juga tidak tahu mengapa ia jadi begitu.

Menyadari kondisi dirinya seperti itu, ia berusaha untuk mengatasinya dengan berbagai cara. Ia mendatangi psikolog untuk mengkonsultasikan kondisi emosinya yang tidak stabil itu. Ia meminta nasihat dari teman-temannya yang sebaya. Namun semua itu seolah sia-sia belaka. Emosinya tetap saja mudah sekali terbakar. Ia menjadi galak.

Suatu hari ia masuk ke rumah ibadat. Di sana ia berdoa, “Tuhan, berilah saya kesabaran. Saya tidak ingin hidup saya dipenuhi oleh emosi yang meluap-luap.”

Lama sekali ia berdoa di tempat ibadat itu. Namun ia merasa doanya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Ia marah-marah kepada Tuhan. Ia sewot. Kenapa Tuhan tidak mau mendengarkan jeritan batinnya?

Setelah keluar dari rumah ibadat itu, ia bertemu dengan seorang pengemis yang meminta sedekah. Gadis itu semakin sewot. Melihat gadis yang sedang marah itu, pengemis itu tersenyum. Lalu ia berkata, “Hai gadis muda, Anda minta diberi kesabaran oleh Tuhan. Ingat, kesabaran itu hasil dari kesulitan. Kesabaran itu tidak dihadiahkan begitu saja kepadamu. Kamu harus mempelajari kesabaran itu.”

Mendengar kata-kata pengemis itu, gadis itu menjadi tenang. Ia menatap mata pengemis itu dalam-dalam. Sedikit demi sedikit ia mulai menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah belajar untuk sabar. Ia selalu ingin memiliki kesabaran itu, namun ia tidak mau masuk dalam proses kesabaran itu.

Ada orang yang beranggapan bahwa mereka dilahirkan secara demikian. Tidak ada yang dapat diubah lagi dari hidup mereka. Karena itu, mereka menjadi orang-orang tidak mudah untuk belajar sesuatu yang baru. Mereka tidak mau berproses untuk menjadi lebih baik. Tentu anggapan seperti ini keliru. Mengapa? Karena manusia itu makhluk yang mesti selalu bertumbuh dalam berbagai aspek kehidupan.

Orang yang sabar, misalnya, itu tidak tiba-tiba sabar. Ia mengalami proses dalam mencapai kesabaran itu. Dalam proses itu orang mengalami kesulitan-kesulitan yang mesti ia lewati. Kalau orang sungguh-sungguh ingin memiliki kesabaran dalam hidupnya, ia mesti berusaha terus-menerus. Kesulitan-kesulitan itu menjadi kesempatan baginya untuk memurnikan cita-citanya untuk menjadi orang yang sabar.

Proses belajar untuk menjadi sabar itu mesti dinikmati. Orang yang ingin berhasil dalam proses belajar ini mesti berani berkorban. Karena itu, mari kita masuk dalam proses belajar kehidupan yang berjalan terus-menerus. Dengan demikian kita menjadi orang-orang yang dapat meraih apa yang kita cita-citakan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

252

Bagikan

05 Desember 2009

Menghidupi Kebaikan

Suatu hari seorang anak muda berdoa kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaan daripadanya. Menurutnya, kalau Tuhan menyingkirkan penderitaan itu, ia dapat menjalani hidup ini dengan baik. Ia tidak perlu takut mengkonsumsi makanan dengan lemak tinggi. Ia tidak usah kuatir kalau nanti mengkonsumi narkoba bahkan dengan dosis tinggi.

Keinginan jahat seperti ini diketahui oleh Tuhan. Maka Tuhan menjawab, “Penderitaan itu bukan untuk Kusingkirkan. Tetapi penderitaan itu ada untuk kau kalahkan.”

Anak muda itu terkejut mendengar jawaban Tuhan. Ia menjadi bingung. Padahal baginya, Tuhan akan mengabulkan setiap permohonan yang diajukan kepadaNya. Ia tidak habis pikir, mengapa Tuhan tega memberi tantangan yang begitu besar kepadanya? Padahal ia ingin hidup bahagia. Ia ingin menikmati masa mudanya. Ia tidak mau penderitaan menimpanya di usia yang begitu muda.

Karena itu, ia agak kecewa terhadap Tuhan. Dalam hatinya, ia merasa enggan untuk berdoa memohon pertolongan dari Tuhan lagi. Setelah beberapa waktu lamanya baru anak muda itu sadar bahwa sebenarnya ia terlalu mengada-ada dengan permohonan itu. Tuhan tahu maksud jahatnya terhadap dirinya sendiri. Tuhan tidak ingin membinasakan hidupnya.

Banyak orang salah mengerti tentang kebaikan Tuhan. Mereka menyangka bahwa apa yang mereka minta mesti dikabulkan oleh Tuhan. Bahkan meminta sesuatu yang jahat untuk dirinya sendiri.

Tuhan tidak menghendaki penderitaan dan kematian bagi ciptaanNya. Yang dikehendaki Tuhan adalah kehidupan yang bahagia. Bahkan Tuhan tidak pernah menghendaki satu pun ciptaanNya hilang musnah. Yang Dia kehendaki adalah seluruh ciptaanNya kembali kepadaNya.

Karena itu, Tuhan menyediakan surga bagi setiap orang yang menjadi ciptaanNya. Menurut ajaran agama kita masing-masing, orang yang boleh masuk surga itu orang yang suci hatinya. Orang yang tidak melakukan kejahatan atas dirinya sendiri maupun diri orang lain.

Untuk itu, perlu ada pertobatan selama masih hidup di dunia ini. Orang mesti mengarahkan hidupnya kepada kebaikan. Orang mesti melaksanakan kebaikan dalam hidupnya. Orang tidak hanya berkata-kata tentang kebaikan, tetapi mesti juga menghidupi kebaikan itu.

Mari kita berusaha untuk hidup baik di hadapan Tuhan dan sesama. Dengan demikian kebahagiaan menjadi bagian dari hidup kita juga. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

251


Bagikan

04 Desember 2009

Berkorban itu membahagiakan

Siang itu perempuan tua renta itu menyusuri aspal panas. Sebuah bakul seberat tujuh kilogram lengket di punggungnya. Sandal jepit yang mengalasi telapaknya menghindarkan perempuan tua itu dari pantulan panas dari aspal itu. Ia terus berjalan. Butir-butir keringat mengucur membasahi wajahnya.

Meski sudah tua, ia mesti bekerja untuk menghidupi dirinya dan seorang cucunya. Cucu laki-lakinya itu sudah enam tahun ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Mereka mengalami kecelakaan yang tragis di jalan raya. Perempuan tua itu kemudian menjadi tumpuan cucu satu-satunya itu.

Padi-pagi buta perempuan itu meninggalkan rumahnya. Ia berbelanja di pasar untuk dijual kembali di rumah yang juga berfungsi sebagai kios. Dengan cara itu, ia dapat menghidupi cucu dan dirinya sendiri. “Saya tidak tahu sampai kapan saya akan bekerja. Selama saya masih kuat, saya tetap bekerja. Saya tidak ingin melihat cucu saya mati kelaparan,” kata perempuan itu suatu ketika.

Tekadnya untuk membesarkan cucunya itu sangat tinggi. Ia tidak peduli begitu banyak tantangan dan kesulitan yang mesti ia hadapi. Ia tetap setia untuk mengurus cucunya itu. Ia menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Ia mendapatkan kepuasan batin dengan cara seperti itu.

Sebagai balasannya, cucunya sangat menyayanginya. Ia belajar dengan rajin. Ia menjadi juara di kelasnya. Ia pun selalu taat dan setia kepada neneknya. Dengan cara itu, ia mau mengungkapkan kasih sayang dan rasa terima kasihnya atas jerih payah neneknya.

Hidup kita ini dipenuhi dengan korban dan kasih dari sesama yang ada di sekitar kita. Ada orang merasa bahwa korban itu menjadi beban hidup yang begitu berat. Karena itu, korban yang ia tunjukkan menjadi suatu keterpaksaan belaka. Ia merasa berat untuk menyelesaikan tugas-tugas atau pekerjaan yang mesti ia tanggung. Akibatnya, orang tidak mengalami kebahagiaan atas korban yang ia persembahkan. Orang seperti ini biasanya banyak mengeluh ketika ia mesti berkorban.

Namun ada orang yang memiliki hati yang begitu terbuka untuk berkorban bagi sesamanya. Salah satu contoh adalah perempuan tua dalam kisah tadi. Ia mengalami sukacita dalam mengabdikan diri bagi cucunya. Ia mengalami betapa bahagianya hidup ini meski ia mesti bekerja keras untuk menghidupi cucunya.

Orang yang memiliki kerelaan untuk berkorban biasanya mengalami sukacita dalam hidupnya. Ia tidak biasa mengeluh atas korban yang ia berikan. Bahkan ia menemukan rahmat istimewa melalui korban itu. Ia bahagia karena ia menemukan dirinya dalam melakukan korban bagi sesama. Ia menemukan diri sebagai orang yang dikasihi oleh Tuhan, sehingga ia boleh digunakan oleh Tuhan untuk mencintai sesama.

Anda mau berkorban untuk sesama? Begitu banyak orang membutuhkan kasih dan perhatian dari Anda. Bersediakah Anda berkorban untuk mereka? Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com



Bagikan

03 Desember 2009

Tuhan Berbicara melalui Tanda-tanda


Sebelum tsunami menghantam Thailand Selatan pada Desember 2004 lalu, gajah-gajah sudah merasakan ancaman terhadap hidup mereka. Sensitivitas gajah-gajah itu kemudian menyelamatkan belasan turis dari bahaya.

Dang Salangan yang menyediakan gajah tunggangan bagi para turis itu terheran-heran. Ia tidak habis pikir mengapa gajah-gajah itu mengeluarkan suara-suara tangisan. Ia berkata, “Saya terkejut dan heran karena belasan gajah itu tidak pernah menangis sebelumnya.”

Istri dari Dang Salangan mengaku bahwa suara tangisan itu terjadi pertama kali bersamaan dengan terjadinya gempa dasar laut berkekuatan dahsyat yang mengakibatkan tsunami itu. Ia juga terheran-heran. Namun kemudian ia mulai menangkap tanda-tanda alam. Ia pun berusaha untuk menjauhkan diri dari pantai itu. Ia diselamatkan oleh suara tangisan gajah-gajah itu.

Menurut Dang Salangan, gajah-gajah itu kemudian tenang. Tetapi kembali mereka mengeluarkan suara tangisan dan tidak bisa lagi didiamkan. Mereka terus-menerus menangis. Mereka tidak mau ditenangkan. Bahkan mereka berlari ke gunung. Ketika berlari, gajah-gajah itu membawa para turis di punggung. Mereka membawa para turis itu untuk menjauhi pantai yang menjadi lokasi kematian bagi 3.800 orang akibat tsunami itu. Ombak yang dibawa tsunami berhenti tidak jauh dari lokasi gajah-gajah itu berhenti. Nyawa belasan turis pun selamat.

Kisah tadi cukup mencekam. Coba Anda bayangkan Anda sedang menghadapi bahaya yang mengancam nyawa, tetapi tidak ada bantuan sama sekali. Pasti Anda takut. Kaki Anda pasti bergetar. Wajah Anda pasti pucat pasi. Anda tidak punya harapan untuk hidup.

Tetapi coba Anda bayangkan ada tanda-tanda alam yang menghampiri Anda. Di saat seperti itu mungkin Anda masih sangat panik. Anda bingung. Anda cemas. Tetapi tanda-tanda alam itu terus mengganggu Anda. Bagaimana reaksi Anda?

Dalam hidup ini sering orang tidak mudah menangkap tanda-tanda di sekitar mereka. Padahl tanda-tanda itu memberi suatu petunjuk bagi manusia untuk segera menghindari suatu bahaya yang mengancam hidup. Tanda-tanda itu dapat membantu manusia untuk keluar dari kesulitan hidup. Tanda-tanda itu menolong manusia untuk peka terhadap situasi di sekitarnya.

Tuhan juga menggunakan tanda-tanda untuk menyelamatkan orang yang berada dalam kesulitan atau bahaya. Karena itu, orang mesti mampu menangkap tanda-tanda itu. Kalau orang tidak mampu menangkap tanda-tanda itu, bahaya lebih besar akan menimpa dirinya. Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa mampu memperhatikan tanda-tanda di sekitar kita. Tuhan berbicara melalui tanda-tanda itu. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

Bagikan

02 Desember 2009

Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita

Melibatkan Tuhan dalam Hidup Kita

Seorang ibu menderita kanker indung telur stadium empat. Tiga setengah tahun lalu dokter mengatakan bahwa ia hanya punya waktu empat bulan lagi untuk hidup. Dokter tidak berani mengadakan operasi pengangkatan rahim. Untuk sembuh kembali, ia mesti menjalani kemoterapi. Setelah menjalani kemoterapi sebanyak enam kali, kanker itu hilang. Kini ia masih hidup.


Hal yang sangat ajaib bagi ibu itu adalah saat-saat menghadapi perjalanan hidup yang tidak menentu itu. Kadang-kadang ia merasa begitu kuat untuk menghadapi penyakitnya itu. Namun kadang-kadang pula ia merasa tidak memiliki kekuatan. Ia merasa lemas, ketika mendengar sesama temannya yang menjalani kemoteraspi satu per satu meninggal dunia.


Ia berkata, “Saya tidak bisa mengerti mengapa saya masih hidup. Padahal banyak teman-teman saya yang menjalani kemo dengan saya meninggal dunia. Tetapi satu hal yang pasti adalah saya selalu berdoa kepada Tuhan. Saya yakin kekuatan doa itu telah memberi semangat kepada saya.”


Selama menjalani proses penyembuhan atas penyakitnya, ibu ini selalu menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Ia pasrah kepada Tuhan. Apa pun yang akan terjadi atas dirinya, ia serahkan seluruhnya kepada Tuhan. Baginya, hanya Tuhan yang dapat mengatasi penyakitnya.


Ia berkata, “Saya yakin, Tuhan masih mencintai saya. Tuhan tidak pernah meninggalkan saya berjuang sendirian menghadapi penyakit ini. Terlalu berat kalau saya hanya menghadapinya sendiri.” Berkat keyakinannya itu, ia sembuh total dari kanker ganas itu.


Kisah seperti ini bagai suatu kisah khayalan. Namun ini sungguh-sungguh terjadi dalam hidup manusia. Ternyata Tuhan mau intervensi ke dalam perjalanan hidup manusia. Tuhan tidak membiarkan manusia menderita seorang diri. Tuhan mau melibatkan diri dalam suka dan duka hidup manusia.


Kesadaran akan hal ini sering kali kurang. Orang lebih mendahulukan kemampuannya, kekuatannya. Setelah orang mengalami jalan buntu, baru mereka berseru-seru kepada Tuhan. Pantaskah sikap demikian sebagai orang-orang yang mengimani Tuhan?


Untuk itu, sebagai orang beriman kita diajak untuk senantiasa melibatkan Tuhan dalam hidup kita sejak dini. Janganlah ketika kita mengalami kesulitan baru kita berseru minta tolong kepada Tuhan. Sejak awal kita mesti berusaha untuk selalu hidup bersama Tuhan. Sebenarnya Tuhan tidak jauh dari hidup kita. Ia ada di dalam hati kita. Ia ada di dalam saku kita. Ia ada di dalam dompet kita. Bukankah kita percaya bahwa Tuhan itu ada di mana-mana?


Mari kita berserah diri kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Dia selalu menjadi bagian dalam perjuangan hidup kita. Tuhan memberkati. **


Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.