Pages

19 September 2010

Menghadapi Persoalan dengan Hati dan Iman




Suatu hari seekor elang terbang tinggi. Di kakinya ia membawa dua ekor anaknya yang sudah mulai dipenuhi bulu-bulu di sayap-sayap mereka. Begitu tinggi elang itu terbang. Sambil melihat ke punggung-punggung gunung dan bukit, induk elang itu melemparkan kedua anaknya itu ke bawah. Kontan saja kedua anaknya itu menjerit ketakutan.

Dalam hati mereka menyangka sang ibu telah marah terhadap mereka. Mereka dicampakkan begitu saja ke dalam jurang dan ngarai yang begitu dalam. Namun tidak berapa lama kemudian, keduanya dapat membuka sayap-sayap mereka. Mereka pun terbang menikmati keindahan alam pegunungan dan lembah-lembah yang indah.

Kata salah seekor anak elang, ”Ternyata ibu kita tidak membuang kita. Ibu memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati indahnya alam ini.”

Anak elang yang lain terus-menerus menikmati keindahan alam itu. Hampir-hampir ia menabrak dahan sebatang pohon. Untung saja matanya yang cerdik mampu membebaskan dirinya dari kecelakaan. Hari itu kedua elang itu mengalami sukacita yang mendalam. Mereka menemukan kesejatian diri sebagai elang yang terbang tinggi dan menukik ke darat untuk menangkap mangsa. Hari itu mereka belajar untuk menemukan diri mereka sendiri.

Sahabat, kalau Anda menganggap masalah sebagai beban, Anda akan menghindarinya. Anda akan merasa ngeri, ketika suatu masalah datang kepada Anda. Anda akan mencari cara-cara untuk melarikan diri dari masalah itu. Mengapa? Karena Anda tidak kuat memikul beban itu. Atau Anda tidak mau hidup Anda dipenuhi dengan beban permasalahan.

Namun kalau Anda menganggap masalah sebagai tantangan, Anda akan menghadapinya. Anda akan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut. Anda tidak akan lari menjauhi masalah itu. Bahkan Anda akan membangun optimisme dalam hidup ini untuk segera mengatasi masalah tersebut. Ketika masalah itu Anda atasi, Anda akan menemukan kebahagiaan. Tidak ada yang mengejar-ngejar Anda lagi.

Orang yang berani menghadapi masalah menganggap masalah sebagai anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Masalah itu menjadi kesempatan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Masalah yang dihadapi dengan berhasil akan memberikan motivasi dan semangat bagi orang untuk menemukan kesuksesan dalam hidup ini.

Sebagai orang beriman, kita tidak luput dari masalah-masalah. Selalu saja ada masalah yang kita hadapi. Namun masalah itu mesti kita hadapi dengan hati yang tenang dan iman yang kuat. Karena itu, kita mesti senantiasa membuka hati kita kepada Tuhan. Kita membiarkan Tuhan terlibat dalam hidup kita. Kita biarkan Tuhan masuk ke dalam hati kita untuk membantu kita memecahkan persoalan-persoalan hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

502

18 September 2010

Panggilan untuk Menjadi Orang Baik




Ada bibit kelapa yang ada di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakan akar-akarku dalam-dalam di ladang ini. Aku ingin menjulangkan daun-daunku di atas tanah yang keras ini. Aku ingin melambai-lambai di udara. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi.”

Bibit kelapa itu pun tumbuh. Semakin hari kelapa itu tumbuh menjadi besar. Ia melambai-lambai begitu diterpa angin senja. Pohon kelapa itu memberi kehidupan baru bagi alam sekitarnya. Kehadirannya sungguh-sungguh memberikan makna yang begitu besar bagi lingkungannya.

Tetapi bibit kelapa yang kedua hanya menyaksikan lambaian kelapa pertama itu dalam diam. Sejak awal ia takut untuk bertumbuh. Ia membiarkan dirinya kerdil. Ia berkata, “Aku takut. Kalau kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di bawah sana sangat gelap?”

Bibit kelapa yang kedua akhirnya tetap saja kerdil. Ketakutannya itu membuat ia tidak bisa tumbuh dengan baik. Beberapa waktu kemudian, pemilik bibit itu membakarnya. Ia tidak berguna lagi. Ia lebih pantas untuk dibuang, karena tidak menghasilkan apa-apa bagi kehidupan.

Hidup itu suatu pilihan. Orang harus memilih dalam hidup ini, agar menemukan hidup yang lebih baik. Kisah dua bibit kelapa tadi juga demikian. Mereka memilih cara hidup mereka masing-masing. Mau berbuah bagi kehidupan atau tidak, mereka mesti memilih.

Pilihan yang tepat akan menentukan perjalanan hidup. Pilihan yang tepat akan membantu orang untuk menghayati hidup secara lebih baik. Orang yang memilih menjadi teroris, misalnya, akan menghadapi berbagai resiko yang mengerikan. Mengapa? Karena orang seperti ini akan dikejar-kejar oleh pihak berwajib. Tentu saja ini suatu pilihan yang egois yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Ini suatu pilihan yang merugikan kehidupan banyak orang.

Semestinya manusia memilih untuk menjadi orang baik. Orang yang memberi kesempatan bagi dirinya untuk bertumbuh dan berkembang, sehingga berguna bagi kesejahteraan bersama. Hidup manusia ini mesti berbuah bagi banyak orang. Tidak hanya untuk diri sendiri. Mengapa? Karena manusia tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri. Manusia juga hidup bagi sesama yang ada di sekitarnya.

Karena itu, orang beriman itu mesti berpikir tentang menghasilkan buah-buah yang baik bagi kehidupan bersama. Inilah panggilan hidup setiap orang beriman. Orang beriman dipanggil untuk memperjuangkan kehidupan. Dengan demikian, kehidupan manusia semakin baik. Manusia semakin menemukan makna dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.co


501

17 September 2010

Tuhan Peduli terhadap Hidup Manusia

Suatu hari seorang ibu muda kalut. Pasalnya, mamanya mengalami kecelakaan terserempet mobil truk. Hasil rontgen adalah 9 tulang rusuknya patah. Ia tambah kuatir ketika sang mama pun sudah mengetahui keadaan dirinya. Patah tulang di usia tua akan sulit sembuh. Pengobatan pasti akan berjalan lama.

Mendengar peristiwa itu, seorang temannya memberi nasihat, “Sahabat, percayakan mama Anda akan kedahsyatan dokter segala dokter yang Mahaagung. Dia akan memulihkan sakit mamamu.”

Ibu muda itu pun menjawab, “Ya. Amin. Saya percaya ada mukjizat yang Tuhan berikan saat kita bersatu dalam doa dan berserah agar Tuhan bekerja dalam diri kita”.

Apa yang terjadi seminggu kemudian? Mama dari ibu muda itu berangsur-angsur sembuh. Tulang-tulangnya menyambung kembali. Padahal ia sudah tua. Ibu tua itu menemukan kembali kasih Tuhan atas dirinya. Ia tidak perlu kuatir akan kondisinya. Ternyata Tuhan begitu baik. Ia tidak menghancurkan harapannya untuk hidup. Karena itu, sang ibu muda pun bersyukur atas penyelenggaraan Tuhan.

Sahabat, tragedi kadang-kadang menghantam diri kita. Kita tidak percaya bahwa kita akan mengalami suatu kecelakaan. Kita sudah hati-hati di jalan, tetapi kecelakaan bisa saja terjadi atas diri kita. Apa yang mesti kita lakukan? Yang mesti kita lakukan adalah kita pasrah. Kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada penyelenggaraan Tuhan. Kita mesti yakin bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki kebinasaan terhadap hidup kita.

Mengapa? Karena hidup ini tidak sia-sia. Hidup ini memiliki makna yang begitu indah dan besar. Karena itu, kita mesti senantiasa menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Ketika kita mengalami jalan buntu dalam kehidupan ini, kita mesti mau berserah diri kepada Tuhan. Kita mesti yakin bahwa hanya Tuhan yang mampu memberi petunjuk bagi hidup kita.

Namun semua itu tidak instan alias sekali jadi. Sikap penyerahan diri kepada Tuhan itu terjadi dalam proses kehidupan kita. Kadang-kadang kita kurang setia pada iman kita kepada Tuhan. Kita pergi kepada dukun. Kita lebih percaya kepada manusia daripada kuasa dan kekuatan Tuhan. Tetapi tidak apa-apa. Yang penting kita mesti kembali kepada Tuhan. Dia sedang menunggu kita untuk menyerahkan hidup kita seluruhnya kepadaNya.

Karena itu, jangan takut datang kepadaNya. Jangan takut menyerahkan hidup Anda kepadaNya. Hanya dengan cara ini, Anda akan menemukan sukacita dan damai dalam hidup Anda. Mari kita berusaha untuk setia kepada Tuhan dalam untung dan malang hidup kita. Kita biarkan Tuhan bekerja dalam diri kita. Kita biarkan Tuhan terlibat dalam suka dan suka hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

501

16 September 2010

Meraih Asa dalam Cinta






Di ruang ICU, seorang gadis masih berbaring setelah 5 hari lamanya secara intensif dimonitor oleh medis dan paramedis yang merawatnya. Ia menderita fabry deases, penyakit yang menimbulkan penimbunan glikolipid (metabolisme lemak). Gejala yang timbul adalah gangguan penglihatan, nyeri pada beberapa bagian tubuh dan lainnya.

Ia hanya bisa melihat ibunya yang senantiasa menjaganya dari luar ruangan. Di mata ibunya, gadis itu memiliki tingkat iman yang sempurna. Dalam sakitnya, ia masih menunjukkan sukacita, senang dan gembira. Rasa optimisme yang tinggi untuk bisa sekolah bersama teman-temannya di kelas lima SD membuatnya memiliki harapan yang positif. Juga saat ibu gurunya menjenguknya. Tampak matanya yang bulat memancarkan sikap yang mengalahkan rasa kuatirnya.

Suatu kali dokter yang merawatnya secara terbuka mengatakan bahwa gadis itu sungguh pasien istimewa. Dokter itu selalu melihat inspirasi baru darinya. “Gadis ini sungguh memiliki perpaduan sikap tegar dan tak mudah menyerah serta penuh harap dalam cinta,” kata dokter itu.

Sang ibu yang mendengar penuturan tulus dokter itu menitikan air mata tanda bangga terhadap anaknya. Betapa di usianya yang ke-10, gadis itu dapat mewartakan kasih Tuhan melalui sikap kanak-kanaknya dalam selimut rahmat. Ia sama sekali tidak pernah mengeluh, apalagi kecewa akan kondisi tubuhnya yang mungkin akan mengalami gagal ginjal, jantung dan paru-parunya yang digenangi air.

Gadis itu pernah berkata, “Seandainya saya sehat, saya ingin menjadi seperti Ibu Theresa”.

Bertahan dalam penderitaan itu tidak mudah. Apalagi yang mengalami penderitaan adalah seorang anak berusia sepuluh tahun. Namun yang ditunjukkan oleh gadis dalam kisah tadi sungguh luar biasa. Dalam kondisi sakitnya yang sedemikian parah, ia masih mencurahkan cintanya kepada sesamanya. Ia masih menghibur mereka yang ada di sekelilingnya dengan harapan yang besar.

Orang yang tak pernah kehilangan harapan untuk hidup akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Itulah perjuangan sejati seorang beriman yang menyerahkan hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Biasanya orang seperti ini memiliki kasih yang kuat terhadap sesamanya. Ia tidak ingin melihat sesamanya sedih dan menderita. Yang ia inginkan adalah kebahagiaan sesamanya. Inilah cinta yang tulus. Cinta yang sejati yang terpatri dalam diri orang-orang yang mampu bertahan dalam penderitaannya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa memiliki pengharapan yang besar di kala kita mengalami penderitaan dalam hidup. Yang mesti kita pegang teguh adalah Tuhan yang senantiasa menyertai kita dalam penderitaan ini. Tuhan yang membantu setiap orang beriman memiliki keteguhan dalam perjuangan untuk meraih kebahagiaan. Tuhan memberkati. **





Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

499

15 September 2010

Waktu untuk Refleksi




Ada seorang manager perusahaan yang akhir-akhir ini jarang menampakkan dirinya di perusahaannya. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Sudah puluhan tahun ia mengendalikan perusahaan itu. Ia dianggap sukses oleh para karyawannya. Namun akhir-akhir ini ia kurang bergairah dalam bekerja. Ia sendiri tidak tahu apa yang menjadi permasalahan utamanya.

Karena itu, ia mulai tidak masuk kerja dengan berbagai alasan. Ia tinggal di rumah sepanjang hari. Istrinya bingung melihat situasi hidup suaminya yang ia kenal sebagai seorang pekerja keras. Suatu hari istrinya bertanya kepada suaminya, “Apa sebenarnya yang terjadi, Pak?”

Sang suami terdiam mendengar pertanyaan istrinya. Matanya tertuju pada buku yang sedang dibacanya. Ia tidak mau membicarakan suasana hatinya kepada istrinya. Hal itu sangat terbalik dengan apa yang terjadi selama ini. Biasanya ia membagikan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada istri dan anak-anaknya. Namun sekarang, ia hanya diam membisu tentang pekerjaannya.

Istrinya tidak mau menyerah terhadap sikap diam suaminya. Ia tetap mengajukan pertanyaan kepadanya, “Pak, katakan apa yang sedang bapak hadapi? Apakah bapak dipecat?”

Akhirnya suaminya mau buka suara. Ia berkata, “Sebenarnya tidak ada apa-apa yang terjadi dengan saya. Saya hanya mengalami kejenuhan dalam bekerja. Saya bosan sekarang ini. Saya tidak ingin melihat perusahaan dan para pegawainya. Saya ingin ambil waktu untuk merefleksikan hidup saya. Boleh, kan?”

Ada kalanya orang mengalami kejenuhan dalam hidupnya. Pekerjaan yang rutin dapat membuat orang kurang bergairah dalam pekerjaannya itu. Orang menjadi bosan. Karena itu, orang butuh waktu untuk menumbuhkan semangat baru dalam dirinya. Dengan demikian, ia dapat memiliki gairah baru dalam menuntaskan pekerjaan-pekerjaannya.

Kisah tadi mau mengajak kita untuk merefleksikan kembali segala sesuatu yang telah kita lakukan selama hidup ini. Apa sesungguhnya makna pekerjaan-pekerjaan itu bagi hidup kita? Mengambil waktu untuk berefleksi akan membantu orang menemukan makna yang sesungguhnya dari suatu pekerjaan.

Orang bekerja bukan hanya untuk pekerjaan itu sendiri. Atau orang bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah. Orang bekerja sebagai penghayatan iman akan Tuhan. Orang bekerja itu sebagai ungkapan kasihnya terhadap Tuhan dan sesama. Orang yang bekerja itu menyatakan syukurnya atas kasih karunia yang telah diterima dalam hidupnya.

Karena itu, mengambil waktu khusus untuk berefleksi berarti kita mengambil kesempatan untuk memperdalam syukur kita kepada Tuhan. Kita mau semakin mendalami kasih kita kepada sesama yang setiap hari kita jumpai. Dengan demikian, pekerjaan kita itu menghasilkan buah yang berlimpah-limpah, jasmani dan rohani. Mari kita mengambil waktu untuk refleksikan pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

498

14 September 2010

Memupuk Rasa Terima Kasih



Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang, kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada di sampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Gadis itu berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia. Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya, sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya.

Kekasihnya bertanya, "Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?" Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan sangat sedih. Kemudian ia menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, "Sayangku, tolong jaga baik-baik bola mataku."

Kebaikan dibalas dengan kejahatan, bukan suatu rahasia lagi dalam hidup ini. Mengapa orang tega membalas kebaikan dengan kejahatan? Karena orang terlalu dikuasai oleh egoismenya. Orang hidup hanya menurut obsesinya sendiri. Orang hidup hanya untuk dirinya sendiri. Orang tidak hidup bagi sesamanya. Akibatnya, orang berani melangkahi hal-hal yang baik hanya untuk memuaskan keinginan dirinya sendiri.

Kisah tadi menunjukkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya. Lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih, karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Kekasih itu telah merelakan matanya yang begitu berharga untuk gadis itu. Tetapi gadis itu lebih dikuasai oleh keinginannya sendiri. Ia lebih mengikuti egoismenya. Ia memuaskan egoismenya itu. Akibatnya, korban yang begitu besar yang telah dilakukan oleh pemuda itu menjadi sesuatu yang tidak bermakna.

Semestinya ia berterima kasih atas korban yang telah dibuat oleh kekasihnya. Tidak gampang menemukan orang yang mau merelakan hal yang sangat berharga dalam dirinya untuk orang lain. Bahkan mengorbankan hal yang sangat vital bagi hidup orang lain itu sesuatu yang sangat sulit. Namun pemuda itu telah melakukannya. Yang dia harapkan sebenarnya tidak sangat besar. Yang ia harapkan adalah ucapan terima kasih atas korbannya itu. Suatu sikap penghargaan terhadap pengorbanan itu.

Sebagai orang beriman, kita ingin memupuk rasa terima kasih terhadap sesama yang telah berkorban bagi hidup kita. Mengucapkan rasa terima kasih kita itu menunjukkan penghargaan kita yang besar terhadap sesama. Mari kita terus-menerus memberi penghargaan terhadap sesama yang telah melakukan hal-hal yang cermelang bagi hidup kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

497

13 September 2010

Berani Belajar dari Kesalahan



Columbus menjelajahi dunia. Namun tanah yang semestinya dia tuju adalah India. Setelah berlayar begitu lama ternyata ia melakukan kesalahan besar. Ia mendarat di benua Amerika, sebuah benua baru. Padahal yang ia cari adalah daerah penghasil rempah-rempah. Merasa bahwa itulah tujuan perjalanannya, ia memberi nama suku asli Amerika dengan nama Indian.

Namun kesalahan yang dilakukan oleh Columbus itu beratus-ratus tahun kemudian menjadi suatu berkah. Banyak orang dari Eropa berimigrasi ke Amerika untuk mencari penghidupan. Banyak orang menemukan tempat baru yang begitu berharga bagi masa depan mereka. Kesalahan itu membawa rahmat bagi banyak orang. Kini banyak orang berbondong-bondong ke Amerika untuk mengadu kehidupan di sana. Banyak orang kemudian meraih kesuksesan dengan bekerja di sana.

Tiada gading yang tak retak. Begitulah pepatah yang menggambarkan ketidaksempurnaan manusia. Kalau Anda merasa tidak pernah melakukan kesalahan, Anda sebaiknya melihat kembali langkah Anda. hidup Kesalahan itu memang tidak mengenakkan. Banyak orang ingin menghindari kesalahan. Banyak orang ingin melakukan sesuatu yang sempurna dalam hidup ini.

Namun orang yang optimis adalah orang yang mau belajar dari kesalahan. Orang seperti ini tidak mudah terpuruk ke dalam penyesalan demi penyesalan. Bahkan orang seperti ini akan mudah untuk melupakan kesalahan-kesalahan kecil yang diperbuatnya. Ia mau bangkit dari kesalahannya. Ia ingin maju. Ia ingin meraih sukses dalam hidupnya.

Orang yang ingin sukses dalam hidup ini menggunakan kesalahan-kesalahan yang dibuatnya untuk memimpin dirinya dalam mengambil tindakan yang lebih baik. Karena itu, kesalahan menjadi kawan baik yang secara samar mengatakan apa yang harus dikerjakan dengan lebih baik lagi.

Karenanya, orang yang optimis akan melihat kesalahan apa adanya. Ia akan menjauhkan setiap prasangka, kesedihan ketika kesalahan menimpanya. Di balik kesalahan itu tersimpan kesempatan yang tersembunyi.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar kita memiliki semangat untuk belajar dari kesalahan-kesalahan yang kita buat. Karena itu, kita tidak perlu mengutuk diri kita ketika kita melakukan kesalahan. Kita gunakan hal itu sebagai pelajaran yang berharga bagi kita dalam mengambil tindakan-tindakan yang baik untuk kemajuan diri kita.

Untuk itu, dibutuhkan sikap optimis dalam hidup ini. Kita tidak perlu tenggelam dalam kesalahan yang kita buat. Justru kita mesti bangkit dari kesalahan. Ingat, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kita semua adalah makhluk yang terbatas. Melalui keterbatasan itu kita ingin memajukan hidup kita. Kita ingin agar hidup ini tidak hanya berakhir dengan kesalahan. Kita ingin agar hidup kita memiliki makna yang mendalam bagi diri dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

496

12 September 2010

Melakukan Sesuatu dengan Penuh Perhitungan



Februari 1657 sebuah upacara kecil diadakan di kota Tokyo, Jepang, untuk menolak malapetaka. Dalam upacara kecil itu, seorang pendeta berusaha untuk membakar selembar kimono yang dianggap membawa sial. Pasalnya, kimono tersebut pernah dimiliki oleh tiga gadis yang meninggal dunia sebelum memakainya. Karena itu, kimono tersebut dianggap memiliki kekuatan gaib yang mematikan.

Saat pendeta tersebut membakar kimono gaib itu, tiba-tiba angin berhembus sangat kencang. Api mulai menjalar ke mana-mana. Pertama-tama api tersebut membakar kuil tempat upacara tersebut.

Tidak berhenti di situ. Api tersebut menyebar membakar hampir tiga perempat kota Tokyo. Tercatat 300 kuil terbakar, 500 bangunan, 9000 toko dan 61 jempatan hangus dilalap si jago merah. Korban yang jatuh dalam kebakaran tersebut berjumlah 100 ribu jiwa. Luar biasa. Yang disalahkan adalah kimono yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Padahal sesungguhnya manusia kehilangan kebijaksanaannya. Manusia ceroboh dalam hidupnya.

Hal yang kecil bisa menjadi sesuatu yang menghancurkan kehidupan manusia. Sering orang kurang perhitungan. Asal mau melakukan sesuatu, orang melakukannya dengan gegabah. Orang tidak hati-hati dalam melakukan suatu perbuatan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa tidak selamanya maksud baik itu akan menghasilkan sesuatu yang baik. Orang mesti membuat banyak perhitungan, ketika ingin melakukan sesuatu. Orang mesti menemukan cara-cara yang efektif, ketika memulai suatu pekerjaan. Tidak asal tubruk sana tubruk sini.

Orang beriman itu orang yang menggunakan akal sehatnya dalam membangun hidupnya. Orang tidak hanya menggunakan perasaan-perasaannya. Orang tidak hanya menggunakan prasangka-prasangka dalam menentukan tujuan hidup dan apa yang mau dilakukannya. Kalau orang dapat mengerjakan hal-hal yang baik dengan perhitungan yang cermat, orang akan menemukan kesuksesan dalam hidupnya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk senantiasa melakukan hal-hal yang besar dengan penuh perhitungan. Mengapa? Hanya dengan cara seperti itu, orang akan berhasil dalam hidupnya. Orang tidak akan tertimpa oleh suatu kemalangan dalam hidupnya. Untuk itu, kita mesti membuang setiap tahayul yang mengganggu kehidupan kita. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

495

11 September 2010

Bertahan dalam Penempaan Diri




Suatu hari seorang pengrajin batu berjalan-jalan di atas sebuah gunung yang sangat gersang. Tiba-tiba ia melihat seonggok batu berwarna coklat kusam yang telah bertahun-tahun diselimuti lumut. Tampak dari luar, batu itu lapuk. Pengrajin itu penasaran. Lantas ia mengayunkan palu godamnya. Ia memukul-mukul batu itu. Ternyata batu itu berwarna asli putih.

Pengarjin itu mengambil pecahan batu sebesar kepalanya. Lantas ia membawa pulang ke rumah. Begitu tiba, ia memotong-motong batu itu menggunakan gurinda. Ia mulai memoles batu itu. Ia menghaluskannya. Ia berusaha memperindah batu tersebut. Ia membentuk sebuah penghias cincin yang indah. Sungguh, ia merasa kagum akan kehadiran batu di tangannya itu. Ia terus memolesnya.

Ternyata batu yang tampak kusam itu kini memiliki harga yang tinggi. Banyak orang ingin memilikinya, ketika pengrajin itu memajang batu tersebut di ruang depan rumahnya. Setelah beberapa waktu lamanya, batu yang dulu tampak tak berharga itu dibeli seorang kaya dengan harga yang tinggi.

Sesuatu yang memiliki nilai yang tinggi itu mesti melalui proses. Tidak bisa begitu saja menjadi berharga. Harus melalui suatu proses penempaan yang membuat dirinya sakit dan menderita. Perhiasan yang bernilai mahal itu ternyata mesti melalui suatu proses yang berliku-liku. Mesti melalui berbagai percobaan.

Orang yang ingin menjadi besar pun demikian. Orang mesti berani melalui proses yang melelahkan dan kadang-kadang membuat sakit. Kadang orang mesti menghadapi berbagai cobaan. Orang yang bertahan dalam proses penempaan itu akan meraih sukses. Orang yang bertahan dalam godaan akan dapat menemukan kebahagiaan dalam hidupnya. Cobaan yang dihadapi menjadi bagian dari proses penempaan itu. Cobaan itu menjadi sarana untuk membentuk kepribadian seseorang.

Namun banyak orang ogah melalui proses penempaan itu. Banyak orang tidak rela mengalami proses itu. Mengapa? Karena orang enggan untuk maju. Orang terbuai oleh hal-hal yang instan. Sesuatu yang cepat jadi. Orang tidak butuh suatu proses yang melewati cobaan-cobaan.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa perjalanan hidup menuju kesuksesan itu mesti melalui proses. Untuk menjadi batu yang indah permai, proses penempaan mesti dijalani. Karena itu, orang beriman mesti selalu menyadari diri bahwa proses penempaan iman itu juga mesti dilalui. Orang yang beriman itu orang yang mesti kuat dalam hidupnya. Untuk itu, orang mesti berani mengalami proses penempaan hidup. Orang mesti berani untuk menderita. Mari kita bertahan dalam proses penempaan diri kita, agar kita menjadi orang-orang yang berguna bagi Tuhan dan sesama. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

494

10 September 2010

Mengandalkan Tuhan dalam Hidup




Suatu hari, seorang pedagang kain melintasi sebuah perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya, melongok keluar jendela dan melihat pedagang itu membawa bakul berisi kain-kain yang indah. Wanita tersebut terpikat dan menawar beberapa lembar kain dengan harga dua juta rupiah.

Ketika pedagang itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi tiga juta rupiah. Tanpa pikir panjang, pedagang itu pun setuju. Ia menyerahkan beberapa kain lembar itu. Rupanya itulah kain-kain terakhir yang tersisa hari itu. Hatinya terasa riang sekali. Ia boleh pulang ke rumah dengan hati yang lega. Istri dan anak-anaknya akan menyambutnya dengan uang yang banyak.

Namun sial baginya. Tidak begitu lama berjalan, seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati. Perampok itu merampas uangnya dan kabur. Ia tak bisa berkutik. Ia menyerahkan semua uang hasil jualan kain hari itu. Ia melanjutkan perjalanan dengan penuh kekesalan.

Setiba di rumah, istri pedagang kain itu menerima kedatangan suaminya dengan penuh prihatin. Ia tidak habis pikir, mengapa sang suami bisa kehilangan uang yang banyak. Namun ia menghibur suaminya, ”Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan peristiwa itu. Yang penting bapak selamat. Uang itu hanyalah barang duniawi yang dapat binasa. Jadi kesedihan seperti itu jangan dibuat lama-lama. Kita mesti sadar bahwa kita tak pernah memiliki apa pun di bumi. Kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan, jika kita kehilangan sesuatu.”

Banyak orang sedih ketika kehilangan harta. Mengapa? Karena harta itu sangat berharga. Bahkan ada orang yang rela mengorbankan kehormatan dirinya hanya untuk mengumpulkan hartanya. Begitu banyak orang melakukan hal-hal yang tidak senonoh hanya untuk mengumpulkan harta duniawi.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa harta bukanlah segala-galanya dalam hidup ini. Harta dapat hilang dalam waktu sekejap. Harta hanyalah sesuatu yang sementara yang membantu manusia untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Harta hanyalah sarana bagi hidup manusia, bukan tujuan.

Karena itu, dalam salah satu pengajaranNya, Yesus berkata, ”Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”

Artinya, Yesus ingin agar manusia sungguh-sungguh menyadari pentingnya kehidupan ini. Kehidupan ini tidak hanya sekedar harta yang dapat binasa. Kehidupan ini lebih berharga daripada harta. Mari kita berusaha untuk menempatkan harta sebagai sarana bagi perjalanan hidup kita. Dengan demikian, kita dapat menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh menggantungkan hidup pada kuasa Tuhan. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

Juga bisa dibaca di: http://inspirasi-renunganpagi.blogspot.com

493