Pages

10 September 2011

Ketika Orang Berani Menghadapi Konsekuensi



Siapa bilang hidup itu tidak memiliki konsekuensi? Kalau orang sungguh-sungguh memaknai kehidupan ini, orang akan mengatakan bahwa hidup ini penuh dengan konsekuensi. Orang yang mau maju dalam usaha, misalnya, harus berani berkorban. Ia mesti bangun pagi-pagi untuk menyiapkan segala sesuatu, agar usahanya hari itu berhasil dengan baik. Atau ia mesti pergi tidur larut malam, agar usahanya tetap bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Orang juga mesti berani mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Orang tidak bisa melarikan dari dari tanggung jawab atas suatu perbuatannya. Abdee Negara, gitaris Slank, mengalami hal ini. Menjadi seorang musisi ternama membawa konsekuensi yang besar dalam kehidupannya.

Menurut Abdee, demi penampilan bermusik terbaik, ia terus mempelajari keterampilan dan pengetahuan tenang musik. Bahkan hingga sekarang, setelah ia menjadi seorang gitaris yang populer. Sebenarnya rasa bermusik itu sudah ia latih sejak masih SMA. Selepas SMA, keseriusan bermusik memuncak. Banyak waktu dia habiskan untuk berlatih di studio musik.

Ia berkata, ”Saya belajar gitar otodidak. Tapi karena tak ingin sekadar bisa main musik, pengetahuan wajib saya cari. Untuk itulah saya kursus musik, agar praktik dan teori bisa dikuasai.”

Menurutnya, bersama Slank, dia mendapat popularitas. Namun, popularitas menuntut konsekuensi berkurangnya waktu bersama keluarga. Abdee merindukan waktu jeda untuk berkumpul bersama keluarga. Ia berkata, ”Jarang saya bisa kumpul bareng keluarga.”

Sahabat, tentu saja Anda semua akan setuju, kalau setiap dari kita mesti mengorbankan diri kita untuk meraih kesuksesan dalam hidup. Ada konsekuensi yang mesti kita hadapi, agar apa yang kita usahakan dapat berhasil dengan baik.

Tidak ada orang yang sukses dalam hidupnya tanpa kerja keras. Ada banyak waktu yang dikorbankan. Tak terhitung banyaknya tetes-tetes keringat yang bercucuran. Bahkan mungkin ada begitu banyak tetes air mata yang mesti dicucurkan demi kehidupan yang lebih baik.

Untuk itu, orang mesti memiliki iman yang kuat dan teguh. Artinya, dengan iman itu orang terus-menerus menumbuhkan tekad untuk dapat maju dalam kehidupannya. Iman itu mendorong seseorang untuk tidak putus asa dalam berusaha. Iman yang kuat dan teguh itu membantu seseorang untuk tetap setia pada pilihan hidupnya. Orang tidak mudah digoyahkan oleh berbagai tantangan dan rintangan.

Karena itu, orang beriman mesti senantiasa memiliki fokus dalam hidupnya. Abdee Negara, sang gitaris populer itu, memusatkan perhatiannya sungguh-sungguh pada apa yang dikerjakannya. Nah, sering banyak orang mengalami kesulitan dalam hal ini. Untuk itu, kita belajar dari gitaris sukses ini, agar kita pun dapat berhasil dalam hidup ini.

Mari kita memusatkan hidup kita pada usaha-usaha kita. Dengan demikian, kita dapat menemukan hidup yang bahagia. Hidup ini menjadi sesuatu yang indah bagi kita. Hidup ini bukan menjadi suatu beban. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


777

08 September 2011

Perlu Usaha Terus-menerus Membangun Karakter



Selama di Palembang, sudah dua kali mobil saya ditabrak oleh pengendara motor dari belakang. Dua-duanya terjadi di jalan raya yang ramai. Kali yang pertama terjadi di atas Jembatan Ampera. Dalam kemacetan sore hari, tiba-tiba sebuah motor menabrak mobil saya. Praaakkkkk.

Yang kena adalah ban serep yang tergantung di belakang mobil saya. Tidak terjadi sesuatu yang merugikan. Suara memekik terdengar dari pengendara motor yang seorang perempuan. Tidak ada urusan apa-apa. Saya melanjutkan perjalanan ke arah Plaju. Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan perempuan itu dan motornya. Kan dia yang menabrak mobil saya. Jadi apa yang terjadi atas dirinya, biaralah dia tanggung sendiri.

Peristiwa kedua terjadi di Jalan Kolonel Atmo. Kali ini tiga orang mengendarai satu motor. Yang di tengah tidak pakai helem. Mobil saya yang sedang berhenti karena lampu merah langsung saja ditabraknya. Lagi-lagi kali ini pun mengenai ban serep yang tergantung di belakang mobil. Prakkkk...

Tidak terjadi kerusakan pada mobil saya. Motor itu kemudian menghilang pergi setelah menyenggol dua motor lain yang sedang berhenti. Terdengar suara seorang perempuan yang memekik. Ia hampir terjatuh, karena tersenggol. Seorang lelaki yang juga disenggol oleh pengendara motor itu kemudian mengejar ketiga lelaki itu. Tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Yang pasti adalah saya juga segera pergi setelah lampu hijau menyala.

Sahabat, tanggung jawab terhadap suatu perbuatan ternyata masih sangat tipis dalam diri banyak orang. Orang mencari pembenaran diri, meskipun dirinya bersalah atas perbuatan itu. Orang mudah menghindari suatu kesalahan yang telah diperbuatnya. Orang mudah mencari kambing hitam. “Bukan saya, tetapi orang lain yang melakukannya.” Begitu kata banyak orang untuk melarikan diri dari tanggung jawab.

Tentu saja sikap seperti ini bukanlah sikap orang-orang yang berpribadi dewasa. Ini sikap kekanak-kanakan dari orang yang hanya mau mencari enaknya sendiri. Orang yang tidak mau menanggung resiko atas perbuatan yang dilakukannya. Kita prihatin terhadap sikap hidup seperti ini.

Karena itu, dibutuhkan pembangunan karakter yang terus-menerus bagi anak-anak bangsa ini. Karakter yang baik yang dimiliki oleh anak-anak bangsa ini akan membantu pembangunan hidup berbangsa dan bernegara. Yang sering diprihatinkan adalah pembangunan di segala bidang digembar-gemborkan. Tetapi pembangunan karakter diri sering dilupakan. Akibatnya, kita memiliki manusia yang memiliki kepribadian yang tidak matang. Orang tidak berani bertanggung jawab, ketika menghadapi suatu persoalan dalam hidupnya.

Mari kita berusaha membangun karakter hidup kita menjadi lebih baik. Dengan karakter yang baik itu, kita dapat menemukan hidup yang lebih baik. Hidup ini menjadi suatu kesempatan untuk membahagiakan diri dan sesama. Damai dapat kita ciptakan bersama ketika kita memiliki karakter yang baik. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


776

06 September 2011

Mengosongkan Diri bagi Kehendak Tuhan

Mengosongkan Diri bagi Kehendak Tuhan


Minat dan kecintaan seseorang pada bidang tertentu membantu orang itu untuk bertumbuh dalam kemampuan yang dimiliki. Orang merasa didorong oleh minat dan kecintaan itu. Orang merasakan ada motivasi yang lebih untuk mengembangkan bidang yang diminati dan dicintai itu. Albert Einstein memberikan perhatian penuh pada ilmu Fisika yang diminati dan dicintainya. Seluruh pikiran dan hidupnya dicurahkan untuk ilmu tersebut. Hasilnya adalah anak dari pasangan Hermann Einstein dan Pauline Koch ini diangkat menjadi profesor di Universitas Zurich. Ia pun mendapat hadiah Nobel di bidang ilmu Fisika pada tahun 1921.

Namun meski Albert Einstein orang yang sangat jenius untuk ukuran manusia, ia tetap rendah hati. Ia tetap mengakui bahwa semua kemampuan yang ia miliki itu berasal dari Tuhan. Ia hanyalah alat yang dipakai oleh Tuhan untuk menemukan ilmu Fisika yang ajaib itu. Ia berkata, “Tuhan tidak bermain dadu dengan alam ciptaan-Nya. Segala keajaiban ilmu pengetahuan membuktikan kodrat alam ini.” Ungkapannya ini merupakan kesimpulan dari semua penelitian yang dilakukannya dari semasa ia kecil. Baginya, hal itu semakin membuktikan kejeniusan dan kemahakuasaan Allah. Otak manusia tidak
sanggup menyamai-Nya.

Sahabat, ketika orang sudah sukses, banyak orang cenderung untuk mengandalkan kemampuan dirinya sendiri. Orang lupa bahwa apa yang dicapainya itu sebenarnya berasal dari kekuatan yang Mahakuasa. Orang menjadi lupa diri. Ini namanya kesombongan. Orang semestinya sadar bahwa apa yang diperoleh itu berkat kebaikan Tuhan. Belas kasih Tuhan senantiasa memberikan kepada manusia apa yang menjadi kebutuhan hidup manusia itu.

Kisah Albert Einstein menunjukkan kepada kita bahwa mengandalkan kekuatan diri sendiri hanyalah suatu kesia-siaan. Manusia mesti menyerahkan seluruh hidupnya pada Tuhan. Sikap penyerahan diri itu menunjukkan bahwa manusia memiliki kerendahan hati. Manusia tidak boleh gegabah dalam hidupnya. Manusia mesti senantiasa mengakui ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian, manusia menerima kekuatan dari Tuhan.

Untuk itu, perlu suatu usaha pengosongan diri. Artinya, orang berani mengosongkan pikiran dan keinginan-keinginannya. Lantas orang membiarkan keinginan Tuhan masuk dan tinggal dalam dirinya. Orang tidak mengendalikan pikiran dan keinginan-keinginannya sendiri. Tetapi orang merelakan dirinya dituntun oleh Tuhan yang mahapengasih dan penyayang.

Yakinlah, ketika kita membiarkan diri dituntun oleh Tuhan, kita akan mengalami damai dalam hidup ini. Kita akan mengalami Tuhan yang begitu dekat dengan kita. Tuhan yang selalu setia menemani perjalanan hidup kita. Mari kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ

775

05 September 2011

Memperjuangkan Makna Kehidupan



Bayi berusia lima bulan bernama Ferry itu mesti terkapar di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, hingga pertengahan Juni 2010 lalu. Kedua tangan dan kakinya patah. Ia bukan jatuh dari ketinggian. Ia mengalami penderitaan itu bukan karena kenakalannya sebagai seorang anak. Namun ia mengalami penderitaan yang parah itu, karena disiksa oleh ibu kandungnya sendiri. Usai menganiaya sang anak, sang ibu kandung ditangkap polisi. Sedangkan sang ayah belum ditemukan. Menurut keterangan, sudah lama sang ayah meninggalkan Ferry dan kakaknya serta sang ibu.

Pertanyaannya, mengapa seorang ibu tega menganiaya anak kandungnya sendiri? Mengapa tangan yang biasa digunakan untuk membelai sang buah hati itu mesti digunakan untuk membanting sang anak? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini tentu bermacam-macam. Namun satu hal yang pasti adalah penyiksaan itu sebagai ungkapan penolakan atas kehadiran sang anak.

Bisa saja kehadiran sang anak dianggap sebagai pengganggu. Ia bisa dianggap sebagai beban dalam kehidupan. Karena itu, lebih baik dienyahkan melalui penyiksaan itu. Dalam kondisi kalangkabut, orang bisa melakukan apa saja terhadap kehidupan. Bahkan orang nekat mengakhiri kehidupan sesamanya.

Menurut pihak Komnas Perlindungan Anak, dampak yang akan diderita oleh Ferry tidak hanya dari segi fisik. Namun dampak yang lebih besar adalah dampak psikologis. Ferry yang masih balita itu hanya bisa menahan rasa sakit tanpa bisa melawan.

Sahabat, tentu saja banyak orang akan merasa marah mendengar dan menyaksikan peristiwa kejam dari seorang ibu kandung ini. Tidak sepantasnya seorang ibu yang telah melahirkan anaknya kemudian menyiksannya habis-habisan. Hal ini bisa terjadi oleh suatu kebiadaban. Orang yang biadab itu orang yang tidak mengindahkan norma-norma kehidupan. Orang yang tidak ambil pusing terhadap kehidupan sesamanya.

Karena itu, kisah tragis Ferry tadi mesti menjadi peringatan bagi manusia. Kehidupan harus terus-menerus dipertahankan dan diperjuangkan. Apalagi oleh orang-orang yang terdekat seperti sang ibu dan anak itu. Mengapa kehidupan mesti dipertahankan dan diperjuangkan? Karena kehidupan itu berharga. Kehidupan itu memiliki nilai-nilai luhur yang mesti selalu dijunjung tinggi. Kehidupan itu hak setiap manusia. Setiap orang yang dilahirkan memiliki hak atas kehidupan yang sama dengan yang lain.

Kisah penyiksaan terhadap bayi berusia lima bulan tadi menunjukkan betapa kehidupan dianggap sepele. Kehidupan seolah tidak memiliki nilai-nilai luhur sedikit pun. Kehidupan seolah tidak memiliki makna. Karena itu, orang boleh menghancurkannya. Tentu saja sikap seperti ini sangat disayangkan. Orang beriman mesti selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan.

Karena itu, orang mesti memiliki kesadaran bahwa Tuhan yang telah memberikan kehidupan kepada manusia ingin agar kehidupan ini diperjuangkan. Orang yang menganggap remeh terhadap kehidupan dan kemudian menyiksanya itu orang yang tidak beriman. Imannya hanya sampai di bibir saja, tidak sampai merasuk ke dalam seluruh hidupnya. Mari kita terus-menerus memperjuangkan kehidupan. Dengan demikian, kita dapat menjadi manusia yang sungguh-sungguh beriman. Hidup ini akan menjadi semakin indah. Tuhan memberkati. **

Frans de Sales, SCJ



774

04 September 2011

Menghargai Usaha Sesama




Piala Dunia 2010 sudah digelar di Afrika Selatan. Ratusan pemain dari 32 negara membuktikan aksi mereka dalam mengolah bola. Spanyol muncul sebagai kampiun. Sementara itu, banyak pula dari pemain-pemain berbakat ingin memperkuat negaranya. Mereka berkompetisi. Mereka berusaha untuk menjadi salah satu anggota dari tim mereka.

Tidak demikian dengan gelandang Inggris, Paul Scholes. Padahal ia sempat ditawari oleh pelatih Fabio Capello untuk masuk ke skuad untuk Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Ia menolak karena menghormati jasa rekan-rekannya yang telah berhasil membawa Inggris ke putaran final Piala Dunia.

Sejak Euro 2004, Scholes memutuskan mundur dari skuad tim Inggris yang berjuluk The Three Lions ini. Alasannya, ia lebih memilih berkonsenterasi bersama klubnya Manchester United. Komitmen Scholes itu pun tak sia-sia. Ia berhasil membawa "Setan Merah" meraih tiga gelar Premier League, juara Liga Champions dan juara Piala Dunia Antarklub.

Melihat performa yang cukup konsisten dan pengalaman yang dimilikinya, Capello berniat membawa Scholes ke Afrika Selatan. Selain Scholes, Capello juga memanggil bek tengah Liverpool, Jamie Carragher. Sementara Caragher mengaminkan keinganan Capello, Scholes malah menolak.

Scholes menolak karena tak ingin "mencuri" posisi rekannya yang telah berhasil membawa Inggris ke putaran final. Tentang penolakannya, Paul Scholes berkata, “Pemain dalam skuad telah menghabiskan waktu hampir dua tahun untuk membawa Inggris lolos. Sedangkan aku sudah lama tak membela Inggris. Aku tidak ingin mencuri posisi seseorang yang telah berjasa mengantarkan Inggris ke Afrika Selatan.”

Sahabat, inilah sikap kesatria dari seorang kompetitor. Ia menyadari diri bahwa ia mesti memberikan tempatnya kepada mereka yang telah berjuang. Ia tidak ingin merebut tempat mereka hanya untuk popularitas dirinya sendiri.

Dalam hidup ini banyak orang haus akan popularitas. Mereka berjuang habis-habisan demi merebut popularitas itu. Mereka tidak peduli bahwa akibat ambisi mereka orang lain akan mengalami penderitaan. Mereka punya prinsip, yang penting saya senang dan meraih keinginan diri saya. Yang penting popularitas diri saya terus-menerus memuncak.

Benarkah sikap seperti ini? Tentu saja orang boleh punya ambisi dalam hidup ini. Namun orang mesti sadar bahwa ambisi mesti diikuti oleh suatu kerja keras. Kalau orang tidak mau bekerja keras untuk meraih keinginannya, orang akan mengambil jalan pintas. Kalau orang punya harta yang banyak, orang akan menggunakannya untuk menghancurkan diri orang lain. Yang penting dirinya sendiri mengalami sukacita dan bahagia dalam hidup ini.

Kisah tadi mau mengajak kita untuk memiliki penghargaan terhadap orang lain. Kalau kita tidak mampu melaksanakan suatu pekerjaan, kita mesti ikhlas untuk menyerahkan kepada mereka yang mampu. Kalau kita tidak berjerih payah untuk suatu usaha, kita juga mesti fair untuk tidak memetik hasilnya. Janganlah kita menuai di tempat di mana kita tidak menanam dan merawatnya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

773

03 September 2011

Ketika Orang mesti Berkorban




Saya pernah menonton tarian balet yang dimainkan oleh para penari profesional di kota Milwaukee, Amerika Serikat. Tarian itu dipentaskan dalam beberapa babak dengan berbagai cerita. Pentas tari balet itu juga diiringi oleh sebuah orkestra yang sangat profesional. Paduan musik begitu mempesona, sehingga membuat tarian balet itu semakin menarik disaksikan. Semua kursi yang ada di teater itu diisi penuh oleh para penonton, meski tiket masuk cukup mahal.

Yang menarik dari tarian balet itu adalah dalam salah satu espisode, penari utama terjatuh. Ia seorang penari laki-laki yang sering mengikuti pentas tarian balet. Ia tergelincir. Ia menabrak dinding panggung. Ia tampak menahan rasa sakit yang luar biasa. Kakinya mengalami cedera. Namun ia berusaha untuk bangun. Dengan kaki yang pincang, ia meneruskan tarian itu hingga selesai. Ia memainkannya dengan sangat sempurna, seolah-olah kakinya tidak mengalami cedera.

Begitu selesai, para penonton langsung berdiri. Serentak mereka bertepuk tangan. Mereka mengagumi sang penari yang melaksanakan tugasnya dengan sangat profesional. Keesokan harinya, berita-berita di koran lokal memuji kehebatan penari tersebut. Foto-foto yang dipasang di halaman depan koran-koran lokal itu adalah foto pemuda itu dengan kaki kanan yang digips.

Penari itu seolah tidak menghiraukan cedera kakinya. Ia membiarkan kakinya sakit. Yang penting adalah ia dapat menghibur para penonton. Yang penting adalah tanggung jawab profesi yang mesti ia tunjukkan. Untuk itu, ia mesti berani berkorban. Ia berani mengorbankan hidupnya bagi orang lain.

Sahabat, tidak semua orang berani mengorbankan hidupnya bagi sesamanya. Banyak orang membuat perhitungan demi perhitungan, ketika harus berhadapan dengan situasi yang menuntut korban. Orang tidak serta merta berani mengorbankan hidupnya untuk sesamanya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa korban itu bukan sekedar suatu tindakan heroisme. Tetapi berkorban itu suatu tindakan mulia. Suatu tindakan yang memberikan kemampuan orang untuk memiliki motivasi untuk memberikan hidupnya bagi sesama.

Kalau kita merefleksikan lebih dalam, sebenarnya hidup kita ini diwarnai oleh korban demi korban. Orang berkorban bagi sesamanya dengan bekerja keras dengan penuh tanggung jawab.

Ketika seorang ibu mesti menghadapi saat-saat yang mendebarkan untuk melahirkan anaknya, ia mengorbankan seluruh hidupnya. Baginya, yang penting adalah sang buah hati lahir dengan selamat. Ia tidak memikirkan lagi keselamatan dirinya. Ia seolah menyerah. Ia membiarkan tubuhnya sakit demi kehidupan sang anak.

Karena itu, kita diajak untuk berani mengorbankan hidup bagi orang lain. Berkorban itu membahagiakan. Berkorban itu menyenangkan, ketika orang berkorban dengan cinta yang mendalam. Suatu cinta yang memampukan seseorang untuk menyerahkan hidup bagi sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


772

02 September 2011

Hidup Ini Bukan Sekedar Materi



Ada seorang pemuda yang dicari-cari oleh majikannya. Pasalnya, pemuda itu menggelapkan ratusan juta rupiah miliki majikannya. Semestinya uang tagihan dari penjualan rumah ia serahkan kepada majikannya. Namun pemuda itu menggunakan uang tersebut untuk usaha-usaha dan kepentingan pribadinya. Akibat dari perbuatan itu, sang majikan menderita kerugian ratusan juta rupiah.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan pemuda itu? Selidik punya selidik, ternyata pemuda itu sering hidup dalam kemewahan. Ia sering traktir teman-temannya makan malam di rumah makan yang mewah. Ia juga gonta-ganti mobil-mobil mahal. Pakaiannya serba mahal. Ia menampilkan diri sebagai orang kaya. Padahal gajinya sebulan hanya cukup untuk kebutuhan satu bulan.

Pemuda itu tidak pernah merasa cukup dalam hidupnya. Karena itu, ia menghilang begitu ketahuan bahwa ia menggelapkan uang majikannya. Ia pindah ke kota lain. Ia mendapatkan pekerjaan baru berkat tipu muslihatnya. Namun di sana pun ia tetap melakukan kebiasaannya dengan hidup dalam kemewahan. Ia memanipulasi uang milik majikannya. Kali ini ia kena getahnya. Ia tertangkap tangan. Ia diadukan ke pihak berwajib. Ia mesti mendekam di penjara dalam suasana kemiskinan yang menyiksa.

Sahabat, ada ungkapan ‘sepandai-pandainya tupai meloncat, sekali-kali ia akan jatuh juga’. Bisa saja bahwa kejatuhan itu hanya sebentar, sehingga membuat orang tidak terpuruk. Bisa saja kejatuhan itu menjadi motivasi bagi seseorang untuk bangkit dan maju dalam hidupnya. Tetapi bisa saja kejatuhan itu membuat orang mengalami kehancuran dalam hidupnya.

Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa tipu muslihat tidak akan bertahan lama. Tipu muslihat akan segera terbongkar, entah kapan waktunya. Karena itu, orang dituntut untuk hidup dalam kejujuran dan kebenaran. Soalnya, mengapa orang berani melakukan tipu muslihat? Orang berani melakukan tipu muslihat, karena orang ingin hidup enak tanpa bekerja keras. Orang ingin berleha-leha saja tanpa mau mengotori tangannya dengan pekerjaan yang menantang.

Kisah tadi menunjukkan bahwa orang tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah dicapai akan melakukan suatu sikap yang tidak terpuji. Benjamin Franklin berkata, ”Rasa cukup membuat orang miskin menjadi kaya. Tetapi rasa tidak cukup membuat orang kaya menjadi miskin.”

Artinya, orang merasa cukup atas apa yang dimiliki senantiasa berusaha untuk mensyukurinya. Sedangkan orang yang tidak merasa cukup atas apa yang dimilikinya, sering merasa belum punya apa-apa. Akibatnya, orang seperti ini mempertaruhkan apa yang dimilikinya. Ia menggadaikannya. Sering kali orang seperti ini kehilangan apa yang telah dimilikinya itu.

Karena itu, kita diajak untuk berani mengatakan bahwa kita merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Rasa cukup itu memacu kita untuk berani bersyukur atas apa yang kita miliki. Kita pun tidak boleh mengukur hidup kita dari segi materi saja. Kita juga memiliki nilai-nilai hidup yang begitu indah. Nilai-nilai itu mampu memberi kita kekuatan untuk menemukan sukacita dan damai dalam hidup ini. Untuk itu, kita mesti memiliki keseimbangan dalam hidup ini. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


771

Mendengarkan dengan Baik



Ada seorang anak yang diam ketika diberi nasihat oleh orangtuanya. Tidak ada anggukan kepala tanda setuju. Atau ia juga tidak menggelengkan kepada sebagai tanda tidak setuju. Tidak ada reaksi apa-apa yang ia tunjukkan. Ia tidak memberikan ekspresi apa-apa. Kadang-kadang orangtuanya dibuatnya terheran-heran.

Namun hal yang sangat mengagumkan adalah ternyata ia mendengarkan semua nasihat orangtuanya dengan baik. Ia langsung melakukan nasihat-nasihat orangtuanya. Misalnya, ketika orangtuanya menasihatinya untuk belajar dengan rajin dan baik, ia langsung melaksanakannya. Hasilnya sangat mengagumkan. Nilai-nilai ulangannya selalu yang terbaik. Karena itu, orangtuanya pun memberikan dukungan yang besar kepadanya.

Ketika ditanya tentang sikap hidupnya yang demikian, ia mengatakan bahwa yang penting bukan reaksi langsung. “Saya sadar bahwa saya harus melakukan apa yang dinasihatkan oleh orangtua saya. Percuma saya mendengarkan dengan baik, tetapi saya tidak mampu melaksanakannya dalam hidup saya. Jadi saya memilih untuk diam.”

Sahabat, setiap orang punya sikap yang berbeda-beda terhadap suatu nasihat. Ada yang langsung bereaksi dengan keras, karena tidak mau didikte atau digurui. Ada yang tampaknya setuju, tetapi apa yang dilakukan tidak sesuai dengan nasihat itu. Ada lagi yang bersikap acuh tak acuh.

Tentu saja setiap orang punya kebebasan untuk menyikapi suatu nasihat atau saran. Namun yang penting adalah suatu nasihat yang baik selalu berguna bagi kehidupan manusia. Suatu nasihat yang baik memberikan arahan bagi manusia untuk menjalani hidup ini dengan baik.

Karena itu, orang dituntut untuk memasang telinganya untuk mendengarkan nasihat-nasihat yang baik. Mendengarkan dengan baik itu memberi kesempatan bagi seseorang untuk mulai melaksanakan nasihat-nasihat yang baik itu. Mendengarkan dengan baik itu membuka wawasan baru bagi seseorang dalam menjalani hidupnya.

Namun banyak orang kurang punya telinga yang baik untuk mendengarkan. Banyak orang lebih suka mendengarkan diri mereka sendiri. Mereka kurang suka mendengarkan nasihat-nasihat yang baik dari orang lain. Mereka merasa bahwa nasihat-nasihat orang lain itu hanyalah usaha untuk menguasai diri mereka. Benarkah demikian?

Untuk itu, kita perlu belajar mendengarkan dengan baik. Artinya, kita ingin agar apa yang disampaikan kepada kita menjadi suatu masukan yang berguna bagi hidup kita. Kita mau bersikap rendah hati, agar apa yang kita dengarkan itu membuahkan hasil bagi kehidupan kita. Kita bersyukur bahwa masih ada orang yang mau memberi nasihat yang baik bagi kita.

Sebagai orang beriman, mendengarkan dengan baik setiap nasihat orang lain menjadi suatu keutamaan. Artinya, dari sikap itu muncul suatu perjuangan untuk meneruskan kehidupan ini. Dengan sikap mendengarkan itu, kita mau melaksanakan tugas-tugas kita sebagai orang beriman. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


770

Memelihara Kehidupan



Sepasang suami isteri meninggalkan anak mereka diasuh pembantu rumah sewaktu mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Ia sering dibiarkan pembantu bermain sendirian, karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan. Tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, maka coretan tidak tampak. Dicobanya lagi pada mobil yang baru dibeli ayahnya. Karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja, karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan, ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing. Ia mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah langsung menjerit, “Kerjaan siapa ini!”

Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Mukanya merah padam ketakutan, lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya. Ia berkata singkat, “Saya tidak tahu, tuan.”

Sang ayah lantas mendatangi anaknya. Tanpa pikir panjang, ia memukul-mukul kedua telapak tangan anaknya sampai bengkak dan luka-luka. Tangan anak itu dipenuhi darah. Hasilnya adalah sang anak mengalami penderitaan yang luar biasa. Suhu tubuhnya naik. Malam itu, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ia merasa bahwa ayahnya tidak mencintainya. Ayahnya membencinya. Ayahnya menolak kehadiran dirinya. Perasaan itu terus-menerus hidup di dalam dirinya.

Sahabat, tentu saja kita tidak mengharapkan sesuatu yang jelek terjadi atas diri kita. Kisah tadi mau mengatakan kepada kita bahwa materi mengatasi segala-galanya. Demi materi, orang dapat menyingkirkan sesuatu yang lebih besar, yaitu cinta. Semestinya bapak itu mendahulukan kasih terhadap anaknya. Ia tidak perlu mendahulukan mobil barunya itu.

Dalam hidup ini, banyak orang sering bertindak gegabah. Orang merasa bahwa apa yang dimilikinya itu sangat berharga. Bahkan lebih berharga daripada manusia. Akibatnya, mereka bertindak semena-mena terhadap sesamanya. Mereka mengabaikan hak-hak hidup sesamanya. Padahal hak-hak hidup manusia itu hal yang paling utama yang mesti dipertahankan.

Karena itu, kita mesti terus-menerus menumbuhkan kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak hidup manusia. Kita tidak boleh bersikap semena-mena terhadap hidup. Kita juga tiddak perlu bermain-main dengan hidup yang kita miliki ini. Tuhan telah menganugerahkan hidup ini kepada kita untuk kita pelihara dan kita hargai. Mari kita terus-menerus memelihara kehidupan kita. Dengan demikian, hidup ini menjadi lebih bermakna dan berhasil guna. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


769

01 September 2011

Mengobati Luka Batin




Ada seorang anak yang melarikan diri dari rumahnya. Usai makan bersama kedua orangtuanya, ia menyelusup dalam kegelapan lalu menghilang. Orangtuanya panik begitu tahu sang anak meninggalkan rumah. Mereka mencari ke mana-mana. Namun mereka tidak dapat menemukannya.

Beberapa lama kemudian, mereka sadar bahwa sang anak meninggalkan rumah karena kesalahan mereka sendiri. Selama makan malam, mereka selalu mengomeli sang anak. Akibatnya, sang anak tidak merasa nyaman berada di rumah. Ia memutuskan untuk minggat.

Penyesalan selalu datang terlambat. Malam itu, sang anak tidak pulang. Ia bersembunyi di rumpun pisang yang berada di belakang rumah. Tubuhnya bentol-bentol, karena digigit nyamuk semalaman. Keesokan harinya, ia muncul di meja makan. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia membisu. Ia makan dan minum. Setelah itu, ia menyiapkan buku-bukunya. Ia berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Ia tidak mau diantar oleh kedua orangtuanya.

Hari itu menjadi hari yang sangat mencekam bagi anak itu. Tubuhnya hidup. Tetapi jiwanya lesu. Ia butuh semangat yang lebih besar untuk memotivasi dirinya. Namun anak itu bisa menerima keadaannya. Di kelas, ia dapat berinteraksi dengan teman-temannya. Ia dapat berbicara dengan mereka. Ia bisa ngobrol dengan mereka. Tetapi ia kembali membisu begitu ia tiba kembali di rumah. Bahkan ia tidak mau memandang wajah ayah dan ibunya.

Sahabat, luka batin yang diderita seseorang dapat menumbuhkan kebencian yang mendalam. Orang tampak tidak punya masalah. Namun di dalam hatinya tumbuh api yang membara. Orang marah terhadap mereka yang menyakitinya. Perlawanan dalam diam bisa menjadi lebih berbahaya daripada perlawanan secara frontal.

Kisah tadi mengingatkan kita untuk tetap hati-hati dalam hidup ini. Orang tidak boleh gegabah dalam hidup ini. Orang mesti berpikir panjang untuk melakukan tindakan yang kurang menyenangkan terhadap orang lain. Apalagi tindakan kurang menyenangkan itu dilakukan terhadap buah hati sendiri. Luka itu akan mengendap. Sulit sekali diobati. Karena orang yang mengalami itu mulai menginternalisasi luka batin itu ke dalam dirinya. Akibatnya akal fatal bagi kehidupan bersama.

Karena itu, langkah yang mesti diambil adalah orang mesti segera mengobati luka batin itu. Orang tidak boleh membiarkan luka itu tetap menganga dan melebar. Mengobati berarti orang yang melakukan kesalahan itu mesti berani meminta maaf atas perbuatannya. Orang mesti menyadari bahwa perbuatannya telah melukai sesamanya. Kalau ini yang terjadi, hidup akan menjadi lebih bermakna. Luka yang dalam dan pedih tidak perlu ada. Kehidupan ini menjadi suatu kesempatan untuk menikmati kebaikan dan sukacita.

Mari kita berusaha untuk mengobati setiap luka batin yang kita miliki. Dengan demikian, hidup ini menjadi sumber sukacita bagi semua orang. Orang hidup untuk membahagiakan sesamanya. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ


768