Pages

06 September 2009

Membangun Hidup Bersama Sesama



Seorang pemuda tampak sibuk dengan hand phonenya. Dengan tipe HP mutakhir, orang muda itu tampil pede. Ia menjadi semakin yakin bahwa menggunakan HP yang canggih, ia dapat berkomunikasi dengan teman-temannya. Ia tidak peduli di keramaian, ia tetap saja menggunakan hpnya. Seolah-olah ia memang orang yang sangat sibuk.

Selidik punya selidik, ternyata pemuda itu seorang yang kesepian. Ia hanya punya seorang teman dalam hidupnya. Seorang teman lelaki yang sebenarnya sudah bosan pula meladeni pemuda itu. Hanya dengan teman itulah pemuda itu mampu berkomunikasi. Orang-orang lain di sekitarnya sudah tidak mau bergaul dengan pemuda yang kesepian itu. Karena itu, setiap kali ada kesempatan untuk berkomunikasi dengan temannya itu, pemuda itu menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya di mana pun dan kapan pun.

Suatu hari pemuda itu menjadi stress. Ia membanting hpnya yang canggih itu. Pasalnya, teman satu-satunya itu tidak menghidupkan hpnya. Ia kesal. Ia sangat butuh orang yang mampu mendengarkan keluh kesahnya saat itu juga. Lantas ia memukul-mukul kepalanya hingga darah segera mengucur. Beberapa saat kemudian ia mengambil belati dan menikamkan ke perutnya. Ia pun meninggal dalam kesepian.

Kesepian sering kali melilit diri manusia. Ada banyak alasan yang membuat orang kesepian. Pemuda dalam kisah di atas mengalami kesepian, karena tidak punya sahabat yang dapat mendengarkan keluh kesah hidupnya. Mungkin ia sendiri yang menyebabkan ia kehilangan banyak sahabat.

Dalam konteks ini kita dapat melihat bahwa membangun relasi yang baik dengan sesama itu merupakan suatu bagian dari hidup kita, hidup beriman kita. Relasi yang baik itu suatu cara kita membuka hati kepada sesama. Apa jadinya kalau kita tidak punya relasi yang baik dengan sesama? Kita akan kehilangan sahabat. Kita tidak punya orang yang dapat kita ajak untuk memiliki kepedulian terhadap kita. Kita akan menjadi orang yang kesepian dalam hidup ini.

Karena itu, kita mesti membangun suatu sikap rendah hati. Orang yang rendah hati itu memiliki banyak sahabat dalam hidupnya. Orang yang rendah hati itu orang yang menghargai sesamanya. Orang yang tidak menganggap remeh sesamanya.

Sebagai orang beriman, kita diajak untuk membangun kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama. Kita mesti mengakui bahwa kita tidak hidup sendirian dalam dunia ini. Kita hidup bersama orang lain. Kita butuh orang lain untuk berbagi suka dan duka. Kita juga butuh Tuhan yang memberikan semangat bagi kita untuk memiliki kerendahan hati. Mari kita bangun relasi dengan sesama dalam semangat kerendahan hati. Tuhan memberkati. **



Frans de Sales, SCJ

NB: Dengarkan Renungan Malam di Radio Sonora (FM 102.6) untuk mereka yang tinggal di Palembang dan sekitarnya, pukul 21.55 WIB.

158

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan mengisi